Anda di halaman 1dari 5

Nama : Anita Sari

NIM

: 41090006
HEMATOPOIESIS, EROTROPOIESIS DAN ANEMIA

Hematopoiesis
Hematopoiesis adalah proses pembentukan dan perkembangan sel-sel darah. Proses ini
terjadi pada masa prenatal (masih dalam kandungan) dan post natal (setelah lahir). Pada
prenatal, proses pembentukan terjadi di yolk sac (kantung kuning telur), kemudian fase
selanjutnya pada hepar dan lien, dan pada fase lanjut di sumsum tulang. Pada post natal,
pembentukan utama terjadi di sumsum tulang. Pada keadaan patologis(sumsum tulang sudah
tidak berfungsi atau kebutuhan meningkat), pembentukan dapat terjadidi nodus limfatikus,
lien, timus, hepar. Pembentukan darah di luar sumsum tulang ini disebuthematopoiesis ekstra
meduler.
Hematopoiesis dimulai dari sel stem hematopoietik pluripoten, yang merupakan asal dari
semua sel dalam darah sirkulasi. Sewaktu sel ini bereproduksi, ada sebagian kecil dari sel ini
yang bertahan persis seperti sel-sel pluripoten dan disimpan di sumsum tulang, sebagian
besar berdiferensiasi membentuk suatu jalur khusus pembelahan sel dan disebut commited
stem cells. Sel pluripoten akan terus berdiferensiasi yang salah satunya akan membentuk
CFU-E , yaitu unit pembentuk koloni eritrosit, yang akan membentuk proeritoblas (sel
pertama sebagai rangakaian eritrosit). Sejak fase proeritoblas sintesis hemoglobin (Hb) pun
sudah dimulai. Proeritoblas akan membelah menjadi eritroblas basofil dimana masih
terkumpul sedikit Hb lalu menjadi eritoblas polikromatofil kemudian menjadi erotroblas
ortokromatomatik dimana Hb terkumpul semakin banyak. Setelah itu sampai pada tahap
retikulosit dan Hb sudah sangat banyak. Pada fase ini, sel berjalan dari sumsum tulang ke
kapiler secara diapedesis (terperas melalui pori-pori membrane kapiler). Di dalam plasma, sel
mengalami pematangan dan akhirnya menjadi eritrosit dengan Hb di dalamnya. Sintesis Hb
dimulai dari penggabungan 2 molekul suksinil Ko-A dan 2 molekul glisin menjadi pirol.
Kemudian 4 pirol bergabung membentuk protoporfirin IX. Protoporfirin IX bergabung
dengan besi (fero) menjadi molekul heme. Heme bersama rantai polipeptida menjadi rantai
hemoglobin. Lalu 4 rantai hemoglobin (alfa, beta, gama, delta) berikatan longgar menjadi

molekul hemoglobin. Tipe rantai tersebut menentukan afinitas ikatan Hb terhadap O 2


(Guyton and Hall, 2007).
Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :
1. Mesoblastik
Dari embrio umur 2 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah
HbG1, HbG2, dan Hb Portland.
2. Hepatik
Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada
umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.
3. Mieloid
Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum tulang, kelenjar
limfonodi, dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis berlangsung seumur hidup
terutama menghasilkan HbA, granulosit, dan trombosit. Pada kelenjar limfonodi terutama
sel-sel limfosit, sedangkan pada timus yaitu limfosit, terutama limfosit T.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di antaranya adalah asam
amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen, transfusi darah, dan faktor- faktor
perangsang hematopoietik.

Eritropoiesis
Proses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis) pada awal kehamilan terjadi di hati,
limpa, dan kelenjar limfe. Lalu kira-kira selama bulan terakhir kehamilan dan setelah lahir
sampai dengan umur 5 tahun, eritrosit hanya diproduksi di sel darah merah. Kemudian
selanjutnya diproduksi oleh sumsum tulang panajng. Setelah umur 20 tahun, sumsum tulang
panjang menjadi sangat berlemak dan tidak memproduksi eritrosit, kecuali bagian proksimal
humerus dan tibia, sehingga eritropoiesis diambil alih oleh sumsum tulang membranosa
(vertebra, sternum, rusuk, dan ilium).
Eritropoietin merupakan suatu glikoprotein sebagai stimulus utama yang merangsang
produksi eritrosit, bahkan dalam keadaan O2 yang rendah. Hormon ini dibentuk sebagian
besar di ginjal dan sisanya di hati. Hormon epinefrin, norepinefrin, dan prostaglandin akan
merangsang produksi eritropoietin. Berdasarkan penelitian, pengaruh utama eritropoietin
adalah merangsang produksis proeritroblas dari sel stem pluripoten di sumsum tulang dan
mempercepat pertumbuhan menjadi eritrosit (Guyton and Hall, 2007).
Sel sel darah merah (Eritrosit)
Fungsi utama dari sel darah merah adalah menngangkut hemoglobin dan setrerusnya
mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain mengankut hemoglobin, sel-sel darah
merah juga mempunyai fungsi lain, contohnya ia mengandung banyak sekali karbonik
anhidrasi yang mengkatalisis reaksi antara karbondioksida dan air sehingga meningkatkan
kecepatan reaksi bolak balik ini beberapa ribu kali lipat. Cepatnya reaksi ini membuat air
dalam darah dapat bereaksi dengan banyak sekali karbondioksida dan dengan demikian
mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonat.
Sel darah normal berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter kira-kira 7,8 mikrometer
dan dengan ketebalan pada bagian paling tebal 2,5 mikrometer dan pada bagian tengah 1
mikrometer. Volume rata-rata sel adarah merah adalah 90-95 mikrometer kubik. Bentuk sel
darah merah dapat berubah-ubah ketika sel berjalan melewati kapiler. Pada pria normal,
jumlah rata-rata sel darah merah per millimeter kubik adalah 5.200.000 ( 300.000) dan pada
wanita 4.700.000 (300.000). ketinggian akan mempengaruhi jumlah sel darah merah. Sel
darah merah mampu mengkonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai sekitar 34
gm/dl sel. Konsentrasi ini tidak pernah meningkat lebih dari nilai tersebut, karena hal ini
merupakan batas metaolik dari mekanisme pembentukan Hb sel. Bila hematokrit dan jumlah

Hb adalah normal maka seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung 16 gr Hb/dl, dan
pada wanita rata-rata 14 gr Hb/dl.
Produksi sel darah merah dalam minggu-minggu pertama kehidupan embrio, sel-sel
darah merah primitive yang berinti diproduksi dalam yolk sac. Selama pertengahan trimester
masa gestasi, hati dianggap sebagai organ utama untuk memproduksi sel-sel darah merah,
walaupun terdapat juga sel-sel darah merah dalam jumlah cukup banyak yang diproduksi
dalam limpa dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kehaliman dan sesudah lahir sel-sel
darah merah hanya diproduksi oleh sumsum tulang. Pada dasarnya sumsum tulang dari
semua tulang memproduksi sel darah merah sampai seseorang berusia 5 tahun, tetapi
sumsum dari tulang panjang , kecuali bagian proksimal humerus dan timia, menjadi sangat
berlemak dan tidak memproduksi sel-sel darah merah kurang lebih berusia 20 tahun. Setelah
usia ini, kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsung tulang membranosa seperti
vertebra, sternum, iga, dan ilium. Bahkan dalam tulang-tulang ini, sumsum menjadi kurang
produktif sesuai dengan bertambahnya usia.
Anemia
Anemia merupakan penurunan volume eritosit atau kadar Hb di bawah batas normal. Kadar
Hb normal untuk anak usia 6 bulan 6 tahun adalah 10,5 14 mg/dL (Nelson et. Al, 2000).
Anemia berdasarkan morfologinya dapat diklasifikasikan :
1. Anemia Hipokromik Mikrositer : Anemia ini memiliki eritrosit pucat dan ukuran sel kecil
2. Anemia Normokromik Normositer : Anemia ini memiliki warna eritrosit yang normal
dan ukuran sel normal.
3. Anemia Normokromik Makrositer : Warna eritrosit normal tetapi ukuran sel lebih besar
dari normal.
Sedangkan berdasarkan etiologinya, anemia dapat diklasifikasikan:
1. Anemia karena gangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang
a. Kekurangan bahan esensial pembentuk eritrosit
b. Gangguan penggunaan besi
c. Kerusakan sumsum tulang
2. Anemia akibat hemoragi
3. Anemia hemolitik
Gejala pada anemia juga dapat digolongkan menjadi 3, yaitu:
1. Gejala umum anemia

Disebut sebagai sindrom anemia, timbul karena iskemia organ target serta akibat
mekanisme kompensasi tubuh terhadap penurunan kadar Hb. Biasanya muncul setelah
kadar Hb<7 8 mg/dL. Tanda-tanda ini bisanya seperti: rasa lemah, lesu, cepat lelah,
telinga mendenging, mata berkunang-kunang, kaki terasa dingin, sesak nafas, dispepsia,
pucat pada konjungtiva,mukosa mulut, telapak tangan, dan jaringan di bawah kuku.
2. Gejala khas masing-masing anemia
- Anemia defisiensi besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis, dan kuku
sendok (koilynochia).
- Anemia megaloblastik: glositis
- Anemia hemolitik: ikterus, splenomegaly, hepatomegaly
- Anemia aplastik: perdarahandan tanda-tanda infeksi
3. Gejala penyakit dasar
Gejala penyakit dasar bervariasi tergantung penyebab dari anemia jenis tersebut.
(Bakta, 2007)
Daftar Pustaka
Bhakta, I Made. 2007. Pendekatan Terhadap Pasien Anemia. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Guyton, A.C., John E. Hall, 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Nelson, Waldo et. Al. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Volume 2. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia A and Lorraine M Wilson. 2005. Patofisologi Volume 2. Jakarta: EGC.