Anda di halaman 1dari 2

A.

Diskusi
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa selama 10 hari penggunaan salep kayu manis
pada insisi episiotomy dapat membantu mengurangi intensitas nyeri perineum dan
meningkatkan

penyembuhan pada luka episiotomi tanpa adanya efek samping.

Berdasarkan pengetahuan kami, penelitian ini merupakan studi pertama yang mempelajari
pengaruh kayu manis terhadap nyeri daerah perineum dan penyembuhan luka episiotomy
yang dilakukan pada manusia. Berdasarkan penelitian terdahulu yang menggunakan
sampel tikus, didapatkan adanya kandungan analgesik dan anti inflamasi pada kayu manis
(Arzi dkk, 2011). Beberapa peneliti meyakini bahwa kayu manis dapat meningkatkan
epitelisasi, mengurangi stres, oksidasi dan mempercepat penyembuhan luka dikarenakan
adanya kandungan anti mikroba dan anti oksidan pada kayu manis (Kamath, 2003;
Farahpour, 2012).
Berdasarkan literatur diketahui bahwa kayu manis digunakan sebagai pengobatan pada
berbagai macam penyakit seperti DM, Hipertensi dan penyakit Kardiovaskuler (Ranasinghe
dkk, 2013). Terdapat 3 komponen pada kayu manis, yaitu eugenol, cinnamaldehyde dan
linalool (Chericoni dkk, 2005). Pertama, kandungan eugenol memiliki efek analgesik dengan
mengurangi biosintesis prostaglandin dan juga memberikan efek kebas. Kedua,
cinnamaldehyde juga merupakan anti inflamasi. Sedangkan linalool merupakan analgesik
dan anti inflamasi yang bekerja dengan mengurangi oksidasi nitrat dan mengaktifkan
kolinergik dan glutamatergik sebagai reseptor analgesik (Peana dkk, 2003). Selain ketiga
kandungan tersebut, kayu manis juga memiliki kandungan polifenol yang dapat mengurangi
inflamasi (Hong dkk, 2012). Penelitian ini didasarkan dari penelitian Sheikhan dkk (2012)
yang menyatakan bahwa kandungan pada lavender, linalool dan trephine, memberikan efek
positif pada nyeri perineum postpartum. Selain itu didukung oleh penelitian dari Lee dkk
(2002)

bahwa

komponen

trephine

pada

kunyit

mempunyai

efek

menghambat

siklooksigenasi dan mengurangi oksidasi nitrat yang memiliki fungsi yang sama dengan
linalool pada kayu manis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pada grup yang diberikan kayu manis memiliki efek
menurunkan kemerahan dan adanya seroanguinous atau sekresi purulen pada hari ke 10
dikarenakan adanya komponen anti inflamasi dan antimikroba pada kayu manis (Ranasinge
dkk, 2013; Hong dkk, 2012). Komplikasi yang terjadi pada penelitian ini yaitu wound
dehiscence, ada 6 kasus, 1 kasus pada grup kayu manis dan 5 kasus pada grup placebo;
yang mana lebih banyak daripada sumber referensi yang digunakan. Namun dibandingkan

dengan penelitian yang dilakukan di Arak Iran, 3% kejadian wound dehiscence pada grup
yang mendapatkan minyak lavender dan 8% pada grup yang mendapatkan betadin (Vakilian
dkk, 2008). Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya ketrampilan mahasiswa dalam
melakukan prosedur episiotomy di Rumah Sakit. Pada penelitian ini lamanya penjahitan
adalah 35 menit yang mana disebabkan banyaknya manipulasi insisi dan penyebab
penyembuhan luka.
Terdapat beberapa batasan dalam studi ini, Pertama, tidak dapatnya dilakukan follow up
pada kedua grup dikarenakan keterbatasan financial. Meski demikian kurangnya follow up,
namun tidak memberikan perbedaan hasil secara signifikan pada hasil penelitian. Kedua,
karena keterbatasan sumber referensi yang menggunakan manusia sebagai sampel, dosis
rendah kayu manis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu hanya 2% dibandingkan
penelitian yang dilakukan pada tikus menggunakan dosis 3%.
Meskipun demikian, hasil keseluruhan pada penelitian ini didapatkan bahwa kayu manis
dapat memberikan efek analgesic dan mempercepat penyembuhan pada manusia
khususnya. Penelitian lebih lanjut dapat melanjutkan efek dari kayu manis pada episiotomy
dan luka yang lain dengan menggunakan berbagai macam dosis kayu manis yang akan
digunakan untuk dapat mengetahui dosis yang paling efektif.

B. Kesimpulan
Hasil penelitian dalam jurnal menunjukkan adanya pengaruh yang positif terkait
penggunaan salep kayu manis 2% selama 10 hari pada penyembuhan luka episiotomi dan
pengurangan nyeri perineum akibat episiotomy. Hal ini ditunjukkan dari hasil intervensi yang
mengatakan bahwa skala nyeri pada grup kayu manis lebih rendah daripada grup placebo
setelah hari ke 10-11 setelah melahirkan dan pada grup kayu manis didapatkan lebih
memiliki tingkat penyembuhan yang signifikan dibanding dengan grup placebo. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa kayu manis dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam
mengurangi nyeri perineum dan mempercepat penyembuhan luka episiotomy. Olehkarena
itu, diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu
paska melahirkan dan keluarga mengenai penggunaan kayu manis untuk mengurangi nyeri
perineum dan untuk mempercepat luka episiotomy.