Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Produktivitas
Teori produktivitas Menurut walter Aigner dalam Motivasi and
Awarenes, filosofi dan spirit tentang produktivitas adalah keinginan (Will) dan
upaya (Effort) manusis untuk selalu meningkatkan kualitas didalam segala bidang.
Produktivitas sebagai konsep yang menyatakan bagaimana keluaran akan berubah
apabila masukan berubah, pertama kali dicetuskan oleh David Ricardo pada tahun
1810, pada tahun 1883, littre mendifinisikan produktivitas sebagai kemampuan
untuk menghasilkan yaitu kemampuan utntuk memproduksi. Dari beberapa
peneliti menggunakan teori produktivitas antara lain : Riyanto (1986:22),
sedarmayanti (1996:22), Gomes F. Cardoso (1997, P159), Paul Mali (1998, P18),
Husein Umar (1998, P9), Gasaperz (2000, P17), Kusnaedi (2003:8,4), L.
Greenberg (2005, P120), Sinungan (2005, P18),
Teori-teori peroduktivitas diatas dapat dijadikan acuan dalam penelitian ini
berhubungan isu atau fenomena dan fakta yang ada di obyek penelitian dapan
menyelesaikan rumusan maslah yang telah di buat oleh penulis.
B. Pertanian
Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis
dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini merupakan sektor
yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam
pembangunan bangsa. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu
pun yang menguntungkan bagi sektor ini. Program-program pembangunan
pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini
pada kehancuran. Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat

banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita
tergantung padanya.
Perjalanan pembangunan pertanian Indonesia hingga saat ini masih belum
dapat menunjukkan

hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan

petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Pembangunan pertanian di


Indonesia dianggap penting dari keseluruhan pembangunan nasional. Ada
beberapa hal yang mendasari mengapa pembangunan pertanian di Indonesia
mempunyai peranan penting, antara lain: potensi Sumber Daya Alam yang besar
dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya
pangsa

terhadap

ekspor

nasional,

besarnya

penduduk

Indonesia

yang

menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan


masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi pertanian
Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar
dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin. Hal ini
mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang
memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan.
Pembangunan pertanian pada masa lalu mempunyai beberapa kelemahan,
yakni hanya terfokus pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta
pendekatannya yang sentralistik. Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai
saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan: (a) skala kecil, (b) modal
yang terbatas, (c) penggunaan teknologi yang masih sederhana, (d) sangat
dipengaruhi oleh musim, (e) wilayah pasarnya lokal, (f) umumnya berusaha
dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian
(pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat
rendah, (h) pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai

10

oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan


petani. Selain itu, masih ditambah lagi dengan permasalahan-permasalahan yang
menghambat pembangunan pertanian di Indonesia seperti pembaruan agraria
(konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian) yang semakin tidak
terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih bermutu bagi petani, kelangkaan
pupuk pada saat musim tanam datang, swasembada beras yang tidak
meningkatkan kesejahteraan petani dan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi
Petani, menuntut pemerintah untuk dapat lebih serius lagi dalam upaya
penyelesaian masalah pertanian di Indonesia demi terwujudnya pembangunan
pertanian Indonesia yang lebih maju demi tercapainya kesejahteraan masyarakat
Indonesia.
Pertanian merupakan suatu kegiatan manusia yang termasuk di dalamnya
yaitu bercocok tanam, peternakan, perikanan dan juga kehutanan. Sebagian besar
mata pencaharian masyarakat di kabupaten wajo adalah sebagai petani, sehingga
sektor pertanian sangat penting untuk dikembangkan dikabupaten wajo kita.
Bentuk-Bentuk Pertanian Di Indonesia :
1. Sawah
Sawah adalah suatu bentuk pertanian yang dilakukan di lahan basah dan
memerlukan banyak air baik sawah irigasi, sawah lebak, sawah tadah hujan
maupun sawah pasang surut.
2. Tegalan
Tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada
pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari
lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat
pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau
lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian.
3. Pekarangan

11

Perkarangan adalah suatu lahan yang berada di lingkungan dalam rumah


(biasanya dipagari dan masuk ke wilayah rumah) yang dimanfaatkan/digunakan
untuk ditanami tanaman pertanian.
4. Ladang Berpindah
Ladang berpindah adalah suatu kegiatan pertanian yang dilakukan di
banyak lahan hasil pembukaan hutan atau semak di mana setelah beberapa kali
panen/ditanami, maka tanah sudah tidak subur sehingga perlu pindah ke lahan lain
yang subur atau lahan yang sudah lama tidak digarap.
Beberapa hasil-hasil pertanian di Indonesia sebagai berikut :
1. Pertanian Tanaman Pangan yaitu Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanah,
Ubi Jalar, Ketela Pohon.
2. Pertanian Tanaman Perdagangan yaitu Kopi, The, Kelapa, Karet, Kina,
Cengkeh, Kapas, Tembakau, Kelapa Sawit, Tebu.
Hampir seluruh pertanian tanaman pangan di kawasan pertanian kabupaten
wajo dan Sekitarnya didominasi oleh komoditas tanaman pangan pokok seperti
padi sawah, jagung dan ubi kayu. Namun kenyataannya, walaupun sektor
pertanian khususnya sektor pertanian tanaman pangan, telah memberikan
sumbangan yang berarti bagi PDRB Kabupaten wajo terutama pada masa krisis,
hal ini tidak selalu berarti bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan
tersebut.
Hal ini dapat dijelaskan dari perbedaan tujuan utama dari pertanian
tanaman pangan pokok dan pertanian tanaman non pokok. Pertanian tanaman
pangan pokok umumnya dilakukan dengan tujuan utama yakni pemenuhan
kebutuhan pokok petani. Apabila dari pemenuhan kebutuhan pokok tersebut
terdapat sisa, barulah komoditas itu dijual. Sedangkan pertanian tanaman pangan
non pokok umumnya dilakukan dengan tujuan utama ekspor. Hal lain yang

12

menyebabkan pertanian tanaman pangan pokok lebih sulit dikembangkan


dibandingkan pertanian tanaman non pangan adalah kendala keterbatasan
pemilikan lahan. Dengan pemilikan lahan per kepala keluarga rata-rata 0,4 Ha dan
produktivitas lahan sekitar 5 ton beras per Ha per tahun atau ekivalennya, sangat
sulit bagi petani tanaman pangan pokok untuk sekedar memenuhi kebutuhan
pokoknya akan bahan pangan, apalagi untuk menjual sisanya. Hal ini berbeda
dengan pertanian tanaman pangan non pokok yang menghasilkan komoditas yang
bernilai relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian pangan pokok sehingga
tidak terlalu tergantung pada ukuran lahan.
Aspek penting lain yang membedakan antara pertanian tanaman pangan
pokok dan non pokok adalah teknologi yang digunakan. Umumnya pertanian
tanaman pangan pokok dikelola dengan menggunakan teknologi sederhana yang
diwariskan secara turun temurun. Selain itu dengan hasil produksi yang cenderung
menurun dari panen ke panen karena selalu menggunakan bibit yang berasal dari
panen sebelumnya, ditunjang dengan tujuan pengelolaannya yang terkadang
hanya untuk mengisi lahan kosong, sulit bagi para petani untuk menggunakan
teknologi pertanian yang lebih baik sekalipun didukung oleh subsidi Pemerintah
terhadap harga pupuk dan pestisida. Sedangkan pertanian tanaman pangan non
pokok yang memang dikelola dengan tujuan ekonomis umumnya lebih terbuka
dan lebih dimungkinkan secara finansial pada pemanfaatan teknologi yang lebih
baik dibandingkan pertanian tanaman pangan pokok. Aspek yang juga
menentukan dalam perbedaan antara pertanian tanaman pangan pokok dengan
tanaman pangan non-pokok adalah kompetisi. Tanaman pangan pokok
menghadapi kompetisi yang lebih berat dibandingkan dengan tanaman pangan

13

non pokok karena jenisnya yang nyaris seragam dan dihasilkan dalam pangsa
yang besar dan waktu yang relatif serempak. Sedangkan tanaman pangan non
pokok yang lebih beragam dan dihasilkan dalam pangsa yang lebih kecil dengan
pola panen yang berbeda-beda cenderung mengalami kompetisi yang lebih sehat
dibandingkan dengan tanaman pokok.
C. Produktivitas
Salah satu aspek penting di dalam meningkatkan kemampuan serta
pemanfaatan kemampuan sertapemanfaatan sumber-sumber yang relatif terbatas
adalah mempergunakan sumber-sumber tersebutseefisien mungkin. Penggunaaan
sumber seefisien mugkin akan cenderung kearah peningkatan produktivitas tenaga
kerja. Produktivitas tenaga kerja adalah perbandingan antara hasil kerja yang di
capai dengan peran sertatenaga kerja persatuan waktu (Kussriyanto, 1986:2).
Melayu S.P. Hasibuan (1996:126) Produktivitas adalah perbandingan
antara output (hasil)dengan input (masukan). Jika Produktivitas naik ini hanya
dimungkinkan oleh adanya peningkatan efisiensi (waktu-bahan-tenaga) dan
sisitem kerja, teknik produksi dan adanya peningkatan keterampilandari tenaga
kerjanya.
2.1. Faktor-faktor produktivitas kerja
Menurut Sinungan (2000:23) beberapa faktor yang mempengaruhi
Produktivitas kerja secara umum adadelapan faktor yaitu :
1. Kebutuhan manusia; yang meliputi: kuantitas, tingkat keahlian, latar
belakang kebudayaan danpendidikan, kemampuan, sikap, minat, struktur
pekerjaan, keahlian dan umur (kadang-kadang jenis kleamin) dari
angkatan kerja.

14

2. Modal: yang terdiri dari modal tetap (mesin, gedung, alat-alat, volume
danstandar).strukturnya), tehnologi, litbang, dan bahan baku (volume dan
standar).
3. Metode atau proses baik tata ruang tugas, penanganan bahan baku
penolong dan mesin,perencanaan dan pengawasan produksi, pemeliharan
melalui pencegahan, teknologi yangmemakai cara alternatif.
4. Produksi yang meliputi: kuantitas, kualitas, ruangan produksi, struktur
campuran, dan spesialproduksi.
5. Lingkungan Organisasi (internal) berupa: organisasi dan perencanaan,
system manajemen,kondisi kerja (fisik), iklim kerja (sosial), tujuan
perusahaan dan hubungannya dengan tujuanlingkungan, system insentif,
kebijaksanaan personilia, gaya kepemimpinan dan ukuranperusahaan
(ekonomi skala).
6. Lingkungan Negara (eksternal) seperti: kondisi ekonomi dan perdagangan
stuktur sosial danpolitik, polotik, struktur industri, tujuan pengembangan
jangka panjang, pengakuan ataupengesahan, kebijakssanaan ekonomi
pemerintah (perpajakan dan lain-lain), kebijakan tenagakerja, energi,
kebijakan pendidikan dan latihan, kondisi iklim dan geografis serta
kebijakanperlindungan lingkungan.
7. Lingkungan Internasional (regional) yang terdiri dari: kondisi perdagangan
dunia,

masalah-masalah

perdagangan

internasional

spesialisasi

internasional, kebijakan migrasi tenaga kerja,dan standar tenaga kerja.


8. Umpan balik yaitu informasi yang ada hubungannya dengan timbal balik
masukan (input) danhasil (output) dalam perusahaan, antara perusahaan
dengan ruang lingkup negara(internasioanal).
2.2. Pengukuran produktivitas kerja

15

Secara umum menurut Sinungan (2000: 23) pengukuran Produktivitas


berarti perbandingan yang dapatdibedakan dalam tiga jenis yang sangat berbeda,
yaitu :
1. Perbandingan-perbandingan

antara

pelaksanaan

sekarang

dengan

pelaksanaan secara historisyang tidak menunjukkan apakah pelaksanaan


sekarang

ini

memuaskan,

namun

hanyamengetengahkan

apakah

meningkat atau berkurang serta tingkatannya.


2. Perbandingan pelaksanaan antara satu unit (perorangan tugas, seksi,
proses) dengan lainnya.Pengukuran seperti ini menunjukkan pencapaian
secara relatif.
3. Perbandingan pelaksanaan sekarang dengan targetnya, dan inilah yang
terbaik, sebabmemusatkan perhatian pada sasaran atau tujuan
D. Pendapatan
Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil bagi antara pendapatan
nasional suatu negara dengan jumlah total penduduk (populasi) negara tersebut.
Pendapatan per kapita juga mencerminkan besaran Pendapatan Domestik Bruto
(atau yang biasa di singkat dengan PDB) per kapita. Rumusnya adalah: PDB
Tahun Ini PDB Tahun Lalu / PDB Tahun Lalu x 100%
Pendapatan per kapita biasanya digunakan sebagai tolak ukur tingkat
kemakmuran dan tingkat kemajuan pembangunan sebuah negara, dimana rumus
yang digunakan adalah semakin besar pendapatan per kapitanya, maka dianggap
semakin makmur sebuah negara itu.
Hernanto (1994), besarnya pendapatan yang akan diperoleh dari suatu
kegiatan usahatani tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti
luas lahan, tingkat produksi, identitas pengusaha, pertanaman, dan efisiensi
penggunaan tenaga kerja. Dalam melakukan kegiatan usahatani, petani berharap

16

dapat meningkatkan pendapatannya sehingga kebutuhan hidup sehari-hari dapat


terpenuhi. Harga dan produktivitas merupakan sumber dari faktor ketidakpastian,
sehingga bila harga dan produksi berubah maka pendapatan yang diterima petani
juga berubah (Soekartawi, 1990).
1. Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani menurut Gustiyana (2004), dapat dibagi menjadi dua
pengertian, yaitu :
1. pendapatan kotor, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam
usahatani selama satu tahun yang dapat diperhitungkan dari hasil
penjualan atau pertukaran hasil produksi yang dinilai dalam rupiah
berdasarkan harga per satuan berat pada saat pemungutan hasil,
2. pendapatan bersih, yaitu seluruh pendapatan yang diperoleh petani dalam
satu tahun dikurangi dengan biaya produksi selama proses produksi.
Biaya produksi meliputi biaya riil tenaga kerja dan biaya riil sarana
produksi.
Dalam pendapatan usahatani ada dua unsur yang digunakan yaitu unsur
penerimaan dan pengeluaran dari usahatani tersebut. Penerimaan adalah hasil
perkalian jumlah produk total dengan satuan harga jual, sedangkan pengeluaran
atau biaya yang dimaksudkan sebagai nilai penggunaan sarana produksi dan lainlain yang dikeluarkan pada proses produksi tersebut (Ahmadi, 2001). Produksi
berkaitan dengan penerimaan dan biaya produksi, penerimaan tersebut diterima
petani karena masih harus dikurangi dengan biaya produksi yaitu keseluruhan
biaya yang dipakai dalam proses produksi tersebut (Mubyarto, 1989).

17

Hernanto (1994), menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi


pendapatan usahatani:
a) Luas usaha, meliputi areal pertanaman, luas tanaman, luas tanaman ratarata,
b) Tingkat produksi, yang diukur lewat produktivitas/ha dan indeks
pertanaman,
c) Pilihan dan kombinasi,
d) Intensitas perusahaan pertanaman,
e) Efisiensi tenaga kerja.
Biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam
usahatani. Biaya usahatani dibedakan menjadi dua yaitu biaya tetap dan biaya
tidak tetap. Biaya tetap adalah biaya yang besarnya tidak tergantung pada besar
kecilnya produksi yang akan dihasilkan, sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya
yang besar kecilnya dipengaruhi oleh volume produksi.
Secara matematis untuk menghitung pendapatan usahatani dapat ditulis
sebagai berikut :

= Y. Py Xi.Pxi - BTT

Keterangan :

= Pendapatan (Rp)

= Hasil produksi (Kg)

Py

= Harga hasil produksi (Rp)

Xi

= Faktor produksi (i = 1,2,3,.,n)

Pxi

= Harga faktor produksi ke-i (Rp)

BTT

= Biaya tetap total (Rp)

Untuk mengetahui usahatani menguntungkan atau tidak secara ekonomi


dapat dianalisis dengan menggunakan nisbah atau perbandingan antara

18

penerimaan dengan biaya (Revenue Cost Ratio). Secara matematis dapat


dirumuskan sebagai berikut:
R/C = PT / BT
Keterangan:
R/C = Nisbah penerimaan dan biaya
PT = Penerimaan Total (Rp)
BT = Biaya Total (Rp)
Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Jika R/C > 1, maka usahatani mengalami keuntungan karena penerimaan
lebih besar dari biaya.
b) Jika R/C < 1, maka usahatani mengalami kerugian karena penerimaan
lebih kecil dari biaya.
c) Jika R/C = 1, maka usahatani mengalami impas karena penerimaan sama
dengan biaya.
2. Pendapatan Rumah tangga
Tingkat pendapatan rumah tangga merupakan indikator yang penting
untuk mengetahui tingkat hidup rumah tangga. Umumnya pendapatan rumah
tangga di pedesaan tidak berasal dari satu sumber, tetapi berasal dari dua atau
lebih sumber pendapatan. Tingkat pendapatan tersebut diduga dipengaruhi oleh
pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga petani.
Hernanto (1994), menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang
mempengaruhi keberhasilan usahatani, yaitu faktor internal seperti unsur tanah,
air, iklim, tingkat teknologi, manajemen, tenaga kerja, modal, dan jumlah tenaga
kerja.

Selain faktor internal juga terdapat faktor eksternal, yaitu tersedianya

sarana transportasi dan komunikasi, harga, sarana produksi, fasilitas kredit, dan
penyuluhan.
Tingkat pendapatan yang rendah mengharuskan anggota rumah tangga
untuk bekerja atau berusaha lebih giat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pendapatan keluarga diharapkan mencerminkan tingkat kekayaan dan besarnya

19

modal yang dimiliki petani. Semakin besar pendapatan keluarga petani cenderung
lebih berani menanggung resiko. Pendapatan besar mencerminkan tersedianya
dana yang cukup untuk usahatani selanjutnya dan pendapatan yang rendah
menyebabkan menurunnya investasi dan upaya pemupukan modal.
Hernanto (1994), pendapatan petani dialokasikan untuk kegiatan:
1. Kegiatan produktif, yaitu untuk membiayai kegiatan usahataninya,
2. Kegiatan konsumtif, yaitu untuk pangan, papan, kesehatan, pendidikan,
rekreasi, dan pajak,
3. Pemeliharaan investasi, dan
4. Investasi dan tabungan.
E. Penelitian Relevan
1. Penelitian dari Ahmad Damiri dengan judul Perbandingan Produktivitas
Padi Sawah Dengan beberapa Model Plot Ubinan Pada Sistem Tanam
Legowo 4 : 1. Data yang digunakan adalah Data produktivitas dikonversi
dari data ubinan yang diambil di lapangan sebagai dasar perhitungan oleh
BPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara rata-rata plot ubinan

ukuran 2,5 x 2,5 m menghasilkan produktivitas 6,76 ton/ha, 5 x 2 m


menghasilkan 5,96 ton/ha, dan 5 x 5 m produktivitasnya 5,88 ton/ha.
Model plot ubinan 5 x 2 menunjukkan produktivitas yang paling
mendekati data riil yaitu 6,00 ton/ha, sehingga ukuran plot ubinan ini
direkomendasikan untuk digunakan pada pertanaman padi sawah legowo
4:1 daripada plot ubinan ukuran 5 x 5 m, sedangkan plot ubinan 2,5 x 2,5
m tidak direkomendasikan untuk digunakan pada sistem tanaman legowo
4:1 untuk mencegah bias produktivitas yang terlalu tinggi.
2. Penelitian yang disajikan Primasto Alfas Moniung dengan judulStrategi
Pengembangan Tanaman pangan Di Wilayah agropolitan Kecamatan

20

Kawangkoan

Barat

Dalam penelitian

ini

penulis

menggunakan

pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatif. Dengan menggunakan analisis


SWOT. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang
diperoleh dari sumber-sumber yang terkait. Hasil penelitian menunjukan
bahwa Wilayah agropolitan Kecamatan Kawangkoan Barat memiliki
potensi untuk ditanami jagung dan kacang tanah karena di dukung oleh
luas lahan yang baik, sarana dan prasarana baik bangunan, jalan,
transportasi, pasar, listrik dan telekomunikasi yang menunjang kegiatan
pertanian dan juga ada kemitraan industri dengan lembaga lain guna
pengembangan kawasan Aagropolitan. Strategi untuk pengembangan
tanaman pangan di Kecamatan Kawangkoan Barat yaitu para petani
memanfaatkan sumberdaya dan keterampilan dalam mengelola tanaman
pangan jagung dan kacang tanah dengan baik, meningkatkan produktifitas
tanaman

pangan

dengan

menggunakan

teknologi

yang

sesuai,

memaksimalkan industri pengolahan untuk memenuhi permintaan dari


konsumen, menjalin kerjasama yang baik dengan pemerintah dalam
melakukan pendampingan dan pengawasan penyaluran benih, pupuk,
maupun alat dan mesin pertanian dari produsen, pedagang, pengencer
hingga ke petani agar tersedia tepat waktu, serta meningkatkan kerjasama
antara petani dengan industri pengolahan hasil dan industri pakan ternak
dalam mengembangkan wilayah Kawangkoan Barat yang merupakan
kawasan agropolitan. Wilayah ini berdasarkan analisis SWOT berada di
sel 1 kuandran II yaitu strategi yang agresif, strategi ini dapat memacu

21

pertumbuhan dan perkembangan tanaman pangan khususnya jagung dan


kacang tanah di Kecamatan Kawangkoan Barat.
3. Penelitian dari Aris Syaifudin dengan judul Strategi Pengembangan
Sektor Pertanian Sub Sktor Tanaman Pangan Dalam Upaya Peningkatan
PDRB Kabupaten Pati. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif. Data
yang di gunakan adalah data-data primer maupun data sekundar yaitu datadata yang diperoleh dari hasil wawancara dengan aparatur pemerintahan
maupun dengan masyarakat serta data-data dari instansi pemerintah,
analisis yang digunakan tipologi, klaseen, skalogram, overlay, lq, shift
shere. Berdasarkan hasil penelitian diketahui pengembangan komoditas
padi terdapat di Kecamatan Kecamatan Sukolilo, Kecamatan Kayen,
Kecamatan

Pati,

Kecamatan

Gabus,

dan

Kecamatan

Margorejo.

Komoditas tanaman jagung Kecamatan Sukolilo dan Kecamatan Kayen.


Komoditas tanamn kedelai Kecamatan kayen, Kecamatan Pati, dan
Kecamatan Gabus. Komoditas tanaman kacang tanah Kecamatan
Margorejo dan Kecamatan Gembong. Komoditas tanaman kacang hijau
Kecamatan

Pati,

Kecamatan

Gabus,

dan

Kecamatan

Margorejo.

Komoditas tanaman ubi kayu Kecamatan Gembong dan Kecamatan


Margoyoso. Komoditas tanaman ubi jalar Kecamatan Winong, Kecamatan
Pucakwangi, Kecamatan Jaken, Kecamatan Jakenan, dan Kecamatan
Wedarijaksa. Sub sektor tanaman pangan yang memiliki keunggulan
komparatif dan keunggulan kompetitif di tiap Kecamatan di Kabupaten
Pati dapat dijadikan sebagai penyedia bahan baku untuk industri pertanian
sehingga dapat memberikan nilai tambah dari produksi-produksi pertanian
dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah serta peningkatan

22

kesejahteraan masyarakat. Sub sektor tanaman pangan yang potensial


dikembangkan di tiap kecamatan di Kabupaten Pati dapat menjadi arah
pengembangan produksi komoditas sub sektor tanaman pangan dengan
menjadikan kecamatan-kecamatan tersebut menjadi pusat produksi sub
sektor tanaman pangan yang potensial agar arah pengembangan sektor
pertanian ini lebih terfokus dan terkonsentrasi pada potensi wilayah
sehingga pengembangan akan mudah tercapai.

F. Kerangka Fikir
Pengembangan Kawasan
Pertanian

23

Usaha Tani

Produktivitas Lahan

Lahan Irigasi

Lahan Tadah
Hujan

Dataran Tinggi
Dataran rendah

Dataran Tinggi
Dataran rendah

Faktor Produksi
- Luas Lahan
- Tenaga Kerja
- Benih
- Pupuk Kimia
- Pupuk
Organik
- Pestisida

Produksi

Biaya Produksi

Pendapatan

Analisis Pengaruh Produktivitas


Sawah Lahan Tadah Hujan Dan
Lahan Sawah Irigasi Terhadap
Pendapatan Masyarakat
Kabupaten Wajo

H. Hipotesis

24

1. Produktivitas lahan tadah hujan berengaruh dan signifikan terhadap


2.

peningkatan pendapatan masyarakat.


Produktivitas lahan irigasi berengaruh dan signifikan terhadap
peningkatan pendapatan masyarakat.

3. Produktivitas lahan irigasi dominan berpengaruh terhadap peningatan

pendapatan masyarakat.