Anda di halaman 1dari 3

AKHLAK, IMPLEMENTASI IMAN DALAM KEHIDUPAN

Akhlak menempati kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik menurut
pandangan Allah maupun menurut pandangan masyarakat. Seseorang dihormati dan memperoleh
penghargaan tinggi yang tulus apabila akhlaknya baik, sebaliknya orang dianggap rendah dan
dilecehkan bila akhlaknya buruk. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah tersebut?
Ensiklopedi Islam mendefinisikan akhlak sebagai keadaan yang melekat di dalam jiwa sehingga
dari padanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran,
pertimbangan dan penelitian. Ensiklopedi Hukum Islam memaknai akhlak sebagai tingkah laku
yang lahir dari manusia dengan sengaja, tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan.
Pengertian yang serupa kita dapatkan dari Ibnu Maskawaih, Al Ghazali dan ulama lain.
Dari beberapa telaahan tersebut kita memperoleh pemahaman bahwa suatu perbuatan disebut
akhlak bila memenuhi dua persyaratan. Pertama, disengaja, bukan sebuah kebetulan dan bukan
karena keterpaksaan. Bagi orang Mukmin, perbuatan itu dilakukannya karena Allah, dia
senantiasa memenuhi perintah Al Quran untuk merealisasikan ikrarnya: Sesungguhnya
shalatku, amal ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. [QS Al
Anaam (6): 162]. Kedua, sudah menjadi kebiasaan sehingga untuk melakukannya orang tidak
perlu berpikir panjang, tidak lagi mempertimbangkan baik dan buruknya, untung dan ruginya.
Seseorang yang pada suatu ketika memberi sumbangan harta tetapi setelah berpikir panjang, atau
hanya sekali-sekali, maka dia belum disebut berakhlak penderma atau dermawan. Dia baru
dimasukkan oleh Allah atau masyarakat sebagai berakhlak penderma apabila perbuatan memberi
itu sudah menjadi kebiasaannya.
Secara etimologis, perkataan akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluq, sedangkan khuluq
satu akar kata dengan Khaliq Yang Maha Pencipta yaitu Allah, dan makhluq ciptaan Allah,
termasuk manusia. Dengan demikian akhlak bersangkutan erat dengan hubungan antara manusia
dengan Allah, baik yang berkenaan dengan niat dan tujuan perbuatan, maupun dengan nilai-nilai
(values) dan norma-norma (norms) yang menjadi acuan untuk menetapkan apakah suatu
perbuatan itu baik atau buruk, bermanfaat atau mengandung banyak mudharat.
Inilah yang membedakan antara akhlak dengan etika atau budi pekerti rekacipta manusia. Tetapi
meskipun berbeda sumber, akhlak tidak mesti bertentangan dengan etika, karena tatkala
mencipta manusia, Allah telah melengkapinya dengan kecenderungan kepada yang benar dan
yang baik. Kecenderungan batin ini berpangkal kepada keyakinan asasi kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Secara metaforik Al Quran menuturkan bahwa tatkala janin manusia terbentuk, Allah
SWT bertanya kepadanya; Bukankah Aku ini Tuhanmu?. Manusia dalam wujud yang
sangat awal itu menjawab: Benar, Engkau Tuhan kami; kami menjadi saksi mengenai hal
itu. [QS Al Araaf (7): 172].

Berkenaan dengan keterangan Al Quran ini Rasulullah SAW menyatakan bahwa setiap bayi
dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci dan cenderung kepada kesucian). Maka orangtuanya yang
menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. [HR Bukhari]. Meskipun demikian, kenyataan
menunjukkan bahwa sebagian orang menjalani kehidupan yang melenceng dari fitrahnya.
Keadaan itu disebabkan oleh dorongan nafsu yang tidak terkendali dengan semestinya.
Sebenarnya nafsu yang ada pada manusia itu bukan sesuatu yang buruk, tetapi justru menjadi
pendorong untuk mengembangkan budayanya. Nafsu menjadikan orang bersemangat untuk
berikhtiar mencapai keberhasilan dan menikmati setiap proses ikhtiarnya itu. Karena itu nafsu
tidak boleh dikekang terlalu keras, karena hal itu berakibat matinya kreatifitas dan kegembiraan
hidup di dunia. Tetapi nafsu cenderung berlebihan, dan kondisi yang demikian itu membawa
orang melakukan berbagai keburukan. Maka orang harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh
untuk mengendalikan nafsunya, sehingga tidak terlalu kuat tetapi juga tidak terlampau lemah.
[QS Al Israa (17): 29]. Nafsu yang terkendali dengan baik itulah yang mendapat kucuran
rahmah Allah SWT. [QS Yusuf (12): 53]. Maka Allah menurunkan perintah kepada manusia:
Makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan, karena Dia tidak suka kepada orangorang yang berlebih-lebihan. [QS Al Araaf (7): 31].
Mengendalikan nafsu benar-benar bukan pekerjaan yang mudah. Syeitan selalu berusaha
mengambil alih kemudi terhadap nafsu kemudian mengarahkannya untuk menerjang segala batas
dan melebihi segala takaran yang diperuntukkan baginya. Iblis pemimpin segala setan telah
membekali seluruh anak buahnya yang berupa jin maupun manusia [QS An Naas (114): 6],
dengan semangat dan kecermatan untuk menggelincirkan setiap orang dari jalan lurus menuju
jalan yang sesat. Yang demikian itu sudah diikrarkan iblis langsung ke Hadapan Allah SWT [QS
Al Araaf (7): 16-17]. Maka di antara manusia ada yang mampu melawan godaan dan bujuk rayu
syeitan tersebut dan ada yang menyerah kalah. Karena itu ada orang yang memiliki akhlak mulia
(Al akhlaqul karimah) atau akhlak terpuji (Al akhlaqul mahmudah), dan ada yang mempunyai
akhlak buruk (Al akhlaqul qabihah) atau akhlak tercela (Al akhlaqul madzmumah).
Atribut berakhlak baik atau berakhlak buruk pada diri seseorang itu tidak bersifat tetap. Umar
ibnu Khattab dan Khalid bin Walid dalam waktu yang cukup lama adalah pembenci kebenaran
dan memusuhi Islam yang didakwahkan Rasulullah SAW. Tetapi dengan hidayah Allah mereka
kemudian menikmati kehidupan yang sakinah tenang tenteram, setelah beriman kepada Allah
SWT dan menunaikan serta menegakkan syariat-Nya, dan menjadikan Rasulullah SAW yang
pernah mereka benci itu sebagai panutan hidupnya.
Tetapi sebaliknya banyak orang yang murtad meninggalkan Islam dan berpaling kepada
keyakinan lain. Tidak jarang pula kita jumpai orang-orang yang pada masa mudanya memegang
teguh idealisme yang tinggi, berjuang dan berkorban untuk menegakkan keyakinannya yang baik
itu, tetapi setelah menduduki jabatan tertentu dengan mapan, merubah haluannya dan
mengkhianati idealismenya semula. Allah menyatakan di dalam Al Qur'an, bahwa Dia telah
menunjukkan kepada manusia dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan keburukan [QS Al Balad
(90): 10]. Dia mengilhamkan kepada setiap jiwa itu kefasikan dan ketakwaan [QS Asy Syams
(91): 8].

Petunjuk Allah yang berupa informasi tentang jalan yang baik dan yang buruk itu tidak dengan
sendirinya membawa orang masuk ke jalan yang baik dan menjauh dari jalan yang buruk. Nafsu
yang berada di dalam kendali syeitan justru lebih tertarik kepada keburukan dibanding kebaikan.
Jangankan tawaran surga yang baru akan didapatkan di dalam kehidupan akhirat, lulus ujian atau
kenaikan jabatan yang dekat, yang ditawarkan kepada orang yang mau bekerja keras, ditolak
oleh orang yang lebih suka bermalas-malasan. Jangankan ancaman neraka yang banyak orang
tidak segera dapat mencernanya, kesengsaraan berat bagi orang yang mengonsumsi narkoba,
yang bukti-buktinya telah nampak jelas,acap kali tidak mampu mencegah orang untuk masuk ke
jalan menuju neraka dunia itu. Maka sebagaimana telah dikemukakan di atas, upaya
mengendalikan nafsu sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Karena itu ketika pulang dari
perang Badar yang dahsyat Rasulullah SAW bersabda: Kita pulang dari jihad kecil untuk
menuju jihad besar, yaitu jihad terhadap nafsu.
Allah SWT yang Maha Pengasih menolong manusia di dalam usahanya itu dengan menurunkan
agama, yang intinya adalah petunjuk untuk mengendalikan nafsu. Mengenai hal ini Rasulullah
SAW bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. [HR
Imam Malik]. Sesuai dengan ucapannya itu beliau senantiasa membimi\bing dan mendidik
ummatnya, secara individual maupun komunal, dengan ucapan maupun contoh perbuatan, agar
melakukan dan membiasakan diri kepada akhlak yang baik. Menjawab pertanyaan beberapa
sahabat, isteri Nabi Muhammad SAW Aisyah RA menyatakan testimoninya: Akhlak
Rasulullah adalah Al Qur'an.
Rasul sendiri menerangkan bahwa Allah SWT adalah sumber utama bagi pembinaan akhlak.
Beliau bersabda: Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah. Dia menyayangi tanpa berharap
mendapat balasan apapun dari yang disayanginya. Dia memberi tanpa batas. Dia berbuat baik
kepada yang beriman maupun yang durhaka kepada-Nya. Sudah tentu tidak ada seorangpun yang
mampu memiliki akhlak seperti Allah, tetapi upaya menuju kondisi demikian harus dilakukan
dengan sungguh-sungguh. Ini berarti, orang dianggap berakhlak baik bila berproses menuju
keadaan yang lebih baik.
Mengenai kepada siapa orang berakhlak baik, ulama membaginya ke dalam dua golongan besar.
Pertama adalah akhlak yang baik kepada Al Khaliq, sang Pencipta segala sesuatu yaitu Allah
SWT. Kedua, akhlak yang baik kepada makhluk, ciptaan Allah, khususnya makhluk yang
manusia dapat berinteraksi dengan mereka, yaitu sesama manusia, fauna, flora dan benda-benda
lain yang mengisi alam raya ini. Akhlak kepada Allah dan akhlak kepada ciptaan Allah bukan
dua hal yang terpisah, tetapi berjalin secara harmonis; yang satu akan memengaruhi yang lain.
Akhlak mulia kepada Allah membentuk akhlak baik kepada sesama makhluk, dan sebaliknya
akhlak baik kepada segala ciptaan akan mendekatkan dia kepada Pencipta segala sesuatu, Allah
SWT. [Sakib Machmud].