Anda di halaman 1dari 4

BPPHP

Buletin Teknopro Hortikultura diterbitkan


setiap bulan, dengan tujuan untuk
menyebarluaskan informasi mengenai
Teknologi,
Mutu
dan
Sarana
Pengolahan Hasil Hortikutura.
PENERBIT :
Direktorat Pengolahan dan Pemasaran
Hasil Hortikultura
Direktorat Jenderal Bina Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Pertanian
Departemen Pertanian
SEKRETARIAT :
Sub Direktorat Teknologi Pengolahan
Hasil Hortikultura
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Kanpus Deptan, Gd. D Lantai III
Telp/ Fax : 021-78842007
PENASEHAT:
DR. Nyoman Oka Tridjaja
Direktur PPH Hortikultura
REDAKTUR :
M. Nasrul Effendi, RN Nurnadiah,
Endang Vita AB
REDAKTUR PELAKSANA:
Sitti Aminah, Djati Kuntjoro,
Ari Agung Prihatin, RM. Simamora,
Reny Maharany, Ernawati,
Dominggus Payung., Sidalmiatun, Ery
Edowati Martiana, Erni Magdalena,
Joyce Irmawati

Teknologi Proses

Buletin Teknopro Hortikultura


menerima naskah/tulisan/foto
sesuai rubrik yang ada.

Jahe muda dimakan sebagai lalab, diolah menjadi asinan, manisan, acar/pikel,
sedangkan minuman yang menggunakan jahe antara lain bandrek, sekoteng,
sirup, kopi jahe, STMJ, dan lain-lain .
Jahe merupakan empon-empon atau temu-temuan yang paling banyak
dibudidayakan dan dimanfaatkan, karena khasiat dan manfaatnya banyak
dibutuhkan oleh masyarakat.
Rimpang jahe mengandung minyak atsiri 2 3 % yang terdiri dari zingiberin,
kamfena, limonen, borneol, sineol, zingiberal, linalool, geraniol, kavikol,
zingiberen dan zingiberol serta gingerol dan shogaol, minyak damar, pati, asam
organik, asam malat, asam oksalat dan gingerin.
Rimpangnya dapat digunakan untuk menghangatkan badan, obat eksim, rematik,
syaraf muka, lecet, luka karena tikaman benda tajam, terkena duri, jatuh,
gigitan ular, membuang angin, memperkuat lambung, menyembuhkan sesak
dada , memperbaiki pencernaan, memperlancar pengeluaran keringat,
menambah nafsu makan, sebagai obat memar dan menghambat pertumbuhan
bakteri.

TEKNOLOGI PROSES

DAFTAR ISI :

Tanaman jahe telah lama dikenal dan


tumbuh baik di Indonesia. Jahe
merupakan salah satu rempah-rempah
yang
penting.
Rimpangnya
banyak
digunakan sebagai bumbu masak, pemberi
rasa dan aroma pada biskuit, permen,
kembang gula dan minuman. Jahe juga
digunakan pada industri obat, minyak
wangi, dan jamu tradisional.

arana Pengolahan
Mutu Produk Olahan

Berita TMSP
Rencana Kegiatan TMSP

SIMPLISIA JAHE
Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum
obat-obat kimia berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya
menggunakan obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk
mengatasi problem kesehatannya. Salah satu tanaman yang digunakan untuk
obat tradisional adalah jahe.

Tingkatkan Konsumsi Buah dan Sayuran Nusantara

Dari jahe dapat dibuat berbagai produk yang sangat


bermanfaat
dalam
menunjang
industri
obat
tradisional, farmasi, kosmetik, makanan dan minuman.
Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa
simplisia, oleoresin, minyak atsiri dan serbuk.
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan
untuk membuat ramuan obat tradisional yang belum
mengalami pengolahan pengeringan.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan simplisia
adalah bagian rimpang dari tanaman jahe. Proses
pembuatan simplisia pada prinsipnya meliputi tahaptahap pencucian, pengecilan ukuran dan pengeringan.
Bahan Bahan yang diperlukan :

Rimpang jahe
Alat-alat yang digunakan :

Pisau stainless steel

Bak pencucian

Cara membuat
1. Penyortiran
dilakukan untuk memisahkan rimpang jahe yang
busuk atau rusak dengan yang bagus atau bahanbahan asing lainnya yang tidak digunakan dalam
pembuatan simplisia
2. Pencucian
Pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran
dan mengurangi mikroba-mikroba yang menempel
pada rimpang jahe. Pencucian harus dilakukan
dalam waktu yang sesingkat mungkin untuk
menghindari larut dan terbuangnya zat yang
terkandung dalam simplisia.
3.

Pengirisan
Rimpang jahe diiris-iris dengan ketebalan 7 8
mm. Ukuran perajangan sangat berpengaruh pada
kualitas bahan simplisia, jika pengirisan terlalu
tipis dapat menambah kemungkinan berkurangnya
zat yang terkandungnya, jika terlalu tebal maka
kandungan air dalam simplisia akan sulit
dihilangkan.
Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur yang
menarik, sebelum diiris, jahe dapat direbus atau
digodok beberapa menit sampai terjadi proses
gelatinisasi kemudian baru diiris dan dijemur.

BAGAN ALIR PROSES PEMBUATAN


2

4. Pengeringan
Setelah dijemur atau kering ketebalan akan
menjadi 5 6 mm dengan kehilangan berat sekitar
60 70% (kadar air sekitar 7 12%). Pengeringan
merupakan proses yang sangat penting dalam
pembuatan simplisia, karena disamping agar
rimpang tidak membusuk, proses juga menentukan
kualitas simplisia.
Beberapa cara pengeringan jahe dalam pembuatan
simplisia diantaranya :
a. Menggunakan cahaya matahari langsung
Cara ini sederhana dan hanya memerlukan
lantai jemur, yang umum digunakan adalah
lantai penjemuran dari semen dan rak
penjemuran dari kayu. Rimpang jahe yang akan
dijemur disebar secara merata dan pada saat
tertentu dibalik agar panas merata dan
rimpang tidak retak.
Cara penjemuran semacam ini selain murah
juga praktis, namun juga ada kelemahan yaitu
suhu dan kelembaban tidak dapat terkontrol,
memerlukan area penjemuran yang luas, saat
pengeringan
tergantung
cuaca,
mudah
terkontaminasi dan waktu pengeringan yang
lama.
b. Alat pengering energi surya (secara tidak
langsung).
Alat ini menggunakan energi sinar matahari
sebagai sumber panas dengan tambahan
energi lain seperti listrik atau bahan bakar.
Cara ini memanfaatkan sirkulasi udara untuk
memindahkan panas. Besarnya energi panas
dengan
yang
berpindah
menentukan
efektifitas dari alat ini. Sedangkan besarnya
energi panas yang diserap tergantung pada
keadaan dan struktur permukaan alat.
Disamping cara pengeringan kedua tersebut
diatas
ada
juga
cara
pengeringan
menggunakan oven.

Mesin Pengering Energi Surya

Tingkatkan Konsumsi Buah dan Sayuran Nusantara

SIMPLISIA JAHE
Rimpang jahe segar

Pencucian

Pengupasan

Spesifikasi
Dimensi (p x l x t)
Kapasitas
Jumlah rak
Bahan

:
:
:
:

Bagian alat

150 x 90 x 275 cm
100 150 kg
3 5 rak
kayu, bambu, besi, seng
bergelombang/biasa
: kolektor, kamar pengering,
cerobong

Pemanasan

Pengirisan

Pengeringan

Pengemasan

MUTU PRODUK
SARANA PENGOLAHAN
Berikut beberapa alat yang dapat digunakan dalam
pengolahan simplisia jahe :

Berikut standar mutu jahe segar meliputi definisi,


klasifikasipenggolongan ukuran dan syarat mutu
produk sesuai dengan SNI Nomor : 01-3179-1992.
A.

Definisi
Jahe segar adalah rimpang (rhizoma) dari
tanaman jahe (Zingiber officinale, Roscoe) jenis
besar yang sudah tua (matured), berbentuk
utuh dan segar serta dibersihkan.

B.

Klasifikasi/penggolongan
Jahe segar digolongkan menjadi tiga jenis mutu
yaitu Mutu I, Mutu II dan Mutu III

Mesin Perajang Jahe, Produksi BPTTG LIPI


Spesifikasi
Dimensi alat (p x l x t) : 30 x 20 x 30 cm
Berat
: 6 kg
Tenaga penggerak
: manual
Kapasitas kerja
: 35 kg/jam
Operator
: 1 orang
Bahan konstruksi
: besi plat, besi siku,
aluminium
Kegunaan : merajang jahe menjadi tipis-tipis dan siap
untuk dikeringkan
Mekanisme kerja :
Jahe yang sudah dikupas
disiapkan
pada
pisau
perajang. Engkol diputar
sehingga
jahe
terjang
menjadi tipis-tipis dan siap
untuk diproses lebih lanjut.

C.

Syarat Mutu
Tabel 1. Spesifikasi Persyaratan Mutu

No

Jenis Uji

Satuan

Persyaratan

1.

Kesegaran jahe

Segar

2.

Rimpang bertunas

Tidak ada

3.

Kenampakan iris
melintang

Cerah

4.

Bentuk rimpang

Utuh

5.

Serangga hidup

bebas

Tingkatkan Konsumsi Buah dan Sayuran Nusantara

Tabel 2. Spesifikasi Persyaratan Umum


Persyaratan
M II
M III
150
Dicantu
249
mkan
sesuai
hasil
analisa

No

Jenis Uji

Satuan

1.

Ukuran berat

g/rimp

MI
250

2.

Rimpang yg
terkelupas
kulitnya
(R/Jml. R)

Maks 10

3.

Benda asing

Maks 3

4.

Rimpang
berkapang
(R/Jml.R)

Maks 10

RENCANA KEGIATAN
TEKNOLOGI, MUTU, DAN
SARANA PENGOLAHAN
Tanggal 14 - 16 Juli 2004 : Diseminasi Teknologi
Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Tanaman Obat
dan Sosialisasi Peraturan dan Standar Mutu di
Kraton DI Yogyakarta.
Tanggal 27 29 Juni 2004 : Diseminasi Teknologi
Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Hortikultura,
Fasilitasi Bimbingan Mutu di Wilayah KAHS
serta Apresiasi Teknologi Sarana Pasca Panen
dan Pengolahan Hasil Hortikultura
akan
dilaksanakan di Batam

BERITA TEKNOLOGI, MUTU,


DAN SARANA PENGOLAHAN
Good Manufacturing Practices (GMP)
Pedoman Cara Pengolahan yang Baik atau Good
Manufacturing Practices (GMP) untuk komoditi
hortikultura telah selesai dicetak. Pada
kesempatan Pertemuan Sinkronisasi Pelaksanaan
Pengembangan Agribisnis Hortikultura 2004
yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bina
Produksi Hortikultura pada tanggal 25 Mei 2004
di Hotel Safari Garden telah dilaksanakan
sosialisasi
pedoman
tersebut.
Peserta
pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas
Pertanian, Kepala BPSB-TPH, Kepala BPTPH,
Kepala BPTP Litbang, Kepala BBI, serta peserta
dari Pusat. Disamping itu telah disampaikan pula
sebanyak 5 buku GMP untuk Kepala dinas pada
acara Sinkronisasi Kegiatan Pengolahan dan
Pemasaran Hasil Pertanian pada tanggal 27 28
Mei 2004 di Hotel Kemang.

Tingkatkan Konsumsi Buah dan Sayuran Nusantara