Anda di halaman 1dari 5

GRAND TEORI LOKASI

Landasan teori lokasi adalah ruang. Tanpa ruang maka tidak


mungkin ada lokasi. Yang dimaksud dengan ruang adalah
permukaan bumi baik yang ada diatasnya maupun yang ada
dibawahnya sepanjang manusia awam bisa menjangkaunya.
Teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial
order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi
geografis dari sumber-sumber yang langka, serta hubungannya
dengan atau pengaruh terhadap lokasi berbagai macam usaha
atau kegiatan lain baik ekonomi maupun sosial.
Dalam

Undang-Undang

No.

26

Tahun

2007

tentang

Penataan Ruang disebutkan bahwa ruang adalah wadah yang


meliputi ruang darat, laut dan udara, termasuk juga ruang yang
ada pada bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia
dan makhluk hidup malakukan kegiatan dan melangsungkan
hidupnya. Sementara itu, tata ruang merupakan struktur maupun
pola ruang, baik yang ditata maupun tidak. Melalui penataan
diharapkan dimensi spasial yang terbatas bisa dimanfaatkan
semaksimal mungkin. Penataan ruang merupakan bagian dari
pengembangan wilayah malaui singkronisasi dan penyelarasan.
Melalui cara ini spasial yang ada mampu mendukung kehidupan
masyarakat

secara

optimal,

pembangunan yang diharapkan.

serta

sesuai

dengan

tujuan

Kebijakan pemerintah untuk


menjadi

satu

hal

yang

mengembangkan wilayah

penting

untuk

menjembatani

pengembangan yang bersifat sektoral. Melalui pengembangan


wilayah

yang

terintegrasi

diharapkan

bisa

mengurangi

kesenjangan di masyarakat. Bagaimanapun, pengembangan


wilayah akan mengintegrasikan berbagai sumber daya yang ada,
yang meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia,
infrastruktur, pendanaan untuk pengembangan, enterpreneur,
kelembagaan,

hingga

lingkungan

yang

mendukung

pembangunan yang luas.(Susantono; 2012).


Penyeberangan ASDP

dalam

arti

luas

sebagai

suatu

pembangunan wilayah yang merupakan sebuah langkah untuk


mengembangkan suatu kawasan secara holistik, tak hanya
dengan memacu pertumbuhan sosial, ekonomi, namun juga
mengurangi kesenjangan antara satu wilayah dengan wilayah
yang lain dengan cara yang konsisten dan logis, dan yang paling
berpengaruh disini adalah faktor lokasi (Locational Factors), serta
memperhitungkan bagaimana daerah-daerah kegiatan ekonomi
itu saling berhubungan (Interrlated). Sebagaimana dikatakan
Johann Heinrich Von Thunen (1826) pada teori lokasi yang
menggambarkan bahwa perbedaan ongkos transportasi tiap
komoditas dari tempat produksi ke pasar terdekat mempengaruhi
jenis pengguanaan tanah di daerah, serta memperhatikan jarak

tempuh antara daerah produksi dan pasar, pola tersebut


mamasukkan variabel keawetan, berat, dan harga dari berbagai
komoditas.

Alfred

Weber

(1909)

mengembangkan

analisis

penetuan lokasi optimum sebagai lokasi yang mempunyai biaya


produksi

terendah

yang

berarti

orientasi

transportasi

dan

orientasi tenaga kerja sebagai kekuatan lokasional primer, serta


perlu adanya aglomerasi lokasional. Walter Christaller (1933)
pada teori tempat pusat (Central Place), mempertegas bahwa
jaringan pelayanan transportasi adalah jaringan transportasi
yang melayani pergerakan muatan (barang dan manusia) yang
dilakukan

diatas

jaringan

prasarana

transportasi.

Jaringan

transportasi merupakan salah satu unsur (elemen) fundamental


pengembangan wilayah, di samping dari unsur-unsur lainnya,
yaitu pusat-pusat pertumbuhan (simpul-simpul transportasi) dan
wilayah-wilayah

pengaruh

dari

pusat-pusat

pertumbuhan

(Adisasmita: 2013, hal 5). Sementara August Losch (1944)


memperluas teori tepat pusat yaitu mengetengahkan suatu
model keseimbangan spasial wilayah dan

mengintroduksi

pengertian wilayah pasar, jaringan wilayah pasar, dan sistem


wilayah pasar, prasarana transportasi dianggap merupakan
unsur pengikat wilayah-wilayah pasar; sehingga pengusaha akan
memilih

lokasi

(Adisasmita:

dimana

2013,

hal

terdapat
15).

permintaan

Isaard

(1960)

maksimum
menekankan

pentingnya

kedudukan

(metropolis)

dalam

pusat-pusat

kaitannya

urban

dengan

tingkat

nasional

aglomerasi

industri

(Adisasmita: 2013, hal 15).


Seiring dengan berkembangannya ekonomi, faktor-faktor
lokasi tersebut diatas (transportasi, tenaga kerja, aglomerasi
aktivitas)

juga

akan

semakin

berkembang.

Purnomosidi

Hadjisarosa (1981), pada teori simpul jasa distribusi atau


disingkat

dengan

pusat-pusat

Simpul

menekankan

pengembangan.

pentingnya

Pengembangan

peranan
wilayah

dimungkinkan oleh adanya pertumbuhan nodal (simpul) yang


berlimpah pada pengembangan SDM dan SDA sehingga dapat
menimbulkan arus barang. Bahan mentah diangkut dari daerah
penghasil ke lokasi pabrik dan kemudian hasilnya berupa barang
diangkut dari produsen ke konsumen. Black, (1981). Menegaskan
hubungan transportasi dapat dinyatakan sebagai ukuran untuk
memperhatikan mudah dan sukarnya suatu tempat dicapai,
dinyatakan dalam bentuk hambatan perjalanan, yaitu dalam
bentuk Jarak, Waktu dan Biaya, yang dikenal dengan Aksesibilitas
(Sulistyorini:2014,hal 42)
Terkait dengan teori-teori tersebut diatas,

maka peneliti

bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kemungkinan


Optimalisasi Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan

ASDP (Studi Kasus Pelabuhan Penyeberangan Bangsalae


Siwa Kabupaten Wajo). Rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana efektifitas bongkar muat barang yang
berpengaruh

dalam

penyelenggaraan

angkutan

penyeberangan ASDP Bangsalae Siwa Kabupaten


Wajo.
2. Bagaimana

Strategi

pengembangan

dalam

mengoptimalkan peran dan fungsi penyeberangan


ASDP Bangsalae Siwa Kabupaten Wajo.