Anda di halaman 1dari 8

TAHAPAN ANAMNESA

Pengertian Anamnesa.
Anamnesa merupakan pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter maupun
perawat dengan cara melakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien
atau dalam keadaan tertentu dengan penolong pasien. Berbeda dengan wawancara biasa,
anamnesa dilakukan dengan cara yang khas, berdasarkan pengetahuan tentang penyakit dan
dasar-dasar pengetahuan yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta bertolak dari
masalah yang dikeluhkan oleh pasien. Jenis pertanyaan yang akan diajukan kepada pasien
dalam anamnesa sangat beragam dan bergantung pada beberapa faktor.
1.Cara Pengumpulan Data

Wawancara

Wawancara adalah menanyakan atau membuat tanya-jawab yang berkaitan dengan masalah
yang dihadapi oleh klien, biasa juga disebut dengan anamnesa. Wawancara berlangsung
untuk menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi klien dan
merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. .
Semua interaksi perawat dengan klien adalah berdasarkan komunikasi. Komunikasi
keperawatan adalah suatu proses yang kompleks dan memerlukan kemampuan skill
komunikasi dan interaksi. Komunikasi keperawatan biasanya digunakan untuk memperoleh
riwayat keperawatan. Istilah komunikasi terapeutik adalah suatu teknik yang berusaha untuk
mengajak klien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaan. Teknik tersebut mencakup
ketrampilan secara verbal maupun non verbal, empati dan rasa kepedulian yang tinggi.
Teknik verbal meliputi pertanyaan terbuka atau tertutup, menggali jawaban dan memvalidasi
respon klien. Teknik non verbal meliputi : mendengarkan secara aktif, diam, sentuhan dan
konta mata. Mendengarkan secara aktif merupakan suatu hal yang penting dalam
pengumpulan data, tetapi juga merupakan sesuatu hal yang sulit dipelajari.

Persiapan Wawancara
Untuk melakukan wawancara memerlukan persiapan dengan langkah-langklah sebagai
berikut:

Pertama, sebelum melakukan wawancara harus menguasai persoalan yang akan


dipercakapkan, kalau perlu membuat daftar pertanyaan dari yang bersifat umum
sampai detail.

Kedua, tahapan berikutnya menentukan arah permalahan yang digali dengan


dilengkapi berbagai berita berkaitan dengan bahan yang akan dijadikan bahan
wawancara.

Ketiga, setelah menentukan permasalahan, menetapkan siapa-siapa saja yang akan


menjadi nara sumber untuk diwawancarai. Dalam hal ini harus jelas kriterianya
mengapa dalam masalah ini harus mewawancarai nara sumber tersebut.

Keempat, mengenali sifat-sifatnya yang akan menjadi nara sumber sebelum terjadi
wawancara. Untuk mengenali lebih dekat nara sumber, bertanya kepada oranglain
yang tahu atau dekat dengan nara sumber, atau membaca tulisan dan riwayat hidup
termasuk hobi, keluarganya, dan kesukaan lainnya.

Kelima, sebelum bertatap muka membuat janji dulu sebelum melakukan wawancara,
untuk meminta dan menentukan kapan waktu yang luang dan tepat tepat untuk
melakukan wawancara, karena biasanya sumber berita person yang sibuk, sehingga
pengaturan waktu cukup ketat.

Keenam, yang tak kalah pentingnya persiapan mental untuk mengadakan wawancara,
karena masing-masing pribadi punya karakter yang berbeda, sehingga diperlukan
membaca karakter calon nara sumber. Persiapan lainnya, peralatan yang diperlukan
antara lain, bloknote, ballpoint, tape recorder atau kamera kalau memang diperlukan.
Dianjurkan untuk berpakaian rapi dan menghindari penampilan yang kurang sopan.

. Wawancara bisa dilaksanakan di mana saja, seperti di depan pintu, ketika nara sumber
sedang masuk mobil asal nara sumber memberi kesempatan seperti itu. Namun itu diperlukan
persiapan matang dari wartawan yang bersangkutan, terutama pengenalan lebih dulu
pewancara dengan nara sumber.
Penulisan Wawancara
Hasil wawancara dituangkan dalam beberapa bentuk penulisan sesuai dengan tujuan
wawancara yang telah dilakukan. Bila hasil wawancara akan digabungkan dengan hasil
wawancara yang lain, cara menuliskannya akan lain dengan bentuk penulisan yang
didasarkan pada satu wawancara. Hasil wawancara dapat dipergunakan untuk bahan
penulisan berita atau straight news, laporan atau tulisan khusus wawancara.
Etika Wawancara
Identifikasi diri dengan menyebutkan nama dan nama organisasi Anda untuk
wawancara resmi.

Jelaskan maksud dan topic wawancara pada nara sumber Anda.

Bila membuat janji, datanglah tepat pada waktu yang dijanjikan.

Off the record, hormati permintaan nara sumber, bila suatu keterangan diminta untuk
tidak disiarkan.

Attribusi sumber, hormati permintaan sumber bila nama dan kedudukannya tidak
ingin disebut.

Kiat-kiat melakukan wawancara yang baik


Decide whom to interview
Penting sekali menentukan siapa yang akan Anda wawancara dalam sebuah kasus atau
peristiwa. Misalnya siapa yang langsung terlibat dalam peristiwa itu. Siapa yang terkena
akibat dari peristiwa itu. Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian peristiwa itu .
Persuade reluctant source
Nara sumber wawancara seharusnya dapat dibujuk untuk memberikan keterangan. Ada
beberapa alasan mengapa mereka tidak mau bicara.
- Mereka tidak memiliki waktu. Maka tawarkan tempat dan waktu yang nyaman bagi mereka.
Kita akan datang ke tempat mereka dan kita akan membatasi waktu wawancara.
- Mereka takut memberikan keterangan. Jelaskan apa yang Anda inginkan. Jelaskan mengapa
keterangan mereka itu penting. Kalau mereka takut memberikan wawancara, jangan buat
kata-kata wawancara, buatlah istilah mau bicara atau ngobrol.
- Mereka tidak tahun apa yang dikatakan. Mungkin Anda memilih sumber yang salah atau
mungkin tidak jelas mengenai apa keinginan Anda. Jelaskan apa yang diinginkan. Mengenai
wawancara dengan anak-anak perhatikan unsur-unsur hukum dan etika.
- Mereka dilindungi. Nara sumber penting ini kadang-kadang terhalang oleh sekretaris, orang
humas atau ajuan. Jika memungkinkan tulislah surat permohonan langsung. Atau telepon
mereka sesudah bekerja. Jika ada kesempatan menyaksikan mereka bermain olahraga,
datangi dengan sopan, siapa tahu bisa. Atau bisa juga didatangi ketika hadir dalam sebuah
acara.
Prepare for interviews
Adakan penelitian kecil-kecilan mengenai orang yang akan dihadapi. Tanyakan kepada orang
lain mengenai nara sumber itu, baca pula tulisan mengenai dirinya. Jika Anda berhadapan
dengan orang terkenal, jangan ajukan pertanyaan sama seperti jurnalis lainnya. Ajukan
dengan cara dan pandang yang baru. Gunakan pula kekuatan internet untuk menggali data
atau bicara dengan rekan jurnalis lainnya.
Selain mengkaji orang yang akan didatangi, Anda juga sebaiknya meneliti topik yang akan
dijadikan wawancara. Pengetahuan yang cukup mengenai topik wawancara akan memberi
Anda kredibilitas dimata nara sumber. Semakin banyak diketahui topik yang akan
dibicarakan, semakin baik liputannya.
Know your purpose
Ketahuilah tujuan Anda sebenarnya wawancara itu. Apakah Anda menginginkan wawancara
untuk mendapatkan informasi faktual atau apakah Anda ingin hanya reaksi dan tanggapan
terhadap situasi tertentu. Bisa pula tujuan wawancara itu untuk mendapatkan pengertian

mendalam mengenais seseorang. Tujuan wawancara ini akan memudahkan menyiapkan


pertanyaan-pertanyaan.
Tujuan Wawancara
Orang-orang melakukan wawancara untuk tujuan-tujuan yang berhubungan dengan tugas;
mereka punya sesuatu yang ingin mereka capai, yakni, menyeleksi seseorang untuk suatu
pekerjaan, mengumpulkan data penelitian, menerima pasien, atau menulis kisah berita.
Tujuan terkait tugas inilah yang membedakan wawancara dari sekedar perbincangan biasa.
Suatu percakapan bisa sampai kemana saja; akan tetapi, wawancara harus difokuskan pada
kandungan isi yang sesuai dengan tujuan anda.
Macam-macam wawancara
1. Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila telah
mengetahui informasi yang akan diperoleh.
2. Wawancara semiterstruktur digunakan untuk menemukan permasalahan secara lebih
terbuka, yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya.
3. Wawancara tak terstruktur digunakan saat penelitian pendahuluan atau malahan
penelitian yang lebih mendalam tentang subyek yang diteliti.
Langkah-langkah wawancara dalam penelitian kualitatif
1. Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan
2. Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
3. Mengawali atau membuka alur wawancara
4. Melangsungkan alur wawancara
5. Mengkonfirmasikan ihtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
6. Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
7. Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh.

Jenis-jenis pertanyaan dalam wawancara


1. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman.
2. Pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat
3. Pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan

4. Pertanyaan tentang pengetahuan


5. Pertanyaan yang berkaitan dengan indera
6. Pertanyaan yang berkaitan dengan latar belakang atau demografi.
Alat-alat wawancara yaitu buku catatan, tape recorder, kamera. Hasil wawancara segera
harus dicatat setelah selesai melakukan wawancara agar tidak lupa bahkan hilang.

Periksa kartu dan data pasien

Sebelum anamnesa dilakukan sebaiknya periksa terlebih dahulu kartu atau data pasien dan
cocokkan dengan keberadaan pasiennya. Tidak tertutup kemungkinan kadang-kadang terjadi
kesalahan data pasien atau mungkin juga kesalahan kartu data, misalkan pasien A tetapi kartu
datanya milik pasien B, atau mungkin saja ada 2 pasien dengan nama yang sama persis.
Untuk pasien lama lihat juga data-data pemeriksaan, diagnosis dan terapi sebelumnya.
Informasi data kesehatan sebelumnya seringkali berguna untuk anamnesa dan pemeriksaan
saat ini.

Dorongan kepada pasien untuk menceritakan keluhannya

Pada saat anamnesis dilakukan berikan perhatian dan dorongan agar pasien dapat dengan
leluasa menceritakan apa saja keluhannya. Biarkan pasien bercerita dengan bahasanya
sendiri. Ikuti cerita pasien, jangan terus menerus memotong, tetapi arahkan bila melantur.
Pada saat pasien bercerita, apabila diperlukan ajukan pertanyaan-pertanyaan singkat untuk
minta klarifikasi atau informasi lebih detail dari keluhannya. Jaga agar jangan sampai
terbawa cerita pasien sehingga melantur kemana mana

Gunakan bahasa atau istilah yang dapat dimengerti

Selama tanya jawab berlangsung gunakan bahasa atau istilah umum yang dapat dimengerti
pasien. Apabila ada istilah yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia atau sulit
dimengerti, berika penjelasan atau deskripsi dari istilah tersebut.

Buat catatan

Adalah kebiasaan yang baik untuk membuat catatan-catatan kecil saat seorang dokter
melakukan anamnesis, terutama bila pasien yang mempunyai riwayat penyakit yang panjang.

Perhatikan pasien.

Selama anamnesa berlangsung perhatikan posisi, sikap, cara bicara dan gerak gerik pasien.
Apakah pasien dalam keadaaan sadar sepenuhnya atau apatis, apakah dalam posisi bebas atau
posisi letak paksa, apakah tampak santai atau menahan sakit, apakah tampak sesak, apakah
dapat bercerita dengan kalimat-kalimat panjang atau terputus-putus, apakah tampak segar
atau lesu, pucat dan lain-lain.

Gunakan metode yang sistematis

Anamnesa yag baik haruslah dilakukan dengan sistematis menurut kerangka anamnesis yang
baku. Anamnesa yang sistematis bertujuan untuk melihat keterlibatan setiap sistem dalam
penyakit yang sekarang diderita dan kemungkinan adanya masalah lain selain masalah yang
dikeluhkan oleh pasien. Dengan cara ini diharapkan tidak ada data anamnesa yang tertinggal.
2. Perumusan Masalah
a. Menentukan kelebihan pasien.
Apabila pasien memenuhi standar kriteria kesehatan, perawat kemudian menyimpulkan
bahwa pasien memiliki kelebihan dalam hal tertentu. Kelebihan tersebut dapat digunakan
untuk meningkatkan atau membantu memecahkan masalah yang pasien hadapi.
b. Menentukan masalah pasien.
Jika pasien tidak memenuhi standar kriteria, maka pasien tersebut mengalami keterbatasan
dalam aspek kesehatan dan memerlukan pertolongan.
c. Menentukan masalah yang pernah dialami oleh pasien.
Pada tahap ini, penting untuk menentukan masalah potensial pasien. Misalnya ditemukan
adanya tanda tanda infeksi pada luka pasien, tetapi dari hasil tes laboratorium, tidak
menunjukkan adanya kelainan. Sesuai dengan teori, maka akan timbul adanya infeksi.
Perawat kemudian menyimpulkan bahwa daya tahan tubuh pasien tidak mampu melawan
infeksi.
3. Perencanaan
Perencanaan adalah sesuatu yang telah dipertimbangkan secara mendalam, tahap yang
sistematis dari proses keperawatan meliputi kegiatan pembuatan keputusan dan pemecahan
masalah.
Dalam perencanaan keperawatan, perawat menetapkannya berdasarkan hasil pengumpulan
data dan rumusan diagnosa keperawatan yang merupakan petunjuk dalam membuat tujuan
dan asuhan keperawatan untuk mencegah, menurunkan, atau mengeliminasi masalah
kesehatan klien.
Rencana tindakan yang diibuat perawat merupakan media komunikasi antar petugas
kesehatan sehingga perencanaan yang disusun perawat dinas pagi dapat di evaluasi atau
dilanjutkan oleh perawat dinas sore dan seterusnya.Model komunikasi ini memungkinkan
pelayanan keperawatan dapat dilaksanakan secara berkeseimbangan ,terukur dan efektif.
Rencana tindakan dibuat untuk mengatasi etiologi atau penyebab terjadnya masalah.
Kegagalan dalam menentukan etiologi degan tepat akan berpengaruh terhadap rumusan
tujuan tindakan keperawatan dan mengganggu keberhasilan tindakan.
Tujuan Perencanaan
Tujuan rencana tindakan keperawatan dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a)

Tujuan Administratif

Untuk mengidentifikasi fokus keperawatan kepada klien atau kelompok

Untuk membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi kesehatan lainnya

Untuk menyediakan suatu kriteria guna pengulangan dan evaluasi keperawatan

Untuk menyediakan kriteria klasifikasi klien

b)

Tujuan Klinik

Menyediakan suatu pedoman dalam penulisan

Mengkomunikasikan dengan staf perawat

Menyediakan kriteria hasil sebagai pengulangan dan evaluasi keperawatan

Rencana tindakan yang spesifik secara langsung bagi individu, keluarga, dan tenaga
kesehatan lain untuk melaksanakan tindakan selanjutnya terhadap pasien.
Hal-hal yang didokumentasikan pada tahap perencanaan :
1. Seperangkat tujuan dan kriteria hasil sesuai dengan prioritas masalah.
2. Tindakan keperawqatan mandiri diprioritaskan kemudian tindakan keperawatan kolaborasi.
3. Pendidikan kesehatan kepada klien dan atau kepada keluarga.
4. Rencana tindakan harus logis dan operasiona
5. Berikan tanda tangan dan nama jelas
Komponen yang terdapat pada format pendokumentasian perencanaan pada pemenuhan
kebutuhan keselamatan dan keamanan :

Nama pasien, umur

Ruangan, kamar, bed

Nomor registrasi, nomor rekam medik

Paraf dan nama jelas

Tanggal

Nomor diagnosa

Diagnosa keperawatan

Tujuan dan criteria hasil

Rencana tindakan dan rasional

Paraf dan nama jelas perawat.

4. Evaluasi.
-Pengertian evaluasi.

Tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan


seberapa jauh diagnosa keperawatan,rencana tindakan,dan pelaksanaannya sudah
berhasil dicapai.meskipun tahap evaluasi di letakkan pada akhir proses keperawatan.

Evaluasi adalah membandingkan suatu hasil / perbuatna dengan standar untuk tujuan
pengambilan keputusan yang tepat sejauh mana tujuan tercapai

Tahap akhir dari proses keperawatan

Menilai tujuan dalam rencana perawatan tercapai atau tidak

Menilai efektifitas rencana keperawatan atau strategi askep

-Tujuan evaluasi.

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini bisa
dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien.
-Macam macam evaluasi:
1. Evaluasi Formatif.
Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon pasien segera pada saat / setelah
dilakukan tindakan keperawatan.
Ditulis pada catatan
Contoh: membantu pasien duduk semifowler, pasien dapat duduk selama 30 menit tanpa
pusing.
2. Evaluasi Somatif a Soapier.
Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa setatus kesehatan sesuai waktu dan
tujuan ditulis pada catatan perkembangan.