Anda di halaman 1dari 3

BAB VI

PEMBAHASAN
6.1 Pijat Oksitosin
Pada saat pengkajian tanggal 9-11 Februari 2016 didapatkan hasil bahwa di Unit RIA
belum ada pijat oksitosin yang dapat dilakukan pada ibu post partum dikarenakan belum
adanya sumber yang terpercaya sebagai pedoman untuk pelaksanaan pijat oksitosin di
ruangan RIA.
Kemudian dilakukan diseminasi awal dan hasilnya akan dilakukan diskusi bersama
dengan CI lahan dan tim PKRS terkait pemecahan masalahnya. Pemecahan masalah yang
disepakati bersama perawat adalah dengan melakukan penelitian pada ibu post partum
yang diberikan perlakuan yang berbeda, Hal ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pijat
oksitosin yang diberikan pada ibu post partum terkait dengan lamanya ASI keluar sehingga
nantinya dapat diaplikasikan diruangan. Selain itu juga membuat SOP serta flip chart pijat
oksitosin, dan implementasi pemberian edukasi pijat oksitosin kepada klien dan keluarga.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan 2 ibu post partum sebagi sampel. Dengan
kriteria inklusi yaitu usia < 30 th, ibu dengan P 1A0, ibu dengan post SC. Dan kriteria
ekslusinya yaitu ibu dengan ASI yang sudah keluar. 1 ibu post partum yang memenuhi
kriteria inklusi dan ekslusi penelitian, diberikan perawatan payudara dan 1 ibu post partum
lain yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi penelitian, diberikan perawatan payudara
dan pijat oksitosin. SOP dibuat berdasarkan dari jurnal yang kemudian dari hasil SOP
tersebut dibuatkan flip chart yang digunakan sebagai media untuk edukasi kepada klien dan
keluarga.
Pada saat dilakukan implementasi (29 Februari 12 Maret 2016) didapatkan hasil
penelitian pada ibu post partum yang diberikan perlakuan pijat oksitosin dengan yang tidak
terdapat perbedaan lamanya ASI yang keluar yaitu 3,5 jam lebih cepat pada ibu yang
diberikan pijat oksitosin daripada yang tidak. Kemudian dari hasil evaluasi edukasi yang
diberikan pada klien dan keluarga didapatkan 50 klien dan keluarga (100%) dapat
memahami pijat oksitosin dan 50 klien dan keluarga (100%) dapat mempraktikkan kembali
pijat oksitosin yang sudah diberikan. Selama (29 Februari 12 Maret 2016) pemberian
edukasi pijat oksitosin menggunakan media flip chart.
Dari hasil evaluasi didapatkan hasil yang baik yaitu adanya sumber yang terpercaya
tentang pijat oksitosin, dan ketika diimplementasikan didapatkan hasil yang memuaskan
yaitu pijat oksitosin terbukti dapat mempercepat pembentukan ASI. Dengan demikian
masalah belum adanya sumber terpercaya tentang pijat oksitosin dapat dipecahkan.
Sehingga pijat oksitosin dapat diimplementasikan di RIA oleh karena itu perlu adanya tindak
lanjut berupa sosialisasi pijat oksitosin secara berkelanjutan kepada klien dan keluarga agar
89

perawatan yang diberikan oleh perawat dan bidan di RIA dapat lebih maksimal. Salah satu
hambatan yang muncul dalam pemberian edukasi dengan media

flip chart yaitu saat

terdapat keluarga klien yang buta huruf dan tidak bisa membaca, jadi selain diberikan
edukasi melalui flip chart juga dapat diperagakan langsung kepada klien dan nantinya
keluarga klien dapat menerapkan pijat oksitosin kepada klien dengan evaluasi langsung oleh
perawat tentang benar tidaknya langkah-langkah yang dilakukan.
6.2 Cuci Tangan oleh Perawat
Pada saat pengkajian (27-29 Juli 2015), penerapan cuci tangan 6 langkah pada 7
perawat tidak memenuhi 6 langkah yang telah ditetapkan seperti perawat tidak menggosok
sela-sela jarinya dan menggosok-gosok ujung jarinya. Kemudian cuci tangan hanya
dilakukan setelah kontak dengan pasien. Padahal di Unit perinatologi telah memiliki ritual
bernyanyi sambil cuci tangan bersama-sama sebelum dilaksanakan operan keliling. Padahal
diketahui cuci tangan merupakan cara yang efektif

untuk mencegah penyebaran

penyakit dikarenakan tangan sering terpajan oleh mikroorganisme germs seperti bakteri
dan virus (CCOHS, 2014). Sehingga untuk memperbaiki 6 langkah cuci tangan dan 5
moment yang kurang maksimal tersebut maka dibentuklah program pekan cuci tangan yang
dilaksanakan pada tanggal 17-22 agustus 2015 dan pemilihan Duta Cuci Tangan di Unit
Perinatologi.
Pada saat pekan cuci tangan dilakukan pengamatan cuci tangan oleh mahasiswa. Satu
mahasiswa mengamati satu perawat, lalu dipilih perawat yang aktif melakukan cuci tangan
dan diberikan reward sebagai Duta Cuci Tangan di Unit Perinatologi. Selama dilakukan
implementasi, terdapat kemajuan yaitu perawat lebih sering menerapkan 6 langkah cuci
tangan dan 5 moment dengan benar. Perawat lebih termotivasi dengan adanya pekan cuci
tangan, hal ini dapat terlihat di level 1 dengan rata-rata nilai sebesar 92, 41, level 2 dengan
rata-rata nilai nilai sebesar 89,16 dan level 3 dengan nilai rata-rata sebesar 89,5.
Pada saat evaluasi didapatkan data bahwa terdapat 8 perawat yang melakukan cuci
tangan sebelum menyentuh pasien, tidak ada yang tidak mencuci tangan pada moment
tersebut. 4 perawat yang melakukan cuci tangan sebelum tindakan aseptic dan 4 perawat
yang tidak mencuci tangan pada moment tersebut. 4 perawat yang melakukan cuci tangan
sesudah terkena cairan tubuh pasien, dan 4 perawat yang tidak mencuci tangan pada
moment tersebut. 2 perawat yang melakukan cuci tangan sesudah menyentuh pasien, dan 6
perawat yang tidak mencuci tangan pada moment tersebut. Serta 2 perawat yang
melakukan cuci tangan sesudah menyentuh lingkungan pasien dan 6 perawat yang tidak
mencuci tangan pada moment tersebut.
Menurut hasil wawancara, hal ini disebabkan karena perawat belum terbentuk
kebiasaan cuci tangan 6 langkah 5 moment yang baik dan benar sehingga masih sering
90

dilupakan. Maka dari itu perlu ada tindak lanjut berupa sosialisasi cuci tangan secara
berkelanjutan agar terbentuk kebiasaan cuci tangan 6 langkah 5 moment. Selain itu,
memaksimalkan peran Duta Cuci Tangan untuk memotivasi, mengingatkan, dan sebagai
contoh bagi perawat yang lain dalam menerapkan perilaku cuci tangan, dan menerapkan
sistem kesadaran diri untuk cuci tangan pada diri perawat itu sendiri.
6.3 Pendidikan Kesehatan kepada Keluarga
Pada saat pengkajian (27-29 Juli 2015) didapatkan hasil bahwa perawat sudah
melakukan pendidikan kesehatan. Namun, pendidikan kesehatan yang diberikan perawat ke
pasien selama ini dalam bentuk discharge planning secara individu ke pasien dengan waktu
yang terbatas dan belum maksimal sehingga perawat memberikan penkes dengan terburuburu dan tidak ada feedback untuk mengetahui apakah pasien dapat menerima informasi
yang telah disampaikan oleh perawat. Hal ini disebabkan pula oleh jumlah pasien pulang di
Unit Perinatologi cukup tinggi serta keterbatasan jumlah perawat yang memberikan penkes.
Pada saat implementasi/role play (22-26 Agustus 2015) didapatkan hasil bahwa
pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan media flipchart lebih efektif dikarenakan
mampu mempersingkat waktu pemberian pendidikan kesehatan yang dilakukan secara
berkelompok pada pasien yang direncanakan pulang. Selain itu, dengan media flipchart
didapatkan bahwa kemampuan kognitif peserta pendidikan kesehatan dapat meningkat dan
semuanya mampu mempraktikkan kembali terkait tata cara perawatan tali pusat bayi baru
lahir.
Hasil evaluasi selama 3 hari (27-29 Agustus) menunjukkan bahwa perawat pada
dasarnya mampu meyampaikan materi penyuluhan kepada setiap pasien yang rencana
pulang. Dengan adanya flipchart diharapkan PKRS dapat tetap dilakukan kepada pasien
secara berkelompok dengan waktu yang lebih panjang sehingga pemberian penkes dan
pemahaman pasien bisa lebih maksimal. Hal tersebut terlihat dari hasil pre-test dan post test
yang diberikan kepada pasien. Terlihat peningkatan pengetahuan yang lebih tinggi pada
pasien yang diberikan materi penkes dengan bantuan media flipchart daripada yang tidak.
Kemudian, dari tingkat psikomotor semua pasien yang diberikan penkes dengan flipchart
mampu melakukan penggantian kassa tali pusat dengan benar. Berbeda dengan pasien
yang tidak diberikan penkes dengan flipchart, ketika di evaluasi terkait kemampuan untuk
mengganti kassa tali pusat, semua pasien tidak dapat melakukannya dengan benar. Salah
satu hambatan yang muncul dalam pemberian flipchart adalah belum adanya pengawasan
dari kepala unit atau kebijakan tertulis dari tim PKRS terkait dilakukannya pendidikan
kesehatan pasien dengan menggunakan media flipchart.

91