Anda di halaman 1dari 71

Skripsi Geofisika

IDENTIFIKASI SEBARAN NIKEL LATERIT DAN VOLUME BIJIH NIKEL


DAERAH ANOA MENGGUNAKAN KORELASI DATA BOR

ELTRIT BIMA FITRIAN


H221 10 263

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

IDENTIFIKASI SEBARAN NIKEL LATERIT DAN VOLUME BIJIH NIKEL


DAERAH ANOA MENGGUNAKAN KORELASI DATA BOR

Oleh
ELTRIT BIMA FITRIAN
H 221 10 263

SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar
SARJANA SAINS
Pada
Jurusan Fisika

PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

HALAMAN PENGESAHAN
Judul

IDENTIFIKASI
VOLUME

SEBARAN

BIJIH

NIKEL

NIKEL

LATERIT

DAERAH

DAN
ANOA

MENGGUNAKAN KORELASI DATA BOR


Nama

: ELTRIT BIMA FITRIAN

Stambuk

: H 221 10 263

Program Studi

: GEOFISIKA
Disetujui
Tim Pembimbing,
Pembimbing Utama

Dr. Muh. Altin Massinai, MT. Surv


NIP 196406161989031006

Pembimbing Pertama

Dra. Maria, M.Si


NIP 196307281991032002

ii

ABSTRACT
identification distribution of nickel laterite and nickel ore volume calculation is a
research to conducted in order to determine how wide spread and large reserves of
nickel contained in Anoa area so that further exploration can be done commercially.
Identification of the spread laterite using by correlation of data drill, then processed
by the Software ArGcis 9.3 and Surpac 6.1.2 while calculating the volume of nickel
ore using the method by Area Of Influence (Area of Effect). Spreading value of
nickel are influenced by topography and slope, while the results of the calculation of
volume nickel ore obtained amounted to 2.913.682 m3.
Keywords: Distribution of nickel laterite, calculate the volume of nickel ore, Anoa
area, ArGcis 9.3, Surpac 6.1.2, the influence of local methods.

iii

SARI BACAAN
Identifikasi sebaran nikel laterit dan perhitungan volume bijih nikel merupakan
penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui luas penyebaran dan
seberapa besar cadangan bijih nikel yang terdapat pada daerah Anoa sehingga dapat
dilakukan eksplorasi lanjut secara komersial. Identifikasi penyebaran nikel laterit
menggunakan korelasi data bor, kemudian diolah oleh Software ArGcis 9.3 dan
Surpac 6.1.2 sedangkan perhitungan volume bijih nikel menggunakan metode Area
Of Influence (Daerah Pengaruh). Penyebaran kadar Ni dipengaruhi oleh bentuk
topografi dan kemiringan lereng sedangkan hasil perhitungan volume bijih nikel yang
diperoleh adalah sebesar 2.913.682 m3.
Kata Kunci : Distribusi sebaran nikel laterit, menghitung volume bijih nikel, daerah
Anoa, ArGcis 9.3, Surpac 6.1.2, metode daerah pengaruh.

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Rabbil Alamin, segala puji bagi Allah SWT atas rahmat, berkat dan
karunia yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan judul :IDENTIFIKASI SEBARAN NIKEL LATERIT DAN VOLUME
BIJIH NIKEL DAERAH ANOA MENGGUNAKAN KORELASI DATA BOR,
yang merupakan tugas akhir untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana
Fisika Program Studi Geofisika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Hasanuddin.
Dalam tulisan ini, penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari
bimbingan, bantuan, dukungan, serta motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu pada
kesempatan ini, izinkan penulis menghanturkan ucapan terima kasih dan
penghormatan setinggi-tingginya kepada ayahanda Syam Arwan D dan Ibunda
tercinta ST.Saraswati serta Om Agus Salim S.H.,M.H dan Tante Sherly Daniel
atas dukungan moril dan materi, kasih sayang serta doa yang tak henti-hentinya yang
telah diberikan kepada penulis, juga kepada saudara ku tercinta Elfran Bima
Muttaqin S.H.,M.H, Elfrin Bima Sakinah S.H, Desi Natalia Salim, Andre Salim,
Astrianita Salim S.E dan Hendro Salim S.H untuk dukungan dan kasih sayang
yang telah diberikan.

Penulis juga ingin menyampaikan penghormatan dan rasa terima kasih yang tulus
serta penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Bapak Dr. Tasrief Surungan, M.Sc selaku Ketua Jurusan Fisika Fakultas
MIPA Unhas dan Bapak Syamsuddin, S.Si, MTselaku Sekertaris Jurusan Fisika
Fakultas MIPA Unhas.

2.

Bapak Dr. Muhammad Alimuddin Hamzah, M.Eng selaku Ketua Program


Studi Geofisika Jurusan Fisika FMIPA UNHAS

3.

Bapak Rachman Kurniawan,S.Si,M.Si selaku Penasihat Akademik yang telah


banyak memberikan arahan.

4.

Bapak Dr. Muh. Altin Massinai, MT,Surv selaku Pembimbing Utama yang
telah banyak meluangkan waktu dan pikirannya serta memberi motivasi,
masukan dan arahannya dalam penyusunan skripsi ini.

5.

Ibu Dra. Maria M.Si selaku Pembimbing Pertama yang telah banyak memberi
masukan, arahan serta meluangkan waktu dan pikirannya dalam penyelesaian
skripsi ini.

6.

Bapak Drs. Lantu, M.Eng, Sc,DESS, Bapak Syamsuddin, S.Si, MT dan


Bapak Sabrianto Aswad, S.Si, MT selaku tim penguji yang telah banyak
memberi masukan, saran serta kritikannya demi penyempurnaan skripsi ini.

7.

Dosen-dosen pengajar yang telah membagikan ilmunya serta memberi


bimbingan selama perkuliahan.

vi

8.

Staf pegawai baik itu dari Jurusan Fisika maupun dari Fakultas yang telah
banyak membantu.

9.

Bapak Wanni S.T dan Bapak Budhi Kumarawarman S.T selaku pembimbing
penulis saat berada di PT.Vale Indonesia.

10. Wahyuni Palimbunga, sepupu yang merangkap sahabat dan kak Anggy Andriana
Putri terimakasih untuk segala dukungan,doa, semangat dan kasih sayang kalian.
11. Kanda-kanda Fisika 2007 sebagai panitia Progresip 2010, kanda-kanda 2008
sebagai pengurus, kanda- kanda 2009 sebagai panitia BK 2010 yang juga telah
memberikan motivasi dan bantuannya selama penulis menjadi junior kalian.
12. Adik-adik angkatan 2011, 2012, dan 2013.
13. Teman-teman alumni EXACT SMAN.1. Towuti yang telah menemani masamasa SMA penulis hingga penulis bisa sampai pada tahap penyelesaian skripsi.
14. Teman-teman MIPA 2010, teman-teman Fisika 2010 yang saya cintai.
Terimakasih atas kebersamaan kalian.
15. Teman-teman 2010 geophysics yang saya banggakan, sayangi, dan cintai.
Ega, misykat, tita, triwah, winda, dila, fina, ida, risma, fitri, cantip, uni,
dhana, naje, ike, widiana, asad, dayat, difar, bahar, arlin, gazali, fitrah,
taufik, smile, memet, cardi, alex. Kalian lebih dari sekedar teman, saudara
yang tidak berasal dari rahim yang sama. Terimakasih banyak untuk
kebersamaan yang sangat berharga.
16. Kak Arga Aditya P terimakasih untuk segala dukungan, doa, semangat, motivasi
dan kasih sayangnya. Just keep around with me.
vii

17. Dan semua pihak yang tidak mampu penulis sebutkan satu persatu, yang telah
banyak memberi bantuan dan kemudahan dalam proses penulisan ini.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ini sangat jauh dari kesempurnaan dikarenakan
keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan berbagai kritik dan saran yang bersifat membangun demi kebaikan
skripsi ini dan tentunya juga buat kebaikan penulis sendiri.
Akhir kata, semoga Allah SWT memberikan segala kebaikan kepada seluruh pihak
yang telah memberikan bantuannya baik secara langsung maupun tidak langsung
kepada penulis. Dan penulis berharap semoga skripsi ini dapat berguna terutama bagi
penulis dan pihakpihak terkait pada umumnya. Semoga Allah senantiasa
melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya. Amin
Makassar,

November 2014

Penulis

viii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
LEMBAR PENGESAHAN.ii
ABSTRAK...iii
SARI BACAAN...iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................v
DAFTAR ISI...ix
DAFTAR GAMBAR ................................................................................. .xiii
DAFTAR TABEL.xiv
DAFTAR LAMPIRAN.xvi
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
I.1. Latar Belakang.................................................................................................. 1
I.2. Ruang Lingkup......................................................................................2
I.3. Tujuan....................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................3
II.1. GeologiRegional ..............................................................................................3
II.2. Nikel Laterit......................................................................................................5
II.2.1. Genesa Endapan Nikel Laterit .......................................................................6
II.2.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Nikel .............................7
II.2.3. Profil Nikel Laterit ........................................................................................9
ix

II.2.4. Tipe Endapan Nikel Laterit .........................................................................11


II.2.4.1. Tipe West Block ........................................................................................11
II.2.4.2. Tipe East Block ........................................................................................11
II.3. Drilling/Pemboran .........................................................................................13
II.4. Perhitungan Volume Bijih Nikel Menggunakan Metode Poligon (Area Of
Influence)..15
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..........................................................17
III.1. Daerah Penelitian ..........................................................................................17
III.2. Data Yang Digunakan ...................................................................................18
III.3.Prosedur Penelitian.......................................................................................18
III.3.1 Tahap Kajian Pustaka...18
III.3.2 Tahap Pengolahan Data18
III.3.3 Membuat Penampang Korelasi Data Bor.21
III.3.4 Membuat Peta Distribusi Nikel (Ni)....21
III.4. Bagan Alir Penelitian ....................................................................................22
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................23
IV.1. Penampang 3D Korelasi Data Bor.....23
IV.2. Peta Distribusi Nikel .....................................................................................28
IV.3. Penentuan Kadar Bijih Nikel ........................................................................34

IV.4. Penentuan Ketebalan Bijih Nikel ..................................................................35


IV.5. Penentuan Volume Bijih Nikel .....................................................................35
BAB V PENUTUP ...............................................................................................38
V.1 .......................................................................................................... Kesimpulan
................................................................................................................................38
V.2. ................................................................................................................... Saran
................................................................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Satuan Litotektonik sulawesi4
Gambar 2.3 Profil Nikel Laterit Sorowako..9
Gambar 2.4 Endapan Laterit Sorowako..12
Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian.........17
Gambar 3.2 Daerah Pengaruh...................................................................20
Gambar 3.3 Bagan Alir Penelitian..22
Gambar 4.1 Penampang 3D Korelasi Lapisan Limonit................................23
Gambar 4.2 Penampang 3D Korelasi Lapisan Saprolit..25
Gambar 4.3 Penampang 3D Korelasi Lapisan Bedrock..26
Gambar 4.4 Penampang 3D Lapisan Limonit, Saprolit dan Bedrock....27
Gambar 4.5 Peta Distribusi Nikel (Ni) Pada Lapisan Limonit .....28
Gambar 4.6 Peta Distribusi Nikel (Ni) Pada Lapisan Saprolit......29
Gambar 4.7 Peta Ketebalan Limonit......31
Gambar 4.8 Peta Ketebalan Saprolit...33
Gambar 4.9 Metode Area Of Influence...35

xii

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Perhitungan volume Bijih Nikel.36

xiii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data Assay
Lampiran 2 Data Assay Bijih Nikel
Lampiran 3 Data Kadar dan Volume Limonit
Lampiran 4 Data Kadar dan volume Saprolit
Lamporan 5 Data Kadar dan Volume Bijih Nikel
Lampiran 6 Data Kedalaman dan Elevasi Bijih Nikel
Lampiran 7 Gambar Titik Bor
Lampiran 8 Gambar Korelasi Lapisan Limonit
Lampiran 9 Gambar Korelasi Lapisan Saprolit
Lampiran 10 Gambar Korelasi Lapisan Bedrock
Lampiran 11 Gambar Penampang 3D Lapisan Limonit
Lampiran 12 Gambar Penampang 3D Lapisan Saprolit
Lampiran 13 Gambar Penampang 3D Lapisan Bedrock
Lampiran 14 Gambar Penampang 3D Lapisan Limonit, Saprolit dan Bedrock
Lampiran 15 Gambar Peta Distribusi Nikel Pada Lapisan Limonit

xiv

Lampiran 16 Gambar Peta Distribusi Nikel Pada Lapisan Saprolit


Lampiran 17 Gambar Peta Ketebalan Lapisan Limonit
Lampiran 18 Gambar Peta Ketebalan Lapisan Saprolit

xv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar kedua dunia setelah Rusia yang
memberikan sumbangan sekitar 15% dari jumlah produksi nikel dunia pada tahun
2010. Salah satu daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia berada pada daerah
Sorowako, Sulawesi Selatan. Endapan laterit Sorowako di Sulawesi Selatan
merupakan sumber utama logam nikel di Indonesia yang telah di tambang dan diolah
dengan menggunakan teknik peleburan konvensional oleh PT.Vale Indonesia.
Endapan laterit nikel Sorowako terdiri dari dua tipe berdasarkan tingkat serpentinisasi
batuan asalnya yaitu tipe Barat dan tipe Timur. Bijih tipe Barat berasal dari hasil
pelapukan kimia batuan peridotit tak terserpentinkan sedangkan bijih tipe Timur
dibentuk oleh hasil pelapukan kimia batuan ultramafik dengan tingkat serpentinisasi
sedang hingga tinggi.
Identifikasi sebaran nikel laterit sangat penting untuk diketahui agar mempermudah
proses eksplorasi lanjut secara komersial dari suatu endapan. Untuk memperoleh
keakuratan dalam penentuan sebaran nikel laterit ini, maka diperlukan suatu
parameter di lapangan seperti korelasi data bor. Hal tersebutlah

yang

melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian ini dengan mengambil studi


kasus pada daerah wilayah tambang PT.Vale Indonesia yang berada di daerah
Sorowako, Sulawesi Selatan.

1.2 Ruang Lingkup


Penelitian ini dibatasi pada identifikasi sebaran nikel laterit dan penentuan volume
bijih nikel di wilayah penambangan PT.Vale Indonesia, Sorowako Sulawesi Selatan
dengan menggunakan korelasi data bor.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah :
1.

Mengetahui sebaran endapan nikel laterit yang terdapat di daerah tambang


PT.Vale Indonesia dengan menggunakan korelasi data bor.

2.

Mengetahui volume bijih nikel.

BAB II
TI NJAUAN PUSTAKA
II.1 Geologi Regional
Pulau Sulawesi terletak di bagian tengah wilayah kepulauan Indonesia dengan luas
wilayah 174.600 km. Mempunyai bentuk yang unik yang menyerupai huruf K
dengan empat semenanjung, yang mengarah ke timur, timur laut, tenggara dan
selatan. Sulawesi berbatasan dengan Borneo di sebelah barat, Filipina di sebelah
utara, Flores di sebelah selatan, Timor di sebelah tenggara dan Maluku di sebelah
timur. Sulawesi dan sekitarnya merupakan daerah yang kompleks karena merupakan
tempat pertemuan tiga lempeng besar yaitu lempeng Indo-Australia yang bergerak ke
arah Utara, lempeng Pasifik yang bergerak ke arah Barat dan lempeng Eurasia yang
bergerak ke arah Selatan-Tenggara serta lempeng yang lebih kecil yaitu lempeng
Filipina (Sompotan, 2012)
Sukamto (1975) membagi pulau Sulawesi dan sekitarnya terdiri dari 3 Mandala
Geologi, yaitu :
1. Mandala Geologi Sulawesi Barat, dicirikan oleh adanya jalur gunungapi
Paleogen.
2. Intrusi Neogen dan sedimen Mesozoikum. Mandala Geologi Sulawesi Timur,
dicirikan oleh batuan Ofiolit yang berupa batuan ultramafik peridotite,
harzburgit, dunit, piroksenit dan serpintit yang diperkirakan berumur kapur.

3. Mandala Geologi Banggai Sula, dicirkan oleh batuan dasar berupa batuan
metamorf Permo-Karbon, batuan plutonik yang bersifat granitis berumur Trias
dan batuan sedimen Mesozoikum.

Gambar 2.1 Peta Satuan Litotektonik Sulawesi (Syafrizal dkk, 2011)


Daerah penelitian termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Timur, batuan tertua
pada Mandala Geologi Sulawesi Timur adalah batuan ultramafik yang merupakan
batuan alas, terdiri dari harzburgit, serpentinit, dunit, wherlit, gabro, diorite, basal,
mafit malihan dan magnetit yang diduga berumur kapur (Tonggiroh dkk, 2012).
Golightly (1979) dalam Surawan (2014) membagi geologi daerah Sorowako menjadi
tiga bagian, yaitu :

1. Satuan batuan sedimen yang berumur Kapur terdiri dari batugamping laut dalam
dan rijang. Terdapat di bagian barat Soroako dan dibatasi oleh sesar naik dengan
kemiringan ke arah Barat.
2. Satuan batuan ultrabasa yang berumur awal Tersier umumnya terdiri dari jenis
peridotit, sebagian mengalami serpentinisasi dengan derajat yang bervariasi dan
umumnya terdapat di bagian timur. Pada satuan ini juga terdapat intrusi-intrusi
pegmatit yang bersifat gabroik dan terdapat di bagian utara.
3. Endapan aluvial dan sedimen danau (lacustrine) yang berumur Kuarter, umumnya
terdapat di bagian utara dekat desa Sorowako.
II.2 Nikel Laterit
Nikel laterit adalah produk residual pelapukan kimia pada batuan ultramafik. Proses
ini berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika batuan ultramafik tersingkap di
permukaan bumi (Syafrizal dkk, 2011).
Logam nikel banyak dimanfaatkan untuk pembuatan baja tahan karat (stainless steel).
Nikel merupakan logam berwarna kelabu perak yang memiliki sifat fisik antara lain :
1.

Kekuatan dan kekerasan nikel menyerupai kekuatan dan kekerasan besi.

2.

Mempunyai sifat daya tahan terhadap karat dan korosi

3.

Pada udara terbuka memiliki sifat yang lebih stabil daripada besi.

Istilah Laterit berasal dari bahasa latin yaitu later, yang artinya bata (membentuk
bongkah-bongkah yang tersusun seperti bata yang berwarna merah bata). (Guilbert,
1986).
Bijih nikel laterit biasanya terdapat di daerah tropis atau sub-tropis yang terdiri dari
pelapukan batuan ultramafik yang mengandung zat besi dan magnesium dalam
tingkat tinggi. Deposit tersebut biasanya menunjukkan lapisan yang berbeda karena
adanya kondisi cuaca.
II.2.1 Genesa Endapan Nikel Laterit
Proses pelapukan dimulai pada batuan peridotit. Batuan ini banyak mengandung
olivine, magnesium silikat, dan besi silikat yang pada umumnya mengandung 0.30%
nikel (Sundari, 2012).
Air tanah yang kaya akan CO2, berasal dari udara luar dan tumbuhan, akan
menghancurkan olivine. Penguraian olivine, magnesium silika dan besi silika ke
dalam larutan cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel-partikel
silika. Di dalam larutan besi akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai
ferrihidroksida.
Endapan ferrihidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga kandungan
air pada endapan tersebut akan mengubah ferrihidroksida menjadi mineral-mineral
seperti goethite (FeO(OH)), hematit (Fe2O3) dan cobalt. Mineral-mineral tersebut
sering dikenal sebagai besi karat.

Endapan ini akan terakumulasi dekat dengan permukaan tanah, sedangkan


magnesium, nikel dan silika akan tetap tertinggal di dalam larutan dan bergerak turun
selama suplai air yang masuk ke dalam tanah terus berlangsung. Rangkaian proses ini
merupakan proses pelapukan dan leaching. Unsur Ni sendiri merupakan unsur
tambahan di dalam batuan ultrabasa. Sebelum proses pelindihan berlangsung, unsur
Ni berada dalam ikatan serpentine group. Rumus kimia dari kelompok serpentin
adalah X2-3 SiO2O5(OH)4, dengan X tersebut tergantikan unsur-unsur seperti Cr, Mg,
Fe, Ni, Al, Zn atau Mn atau dapat juga merupakan kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, berupa kekar, maka Ni yang
terbawa oleh air turun ke bawah, dan akan terkumpul di zona air sudah tidak dapat
turun lagi dan tidak dapat menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni yang
berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan membentuk mineral garnierit dengan rumus
kimia (Ni,Mg) Si4O5 (OH)4. Apabila proses ini berlangsung terus menerus, maka
yang akan terjadi adalah proses pengkayaan supergen (supergen enrichment). Zona
pengkayaan supergen ini terbentuk di zona saprolit. Dalam satu penampang vertikal
profil laterit dapat juga terbentuk zona pengkayaan yang lebih dari satu, hal tersebut
dapat terjadi karena muka air tanah yang selalu berubah-ubah, terutama dari
perubahan musim.
Dibawah zona pengkayaan supergen terdapat zona mineralisasi primer yang tidak
terpengaruh oleh proses oksidasi maupun pelindihan, yang sering disebut sebagai
zona Hipogen, terdapat sebagai batuan induk yaitu batuan Harzburgit.

II.2.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Nikel


Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan nikel adalah :
1. Batuan asal
Batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit.
Batuan asalnya adalah jenis batuan ultrabasa dengan kadar Ni 0.2% - 0.3% yang
merupakan batuan dengan elemen Ni yang paling banyak diantara batuan lainnya,
mempunyai mineral-mineral yang paling mudah untuk lapuk seperti olivin dan
piroksen. Mempunyai komponen-komponen yang mudah larut, serta akan
memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.
2. Iklim
Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi
kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya
proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup
besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis dimana akan terjadi rekahanrekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada
batuan.
3. Reagen-reagen kimia dan vegetasi
Reagen-reagen kimia merupakan unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang
membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO2
memegang peranan penting di dalam proses pelapukan kimia. Asam-asam humus
menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah pH larutan.
4. Struktur
8

Struktur

yang

menyebabkan

terjadinya

rekahan-rekahan

yang

dapat

mempermudah masuknya air ke dalam batuan.


5. Topografi
Keadaan topografi setempat sangat mempengaruhi sirkulasi air beserta reagenreagen lainnya. Untuk daerah landai, air akan bergerak perlahan-lahan sehingga
akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui
rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi endapan umumnya terdapat
pada daerah-daerah yang landai seperti kemiringan sedang. Hal ini menerangkan
bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi. Pada daerah curam,
jumlah air yang meluncur lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat
menyebabkan pelapukan kurang intensif.
6. Waktu
Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif
karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.

II.2.3 Profil Nikel Laterit


Top Soil

Gambar 2.3 Profil Nikel Laterit Sorowako (Ahmad, 2008)


1. Zona Top Soil (overburden)
Merupakan bagian paling atas dari suatu penampang laterit. Komposisinya adalah
akar tumbuhan, humus, oksida besi, dan sisa-sisa organik lainnya. Pada zona ini
umumnya kenampakan overburden pada core ditunjukkan dengan warna cokelat
kemerahan dan bersifat gembur. Kadar nikelnya sangat rendah. Ketebalan lapisan
tanah penutup rata-rata 0.3 meter sampai dengan 6 meter.
2. Zona limonit
Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa. Komposisinya
meliputi oksida besi yang dominan, geothit dan magnetit. Ketebalan lapisannya
rata-rata 8-15 meter. Kemunculan bongkah-bongkah batuan beku ultrabasa pada
zona ini tidak dominan atau hampir tidak ada. Umumnya mineral-mineral di
batuan beku basa-ultrabasa telah berubah menjadi serpentin akibat hasil dari
pelapukan yang belum tuntas. Pada zona ini umumnya memberikan kenampakan
yang berwarna cokelat kekuningan sampai kehijauan dengan banyak urat-urat
garnierit dan crysopras serta terdapatnya fragmen-fragmen batuan berukuran
kecil serta perubahan warna menjadi kuning kehijauan, menunjukkan bagian
tersebut mendekati zona saprolit.
3. Zona saprolit
Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa oksida besi,
serpentin sekitar <0.4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang masih
terlihat. Ketebalan lapisan ini berkisar 5-18 meter. Kemunculan bongkah-bongkah
10

sangat sering dan pada rekahan-rekahan batuan asal dijumpai magnesit, serpentin,
krisopras dan garnierit. Pada zona ini umunya berwarna cokelat muda kekuningan
hingga abu-abu hitam kehijauan. Zona ini merupakan alterasi dari bedrock
dimana proses-proses pelapukan kimia lebih aktif sehingga pada zona ini sering
dijumpai silika oksidasi (SiO2). Serta pada zona ini kaya akan mineral-mineral
seperti olivin, garnierit dan crysopras.
4. Zona bedrock
Zona ini merupakan bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah
yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum
sudah tidak mengandung mineral ekonomis.
II.2.4 Tipe Endapan Nikel Laterit
Menurut Waheed (2005), tipe endapan nikel laterit di daerah Sorowako pada
dasarnya dibagi menjadi 2, yaitu Sorowako West Block dan Sorowako East Block.
Pembagian tipe endapan ini berdasarkan beberapa parameter utama, diantaranya :
1.

Tipe batuan ultramafik

2.

Derajat serpentinisasi

3.

Kandungan kimia bijih

4.

Fraksi batuan

5.

Tingkat kesulitan dalam penambangan

6.

Derajat penetrasi dengan auger drilling

7.

Kandungan olivine

11

II.2.4.1 Tipe West Block


Pada daerah west block batuan didominasi oleh harzburgit dengan beberapa batuan
dunit yang kaya olivin. Kandungan olivin tinggi dan piroksen yang hadir umumnya
orthopiroksen. Batuan di daerah ini umumnya tidak terserpentinisasi atau sedikit
terserpentinisasi.. Sifat material yang relatif keras menyebabkan kesulitan dalam
penambangan, namun batuan di daerah ini menunjukkan rasio silika magnesia yang
relatif lebih tinggi di banding east block. (Ahmad, 2005)
II.2.4.2 Tipe East Block
Daerah east block didominasi oleh lherzolit dengan kandungan olivin yang rendah
dan mengandung orthopiroksen maupun klinopiroksen. Peningkatan derajat
serpentinisasi di daerah ini didukung juga oleh peningkatan kandungan magnetik
dalam material batuan. Sifat batuan relatif lebih lunak dan menunjukkan rasio silika
magnesia yang lebih rendah dibandingkan west block (Ahmad, 2005)

12

Gambar 2.4 Endapan laterit Sorowako (Ahmad, 2005)


II.3 Drilling/Pemboran
Drilling/Pemboran mempunyai tujuan untuk mencari data subsurface dan kemudian
mengetahui model penyebaran endapan nikel laterit di bawah permukaan bumi,
kemudian memperkirakan cadangannya. Dengan memperlihatkan peta geologi yang
ada, dan letak titik titik spasi pemboran dengan informasi surveyor. Sebagai contoh
pada saat surveyor di daerah tebing,lembah,punggungan, atau terdapat bongkahan
batuan yang terlihat di permukaan

yang dapat diinterpetasikan

oleh geologist

sebagai daerah yang laterisasinya intensif atau tidak sehingga dari informasi tadi
geologist dapat menentukan titik bor prioritas untuk yang lebih efisien untuk di bor.
Dalam tahap pemboran ada hal yang perlu untuk diketahui dimana hal ini dilakukan
untuk menghindari resiko kerugian yang bias sangat besar. Oleh karena itu, pemboran
yang dilakukan terbagi atas dua macam, yaitu:
a. Pemboran Eksplorasi (Exploration Drilling), yaitu pemboran awal dengan jarak
400m x 400m, 200m x 200m dan 100m x 100m pada titik bor yang telah
dipersiapkan oleh pihak survey. Pihak survey memberikan informasi mengenai
koordinat East, North, serta Elevasi.
b. Pemboran Development (Development Drilling), yaitu pemboran detail yang
dilakukan dengan jarak 50m x 50 m dan 25m x 25m. Pemboran ini dilakukan
setelah diketahui adanya indikasi ore yang produktif setelah dilakukan pemboran

13

eksplorasi. Pemboran ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih akurat
mengenai ketebalan, kadar % Ni, serta besarnya cadangan.
Pemboran

dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai

kandungan ore dari suatu daerah, termasuk profil dari titik yang dibor. Sampel yang
diambil dari hasil pemboran ini akan dianalisa persentase kandungan Ni, Co, Fe,
SiO2, dan MgO. Kemudian data ini akan dianalisa lebih lanjut berdasarkan Cut off
Grade yang berlaku.

Jika terdapat indikasi bijih (ore), maka daerah itu akan

ditambang, dan jika tidak terdapat indikasi bijih (ore), daerah tersebut akan
ditinggalkan.
Pada laterit, geologist berhadapan dengan variasi dari skala vertikal akibat
karakteristik pelapukan yang dapat berbeda walaupun jarak antara titik pemboran
tidak terlalu jauh. Biasanya geologis akan mengarahkan titik bor keposisi yang
mempunyai persamaan karakter dengan titik bor yang menghasilkan nilai yang baik
(kesamaan morfologi, kesamaan kontur). Dasar untuk memperkecil skala bor adalah
tingkat kepercayaan seorang geologis dalam menentukan pelamparan dari lapisan
bijih tersebut berdasarkan kesamaan kondisi geologi dan keserupaan atas kandungan
kimia.
Pemboran ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran vertikal dari kedudukan
lapisan, kandungan kimia (% : Ni, Fe, SiO2, MgO, Al). Sebagai salah satu klasifikasi
dari zona ore, variasi pelamparan yang diambil dengan mengkorelasikan data-data.

14

Hal yang dibutuhkan oleh alat bor untuk dapat dengan efektif beroperasi adalah :

Akses, untuk memobilisasi rig (alat bor), biasanya merupakan jalan yang relatif
sudah dibersihkan, datar landai (biasanya merupakan lintasan yang melingkar
apabila berada di sebuah bukit)

Drilling pad (dudukan alat bor), posisi tempat ini didapatkan dari hasil
surveying atas rencana titik pemboran yang telah dilakukan sebelumnya. Area
ini harus datar, mempunyai tempat pembuangan air pemboran, dan menghadap
ke jalan utama untuk memudahkan proses mobilisasi rig. Sebelum membuat
drilling pada operator dozer harus mengukur berapa tinggi material dan setelah
itu mengukur ketinggian kupasan (cut) material

untuk keperluan control

morphology pada saat permodelan.

Mesin bor jacrow ataupun formos

Alat bor dengan jenis HQ core yang berdiameter 6.11cm. Pada saat melakukan
pemboran, perbedaan material akan mengharuskan perbedaan perlakuan dalam
pemboran, seperti dimasukkannya polimer sebagai pelicin pada saat bor
menjumpai lapisan silika. Kerja titik bor dicatat dalam suatu lembar kontrol run
yang merekam berapa kali alat bor melakukan proses pemboran.
Pemboran di Sorowako menggunakan sistem grid dimana jarak dan letak titik
bor telah ditentukan oleh letak grid yang dimulai dari titik 0.0 berdasarkan
koordinat UTM lokal Sorowako.

15

II.4 Perhitungan Volume Bijih Nikel Menggunakan Metode Poligon (Area Of


Influence)
Metode poligon adalah suatu metode perhitungan dengan konsep dasar yang
menyatakan bahwa seluruh karakterisktik endapan suatu daerah diwakili oleh satu
titik tertentu. Jarak titik bor di dalam poligon dengan batas poligon sama dengan jarak
batas poligon ke titik bor terdekat (Agus, 2005).
Pada metode poligon ini semua faktor ditentukan untuk titik tertentu pada endapan
mineral, diekstensikan (perluasan) sejauh setengah jarak dari titik-titik sekitarnya
yang membentuk daerah pengaruh. Dengan demikian pengaruh dari tiap-tiap titik
akan membentuk suatu poligon tertutup, dimana bagian dari endapan yang akan
diestimasi cadangannya diganti oleh beberapa persegi poligon, setiap persegi poligon
atau blok menggambarkan volume daerah suatu titik.
Sehingga untuk mengestimasikan volume daerah pengaruh tiap-tiap poligon,
dilakukan dengan cara mengalikan luas daerah pengaruh tiap-tiap poligon dengan
tebal bijih pada daerah pengaruh tersebut (Semardalena, 2010).

Volume dari masing-masing daerah pengaruh dapat diestimasikan denggan


menggunakan persamaan :
V = A.t .. (2.1)
Dimana :
V = Volume daerah pengaruh (m3)
A = Luas daerah pengaruh (m2)
16

t = Tebal bijih (m)


Sedangkan untuk menghitung volume total dari masing-masing poligon digunakan
persamaan :
Vtotal = V1 + V2 + V3 + V4 + Vn (2.2)
Dimana :
V1 + V2 + V3 + V4 + + Vn = Volume masing-masing poligon (m3)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Daerah Penelitian

17

Daerah Anoa merupakan daerah penelitian yang berada pada daerah wilayah kuasa
pertambangan PT.Vale Indonesia. Secara administratif terletak pada daerah
Sorowako, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Propinsi Sulawesi Selatan.
Secara sistem koordinat berada pada 120o 48' 26" 121o 31' 43" BT dan 02o 13' 05"
02o 55' 50" LS dan merupakan daerah eksplorasi tipe West Block dengan rasio silica
magnesia yang relatif tinggi, dengan luas daerah penelitian adalah 279.496 m2.

Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian


III.2 Data yang digunakan
Penelitian ini menggunakan data core yang diambil dari hasil pemboran eksplorasi
dan diperoleh dari PT.Vale Indonesia dengan jumlah data bor adalah 160 titik bor dan
18

spasi titik bor 50 meter x 50 meter, kemudian dilakukan verifikasi data dan
pengolahan data dari data core tersebut berdasarkan deskripsi geologi untuk
pengerjaan tahap selanjutnya. Data yang digunakan dalam penelitian dapat dibagi
menjadi 2 :
1. Data lubang bor yang berisi data menegenai posisi/koordinat lubang bor berupa
easting, northing dan elevasi.
2. Data kadar yang berisi informasi kadar pada tiap-tiap interval kedalaman tertentu
pada masing-masing lubang bor.
Selanjutnya kedua basis data ini digabungkan menjadi satu basis data yang berisikan
informasi secara menyeluruh tentang posisi kadar dari tiap-tiap lubang bor. Data ini
terdiri atas nama drill hole, easting, northing, elevasi dan kadar dari unsur layer
saprolit dan layer limonit.
III.3 Prosedur Penelitian
Adapun tahap-tahap yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai beerikut :
III.3.1 Tahap Kajian Pustaka
Tahapan ini meliputi pengumpulan berbagai macam literatur yang berhubungan
dengan kajian geologi daerah penelitian seperti genesa pembentukan nikel laterit
yang dapat memudahkan dalam menganalisis karakteristik dari tiap zona lapisan nikel
laterit.

19

III.3.2 Tahap Pengolahan Data


Pada proses pengolahan data dilakukan beberapa langkah pengolahan data.
Pengolahan data tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui volume bijih
nikel dan penyebaran nikel pada daerah penelitian. Adapun tahap pengolahan data
dari daerah penelitian yaitu :
a. Pengolahan Data Assay
Pengolahan data sekunder dimulai pada pengolahan data Assay yang berisikan
informasi mengenai kadar dari tiap-tiap interval kedalaman lubang bor yang
terdiri atas nama drill hole, easting, northing, elevasi dan kadar dari unsur layer
saprolit dan layer limonit.
b. Menentukan Nilai Berat Kering
Menentukan nilai berat kering (dry weight) Nikel yang diperoleh dari data core
tiap-tiap lubang bor yang kemudian dilakukan pengolahan data pada laboratorium
dengan mengeringkan data core yang berupa sampel batuan kemudian dilakukan
penimbangan.
c. Menentukan Kadar Bijih
Pada tahap eksplorasi penentuan kadar bijih nikel merupakan bagian terpenting
untuk menentukan jumlah cadangan. Dalam penentuan kadar bijih nikel, maka
perlu diketahui terlebih dahulu COG (cut off grade) yang telah ditetapkan.
Dengan ketentuan penetapan kadar bijih yaitu, nilai kadar bijih berada <1.5% dan
dengan kedalaman bijih 2 meter. Setelah itu maka dilakukan perhitungan kadar
bijih dengan menggunakan persamaan :
20

(3.1)
d. Menentukan Ketebalan Bijih
Ketebalan endapan bijih dapat dihitung berdasarkan kedalaman setiap lapisan
yang dianggap sebagai bijih nikel. Yaitu dengan menjumlahkan nilai interval bijih
pada tiap-tiap lubang bor.
e. Menentukan Luas Daerah Pengaruh
Dalam menentukan luas masing-masing daerah pengaruh, metode yang dilakukan
adalah dengan menghitung setengah luas daerah pengaruh yang berbeda di
samping kiri kanan, atas dan bawah daerah sehingga membentuk suatu bujur
sangkar dengan interval jarak titik bor 50 x 50 meter.

25 m

25m

25 m

25m

Gambar 3.2 Daerah Pengaruh


Keterangan :
= Titik Bor

21

= Batas Daerah Pengaruh Titik Bor

f. Menentukan Volume Bijih


Dalam penentuan volume bijih nikel pada daerah penelitian, maka dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan :
V = A.t . (3.3)
III.3.3 Membuat Penampang Korelasi Data Bor
Pada pembuatan peta korelasi, dibutuhkan data input berupa database yang berisikan
informasi mengenai data data assay, litologi, collar dan survei yang dibuat dengan
bantuan software MS. Excel 2013 dengan format comma separated value (CSV).
Data-data tersebut dibuat dalam suatu tabel teratur dan sistematis. Hal ini
dimaksudkan untuk mempermudah proses pengolahan data pada Software Surpac
6.2. Data tersebut kemudian di impor ke surpac sehingga proses ini dapat menentukan
lapisan laterit pada data bor yang telah di olah.
III.3.4 Membuat Peta Sebaran Ni
Pada pembuatan peta sebaran Ni, dibutuhkan data input berupa data Assay yang
berisikan informasi mengenai data kadar, data easting, northing dan elevasi yang
telah terlebih dahulu diolah sehingga didapatkan hasil berupa kadar bijih pada tiaptiap lubang bor. Kemudian dilakukan pengolahan data kadar bijih dan koordinat pada
software ArGcis 9.3.

22

III.4 Bagan Alir Penelitian


Mulai

Kajian Pustaka

Data Sekunder
Dry Weight x Ni
NiNi

Saprolit

Limonit

Kadar Ni

Bijih Ni
<1.55%, 2meter

Ketebalan Bijih

Volume Ore
Peta Sebaran

Selesai

Gambar 3.3 Bagan alir penelitian

23

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Titik Bor Daerah Anoa

Gambar 4.1 Titik Bor Daerah Anoa


Gambar 4.1 merupakan gambar titik bor daerah anoa dengan spasi antara setiap
lubang bor adalah 50 meter x 50 meter dan jumlah titik bor adalah 160 titik bor.

24

IV.2 Korelasi Lapisan Limonit

Gambar 4.2 Korelasi Lapisan Limonit


Gambar 4.2 merupakan korelasi lapisan limonit pada lintasan 1. Pada gambar 4.2
dilakukan pengkorelasian antara setiap lubang untuk setiap lapisan dan untuk setiap
lintasan sehingga akan diperoleh penampang 3D untuk lapisan limonit.
IV.3 Korelasi Lapisan Saprolit
I

Gambar.4.3 Korelasi Lapisan Saprolit

25

Gambar 4.3merupakan korelasi lapisan limonit pada lintasan 1. Pada gambar 4.3
dilakukan pengkolerasian antara setiap lubang untuk setiap lapisan dan untuk setiap
lintasan sehingga akan diperoleh penampang 3D untuk lapisan saprolit.
IV.4 Korelasi Lapisan Bedrock

Gambar.4.4 Korelasi Lapisan Bedrock


Gambar 4.4 merupakan korelasi lapisan limonit pada lintasan 1. Pada gambar 4.3
dilakukan pengkolerasian antara setiap lubang untuk setiap lapisan dan untuk setiap
lintasan sehingga akan diperoleh penampang 3D untuk lapisan bedrock.
IV.5 Penampang 3D Korelasi Data Bor
Pembuatan penampang korelasi dilakukan untuk menentukan korelasi pada setiap
lubang bor sehingga dapat ditentukan lapisan laterit pada lubang bor tersebut. Dari
hasil penelitian, lapisan laterit pada data bor ini terdiri dari 3 lapisan yaitu, Limonit,

26

Saprolit dan Bedrock yang masing-masing dari ketiga lapisan laterit tersebut akan
dibuatkan penampang korelasinya, yaitu sebagai berikut :

Penampang 3D Korelasi Lapisan Limonit

Gambar.4.5 Penampang 3D Korelasi Lapisan Limonit


Gambar 4.5 merupakan penampang 3D korelasi data bor pada lapisan limonit. Pada
Gambar menunjukkan korelasi beberapa lubang bor pada lapisan limonit, dapat
dilihat bahwa lapisan limonit pada setiap lubang bor memiliki ketebalan yang
berbeda-beda, hal ini disebabkan karena adanya pengaruh topografi. Kondisi
topografi dari daerah penelitian sangat mempengaruhi ketebalan dari suatu endapan.
Pada lereng dengan derajat tinggi (terjal) proses pengayaan akan sangat kecil
sehingga menyebabkan endapan yang terbentuk tipis atau tidak ada sama sekali.
Sedangkan pada lereng sedang/landai, proses pengayaan umumnya akan berjalan
27

dengan baik karena memiliki waktu untuk proses pengayaan tersebut dan umumnya
akan terbentuk endapan yang lebih tebal sehingga perbedaan ketebalan ini
menyebabkan adanya perbedaan volume pada setiap lubang bor. Sebagai contoh
diambil 2 perhitungan volume pada lubang bor C100222 diperoleh volume sebesar
22.500 m3 dan pada lubang bor C135163 diperoleh volume sebesar 10.000 m3.
Terlihat pada setiap lubang bor, warna merah menunjukkan batas lapisan limonit,
warna hijau menunjukkan batas lapisan saprolit dan warna biru menunjukkan batas
lapisan bedrock.

Penampang 3D Korelasi Lapisan Saprolit

Gambar.4.6 Penampang 3D Korelasi Lapisan Saprolit


Gambar 4.6 merupakan penampang 3D korelasi data bor pada lapisan saprolit. Pada
gambar menunjukkan korelasi antara beberapa lubang bor pada lapisan saprolit.
Dapat dilihat bahwa lapisan saprolit pada setiap lubang bor, sama seperti pada lapisan
limonit,

memiliki ketebalan yang berbeda-beda yang dipengaruhi oleh kondisi

28

topografi daerah penelitian, adanya perbedaan ketebalan ini mempengaruhi perbedaan


volume pada setiap lubang bor. Sebagai contoh diambil 2 perhitungan volume pada
lubang bor C100222 diperoleh volume sebesar 8.625 m3 dan pada lubang bor
C135163 diperoleh volume sebesar 13.250 m3. Terlihat pada setiap lubang bor, warna
merah menunjukkan batas lapisan limonit, warna hijau menunjukkan batas lapisan
saprolit dan warna biru menunjukkan batas lapisan bedrock.

Penampang 3D Korelasi Lapisan Bedrock

Gambar.4.7 Penampang 3D Korelasi Lapisan Bedrock


Gambar 4.7 merupakan penampang 3D korelasi data bor pada lapisan akhir dari
lapisan laterit, Bedrock. Pada gambar menunjukkan korelasi antara beberapa lubang
bor pada lapisan Bedrock. Dapat dilihat bahwa lapisan Bedrock pada setiap lubang
bor, sama seperti pada lapisan limonit dan saprolit,

memiliki ketebalan yang

berbeda-beda yang disebabkan oleh kondisi topografi. Pada lapisan bedrock tidak

29

dilakukan perhitungan volume, hal ini disebabkan karena pada lapisan bedrock tidak
terdapat bijih nikel yang bernilai ekonomis sehingga tidak dilakukan penambangan
pada lapisan ini. Terlihat pada setiap lubang bor, warna merah menunjukkan batas
lapisan limonit, warna hijau menunjukkan batas lapisan saprolit dan warna biru
menunjukkan batas lapisan bedrock.

Penampang 3D Korelasi Lapisan Saprolit, Limonit dan Bedrock

Gambar.4.8 Penampang 3D Korelasi Lapisan Saprolit, Limonit dan Bedrock


Gambar 4.8 merupakan gabungan korelasi antara lapisan limonit, saprolit dan
bedrock yang memiliki ketebalan yang berbeda-beda antara setiap lapisannya yang
disebabkan karena adanya pengaruh topografi pada daerah penelitian, dimana pada
masing-masing lapisan, telah dilakukan korelasi untuk setiap lubang bor sehingga
didapatkan hasil seperti pada Gambar 4.8.

30

IV.6 Peta Distribusi Nikel

Peta Distribusi Ni Pada Lapisan Limonit

Gambar 4.9 Peta Distribusi Nikel (Ni) pada lapisan Limonit


Pada zona limonit, unsur nikel (Ni) biasanya memiliki kadar yang tidak terlalu tinggi.
Hal ini disebabkan karena nikel (Ni) memiliki tingkat kelarutan yang terbatas yang
menyebabkan unsur nikel (Ni) akan terbawa oleh air tanah ke zona yang lebih dalam
dan sebagian kecil tertahan di lapisan limonit. Unsur nikel (Ni) pada limonit biasanya
dijumpai dalam mineral geotite dan Mn oksida (asbolit).
Gambar 4.9 menunjukkan sebaran nikel (Ni) pada lapisan limonit. Kadar nikel (Ni)
terbanyak yang tersebar pada lapisan limonit umumnya berkadar kurang dari 1.1%
yang ditunjukkan dengan warna abu-abu, sedangkan kadar nikel (Ni) tertinggi berada
diatas 1.3% yang ditunjukkan oleh warna merah.

31

Kurangnya kadar nikel (Ni) pada lapisan limonit terjadi karena nikel (Ni) merupakan
unsur yang mudah terlarut, sehingga akan mudah terbawa ke zona yang lebih dalam.
Nikel (Ni) umumnya akan lebih banyak terbentuk pada lapisan saprolit setelah
mengalami proses pelapukan secara terus-menerus. Penyebaran nikel (Ni) pada
lapisan limonit juga dipengaruhi oleh kondisi topografi lereng. Berdasarkan Gambar
4.9 menunjukkan bahwa sebaran nikel (Ni) pada daerah puncak memiliki kadar
kurang dari 1.1% dan semakin meningkat pada daerah lereng. Hal ini disebabkan
karena adanya erosi yang membawa unsur nikel ke daerah yang lebih rendah.

Peta Distribusi Ni Pada Lapisan Saprolit

Gambar 4.10 Peta Distribusi Nikel (Ni) Pada Lapisan Saprolit

32

Pada lapisan saprolit, secara kimiawi zona ini ditandai dengan kelimpahan unsur Mg
dan nikel (Ni) serta berkurangnya unsur Fe. Penyebaran nikel (Ni) bergantung dari
arah aliran air tanah dan sangat dipengaruhi oleh bentuk morfologinya, dimana air
tanah bergerak dari pegunungan-pegunungan ke arah lereng dan membawa Ni, Mg
dan Si mengalir ke zona pelindihan. Kemudian nikel (Ni) akan terjebak pada tempattempat terdapatnya banyak rekahan dan lereng dengan kemiringan yang relatif landai
hingga sedang yang merupakan topografi yang ideal untuk terjadinya keseimbangan
antara proses mekanik dan proses kimia sehingga memberikan kontribusi pengayaan
nikel.
Pada gambar 4.10 adalah peta distribusi nikel (Ni) pada lapisan saprolit. Pada peta
dapat terlihat, kadar nikel (Ni) terendah pada lapisan saprolit memiliki kadar kurang
dari 1.1% dengan jumlah penyebaran yang minim, hal ini ditunjukkan dengan warna
abu-abu. Sedangkan untuk kadar nikel (Ni) terbanyak yaitu berada diatas 1.7%
ditunjukkan dengan warna merah, yang umumnya tersebar pada daerah punggungan
bukit.
Penyebaran nikel (Ni) pada lapisan saprolit yang tidak merata antara nikel (Ni)
berkadar rendah dan nikel (Ni) berkadar tinggi disebabkan karena adanya pengaruh
topografi sehingga terjadi aktivitas pengikisan (erosi) yang membawa unsur nikel
(Ni) mengalami penyebaran dan proses pelapukan yang berbeda. Kadar nikel (Ni)
pada lapisan saprolit mengalami peningkatan kadar dari lapisan limonit. Pada peta,
distribusi nikel (Ni) lapisan saprolit menunjukkan lebih banyak nikel (Ni) berkadar
33

rendah jika dibandingkan dengan nikel (Ni) berkadar tinggi, hal ini disebabkan
karena kemungkinan unsur Ni tidak terakumulasi dengan baik pada daerah topografi
dengan kemiringan lereng yang sangat landai.

Peta Ketebalan Limonit

Gambar 4.11 Peta Ketebalan Limonit


Kondisi topografi dari daerah penelitian sangat mempengaruhi ketebalan dari suatu
endapan. Pada proses laterisasi, air yang membawa material-material terlarut akan
sangat berperan dan pergerakan ini di kontrol oleh kondisi topografi. Pada lereng
dengan derajat tinggi (terjal) maka proses pengayaan akan sangat kecil sehingga
menyebabkan endapan yang terbentuk tipis atau tidak ada sama sekali. Sedangkan
pada lereng sedang/landai, proses pengayaan umumnya akan berjalan dengan baik
34

karena memiliki waktu untuk proses pengayaan tersebut dan umumnya akan
terbentuk endapan yang lebih tebal. Akibat lereng yang curam, maka erosi yang
terjadi akan kuat sehingga menyebabkan zona limonit dan saprolit tererosi.
Pada gambar 4.11 merupakan peta ketebalan lapisan limonit. Pada peta dapat dilihat
daerah yang memiliki ketebalan pada zona limonit. Nilai ketebalan limonit terbanyak
berada diatas 15 m ditunjukkan dengan warna biru sedangkan untuk nilai ketebalan
limonit terendah berada dibawah 5 m ditunjukkan dengan warna abu-abu.
Salahsatu faktor yang mempengaruhi ketebalan dari suatu endapan adalah kondisi
topografi. Pada peta sebaran ketebalan limonit dapat terlihat, umumnya ketebalan
limonit yang berada diatas 15 m tersebar pada daerah yang memiliki topografi landai
yaitu pada arah utara dan puncak bukit hal ini disebabkan karena pada daerah ini
proses pengayaan yang terjadi lebih baik, sehingga menyebabkan endapan limonit
lebih tebal. Sedangkan untuk ketebalan limonit dengan nilai ketebalan dibawah 5 m
berada pada daerah dengan kondisi topografi yang terjal sehingga menyebabkan
ketebalan endapan yang terbentuk tipis karena air akan mengalir ke tempat yang lebih
landai.

35

Peta Ketebalan Saprolit

Gambar 4.12 Peta Ketebalan Saprolit


Salah satu faktor yang berperan dalam menentukan ketebalan dari suatu lapisan
adalah kondisi topografi dan morfologi suatu daerah. Umumnya endapan laterit
terakumulasi banyak pada bagian bawah bukit dengan kondisi topografi yang landai.
Sedangkan pada kondisi topografi yang terjal, endapan semakin menipis. Pengayaan
umumnya akan berjalan dengan baik pada topografi dengan kondisi landai karena
memiliki waktu untuk proses pengayaan tersebut dan umumnya akan terbentuk
endapan yang lebih tebal.

36

Pada gambar 4.12 merupakan peta ketebalan lapisan saprolit. Pada peta menunjukkan
penyebaran ketebalan saprolit tidak merata. Ketebalan dengan nilai tertinggi
ditunjukkan dengan daerah yang berwarna hijau dengan kadar lebih dari 15 m dan
nilai terendah yang ditunjukkan oleh warna merah dengan kadar kurang dari 5 m.
Pada peta, terlihat penyebaran ketebalan zona saprolit yang tidak merata, umumnya
ketebalan dengan kadar tertinggi berada di arah utara, hal ini disebabkan karena
kondisi topografi dan morfologi yang menyebabkan adanya aktivitas pengikisan
(erosi) sehingga membawa material-material penyusun ikut tererosi. Selain itu,
Adanya ketebalan minimum saprolit disebabkan oleh batuan dasar yang
terserpentinisasi lemah, sehingga proses pembentukan zona saprolit hanya terjadi
pada permukaan bongkah batuan lapuk. Sedangkan pada lapisan saprolit yang tebal
disebabkan karena batuan dasarnya terserpentinisasi kuat.
IV.7 Penentuan Kadar Bijih Nikel
Penentuan kadar bijih pada setiap lubang bor merupakan bagian terpenting yang
harus dilakukan untuk

dapat menentukan ketebalan bijih dan volume, dimana

ketentuan penetapan kadar bijih yaitu berdasarkan pada COG (cut off grade) yang
telah ditetapkan. Nilai kadar nikel untuk dapat disebut sebagai ore (bijih) berada
<1.5% dengan kedalaman 2 meter. Setelah itu dengan menggunakan persamaan 3.1
maka dilakukan perhitungan kadar.

37

IV.8 Penentuan Ketebalan Bijih Nikel


Perhitungan Ketebalan bijih (Ore) ditentukan untuk mengetahui seberapa besar
volume dari akumulasi kandungan bijih nikel dalam setiap lubang bor. Untuk
menentukan

ketebalannya

maka

terlebih

dahulu

dilakukan

penentuan

kandungan/kadar bijih nikel pada setiap lubang bor yang sesuai dengan COG (cut off
grade) yang telah ditetapkan sehingga dapat ditentukan ketebalan bijih dengan
menghitung besarnya nilai kedalaman bijih berdasarkan COG (cut off grade) nya.
IV.9 Penentuan Volume Bijih Nikel
Perhitungan volume nikel laterit di daerah penelitian dilakukan berdasarkan pada data
yang diperoleh dari pemboran eksplorasi. Data-data pemboran tersebut kemudian
dianalisis sesuai dengan kadar nikel untuk mengetahui ketebalan bijih (ore) dari tiap
lubang bor sehingga dapat digunakan metode area of influence atau daerah pengaruh,
dimana untuk setiap titik bor diekstensikan sejauh setengah jarak dari titik-titik di
sekitarnya yang membentuk satu daerah pengaruh (area of influence).

Gambar.4.13 Metode Area Of Influence


38

Data bor yang dijadikan acuan perhitungan adalah data loging bor spasi 50 meter x 50
meter. Untuk menghitung volume maka didapat dengan mengalikan antara luas blok
dengan ketebalan bijih (ore) pada data log bor. Luas blok dihitung berdasarkan segi
empat yang terbentuk dari daerah pengaruh yaitu batas luar dari daerah
pengaruhsuatu titik bor yang merupakan setengah dari spasi titik bor.
Besar volume ditentukan untuk mengetahui seberapa besar cadangan bijih nikel
sehingga dapat dilakukan penambangan.

Perhitungan Volume Bijih Nikel


Tabel 4.1 Perhitungan Volume Bijih Nikel
Jenis

Hole

Ketebalan (t)

Luas (A)

V (A.t)

Lapisan

Id

(m)

(m2)

(m3)

C100221

2.500

22.500

C135163

2.500

10.000

C135200

2.500

20.000

C135353

13

2.500

32.500

C135354

2.500

17.500

C135355

2.500

15.000

C100221

3.45

2.500

8.6250

C135163

5.30

2.500

13.250

C135200

2.500

10.000

C135353

7.85

2.500

19.625

C135354

14.84

2.500

16.875

C135355

9.9

2.500

24.750

Limonit

Saprolit

39

Tabel 4.1 merupakan tabel contoh perhitungan volume bijih nikel pada lapisan
limonit dan lapisan saprolit dengan mengambil masing-masing 6 titik lubang bor
dari 160 titik pada setiap lapisan sebagai contoh perhitungan volume bijih nikel.
Setelah dilakukan dilakukan perhitungan volume bijih nikel untuk setiap lubang bor
pada lapisan limonit dan saprolit, maka dilakukan perhitungann total sehingga
diperoleh volume bijih nikel pada lapisan limonit sebesar 816.675 m3 dan volume
total pada lapisan saprolit sebesar 2.097.007 m3.
Hasil perhitungan volume bijih nikel untuk setiap lubang bor (160 titik) pada lapisan
limonit dan lapisan saprolit memiliki total volume bijih nikel yang berbeda. Lapisan
saprolit memiliki total volume bijih nikel yang lebih besar jika dibandingkan dengan
total volume bijih nikel pada lapisan limonit, hal ini disebabkan karena pada lapisan
saprolit, lebih banyak nikel yang terendapkan.

40

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil uraian dan pembahasan, maka hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai
berikut :
1. Berdasarkan peta distribusi nikel (Ni) pada lapisan limonit dan saprolit, penyebaran
kadar nikel (Ni) dipengaruhi oleh bentuk topografi dan kemiringan lereng.
Semakin besar kemiringan lereng maka ketebalan endapan Ni yang terbentuk akan
semakin tipis. Sebaliknya, bila kemiringan lereng sedang sampai landai maka
endapan yang terbentuk akan lebih tebal.
2. Berdasarkan hasil perhitungan volume bijih nikel (Ni) pada lapisan limonit dan
saprolit dengan menggunakan metode Area Of Influence, maka diperoleh total
volume bijih nikel dari 160 lubang bor sebesar 2.913.682 m3.
V.2 Saran
Pada penelitian ini hanya menghitung volume bijih nikel dan distribusi
penyebarannya, diharapkan pada penelitian selanjutnya menggunakan metode
perbandingan lain dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi.

41

DAFTAR PUSTAKA
Agus, H., 2005. Metode Perhitungan Cadangan. Departemen Teknik Pertambangan
Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung
(ITB) : Bandung.
Ahmad, Waheed., 2005. Laterite : Fundamental of Chemistry, Mineralogy,
Weathering Processes and Laterit formation. PT. International Nickel
Indonesia : Sorowako, South Sulawesi.
Ahmad, Waheed., 2008. Laterite : Fundamental of Chemistry, Mineralogy,
Weathering Processes, formation and exploration. PT. International Nickel
Indonesia: Sorowako, South Sulawesi.
Guilbert, J.M. 1986.,The Geology of Ore Deposits. W.H Freeman and Company
Newyork.
Massinai, Muhammad Altin, Saiful Damphelas., 2013. Laporan Akhir Inventarisasi
Zona Mineralisasi Panas Bumi dan Batubara di Kabupaten Donggala
Sulawesi Tengah. PT. Grafis Internusa : Pemda Kabupaten Donggala.
Semardalena, Pratiwi., 2010. Perhitungan Cadangan Bijih Nikel Laterit Dengan
Menggunakan Metode Poligon Pada Bukit TLA4 Daerah Tambang Tengah
PT. Aneka Tambang Tbk. Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka Provinsi
Sulawesi Tenggara. Universitas Hasanuddin : Makassar.
SompotanF. Amstrong., 2012, Struktur Geologi Sulawesi, Institut Teknologi
Bandung : Bandung.

Syafrizal, Anggayana Komang, Guntoro Dono., 2011 Karakristik Mineralogi


Endapan Nikel Laterit di Daerah Tinanggea Kabupaten Konawe Selatan,
Sulawesi Tenggara. 18,(4),211-220.

Syafrizal, Heriawan M. Nur, Notosiswoyo Sudarto, Anggayana Komang, Samosir F.


Jogi., 2009 Hubungan Kemiringan Lereng dan Morfologi dalam Distribusi
Ketebalan Horizon Laterit pada Endapan Nikel Laterit : Studi Kasus
Endapan Nikel Laterit di Pulau Gee dan Pulau Pakal, Halmahera Timur,
Maluku Utara. 16,(3),149-161.

42

Sundari, Woro., 2012, Analisis Data Eksplorasi Bijih Nikel Laterit Untuk Estimasi
Cadangan dan Perancangan PIT pada PT. Timah Eksplorasi Di Desa
Baliara Kecamatan Kabaena Barat Kabupaten Bombana Provinsi
Sulawesi Tenggara, Universitas Nusa Cendana: Kupang.

Surawan

Yudi,.2014, Optimalisasi Penggunaan ERT(Electrical Resistivity


Tomography)Konfigurasi Gradient Dalam Memaksimalkan Eksplorasi
Nikel Laterit. Universitas Hasanuddin: Makassar.

Tonggiroh Adi, Suharto, Mustafa Muhardi,. 2012 Analisis Pelapukan Serpentin dan
Endapan Nikel Laterit Daerah Palangga Kabupaten Konawe Selatan
Sulawesi Tenggara. Universitas Hasanuddin : Makassar.

43

LAMPIRAN 7

LAMPIRAN 8

LAMPIRAN 9

LAMPIRAN 10

LAMPIRAN 11

LAMPIRAN 12

LAMPIRAN 13

LAMPIRAN 14

AMPIRAN 15

LAMPIRAN 17

LAMPIRAN 18

LAMPIRAN 16