Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perguruan Tinggi dan dunia Industri merupakan satu kesatuan yang saling
berkaitan. Hubungan tersebut sering disebut sebagai kemitraan. Seorang
mahasiswa yang sedang menuntut ilmu, khususnya mahasiswa jurusan Teknik
Elektro perlu memahami kondisi nyata yang ada di dunia Industri. Mahasiswa
tidak hanya paham dan hafal teori saja namun juga perlu mengerti akan
kondisi dunia kerja yang sesungguhnya.
Melalui mata kuliah Praktik Lapangan Industri (PLI) di perusahaan,
mahasiswa diharapkan mampu menemukan permasalahan, yang kemudian
akan dianalisa dan dicari solusi yang tepat. Dengan terjun langsung dan
menemukan realita permasalahan yang ada, mahasiswa dilatih agar dapat
memecahkan permasalahan sesuai dengan yang telah didapatkan di bangku
kampus. Solusi terhadap permasalahan diambil mahasiswa dengan pendekatan
sistem yang integral komprehensif, artinya permasalahan yang ada tidak
diselesaikan secara terpisah namun antara satu dengan yang lain ada
keterkaitan.
Praktik Industri juga akan bermanfaat terhadap penciptaan iklim yang
saling mendukung. Peran Perguruan Tinggi sebagai penghasil Sumber Daya
Manusia (SDM) yang memiliki tingkat kredibilitas tertentu mampu berperan
di dunia Industri dengan menjadikan perusahaan sebagai partner dalam
penelitian maupun dalam memberikan masukan. Sehingga dengan adanya
Pengalaman Lapangan Industri akan tercipta kerjasama yang saling

menguntungkan dan kemitraan yang saling mendukung antara Perguruan


Tinggi dan dunia Industri.
B. Deskripsi PT. Pembangkitan Jawa Bali (PJB)
PT. Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) berawal ketika perusahaan listrik dan
gas dibentuk pada tahun 1945, setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1965,
Perusahaan Listrik Negara dipisah dari Perusahaan Gas Negara. Pada tahun
1972 PLN menjadi Badan usaha Milik Negara dengan status Peusahaan
Umum. Sepuluh tahun kemudian (tahun 1982), restrukturisasi dimulai di
JawaBali dengan pemisahan unit sesuai fungsinya, unit PLN Distribusi dan
Unit PLN Pembangkitan dan Penyaluran.
Pada tahun 1994, status PLN diubah menjadi Persero. Setahun kemudian
dilakukan restrukturisasi pada PT. PLN Persero dengan membentuk dua anak
perusahaan pada bidang pembangkitan. Restrukturisasi tesebut bertujuan
memisahkan misi sosial dan misi komersial yang diemban. Pada tanggal 3
Oktober 1995, PT. Pembangkitan JawaBali II atau yang lebih dikenal dengan
nama PLN PJB II berdiri. Tujuan utama dibentuknya anak perusahaan ini
adalah untuk menyelenggarakan usaha ketenagalistrikan yang bermutu tinggi
serta handal berdasarkan prinsip industri dan niaga yang sehat dan efisien.

1. Profil PLTA Sengguruh

Gambar 1. PLTA Sengguruh Tampak Dari Depan


Pengembangan strategi usaha, pada tahun 2000 PLN PJB II
melakukan penyempurnaan organisasi dan mengubah nama menjadi PT.
Pembangkitan JawaBali. Saat ini, PJB memiliki 8 unit pembangkit
dengan kapasitas terpasang 6.526 MW dengan aset setara Rp. 41,5
Triliun. Didukung 2.203 karyawan, PJB telah berkembang menjadi
produsen energi listrik kelas dunia dengan kapasitas, mutu pembangkit,
kehandalan dan layanan yang diberikan mampu memenuhi standar
internasional. PLTA Sengguruh merupakan salah satu unit yang dimiliki
oleh PT. PJB yang tergabung dalam Unit Pembangkitan Brantas.

2. Sejarah PLTA Sengguruh


Proyek PLTA Sengguruh adalah salah satu proyek Nasional di
lingkungan Badan Pelaksana Pembangunan Sungai Brantas yang
dilaksanakan berdasarkan kerja sama antara Direktorat Jendral Ketenagaan
Departemen Pertambangan dan Energi.
Proyek ini terletak di sebelah selatan Kota Malang sejauh 24 km,
disebelah hilir pertemuan sungai Brantas dan Sungai Lesti yang
merupakan anak sungai Brantas terbesar. Proyek ini terletak 14 km di
sebelah hulu Bendungan Sutami dengan total daerah pengairan 1659 km 2.
Pembangunan PLTA Sengguruh ini bertujuan untuk memanfaatkan potensi
sungai Brantas seoptimal mungkin diantaranya membangkitkan tenaga
listrik dengan kapasitas terpasang sebesar 2 14,5 MW, mengendalikan
banjir dan pasir didaerah hulu Bendungan Sutami, perikanan darat dan
obyek pariwisata.
Data proyek PLTA Sengguruh telah disiapkan oleh proyek Brantas
pada tahun 1977, sedangkan penelitian data proyek tesebut dimulai bulan
Agustus 1977 dan selesai bulan Maret 1978.
Perencanaan detail PLTA Sengguruh dilaksanakan oleh PT. Indra
Karya Bersama Nippon Koei Ltd. Proyek ini berupa bangunan Rock Fill
Dam dengan tinggi 34 m dan memerlukan material sebuah bangunan
Rock 678.800 m2.

3. Visi PLTA Sengguruh


a. Menguasai pangsa pasar di Indonesia.
b. Menjadi perusahaan kelas dunia.
c. Memiliki SDM yang professional.
d. Peduli lingkungan.

4. Misi PLTA Sengguruh


a. Menjadikan PT. PLN PJB sebagai perusahaan publik yang maju dan
dinamis dalam bidang pembangkitan tenaga listrik.
b. Memberikan hasil terbaik kepada pemegang saham, pegawai,
pelanggan, pemasok, pemerintah dan masyarakat serta lingkungan.
c. Memenuhi tuntutan pasar.
5. Prinsip 5 S Perusahaan
a.
b.
c.
d.
e.

Seiri / Kedisiplinan
Seiton / Kesusunan
Seiso / Kerapian
Seiketsu / Kebersihan
Seisuke / Kebersihan diri

C. Perencanaan Kegiatan PLI


Selama melaksanakan Pengalaman Lapangan Industri di Perusahaan,
mahasiswa harus kreatif dan berinisiatif mencari kegiatan dan pengalaman
sebanyak-banyaknya. Namun juga harus selalu diperhatikan bahwa setiap
kegiatan yang dilaksanakan di Perusahaan harus seijin pembimbing dari
Perusahaan.
1. Kegiatan Umum

Pada minggu pertama di Perusahaan, mahasiswa melakukan kegiatan


orientasi Perusahaan dengan kegiatan berupa observasi, konsultasi, dan
wawancara dengan Pembimbing Industri maupun karyawan lainnya untuk
mengenal dan mendapatkan data-data perusahaan, yang meliputi
a. Identitas perusahaan (nama, alamat, nomor telepon, website, dsb)
b. Bidang usaha atau produksi.
c. Struktur organisasi
d. Susunan personalia
e. Manajemen Maintenance
f. Keselamatan dan kesehatan kerja
g. Hal penting lainya yang belum tercakup di atas.
Setelah mendapatkan data dan mengenal perusahaan, mahasiswa
harus berkonsultasi dengan Pembimbing Industri tentang rencana kegiatan
khusus. Rencana kegiatan ini dituangkan dalam bentuk Jadwal Kegiatan
Pengalaman Lapangan Industri.
2. Kegiatan Khusus
Kegiatan khusus mencakup pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh
praktikan selama kegiatan Pengalaman Lapangan Industri di perusahaan.
Kegiatan khusus ini mencakup kegiatan atau pekerjaan yang terkait dengan
program studi dan judul Pengalaman Lapangan Industri (PLI).
3. Ruang lingkup kegiatan
Di dalam Laporan Pengalaman Lapangan Industri ini akan
membahas khusus tentang Penggunaan Governor di PLTA Sengguruh.

D. Pelaksanaan Kegiatan PLI


Pelaksanaan kegiatan PLI di PT. PJB UNIT PEMBANGKITAN
BRANTAS, PLTA SENGGURUH, dimulai tanggal 4 Januari 2016 sampai 4
Maret 2016. Kegiatan PLI dilakukan sesuai dengan jam kerja PLTA yaitu
dimulai jam 08.00 WIB sampai 16.00 WIB untuk hari Senin Jumat.
Kegiatan yang dilakukan meliputi observasi, perawatan, pengontrolan,
dan lain-lain dimana dikerjakan sesuai dengan tempat kerja. Proses pengerjaan
dilakukan dengan membantu teknisi listrik di bagian Kontrol dan Bengkel
Listrik yang mendapatkan bagian pekerjaan tersebut.

BAB II
PENGGUNAAN TURBINE GOVERNOR DI PT. PJB
UNIT PEMBANGKITAN BRANTAS
PLTA SENGGURUH
A. Aspek-aspek Teoritis
1. Pengertian Governor
Turbine governor atau yang lebih dikenal dengan governor adalah
istilah yang umum dipakai dalam dunia

electromechanical energy

conversion. Istilah ini dipakai dalam Pembangkit Listrik Tenaga Air


(PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pembangkit Listrik
Tenaga Gas (PLTG), dan lain sebagainya. Definisi yang lazim dari
governor adalah suatu peralatan yang berfungsi mengontrol kecepatan
(speed) dan daya keluaran (power) berdasarkan karakteristik powerfrequency.
Governor digunakan sebagai interface antara turbin penggerak dan
generator. Pengaturan putaran turbin sejak turbin mulai bergerak sampai
steady state dilakukan oleh governor, jadi bukan diambil alih oleh
governor. Fungsi utama pengaturan putaran ini adalah untuk menjaga
kestabilan sistem secara keseluruhan terhadap adanya variasi beban atau
gangguan pada sistem.
2. Jenis-jenis Governor
a. Isochronous governor
Isochronous governor

dapat

diartikan

sebagai

governor

kecepatan tetap. Governor tipe ini akan mengatur bukaan valve agar
frekuensi keluaran generator kembali pada nilai awal atau nilai
settingnya. Jika terjadi kenaikan beban listrik, maka frekuensi keluaran
generator akan turun. Besarnya penurunan ini akan direspon oleh

governor dengan cara memerintahkan valve untuk membuka lebih


lebar agar jumlah uap/air yang masuk ke turbin bertambah.
Governor tipe ini bekerja baik pada :
1) Sistem terisolasi generator tunggal / (islanded/isolated-single
generator)
2) Sistem multigenerator dengan 1 generator sebagai pengontrol
frekuensi
b. Speed-droop characteristic governor
Isochronous governor tidak dapat digunakan pada sistem
interkoneksi karena setiap generator akan berusaha untuk mengontrol
frekuensi sistem (fight each other). Maka, governor dengan
karakteristik speed-droop harus digunakan.
Jika terjadi kenaikan/penurunan frekuensi pada sistem, maka
generator

yang

memiliki

governor

tipe Speed-droop akan

mengurangi/menambah bukaan valve sesuai dengan daya maksimum


generator dan setting governornya. Setting governor untuk keperluan
ini disebut dengan speed-droop atau regulation characteristic. Lebih
umum lagi, istilah tersebut disebut dengan Droop.
3. Fungsi Dasar Governor
a. Menjaga putaran turbine tetap stabil dalam berbagai variasi beban
b. Beban dapat dengan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan
c. Dapat mematikan unit dengan cepat pada waktu terjadi gangguan
d. Dapat dioperasikan secara otomatis maupun manual
4. Cara Kerja Governor

Gambar 2. Diagram Sederhana Sistem Pembangkitan


Dalam gambar di atas terlihat bahwa governor berperan penting
dalam mengontrol putaran turbin generator ada sebuah pembangkit
khususnya PLTA. . Energi listrik yang dibangkitkan oleh generator sinkron
(synchronous generator) berasal dari energi yang dihasilkan oleh putaran poros
turbin. Energi untuk memutar turbin tersebut berasal dari fluida yang digunakan.
Misalkan, PLTU menggunakan fluida uap air, PLTA menggunakan fluida air, dan
PLTG menggunakan fluida gas. Untuk mengontrol jumlah energi yang dihasilkan
generator, maka jumlah fluida yang memasuki turbin haruslah dikontrol. Banyak
sedikitnya fluida yang masuk, tergantung pada bukaan katup (valve), dimana
valve ini dikontrol oleh governor. Untuk menentukan besarnya bukaan valve,
maka governor akan mendapat sinyal masukan berupa daya setting (Preff), daya
aktual keluaran generator (P), frekuensi (f), atau putaran turbin (w).

5. Bagian-bagian Governor
Governor system terdiri dari 3 bagian, yaitu :
a. Governor control.
10

Gambar 3. Speed Control


Governor control merupakan bagian yang mengontrol secara
electronik dan membandingkan antara input berupa pulse dari Magnetic
pick-up dengan output berupa tegangan DC yang menggerakkan
actuator control. Peralatan ini lazim disebut speed control.
b. Governor Actuator

Governor

Gambar 4. Actuator
Actuator merupakan bagian yang menggerakkan

mekanisme fuel pump yang mengatur pembukaan katup bahan bakar


sehingga putaran mesin dapat naik atau turun.
11

c. Magnetic Pick Up (MPU)

Gambar 5. Magnetic Pick Up


Magnetic Pick Up (MPU) merupakan peralatan yang dapat
membangkitkan pulsa tegangan antara 5-50 volt AC dengan frekuensi
sebesar 1000-2750 Hz. Dengan dasar induksi magnetic yang timbul
dikarenakan perputaran flywell dimana terdapat gigi-gigi antara 118
teeth sampa 148 teeth .
6. Electric Governor
System kerja Electric Governor adalah sebagai berikut
a. Dalam keadaan running dan beban kosong engine di set dalam putaran
1500 Rpm atau setara dengan 50 Hz.
b. Jika terjadi kenaikan beban pada generator , maka arus yang mengalir
ke stator membuat perlawanan/interaksi terhadap main rotor sehingga
timbul gaya yang sifatnya melawan dan menghambat putaran. Dengan
demikian poros diesel generator cenderung menurun putarannya karena
beban tersebut. Semakin besar beban yang tiba-tiba masuk semakin
kuat dan semakin turun putaran generator.
c. Melalui tranducer berupa magnetic pick up ini frekuensi impulse yang
terbaca menjadi ikut turun. Melalui referensi pulsa MPU ini dibaca dan
12

di compare oleh speed control . Karena sudah di set sedemikian rupa


pada pulsa impule 2,75 KHz akan berputar pada 1500 Rpm. Maka jika
terjadi penurunan impulse maka sesaat / segera speed control
memerintahkan actuator untuk menambah sudut buka fuel sehingga
kecepatan ditambah sampai MPU mengirimkan sinyal pulse sebesar
2,75 KHz. Dengan berbagai level beban maka didapat speed yang
konstan. Waktu dan reaksi yang dibutuhkan untuk kembali pada putaran
nominal dapat diatur melalui setelan Proporsional, Differensial dan
Integral yang ada pada speed kontrol.
d. Jika pada saat beban tinggi kemudian ada pengurangan beban yang tiba
tiba atau perlahan. Maka terjadi pengurangan arus listrik yang ada pada
stator generator. Sehingga interaksi perlawanan medan magnet
berkurang .Dengan demikian putaran poros generator cenderung naik
karena beban lebih ringan. Maka terjadi kenaikan impulse pada MPU,
segera speed control memerintahkan actuator untuk mengurangi sudut
buka fuel sehingga kecepatan berkurang dan mendekati putaran
nominal.
e. Demikian

terus

berkelanjutan

berulang-ulang,

sehingga

dapat

disimpulkan putaran generator dan frekuensi generator akan tetap


dengan berbagai level beban.
B. Proses Pengerjaan
1. Penggunaan Turbine Governor di PLTA Sengguruh
Dipandang dari fungsi dasar governor, maka yang dikontrol oleh
governor itu adalah besar bukaan dari sudu hantar.
Governor yang digunakan di PLTA Sengguruh adalah elektronik
governor yang dipadukan dengan hydraulic system untuk mengatur besar

13

bukaan sudu hantar (guide vane). Fungsi sudu hantar adalah untuk
mengatur besar/kecilnya aliran air yang melalui turbin untuk mendapatkan
beban unit pembangkit sesuai dengan kebutuhan.

Gambar 6. Panel Governor PLTA Sengguruh


Hydraulic System yang digunakan pada governor PLTA Sengguruh
ini dibagi menjadi beberapa bagian antara lain :
a. Governor oil pump
b. Accumulator

14

c. Servo motor
d. Actuator
Fungsi utama actuator ini adalah untuk merubah aliran oli hidrolis yang
mengalir ke servo motor dari arah membuka atau arah menutup.
Governor yang digunakan di PLTA Sengguruh adalah Governor
ASEA Type HPC. 610 untuk sudu hantar dan HPC. 620 untuk sudu
kecepatan.
a.

HPC. 610
Beberapa fungsi dari turbine governor dibagi menjadi angkaangka di dalam modul ialah M1 sampai M7. Perbedaan modul
ditunjukan seperti di bawah ini :

Gambar 7. Modular Structure Of HPC 610


1) M1. Man Machine Interface (MII)

15

Merupakan suatu bagian yang menghubungkan kemungkinan


komunikasi operator dengan alat pengatur. MII akan menyesuaikan
sinyal peragam dan menyampaikan ke kontrol panel.
2) M2. Pengukuran-Pelacakan Frekuensi
Potensial transformer dari generator dipakai sebagai sumber
sinyal dari pengukuran frekuensi. Frekuensi dihitung secara digital
dengan ketelitian 0,01 %. Sinyal output dari pencacah frekuensi
diproses oleh software dan sesudah diproses menghasilkan besaran
yang nyata. Dalam kenyataan, kanal frekuensi dapat terdiri dari filter
pertama

dan

selanjutnya,

seluruh

kanal

pembantu

dapat

membandingkan dari frekuensi jaring-jaring selama periode sincron,


untuk memungkinkan secara otomatis perubahan kecepatan pada
waktu sincron.
3) M3. Pengatur Frekuensi/Beban
Pengatur ini mempunyai dua input, satu dari pengatur
frekuensi dan lainnya dari Guide Vane. Perintah guide vane akan
selalu dijumlahkan dengan sinyal output pengatur, kemudian
menimbulkan feed forward sesuai dengan daerah jalan perubahan
beban bila perintah dijalankan tetap. Pembagian dan pelacakan
dilakukan dengan software untuk mengatur perubahan-perubahan
frekuensi atau penyesuaian perubahan beban atau posisi guide vane,
permanen speed droop yang dibagikan dalam beberapa harga dari 0
sampai 10 %. Perubahan harga ini harus dapat berubah secara
otomatis bila pada waktu pemutus generator membuka atau
menutup, dan bila terjadi gangguan yang dilacak pada jaring-jaring.
4) M4. Pelacakan Dari Model Operasi

16

Kondisi tertentu dapat diwujudkan dari tiga model operasi.


a) No load operation
b) Smooth operation pengatur beban tetap
c) Disturbed operation (terlalu banyak beban atau produksi jatuh,
beban jaring-jaring kecil pada waktu operasi sendiri
Sebuah modul yang memonitor frekuensi dari penyimpanganpenyimpangan akan memilih mode operasi pada operasi kenyataan.
5) M5. Pembatas Beban
Dalam modul ini, posisi guide vane akan dibatasi selama
proses START dan selama operasi normal. Pembukaan guide vane
minimum dapat selalu dibatasi.
6) M6. Model Operasi
Model operasi governor yang normal adalah otomatis
governor ditempatkan auto, pada saat mulai Start model manual
dapat dirubah oleh suatu indikasi gangguan atau oleh operator.
Peralatan hydraulic dirancang agar guide vane memegang teguh
pada posisinya pada waktu saklar pindah dari auto ke Hang. Dalam
mode Hang, semua rangkaian auto akan lepas.

17

7) M7. Monitoring
Peralatan HPC. 610 yang memonitor sendiri meliputi micro
computer (proses meliputi pada rangkaian panel), memori, dan
sumber daya. Pelacakan sendiri akan menyalakan alarm dan akan
memerintah memori. Micro computer selalu dipakai untuk pelacakan
semua bagian dari HPC. 610, Tranducer, Actuator, dan kabel luar.
Kondisi terganggu akan ditunjukan oleh nyalanya lampu led pada
bagian muka dari HPC. 610.
b. HPC. 620
Pada HPC. 620, perubahan fungsi dinyatakan dalam program
elektronik, dinyatakan secara nyata dan menjaga kestabilan yang lama
dari peralatan. Berbagai perubahan akan selalu kembali pada posisi
netral pada peralatan hydraulic. Pengatur runner blade dinyalakan
dengan modul-modul yang bernomer 1 sampai 8 yang semuanya
diperintah oleh PC Element.

18

Gambar 8. Modular Structure Of HPC 620


Modul-modul pada runner blade dinyatakan sebagai berikut :
1) M1, M2, M3. Fungsi Berubah
Pengatur runner blade menerima posisi tranducer analog,
normal motor 4 sampai 20 MA yang dipakai runner blade dan guide
vane Position Head dan Tail Water Level. Tranducer ini disambung
ke governor melalui kanal input analog.
Harga pembatas bawah dan atas dari sinyal pengukuran akan
dimonitor. Kesalahan sinyal analog dapat diakibatkan oleh :
a) Gangguan pada tranducer
b) Gangguan pada kabel
c) Kesalahan/hilang sumber daya
d) Converter tegangan
2) M4. Penghitung Head
Kenyataan head ditentukan dengan menjumlah sinyal dari
level tranducer yang mempengaruhi pengatur runner blade.
3) M5. Kurva Campuran
Sudut runner pada turbine Kaplan ditempatkan bebas
mengikuti pembukaan guide vane. Head dengan kombinasi ini

19

menghasilkan

efisiensi

tertinggi

dari

hasil

bagi

Turbine

Power/Turbine Flow.
4) M6. Controller dan Drive Stage
Maksud dari drive stage akan menyesuaikan sinyal output
dari pengatur pada peralatan Electro Hydraulic. Drive Stage tersusun
dalam software, terpisah dari analog servo amplifier.
5) M7. Monitoring
Sistem monitoring pada HPC.620 terbagi menjadi bermacammacam proses sambungan. Terbagi menjadi dua sistem, satu dari self
monitoring computer dan lainnya dari sistem pelacakan.
Bagian-bagian dari self monitoring.
a) Micro computer
b) Memori
c) Sumber daya
Sistem monitoring memakai computer untuk memonitor
semua bagian HPC. 620, Tranducer, Actuator, dan bagian-bagian
yang lain. Sistem monitoring menimbulkan alarm dan memerintah
memori. Kondisi gangguan akan ditunjukan oleh nyalanya led yang
terletak di depan HPC. 620.
6) M8. Cara Operasi
Sudut runner akan selalu dijaga tetap pada posisinya selama
STOP dan pada waktu mulai START. Bila START pada fungsi
kombinasi normal switch in, sesudah akhir dari timer bekerja dari
guide vane posisi membuka pada starting position atau pada waktu
kecepatan yang dikehendaki tercapai.
2. Sistem Kerja Turbine Governor di PLTA Sengguruh

20

Gambar 9. Turbine Governor System PLTA Sengguruh


Dalam gambar di atas terlihat semua perintah untuk pengoperasian
turbine dilaksanakan oleh elektronik governor, diteruskan pada system
hydraulic untuk mengatur besar bukaan sudu hantar (guide vane).
Parameter yang digunakan pada pengoerasian governor di PLTA
Sengguruh adalah kecepatan putar turbin dan frekuensi yang dihasilkan
oleh generator, frekuensi yang dihasilkan generator akan dibaca oleh
Turbin Governor. Karena jumlah besaran yang dihasilkan turbin governor
masih sangat kecil, maka besaran tersebut akan diteruskan ke Hydraulic
Control Unit untuk diubah menjadi tekanan yang lebih besar (actuator),
yang kemudian akan diterima oleh main servo dan digunakan untuk
mengatur besar bukaan sudu hantar (guide vane) agar sesuai dengan
kebutuhan beban yang diinginkan.
Besaran yang dihasilkan oleh turbin governor juga akan diteruskan
ke Runner Blade Regulator. Runner Blade Regulator ini berfungsi untuk

21

mengatur efisiensi turbine agar dapat mengatur bukaan runner vane sesuai
dengan besar bukaan guide vane pada fariasi beban yang berubah-ubah.
C. Pembahasan
Governor adalah perlengkapan yang berfungsi untuk mengoperasikan
turbin. Alat ini menjaga antara output yang dihasilkan dengan input yang
disediakan (debit air) juga untuk menjaga kestabilan putaran/rpm agar didapat
output dengan frequensi yang konstan atau dengan kata lain mengatur putaran
turbin secara otomatis.
Governor digunakan sebagai interface antara turbin penggerak dan
generator. Pengaturan putaran turbin sejak turbin mulai bergerak sampai
steady state dilakukan oleh governor, jadi bukan diambil alih oleh
governor. Fungsi utama pengaturan putaran ini adalah untuk menjaga
kestabilan sistem secara keseluruhan terhadap adanya variasi beban atau
gangguan pada sistem.
Terdapat dua mode operasi pada governor, yaitu droop dan isochronous.
Pada mode droop, governor sudah memiliki setting point P mech (daya
mekanik) yang besarnya sesuai dengan rating generator atau menurut
kebutuhan. Dengan adanya fixed setting ini, output daya listrik generator
nilainya tetap dan adanya perubahan beban tidak akan mengakibatkan
perubahan putaran turbin (daya berbanding lurus dengan putaran).
Lain halnya dengan mode isochronous, set point putaran governor
ditentukan berdasarkan kebutuhan daya listrik sistem pada saat itu (real time).
Kemudian melalui internal proses di dalam governor (sesuai dengan kontrol
logic dari manufaktur), governor akan menyesuaikan nilai output daya

22

mekanik turbin supaya sesuai dengan daya listrik yang dibutuhkan sistem.
Pada saat terjadi perubahan beban, governor akan menentukan setting point
yang baru sesuai dengan aktual beban sehingga dengan pengaturan putaran
ini diharapkan frekuensi listrik generator tetap berada di dalam acceptable
range dan generator tidak mengalami out of synchronization.
Seperti halnya peralatan listrik yang lain, governor juga memiliki
keterbatasan kemampuan. Parameter-parameter governor, seperti daya
mekanik, gas producer, speed droop, dan lainnya memiliki nilai batas atas dan
batas bawah sesuai spesifikasi dari pabrik.
Governor memiliki fungsi dasar antara lain :
1. Menjaga putaran turbine tetap stabil dalam berbagai variasi beban
2. Beban dapat dengan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan
3. Dapat mematikan unit dengan cepat pada waktu terjadi gangguan
4. Dapat dioperasikan secara otomatis maupun manual
Jenis governor yang digunakan pada PLTA Sengguruh adalah elektronik
governor. Governor jenis ini bekerja dengan menggunakan fluida kerja
berupa minyak bertekanan. Secara singkat governor ini berfungsi sebagai
penstabil putaran turbin agar selalu konstan. Governor berfungsi mengatur
besar bukaan guide vane dengan memanfaatkan besar frekuensi yang
dihasilkan generator. Kerja dari guide vane akan mengontrol putaran turbin
generator agar tetap konstan pada variasi beban yang berbeda. Frekuensi yang
dihasilkan generator akan di umpan balik ke governor dan dikirimkan ke
System Hidraulic. System Hidraulic Control akan berperan menggerakan
main servo melalui aliran minyak bertekanan yang mampu mengatur bukaan
guide vane sehingga aliran air yang mengarah ke turbin bisa dikontrol.
Runner blade regulator mendapatkan umpan balik masukan dari elektrik

23

governor dan main servo system untuk menentukan apakah perlu tidaknya
hydraulic control menggerakan runner blade servo agar pembukaan runner
vane sesuai dengan pembukaan guide vane.

24

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Governor adalah
sebuah alat elektronik yang berfungsi untuk mengatur putaran turbin agar pada
variasi beban yang berubah-ubah, turbin dapat mempertahankan kecepatannya
pada kecepatan normal (konstan). Fungsi sudu hantar adalah untuk mengatur
besar/kecilnya aliran air yang melalui turbin untuk mendapatkan beban unit
pembangkit sesuai dengan kebutuhan.
Governor di PLTA Sengguruh dipadukan dengan hydrolic system untuk
mengatur besar bukaan sudu hantar (guide vane). Governor yang digunakan di
PLTA Sengguruh adalah Governor ASEA Type HPC. 610 untuk sudu hantar
dan HPC. 620 untuk sudu kecepatan. Governor bekerja berdasarkan kecepatan
putar turbin dan frekuensi yang dihasilkan generator. Sistem kerja governor di
PLTA Sengguruh juga menggunakan Runner Blade Regulator yang berfungsi
untuk mengatur efisiensi turbin sehingga dapat mengatur bukaan runner vane
sesuai dengan besar bukaan guide vane pada variasi beban yang berubah-ubah.
B. Saran
Setelah melaksanakan kegiatan Pengalaman Lapangan Industri (PLI) di
PLTA Sengguruh, adapun saran yang dapat disampaikan penulis :
1. Dalam melaksanakan pengecekan dan perawatan unit-unit pembangkit
sebaiknya dilakukan dengan baik dan teliti agar dapat menjaga pembangkit
beroperasi dengan baik dan lancar.
2. Setiap teknisi ataupun crew perawatan unit-unit pembangkit hendaklah
memperhatikan aspek safety kerja/ keselamatan kerja, karena obyek yang

25

dihadapi mesin yang kadang-kadang menimbulkan error yang mungkin


berbahaya terhadap keselamatan jiwa.
Semoga dengan pelaksanaan Pengalaman Lapangan Industri (PLI) ini
dapat memberi tambahan pengetahuaan dan wawasan tentang luasnya aplikasi
dari sistem tenaga listrik yang tidak hanya terbatas pada sistem-sistem yang
terlibat dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat saja akan
tetapi juga diterapkan untuk memenuhi kebutuhan listrik untuk berbagai
industri.

26

DAFTAR PUSTAKA

Diktat Materi Training class PLTA Sengguruh.1989. Perusahaan Umum


Listrik Negara
Unit Hubungan Industri (2014), Buku Pedoman PLI Mahasiswa FT UNP.
Padang

27