Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Sejarah telah mencatat bahwa jatuh dan bangunnya peradaban bangsa yang tinggal di

kepulauan nusantara sangat dipengaruhi oleh penguasaan lautan. Kerajaan-kerajaan besar seperti
Sriwijaya dan Majapahit berhasil menguasai dan memakmurkan kerajaannya melalui kekuatan
armada lautnya. Bahkan serikat dagang Belanda (VOC) mampu menjajah nusantara selama 3,5
abad dengan kemampuannya menguasai lautan. Tidak dapat dipungkiri bahwa laut merupakan
suatu aset untuk kedaulatan dan kemakmuran bangsa Indonesia.
Wilayah kedaulatan dan yuridiksi Indonesia terbentang dari 608' LU hingga 1115' LS,
dan dari 9445' BT hingga 14105' BT terletak di posisi geografis sangat strategis, karena
menjadi penghubung dua samudera dan dua benua, Samudera India dengan Samudera Pasifik,
dan Benua Asia dengan Benua Australia. Kepulauan Indonesia terdiri dari 17.508 pulau besar dan
pulau kecil dan memiliki garis pantai 81.000 km, serta luas laut terbesar di dunia yaitu 5,8 juta
km2 (DEPLU 2005).
Wilayah laut Indonesia mencakup 12 mil laut ke arah luar garis pantai, selain itu
Indonesia memiliki wilayah yuridiksi nasional yang meliputi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
sejauh 200 mil dan landas kontinen sampai sejauh 350 mil dari garis pantai (Gambar 1).

Gambar 1. Wilayah laut Indonesia (sumber: Kadin Batam 2004)

Dengan ditetapkannya konvensi PBB tentang hukum laut Internasional 1982, wilayah laut
Indonesia yang dapat dimanfaatkan diperkirakan mencapai 7.9 juta km2 terdiri dari 1.8 juta km2
daratan, 3.2 juta km2 laut teritorial dan 2.9 juta km2 perairan ZEE. Wilayah perairan 6.1 juta
km2 tersebut adalah 77% dari seluruh luas Indonesia, dengan kata lain luas laut Indonesia adalah
tiga kali luas daratannya.
Wilayah laut sangat penting dengan dicantumkannya pada GBHN tahun 1993, dan
didirikannya Departemen Kelautan dan Perikanan. Undang-undang no. 22 dan 25 tahun 1999
juga mencantumkan kelautan sebagai bagian dari otonomi daerah. Sangat penting bahwa
kawasan laut perlu diintegrasikan dalam perencanaan tata ruang wilayah nasional, propinsi dan
tingkat kabupaten.
Lautan Indonesia merupakan karunia Tuhan YME yang harus selalu disyukuri dengan
cara mengelolanya secara bijaksana untuk kesejahteraan seluruh bangsa. Beberapa alasan
pentingnya pembangunan laut antara lain :
1. Indonesia memiliki sumber daya alam laut yang besar baik ditinjau dari kuantitas maupun
keanekaragaman hasilnya.
2. Sumber daya laut merupakan sumber daya yang dapat dipulihkan (sebagian besarnya),
artinya bahwa ikan ataupun sumberdaya laut lainnya dapat dimanfaatkan, namun harus
memperhatikan kelestariannya.
3. Pusat pertumbuhan ekonomi, dengan proses globalisasi perdagangan di abad 21 ini, akan
terbuka peluang untuk bersaing memasarkan produk-produk kelautan dalam perdagangan
Internasional.
4. Sumber protein hewani, sumberdaya ikan mengandung protein yang tinggi khususnya
untuk asam amino tak jenuh, atau biasa dikenal dengan kandungan OMEGA-3 yang
sangat bermanfaat bagi tubuh manusia.
5. Penghasil devisa Negara, udang dan beberapa jenis ikan ekonomis penting seperti ikan
tuna, cakalang ataupun lobster, saat ini merupakan komoditi ekspor yang menghasilkan
devisa negara. Terlebih lagi dengan hasil penting di sektor pertambangan minyak dan gas
lepas pantai.

6. Memperluas lapangan kerja, dengan semakin sempitnya lahan pertanian di areal daratan,
dan semakin tingginya persaingan tenaga kerja di bidang industri, maka salah satu
alternatif dalam penyediaan lapangan pekerjaan adalah di sektor perikanan. Apalagi
dengan adanya otonomi daerah maka daerah-daerah yang memiliki potensi di bidang
perikanan yang cukup besar akan berlomba untuk mengembangkan potensi perikanan laut
yang ada, sehingga akan membuka peluang yang sangat besar bagi penyedia lapangan
pekerjaan yang sangat dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia sekarang ini.
7. Wilayah pesisir sebagai pusat pengembangan IPTEK dan industri kelautan, serta sebagai
zona strategis untuk pusat pengembangan jalur transportasi utama antar pulau maupun
menuju daerah-daerah di pedalaman.
Kebijakan pembangunan kelautan secara berkelanjutan, perlu diterjemahkan secara
seksama dalam bentuk langkah-langkah konkret yang dirumuskan sebagai sebuah konsep.
Konsep tersebut disusun atas dasar pertimbangan terhadap kepentingan-kepentingan semua pihak
yang terlibat dalam pemanfaatan sumberdaya laut. Kata lestari megisyaratkan adanya tuntutan
terhadap pengetahuan secara kuantitatif dan terukur sebagai acuan dalam perumusan kebijakan
pemanfaatan sumberdaya laut yang berkelanjutan. Selanjutnya setiap tindakan yang dilakukan
terhadap pemanfaatan sumberdaya ini, diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi
peradaban manusia yang memanfaatkannya baik pada masa kini maupun masa mendatang.
Pemahaman terhadap makna dan fungsi laut bagi negara kepulauan merupakan faktor
pertimbangan pendukung yang signifikan dalam perumusan kebijakan pemanfaatan sumberdaya
laut di Indonesia. Dalam penyusunan kerangka pembangunan kelautan haruslah didasarkan pada
suatu pemahaman fungsi laut, diantaranya :
1. Laut sebagai wilayah kedaulatan bangsa.
2. Laut sebagai lingkungan dan sumberdaya.
3. Laut sebagai media kontak sosial dan budaya.
4. Laut sebagai sumber dan media penyebar bencana alam.

Pemahaman terhadap makna dan fungsi laut ini secara selaras dan seimbang, diharapkan
dapat memberikan pemanfaatan sumberdaya laut yang komperhensif, sekaligus mendukung
prinsip pemanfaatan sumberdaya secara lestari. Laut Indonesia telah dimanfaatkan untuk
berbagai kepentingan, sebagai area pertambangan, jalur transportasi, jalur kabel komunikasi dan
pipa bawah air, perikanan tangkap dan budi daya, wisata bahari, area konservasi dan sebagainya.
Seiring dengan meningkatnya pemanfaatan sumberdaya laut maka paradigma pengelolaan
laut secara sektoral, telah berdampak pada meningkatnya nilai kerentanan konflik kepentingan.
Dampak konflik pemanfaatan ruang di laut dan/atau bahkan pemanfaatan sumberdaya laut adalah
tidak dapat tercapainya tujuan memberikan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Dikaitkan dengan upaya menempatkan laut sebagai salah satu sumber perekonomian
nasional, maka tuntutan terhadap tindakan penataan wilayah laut menjadi semakin mendesak.
Paradigma pengelolaan laut secara sektoral perlu di telaah kembali dan secara komperhensif
dibandingkan dengan paradigma pengelolaan laut secara kewilayahan. Artinya, laut dipahami
sebagai wilayah dapat dimanfaatkan berbagai sektor perlu ditata dengan batas-batas pemanfaatan
yang tegas dengan memperhatikan berbagai sektor terkait yang dilandaskan pada prinsip
persatuan dan kesatuan wilayah NKRI.
Kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumberdaya laut secara multisektoral telah
memicu terbentuknya Dewan Maritim Indonesia yang kemudian dirubah menjadi Dewan
Kelautan Indonesia berdasarkan Keppres No. 21 tahun 2007 (http://www.bpkp.go.id). Dewan
tersebut terdiri dari berbagai elemen pemerintahan dan kelompok masyarakat, serta bertugas
untuk menyusun dan memberi pertimbangan pada presiden mengenai kebijakan umum mengenai
pengelolaan laut.

II.

Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengkaji tentang sumberdaya laut

Indonesia dan pengelolaannya, serta untuk menganalisis pemanfaatan sumberdaya laut secara
berkelanjutan, terutama yang berhubungan dengan masyrakat dan kesehatan masyarakat.

BAB 2
ISI
I.

Biota Laut Indonesia


Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati laut

yang terbaik di dunia. Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 60.000
km2, namun yang dalam kondisi baik hanya sekitar 6,2 % saja. Kerusakan ini pada umumnya
disebabkan oleh 3 faktor, yakni keserakahan manusia, ketidaktahuan dan ketidakpedulian serta
penegakan hukum yang lemah.
Terumbu karang sebenarnya terbentuk dari kumpulan koral atau karang laut. Koral ini
sendiri adalah sejenis hewan laut yang membentuk lapisan keras di sekujur tubuhnya untuk
melindungi diri dari pemangsa. Hewan ini berukuran sangat kecil yang disebut polyp, dan
memiliki tangan-tangan yang panjang dan banyak untuk menangkap mangsa.
Terumbu karang terutama berada di wilayah-wilayah lautan yang hangat dan banyak
memiliki cahaya. Oleh sebab itu, Indonesia termasuk sebagai negara yang memiliki terumbu
karang terbanyak di dunia. Sementara untuk yang terbesar di dunia sendiri berada di Australia
yang yang diberi nama Great Barrier Reef.
Kekayaan macam terumbu karang sangat menentukan kehidupan di laut. Terumbu karang
menjadi rumah sekaligus sumber makanan dari berbagai hewan laut. Kerusakannya akan sangat
mengancam kelangsungan makhluk hidup lautan lainnya.
Selain terumbu karang yang menjadi penentu kehidupan, keanekaragaman hayati laut
juga terdiri dari hewan-hewan laut (ikan ataupun reptil), plankton yang merupakan tumbuhan dan
hewan laut terkecil di laut, serta berbagai bentuk ekosistem di wilayah-wilayah pantai, estuari,
maupun delta.
Terumbu karang sangat mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekitarnya baik
secara fisik juga biologis. Akibat kombinasi dampak negatif langsung dan tidak langsung pada

terumbu karang Indonesia, sebagian besar terumbu karang di wilayah Indonesia saat ini sudah
mengalami kerusakan yang sangat parah. Bagaimanapun juga, tekanan terhadap keberadaan
terumbu karang paling banyak diakibatkan oleh kegiatan manusia, sehingga perlu dilakukan
langkah-langkah pencegahan. Peningkatan kegiatan manusia sepanjang garis pantai semakin
memperparah kondisi terumbu karang.
Oleh karena itu merupakan kebutuhan mendesak untuk menerapkan konservasi dan
rencana-rencana pengelolaan yang baik untuk melindungi terumbu karang dari kerusakan yang
semakin parah. Langkah dan kebijakan itu adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap perlunya menjaga kelestarian terumbu karang dan mengadakan perencanaan
pengelolaan wilayah pesisir yang baik dengan cara mengidentifikasi tingkat kerawanan dari
terumbu karang dan meningkatkan pengelolaan yang berkesinambungan.
Terumbu Karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis
tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Hewan karang bentuknya aneh, menyerupai batu dan
mempunyai warna dan bentuk beraneka rupa. Hewan ini disebut polip, merupakan hewan
pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur. Polip-polip inilah yang setelah
ribuan tahun akhirnya membentuk apa yang kita kenal sekarang sebagai terumbu karang.
Zooxanthellae adalah suatu jenis Algae yang bersimbiosis dalam jaringan karang.
Zooxanthellae ini melakukan fotosintesis menghasilkan oksigen yang berguna untuk kehidupan
hewan karang. Namun di lain pihak, hewan karang memberikan tempat berlindung bagi
Zooxanthellae.
Dalam ekosistem terumbu karang ada karang yang keras dan lunak. Karang batu adalah
karang yang keras disebabkan oleh adanya zat kapur yang dihasilkan oleh binatang karang.
Melalui proses yang sangat lama, binatang karang yang kecil (polyp) membentuk kolobi karang
yang kental, yang sebenarnya terdiri atas ribuan individu polyp. Karang batu ini menjadi
pembentuk utama ekosistem terumbu karang. Walaupun terlihat sangat kuat dan kokoh, karang
sebenarnya sangat rapuh, mudah hancur dan sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Peran dan manfaat dari Terumbu Karang yakni sebagai tempat hidupnya ikan-ikan yang
banyak dibutuhkan manusia untuk pangan, seperti Ikan Kerapu, Ikan Baronang, Ikan Ekor

Kuning, dan masih banyak jenis ikan lainnya. Selain itu terumbu karang juga sebagai benteng
atau pelindung pantai dari kerusakan yang disebabkan oleh gelombang atau ombak laut, sehingga
manusia dapat hidup di daerah dekat pantai. Terumbu Karang juga sebagai tempat untuk wisata.
Karena keindahan warna dan bentuknya sehingga menarik minat banyak orang untuk berwisata
bahari, salah satunya dengan Diving atau Snorkling.
Untuk jenis terumbu karang yang ada di Taman Nasional Karimunjawa merupakan
terumbu karang pantai (Fringing Reef), Terumbu Karang Penghalang (Barrier Reef) dan
beberapa Taka (Patch Reef). Kekayaan jenisnya mencapai 51 genus, lebih dari 90 jenis karang
keras dan 242 jenis ikan hias. Dua jenis biota yang dilindungi yaitu Akar Bahar/Karang Hitam
(Antiphates spp.) dan Karang Merah (Tubipora musica).
Biota laut lainnya yang dilindungi seperti Kepala Kambing (Cassis cornuta), Triton
Terompet (Charonia tritonis), Nautilus Berongga (Nautilus pompillius), Batu Laga (Turbo
marmoratus) dan 6 jenis Kima.
Menurut hasil survey potensi yang dilaksanakan oleh Direktorat Pelestarian Alam, Ditjen
PHPA pada tahun 1991, di perairan Kep. Padamarang dan sekitarnya dijumpai potensi sumber
daya alam laut yaitu Terumbu Karang (16 species), Ikan Karang atau Ikan Hias (13 species), Ikan
Konsumsi (17 species), Moluska (14 jenis) dan Rumput Laut (8 jenis).
Karang, secara umum jenis karang yang mendominasi ekosistem terumbu karang di
daerah ini adalah Acropora spp., dan Porites spp. Beberapa jenis karang yang ada merupakan
biota yang dilindungi oleh CITES, seperti Seriatopora spp., Pocil/opora app., Stylopora spp.,
Acropora spp., Pavona spp., Fungia sp., dan Heliopora sp.
Untuk jenis ikan karang, jenis-jenis ikan hias yang dapat ditemui antara lain Abudefduf
sp., Acanthurus sp., Amphiprion sebal, Chaetodon spp., Chaetodonplus sp., Centropyge sp.,
Drephane sp., Labroides sp., Lethrinus spp., Pomachantus sp., Zebrasoma sp., dan jenis lainnya.
Sedangkan jenis Ikan Konsumsi yang ada antara lain Cakalang (Scomberomorus sp.), Tuna
(Tuna salbatoru), Tongkol (Karsuwonus sp.), Layang (Decapterus sp.), Bambangan (Lutjanus
sp.), Kuwe (Caranx sp.), Selar (Selar sp.), Belanak (Mugil sp.), Ekor Kuning (Caesio sp.),

Lemuru (Sardinella sp.), Manyung (Tachysurus sp.), Lencam (Lethrinus sp.), Kakap (Lates sp.),
Cumi-cumi (Eutherynus sp.), Gurita (Octopus sp.) dan Ubur-ubur (Rhopilana sp.).
Moluska, secara garis besar hewan lunak yang ada dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis,
yaitu Gastropoda dan Palecypoda. Beberapa jenis Moluska yang ditemukan merupakan biota
yang dilindungi, seperti Kima Raksasa (Tridacna gigas), Kima Sisik (T. squamosa), Kima Kecil
(T. maxima), Kima Tapak Kuda (Hippopus hippopus), Kepala Kambing (Cassis cornuta), Siput
Hijau (Turbo marmoratus) dan Troka (Trochus niloticus).
Rumput laut, jenis-jenis Sea Grass yang ditemukan antara lain Caulerpa taxifolia,
Eucheuma spp., Gelidium sp., Gracilaria spp., Halimeda sp., Hypnea sp., dan Turbinaria sp.
Sedangkan untuk jenis Gracillaria sp., Eucheuma sp., dan Hypnea sp. merupakan jenis rumput
laut yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi.
Echinodermata, jenis-jenis hewan berkulit duri yang ditemukan antara lain Teripang
(Holothuria Atra, H. Argus Impatiens, H. Scaraba. H. Vagabunda, Mueliria Lecanora, Stichopus
Ananas), Bulu Babi (Diadema setosum, Diadema sp.), Bintang Laut Putih dan Bintang Laut Biru,
serta Bintang Bantal.
Crustacea, jenis Udang-udangan yang ditemukan antara lain Charybdis Cruciata,
Panulirus Dasyprus, P. Versicolor (Udang Barong), Portunus Pelagius, Phodopthalmus sp., dan
Thalamita Danae.
Jenis satwa air lain yang dapat dijumpai adalah Penyu Hijau (Chelonia midas) dan Penyu
Sisik (Eretmochelys imbricata).
Sedangkan di Taman Nasional Komodo, bentang perairan di kawasan ini memang punya
daya pesona luar biasa dalam menurut hati para wisatawan pemuja keindahan bawah laut. Paling
tidak, kawasan ini yang memiliki bentang laut seluas 132.572 hektar ini di dalamnya menyimpan
1.000 jenis Ikan, 260 jenis Karang dan 70 jenis Bunga Karang (Sponge) yang didominasi jenis
Acropora spp.

Berbagai jenis ikan karang dengan gradasi warna menarik hidup di sini, seperti
Chaetodon spp, Amychiprion spp dan jenis langka Chelinus undulatus. Pesona keindahan alam
bawah laut itu makin sempurna, mengingat perairan Taman Nasional Komodo juga merupakan
jalur migrasi lima jenis ikan Paus, 10 jenis Ikan Lumba-lumba dan Duyung. Selain itu Terumbu
Karang di perairan Taman Nasional Komodo termasuk yang terindah dan terkaya di dunia
dengan tingkat kerusakan yang relatif kecil. Berjenis-jenis Ikan Karang dengan gradasi warna
yang indah-indah ada di dalamnya yang siap memuaskan para wisatawan yang menggandrungi
keindahan alam bawah laut.
Hal serupa juga bisa ditemui di perairan laut Pulau Menjangan yang juga merupakan
Diving atau Snorkling. Berjarak 500 meter arah Barat dari Pos Satu. Daerah ini baik sekali untuk
scuba diving, namun penyelam harus menguasai betul teknik penyelaman, mengingat arusnya
yang kuat. Karangnya tumbuh subur, baik dari jenis karang keras Millephora Sp., maupun karang
lunaknya. Karena lokasi ini sebagai daerah lintasan ikan-ikan besar, disini dapat menikmati
atraksi alami dari Ikan Lumba-lumba. Kalau beruntung, dibagian yang berpasir putih dapat
dijumpai pula salah satu jenis Penyu yang ada.
Berjarak 600 meter arah utara dari Pos Satu terdapat bangkai kapal yang kini telah penuh
denagn karang. Pertumbuhan karangnya sangat baik mulai dari tempat datar, curam sampai
dalam. Yang menarik adalah Acrophora Sp., karena ukurannya dapat mencapai garis tengah 75
cm.
Sedangkan di bagian Utara Pulau Menjangan, warna karangnya sangat indah. Adanya
asosiasi dengan biota laut lainnya, antara lain dengan Ikan Karang, Crinoid, Cacing Laut dan
Kima, maka menjadikan tempat ini sungguh mengesankan. Arus air lautnya cukup deras,
sehingga memberi pengaruh positif bagi kehidupan biota laut ditempat ini.
Sedangkan dibelakang Pos Dua, ditumbuhi oleh jenis karang campuran dari berbagai
bentuk antara lain Meja, Cendawan, Tanduk dan Selimut. Ada juga Ikan Hias yang terdapat
disana antara lain Bath fish, Clown fish, Ampripion dan Parrot fish.
Untuk Ikan Badut sendiri atau sering disebut dengan Clown Fish, memang punya ciri
khas yang paling menarik, badannya dihiasi dengan warna-warna cemerlang. Ikan badut hidup di

cabang-cabang karang yang mirip pohon yang disebut sebagai Anemon Laut. Ada kapsul-kapsul
beracun pada cabang-cabang anemon laut yang akan membuat ikan yang menyentuhnya terluka
atau mati. Namun Ikan badut tidak pernah terluka oleh Anemon Laut ini. Bahkan mereka
bersembunyi di balik cabang-cabang tersebut yang membuatnya aman dari pemangsa. Ada cairan
yang khusus di badan ikan badut ini yang melindunginya dari gigitan Kapsul Anemon Laut.
Tidak seperti ikan-ikan lainnya, Ikan Badut ini dapat mengeluarkan cairan yang melindunginya
dari racun di sekitar tempat hidupnya. Saat berada dalam bahaya, ia secara cepat bersembunyi di
antara kapsul-kapsul beracun tersebut.
Memang menyelam ke dasar laut seolah-olah memasuki hutan belantara bawah laut.
Berbagai jenis karang keras maupun lunak yang hidup berkoloni ataupun soliter membentuk
seperti tajuk pepohonan. Dasar laut yang rata, landai, dan yang berupa cekungan membentuk
ngarai-ngarai dengan dinding terjal bergua-gua.
Warna-warni karang tumbuh menjulang di dasar laut seperti tajuk-tajuk pohon hutan yang
rimbun. Berbagai jenis ikan warna-warni melayang-layang di atas hamparan terumbu karang
sehingga terlihat indah sekali. Namun berhati-hatilah jangan sampai tersengat Karang Api,
terkena Racun Sirip Ikan Lepu atau bahkan diserang Ikan Barakuda atau Hiu Ganas.
Karang Keras terbentuk oleh binatang-binatang kecil dan berumah sekeras batu karena
tersusun dari lapisan kapur (kalsium karbonat). Berbeda dengan karang lunak yang lembek
dengan nematosit untuk melumpuhkan mangsa. Dari bentuknya, ada Karang Bercabang-cabang,
Karang Padat, Karang Kerak, Karang Meja, Karang Daun yang berlembar-lembar, dan Karang
Jamur, dengan bermacam-macam ikan yang melintas di atasnya.
Seperti halnya di darat, di bawah sana juga terdapat kehidupan siang dan malam. Karang
"siang" nampak indah pada siang hari. Misalnya jenis Goneophora sp., yakni jenis karang keras
dengan tentakel (tangan) yang pada siang hari menjulur dan aktif menangkap plankton-plankton
untuk dimangsa. Saat malam tiba, tentakel-tentakel itu disembunyikan di balik mangkuknya.
Sementara ada karang yang bila disorot lampu di malam hari kelihatan biru menyala. Karang
lunak Nepthya sp. lebih aktif pada malam hari. Millepora sp., jenis karang ini seakan-akan
menyala pada bagian ujungnya.

Anemon yang memiliki zat beracun memang dekat dengan Ikan Anemon (Amphiprion
sp.). Ikan-ikan kuning oranye dengan strip putih vertikal suka berenang di antara tentakel
anemon. Di dasar laut berpasir nampak binatang merayap berbentuk bintang merah dan biru.
Bintang laut biru (Linckia laevigata) juga bisa ditemui di perairan dangkal dan kelihatan jelas
bila air surut. Hampir tidak dikenali, sejenis ikan mirip Ikan Sapu-sapu besar (Orectolobidae)
yang bersembunyi di bawah karang. Cacing Laut dan macam-macam Udang warna-warni
biasanya merayap pelan di celah-celah dasar karang.
Sementara itu Ikan Kupu-kupu yang warna-warni indah akan terlihat menari-nari di selasela karang. Ikan jenis ini kebanyakan hidup di Terumbu Karang dan beberapa mampu
beradaptasi di perairan yang hangat dan dalam. Namun ikan-ikan ini paling banyak
terkonsentrasi di Terumbu Karang di perairan Indonesia. Misalnya, Chaetodon Burgessi yang
bergaris-garis hitam, C. Ocellicandus dengan totol di bagian ekornya, dan C. Melannotus dengan
bagian punggung hitam.
Tingginya kadar garam dan bertambahnya kedalaman menjadikan air nampak keruh dan
gelap. Di cekungan dasar laut yang lebih dalam, biasanya akan terlihat serombongan ikan besar
kecil, termasuk jenis Ikan Emperor (Lethrinus microdon) yang bersisik putih mengkilap keperakperakan.
Alga yang terdapat di dalam laut tidak terhitung jenisnya ada yang berwarna hijau, merah,
merah kecoklatan dan lain-lain. Jenis Bunga Karang (Porifera) juga berwarna-warni, antara lain,
Stylotella Aurantium yang bentukny seperti rumah tawon atau Acanthella Klethra yang mirip
rumah rayap yang berwarna kuning.
Di balik keindahan sosok makhluk laut tidak sedikit yang beracun, adakalanya
mengakibatkan luka fisik, bahkan bisa juga mematikan. Karang api contohnya, Karang ini bisa
melepuhkan kulit jika tersentuh. Tidak hanya itu, ikan yang bentuknya aneh pun bisa jadi
beracun. Misalnya Ikan Lepu yang menyamar di bawah karang yang keras, ia akan mengeluarkan
racun yang berbahaya bila siripnya yang berumbai-rumbai tersentuh.
Ikan jenis ini banyak hidup di perairan tropis Indo-Pasifik dari Afrika Selatan sampai
Pasifik Barat, termasuk juga Asia Tenggara. Mereka hidup pada kedalaman 1 hingga 50 m.

Biasanya di dapat ditemukan di gua atau dekat kepala karang. Ikan Lepu ini ada juga yang
berlurik seperti Zebra, namun ada juga yang berwarna gelap.
Selain jenis ikan, ada pula jenis ular misalnya Ular Laut Belang Putih Hitam (Laticauda
sp.). Ia melayang gemulai di dalam air yang kemudian bersembunyi di lubang karang. Ular ini
sensitif selagi musim kawin dan akan menyerang bila diganggu dan kabarnya, kekuatan bisanya
melebihi King Cobra.
Ada juga Ikan Hiu Kepala Martil yang tergolong jenis ikan ganas. Dari 250 hingga 300
jenis hiu, terdapat 10 sampai 15 jenis ikan hiu dengan tipe menyerang. Dengan sensor getar di
dekat moncong hidungnya, ikan hiu mampu mencium bau darah dari jarak berkilo-kilo meter.
Ada juga Ikan Barakuda yang menyukai benda-benda mengkilap dan tanpa basa-basi akan
langsung menyergap, berbeda dengan ikan hiu yang mengitari calon mangsanya sebelum
menyerang.
Yang juga bisa dilihat dari perairan di daerah untuk Diving atau Snorkling adalah
Teripang, Kima (sejenis Kerang Raksasa), Penyu, dan Kepiting Kenari atau Kepiting Kelapa
(Birgus latro). Selain itu Padang Lamun dan Rumput Laut juga dapat kita temukan. Padang
Lamun dan Rumput Laut merupakan jenis-jenis tumbuhan laut. Rumput laut tidak seperti
ganggang, mereka memiliki akar dan menghasilkan biji, sehingga dapat membentuk hamparan
luas yang merupakan tempat ikan bertelur dan berkembang. Habitat Lamun dan Rumput Laut
merupakan habitat bagi jenis Ikan Duyung dan Penyu Laut.

II.

Biota Laut Yang Bermanfaat Sebagai Obat


Semakin banyaknya bibit penyakit yang kebal terhadap obat kimia atau antibiotika,

mendorong para peneliti farmasi dan kedokteran mencari sumber obat alternatif. Lautan ternyata
memiliki potensi besar, bagi penemuan unsur aktif baru. Jika sebelumnya diyakini manusia
mampu mengatasi tantangan mikro organisme pemicu penyakit, kini semakin disadari bahwa
bibit penyakit tetap selangkah lebih unggul. Buktinya, sejak ditemukan tahun 80-an lalu,
penyakit HIV/AIDS hingga kini tetap belum dapat disembuhkan. Sebaliknya, semakin banyak
bibit penyakit konvensional, yang kini kebal bermacam antibiotika. Juga masih banyak penyakit
kanker yang berakibat pada kematian.

Karena itulah, pencarian unsur aktif alternatif semakin digalakkan. Terutama kini para
ahli melirik biota laut, sebagai sumber unsur aktif bagi obat-obatan. Alasannya, sudah banyak
sumber unsur bio-aktif di daratan yang didata dan diteliti. Sementara lautan ibaratnya wilayah
yang masih terlupakan. Para peneliti mengakui, sampai beberapa tahun lalu, lebih banyak
memiliki data penelitian Bulan atau Mars ketimbang hasil penelitian kelautan, padahal diyakini
potensi kelautan amatlah luas.

III.

Sistem pertahanan bio-kimia

Mahkluk-makhluk di lautan amat menarik perhatian para peneliti. Banyak yang tidak
memiliki senjata, semacam gigi yang kuat atau panser pelindung seperti pada kura-kura.
Kelihatannya makhluk hidup di lautan ini dipasrahkan begitu saja kepada pemangsa. Namun,
setelah diteliti lebih lanjut, banyak makhluk hidup di lautan yang kelihatannya tidak berdaya
ternyata memiliki sistem pertahanan yang cukup ampuh. Dengan memproduksi bahan kimia atau
racun tertentu, makhluk hidup semacam ganggang, keong laut, spons, kerang atau
terumbu karang, dapat mempertahankan diri secara efektif. Sejauh ini, para peneliti sudah
meneliti lebih dari 10.000 jenis unsur bio-aktif dari biota laut. Banyak yang kemudian
dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuat obat. Misalnya saja unsur aktif Aciclovir yang
berasal dari sejenis spons, yang kini secara luas digunakan sebagai obat herpes. Aciclovir
termasuk kelompok unsur aktif Nukleosid-Analog, yang bekerja menon-aktifkan polymerase
DNA virus herpes. Demikian juga unsur aktif Pseudo-pterosin yang berasal dari sejenis terumbu
karang, kini unsur aktifnya secara luas digunakan sebagai krim pelindung kulit, untuk
mengurangi pembengkakan akibat sengatan matahari.

IV.Mirip imunitas manusia


Dewasa ini, para peneliti dari 10 lembaga penelitian terkemuka Jerman, bergabung untuk
meneliti khasiat unsur aktif dari biot laut dalam lembaga yang diberi nama BIOTEC. Terutama
berbagai jenis spons dan terumbu karang amat menarik perhatian. Sejak 600 juta tahun lalu,
spons di lautan bertahan hidup, dengan mengembangkan sistem kekebalan tubuh canggih, yang
ternyata mirip sistem kekebalan tubuh manusia. Spons atau terumbu karang ini dapat hidup
sampai 3.000 tahun. Unsur aktif yang diproduksinya, terutama ampuh untuk melawan

peradangan, penghambat pertumbuhan serta memberantas jamur. Berbagai unsur bio-aktif dari
spons atau terumbu karang itu, merupakan potensi besar untuk pengembangan obat-obatan baru.
Misalnya saja, unsur aktif penghambat pertumbuhan sejenis terumbu karang pengganggu,
terbukti dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Namun seperti diketahui, untuk
mengembangkan obat-obatan yang aman, dari unsur aktif yang ditemukan, bukan soal mudah.
Selalu diperlukan waktu cukup lama, dan tentu saja biaya cukup besar, untuk membuat unsur
aktif alami itu benar-benar bermanfaat bagi pengobatan. Selain khasiatnya, tentu saja harus
diteliti dampak sampingannya.
Selain itu, untuk penelitian laboratorium, diperlukan unsur aktif dalam jumlah cukup
besar, yang biasanya tidak diproduksi di alam. Terlepas dari berbagai kesulitan prosedur
semacam itu, para ahli farmasi dan peneliti kedokteran terus mengumpulkan data unsur aktif
biota laut. Penyebabnya, penelitian untuk menemukan obat-obatan ampuh dari lautan, ibaratnya
berlomba dengan kerusakan lingkungan. Dalam beberapa dekade ini, pengrusakan terumbu
karang atau panen spons, baik untuk kebutuhan industri atau perikanan, berlangsung dalam laju
yang mencemaskan. Belum lagi kematian massal terumbu karang akibat perubahan iklim global.

V. Penemuan Conotoxin
Dalam lomba adu cepat itu, belum lama ini para peneliti melaporkan, berhasil
mengembangkan obat pembunuh rasa sakit, yang jauh lebih kuat dari Morphin, tetapi hampir
tanpa dampak sampingan kecanduan. Unsur aktifnya berasal dari racun sejenis keong laut
keluarga Conidae. Sejak lama diamati, keong laut ini walaupun bergerak lebih lamban dari ikan
mangsanya, selalu berhasil melumpuhkan mangsa yang bergerak lebih cepat. Rahasianya terletak
pada moncongnya yang mampu menembakkan jarum beracun. Mangsanya akan lumpuh atau
mati akibat racun tersebut.
Selain mangsanya, juga manusia kini semakin sering diserang oleh keong laut.
Penyebabnya, wisata kelautan kini semakin meningkat. Dengan akibat, semakin banyak manusia
memasuki wilayah perburuan keon laut. Jika merasa terganggu, secara instiknt keong laut akan
membela diri dengan menembakan jarum beracunnya. Memang pada manusia sengatan keong

laut ini amat jarang menimbulkan kematian. Gejala umum yang muncul akibat racung ekong laut
Conidae, antara lain, rasa terbakar hebat, pusing-pusing, merasa lumpuh atau tidak lagi dapat
menggerakan anggota badan sampai yang paling fatal tentu saja kematian.

VI.

Pengganti Morphin

Ternyata racun dari keong laut tsb, merupakan senyawa yang amat kompleks. Unsur
aktifnya yang diberi nama Conotoxin, paling sedikit memiliki tujuh jenis racun yang berbeda
sifatnya. Masing-masing racun, terdiri dari 12 sampai 30 asam amino yang membentuk rantai
Peptida. Yang disebut alpha Conotoxin misalnya, menyerang jaringan saraf, dan menyebabkan
kelumpuhan atau kematian. Myu, Delta, Kappa dan Omega Conotoxin
bekerja secara berbeda-beda, namun terutama memblokir kanal Natrium di otot, dan
menyebabkan terganggunya fungsi otot. Sementara racun lainnya yang dijuluki
peptida King Kong, juga berfungsi melumpuhkan sistem saraf, dengan memblokir kanal ion dan
reseptor saraf.
Dengan diketahuinya sifat masing-masing peptida dari Conotoxin itu, para peneliti mulai
mengembangkannya untuk obat-obatan. Delta Conotoxin misalnya, diketahui berfungsi
memblokir kanal ion Kalsium pada reseptor saraf. Dalam ujicoba pada tikus di laboratorium,
suntikan Delta Conotoxin ke saraf tulang belakangnya dalam dosis tertentu, terbukti mampu
memutus sinyal rasa nyeri ke otak. Yang amat menarik, penggunaan terus menerus Delta
Conotoxin, tidak menimbulkan rasa kecanduan atau ketagihan. Dari hasil ujicoba itu, diyakini
Conotoxin dapat dijadikan pengganti Morphin. Unsur penghilang rasa sakit Morphin memang
terbukti keampuhannya selama ini. Akan tetapi memiliki dampak negatif, yakni rasa ketagihan.
Hal ini terjadi akibat tubuh mengembangkan toleransi terhadap Morphin. Akibatnya, untuk
mencapai efek pengobatan yang sama, diperlukan dosis Morphin yang harus terus ditingkatkan.
Karena itulah, sejak tahun 1996 ujicoba unsur Conotoxin kepada manusia mulai dilakukan.
Diharapkan, dalam waktu beberapa tahun lagi, obat penghilang rasa sakit Conotoxin yang 40 kali
lebih kuat dari Morphin, sudah dapat dipasarkan.

VII. Khasiat Teripang


Binatang yang dalam bahasa inggrisnya dikenal dengan Sea Cucumber ini selain enak
dimakan juga tanpa kita sadari ternyata memiliki manfaat yang menakjubkan bagi kesehatan.
Penelitian yang dilakukan di beberapa universitas di Malaysia selama beberapa tahun
menunjukkan bahwa teripang dapat melancarkan peredaran darah, melancarkan fungsi ginjal,
meningkatkan kadar metabolisme, menyembuhkan nyeri persendian, antiseptik luka, kencing
manis/diabetes, hipertensi, mencegah penyumbatan kolesterol pada pembuluh darah, gangguan
pencernaan, pernafasan, anemia dan bahkan dapat digunakan untuk mengatasi penyakit jantung.
Penggunaan teripang sebagai antiseptik tradisional dan obat serbaguna untuk berbagai
penyakit sudah dikenal sejak 500 tahun lalu oleh masyarakat pulau Langkawi, Malaysia. Air
teripang biasanya diminumkan kepada ibu-ibu yang habis melahirkan untuk menghentikan
pendarahan, atau juga untuk mempercepat proses penyembuhan luka pada anak-anak mereka
yang habis dikhitan.
Dari hasil penelitian para ilmuwan, teripang dianggap memiliki kandungan Cell Growth
Factor atau factor generasi sel. Karena itu, teripang mampu merangsang regenerasi sel dan
jaringan tubuh manusia yang telah rusak, sakit bahkan membusuk, sehingga dapat menjadi
normal kembali. Misalnya pada kasus diabetes mellitus, selain diminum teripang juga dapat
dioleskan pada luka yang sudah membusuk, bahkan yang nyaris diamputasi. Ini menunjukkan
bahwa kandungan yang ada pada teripang mampu bekerja dengan baik sehingga luka dapat pulih
kembali dengan cepat. Hal ini dikuatkan oleh Dr.Ir. Ahkam Subroto,M.App Sc dari LIPI, yang
menyatakan bahwa kandungan protein tinggi pada teripang yang mencapai 86 % baik untuk
diberikan pada penderita diabetes. Protein tinggi berperan meregenerasi sel beta pankreas yang
memproduksi insulin. Hasilnya, produksi insulinpun meningkat.
Tentang khasiatnya untuk penyembuhan penyakit jantung dikemukakan oleh dua orang
peneliti yaitu Prof. Zaiton Hassan dari Universitas Putra Malaysia dan MA Kaswandi dari
Universitas Kebangsaan Malaysia. Mereka menyatakan bahwa kandungan asam docosahexanat
(DHA) pada teripang bisa menurunkan trigliserida darah penyebab penyakit jantung. Hal ini

telah dibuktikan ketika meneliti kandungan asam lemak teripang stichopus chloronotus, hasilnya
kandungan DHA teripang relatif tinggi, yaitu 3,69 %.
Lebih jauh, Prof.Dr.Hassan Yaakob, Phd dari Universitas Malaysia dalam sebuah
penelitiannya menyebutkan bahwa teripang dapat meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi
rasa sakit dan gatal pada permukaan kulit, menurunkan kadar gula, menurunkan kolesterol,
merontokkan racun pada hati, menurunkan tekanan darah, melancarkan peredaran darah,
menyembuhkan maag, serta dapat menyembuhkan asma kronis. Selain itu teripang juga dapat
digunakan untuk bahan perawatan kecantikan dan penyembuh luka bagi para ibu usai bersalin,
karena kandungan protein dan kolagen teripang yang tinggi.
Khasiat Rumput Laut
Beragam hasil olah rumput laut dapat dijumpai di pasaran, mulai dari yang kering,
bubukmaupun yang segar. Berikut beberapa diantaranya:
- Nori: Nori dibuat dari rumput laut yang dihaluskan. bubur rumput laut ini kemudian
dihamparkan dengan ketebalan yang sangat tipis. Proses selanjutnya dikeringkan sehingga
bentuknya lembaran menyerupai kertas. Nori banyak digunakan pada masakan Jepang, mulai
dari pembungkus sushi, udang gulung atau rollade goreng. Pilih nori yang lentur, kering dan
warnanya hitam mengkilat.
- Kombu dan Wakame Sejenis ganggang laut yang dikeringkan. Kombu adalah bahan dasar
membuat kaldu pada masakan Jepang. Setelah direbus kuahnya untuk kaldu dan kombunya
digunakan untuk isi soup, salad atau tumisan. Sedangkan wakame, bentuknya hampir menyerupai
kombu, biasanya digunakan untuk campuran salad, isi soup atau campuran mie. jangan merebus
wakame lebih dari satu menit untuk mendapatkan citarasa yang maksimal.
- Manisan Rumput Laut Diperoleh dari rumput laut segar, kemudian dicuci, direbus dan diolah
dengan larutan gula sebagai pengawetnya. Citarasanya menyegarkan dan teksturnya kenyal juga
renyah, sangat cocok untuk campuran es, pudding dan aneka dessert.

- Agar-agar Proses membuat agar-agar sangat panjang. Tahap pertama pemilihan jenis
rumput laut yang akan digunakan, yaitu jenis gracilaria sp atau gelidium sp. Slanjutnya proses
pemecahan dinding sel, pemasakan(ekstrasi) sampai pada pengeringan. Dipasaran banyak
dijumpai agar-agar dalam aneka bentuk, baik yang batangan maupun serbuk.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa rumput laut adalah bahan pangan
berkhasiat, berikut beberapa diantaranya:
- Antikanker Penelitian Harvard School of Public Health di Amerika mengungkap, wanita
premenopause di Jepang berpeluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan
wanita Amerika. Hal ini disebabkan pola makan wanita Jepang yang selalu menambahkan
rumput laut di dalam menu mereka.
- Antioksidan Klorofil pada gangang laut hijau dapat berfungsi sebagai antioksidan. Zat ini
membantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahaya bagi tubuh.
- Mencegah Kardiovaskular Para Ilmuwan Jepang mengungkap, ekstrak rumput laut dapat
menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Bagi pengidap stroke, mengkonsumsi
rumput laut juga sangat dianjurkan karena dapat menyerap kelebihan garam pada tubuh.
- Makanan Diet. Kandungan serat(dietary fiber) pada rumput laut sangat tinggi. Serat ini bersifat
mengenyangkan dan memperlancar proses metabolisme tubuh sehingga sangat baik dikonsumsi
penderita obesitas. Karbohidratnya juga sukar dicerna sehingga Anda akan merasa kenyang lebih
lama tanpa takut kegemukan.
Khasiat Kuda Laut
Selama berabad-abad orang China mempercayai khasiat kuda laut sebagai obat untuk
menyembuhkan berbagai macam penyakit, bisa penyakit luar maupun penyakit dalam, bahkan
menyembuhkan berbagai penyakit ringan, hingga yang sulit disembuhkan.
Pengobatan ala satwa bernama latin Hippocampus sp ini didasari oleh keseimbangan antara yin
dan yang. Ini diperkuat dari sumber kitab pengobatan masa Dinasti Ming (1368-1644) dahulu.

Kuda laut dipercaya berkhasiat untuk memperkuat yang. Beberapa penyakit yang konon
dapat disembuhkan oleh kuda laut, antara lain penyakit kulit, peradangan, gangguan pencernaan,
gangguan pernafasan, gangguan jantung dan sistem peredaran darah, penyakit syaraf dan
gangguan fungsi otak, gangguan hati dan ginjal, penurunan sistem imun, dan sebagainya.
Kadang kuda laut juga dikonsumsi masyarakat sebagai tonik untuk memulihkan
kesehatan, menjaga stamina, dan vitalitas tubuh. Salah satu guna kuda laut yang paling terkenal
dan diminati merupakan fungsi afrodisiak. Fungsi tersebut dikenal dapat meningkatkan gairah
dan kemampuan seksual baik pada pria maupun wanita.
Sayangnya hingga saat ini belum banyak dilakukan penelitian, yang dapat menyediakan bukti
ilmiah mengenai khasiat kuda laut tersebut. Hal ini hanya menjadi mitos saja.
Dari beberapa penelitian yang dipublikasikan, seperti penelitian yang dilakukan Laksmindra
Fitriyana dari Laboratorium Fisiologi Hewan, Fakultas Biologi UGM, diketahui pemberian
ekstrak kuda laut dalam dosis tertentu dan kisaran waktu tertentu dapat meningkatkan
spermatogenesis dan memperbaiki kualitas spermatozoa mencit jantan. Terlihat juga adanya
perubahan perilaku mencit yang menjadi lebih agresif setelah pemberian ekstrak ini. Hasil
observasi ini memberi informasi bahwa kuda laut mempengaruhi sistem reproduksi secara
hormonal.

VIII. MENGELOLA SUMBER DAYA LAUT


Berbagai komponen terkait dalam sistem kelautan Indonesia perlu dikelola dengan
optimal dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan, produktifitas
ekonomi, dan kondisi politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan bangsa.
Kelestarian laut Indonesia
Kenyataan menunjukkan bahwa dalam periode terakhir ini sumberdaya laut Indonesia
terancam kelestariannya dengan berbagai permasalahan. Permasalahan utama diantaranya adalah
pencurian dan eksploitasi ikan besar-besaran, kerusakan terumbu karang, menipisnya cadangan
minyak bumi, sengketa batas dengan negara tetangga dll.
Keterbaharuan sumberdaya laut pun merupakan hal yang relatif, seperti telah
disampaikan oleh Venema (1996) bahwa populasi ikan yang berada pada wilayah perairan
dengan kondisi tangkap kurang (underfished) umumnya terdiri dari kelompok umur tua dan
sangat tua yang proses pergantiannya membutuhkan waktu lama dan penambahan kapal ikan
yang lebih banyak pada saat yang bersamaan akan menyebabkan kerusakan yang tidak bisa
dipulihkan.
Pasang surut kejayaan kelautan di Nusantara menunjukkan dengan bukti-bukti bahwa
keadaan alam merupakan faktor yang relatif permanen, sementara keadaan manusia merupakan
faktor variabel (YPMI 2004). Dengan potensi alami kelautan yang sangat besar, pasang-surut
pengelolaan laut Indonesia lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor variabel keadaan manusia yang
relatif mudah berubah dibandingkan faktor-faktor keadaan alam. Karakterisasi faktor tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Keadaan (kuantitas dan kualitas) alam yang ditentukan oleh faktor-faktor:
a)

posisi geografis (nilai strategis lokasi)

b)

keadaan fisik (kekayaan sumberdaya alam dan iklim);

c)

cakupan teritori (luas laut, panjang garis pantai, jumlah dan luas pulau)

2. Keadaan (kuantitas dan kualitas) manusia yang ditentukan oleh faktor-faktor:


a)

populasi atau jumlah penduduk

b)

karakter manusia

c)

karakter pemerintahan.

Pasang-surut Daya Maritim Indonesia tercermin dari lintasan sejarahnya. Pemerintahan


Sriwijaya, Majapahit, atau Hindia-Belanda telah berhasil memanfaatkan posisi dan kondisi
geografis Indonesia. Kebergantungannya pada perdagangan maritim dan sumberdaya laut setara
dengan kebijakan dan persepsi pemerintahan. Pada gilirannya muncul masa kejayaan maritim
karena timbulnya kekuatan ekonomi dan teknologi maritim, yang didukung oleh kultur sosial
politik memadai. Pemerintahan Mataram dan Orde Baru tidak memiliki persepsi dan kebijakan
yang setara dengan potensi sumberdaya kemaritiman Indonesia, sehingga dunia maritim terpuruk
dan tidak produktif. Kondisi daya maritim yang berubah-ubah tersebut adalah suatu keniscayaan,
karena perubahan peran faktor-faktor yang menentukan 2 (dua) tahapan kondisinya, yaitu:
1.

Kondisi Awal yang banyak dipengaruhi keadaan alam dan usaha manusia dalam

pemanfaatan dan pengaturannya, sehingga ditentukan oleh faktor-faktor:

2.

a)

posisi dan kondisi geografis,

b)

kebergantungan pada perdagangan maritim dan sumberdaya laut,

c)

kebijakan dan persepsi pemerintah dalam hal:

d)

peraturan perundangan dan penegakan hukum

e)

peningkatan sumberdaya (pendidikan)

Kondisi Lanjut yang merupakan perkembangan yang dipengaruhi semata-mata

oleh usaha manusia, sehingga ditentukan oleh faktor-faktor:


a)

kekuatan ekonomi maritim,

b)

kemajuan teknologi maritim

c)

kultur sosiopolitik terkait

Saat ini Daya Maritim Indonesia belum bisa disebut telah mencapai kondisi tahap awal.
Sekalipun memiliki posisi dan kondisi geografis yang sangat strategis, namun perdagangan
maritim dan pemanfaatan sumberdaya laut bangsa Indonesia belum signifikan. Hal ini
disebabkan tidak berperannya faktor ketiga, yaitu kebijakan dan persepsi pemerintah dalam hal
peraturan perundangan dan penegakan hukum maritim serta penyiapan sumberdaya manusia
maritim Indonesia. Tanpa pembenahan dan penguatan faktor hukum dan sumberdaya manusia
maritim, Indonesia tidak akan pernah memiliki daya maritim.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.berita8.com/news.php?tgl=2009-05-25&cat=6&id=11285
http://blogs.unpad.ac.id/vikkyarindi/2010/06/02/budidaya-kuda-laut/
http://www.dkp-banten.go.id/news/?p=39
http://budiboga.blogspot.com/2006/05/manfaat-rumput-laut-cegah-kanker-dan.html
http://www.indosiar.com/program/ragam/41707/berbagai-jenis-biota-laut
http://wibowo19.wordpress.com/2009/08/26/301/
http://wibowo19.wordpress.com/2009/08/26/301/