Anda di halaman 1dari 37

PRAKTIK PROFESI KEPERAWATAN KELUARGA

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN RESIKO TINGGI
PADA Tn.W DENGAN HIPERTENSI DI KELUARGA Tn.W DI RT 04
DUSUN KAUMAN, WIJIREJO, PANDAK, BANTUL
YOGYAKARTA

IMAM FAUZI
3215046

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI
YOGYAKARTA
2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN RESIKO TINGGI
PADA Tn.W DENGAN HIPERTENSI DI KELUARGA Tn.W DI RT 04
DUSUN KAUMAN, WIJIREJO, PANDAK, BANTUL
YOGYAKARTA

Disusun oleh:
IMAM FAUZI
3215046

Disetujui pada:
Hari
:
Tanggal
:

Mengetahui :
Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

Mahasiswa

(Imam Fauzi)
LAPORAN PENDAHULUAN
KEPERAWATAN KELUARGA

A. Teori Keluarga
1. Definisi
Keluarga adalah sekumpulan dua atau lebih individu yang diikat
oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi dan tiap-tiap anggota
keluarga selalu berinteraksi satu sama lain (Harmoko, 2012).
Bailon, 1978 dalam Achjar (2010) berpendapat bahwa keluarga
sebagai dua atau lebih individu yang berhubungan karena hubungan
darah, ikatan perkawinan atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dalam peranannya dan menciptakan serta
mempertahankan budaya.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di
suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung
(Departemen Kesehatan RI, 1988 dalam Ali, 2006).
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena
hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dlam satu rumah tangga, yang
berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya (Ali, 2006).
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan
ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup
spiritual dam materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan, memiliki
hubungan yang selaras, serasi dan seimbang antara anggota keluarga dan
masyarakat serta lingkungannya (BKKBN, 1999 dalam Sudiharto, 2007).
2. Bentuk atau Tipe-Tipe Keluarga
Menurut Sudiharto (2007), beberapa tipe/bentuk keluarga adalah
sebagai berikut :
a. Keluarga Inti ( nuclear family ), adalah keluarga yang dibentuk
karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami,
istri, dan anak- anak baik karena kelahiran (natural) maupun adopsi.
b. Keluarga asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga
tempat asal seseorang dilahirkan.
c. Keluarga Besar (extended family ), keluarga inti ditambah keluarga
yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, bibi,

paman, sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua tunggal,


keluarga tanpa anak, serta keluarga pasangan sejenis (guy/lesbian
families).
d. Keluarga

Berantai,

keluarga

yang

terbentuk

karena

perceraiandan/atau kematian pasangan yang dicintai dari wanita dan


pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga
inti.
e. Keluarga duda atau janda (single family), keluarga yang terjadi
karena perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
f. Keluarga komposit (composite family), keluarga dari perkawinan
poligami dan hidup bersama.
g. Keluarga kohabitasis (Cohabitation), dua orang menjadi satu
keluarga tanpa pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di
Indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan bertebtangan budaya
timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini mulai dapat
diterima.
h. Keluarga inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai
global dan pengaruh informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk
keluarga yang tidak lazim, misalnya anak perempuan menikah
dengan ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak kandung lakilaki, paman menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan
adik dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak
perempuan tirinya. Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai
budaya, jumlah keluarga inses semakin hari semakin besar. Hal ini
dapat kita cermati melalui pemberitaan dari berbagai media cetak
dan elektronik.
i. Keluarga tradisional dan nontradisional, dibedakan berdasarkan
ikatan perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan,
sedangkan keluarga nontradisional tidak diikat oleh perkawinan.
Contoh keluarga tradisional adalah ayah-ibu dan anak hasil dari
perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional adalah
sekelompok orang tinggal di sebuah asrama.

Menurut Maclin, 1988 dalam Achjar (2010) pembagian tipe


keluarga, yaitu :
a. Keluarga Tradisional
1) Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan
anak-anak yang hidup dalam rumah tangga yang sama.
2) Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu keluarga yang hanya
dengan satu orang yang mengepalai akibat dari perceraian,
pisah, atau ditinggalkan.
3) Pasangan inti hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak
atau tidak ada anak yang tinggal bersama mereka.
4) Bujang dewasa yang tinggal sendiri.
5) Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari
nafkah, istri tinggal di rumah dengan anak sudah kawin atau
bekerja.
6) Jaringan keluarga besar, terdiri dari dua keluarga inti atau lebih
atau anggota yang tidak menikah hidup berdekatan dalam
daerah geografis.
b. Keluarga non tradisional
1) Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak
menikah (biasanya terdiri dari ibu dan anaknya).
2) Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempunyai
anak.
3) Keluarga gay/lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin
sama hidup bersama sebagai pasangan yang menikah.
4) Keluarga kemuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih
satu pasangan monogamy dengan anak-anak, secara bersama
menggunakan fasilitas, sumber dan mempunyai pengalaman
yang sama.
3. Struktur Keluarga
Menurut Setiadi (2008: 6-7) struktur keluarga terdiri dari
bermacam-macam, diantaranya adalah :
a. Patrilineal
Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu dihubung
melalui jalur garis bapak.
5

b. Matrilineal
Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu dihubung
melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal
Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama saudara
istri.
d. Patrilokal
Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama saudara
suami.
e. Keluarga kawinan
Keluarga kawinan adalah suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga
karena adanya hubungan-hubungan dengan suami istri.

4. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (1999) dalam Sudiharto (2007), lima fungsi
dasar keluarga adalah sebagai berikut :
a. Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan
kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih
serta, saling menerima dan mendukung.
b. Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan
individu keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi social dan
belajar berperan di lingkungan sosial.
c. Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga meneruskan kelangsungan
keturunan dan menambah sumber daya manusia.
d. Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga, seperti sandang, pangan, dan papan.
e. Fungsi perawatan kesehatan, adalah kekampuan keluarga untuk
merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar
pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi
dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan

dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat. Berbagai


peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
1) Ayah sebagai suami dari istri dan ayah bagi anak-anak, berperan
sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman,
sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya
serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2) Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anakanaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah
tambahan dalam keluarganya.
3) Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
5. Tugas Keluarga
Menurut Bailon dan Maglaya (1998) dalam Efendi dan Makhfudli
(2009: 185-186), keluarga mempunyai tugas dibidang kesehatan yang
perlu dipahami dan dilakukan, meliputi :
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh
diabaikan, karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti
dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan
dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal masalah kesehatan
dan perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan
sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung
menjadi perhatian orang tua atau keluarga. Apabila menyadari
adanya perubahan keluarga perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan
apa yang terjadi dan seberapa besar perubahannya. Sejauh mana
keluarga mengetahui dan mengenal fakta-fakta dari masalah
kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, factor

penyebab dan yang mempengaruhinya, serta persepsi keluarga


terhadap masalah.
b. Membuaat keputusan tindakan kesehatan yang tepat
Sebelum keluarga dapat membuat keputusan yang tepat mengenai
masalah kesehatan yang dialaminya, perawat harus mengkaji hal-hal
sebagai berikut :
1) Sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya
masalah.
2) Apakah keluarga merasakan adanya masalah kesehatan.
3) Apakah keluarga merasa menyerah terhada masalah yang
dialaminya.
4) Apakah keluarga merasa takut akan akibat penyakit.
5) Apakah keluarga mempunyai sikap negative terhadap masalah
kesehatan.
6) Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada.
7) Apakah keluarga kurang percaya terhadap tenaga kesehatan.
8) Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap
tindakan dalam mengatasi masalah.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
Ketika memberikan perawatan pada keluarganya yang sakit,
keluarga harus mengetahui hal-hal berikut :
1) Keadaan penyakitnya (sifat, penyebaran, komplokasi, prognosis
dn perawatannya).
2) Sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan.
3) Keberadaan fasillitas yang diperlukan untuk perawatan.
4) Sumber-sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga
yang bertanggungjawab, sumber keuangan atau financial,
fasilitas fisik, dan psikososial).
5) Sikap keluarga terhadap yang sakit.
d. Memodifikasi lingkungan keluarga atau menciptakan suasana rumah
yang sehat.
Ketika memodifikasi lingkkungan atau menciptakan suasana rumah
yang sehat, keluarga harus mengetahui sumber-sumber keluarga
yang dimiliki, keuntungan atau manfaat pemeliharaan lingkungan,
pentingnya hygiene sanitasi, upaya pencegahan penyakit, dan sikap
atau pandangan keluarga terhadap hygiene sanitasi.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat bagi
keluarga
8

6. Tahap Perkembangan Keluarga


Menurut Duvall (1985) dalam Setiadi (2008:14-18), tahap
perkembangan keluarga adalah :
a. Keluarga baru (Bergaining Family)
Pasangan baru menikah yang belum mempunyai anak. Tugas
perkembangan keluarga pada tahap ini adalah :
1) Membina hubungan intim yang memuaskan.
2) Menetapkan tujuan bersama.
3) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok
sosial.
4) Mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB.
5) Persiapan menjadi orang tua.
6) Memahami prenatal care (pengertian kehamilan, persalinan, dan
menjadi orang tua).
b. Keluarga dengan anak pertama <30 bulan (child bearing)
Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan
menimbulkan krisis keluarga. Tugas perkembangan tahap ini antara
lain :
1) Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi, seksual,
dan kegiatan).
2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
3) Membagi peran dan tanggung jawab.
4) Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan
anak.
5) Konseling KB post partum 6 minggu.
6) Menata ruang untuk anak.
7) Memfasilitasi role bearing.
8) Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.
c. Keluarga dengan anak pra sekolah
Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini anatra lain :
1) Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga.
2) Membantu anak bersosialisasi.
3) Beradaptasi dengan anak baru lahir, anak yang lain juga
terpenuhi.
4) Pembagian waktu, individu, pasangan, dan anak.
5) Pembagian tanggung jawab.
6) Merencanakan kegiatan dan waktu simulasi tumbuh dan
kembang anak.
d. Keluarga dengan anak usia sekolah
Tugas keluarga pada tahap ini antara lain :

1) Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah,


sekolah, dan lingkungan lebih luas.
2) Mendorong anak untuk mencapai

pengembangan

daya

intelektual.
3) Menyediakan aktivitas untuk anak.
4) Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikutsertakan
anak.
5) Memnuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya kehidupan
dan kesehatan anggota keluarga.
e. Keluarga dengan anak remaja (13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :
1) Perkembangan tahap remaja (memberikan kebebasan yang
seimbang dan bertanggung jawab).
2) Memelihara komunitas terbuka (cegah gep komunikasi).
3) Memelihara hubungan intim dalam keluarga.
4) Mempersiapkan perubahan sistem peran dan peraturan anggota
keluarga untuk memnuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota
keluarga.
f. Keluarga dengan anak dewasa (anak satu meninggalkan rumah)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :
1) Memperluas keluarga inti menjadi kelurga besar.
2) Mempertahankan keintiman.
3) Membantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru
dimasyarakat.
4) Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima
kepergian anaknya.
5) Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi
anak-anaknya.
g. Keluarga usia pertengahan (middle age family)
Tugas keluarga pada tahap ini antara lain :
1) Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam mengolah
minat sosial dan waktu santai.
2) Memulihkan hubungan antara generasi muda dan tua.
3) Keakraban dengan pasangannya.
4) Memelihara hubungan atau kontak dengan anak dan keluaraga.
5) Persiapan masa tua atau pensiun.
h. Keluarga lanjut usia
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini antara lain :
1) Penyesuaian tahap masa pensiun dengan cara merubah cara
hidup.

10

2) Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan


kematian.
3) Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.
4) Melakukan life review masa lalu.
7. Nilai-Nilai Keluarga
a. Suatu sistem ide, sikap, dan kepercayaan tentang nilai suatu
keseluruhan atau konsep yang secara sadar mengikat seluruh anggota
keluarga dalam suatu budaya yang lazim (Parad & Caplan, 1965).
b. Kebudayaan keluarga merupakan sumber sistem nilai dan norma norma utama sebuah keluarga.
c. Kelompok keluarga merupakan sumber utama sistem kepercayaankepercayaan, nilai-nilai dan norma-norma, yang menentukan
pemahaman individu terhadap sifat, makna dunia, bagaiman
mencapai tujuan & aspirasi-aspirasi mereka.
Orientasi

nilai

utama

meliputi:

pencapaian

individu

dan

produktivitas, individualisme, materialisme/etika konsumsi, etika


kerja, pendidikan, persamaan hak, kemajuan dan penguasaan
lingkungan,

orientasi

masa

kepraktisan,

rasionalisme,

depan,

kualitas

efisiensi,

hidup

dan

ketentraman,
pemeliharaan

kesehatan dan toleransi terhadap perbedaan.


B. Keluarga dengan Lansia
1. Definisi dan Batasan Karakteristik Lansia
a. Definisi
Lanjut usia (lansia) merupakan suatu proses biologis yang
tidak dapat dihindarkan, yang akan dialami oleh setiap orang. Menua
adalah

suatu

proses

menghilangnya

secara

perlahan-lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan


mempertahankan struktur dan fungsi secara normal.
b. Batasan Lansia
1) Menurut Departemen Sosial RI (1997) dan UU RI no 13 tahun
1998. Lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih,
baik secara fisik masih berkemampuan (potencial) maupun

11

karena suatu hal tidak lagi mampu berperan secara aktif dalam
pembangunan (non potensial).
2) Menurut WHO, lansia meliputi :
a) Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45
sampai 59 tahun.
b) Lanjut usia (elderly), ialah kelompok usia 60 sampai 74
tahun.
c) Lanjut usia tua (old), ialah kelompok usia 75 sampai 90
tahun.
d) Usia sangat tua (very old), ialah kelompok usia diatas 90
tahun.
3) Menurut Upaya Pokok Puskesmas (sasaran langsung kesehatan
usila) :
a) Kelompok menjelang usila (45 tahun samapi 54 tahun).
b) Kelompok masa pensiun (55 tahun sampai 64 tahun).
c) Kelompok senecens (lebih dari 65 tahun).
2. Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lansia
Gambaran fungsi tubuh pada usia lanjut mengenai kekuatan atau
tenaga menurun sebesar 88%, fungsi penglihatan meturun sebesar 72%.
kelenturan tubuh menurun sebesar 61%, daya pendengaran menurun 67%
dan bidang seksual menurun sebesar 86% (Makmun, 1998). Perubahanperubahan fisik yang terjadi pada lansia menurut Nugroho (2000) :
a. Sel
Lebih sedikit jumlahnya, lebih besar ukurannya. Berkurangnya
jumlah

cairan

tubuh

dan

berkurangnya

cairan

intraselular.

Menurunnya proporsi protein di otak,otot, ginjal, darah dan hati.


Terganggunya mekanisme perbaikan sel, jumlah sel otak menurun
dan menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.
b. Sistem Persarafan
Berat otak menurun 10-20% dan berkurang sel saraf otaknya,
cepatnya menurun hubungan persarafan, lambatnya dalam respon
dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan stres dan mengecilnya
saraf panca indra yang mengakibatkan berkurangnya penglihatan,
hilangnya pendengaran, lebih sensitif terhadap perubahan suhu

12

dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin dan kurang sensitif


terhadap sentuhan.

c. Sistem pendengaran
Presbiakustis (gangguan pada pendengaran) hilangnya kemampuan
daya pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara
atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti
katakata. Atrofi membran timpani dan dapat menyebabkan
otosklerosis. Terjadinya pengumpulan cerumen dapat mengeras
karena meningkatnya keratin. Pendengaran bertambah menurun pada
lansia yang mengalami ketegangan jiwa/stres.
d. Sistem Penglihatan
Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
kornea lebih berbentuk sferis, lensa lebih suram dan keruh yang
dapat menyebabkan katarak. Meningkatnya ambang pengamatan
sinar, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat dan susah
melihat

dalam

cahaya

gelap.

Hilangnya

daya

akomodasi,

menurunnya lapang pandang dan daya membedakan warna biru atau


hijau pada skala.
e. Sistem Kardiovaskuler
Elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung menebal dan kaku.
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
setelah berumur 20 tahun, hal ini menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
sehingga menyebabkan kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer
untuk oksigenasi dan meningkatnya resistensi dari pembuluh darah
perifer.
f. Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh
Pada pengataturan suhu, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu
termostat, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi
berbagai faktor yang mempengaruhinya, yang sering ditemui adalah
temperatur tubuh menurun secar fisiologis menjadi kurang lebih
13

35oC akibat penurunan metabolisme, keterbatasan reflek menggigil


dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi
rendahnya aktivitas otot.
g. Sistem Respirasi
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku,
menurunnya aktivitas dari silia, paru-paru kehilangan elastisitas,
alveoli ukurannya melebar dan jumlahnya berkurang. O2 pada arteri
menurun menjadi 75 mmHg, CO2 pada arteri tidak terganti.
Kemampuan untuk batuk berkurang dan kemampuan pegas, dinding
dada dan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan
pertambahan usia.
h. Sistem Gastrointestinal
Kehilangan

gigi,

indera

pengecap

menurun,

esofagus

melebar,lambung mengalami penurunan sensitifitas lapar, asam


lambung dan waktu mengosongkan menurun. Peristaltik lemah dan
biasanya timbul konstipasi, fungsi absorbsi melemah, liver mengecil
dan menurunnya tempat penyimpanan.
i. Sistem Reproduksi
Dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun (dengan
kondisi kesehatan baik). Pada perempuan mengecilnya ovari dan
uterus, atrofi payudara, selaput lendir vagina menurun, permukaan
menjadi halus, sekresi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali.
Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa tetapi
mulai menurun.
j. Sistem Genitourinaria
Pada ginjal terjadi atrofi nefron dan fungsi tubulus berkurang. Pada
vesika urinaria otot-otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun
sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni
meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lansia
sehingga mengakibatkan retensi urin. Terjadi pembesaran prostat
pada pria dan atrofi vulva pada wanita.

14

k. Sistem Endokrin
Produksi dari hampir semua hormon menurun tetapi fungsi
paratiroid dan sekresinya tidak berubah. Dalam pituitar ada
pertumbuhan hormone tetapi lebih rendah dan hanya di dalam
pembuluh darah, berkurangnya ACTH, TSH, FSH dan LH.
Menurunnya aktifitas tiroid, menurunnya Basal Metabolic Rate dan
menurunnya daya pertukaran zat. Terjadi penurunan produksi
aldosteron dan menurunnya sekresi hormone kelamin, misalnya
progesteron, estrogen dan testoteron.
l. Sistem Kulit (Integumentary System)
Kulit mengerut dan keriput akibat kehilangan jaringan lemak,
permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses
keratinasi serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis,
menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit
menurun, kulit kepala dan rambut menipis, rambut dalam hidung dan
telinga menebal, berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya
cairan dan vaskularisasi, kelenjar keringat berkurang jumlah dan
fungsinya, kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.
m. Sistem Muskuloskeletal
Tulang kehilangan density dan makin rapuh, kifosis, discus
intervetebralis menipis dan menjadi pendek, persendian membesar
dan menjadi kaku, tendon mengerut dan mengalami skelerosis dan
atrofi serabut-serabut otot.
n. Perubahan psikologis
Perubahan mental yang terjadi pada lansia dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain perubahan fisik, khususnya organ perasa.
kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan dan lingkungan
(Nugroho,2000).Menurut Nugroho (2000), perubahan-perubahan
psikososial dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:

15

1) Pensiun, bila seseorang pensiun akan mengalami kehilangan


finansial, status, teman atau relasi dan kehilangan kegiatan.
2) Merasakan tua sadar akan kematian (sense of awareness of
mortality).
3) Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah perawatan
bergerak sempit.
4) Economic deprivation,

meningkatnya

biaya

hidup

pada

penghasilan yang sulit dan bertambahnya biaya pengobatan.


5) Penyakit kronis dan ketidakmampuan.
6) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik sehingga terjadi
perubahan terhadap gambaran diri dan konsep diri.
3. Penyakit yang Sering Terjadi pada Lansia
Beberapa masalah yang kerap muncul pada usia lanjut , yang disebutnya
sebagai a series of Is. Mulai dari immobility (imobilisasi), instability
(instabilitas

dan jatuh), incontinence (inkontinensia), intellectual

impairment (gangguan intelektual), infection (infeksi), impairment of


vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran), isolation
(depresi), Inanition (malnutrisi), insomnia (ganguan tidur), hingga
immune deficiency (menurunnya kekebalan tubuh). Selain gangguangangguan tersebut penyakit degeratif yang kerap dialami para lanjut usia,
yaitu:
a. Osteo Artritis (OA)
OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik
dan biologik yang mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak
stabilnya sendi, dan perkapuran. OA merupakan penyebab utama
ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi risikonya karena
trauma, penggunaan sendi berulang dan obesitas.
b. Osteoporosis
Osteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang dimana
masa atau kepadatan tulang berkurang. Terdapat dua jenis
osteoporosis, tipe I merujuk pada percepatan kehilangan tulang
selama dua dekade pertama setelah menopause, sedangkan tipe II

16

adalah hilangnya masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya


produksi vitamin D.
c. Hipertensi
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama
atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi
dari 90mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada
proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu
terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis),
serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal
d. Diabetes Mellitus
Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa
dimana gula darah masih tetap normal meskipun dalam kondisi
puasa. Kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus,
dimana kadar gula darah sewaktu diatas atau sama dengan 200 mg/dl
dan kadar glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola
makan yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut mempertinggi
risiko DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75 tahun
menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar,
banyak berkemih, mudah lelah, berat badan terus berkurang, gatalgatal, mati rasa, dan luka yang lambat sembuh.
e. Dimensia
Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan
fungsi intelektual dan daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga
mempengaruhi

aktivitas

kehidupan

sehari-hari.

Alzheimer

merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia


lanjut.

Adanya

riwayat

keluarga,

usia

lanjut,

penyakit

vaskular/pembuluh darah (hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi),


trauma kepala merupakan faktor risiko terjadinya demensia.
Demensia juga kerap terjadi pada wanita dan individu dengan
pendidikan rendah.
f. Penyakit jantung koroner

17

Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju


jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada,
sesak napas, pingsan, hingga kebingungan.
1. Kanker
Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi
sebuah sel mengalami perubahan bahkan sampai merusak sel-sel
lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah ini mengalami mutasi
karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi
normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan,
mulai dari yang ringan sampai berubah sama sekali dari keadaan
awal (kanker).
C. Masalah Kesehatan (Hipertensi)
1. Definisi
Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih
dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Hipertensi
sering menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang dapat
mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah (Muttaqin, 2009).
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten
dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90
mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer, 2001).
Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya
antara 95-104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara
105 dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115
mmHg atau lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan
diastolik karena dianggap lebih serius dari peningkatan sistolik (Smith
Tom, 1995).

2. Klasifikasi
Klasifikasi tekanan darah menurut JNC 7 (2003) dapat dilihat pada tabel
berikut:
Klasifikasi

Tekanan Sistolik (mmHg)

18

Tekanan Diastolik (mmHg)

Normal
Prehipertensi
Hipertensi stage I
Hipertensi stage II
(Muttaqin, 2009).

<120
120-139
140-150
>150

<80
80-89
90-99
>100

Klasifikasi Hipertensi menurut WHO:


Kategori

Sistol (mmHg)
<120
<130
140-159
140-149
160-179
>180
>140
140-149

Optimal
Normal
Tingkat I (hipertensi ringan)
Sub group: Perbatasan
Tingkat 2 (Hipertensi Sedang)
Tingkat 3 (Hipertensi Berat)
Hipertensi Sistol terisolasi
Sub group: Perbatasan
(Sofyan, 2012)
Klasifikasi

Hipertensi

Hasil

Konsensus

Diastol (mmHg)
<80
<85
90-99
90-94
100-109
>110
<90
<90

Perhimpunan

Hipertensi

Indonesia
Kategori

Sistol (mmHg)
<120
120-139
140-159
160
140

Normal
Pre Hipertensi
Hipertensi Tahap I
Hipertensi Tahap II
Hipertensi Sistol Terisolasi
(Sofyan, 2012)

Dan/Atau
Dan
Atau
Atau
Atau
Dan

Diastol (mmHg)
<180
80-89
90-99
100
<90

3. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang
spesifik (idiopatik). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac
output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor
yang mempengaruhi terjadinya hipertensi:
a. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau
transport Na.
b. Obesitas: terkait

dengan

level

insulin

yang

tinggi

yang

mengakibatkan tekanan darah meningkat.


c. Stress Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua
serta pelebaran pembuluh darah.

19

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:


a. Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi
seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik,
system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok
dan stress.
b. Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer
untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
a. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti
penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor
yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut
adalah sebagai berikut :
Faktor keturunan: dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi
jika orang tuanya adalah penderita hipertensi. Ciri perseorangan
yang mempengaruhi timbulnya hipertensi seperti umur (jika umur
bertambah maka TD meningkat), jenis kelamin (laki-laki lebih tinggi
dari perempuan), ras (ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih),
kebiasaan hidup, kebiasaan hidup yang sering menyebabkan
timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi (melebihi
dari 30 gr), kegemukan atau makan berlebihan, stress, merokok,
minum

alkohol,

minum

epineprin)

20

obat-obatan

(ephedrine,

prednison,

b. Sedangkan

penyebab

hipertensi

sekunder

adalah:

ginjal,

glomerulonefritis, pielonefritis, nekrosis tubular akut, tumor,


vascular, aterosklerosis, hiperplasia, trombosis, aneurisma, emboli
kolestrol, vaskulitis, kelainan endokrin, DM, hipertiroidisme,
hipotiroidisme,

saraf,

stroke,

ensepalitis,

SGB,

obat-obatan,

kontrasepsi oral, kortikosteroid.


4. Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh
dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan
pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi
meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis. Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi
klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu: mengeluh
sakit kepala, pusing, lemas, kelelahan, sesak nafas, gelisah, mual,
muntah, epistaksis, kesadaran menurun.
Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah: peningkatan
tekanan darah > 140/90 mmHg, sakit kepala, pusing/migraine, rasa
berat ditengkuk, penyempitan pembuluh darah, sukar tidur, lemah
dan lelah, nokturia, azotemia dan sulit bernafas saat beraktivitas.
5. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh
darah terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat
vasomotor ini bermula pada sistem saraf simpatis, yang berlanjut ke
bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke
ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor

21

dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem


saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang
akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi
pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi

respons

pembuluh

darah

terhadap

rangsangan

vasokonstriktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap


norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut
bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla
adrenal mensekresi epineprin, yang menyebabkan vasokonstriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan streroid lainnya, yang
dapat

memperkuat

respons

vasokonstriksi

pembuluh

darah.

Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,


menyebabkan

pelepasan

renin.

Renin

merangsang

pembentukan

angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu


vasokonstrikstriktor kuat. Yang pada gilirannya merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adrenal. hormon ini menyebabkan retensi natrium
dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan
hipertensi.
Pertimbangan gerontologis. Perubahan struktur dan fungsional
pada sistem perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah
yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi arterosklerosis,
hilangnya elastisistas jaringan ikat, dan penurunan dalam relaksasi otot
polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan
arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume
darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup), mengakibatkan

22

penurunan curah jantung dan peningkatan tahanan parifer (Bruner dan


Suddarth, 2001).

6. Pathway
Obesitas
Insulin

Stress

Kelebihan

Iskemia

Katekolamin

H. Natrioretik

Renin

Kalsium

Perubahan fungsi
membran sel

Kontraksi otot

Pertukaran Na+ / H+
Hipertrofi Vaskulen

Tahanan perifer
Hipertensi
7. Pemeriksaan Penunjang
a. EKG: adanya pembesaran ventrikel kiri, pembesaran atrium kiri,
adanya penyakit jantung koroner atau aritmia.
b. Hemoglobin/hematokrit: bukan diagnostik tetapi mengkaji hubngan
dari sel-sel terhadap terhadap volume cairan(viskositas)dan dapat
mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti hiperkogulabilitas,
anemia.
c. BUN/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal.
d. Glukosa: hiperglikemia (Diabetes Millitus adalah pencetus
hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin
(meningkatkan hipertensi).
e. Kalium serum: hipokalemia

dapat

mengindikasikan

adanya

aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi


diuretic.
f. Kalsium

serum:

peningkatan

meningkatkan hipertensi.

23

kadar

kalsium

serum

dapat

g. Kolesterol dan trigliserida serum: peningkatan kadar dapat


mengindikasikan

pencetus

untuk/adanya

pembentukan

plak

ateromatosa (efek kardiovaskuler).


h. Asamm urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor
risiko terjadinya hipertensi.
i. Foto rontgen: adanya pembesaran jantung, vaskularisasi atau aorta
yang melebar.
j. Echocardiogram: tampak adanya penebalan dinding ventrikel kiri,
mungkin juga sudah terjadi dilatasi dan gangguan fungsi sistolik dan
diastolik (Diklat PJT-RSCM, 2008).
8. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan pasien dengan penyakit jantung hipertensi terbagi
dalam dua kategori-pengobatan dan pencegahan tekanan darah yang
tinggi dan pengobatan penyakit jantung hipertensi. Tekanan darah ideal
adalah kurang dari 140/90 pada pasien tanpa penyakit diabetes dan
penyakit ginjal kronik dan kurang dari 130/90 pada pasien dengan
penyakit diatas. Berbagai macam strategi pengobatan penyakit jantung
hipertensi :
a. Pengaturan Diet
Dalam merencanakan menu makanan untuk penderita
hipertensi ada beberapa faktor yang perlu

diperhatikan yaitu

keadaan berat badan, derajat hipertensi,aktifitas dan ada tidaknya


komplikasi. Sebelum pemberian nutrisi pada penderita hipertensi ,
diperlukan pengetahuan tentang jumlah kandungan natrium dalam
bahan makanan. Makan biasa (untuk orang sehat rata-rata
mengandung 2800-6000 mg per hari). Sebagian besar

natrium

berasal dari garam dapur. Untuk mengatasi tekanan darah tinggi


harus selalu memonitor kadaan tekanan darah serta cara pengaturan
makanan sehari-hari. Secara garis besar ada 4 (empat) macam diit
untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan tekanan darah
yaitu:
1) Diet rendah garam

24

Diet rendah garam pada hakekatnya merupakan diet dengan


mengkonsumsi makanan tanpa garam.Garam dapur mempunyai
kandungan 40% Natrium. Sumber sodium lainnya antara lain
makanan yang mengandung soda kue, baking powder, MSG
(Mono Sodium Glutamat),Pengawet makanan atau natrium
bensoat biasanya terdapat dalam saos,kecap,selai,jelli,makanan
yang terbuat dari mentega. Penderita tekanan darah tinggi yang
sedang menjalankan diet pantang garam memperhatikan hal
sebagai berikut :
a) Kurangi penggunaan garam dapur
b) Hindari makanan awetan seperti kecap, margarie, mentega,
keju, trasi, petis, biscuit, ikan asin, sardensis, sosis dan lainlain.
c) Hindari bahan makanan yang diolah dengan menggunakan
bahan makanan tambahan atau penyedap rasa seperti saos.
d) Hindari penggunaan beking soda atau obat-obatan yang
mengandung sodium.
e) Batasi minuman yang bersoda seperti cocacola, fanta, sprit
2) Diet rendah kolesterol atau lemak.
Di dalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu kolesterol,
trigliserida, dan pospolipid. Sekitar 25 50 % kolesterol berasal
dari makanan dapat diarsorbsi oleh tubuh sisanya akan dibuang
lewat faeces. Beberapa makanan yang mengandung kolestero
tinggi yaitu daging, jeroan, keju keras, susu, kuning telur, ginjal,
kepiting, hati dan kaviar. Tujuan diet rendah kolesterol adalah
menurunkan kadar kolestero serta menurunkan berat badan bila
gemuk. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengatur nutrisi
pada hypertensi adalah :
a) Hindari penggunaan minyak kelapa, lemak, margarine dan
mentega.
b) Batasi konsumsi daging, hati, limpa dan jenis jeroan.
c) Gunakan susu full cream.
d) Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir per
minggu.

25

e) Lebih sering mengkonsumsi tahu, tempe, dan jenis kacangkacang lainnya.


f) Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis-manis
seperti sirup, dodol.
g) Lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah
buahan.
3) Diet kalori bila kelebihan berat badan.
Hipertensi tidak mengenal usia dan bentuk tubuh seseorang.
Meski demikian orang yang kelebihan berat badan akan
beresiko tinggi terkena hypertensi. Salah satu cara untuk
menanggulanginya dengan melakukan diet rendah kalori, agar
berat badannya menurun hingga normal. Dalam pengaturan
nutrisi perlu diperhatikan hal berikut :
a) Asupan kalori dikurangi sekitar 25 % dari kebutuhan energi
atau 500 kalori untuk penurunan 0,5 kg berat badan per
minggu.
b) Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan
zat gizi.
b. Olahraga Teratur
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang, bersepeda
bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan dapat memperbaiki
keadaan jantung. Olaharaga isotonik dapat juga bisa meningkatkan
fungsi endotel, vasodilatasi perifer, dan mengurangi katekolamin
plasma. Olahraga teratur selama 30 menit sebanyak 3-4 kali dalam
satu minggu sangat dinjurkan untuk menurunkan tekanan darah.
c. Penurunan Berat Badan
Pada beberapa studi menunjukkan bahwa obesitas berhubungan
dengan kejadian hipertensi dan LVH. Jadi penurunan berat badan
adalah hal yang sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah.
Penurunan berat badan (1kg/minggu) sangat dianjurkan. Penurunan
berat badan dengan menggunakan obat-obatan perlu menjadi
perhatian khusus karena umumnya obat penurun berat badan yang
terjual

bebas

mengandung

simpatomimetik,sehingga

dapat

meningkatan tekanan darah, memperburuk angina atau gejala gagal

26

jantung dan terjainya eksaserbasi aritmia. Menghindari obat-obatan


seperti

NSAIDs,

simpatomimetik,

dan

MAO

yang

dapat

meningkatkan tekanan darah atau menggunakannya dengan obat


antihipertesni.
d. Farmakoterapi
Pengobatan hipertensi atau penyakit jantung hipertensi dapat
menggunakan berbagai kelompok obat antihipertensi seperti
thiazide, beta-blocker dan kombinasi alpha dan beta blocker, calcium
channel blockers, ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker dan
vasodilator seperti hydralazine. Hampir pada semua pasien
memerlukan dua atau lebih obat antihipertensi untuk mencapai
tekanan darah yang diinginkan.
D. Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan secara
sistimatis untuk mengkaji dan menentukan masalah kesehatan dan
keperawatan keluarga, melaksanakan asuhan keperawatan, serta implementasi
keperawatan terhadap keluarga sesuai rencana yang telah direncanakan/dibuat
serta mengevaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan.

1. Pengkajian
a. Penjajakan pertama
Tujuan penjajakan tahap pertama adalah untuk mengetahui masalah
yang dihadapi oleh keluarga.
1) Pengumpulan data
Merupakan informasi yang diperlukan untuk mengukur masalah
kesehatan, status kesehatan, kesanggupan keluarga dalam
memberikan perawatan pada anggota keluarga.
a) Struktur dan sifat anggota keluarga
(1) Anggota-anggota keluarga dan hubungan dengan
kepala keluarga.
(2) Data demografi: umur, jenis kelamin, kedudukan dalam
keluarga.
(3) Tempat tinggal masing-masing anggota keluarga.

27

(4) Macam struktur anggota keluarga apakah matrikat,


patrikat berkumpul atau menyebar.
(5) Anggota keluarga yang menonjol dalam pengambilan
keputusan.
(6) Hubungan dengan anggota keluarga termasuk dalam
perselisihan yang nyata ataupun tidak nyata.
(7) Kegiatan dalam hidup sehari-hari, kebiasaan tidur,
kebiasaan makan dan penggunaan waktu senggang.
b) Faktor sosial budaya dan ekonomi
(1) Pekerjaan
(2) Penghasilan
(3) Kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan primer
(4) Jam kerja ayah dan ibu
(5) Siapa yng menentukan keuangan dan penggunaannya

c) Faktor lingkungan
(1) Perumahan
(a) Luas rumah
(b) Pengaturan dalam rumah
(c) Persediaan sumber air
(d) Adanya bahan kecelakaan
(e) Pembuangan sampah
(2) Macam lingkungan/daerah rumah
(3) Fasilitas social dan lingkungan
(4) Fasilitas transportasi dan kesehatan
d) Riwayat kesehatan
(1) Riwayat kesehatan dari tiap anggota keluarga
(2) Upaya pencegahan terhadap penyakit
(3) Sumber pelayanan kesehatan
(4) Perasepsi keluarga terhadap peran pelayanan dari
petugas kesehatan.
(5) Pengalaman yang lalu dari petugas kesehatan.
e) Cara pengumpulan data
(1) Oservasi langsung : dapat mengetahui keadaan secara
langsung.
(a) Keadaan fisik dari tiap anggota keluarga.
(b) Komunikasi dari tiap anggota keluarga
(c) Peran dari tiap anggota keluarga
(d) Keadaan rumah dan lingkungan

28

(2) Wawancara
Dapat mengetahui hal-hal :
(a) Aspek fisik
(b) Aspek mental
(c) Sosial budaya
(d) Ekonomi
(e) Kebiasaan
(f) Lingkungan
(3) Studi dokumentasi antara lain
(a) Perkembangan kesehatan anak
(b) Kartu keluarga
(c) Catatan kesehatan lainnya
(4) Dilakukan terhadap angota keluarga yang mengalami
masalah kesehatan dan keperawatan antara lain :
(a) Tanda-tanda penyakit
(b) Kelainan organ tubuh
2. Analisa data
Analisa data bertujuan untuk mengetahui masalah kesehatan yang
dialami oleh keluarga. Dalam menganalisis data dapat menggunakan
typology masalah dalam family healt care. Permasalahan dapat
dikategorikan sebagai berikut :
a) Ancaman kesehatan adalah : keadaan yang dapat memungkinkan
terjadinya penyakit,kecelakaan atau kegagalan dalam mencapai
potensi kesehatan. Contoh: (1) Riwayat penyakit keturunan dari
keluarga seperti hipertensi, (2) Masalah nutrisi terutama dalam
pengaturan diet.
b) Kurang atau tidak sehat adalah: kegagalan dalam memantapkan
kesehatan. Contoh: (1) Adakah didalam keluarga yang menderita
penyakit hipertensi, (2) Siapakah yang menderita penyakit
hipertensi.
c) Krisis adalah : saat-saat keadaan menuntut terlampau banyak dari
indivdu atau keluarga dalam hal penyesuaian maupun sumber daya
mereka. Contoh: Adakah anggota keluarga yang meninggal akibat
hipertensi.
3. Penapisan masalah
Didalam menentukan prioritas masalah kesehatan keluarga
menggunakan sistim scoring berdasarkan tipologi masalah dengan
pedoman sebagai berikut :

29

SKAL

KRITERIA

1. Sifat masalah
a. Aktual
b. Resiko
c. Potensial/weliness

BOBOT

SKORIN

RASIONA

1
3
2
1

2. Kemungkinan masalah dapat


diubah
a. Mudah
b. Sebagian
c. Tidak dapat
3. Potensi masalah untuk
dicegah
a. Tinggi
b. Cukup
c. Rendah
4. Menonjolnya masalah
a. Segera
b. Tidak perlu segera
c. Tidak dirasakan

2
2
1
0
1
3
2
1
1
2
1
0

Total skor
Skoring :
a) Tentukan skor untuk tiap kriteria
b) Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan bobot.
Skor
x Bobot =
Angka tertinggi
c) Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria, skor tertinggi 5 sama
dengan seluruh bobot.
b. Penjajakan pada tahap kedua
Tahap ini menggambarkan sampai dimana keluarga dapat
melaksanakan tugas-tugas kesehatan yang berhubungan dengan
ancaman kesehatan, kurang/tidak sehat dan krisis yamg dialami oleh
keluarga yang didapat pada penjajakan tahap pertama. Pada tahap
kedua

menggambarkan

ketidak

mampuan

keluarga

untuk

melaklasanakan tugas-tugas kesehatan serta cara pemecahan masalah


yang

dihadapi.

Karena

ketidakmampuan

keluarga

dalam

melaksanakan tugas-tugas kesehatan dan keperawatan, maka dapat

30

dirumuskan diagnosa keperawatan secara umum pada keluarga yang


menderita penyakit hipertensi antara lain:
1) Ketidaksanggupan keluarga mengenal

masalah

penyakit

hipertensi berhubungan dengan ketidaktahuan tentang gejala


hipertensi.
2) Ketidaksanggupan keluarga dalam mengambil keputusan dalam
melaksanakan tindakan yang tepat untuk segera berobat
kesarana kesehatan bila terkena hipertensi berhubungan dengan
kurang pengetahuan klien/keluarga tentang manfaat berobat
kesarana kesehatan.
3) Ketidakmampuan merawat

anggota

keluarga

yang

sakit

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit


hipertensi, cara perawatan dan sifat penykit hipertensi.
4) Keitdaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat
mempengaruhi kesehatan keluarga berhubungan dengan tadak
dapat melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan
serta

ketidaktahuan

tentang

usaha

pencegahan

penyakit

hipertensi.
5) Ketidakmampuan menggunakan sumber yang ada di masyarakat
guna memelihara kesehatan berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan klien dan keluarga tersedianya fasilitas kesehatan
seperti JPS, dana sehat dan tidak memahami manfaatnya.
Adapun diagnosa keperawatan yang berhubungan pengaturan diet
pada klien hipertensi adalah :
1) Ketidaktahuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu
penyebab terjadinya hipertensi adalah berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan cara pengaturaan diet yang benar.
2) Ketidaksanggupan keluarga memilih tindakan yang tepat dalam
pengaturan diet bagi penderita hipertensi berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan tentang cara pengaturan diet yang benar.
3) Ketidakmampuan untuk penyediaan diet khusus bagi klien
hipertensi

berhubungan

dengan

kurangnya

pengetahuan

keluarga tentang cara pengolahan makanan dalam jumlah yang


tepat.

31

4) Ketidakmampuan meenyediakan makanan rendah garam bagi


penderita

hipertensi

berhubungan

dengan

kurangnya

pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari yang mengkonsumsi


makanan yang banyak mengandung garam.
5) Ketidaktahuan menggunakan manfaat tanaman obat keluarga
berhubungan dengan kurangnya pengetahan tentang manfaat
tanaman obat tersebut.
4. Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan keperawatan
yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan
masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi. Rencana
tindakan dari masing-masing diagnosa keperawatan khusus diet pada
klien hipertensi adalah :
a. Ketidakmampuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu
penyebab terjadinya hipertensi berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang cara pengaturan diet yang benar.
1) Tujuan
Keluarga mampu mengenal cara pengaturan diet bagi anggota
keluarga yang menderita penyakit hipertensi.
2) Kriteria hasil
a) Keluarga mampu menyebutkan secara sederhana batas
pengaturan diet bagi anggota kelurga yng menderita
hipertensi.
b) Keluarga dapat memahami dan mampu mengambil tindakan
sesuai anjuran.

3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan kepada keluarga cara pengaturan diet yang
benar bagi penderita hipertensi.
b) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga, bagaiman
caranya menyediakan makan-makanan rendah garam bagi
penderita hipertensi.
4) Rasional

32

a) Dengan

diberikan

penjelasan

diharapkan

keluarga

menimbulkan peresepsi yang negatip sehingga dapat


dijadikan motivasi untuk mengenal masalah khususnya
nutrisi untuk klieh hiperetensi.
b) Dengan diberikan penjelasan keluarga mampu menyajikan
makanan yang rendah garam.
b. Ketidakmampuan dalam mengambil keputusan untuk mengatur diet
terhadap anggota keluarga yang menderita hipertensi berhubungan
dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang manfaat dari
pengaturan diet.
1) Tujuan
Keluarga dapat memahami tentang manfaat pengaturan diet
untuk klien hipertensi.
2) Kriteria hasil
a) Keluarga mampu menjelaskan tentang manfaat pengaturan
diet bagi klien hiperetensi.
b) Keluarga dapat menyediakan makanan khusus untuk klien
hipertensi.
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan

kepada

keluarga

tentang

manfaat

pengaturan diet untuk klien hipertensi.


b) Beri penjelasan kepada keluarga jenis untuk klien
hipertensi.
4) Rasionalisasi
a) Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mampu
melaksanakan cara pengaturan diet untuk klien hipertensi.
b) Keluarga diharapkan mengetahui jenis makanan untuk
penderita hipertensi.
c. Ketidakmampuan keluarga untuk menyediakan diet khusus bagi
penderita hipertensi berhubungan kurangnya pengetahuan tentang
cara pengolahan makanan dalam jumlah yang benar.
1) Tujuan
Keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk penderita
hipertensi.
2) Kriteria hasil

33

a) Kilen dan keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk


penderita hipertensi.
b) Keluarga mampu menyajikan makanan dalam jumlah yang
tepat bagi klien hipertensi.
3) Rencana tindakan
a) Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga cara
pengolahan makanan untuki klien hipertensi.
b) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jumlah makanan
yang dikonsumsi oleh klien hipertensi.
c) Beri contoh sederhana kepada klien dan keluarga untuk
memnbuat makanan dengan jumlah yang tepat.
4) Rasionalisasi
a) Dengan diberikan penjelasan diharapkanklien dan keluarga
dapat cara pengolahan makanan untuk klien hipertensi.
b) Diharapkan klien dapat mengkonsumsi makanan sesuai
yang dianjurkan.
c) Dengan diberikan contoh sederhana caara membuat
makanan dalam jumlah yang tepat kilen dan keluarga
mampu menjalankan /melaksanakaannya sendiri.
d. Ketidakmampuan menyediakan makanan rendah garam bagi
penderita hipertensi berhubungan dengan kurang pengetahuan dan
kebiasaan sehari-hari yang mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung garam.
1) Tujuan
Seluruh anggota keluarga membiasakan diri setiap hari
mengkonsumsi makanan yang rendah garam.
2) Kriteria Hasil
a) Klien dan keluarga dapat menjelaskan manfaat makanan
yang rendah garam.
b) Klien dan keluarga dapat menjelaskan jenis makanan yang
banyak mengandung garam.
c) Klien dan keluarga mau

berubah

kebiasaan

dari

mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam.


3) Rencana Tindakan
a) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang pengaruh
garan terhadap klien hipertensi.

34

b) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jenis makana


yang banyak mengandung garam.
c) Beri motivasi kepada klien dan keluarga bahwamereka
mampu untuk merubah kebiasaan yang kurang baik tersebut
yang didasari padea niat dan keinginan untuk merubah.
4) Rasional
a) Diharapkan klien dan keluarga memahami dan mengerti
tentang pengaruh garam terhadap klien hipertensi.
b) Diharapkan klien dan keluarga dapat menghindari makanan
yang banyak mengandung garam.
c) Dengan diberi motivasi diharapkan klien dan kelarga mau
merubah sikapnya dari yang tidak sehat menjadi sehat.
e. Ketidakmampuan menggunakan sumber pemanfaatan tanaman obat
keluarga berhubungan dengan kurang pengetahuan guna dari
tanaman obat keluarga.
1) Tujuan
Diharapkan klien dan keluarga mampu memanfaatkan sumber
tanaman obat keluarga.
2) Kriteria hasil Klien dan keluarga dapat menyebutkan tanaman
obat yang dapat membantu untuk pengobatan hipertensi.
3) Rencana tindakan
a) Beri penjelasan kepada klien dan keluarga manfaat Toga.
b) Beri penjelasan kepada klien keluarga macam dan jenis
tumbuhan/tanaman yang dapat membantu menurunkan
tekanan darah.
c) Anjurkan kepada kepada klien dan keluarga agar berusaha
memiliki tanaman obat keluarga.
4) Rasional
a) Agar klien dan keluarga dapat memahami manfaat Toga.
b) Klien dan keluarga dapat mengetahui jenis tanaman yang
dapat menurunkan tekanan darah.
c) Dengan memiliki Toga sendiri klien dapat mengkonsumsi
tanaman obat tersebut kapan saja diperlukan.
5) Pelaksanaan
Pelaksanaan asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang
menderita hipertensi sesuai rencana yang telah disusun. Pada

35

peleksanaan asuhan keperawatan keluarga dapat dilaksanakan


antara lain :
a) Deteksi dini kasus baru.
b) Kerja sama lintas program dan lontas sektoral
c) Melakukan rujukan
d) Bimbingan dan penyuluhan.
5. Evaluasi
Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai (out put)
dan penilaian selalu berkaitan dengan tujuan. Evaluasi juga dapat
meliputi penilaian input dan porses. Evaluasi sebagai suatu proses yang
dipusatkan pada beberapa dimensi :
a) Bila evaluasi dipusatkan pada tujuan kita memperhatikan hasil dari
tindakan keperawatan.
b) Bila evaluasi digunakan pada ketepatgunaan (effisiensi), maka
dimensinya dapat dikaitkaan dengan biaya, waktu, tenaga dan bahan.
c) Kecocokan (Apprioriatenes) dari tindakan keperawatan adalah
kesanggupan dari tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah.
d) Kecukupan (Adecuacy) dari tindakan keperawatan (Family Healt).

DAFTAR PUSTAKA
Achjar, K.A. (2010). Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta :
Sagung Seto.

36

Ali, Z. (2006). Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.


Bruner dan Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8
vol.2. Jakarta: EGC.
Doengoes M.E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3 . EGC.
Jakarta.
Harmoko. (2012 ). Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Makhfudli & Effendi, F. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
Mansjoer, A. (2009). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi Ketiga, Jilid Satu, Media
Aeskulapius, Jakarta.
Muttaqin, A. (2009). Asuhan Keperawatan Dengan Pasien Gangguan
Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika.
North American Nursing Diagnosis Association. (2001). Nursing Diagnoses:
Definition & Classification 2001-2002. Philadelphia.
Setiadi. (2008). Konsep & Proses Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono,
Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC.
Sofyan, A. (2012). Hipertensi. Kudus.
Sudiharto.

(2007).

Asuhan

Keperawatan

Keluarga

Keperawatan Transkultural. Jakarta: EGC.

37

dengan

Pendekatan