Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pembangunan

kesehatan

merupakan

bagian

integral

dari

pembangunan nasional. Dalam undang-undang Kesehatan No. 23 Tahun


1992 dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang, agar terwujud kesehatan yang optimal sebagai salah satu
unsur kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional. Untuk
mencapai tujuan tersebut, diselenggarakan upaya-upaya yang bersifat
menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.1
Salah satu upaya pemerintah dalam mewujudkan hal tersebut yaitu
membentuk Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Puskesmas
merupakan unit organisasi pelayanan kesehatan terdepan yang mempunyai
misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
dan terpadu untuk masyarakat yang tinggal di suatu wilayah kerja
tertentu.2

Puskesmas sebagai salah satu organisasi fungsional pusat

pengembangan masyarakat yang memberikan pelayanan promotif


(peningkatan), preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan), rehabilitatif
(pemulihan kesehatan). Salah satu upaya pemulihan kesehatan yang
dilakukan melalui kegiatan pokok Puskesmas adalah pengobatan. Dalam
memberikan pelayanan kesehatan terutama pengobatan di Puskesmas
maka obat-obatan merupakan unsur yang sangat penting. Untuk itu
pembangunan di bidang perobatan sangat penting pula. Berdasarkan
analisis pembiayaan kesehatan (Pemerintah dan Masyarakat termasuk
Swasta) yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan, masyarakat dan
Bank Dunia selama tahun 1982/1983 dan tahun 1986/1987 menunjukkan
bahwa pengeluaran khusus obat-obatan di sektor pemerintah sebesar 18%
dari keseluruhan pembiayaan pelayanan kesehatan dan masyarakat

mengeluarkan sebesar 40% biaya pelayanan kesehatan mereka untuk


membeli obat-obatan.3
Kebijakan Obat Nasional (KONAS) bertujuan untuk menjamin
ketersediaan obat baik dari segi jumlah dan jenis yang mencukupi, juga
pemeratan,

pendistribusian dan penyerahan obat-obatan harus sesuai

dengan kebutuhan masing-masing Puskesmas. Manajemen obat di


Puskesmas merupakan salah satu aspek penting dari Puskesmas karena
ketidakefisienan akan memberikan dampak negatif terhadap biaya
operasional Puskesmas, karena bahan logistik obat merupakan salah satu
tempat kebocoran anggaran, sedangkan ketersediaan obat setiap saat
menjadi tuntutan pelayanan kesehatan maka pengelolaan yang efesien
sangat menentukan keberhasilan manajemen Rumah Sakit secara
keseluruhan.4 Tujuan manajemen obat adalah tersedianya obat setiap saat
dibutuhkan baik mengenai jenis, jumlah maupun kualitas secara efesien,
dengan demikian manajemen obat dapat dipakai sebagai sebagai proses
penggerakan

dan

pemberdayaan

semua

sumber

daya

yang

dimiliki/potensial yang untuk dimanfaatkan dalam rangka mewujudkan


ketersediaan obat setiap saat dibutuhkan untuk operasional efektif dan
efesien.
Ketidakcukupan obat-obatan disebabkan oleh berbagai faktor.
Salah

satu

faktor

yang

sangat

menentukan

yaitu

faktor

perencanaan/perhitungan perkiraan kebutuhan obat yang belum tepat,


belum efektif dan kurang efisien. Permintaan/pengadaan obat juga
merupakan suatu aspek dimana permintaan dilakukan harus sesuai dengan
kebutuhan obat yang ada agar tidak terjadi suatu kelebihan atau
kekurangan obat. Kelebihan obat atau kekosongan obat tertentu ini dapat
terjadi karena perhitungan kebutuhan obat yang tidak akurat dan tidak
rasional, agar hal-hal tersebut tidak terjadi maka pengelolaan obat
puskesmas perlu dilakukan sesuai yang ditetapkan dan diharapkan dimana
dalam pengelolaan harus memperhatikan penerimaan, penyimpanan serta
pencatatan dan pelaporan yang baik. Terjaminnya ketersediaan obat di
pelayanan kesehatan akan menjaga citra pelayanan kesehatan itu sendiri,
2

sehingga sangatlah penting menjamin ketersediaan dana yang cukup untuk


pengadaan obat esensial, namun lebih penting lagi dalam mengelola dana
penyediaan obat secara efektif dan efisien.
Kendala kendala dalam pengelolaan obat khususnya dalam hal
penggunaan atau pemanfaatan obat dapat mempengaruhi terhadap
pelayanan kesehatan kepada masyarakat menjadi tidak maksimal.
Berdasarkan uraian diatas, maka tugas akhir ini dibuat untuk mengetahui
pemanfaatan obat-obatan yang tersedia di puskesmas 5 ilir palembang
tahun 215.
1.2.

Rumusan Masalah
Bagaimana Pemanfaatan Obat-obatan yang Tersedia di Puskesmas 5 Ilir
Palembang Tahun 2015.

1.3.

Tujuan Penulisan
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Bagaimana Pemanfaatan Obat-obatan yang
Tersedia di Puskesmas 5 Ilir Palembang Tahun 2015.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui bagaimana cara pemanfaatan obat-obatan di
puskesmas 5 ilir Palembang tahun 2015.
b. Teridentifikasinya kendala-kendala dalam pemanfaatan obat
yang dihadapi oleh puskesmas 5 ilir Palembang tahun 2015.

1.4.

Manfaat Penulisan
1.4.1. Bagi Puskesmas
Sebagai bahan kajian bagi Puskesmas dalam penentu kebijakan
dalam pelaksanaan pengelolaan obat.

1.4.2. Bagi Peneliti


Melatih

mahasiswa/I

melakukan

evaluasi

suatu

program

Puskesmas dan mampu menambah wawasan baru mengenai


program tersebut.
1.4.3. Bagi Institusi Pendidikan
a. Meningkatkan kerjasama dan saling berbagi pengetahuan antar
mahasiswa dan staf pengajar serta Puskesmas.
b. Menjadi masukan bagi penelitian evaluasi program puskesmas
selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Tinjauan Umum Tentang Obat


4

Obat merupakan komponen dasar suatu pelayanan kesehatan.


Dengan pemberian obat, penyakit yang diderita oleh pasien dapat diukur
tingkat kesembuhannya. Selain itu obat merupakan kebutuhan pokok
masyarakat, maka persepsi masyarakat tentang hasil yang diperoleh dari
pelayanan kesehatan adalah menerima obat setelah berkunjung ke sarana
kesehatan baik puskesmas, rumah sakit maupun poliklinik. Obat
merupakan komponen utama dalam intervensi mengatasi masalah
kesehatan, maka pengadaan obat dalam pelayanan kesehatan juga
merupakan indikator untuk mengukur tercapainya efektifitas dan keadilan
dalam pelayanan kesehatan .4
Dari segi farmakologi obat didefinisikan sebagai substansi yang
digunakan untuk pencegahan dan pengobatan baik pada manusia maupun
pada hewan. Obat merupakan faktor penunjang dalam komponen yang
sangat strategis dalam pelayanan kesehatan.4
Upaya pengobatan di puskesmas merupakan segala bentuk
kegiatan pelayanan pengobatan yang diberikan kepada seseorang dengan
tujuan untuk menghilangkan penyakit dan gejalanya yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan dengan cara yang khusus untuk keperluan tersebut.
Obat dibedakan atas 7 golongan yaitu:4,5
a. Obat tradisional yaitu obat yang berasal dari bahan-bahan tumbuhtumbuhan, mineral dan sediaan galenik atau campuran dari bahanbahan tersebut yang usaha pengobatannya berdasarkan pengalaman.
b. Obat jadi yaitu obat dalam kemasan murni atau campuran dalam
bentuk serbuk, cairan, salep, tablet, pil, supositoria atau bentuk lain
yang mempunyai nama teknis sesuai dengan F.I (Farmakope
Indonesia) atau buku lain.
c. Obat paten yaitu obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas
nama si pembuat atau yang dikuasakannya dan dijual dalam bungkus
asli dari pabrik yang memproduksinya.
d. Obat baru yaitu obat yang terdiri dari zat yang berkhasiat maupun
tidak berkhasiat misalnya lapisan, pengisi, pelarut serta pembantu atau

komponen

lain

yang

belum

dikenal

sehingga

khasiat

dan

keamanannya.
e. Obat esensial yaitu obat yang paling dibutuhkan untuk pelaksanaan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang meliputi diagnosa,
prifilaksi terapi dan rehabilitasi.
f. Obat generik berlogo yaitu obat yang tercantum dalam DOEN (Daftar
Obat Esensial Nasional) dan mutunya terjamin karena produksi sesuai
dengan persyaratan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan diuji
ulang oleh Pusat Pemeriksaan Obat dan Makanan Departemen
Kesehatan.
g. Obat wajib apotek yaitu obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep
dokter oleh apoteker di apotek.
Obat dan bahan farmasi ini dapat digolongkan menjadi bahan Vital,
Esensial, Normal (penggolongan menurut VEN System) atau menjadi
bahan yang fast atau slow moving (tergantung kecepatan peredaran,
penyerapan dan atau penggunaannya). Umumnya obat dan bahan farmasi
mempunyai masa berlaku, sehingga kalau melebihi batas waktu tersebut
tidak layak untuk dimanfaatkan.
Perkembangan dan kemajuam industri farmasi telah banyak
menghasilkan berbagai ragam obat-obatan baik untuk keperluan manuasia
maupun untuk hewan. Disisi lain akan menimbulkan dampak negatif
terhadap masyarakat yaitu terjadi penyalahgunaan obat atau pemakaian
obat secara sembarangan. Dalam mencegah dan menanggulangi masalah
tersebut, perlu adanya penertiban lalu lintas obat-obatan dan standardisasi
mutu dan keamanan obat-obatan serta peningkatan pengendaliaan dan
pengawasan untuk melindungi masyarakat dari penggunaan produk yang
tidak memenuhi syarat. Tersedianya obat-obatan yang baik aman dan
bermutu dengan kurangnya masyarakat memperoleh kecelakaan karena
penyalahgunaan obat akan terwujud bila pendistribusian obat-obatan
sesuai dengan perundang-undangan dan pengawasan dari pemerintah,
dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

2.2.

Tinjauan Umum Tentang Manajemen


Manajemen adalah suatu proses kegiatan yang terdiri dari
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dengan
memadukan penggunaan ilmu dan seni untuk mencapai tujuan organisasi.
Konsep ini dikenal dengan POAC yaitu Planning (perencanaan),
Organizing (pengorganisasian), Actuating (pengarahan) dan Controling
(pengendalian).5
Agar tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dapat tercapai, maka
manajemen memerlukan unsur atau sarana atau the tool of management
meliputi unsur 5 M yaitu:
a. Man (manusia)
b. Money (uang)
c. Methods (metode)
d. Materials (bahan)
e. Machine (mesin)
Untuk dapat terselenggaranya manajemen yang baik, unsur-unsur
tersebut diproses melalui fungsi-fungsi manajemen. Prinsip manajemen
tersebut merupakan pegangan umum untuk terselenggaranya fungsi-fungsi
logistik dengan baik.5

\
2.3.

Tinjauan Umum Tentang Manajemen Logistik Obat-obatan di


Puskesmas
Manajemen logistik obat adalah proses pengelolaan yang strategis
mengenai pengadaan, distribusi dan penyimpanan obat dalam upaya
mencapai kinerja yang optimal.4
Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000
tentang Otonomi Daerah, masing-masing Kabupaten/Kota mempunyai
7

struktur organisasi dan kebijaksanaan sendiri dalam pengelolaan obat di


daerah. Gudang Farmasi Kabupaten adalah salah satu bentuk organisasi
pengelola obat yang ada di kabupaten/Kota. Kegiatan pengelolaan obat
meliputi kegiatan perencanaan, pengadaan, distribusi, penggunaan dan
pengendalian obat yang dikelola.1
Kegiatan logistik secara umum ada 3 (tiga) tujuan yakni:
a. Tujuan operasional adalah agar supaya tersedia barang serta bahan
dalam jumlah yang tepat dan mutu yang memadai;
b. Tujuan keuangan meliputi pengertian bahwa upaya tujuan operasional
dapat terlaksana dengan biaya yang serendah-rendahnya; dan
c. Tujuan pengamanan dimaksudkan agar persediaan tidak terganggu
oleh kerusakan, pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian dan
penyusutan yang tidak wajar lainnya, serta nilai yang sesungguhnya
dapat tercermin didalam sistem akuntansi.
2.4.

Pelaksana Sistem Manajemen Logistik Obat


A. Organisasi
Menurut Depkes (2005) Penanggungjawab pengelolaan obat di
Kabupaten/Kota adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kepala
Dinas menunjuk Kepala Gudang Farmasi sebagai Unit Pelaksana Teknis
Dinas yang membantu Kepala Dinas dalam penyelenggaraan pengelola
obat di Kabupaten/kota.1
Untuk menyelenggarakan tanggungjawabnya dalam pengelolaan
obat di tingkat Kabupaten/Kota maka tugas dan fungsi Gudang Farmasi
adalah:
1)

Melakukan penyusunan rencana kebutuhan obat publik dan


perbekalan kesehatan.

2)

Melakukan penerimaan obat publik dan perbekalan kesehatan


yang berasal dari berbagai sumber anggaran.

3)

Melakukan pendistribusian obat publik dan perbekalan


kesehatan yang berasal dari berbagai sumber anggaran sesuai dengan

permintaan dari pemilik program atau permintaan unit pelayanan


kesehatan
4)

Melakukan penyimpanan obat publik dan perbekalan kesehatan


dari berbagai sumber anggaran.

5)

Melakukan evaluasi dan pencatatan pelaporan LPLPO dan obat


program kesehatan yang menjadi tanggungjawabnya.

6)

Melaksanakan pelatihan penggunaan obat rasional bagi tenaga


kesehatan di unit pelayanan kesehatan dasar.

7)

Melaksanakan kegiatan bimbingan teknis pengelolaan obat


publik dan perbekalan kesehatan serta pengendalian penggunaan obat
di unit pelayanan kesehatan dasar.

8)

Pro-aktif membantu perencanaan dan pelaksanaan pengadaan


obat dan perbekalan kesehatan di Kabupaten/Kota.

9)

Melaksanakan kegiatan administrasi unit pengelola obat publik


dan perbekalan kesehatan.

10)

Melaksanakan tugas lain yang diberikan unit vertikal diatasnya.

B. Sumber Daya Manusia


Agar organisasi di Gudang Farmasi berjalan lancar, maka
diperlukan tenaga yang sesuai untuk pengelolaan obat. Tenaga yang
dibutuhkan untuk menjalankan manajemen di Gudang Farmasi adalah :
Apoteker, Asisten Apoteker, Tenaga SMU/Sarjana lainnya. Jumlah tenaga
yang tersedia dalam jumlah yang memadai akan memudahkan organisasi
mencapai tujuan. Berikut ini adalah tabel yang berisi jenis dan jumlah
tenaga yang sebaiknya tersedia di Gudang Farmasi Kabupaten/Kota.5
Tabel.2.1. Jumlah dan Jenis Tenaga yang Sebaiknya
Tersedia di Gudang Farmasi Kabupaten/Kota
No

Jabatan

Jenjang Pendidikan

Jumlah

Penanggung jawab Unit Pengelola

1 orang

Apoteker

Obat
2

Pelaksana

Pendistribusian

dan

Penyimpanan

D3 farmasi / Ass. Apoteker

2.5.

Dibantu oleh lulusan SMU


Apoteker / sarjana farmasi / Minimal

dan Evaluasi

D3 farmasi / Ass. Apoteker

1 orang

Dibantu oleh lulusan SMU

Pelaksana penyedia informasi obat,

Apoteker / sarjana farmasi / Minimal

pelatihan

D3 farmasi / Ass. Apoteker

dan

monitoring

penggunaan obat rasional


5

1 orang

Pelaksana Pencatatan, Pelaporan

Apoteker / sarjana farmasi / Minimal

Pelaksana Administrasi Umum

Adm. Umum

Bendahara

1 orang

Dibantu oleh lulusan SMU

D3 atau SMU

Minimal
1

Tinjauan Umum Tentang Pengelolaan Obat


Salah satu upaya yang dilaksanakan Puskesmas adalah pengadaan
peralatan dan obat-obatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Mengingat pengobatan merupakan salah satu kegiatan Puskesmas maka
penyediaan perlu dengan pengelolaan yang baik dan benar dari
Puskesmas. Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
menyangkut

aspek

oran

perencanaan,

pengadaan,

pendistribusian

dan

penggunaan obat yang dikelola secara optimal untuk menjamin


tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan farmasi dan alat
kesehatan, dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia seperti
tenaga, dana, sarana dan perangkat lunak (metoda dan tata laksana) dalam
upaya mencapai tujuan yang ditetapkan diberbagai tingkat unit kerja.

10

Upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan ketersediaan obat


dan kualitas pelayanan obat di Puskesmas dan sub unit pelayanan
kesehatan dilingkungan Puskesmas adalah melaksanakan berbagai aspek
pengelolaan obat antara lain dalam sistem manajemen informasi obat,
dimana salah satu unsur penting yang ikut menentukan kebersihan seluruh
rangkaian pencatatan dan pelaporan pemakaian obat.
Pengelolaan merupakan suatu proses yang dimaksudkan untuk
mencapai tujuan tertentu yang dilakukan secara efektif dan efisien. Proses
pengelolaan dapat terjadi dengan baik bila dilaksanakan dengan dukungan
kemampuan menggunakan sumber daya yang tersedia dalam system.
Pengelolaan obat bertujuan memelihara dan meningkatkan
penggunaan obat secara rasonal dan ekonomis di unit-unit pelayanan
kesehatan melalui penyediaan obat-obatan yang tepat jenis, tepat jumlah,
tepat waktu dan tempat. Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat
(LPLPO) merupakan salah satu contoh pengelolaan obat yang bermanfaat
untuk mengendalikan tingkatan stok, perencanaan distribusi, perencanaan
kebutuhan obat dan memantau penggunaan obat.
Terlaksananya pengelolaan obat dengan efektif dan efisien perlu
ditunjang dengan sistem informasi manajemen obat untuk menggalang
keterpaduan pelaksanaan kegiatan-kegiatan pengelolaan obat. Dengan
adanya sistem ini pelaksanaan salah satu kegiatan pengelolaan obat dapat
dengan mudah diselaraskan dengan yang lain. Selain itu, berbagaim
kendala yang menimbulkan kegagalan atau keterlambatan salah satu
kegiatan dengan cepat dapat diketahui, sehingga segera dapat ditempuh
berbagai tindakan operasional yang diperlikan untuk mengatasinya.
Pengelolaan obat di Puskesmas bertujuan untuk :
a. Terlaksananya peresepan yang rasional.
b. Pengembangan dan peningkatan pelayanan obat yang dapat menjamin:
1). Penyerahan obat yang benar kepada pasien.
2). Dosis dan jumlah yang tepat.
3). Wadah obat yang baik yang dapat menjamin mutu obat.
4). Informasi yang jelas dan benar kepada pasien.

11

Proses pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang


menyangkut lima fungsi pokok yaitu perencanaan obat, pengadaan,
pendistribusian, penggunaan, pencatatan dan pelaporan lain

12

PENGHAPUSAN

PEMANFAATAN

PENDISTRIBUSIAN

13

c. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat.

2.6.

Tinjauan Umum Tentang Penggunaan Obat


Penggunaan obat-obatan yang tidak rasional menyebabkan dampak
negatif yang diterima oleh pasien lebih besar daripada manfaatnya. Bisa
dampaknya berupa klinik misalnya efek samping, resistensi-resistensi
kuman, dampak ekonomis (biaya mahal tidak terjangkau) dan dampak
sosial (ketergantungan pasien terhadap intervensi obat). Mengabaikan
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan obat dapat memberi
dampak terhadap mutu pelayanan kesehatan (pengobatan) dan terhadap
pemakaian sumber dana kesehatan serta meningkatkan resiko efek
samping obat.
Menurut Badan Kesehatan Sedunia (WHO), Penggunaan

obat

dilakukan rasional apabila memenuhi kriteria :


a. Sesuai dengan indikasi penyakit
b. Tersedia setiap saat dengan harga yang terjangkau
c. Diberikan dengan interval waktu pemberian yang tepat
d. Obat yang diberikan harus efektif dengan mutu terjamin dan aman.
Pemakaian obat dikatakan rasional jika memenuhi beberapa
persyaratan tertentu yang secara garis besarnya harus mencakup hal-hal
ketepatan diagnosis, ketepatan indikasi penggunaan obat, ketepatan
pemulihan obat, ketepatan dosis secara rasional, ketepatan penilaian
terhadap pasien, ketepatan pemberian informasi dan ketepatan dalam
tindak lanjut peresepan yang rasional.
Penggunaan obat berkaitan dengan peresepan yang rasional dan
pelayanan obat, peresepan yang rasional apabila diagnosis yang
ditegakkan sesuai dengan kondisi pasien memilih obat yang paling tepat
dari berbagai alternatif obat yang ada dan merespon obat dengan dosis
yang cukup dan berpedoman pada standar yang berlaku atau ditetapkan.
Penggunaan obat yang salah dalam pelayanan kesehatan di
Puskesmas

dapat

mengakibatkan

berkurangnya

persediaan

yang

menyebabkan beberapa pasien tidak dapat diobati sebagai mana mestinya.

14

2.7.

Tinjauan Umum Tentang Pengelola Obat


a. Pengelola obat di kabupaten/kota
Sesuai

dengan

keputusan

Menteri

Kesehatan

No.

610/Menkes/SK/XI/1981 tentang Organisasi Perbekalan Kesehatan yaitu


bahwa organisasi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan obat di
tingkat Kabupaten/Kota adalah Gudang Farmasi Kabupaten/Kota. Tujuan
pembentukan Gudang Farmasi adalah terpeliharanya mutu obat dan alat
kesehatan

yang

menunjang

pelaksanaan

upaya

kesehatan

yang

menyeluruh, terarah dan terpadu.


Gudang farmasi memiliki tugas antara lain:
1). Perencanaan kebutuhan obat
2). Penerimaan
3). Peyimpanan
4). Pendistribusian perbekalan farmasi dan alat kesehatan.
Gudang farmasi memiliki fungsi sebagai berikut:
1). Menerima, menyimpan, memelihara dan mendistribusikan obat, alat
kesehatan dan perbekalan farmasi lainnya.
2). Menyiapkan penyusunan rencana pencatatan dan pelaporan mengenai
persediaan dan penggunaan obat, alat kesehatan dan perbekalan farmasi
lainnya.
3). Mengamati mutu dan khasiat obat secara umum baik yang ada dalam
persediaan maupun yang akan didistribusikan.
b. Pengelola Obat di Puskesmas
Pengelola obat dalam manajemen persedian obat di Puskesmas
adalah Kepala Puskesmas, Petugas Gudang Obat dan Petugas Obat di sub
unit pelayanan adalah:
1). Kepala Puskesmas
Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksanaan
pengelolaan obat dan pencatatan pelaporan, mengajukan obat untuk

15

pengadaan

persediaan

kepada

Kepala

Dinas/Kepala

GFK,

menyampaikan laporan bulanan pemakaian obat, melaporkan semua


obat yang hilang, rusak maupun kadaluarsa kepada Kepala Dinas
Kesehatan/Kepala GFK.
2). Petugas Gudang Obat
Petugas gudang obat bertanggung jawab dalam menerima obat
dari GFK, menyimpan dan mengatur ruang gudang obat

serta

mengendalikan persediaan obat, mendistribusikan obat untuk unit


pelayanan obat, mengawasi mutu obat, melakukan pencatatan dan
pelaporan.
Petugas gudang obat membantu Kepala Puskesmas dalam hal
menjaga keamanan obat, penyusunan persediaan, distribusi dan
pengawasan persediaan obat.
3). Petugas Obat di Sub Unit Pelayanan
Petugas obat pada sub unit pelayan bertanggung jawab dalam
menerima, menyimpan dan memelihara obat dari gudang obat
Puskesmas, menerima resep dokter, meracik/menyiapkan obat,
mengemas obat, menyerahkan obat dan memberikan informasi
penggunaan obat, membuat catatan dan laporan pemakaian obat untuk
petugas gudang obat serta mengamati mutu obat secara umum.
2.8.

Pencatatan Dan Pelaporan Obat


Pencatatan obat adalah proses kegiatan membuat catatan secara
tertib dalam rangka melakukan penata usahaan obat-obatan, baik yang
diterima,

disimpan,

didistribusikan

maupun

yang

digunakan

di

Puskesmas.1
Ketepatan dan kebenaran pencatatan dan laporan/informasi
merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan manajemen
logistik obat. Proses perencanaan dilakukan berdasarkan rekapitulasi
pemakaian obat seluruh Puskesmas dan data pendukung lainnya seperti
data epidemiologi atau pola penyakit.

16

Dengan demikian ketepatan data dan informasi pemakaian obat


Puskesmas sangat mempengaruhi ketersediaan obat di Kabupaten.
Berdasarkan fungsinya kegiatan pencatatan dan pelaporan terbagi atas:
a.

Pencatatan dan pengolahan data untuk mendukung perencanaan


pengadaan obat.
1)

Kompilasi pemakaian obat,


dibuat berdasarkan data LPLPO yang dilaporkan oleh masingmasing Puskesmas. Hasil kompilasi digunakan untuk menghitung
kebutuhan obat dengan metode konsumsi.

2)

Kompilasi data penyakit,


dilakukan dengan bantuan Lembar Kompilasi Data Penyakit (LB-1)
dari

masing-masing

Puskesmas.

Data

ini

digunakan

untuk

menghitung kebutuhan obat berdasarkan metode morbiditas.


3)

Estimasi kebutuhan obat,


dilakukan sebagai bahan penyusunan rencana pengadaan obat untuk
pemakaian tahun yang akan datang, dapat dilakukan baik dengan
metode konsumsi atau morbiditas.

4)

Pembagian menurut sumber


dana, hasil perhitungan kebutuhan obat yang telah dilakukan dibagi
lebih rinci menurut sumber dana obat.

5)

Rekonsiliasi

pengadaan

obat, menyesuaikan rencana pengadaan obat dengan alokasi dana


obat yang tersedia.
b.

Pencatatan dan pengolahan data untuk mendukung pengendalian


persediaan obat
1) Kartu Persediaan Barang, digunakan untuk mencatat semua kegiatan
mutasi obat di gudang, antara lain mencatat jumlah penerimaan,
pengeluaran, hilang, rusak atau kadaluarsa. Hasil pencatatan ini
merupakan basis data yang selanjutnya digunakan sebagai bahan uji
silang terhadap stok obat dalam gudang penyimpanan.

17

2) Kartu Induk Persediaan Barang, digunakan sebagai duplikasi kartu


stok, juga dapat digunakan untuk kompilasi jenis dan jumlah obat
yang dimutasikan dalam waktu tertentu serta untuk kompilasi sisa
stok akhir dari semua jenis obat yang tersimpan di gudang. Kartu ini
bermanfaat sebagai alat kontrol bagi Kepala Gudang Farmasi dan
sebagai alat bantu dala penyusunan laporan, perencanaan, pengadaan
dan distribusi serta pengendalian persediaan dan pemantauan
ketersediaan obat.
3) Kartu Realisasi Pengadaan Obat, digunakan untuk mencatat realisasi
pengadaan tiap jenis obat oleh masing-masing sumber dana obat.
c.

Pencatatan dan pengolahan data untuk mendukung pengendalian


distribusi
1) Penentuan stok optimum obat Puskesmas, perumusan stok optimum
persediaan dilakukan dengan memperhitungkan siklus distribusi ratarata pemakaian, waktu tunggu serta ketentuan mengenai stok
pengaman.
2) Perhitungan tingkat kecukupan obat, dapat dilakukan dengan
menghitung sisa stok obat di GFK dibagi dengan total kebutuhan
stok optimum obat di Puskesmas.

18

BAB III
PROFIL PUSKESMAS 5 ILIR
3.1.

Gambaran Umum
Puskesmas 5 ilir di wilayah Kecamatan Ilir Timur II Kota
Palembang dan membina dua kelurahan, yaitu Kelurahan Duku dan
Kelurahan 5 Ilir.

3.2.

Sejarah Singkat Puskesmas 5 Ilir


Puskesmas 5 Ilir Palembang berdiri pada tahun 1983 dan direhab
pada tahun 2003 dan sekarang menjadi Puskesmas yang berada di
Kecamatan Ilir Timur II. Puskesmas 5 Ilir Palembang adalah Pusat
Kesehatan Masyarakat induk yang tidak mempunyai Puskesmas Pembantu
dan terjadi beberapa kali pergantian kepemimpinan Puskesmas.
Adapun pimpinan Puskesmas dari tahun 1986 s/d sekarang yaitu
sebagai berikut:
Tabel 3.1. Daftar nama-nama pimpinan Puskesmas 5 Ilir
No. Nama

Periode Tahun

1.

Dr.Indah Puspita

1986 1999

2.

Dr.Hj.Aini Ghandi, M.Kes

1999 2001

3.

Dr.Justina Tjandra

2001 2009

4.

Dr.H.Alfarobi,M.Kes

2009 2013

5.

Dr.H.Pemi Welrado

2013 sekarang

19

3.3.

Profil Wilayah
3.3.1. Lokasi
Puskesmas 5 Ilir terletak di wilayah kerja kecamatan Ilir Timur II
Kota Palembang, tepatnya di Jalan Bambang Utoyo Kelurahan 5 Ilir,
terletak strategis karena terletak dipinggir jalan raya yang merupakan lalu
lintas kendaraan baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
3.3.2. Geografis Wilayah Kerja
Puskesmas 5 Ilir di wilayah Kecamatan Ilir Timur II Kota
Palembang dan membina dua kelurahan yaitu :
Tabel 3.2. Wilayah Kerja Puskesmas 5 Ilir
No.

Kelurahan

Luas Wilayah

1.

5 Ilir

1,98 km2

2.

Duku

3 km2
4,98 km2

Total

3.3.3. Batas Wilayah Kerja Puskesmas 5 Ilir


a. Utara
: berbatasan dengan Kelurahan 8 Ilir
b. Selatan
: berbatasan dengan Kelurahan Kuto Batu
c. Timur
: berbatasan dengan Kelurahan 9 Ilir
d. Barat
: berbatasan dengan Kelurahan 2 Ilir
Puskesmas 5 Ilir adalah pusat kesehatan masyarakat induk yang
tidak mempunyai puskesmas pembantu.

Tabel 3.3. Jumlah Fasilitas di wilayah kerja Puskesmas 5 Ilir tahun 2014
Fasilitas

Kel. 5 Ilir

20

Kel. Duku

3.4.

Pustu

Praktek Dokter Swasta

Praktek Bidan Swasta

Posyandu

Rumah Bersalin

Dukun terlatih

Penduduk
Pada tahun 2014, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas 5
Ilir adalah 30.010 jiwa, yang tersebar di dua kelurahan

21

Tabel 3.4. Peta Demografi di Wilayah Kerja Puskesmas 5 Ilir tahun 2014
K E LU R AH AN

No

5 Ilir

Duku

Jumlah

Jumlah Penduduk

11.492

18.518

30.010

Jumlah Kepala Keluarga (KK)

2.895

3.553

5.687

a. KK Gakin

399

622

1.021

b. KK Non Gakin

826

979

1.605

Jumlah Ibu Bersalin (Bulin)

176

292

468

Jumlah Ibu Meneteki (Buteki)

Jumlah Ibu Nifas (Bufas)

258

211

469

Jumlah Wanita Usia Subur (WUS)

Jumlah Wanita Peserta KB Aktif

2106

1725

3831

10

Jumlah Bayi

207

383

590

11

Jumlah Anak Balita

426

688

1114

12

Jumlah Anak Batita

642

670

1312

13

Jumlah Anak Baduta

14

Jumlah Remaja

184

296

480

15

Jumlah Usila

1853

2987

4840

16

Jumlah Taman Kanak Kanak (TK)

17

Jumlah SD / Madrasah Ibtidaiyah

a. Negeri

b. Swasta

Jumlah SMP / Madrasah Tsanawiyah

a. Negeri

b. Swasta

Jumlah SMA / Madrasah Aliyah

18

19

22

20

Jumlah Rumah

1322

1488

2810

21

Jumlah Rumah Sehat

623

761

1384

Tabel 3.5. Jumlah Kunjungan Pasien di Puskesmas 5 Ilir Tahun 2014


No
1
2

3.5.

Kelurahan
5 Ilir
Duku

Jumlah Kunjungan
Jumlah
Total
Laki-laki
Perempuan
Baru Lama
Baru Lama Baru Lama
1102
2566
1646
3834
2748
6400
9148
1543
2264
1713
3997
3256
6261
9517
2645
4830
3359
7831
6004
12661 18665

Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Dalam kegiatannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,
BLUD puskesmas 5 Ilir melalui 8programyang merupakan pelaksanaan
dari fungsi puskesmas dengan dua kelompok program yaitu:
1. Program Dasar (Pokok)
Program dasar puskesmas dibuat berdasarkan urutan prioritas
pemecahan masalah kesehatan masyarakat setempat dan berdasarkan
kebutuhan kesehatan sebagian besar masyarakat, serta mempunyai daya
ungkit yang tinggi dalam mengatasi permasalahan kesehatan nasional dan
internasional dan yang berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas.
Meliputi 6 pokok program dasar yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Promosi Kesehatan
Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Ibu dan Anak serta KB
Gizi
Pemberantasan Penyakit Menular
Pengobatan

2. Program Pengembangan
Puskesmas

mengenal

pokok

program

kegiatan

dengan

mengadakan beberapa perubahan program dasar, dapat masuk dalam


kelompok program pengembangan yang terkait dengan program dasar.
Program Pengembangan merupakan program yang spesifik sesuai
23

dengan permasalahan kesehatan masyarakat setempat dan sesuai


tuntutan masyarakat, dikenal sebagai program inovatif. Program
spesifik yang terdapat di Puskesmas 5 Ilir adalah:
1. TB Paru
2. Geriatri
3. Gerakan Sayang Ibu
Fasilitas yang disediakan di Puskesmas 5 Ilir ini adalah sbb :
1. Klinik Pelayanan Kesehatan Ibu (KIA/KB)
Kegiatan yang dilakukan di klinik ini meliputi pelayanan
kebidanan terhadap Ibu Hamil (Bumil), Ibu yang telah bersalin
(Bufas), dan Ibu menyusui (Busui).Untuk kegiatan KB, Puskesmas 5
Ilir melayani kebutuhan masyarakat dalam hal KB berupa IUD,
Implant, Pil, Suntikan, dan Kondom.Klinik ini dalam pelaksanaannya
dilayani oleh dua orang bidan terlatih.

2. Klinik Pelayanan Kesehatan Umum (BP Umum)


Klinik ini melayani pengobatan umum bagi pasien dewasa,
yaitu pasien usia lebih dari 10 tahun. Pengobatan dilakukan terhadap
pasien umum, askes maupun pasien gakin (jamkesmas).Disamping itu,
klinik BP ini juga melayani tindakan kegawatdaruratan dan rujukan
pasien dari unit-unit fungsional lainnya yang tidak dapat ditangani di
puskesmas maupun terhadap pasien-pasien dengan kasus penyakit
kronik yang sudah berobat rutin di puskesmas.
Namun, sebelum dilakukan rujukan, klinik BP dewasa juga
akan melakukan perbaikan keadaan umum pasien, baik kasus gawat
darurat

umum

maupun

kebidanan.

Selayaknya

pelayanan

kegawatdaruratan (UGD) dilaksanakan di tempat terpisah dengan


pelayanan BP dewasa (poliklinik).Namun karena keterbatasan ruangan
di Puskesmas, ruang BP dewasa dan UGD dijadikan satu.

24

Klinik pelayanan kesehatan umum (BP dewasa) juga melayani


pembuatan keur (surat keterangan sehat). Di klinik ini dilayani pula
pengobatan terhadap penderita TB Paru dan Kusta selain penyakit
lainnya. Pada prinsipnya, pelayanan kesehatan yang dilakukan di BP
umum ini terintegrasi dengan program-program yang ada di
puskesmas, yaitu program pencegahan, pengobatan dan pengendalian
penyakit menular (ISPA, diare, Tb Paru), program penyakit tidak
menular (PTM), program p2kelamin, upaya kesehatan jiwa, upaya
kesehatan indera penglihatan dan pendengaran. Pada pelaksanaannya
klinik ini dilayani oleh seorang dokter umum, yang dibantu oleh
perawat terlatih.
3. Klinik Pelayanan Kesehatan Anak (Klinik MTBS)
\
Klinik MTBS ini melayani pasien anak, yaitu usia 0-5 tahun
dan sd 10 tahun untuk anak. Pada pelaksanaannya klinik ini dilayani
oleh seorang Dokter Umum yang dibantu oleh para perawat terlatih.
Pada klinik ini mulai dikembangkan sistem Manajemen Terpadu Balita
Sakit (MTBS) untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun dan Manajemen
Terpadu Bayi Muda (MTBM) untuk anak usia 0-2 bulan . Dengan
sistem MTBS dan MTBM ini, penatalaksanaan terhadap anak sakit
dilakukan secara komprehensif, tidak hanya terfokus pada keluhan
sakit anak, namun juga dilakukan pemantauan terhadap status gizi,
riwayat kelahiran, riwayat/pola makan dan riwayat imunisasinya.
Dengan demikian, apabila pada anak sakit ini terdapat permasalahan
gizi dan atau imunisasi, atau penyakitnya berbasis lingkungan, maka
akan dilakukan rujukan ke klinik gilinganmas, disamping pengobatan
(kuratif). Disamping itu, pada klinik MTBS ini juga akan senantiasa
dilakukan penyuluhan sesuai dengan permasalahan anak.
Disamping pengobatan, klinik MTBS juga

melakukan

pemantauan terhadap tumbuh kembang anak usia 0-60 bulan melalui


upaya Stimulasi, Intervensi dan Deteksi Dini Tumbuh Kembang
(SDIDTK). Pada kegiatan ini, dilakukan deteksi dini , stimulasi
25

terhadap kasus dengan gangguan tumbuh kembang. Kemudian juga


dilakukan intervensi dengan kasus gangguan tumbuh kembang dan
rujukan kasus dengan gangguan tumbuh kembang tersebut.
4. Klinik Pelayanan Kesehatan Gigi (BP Gigi)
Klinik ini melayani pengobatan dan perawatan gigi bagi
seluruh

lapisan

masyarakat

yang

membutuhkannya

terutama

pengobatan dasar seperti pencabutan dan penambalan gigi.


Dalam pelaksanaannya klinik ini dilayani oleh seorang Dokter
Gigi dan dibantu oleh para perawat gigi yang berpengalaman dan
terlatih. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan menuju Visi
Sehat Optimal, Puskesmas 5 Ilir melaksanakan kegiatan UKGS bagi
anak sekolah di sekolah-sekolah dan UKGMD bagi masyarakat umum
terutama balita dan ibu hamil di posyandu-posyandu. UKGS dan
UKGMD dilaksanakan 3 kali setahun.
5. Gilinganmas (Gizi, Lingkungan dan Imunisasi)
Klinik ini melayani :
a. Konsultasi Gizi, melayani konsultasi Gizi Masyarakat dan Gizi
Perorangan, baik di dalam maupun di luar gedung. Dilaksanakan
oleh seorang Petugas Gizi, setiap hari.
b. Imunisasi, melayani Imunisasi BCG, DPT, Polio, Hepatitis,
Campak, TT Bumil/Caten. Dilaksanakan setiap hari Kamis oleh
Jurim
c. Konsultasi

Kesehatan

Lingkungan

(Sanitasi),

memberikan

konsultasi mengenai kesehatan dan kebersihan lingkungan Rumah


Sehat, Jamban Sehat, Sarana Air Bersih, Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN). Dilaksanakan oleh Sanitarian, setiap hari, baik di
dalam maupun di luar gedung.
6. Laboratorium

26

Melayani pemeriksaan laboratorium sederhana seperti test


kehamilan, HB, golongan darah dan BTA sputum. Khusus untuk
pemeriksaan BTA sputum, Pelayanan dilakukan setiap hari bagi pasien
yang membutuhkan.
7. Penyuluhan Kesehatan
Dilakukan pada perorangan ataupun perkelompok, baik
dilaksanakan di Puskesmas, sekolah ataupun di tempat lain yang
membutuhkan.Pelayanan ini akan dilaksanakan oleh tenaga-tenaga
penyuluh yang menguasai materi yang dibahas. Kegiatan penyuluhan
meliputi kegiatan di dalam gedung dan kegiatan luar gedung.
8. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut
Puskesmas 5 Ilir khusus melayani pelayanan kesehatan
terhadap pasien lansia, yaitu pasien usia lebih dari 45 tahun.
Puskesmas Santun Usia Lanjut ini merupakan program Puskesmas 5
Ilir yang baru dilaksanakan tahun ini. Pelayanan kesehatan ini
dilakukan dengan mengutamakan pasien lansia, baik di loket
pendaftaran, tempat pemeriksaan kesehatan yang terpisah, maupun
pelayanan di apotek.Hal ini bertujuan agar pasien lansia tidak lama
menunggu/mengantri, mengingat keterbatasan fisik dan psikis pasienpasien tersebut.
Pelayanan kesehatan yang dilakukan terhadap pasien lansia
adalah pemeriksaan antropometri (BB, TB, Lingkar pinggang),
tekanan darah, Hb, gula darah, reduksi protein, disamping pemeriksaan
terhadap keluhannya (penyakit). Setiap pasien akan mendapat Kartu
Menuju Sehat Usia Lanjut (KMS lansia). KMS ini bertujuan untuk
memantau

kesehatan

pasien

lansia

secara

berkesinambungan.Disamping itu, juga selalu dilakukan penyuluhan


terhadap permasalahan kesehatan lansia maupun penyakitnya.
Pada pelaksanaannya, pelayanan kesehatan lansia ini dilakukan
oleh seorang perawat terampil yang telah mendapat pelatihan khusus

27

kesehatan lansia. Namun, apabila terdapat kasus yang tidak dapat


ditangani, maka pasien tersebut akan dikonsulkan dengan dokter.
Untuk meningkatkan jangkauan pelayanannya, puskesmas
santun usia lanjut juga melakukan pemeriksaan kesehatan secara
berkala terhadap pasien lansia melalui posyandu lansia. Pada saat ini
Puskesmas 5 Ilir telah memiliki 9 posyandu lansia, yang terdapat di
masing-masing

kelurahan.Kegiatan

Posyandu

Lansia

yang

dilaksanakan sebulan sekali ini meliputi pemeriksaan kesehatan


berkala, pengobatan, penyuluhan kesehatan dan senam lansia.Kegiatan
di posyandu lansia ini dilakukan oleh kader dan petugas dari
puskesmas.

9. Klinik Kesehatan Reproduksi (Kespro)


Klinik Kesehatan Reproduksi (Kespro) merupakan salah satu
program puskesmas 5 Ilir yang khusus memberikan perhatian terhadap
permasalahan kesehatan reproduksi di wilayah kerja Puskesmas 5
Ilir.Kegiatan ini dilaksanakan oleh seorang tenaga dokter umum,
perawat dan bidan.
Pelayanan kesehatan reproduksi dilaksanakan di dalam maupun
di luar gedung Puskesmas 5 Ilir. Kegiatan di dalam gedung meliputi
pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasien dengan permasalahan
reproduksinya,

baik terhadap kespro remaja, wanita usia subur dan

pasien lansia. Setelah itu, akan dilakukan pencatatan/register secara


terpisah terhadap pasien kespro, sehingga dapat diketahui pola
kesakitan atau permasalahan kespro di setiap kelompok usia.
Disamping itu, juga akan dilakukan penyuluhan terhadap pasien
tersebut. Khusus terhadap pasien kespro wus (wanita usia subur),
dilakukan konseling/penyuluhan terhadap pasangannya. Sedangkan,

28

kegiatan kespro yang dilakukan di luar gedung meliputi penyuluhan


kesehatan reproduksi remaja di sekolah, yang biasanya bersamaan
dengan penyuluhan napza, dan skrining permasalahan kespro remaja di
sekolah.
10. Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
Program PKPR ini ditujukan untuk memberikan pelayanan
kesehatan yang komprehensif terhadap remaja, yaitu masyarakat
berusia 10-19 tahun.Program ini dilaksanakan di dalam maupun di luar
gedung. Kegiatan di dalam gedung meliputi pemeriksaan kesehatan
dengan menggunakan status khusus remaja, yang bertujuan untuk
memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif, bukan hanya
terfokus pada penyakitnya, namun juga pada riwayat pubertas,
perkembangan mental, riwayat merokok, memakai napza dan lain
sebagainya. Setelah itu, pasien remaja akan diberikan konseling sesuai
dengan penyakit dan permasalahan kesehatan lain yang ditemui pada
saat itu, dan terakhir diberikan obat.Sedangkan kegiatan PKPR di luar
gedung, meliputi penyuluhan tentang kesehatan reproduksi, napza dan
merokok. Disamping itu, juga diadakan kegiatan survei permasalahan
perilaku remaja.
Untuk meningkatkan peran serta remaja dalam bidang
kesehatan, maka di setiap sekolah diadakan pelatihan kader kesehatan
remaja (peer conselor). Peer conselor ini diharapkan akan mampu
mempromosikan perilaku hidup bersih dan sehat di tatanan sekolah
dan mampu memberikan pertolongan pertama terhadap permasalahan
kesehatan yang terjadi di sekolahnya.
11. Lain-Lain
Dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah kerjanya,
Puskesmas 5 Ilir melakukan kegiatan-kegiatan secara jemput bola.
Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya adalah Posyandu Balita di 16

29

Posyandu, Posyandu Balita dan lansia di 9 Posyandu, UKS/UKGS di


11 SD/MI dan SMP, serta melakukan kunjungan ke rumah pasien bagi
pasien-pasien yang membutuhkannya.
Tabel 3.6. Jumlah Pencapaian Program di Puskesmas 5 Ilir Tahun 2014
No
1
2
3
4
5

3.5.

Program
KIA/KB
Gizi
P2M/P2TM
Kesehatan Lingkungan
Kesehatan Lansia
Jumlah

Pencapaian
14.174
11.291
8.585
1.510
280
35.840

Ketenagaan
Dalam menjalankan tugasnya Puskesmas 5 Ilir beberapa kali
mengalami pergantian kepemimpinan. Dari tahun 2013sampai dengan
sekarang Puskesmas 5 Ilir di pimpin oleh dr. H. Pemi Welrado, dalam
menjalankan kegiatannya pimpinan dibantu oleh beberapa staf,terdiri dari :
Tabel 3.7. Daftar Pegawai Puskesmas 5 Ilir Tahun 2014

No.

Nama

NIP

Dr. H. Pemi Welrado

198205082010011016 Pimpinan Puskesmas

Drg. Mansur R

195907191989011001 Dokter Gigi

Dr.Hj.St.Rosa

196004161990032002 Dokter Umum

Dr.RA.Emil Arif

197707042006041011 Dokter Umum

Rukiah HB

195804201980102001 Perawat

Hasmah Ali H

195904011980032003 Perawat

Desnah Ningsih

196212031991032001 Perawat

Marieta Atik

198206252006042012 Perawat

30

Jabatan

Linda Febri P

198402132006042005 Perawat

10

Hj.Nelly Yohanis

196306271983031005 Perawat Gigi.

11

Ellen Eliani

198402012014072004 Perawat Gigi

12

Riolinah

197009051990032002 Bidan

13

Msy Rohani

197301191992032001 Bidan

14

Wiwin Oktarina

197510142010012005 Bidan

15

Ningsih Akhiri

197003041993032003 Nutritionis

16

Selviana

198806162010012006 Analis

17

Renny Maryani

197303181993032005 Ass.Apoteker

18

Hj.Dina Lusia Syam

196412311986032089 Ass.Apoteker

19

Denti, SE

196406191986032003 TU

20

Sri Guntari

196508041988032006 Pekarya Kesehatan

21

Ellena Layetta

HonDa

Perawat Gigi

22

Rahmi I

HonDa

Kesling

23

Kristiani Ndruru

HonDa

TU

24

Bujang

HonDa

Penjaga Malam

Tabel 3.8. Sumber Daya Ketenagaan Puskesmas 5 Ilir Tahun 2014


Jenis Ketenagaan

Ketersediaa
n

Kekurangan

1 Dokter

PNS

2 Dokter Gigi

PNS

No

(Latar Belakang
Pendidikan)

Status
Ket
Kepegawaian

I. Puskesmas Induk

3 Sarjana / D 3
a. SKM

31

b. SE/A.Md

PNS

c. Lainnya

Honda

PNS

4PNS/

4 Bidan
(S.ST/Am.Keb)
5 Perawat
(Ners/S.Kep/Am.Kep/SP
K)
6 Perawat Gigi

1 Honda
3

PNS

PNS

PNS

PNS

Honda

1 PNS /

(S.KpG/Am.KG/SPRG)
7 Tenaga Gizi
(S.Gz./Am.G/SPAG)
8 Tenaga Pengelola Obat
(Apt./S.Farm/SMF)
9 Tenaga Laboratorium
(Am.AK)
10 Sanitarian
(Am.KL)
11 Lainnya
(SMA/SMP/SD)
Jumlah

3.6.

1 Honda
24

27

Struktur Organisasi
Sama seperti hal instansi lain, untuk kelancaran tugas dan
memenuhi kewajiban dalam hal memberikan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat yang membutuhkannya, dan berbagai kegiatan administrasi
lainnya, maka Puskesmas 5 Ilir menyusun suatu organisasi yang dipimpin
oleh pimpinan puskesmas.Secara garis besar, Puskesmas 5 Ilir dibagi atas

32

beberapa unit kerja yang bertanggung jawab pada pimpinan puskesmas


secara langsung dan pelaksanaan kegiatannya disesuaikan dengan program
kerjanya masing-masing yang disusun setiap tahun di bawah tanggung
jawab pemegang program.

33

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
4.1.
Pengelolaan obat dipuskesmas 5 Ilir
Pengelolaan obat merupakan salah satu program dari puskesmas. Program
ini bertujuan menjamin kelangsungan ketersediaan dan keterjangkauan
pelayanan yang efisien, efektif dan rasional.
4.2.

Struktur organisasi dan pembagian tugas tanggung jawab


Struktur organisasi dan pembagian tugas kerja pengelolaan obat
dipuskesmas 5 Ilir Palembang sebagai berikut :

Kepala puskesmas 5 Ilir


Dr. H. Pemi Welrado

Penanggung jawab gudang


obat
Hj. Dina Lusia Syam

Petugas apotik
Renny Maryani

(kamar obat)

34

Gambar 4.1. struktur organisasi pengelolaan obat

a. Kepala puskesmas bertugas untuk melakukan :

Supervise terhadap pelaksanaan pengelolaan obat dan alat

kesehatan
Evaluasi dan pengesahan permintaan obat ke gudang farmasi Kota
Evaluasi dan pengesahan permintaan obat dari pustu, polindes,

posyandu
Evaluasi dan pengesahan laporan distribusi dan penggunaan obat

b. Tim apotik dan gudang obat puskesmas 5 Ilir terdiri dari, :


1. Hj. Dina Lusia Syam
2. Renny Maryani
c. Petugas kamar obat (apotik)

Melayani permintaan obat dari pasien sesuai resep


Membuat rekapan resep yang masuk ke kamar obat ( dilakukan

setiap hari )
Menyimpan dan memelihara obat yang diterima dari gudang
Membuat laporan mutasi obat tiap bulan dan permintaan obat tiap
tiga bulan.

35

4.3.

Sistem pengelolaan obat di puskesmas 5 ilir dapat dijelaskan melalaui


diagram berikut :

Pasien
datang

loket

Poli
Gigi

KIA/KB

POLI UMUM

APOTIK

PASIEN
PULANG

POLI
ANAK

1. Mengidentifikasikan
isi
resep
2. Melakukan konsultasi jika
diperlukan
3. Memastikan dapat dilayani
4. Menyiapkan dan meracik
sediaan farmasi
5. Memberikan
etiket
pemakaian obat dalam dan
luar
6. Memeriksa ulang sediaan
obat
7. Menyerahkan sediaan obat
sesuai
resep
disertai
penjelasan
penggunaan

Gambar.4.2. Diagram pengelolaan obat puskesmas 5 ilir

36

IMUNISASI DAN
GIZI

Kegiatan pengelolaan obat di puskesmas 5 ilir dapat dijelaskan sebagai


berikut:
1. Tahapan pengelolaan obat di awali pasien datang dan memperoleh
resep obat dari dokter berasal dari poli umum, poli anak, poli gigi,
KIA, Imunisasi dan gizi dan memberikan resep tersebut ke apotik.
2. Setelah resep obat masuk ke apotek, kemudian petugas apotek
melakukan identifikasi terhadap isi resep pasien jika memang
diperlukan petugas apotek akan melakukan konsultasi terhadap
pemeriksa pasien.
3. Petugas apotek akan menyiapkan dan meracik sediaan farmasi yang
diberi berdasarkan resep dan membuat etiket pemakaian obat dalam
dan luar.
4. Sebelum menyerahkan obat, petugas apotek memeriksa ulangsediaan
obat yang telah disiapkan dan menyerahkan obat sesuai resep disertai
penjelasan penggunaan obat dan penyimpanan obat kepada pasien.
4.3.1. Pendistribusian sub unit di puskesmas 5 ilir
Pendistribusian sub unit dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
obat pada sub unit pelayanan.

Mulai

Pasien

Petugas
menerima
lembar
permintaan
obat/pembekal
an kesehatan
dari sub unit
Petugas
menyerahkan
obat/alat
kesehatan ke
sub unit yang
meminta

Petugas
memeriksa
ketersediaan
dan jumlah
obat yang
diminta

Apabila tersedia
dan dapat
terpenuhi,
petugas
mengajukan
rencana distribusi
obat ke pimpinan

Petugas
mencatat
pengeluaran
obat pada kartu
stock dan
register obat
37

Apabila disetujui
pimpinan
puskesmas,
petugas
menyiapkan
obat/alat

4.3.2. Macam-

macam

form

yang

digunakan

dalam

proses

pengelolaan obat
Terdapat beberapa form yang digunakan dalam proses
perencanaan, penyimpanan, dan pendistribusian obat. Terdapat 2
form yang berasal dari Dinas Kesehatan Kota Palembang, yaitu:

Laporan pemakaian dan lembar permintaan obat (LPLPO)

Gambar.4.6 LPLP

38

Kartu stock

Gambar 4.7 kartu stock gudang

Form permintaan obat dari sub


unit pelayanan puskesmas 5 Ilir

Gambar 4.8 lembar permintaan dari


apotek ke gudang puskesmas

B. PEMBAHASAN
4.1.

Identifikasi penyebab masalah


Berdasarkan

hasil

pengamatan

dan

tanya jawab kepada petugas pengelola obat di puskesmas 5 ilir, masih


ditemukan adanya kendala-kendala dalam pengelolaan obat di puskesmas
5 ilir. Penyebab kendala kendala yang terjadi bisa berasal dari manusia,

39

serta ruang lingkup pengelolaan obat dalam hal ini pemanfaatan obat yang
belum efektif.
Berikut ini analisis dari tiap komponen yang menyebabkan masih
adanya kendala kendala
4.1.1. Manusia
Sumber

daya

manusia

untuk

melakukan

pekerjaan

kefarmasian atau pengelolaan obat di puskesmas obat di puskesmas


adalah apoteker (undang-undang RI nomor 23 tahun 1992 tentang
kesehatan).
Adapun Kompetensi dari Apoteker di Puskesmas sebagai
berikut:

Mampu menyediakan dan memberikan pelayanan kefarmasian

yang bermutu
Mampu mengambil keputusan secara professional
Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun
profesi kesehatan lainnya dengan menggunakan bahsa verbal,

nonverbal maupun bahasa local


Selalu belajar sepanjang karir baik pada jalur formal maupun
informal, sehingga ilmu dan keterampilan yang dimiliki selalu
baru.
Sedangkan asisten apoteker hendaknya dapat membantu

pekerjaaan apoteker dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian


tersebut.
Pada puskemas 5 ilir belum ada tenaga apoteker dan hanya
ada asisten apoteker sebanyak 2 orang, dimana asisten apoteker
bertanggung jawab terhadap apotek dan terhadap gudang obat,
mereka menjadi tenaga inti kegiatan program pengelolaan obat
dipuskesmas tanpa ada tenaga pendukung. Kurangnya tenaga
manusia dapat menjadi pemicu kendala-kendala yang terjadi dalam
pengeloaan obat, karena jika hanya ada 2 tenaga asisten apoteker
maka masing-masing sibuk dengan tugasnya. Serta kurangnya
komunikasi petugas apotek dengan tenaga kesehatan yang lainnya,
40

sehinggga terkadang dalam peresepan obat dokter masih sering


menuliskan obat-obat yang tidak tersedia di apotek atau obat lagi
dalam keadaan kosong.
Sebagai

jalan

keluar

direkomendasikan

untuk

menambahkan apoteker atau jumlah tenaga pendukung atau


pembantu agar pelaksaanaan pengelolaan obat dipuskemas 5 ilir
dapat berjalan lebih optimal tanpa mengalami kendala-kendala
pelayanan pengobatan serta diharapkan melakukan komunikasi
terhadap tenaga kesehatan lainnya tentang ketersediaan obatobatan di apotek serta memberi tahu obat-obatan apa saja yang
sedang kosong di apotek.
4.1.2. Pemanfaatan Obat-obatan
10 penyakit terbanyak dan 10 obat terbanyak di Puskesmas 5 Ilir pada tahun 2015
Tabel 4.1. Daftar 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas
N
O
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

NAMA PENYAKIT
ISPA
Febris
Penyakit Lainnya
Hipertensi
Reumatik
Gastritis
Diare
Dermatitiis
Pneumonia
Asma

JUMLAH
PENDERITA
2398
1553
1537
1622
916
862
622
597
201
170

Tabel 4.2. Daftar 10 Obat Terbanyak di Puskesmas


NO
1
2
3
4

NAMA OBAT
Paracetamol
Amoxicillin 500 mg
B complex
CTM

JUMLAH PEMAKAIAN
31.708
31.485
23.029
22.937

41

5
6
7
8
9
10

Ambroxol
Asam Mefenamat
Asam Askorbat (Vit C)
Antasida
Vitamin B6
Kalk

16.846
15.838
13.378
13.041
12.371
8.138

Dapat dilihat bahwa obat yang sering digunakan di


Puskesmas 5 Ilir belum sesuai dengan penyakit terbanyak yang
terjadi, Puskesmas 5 Ilir menggunakan metode konsumsi untuk
menyusun perkiraan kebutuhan obat. Selain itu juga metode
konsumsi dilakukan dengan cara menganalisis data konsumsi obat
tahun sebelumnya. Pada beberapa bulan terdapat perbedaan yang
signifikan antara penyakit yang terbayak dan penggunaan obat
terbanyak.
Untuk pengadaan obat sendiri dalam hal perhitungan
kebutuhan obat menggunakan rumus SO=SK + WK + WP + SP
dimana diharapkan jumlah untuk periode yang akan datang
diperkirakan

sama

dengan

pamakaian

obat

pada

periode

sebelumnya, penggunaan rumus ini dalam pengadaan obat menurut


kafarmasian dipuskesmas yang diatur oleh dinas kesehatan.

4.2.

Prioritas Masalah
Masalah yang mempunyai total angka tertinggi dari hasil penjumlahan
yang akan menjadi prioritas masalah.
Tabel 4.1. Penentuan prioritas penyebab masalah.

42

No

Aspek masalah

Urgensi

Seriousnes

36

64

1.

Tidak adanya tenaga apoteker dan

s
4

2.

kurangnya tenaga pembantu.


Kurangnya
komunikasi

petugas

apotek

dengan

antara

Growth Total

petugas

kesehatan lainnya
Dari hasil skoring dengan metode matriks diatas, didapatkan
prioritas masalahnya adalah kurangnya komunikasi antara petugas
apoteker dengan petugas kesehatan lain
4.3.

Rumusan Masalah
Kurang efektifnya pemanfaatan obat-obatan di puskesmas 5 Ilir
Palembang pada tahun 2015

4.4.

Penentuan Akar Penyebab Masalah


Selain itu untuk mencari akar penyebab masalah dapat menggunakan
fishbone diagram seperti tertera dalam gambar berikut.

Metode

Manusia

Kurangnya tenaga pembantu


dalam pengelolaan obat

Kurang efektifnya
pemanfaatan
Kurangnya komunikasi petugas
apotek obatdengan tenaga kesehatan lainnyaobatan di
puskesmas 5 Ilir
Palembang pada
tahun 2015
Pembina

43

Sarana

Dana

Tidak ada masalah

Tidak ada masalah

Tidak ada masalah

Lingkungan

Gambar 4.9. Penentuan akar penyebab masalah berdasarkan metode fishbone

4.5.

Alternatif penyelesaian masalah


Tabel 4.2. Alternative penyelesaian masalah

Prioritas

Penyebab masalah

Alternative penyelesaian

Penyelesaian masalah

masalah

terpilih

masalah

44

Tidak adanya apoteker

& Tenaga pembantu

apoteker

kurang

manajemen

tenaga Menyediakan

Menyediakan

tenaga

tim apoteker di tim manajemen

di
obat

di obat di puskesmas agar


sesuai dengan peraturan

puskesmas
Menyediakan

tenaga Undang-undang RI nomor

pembantu

23 Tahun 1992 tentang


Kesehatan dimana SDM

Kurang
efektifnya
pemanfaata
n obatobatan di
puskesmas 5
Ilir
Palembang
pada tahun
2015

yang

bertugas

dalam

kefarmasian di puskesmas
haruslah tenaga apoteker

Kurangnya
komunikasi

Sebaiknya

setiap

Sebaiknya

setiap

petugas

bulan sekali (setelah

bulan sekali (setelah

apotek dengan tenaga

melakukan permintaan

melakukan permintaan

kesehatan

obat

obat

tentang

lainnya
ketersediaan

obat-obatan di apotek

ke

GFK)

ke

GFK)

dibuatkan daftar obat

dibuatkan daftar obat

yang

yang

tersedia

apabila

dan

sebelum

apabila

tersedia
sebelum

dan
3

bulan ada stok yang

bulan ada stok yang

habis

habis

diberitahukan

secara

lisan

secara

diberitahukan
lisan

petugas
lainnya.

BAB V
PENUTUP

45

dengan
kesehatan

petugas
lainnya.

dengan

kesehatan

5.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa secara umum
manajemen pengelolaan obat di puskesmas 5 Ilir Palembang sudah sesuai
prosedur, namun masih terdapat sedikit kendala dalam aspek-aspek
tertentu yang dirincikan sebagai berikut :
1. Prioritas masalah adalah kurangnya komunikasi antara petugas apotek
dengan petugas kesehatan lainnya. Selain

itu kurangnya tenaga

pembantu dalam pengelolaan obat dipuskesmas 5 ilir menyebabkan


masih adanya kendala dalam pemanfaatan obat yang belum dilakukan
dengan maksimal
2. Akibat dari prioritas masalah yang terjadi sehingga masih kurang
efektifnya pemanfaatan obat-obatan di puskesmas 5 ilir.
3. Penyelesaian masalah yang dilakukan untuk mengatasi kendal-kendala
yang dihadapi dalam manajemen pemanfaatan obat di puskesmas 5 ilir
ialah dengan melakukan komunikasi yang baik antara petugas apotek
dengan petugas kesehatan lainnya dalam hal ketersediaan obat di
apotek dengan cara dibuatkan daftar obat setiap ruangan.

5.2

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Diharapkan puskesmas 5 ilir agar dapat mempertahankan dan
meningkatkan

manajemen

pengelolaan

obat

terutama

dalam

pemanfaatan obat-obatan di puskesmasnya meskipun sudah sesuai


dengan prosedur.

46

2.

Mempertimbangkan untuk pengadaan tenaga pembantu tambahan


dalam pengelolaan obat sehingga manajemen pengelolaan obat

puskesmas 5 ilir lebih baik lagi dalam melayani masyarakat.


3. Sering mengikuti sertakan petugas pengelolaan obat dalam pelatihan
sehingga ilmu dan keterampilan yang dimiliki selalu baru (up to date).

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. (2005). Sistem Kesehatan Nasional diakses di
website: www.depkes.go.id pada tanggal 16 november 2014.
2. Kemenkes RI (2004), Definisi Puskesmas. Jakarta.
3. Kepmenkes RI (2006), Kebijakan obat nasional, Jakarta.
4. Moh. Arief.(2003) penggolongan obat berdasrkan khasiat dan penggunaan.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
5. Trihono 2005. Manajemen puskesmas berbasis paradigm sehat. Jakarta :
sagung seto.
6. Departemen Kesehatan RI, Ditjen Binfar dan alkes,Dit. Bina farmasi
komunitas dan klinik, 2008. Pedoman pelayanan kefarmasian di puskesmas.
Jakarta. Dinkes.

47

7. Departemen kesehatan R.I, Ditjen Binfar dan Alkes, Dit. Bina Farmasi
komunitas dan Klinik, 2010. Materi pelatihan manajement kefarmasian di
puskesmas, http://binfar.depkes.go.id/dat/materipelatihan.pdf, diakses pada
tanggal 16 november 2014.
8.
Puskesmas 5 ilir Palembang. Profil puskesmas 5 ilir Palembang. 2015

LAMPIRAN

Penyimpanan obat di Gudang Obat


Puskesmas 5 Ilir

Tempat penyimpanan vaksin di


Puskesmas 5 ilir

48

34