Anda di halaman 1dari 17

Banyaknya air yang terserap kedalam setiap jenis biji berbeda karena pada setiap jenis biji

mempunyai daya serap air yang berbeda dan pada masing-masing jenis biji mempunyai
tingkat kekeringan yang berbeda, dan biji yang kering mempunyai potensial air yang rendah
sehingga dapat menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan biji yang kurang tingkat
kekeringannya.
Kecepatan imbibisi pada ketiga jenis biji sangat berbeda karena pada setiap biji mempunyai
tekanan atau potensial air yang berbeda, selain itu daya serap air oleh masing-masing biji
juga berbeda, dan struktur dari masing-masing biji juga tidak sama.
Dalam pengamatan ini, suhu sangat mempengaruhi penyerapan air oleh biji, tingkat
kecepatan penyerapan oleh biji berbeda antara suhu kamar dengan suhu 4o C (lemari es).
Syarat agar terjadi imbibisi yaitu adanya perbedaan potensial air antara benih dengan larutan,
dimana potensial air kurang dari potensial larutan, ada tarik menarik yang spesifik antara air
dengan biji, benih memiliki partikel koloid yang merupakan matriks yang bersifat hidrofil
berupa protein, pati, selulosa, dan benih kering memiliki potensial air sangat rendah.
Hubungan antara (potensial air) dengan komponen penyusun: = m + p. Volume air
yang diserap + volume biji mula-mula > volume biji setelah menyerap air, sebagian air telah
digunakan untuk menjalankan proses metabolism Proses metabolime: aktivasi enzim,
hidrolisis cadangan makanan, dan respirasi (http://id.shvoong.com/exact sciences/biology).
Imbibisi merupakan penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering.
Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya
dan juga memicu perubahan metabolic pada embrio yang menyebabkan biji tersebut
melanjutkan pertumbuhan (campbeel, 2002).
Setelah air diserap oleh biji, enzim yang terdapat pada biji akan aktif. Kemudian enzim
mengaktifkan metabolism sel, salah satuny untuk mengambil oksigen. Oksigen diperlukan
untuk proses oksidasi makanan cadangan yang terdapat dalam biji. Dengan demikian hasil
oksidasi dapat digunakan dalam pertumbuhan biji (Oman Karmana, 2008).
BAB IV
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :
1. Imbibisi merupakan peristiwa migrasi molekul-molekul air kesuatu zat lain yang berlubang
(berpori) cukup besar dan kemudian molekul-molekul air itu menetap didalam zat tersebut.
2. Imbibisi merupakan penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering.
3. Suhu sangat mempengaruhi penyerapan air oleh biji, tingkat kecepatan penyerapan oleh biji
berbeda antara suhu kamar dengan suhu 4o C (lemari es)
DAFTAR PUSTAKA
Campbell, neil A. Dkk. 2002. Biologi edisi kelima-jilid 2. Jakarta : Erlangga.
http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/2073817-imbibisi/#ixzz1K8590lDG
Karmana, oman. 2008. Cerdas belajar biologi untuk kelas XII. Bandung : penerbit grafindo media
pratama.
Tim dosen. 2010. Penuntun

mbibisi adalah peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat yang hidrofilik,
seperti protein, pati, selulosa, agar-agar, gelatin, liat dan lainnya yang menyebabkan zat
tersebut dapat mengembang setelah menyerap air. Kemampuan untuk menyerap air misalnya
pada biji biasa disebut dengan potensial imbibisi dan prosesnya disebut dengan imbibisi.
Difusi adalah peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian
berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Osmosis adalah suatu topik yang
penting dalam biologi karena fenomena ini dapat menjelaskan mengapa air dapat
ditransportasikan ke dalam dan ke luar sel. Di dalam sel dapat terjadi perpindahan zat baik
itu terjadi secara difusi, osmosis dan ada pula yang terjadi karena imbibisi. Proses imbibisi
bergantung pada membran sel yang selektif mengatur keluar masuknya zat karena pada
membran inilah yang menjadi filter atau menyeleksi zat yang dapat masuk atau keluar dari
suatu sel.
Berdasarkan uraian di atas maka dilakukanlah praktikum ini untuk dapat mengetahui
kecepatan imbibisi pada biji. Apakah pada biji tersebut dapat mengalami penyerapan air. Di
dalam melakukan suatu praktikum maka diperlukan pengetahuan yang mendasar karena
proses imbibisi ini tidak hanya dapat di ketahui jika hanya teori saja jadi dibutuhkan pula
praktek agar menambah pengetahuan kita tentang proses penyerapan yang terjadi pada biji
kering.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Difusi adalah peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari
bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Contoh yang sederhana
adalah pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi manis. Contoh lain
adalah uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara.Osmosis adalah perpindahan air melalui
membran permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat.
Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tapi tidak oleh zat terlarut, yang
mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membrane (Anonim. 2009).
Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tapi dapat dihambat secara buatan dengan
meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian
dengan konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah
mengalirnya pelarut melalui membran permeabel selektif dan masuk ke larutan dengan
konsentrasi yang lebih pekat sebanding dengan tekanan turgor. Tekanan osmotik merupakan
sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini bergantung pada konsentrasi zat terlarut, dan
bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri (Ismail. 2006: 30).
Osmosis adalah suatu topik yang penting dalam biologi karena fenomena ini dapat
menjelaskan mengapa air dapat ditransportasikan ke dalam dan ke luar sel.Osmosis terbalik
adalah sebuah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena
alam dalm sel hidup di mana molekul solvent (biasanya air) akan mengalir dari daerah
solute rendah ke daerah solute tinggi melalui sebuah membran semipermeable.
Membran semipermeable ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang
memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari solvent berlanjut
sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi membran. Imbibisi adalah
peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat yang hidrofilik, seperti protein, pati,
selulosa, agar-agar, gelatin, liat dan zat-zat lainnya yang menyebabkan zat tersebut dapat
mengembang setelah menyerap air tadi. Kemampuan benda tadi untuk meyerap air disebut

potensial imbibisi. Banyak sedekitnya air dapat di imbibisi oleh suatu zat yang sangat
tergantung pada nilai potensial air di sekitarnya. Suatu percobaan dengan biji yang di rendam
dalam larutan menunjukkan jumlah air yang dapat di imbibisi oleh biji tersebut (Siregar.
1996: 58).
Potensial kimia air merupakan konsep yang sangat penting dalam fisiologi tumbuhan.
Potensial air sebagai sesuatu yang sama dengan potensial kimia air yang dalam suatu sistem
dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan suhu yang sama.
Mereka menganggap bahwa potensial air murni dinyatakan sebagai nol. Tekanan yang
diberikan pada air atau suatu larutan, akan meningkatkan energi bebasnya sehingga potensial
airnya meningkat. Seperti juga gas, zat cair termasuk air dapat melakukan difusi dimana
dijelaskan bahwa konsentrasi air dapat berubah apabila di dalam air tersebut dilarutkan suatu
zat yang terlarut (Lakitan. 1993: 77).

BAB III
METODE KERJA

A. Waktu dan tempat


Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini adalah :
Hari / tanggal

: Selasa / 9 Juni 2009

Waktu

: 14.00 16.00 WITA

Tempat

: Laboratorium Biologi lantai III


Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Kampus II Samata- Gowa.

B. Bahan dan Alat


1. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah neraca analitik, pinset, kertas
saring dan cawan petri.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah biji kacang merah (Phaseolus
vulgaris), dan aquades.
C. Cara kerja
1.

Mengambil secara random 10 biji dari tiap kelompok yang disediakan kemudian
menimbangnya.

2. Merendam dalam cawan petri selama 5 menit.


3. Mengeluarkan biji dari cawan petri dan meletakkan dalam kertas saring sehingga air yang
menempel terserap, kemudian menimbang dan menentukan beratnya.
4. Melakukan kegiatan no. 3 untuk beberapa kali hingga diperoleh berat yang tidak bertambah
lagi.
5. Membuat grafik yang menunjukkan hubungan antara waktu dan perendaman dengan air yang
diserap.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan
No

Waktu perendaman (menit)

Berat biji (gram)

1.

2,25

2.

2,27

3.

10

2,27

4.

15

2,27

20

2,27

5.
B. Analisis data

1. Dik : Berat awal = 2,25 gram


Dit : Air yang diserap.........?
Penyelesaian:
a. Menit ke-5
= Berat akhir Berat awal
= 2,27 - 2,25
= 0,02 gram
b. Menit ke- 10 = Berat akhir Berat awal
= 2,27 - 2,25
= 0,02 gram
c. Menit ke-15 = Berat akhir Berat awal
= 2,27 - 2,25
= 0,02 gram
d. Menit ke-20 = Berat akhir Berat awal
= 2,27 - 2,25
= 0,02 gram
C. Grafik hubungan antara waktu perendaman dengan air yang diserap

D. Pembahasan

Imbibisi adalah peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat yang hidrofilik,
seperti protein, pati, selulosa, gelatin, liat dan lainnya yang menyebabkan zat tersebut dapat
mengembang setelah menyerap air. Kemampuan untuk menyerap air misalnya pada biji biasa
disebut dengan potensial imbibisi dan prosesnya disebut dengan imbibisi. Dalam praktikum
ini digunakan biji sebagai bahan karena biji merupakan cikal bakal pertumbuhan yang
membutuhkan air untuk dapat tumbuh.
Pada pengamatan ini terjadi peristiwa imbibisi yaitu penyerapan air dimana dalam
praktikum ini menggunakan biji kacang merah (Phaseolus vulgaris) sebagai bahan untuk
menguji terjadinya imbibisi. Awalnya biji kacang merah di rendam di dalam air selama 20
menit, dimana setiap 5 menit kacang yang di rendam kemudian di angkat dan diletakkan di
atas kertas saring agar air yang mempel pada biji dapat terserap, kemudian melakukan
penimbangan. Cara ini dilakukan sebanyak 5 kali hingga mencapai berat yang konstan.
Dalam percobaan ini kami mendapatkan berat biji sebelum dilakukan perendaman mencapai
2,25 gram dan setelah di rendam selama 5 menit mencapai 2,27 gram hingga pada menit ke
20 hasil penimbangannya konstan yang menandakan bahwa kemampuan biji untuk menyerap
air sudah maksimal. Penyerapan terjadi pada membran yang bersifat permeable yang terdapat
pada kulit biji. Berat air yang diserap yaitu 0,02 gram, hal ini
disebabkan karena kacang merah yang kami gunakan ukurannya kecil sehingga kapasitas
penyerapannya juga kecil. Dari pengamatan ini membuktikan terjadinya peristiwa imbibisi,
yang ditandai dengan terjadinya penyerapan air oleh biji dimana pada biji terdapat suatu
membran yang bersifat permeable selektif sehingga air yang berada pada lingkungan masuk
ke sistem atau kedalam biji, dan ini berarti bahwa di dalam proses imbibisi juga terjadi proses
difusi dan osmosis di dalam sel. Difusi merupakan proses perpindahan partikel-partikel dari
yang berkonsentrasi tinggi ke yang berkonsentrasi rendah, sedangkan osmosis adalah
perpindahan suatu zat dari yang berkonsentrasi rendah ke yang berkonsentrasi tinggi.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah kecepatan imbibisi yang terjadi pada
kacang merah setiap lima menit yaitu 0,02 gram yang menunjukkan terjadinya penyerapan
yang ditandai dengan bertambahnya berat pada biji setelah direndam air yang pada awalnya
memiliki berat 2,25 gram setelah direndam selama beberapa menit menjadi 2,27 gram.
B. Saran
Adapun saran saya adalah agar praktikan meningkatkan ketelitian di dalam
melakukan suatu pengamatan guna mencapai hasil yang lebih maksimal serta memperhatikan
setiap arahan yang diberikan oleh asisten masing-masing agar praktikum dapat berjalan
dengan lancar.

D
AFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009.iMBISIS. http://id.wikipedia.org. Blogspot. Imbibisi.html.
Diakses tanggal 12 Juni pukul 16.00 Wita.
Drajat, Sasmitamihardja. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Negeri Makassar.
Makassar
Lakitan, Benyamin. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajagrafindo Persada.
Jakarta.
Siregar, Arbaya. 2003. Fisiologi Tumbuhan. Direktoral Jendral Pendidikan Tingkat
DEPDIKBUD. Bandung.

LAPORAN PRAKTIKUM SEMENTARA


FISIOLOGI TUMBUHAN
IMBIBISI

I PUTU EKA STYA DHARAMA

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2010

I. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Imbibisi adalah penyerapan air (absorpsi) oleh benda-benda yang padat (solid) atau
agak padat (semi solid) karena benda-benda tersebut mempunyai zat penyusun dari bahan
yang berupa koloid. Ada banyak hal yang merupakan proses penyerapan air yang terjadi
pada makhluk hidup, misalnya penyerapan air dari dalam tanah oleh akar tanaman. Namun,
penyerapan yang dimaksudkan di sini yaitu penyerapan air oleh biji kering. Hal ini banyak
kita jumpai di kehidupan kita sehari-hari yaitu pada proses pembibitan tanaman padi,
pembuatan kecambah tauge, biji kacang hijau terlebih dahulu direndam dengan air. Pada
peristiwa perendaman inilah terjadi proses imbibisi oleh kulit biji tanaman tersebut. Tidak
hanya itu, proses imbibisi juga memiliki kecepatan penyerapan air yang berbeda-beda untuk
setiap jenis biji tanaman.
Mengingat akan banyaknya hal yang berhubungan dengan proses imbibisi, maka
diadakan praktikum ini untuk mengetahui kecepatan imbibisi biji kering yang direndam. Hal
ini dimaksudkan guna menambah pemahaman kita tentang proses imbibisi yang terjadi pada
biji kering.
Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang
memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi tanaman baru. Komponen biji
adalah struktur lain di dalam biji yang merupakan bagian kecambah, seperti calon akar
(radicula), calon daun, batang (plumule) dan sebagainya. Pada proses perkecambahan, biji
membutuhkan air dalam jumlah minimum dalam tubuhnya, atau yang disebut dengan taraf
kandungan minimum.

Jika kandungan air benih kurang dari batas tersebut akan

menyebabkan proses perkecambahan terganggu. Fungsi utama cadangan makanan dalam biji

adalah memberi makan pada embrio atau tanaman yang masih muda sebulum tanaman itu
dapat memproduksi sendiri zat makanan, hormone, dan protein. (Ashari. 1995) Pola khas
indeks luas daun suatu tanaman budidaya yang berbeda dengan sorgum, dimana periode L
yang tinggi tersebut sangat pendek. Orang mungkin tidak memilih untuk menghadapi jenis
dormansi, karena dapat mencegah perkecambahan biji sebelum waktunya. (Goldsworthy and
Fisher. 1992)
Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara. Efek
yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel embrio membesar dan biji melunak.
(Anonim, 2008)
1.2 Tujuan dan Kegunaan
.Tujuan praktikum ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pada larutan terhadap proses
imbibisi pada biji.
Kegunaan praktikum ini yaitu agar praktikan dapat mengetahui proses terjadinya
imbibisi, sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikum di Laboratorium
Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako dan Sebagai bahan informasi
bagi pihak yang membutuhkan.

II. TINJAUN PUSTAKA


2.1

Botani Kacang hijau (Phaseolus radiatus)


Kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek (kurang

lebih 60 hari). Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam
dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini.
Divisi

Spermatophyta

Sub-divisi

Angiospermae

Kelas

Dicotyledoneae

Ordo

Rosales

Famili

Papilionaceae

Genus

Vigna

Spesies

Vigna radiata atau Phaseolus radiatus

Morfologi Tanaman Kacang Hijau yaitu berbatang tegak dengan ketinggian sangat
bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian
utama, berbentuk bulat dan berbulu. Warna batang dan
Cabangnya ada yang hijaudan ada yang ungu.
Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai daunnya
cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hijau tua.
Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan, keluar pada cabang
serta batang, dan dapat menyerbuk sendiri. Polong kacang hijau berebntuk silindris dengan
panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau
dan dan setelah tua berwarna hitam atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji. Biji kacang
hijau lebih kecil dibanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam
atau hijau mengilap, beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat dan hitam . Tanaman
kacang hijau berakar tunggang dengan akar cabang pada permukaan.
2.2

Imbibisi
Imbibisi adalah penyerapan air (absorpsi) oleh benda-benda yang padat (solid) atau

agak padat (semi solid) karena benda-benda tersebut mempunyai zat penyusun dari bahan
yang berupa koloid. Ada banyak hal yang merupakan proses penyerapan air yang terjadi
pada makhluk hidup, misalnya penyerapan air dari dalam tanah oleh akar tanaman. Namun,
penyerapan yang dimaksudkan di sini yaitu penyerapan air oleh biji kering. Hal ini banyak

kita jumpai di kehidupan kita sehari-hari yaitu pada proses pembibitan tanaman padi,
pembuatan kecambah tauge, biji kacang hijau terlebih dahulu direndam dengan air. Pada
peristiwa perendaman inilah terjadi proses imbibisi oleh kulit biji tanaman tersebut. Tidak
hanya itu, proses imbibisi juga memiliki kecepatan penyerapan air yang berbeda-beda untuk
setiap jenis biji tanaman. Mengingat akan banyaknya hal yang berhubungan dengan proses
imbibisi, maka diadakan praktikum ini untuk mengetahui kecepatan imbibisi biji kering yang
direndam. Hal ini dimaksudkan guna menambah pemahaman kita tentang proses imbibisi
yang terjadi pada biji kering.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Imbibisi
Di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup benih
tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6%
- 8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum
ditanam. Sedang dalam penyimpanan menyebabkan naiknya aktifitas pernapasan yang dapat
berakibat terkuras habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang
perkecambahan cendawan patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat
bahwa kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio
(Sutopo, 1995).
Proses-proses perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan faktor-faktor
lingkungan seperti air,O2, cahaya dan suhu. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan
penyerapan air : (1) permeabilitas kulit /membran biji, (2) konsentrasi air (3) suhu air, (4)
tekanan hidrostatik, (5) permukaan biji yang kontak dengan air, (6) daya intermolekuler, (7)
spesies dan varietas, (8) tingkat kemasukan, (9) komposisi kimia, (10) umur (elisa, 2008)

III. METODE PRAKTEK

3.1

Tempat Dan Waktu


Praktikum fisiologi tumbuhan tentang imbibisi ini dilaksanakan Di Labolatorium

Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, pada hari Rabu, 20 oktober
2010, pukul 14.00 Wita - sampai selesai.
3.2

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan yaitu Mikroskop, gelas objek dan gelas penutup, pipet tetes,
pinset, gelas saring atau kertas tissue. Bahan-bahan yang digunakan yaitu: larutan sukrosa 10
% dan daun Rhoeo discolor yang masih segar.

3.3

Cara Kerja
Pada pengamatan imbibisi pertama-tama yang dilakukan yaitu menyiapkan tujuh
cawan petri dengan kertas saring didalamnya, setelah itu mengisi masing-masing cawan petri
dengan 5 ml larutan NaCl yang disediakan dan aquades sebagai kontol. Kemudian
menimbang 20 biji kering, mencatat beratnya dan letakan pada satu cawan petri. Ulangi
langkah no 3 untuk cawan petri yang lain. Kemudian simpan cawan tersebut selama 48 jam.
Setelah 48 jam, ambil biji dari cawan petri, lalu dikeringkan dengan kertas tissue dan
menimbang kembali beratnya. Setelah itu menghitung persentasi air yang masuk kedalam biji
pada setiap larutan terhadap berat kering mula-mula.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1

Hasil

Tabel 5. Perubahan Berat Biji Kacang Hijau (Phaseolus radiates) yang direndam selama 48 jam.
Perlakuan

Berat awal (gr)

Berat akhir

Selisih

Persentase air

Air
4,0 M
2,0 M
1,0 M
0,8 M
0,6 M
0,4 M

4.2

1,55 gr
1,53 gr
1,55 gr
1,11 gr
1,19 gr
1,38 gr
1,61 gr

(gr)
1,45 gr
1,44 gr
1,50 gr
1,12 gr
1,21 gr
1,41 gr
1,36 gr

0,1 gr
0,09 gr
0,05 gr
0,01 gr
0,02 gr
0,03 gr
0,25 gr

yang masuk
6,45 %
5,88 %
3,22 %
0,90 %
1,680 %
2,173 %
15,52 %

Pembahasan
Hasil pengamatan imbibisi pada kacang hijau (Phaseolus radiatus) sebelum direndam

dalam larutan NaCL dengan konsentrasi 4,0 M; 2,0 M; 1,0 M; 0,8 M; 0,6 M; 0,4 M. dengan
berat awal 1,53 gr; 1,55 gr; 1,11 gr; 1,19 gr; 1,38 gr; 1,61 gr. Setelah direndam dalam larutan
NaCL selama 48 jam. Berat biji pada kacang hijau (Phaseolus radiatus) mengalami
perubahan menjadi 1,44 gr; 1,50 gr; 1,12 gr; 1,21 gr; 1,41 gr; 1,36 gr.
Dari pengamatan ini dapat diketahui bahwa berat biji kacang hijau (Phaseolus
radiatus) mengalami perubahan berat pada konsentrasi NaCL 2,0; 1,0; 0,8; 0,6 serta
penurunan berat pada konsentrasi 4,0 dan 0,4. Pada biji selalu bertambah berat disebabkan
oleh penyerapan air oleh permukaan yang menyebabkan kacang hijau mengembang serta
beratnya bertambah setelah menyerap air, selain itu semakin tinggi suatu konsentrasi larutan
maka kemampuan biji untuk menyerap suatu larutan akan semakin besar, sehingga air akan
semakin cepat bergerak kedalam biji dikarenakan konsentrasi potensial air larutan dalam biji
rendah dibandingkan dengan potensial air larutan tersebut sehingga berat biji menjadi
bertambah (Anwar, 2008)
Imbibibisi adalah suatu proses fisika dengan suatu nilai kurang dari 2 dan akan terjadi
pula biji yang tidak mampu hidup. Potensial air pada biji-bijian kering cukup rendah untuk
menarik uap iar dari atmosfir tanah, tetapi laju gerakannya sangat lebih lambat lewat lintasan
uap. Sebab utama potensial air biji yang rendah, adalah bahan simpanan yang terutama

bersifat koloid, khususnya protein. Berat suatu biji yang kaya proteindapat melipat dua dalam
24 jam sebagai akibat air yang diambil. Dalam biji kacang hijau, berat permulaan dapat
meningkatsampai kira-kira 40 % berat aslinya, setelah itu berat nya tetap (konstan) sampai
permunculan radicula. (Fitter and Hay. 1990)

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1
1.

Kesimpulan

Pada percobaan didapat % KA terbesar biji padi dengan lama perendaman 48jam yaitu
sebesar 1,61 gr

2.

Imbibisi adalah penyerapan air (absorpsi) oleh benda-benda yang padat (solid) atau agak
padat (semi solid) karena benda-benda tersebut mempunyai zat penyusun dari bahan yang
berupa koloid.

3.

Kacang hijau merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek (kurang lebih 60
hari).

4.

Proses-proses perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan faktor-faktor lingkungan


seperti air,O2, cahaya dan suhu. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan air
: (1) permeabilitas kulit /membran biji, (2) konsentrasi air (3) suhu air, (4) tekanan
hidrostatik, (5) permukaan biji yang kontak dengan air, (6) daya intermolekuler, (7) spesies
dan varietas, (8) tingkat kemasukan, (9) komposisi kimia, (10) umur (elisa.ugm.ac.id, 2008).
5.2

Saran
Diharapkan kepada para praktikan kiranya dapat mematuhi semua peraturan yang

berlaku selama dalam ruangan, dan serius dalam mengikuti praktikum agar apa yang telah di
praktekan dapat dipahami dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anggota IKAPI,1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah mada University Press.
Yogyakarta.
Goldsworthy P.R dan Fisher N.N,1994.Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/perkecambahan. Diakses pada tanggal 28 oktober 2010.
http://elisa.ugm.ac.id/dormansi.2008. Diakses pada tanggal 28 oktober 2010.
http://tedbio.multiplay.com/jurnal.2008. Diakses pada tanggal 28 oktober 2010.
Justice.L dan Bass L.N,1990. Prinsip-prinsip Praktek Penyimpanan Benih. Rajawali Press.
Jakarta.
Lakitan B,2000. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Press. Jakarta.
Mugnisjah W.Q, Setiawan A; Suwarto dan Santiwa C,1994. Panduan Praktikum dan Penelitian
Bidang

Ilmu

dan

Teknologi

Benih.

PT

Raja

grafindo

Persada.

Jakarta.

Sadjad.S.,1993.Dari Benih Kepada Benih. Grasindo. Jakarta.


Salisbury F.B dan C.W.Ross,1992. Fisiologi Tumbuhan. Jilid 3 Penerbit ITB. Bandung
Stern K.R,2001.Introductory Plant Biology. MC Graw Hill. New York
Sutopo L.1995.Teknologi Benih. Rajawali. Jakarta.
Thomson J.R,1990. An Introduction to seed Technology. Leonard hill. New york.