Anda di halaman 1dari 5

3

BAB II
ANATOMI DAN FISIOLOGI PAYUDARA

A. Embriologi Payudara
Payudara sebagai kelenjar subkutis mulai tumbuh sejak minggu
keenam masa embrio, yaitu berupa penebalan ektodermal sepanjang garis
yang disebut gari susu yang terbentang dari aksila sampai ke regio inguinal.
Pada manusia, golongan primata gajah, dan ikan duyung, dua pertiga kaudal
dari garis tersebut segera menghilang dan tinggal bagian dada saja yang
berkembang menjadi cikal-bakal payudara.
Beberapa hari setelah lahir, pada bayi dapat terjadi pembesaran
payudara unilateral atau bilateral diikuti dengan sekresi cairan keruh.
Keadaan

yang

disebut

mastitis

neonatorum

ini

disebabkan

oleh

berkembangnya sistem duktus dan tumbuhnya asinus serta vaskularisasi pada


stroma yang dirangsang secara tidak langsung oleh tingginya kadar estrogen
ibu di dalam sirkulasi darah bayi. Setelah lahir, kadar hormon ini menurun,
dan ini merangsang hipofisis untuk memproduksi prolaktin. Prolaktin inilah
yang menimbulkan perubahan pada payudara. 1
B. Anatomi Payudara
Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar kulit. Batas payudara
yang normal terletak antara iga 2 di superior dan iga 6 di inferior (pada usia
tua atau mammae yang besar dapat mencapai iga 7), serta antara taut
sternokostal di medial linea aksilaris anterior di lateral. Pada bagian lateral
atasnya, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatanya ke arah aksila, disebut
penonjolan Spence atau ekor payudara.

Dua pertiga bagian atas mamae terletak di atas otot pektoralis mayor,
sedangkan sepertiga bagian bawahnya terletak di atas otot serratus anterior,
otot oblikus eksternus abdominis, dan otot rektus abdominis. 2

Gambar
Anatomi

1.
payudara

Setiap payudara terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masingmasing mempunyai saluran ke papila mamma, yang disebut duktus laktiferus.
Diantara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga di antara kulit dan kelenjar
tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara lobulus tersebut ada jaringan
ikat yang disebut ligamentum cooper yang memberi angka untuk payudara. 2,6
Vaskularisasi
Perdarahan payudara terutama berasal dari cabang a.perforantes
anterior dari a.mamaria interna, a.torakalis lateralis yang bercabagn
dari a.aksilaris, dan beberapa a.interkostalis.
Persarafan
Payudara sisi superior dipersarafi oleh nervus supraklavikula
yang berasal dari cabang ke 3 dan 4 pleksus servikal. Payudara sisi

medial dipersarafi oleh cabang kutaneus anterior dari nervus


interkostalis cabang kutaneus anterior dari nervus interkostalis 2-7.
Papila mamae terutama dipersarafi oleh caban kutaneus lateral dari
nervus interkostalis , sedangkan cabang kutaneus lateral dari nervus
interkostalis lain mempersarafi areola dan mamae sisi lateral.
Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan
n.interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus oleh saraf
simpatik. Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan
dengan

penyulit

paralisis

dan

mati

rasa

pascabedah,

yakni

n.interkostobrakialis dan n.kutaneus brakius medialis yang mengurus


sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas. Pada diseksi
aksila, saraf ini sedapat mungkin disingkirkan sehingga tidak terjadi
mati rasa di daerah tersebut.
Saraf n.pektoralis yang mengurus m.pektoralis mayor dan
minor, n.torakodorsalis yang mengurus m.latissimus dorsi, dan
m.torakodorsalis longus yang mengurus m.serratus anterior sedapat
mungkin dipertahankan pada mastektomi dengan diseksi aksila.
Kelenjar limfe

1. Kelenjar getah bening mammaria eksterna, terletak dibawah tepi


lateral m. pectorals mayor, sepanjang tepi medial aksila.
2.

Kelenjar

getah

bening

scapula,

terletak

sepanjang

vasa

subskapularis dan thorakodorsalis, mulai dari percabangan v.


aksilaris menjadi v. subskapularis sampai ke tempat masuknya v.
thorako-dorsalis ke dalani m. latissimus dorsi.
3. Keleniar getah bening sentral (Central node), terletak dalam
jaringan lemak di pusat ketiak. Kelenjar getah bening ini relatif
mudah diraba dan merupakan kelenjar getah bening yang terbesar
dan terbanyak.
4. Kelenlar getah bening interpectoral (Rotters node), terletak diantara
m. pektoralis mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v.
thorakoakromialis.
5. Kelenjar getah bening v. aksilaris, terletak sepanjang v. aksilaris
bagian lateral, mulai dari white tendon m. lattisimus dorsi sampai
ke medial dan percabangan v. aksilanis v. thorako-akromalis.
6. Kelenjar

getah

bening

subklavikula,

mulai

dari

medial

percabangan v. aksilanis v. thorako-akromialis sampai dimana


v. aksilanis menghilang dibawah tendon m. subklavius. Kelenjar
ini merupakan kelenjar axial yang tertinggi dan termedial letaknya.
Semua getah bening yang berasal dan kelenjar-kelenjar getah
bening aksila masuk ke dalam kelenjar ini. 2,7

C.

Fisiologi Payudara

Payudara wanita mengalami tiga jenis perubahan yang dipengaruhi oleh


hormon. Perubahan pertama dimulai dari masa hidup anak melalui masa
pubertas sampai menopause. Sejak pubertas, estrogen dan progesteron
menyebabkan berkembangnya duktus dan timbulnya sinus. Perubahan kedua,
sesuai dengan daur haid. Beberapa hari sebelum haid, payudara akan
mengalami pembesaran maksimal, tegang, dan nyeri. Oleh karena itu
pemeriksaan payudara tidak mungkin dilakukan pada saat ini. Perubahan
ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Saat hamil payudara akan
membesar akibat proliferasi dari epitel duktus lobul dan duktus alveolus,
sehingga tumbuh duktus baru. Adanya sekresi hormon prolaktin memicu
terjadinya laktasi, dimana alveolus menghasilkan ASI dan disalurkan ke sinus
kemudian dikeluarkan melalui duktus ke puting susu. 2