Anda di halaman 1dari 19

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN

KECAMATAN BUNGKU TENGAH KABUPATEMOROWALI


MENGGUNAKAN METODE GIS

Oleh :

SYAHRUL
45 07 042 008

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS 45 MAKASSAR
2013

Nama Penyusun
Stambuk
Judul Skripsi

ABSTRAK
: SYAHRUL
: 45 07 042 008
: Arahan Pengembangan Kawasan Permukiman
Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten Morowali
Menggunakan Metode GIS

Kawasan permukiman merupakan kawasan yang penting untuk


direncanakan dalam pemanfaatan lahan. Hal ini dikarenakan kebutuhan
lahan permukiman akan meningkat seiring dengan pertambahan penduduk,
pembangunan dan perkembangan wilayah serta dukungan sarana prasarana
trasnportasi yang ada sebagai pemacu pertumbuhan guna lahan
permukiman. Penelitian ini bertujuan (1) Mengetahui kondisi kesesuaian
lahan untuk pengembangan kawasan permukiman di Kecamatan Bungku
Tengah Kabupaten Morowali (2) Mengetahui potensi dan arahan
pengembangan kawasan permukiman di Kecamatan Bungku Tengah
berdasarkan aspek fisik alami dengan menggunakan GIS.
Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dan didukung oleh deskriptif
kualitatif, penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bungku tengah Kabupaten
Morowalli, pengumpulan data dilakukan melalui observasi di Kecamatan
Bungku Tengah. Data dianalisis menggunakan analisis superimpose yang
meliputi metode tumpang susun peta (overlay peta) dan pembobotan
(skoring) menggunakan perangkat lunak ArcGIS.
Hasil penelitian menunjukkan Kondisi kesesuaian lahan untuk
pengembangan kawasan permukiman di Kecamatan Bungku Tengah
Kabupaten Morowali sangat sesuai untuk dikembangkan yang terletak
disepanjang pesisir Kecamatan Bungku Tengah dan Potensi dan arah
pengembangan kawasan permukiman di Kecamatan Bungku Tengah
berdasarkan aspek fisik alami yang di analisis menggunakan GIS
menunjukan potensi yang besar berdasarkan kesesuaian lahannya dan arah
pengembangan kawasan permukiman yang sangat sesuai berada di Desa
Bente, Desa Bahomohoni, Desa Bahomoleo, Desa Lanona, Desa
Bahomante, Desa Ipi, Desa Bahoruru, dan Desa Matansala.
Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Kawasan Permukiman, GIS

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sulawesi Tengah merupakan salah satu propinsi yang ada di negara
kesatuan republik Indonesia mempunyai ruang wilayah yang cukup potensi
untuk di kembangkan baik bagi kepentingan nasional maupun kepentingan
daerah. Apabila pemanfaatan ruang itu tidak di atur dengan baik, maka
kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan
kualitas ruang.oleh karna itu di perlukan penataan ruang sebagai proses
perencanaan

tata

ruang,

pemanfaatan

ruang,

dan

pengendalian

pemanfaatan ruan yang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisah
dengan yang lainnya.
Dalam pasal 14 ayat 2 undang-undang No 26 tahun 2007 tentang
penataan ruang di tetapkan bahwa rencana tata ruang di bedakan atas :
1. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
2. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi
3. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota
Kabupaten Morowali adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi
Sulawesi Tengah yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Poso
pada 3 November 1999 berdasarkan UU RI. No. 51 Tahun 1999 tentang
Pembentukan Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali, dan Kabupaten

Banggai Kepulauan. Ibu kota kabupaten terletak di Bungku (sebelumnya


pernah dipindahkan sementara hingga tahun 2005 ke Kolonedale).
Kota Bungku sebagai ibukota Kabupaten Morowali saat ini telah
memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan kawasan fungsional yang
sangat signifikan. Pertumbuhan ini sangat besar dipengaruhi oleh berbagai
aktivitas masyarakat (sosial-ekonomi) dan kegiatan pemerintahan, sehingga
membentuk kantong-kantong pertumbuhan baru. Dalam upaya pemenuhan
pelayanan

kepada

masyarakat,

proses

pembangunan

yang

sedang

dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Morowali sementara ini memang lebih


banyak berorientasi pada kebutuhan fisik. Berbagai perkembangan kegiatan
perkotaan

telah

telah

dialokasi

secara

khusus

termasuk

kawasan

permukiman.
Untuk mengantisipasi perkembangan pemanfaatan ruang yang semakin
pesat di Kecamatan Bungku Tengah, maka diperlukan arahan dan
penyediaan lahan yang baik untuk pengembangan pembangunan kawasan
permukiman

di

masa

yang

akan

datang.

Kesesuaian

lahan

bagi

pengembangan permukiman perlu untuk memperhatikan kondisi fisik lahan


secara menyeluruh, dalam berbagai pertimbangan guna terciptanya suatu
lingkungan perkotaan yang tertata, serasi, dan berkesinambungan dan tidak
terlepas dari kebijaksanaan tata ruang, Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
dan pola tata guna lahan yang ada.

Salah satu upaya mengidentifikasi kesesuaian lahan yang efisien dan


terkendali diperlukan instrumen yang mampu mempercepat analisis untuk
mendapatkan hasil yang tepat dan akurat. Untuk menjembatani hal tersebut
maka dipelukan sebuah alat bantu baik sebagai tools maupun bahan tutorial
utama yakni menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Teknologi SIG
mengintegrasikan operasi pengolahan data berbasis database yang biasa
digunakan saat ini, seperti pengambilan data kebutuhan serta analisis
statistik

sehingga

memudahkan

penggunanya

dalam

menganalisa

kesesuaian lahan untuk pengembangan sebuah kawasan.


Kemampuan tersebut membuat sistem informasi dalam SIG berbeda
dengan sistem informasi pada umumnya dan membuatnya berharga dalam
penentuan kebijakan untuk memberikan penjelasan tentang suatu peristiwa,
membuat peramalan kejadian, dan perencanaan strategis lainnya.
B. Tujuan Dan Manfaat
Dari permasalahan yang dirumuskan di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui kondisi kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan
permukiman di Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten Morowali.
b. Mengetahui

potensi

dan

arahan

pengembangan

kawasan

permukiman di Kecamatan Bungku Tengah berdasarkan aspek fisik


alami dengan menggunakan GIS.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

a. Dapat memberikan manfaat bagi Pemerintah Kabupaten Morowali


sebagai bahan masukan dalam pengembangan kawasan permukiman
di Kecamatan Bungku Tengah yang merupakan Ibukota Kabupaten
Morowali
b. Sebagai bahan
mengenai

pertimbangan

pembangunan

dalam

sarana

pengambilan

keputusan

prasarana

Kawasan

dan

permukiman di Ibu Kota Kabupaten Morowali

C. Ruang Lingkup
Batasan masalah dari makalah ini, mengenai arahan pengembangan
kawasan permukiman di Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten Morowali
menggunakan metode GIS, mencakup pada kajian identifikasi masalah,
potensi, dan menganalisis arahan pengembangan kawasan permukiman
yang mencakup kesesuaian lahan serta penentuan pengembangan kawasan
permukiman di Ibu Kota Kabupaten, dalam memaksimalkan fungsinya
sebagai Kawasan Strategis Kabupaten yang di amanatkan dalam UndangUndang Penatan Ruang No. 26 Tahun 2007.

BAHAN DAN METODE


A.

Obyek Penelitian
Pada bagian ini menjelaskan tentang lokasi obyek penelitian,
karakteristik penelitian serta waktu penelitian yang akan dilaksanakan.
Adapun lokasi penelitian yakni di Kabupaten Morowali, Kecamatan
Bungku Tengah yang mana di dalam wilayah tersebut terdapat 19
Desa/kelurahan yaitu Desa Puungkoilu, Desa Bahontobungku, Desa
Tofuti, Desa Sakita, Kelurahan Mendui, Kelurahan Tofoiso, Kelurahan
Marsaoleh, Kelurahan Lamberea, Kelurahan Bungi, Kelurahan Matano,
Desa Matansala, Dea Bahoruru, desa Ipi, Desa Bente, Desa
Bahomohoni, Desa Bahomoleo, Desa Bahomante, Desa Lanona, dan
Desa Tudua, Karakterisitik wilayah sangat mendukung untuk peneliti
melakukan

penelitian

Permukiman

tentang

Kecamatan

Arahan

Bungku

Pengembangan

Tengah

Kabupaten

Kawasan
Morowali

Menggunakan Metode GIS. Untuk waktu penelitian diadakan selama 1


(satu) Bulan, yakni terhitung dari Bulan Mei sampai Bulan Juni tahun
B.

2013.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka

dilakukan suatu teknik pengumpulan data yaitu berdasarkan sumber, jenis


dan metode pengumpulan data. Untuk penelitian ini teknik pengumpulan
data yang dilakukan adalah :
1. Sumber Data
Menurut sumbernya data terbagi atas dua yaitu :
a. Data Primer adalah data yang bersumber dari survey atau
pengamatan di lapangan atau diperoleh langsung dari responden

objek penelitian. Adapun data yang dimaksud seperti: Kondisi


eksisting pola penggunaan lahan Kecamatan Bungku Tengah serta
data pendukung lainnya.
b. Data sekunder adalah data yang bersumber dari instansi atau
lembaga-lembaga terkait serta hasil penelitian sebelumnya yang
merupakan data baku. Dalam penelitian ini yang merupakan
sumber data sekunder yaitu batas administrasi dan geografis lokasi
penelitian, data kependudukan, serta kondisi fisik dasar lokasi
penelitian.
2. Jenis Data
Menurut jenisnya data terbagi atas dua yaitu :
a. Data Kualitatif adalah jenis data yang tidak berupa angka tetapi
berupa kondisi kualitatif objek dalam ruang lingkup penelitian atau
data yang tidak bisa langsung diolah dengan menggunakan
perhitungan yang matematis. Yang termasuk dalam jenis data
kualitatif ini yaitu :
1. Data kondisi fisik dasar wilayah Kabupaten Morowali, seperti:
- Letak Geografis Kawasan
- Kondisi Topografi dan Kelerengan
- Kondisi Geologi dan Jenis Tanah
- Kondisi Hidrologi dan Curah Hujan
- Kondisi Penggunaan Lahan
b. Data Kuantitatif adalah jenis data yang berupa angka atau
numerikyang bisa langsung diolah dengan menggunakan metode
perhitungan matematis. Dalam studi ini, jenis data kuantitatif yang
dimaksud yaitu :
- Data jumlah dan kepadatan penduduk

- Data Luas Wilayah


3. Metode Pengumpulan Data
a. Metode observasi dan wawancara di lapangan, yaitu cara
pengumpulan data secara langsung ke lapangan (kawasan
Penelitian) dengan melakukan proses pengamatan lokasi dan
pengambilan data dan wawancara secara langsung kepada
masyarakat untuk mendapatkan informasi terhadap aspek-aspek
yang relevan dengan penelitian.
b. Pendataan Instansional / lembaga, yaitu teknik pengambilan data
melalui instansi terkait guna mengetahui data kuantitatif dan
kualitatif objek penelitian. Pengumpulan data berupa data dalam
bentuk data statistik maupun data dalam bentuk peta. Data tersebut
dikumpulkan dari berbagai Dinas yang terkait seperti seperti Dinas
Perumahan dan Penataan Ruang, Biro Pusat Statistik, Badan
Pertanahan Nasional dan Kantor Kecamatan.
C.

Metode Analisis Data


Metode analisis data dalam penelitian kali ini juga diklasifikasikan
atas 2 (dua) dengan tetap berdasar pada 2 (dua) metode analisis data
yaitu ; Kualitatif dan Kuantitatif. Namun karena penelitian kali ini lebih
mengarah segi kualitatif, maka metode Kualitatif yang lebih dominan
akan

digunakan

dalam

upaya

menjawab

atau

menyelesaikan

pertanyaan yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian kali ini.


Untuk menjawab rumusan masalah penulisan ini maka akan
digunakan analisis superimpouse (analisis overlay).

Prinsip dalam

model analisis ini adalah untuk memperoleh lahan yang sesuai dengan
kebutuhan perencanaan. Metode analisa spatial superimpouse banyak

digunakan untuk menentukan beberapa hal mengenai pengembangan


dan perencanaan lahan pada suatu area.

Analisis yang digunakan

adalah indeks overlay model pembobotan pada setiap factor pembatas


ditentukan berdasarkan dominannya parameter tersebut

terhadap

suatu peruntukan dengan menggunakan pendekatan SIG. Besarnya


pembobotan ditujukan pada suatu parameter untuk seluruh analisis
lahan. Dari hasil analisis kesesuaian lahan akan diperoleh peta yang
mendeskriptifkan

arahan pengembanagan

kawasan

Pendekatan SIG merupakan alat analisis berupa

permukiman.

sebuah tools yang

dapat di isi atau di buat model builder mengenai suatu perencanaan,


pengembangan, studi maupun analisa mengenai kesesuain lahan dan
pengembangan lahan sesuai dengan standar yang kita gunakan pada
studi yang kita lakukan.
Penggunaan analisa ini telah banyak dilakukan dalam beberapa
penelitian di Indonesia utamanya dalam bidang perencanaan wilayah
baik sifatnya proyek yang dilakukan pemerintah maupun studi yang
dilakukan oleh para peneliti, mahasiswa maupun pihak lain.
D.

Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan parameter untuk mengetahui arahan
pengembangan kawasan permukiman pada wilayah obyek penelitian.
Penetapan variabel dilakukan dengan cara memahami elemen-elemen
yang memiliki keterkaitan atau hubungan terhadap obyek penelitian.
Adapun variabel yang dimaksud adalah :
- Kemiringan Lereng
- Jenis Tanah
- Curah Hujan
- Topografi
- Penggunaan Lahan
- Rawan Bencana
- Geologi
- Hidrologi
- Aksesibilitas

10

HASIL PENELITIAN
A. Potensi Wilayah Berdasarkan Analisis Overlay dan Skoring
Menggunakan Metode GIS
Metode ini merupakan sistem penanganan data dalam evaluasi
kesesuaian lahan dengan cara digital yaitu dengan menggabungkan
beberapa peta yang memuat informasi yang diisyaratkan untuk suatu
program dengan karakteristik lahannya. Dalam penelitian ini peta yang
dibutuhkan adalah peta kemiringan lereng, peta jenis tanah, peta curah
hujan, peta penggunaan lahan, peta topografi, peta geologi, peta
hidrologi,peta rawan bencana dan peta kawasan hutan. Pembobotan dan
skoring pada analisis kesesuaian lahan dengan berbagai peruntukan

11

didasarkan

pada

matrik

kriteria

penentuan

kesesuaian

lahan

berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang


Pengelolaan Kawasan Lindung dan SK Menteri Pertanian Nomor
837/KPTS/ Um/11/1980 dan 683/KPTS/Um/8/1981 Besarnya bobot dan
skoring tidak memiliki nilai mutlak, karena hanya digunakan untuk
memudahkan analisis terhadap pembagian fungsi kawasan.
No
1
2
3
4
5

Kelas Lereng (%)


08
9 15
16 25
26 45
>45

Skoring Kelas Lereng


Deskripsi
Keterangan
Datar
Sangat Sesuai
Landai
Sangat Sesuai
Agak curam
Cukup Sesuai
Curam
Sesuai Bersyarat
Sangat curam
Tidak Sesuai

Nilai skor
40
40
30
20
10

Sumber : SK Menteri Pertanian dengan modifikasi

NO
1
2
3
4
5

Skoring Kelas Tanah Menurut Kepekaan Erosi


Jenis Tanah
Deskripsi
Keterangan
Alluvial, Tanah Gley, Planosol,
Hidromorf Kelabu, laterit, Air
Tidak Peka Sangat Sesuai
Tanah
Latosol
Agak Peka Cukup Sesuai
Brown Forest Soil, Non Celtic
Kurang
Sesuai
Brown, Mediteran
Peka
Bersyarat
Andesol, Lateric, Grumosol,
Peka
Tidak Sesuai
Podsol, Podsotic
Regosol, Litosol, Organosol,
Sangat
Tidak Sesuai
Renzina
Peka

Nilai Skor
40
30
20
10
10

Sumber : SK Menteri Pertanian dengan modifikasi

Skoring Intensitas Curah Hujan


No
1
2
3
4

Intensitas
(mm/thn)
0 1.500
1.500 2.000
2.000 2.500
2.500 3.000

Deskripsi

Keterangan

Nilai Skor

Sangat Rendah
Rendah
Sedang
Tinggi

Sangat Sesuai
Sangat Sesuai
Cukup Sesuai
Sesuai Bersyarat

40
40
30
20

12

> 3.000

Sangat Tinggi

Tidak Sesuai

10

Sumber : SK Menteri Pertanian dengan modifikasi

No
1
2
3
4

Skoring Ketinggian
Ketinggian (mdpl)
Keterangan
0 25
Sangat Sesuai
26 500
Cukup Sesuai
501 1000
Sesuai Bersyarat
>1000
Tidak Sesuai

Nilai Skor
40
30
20
10

Sumber : Permen PU no.41/prt/m/2007 dengan modifikasi

Skoring Penggunaan Lahan


No Penggunaan Lahan
Keterangan
1 Semak/Lahan terbuka
Sangat Sesuai
2
Permukiman
Cukup Sesuai
3
Tegalan/ Perkebunan Sesuai Bersyarat
4
Hutan
Tidak Sesuai

Nilai Skor
40
30
20
10

Sumber :Analisis, 2013

No
1
2

Skoring Kondisi Rawan Bencana


Status Kawasan
Keterangan
Tidak Rawan Bencana
Sangat Sesuai
Rawan Bencana
Tidak Sesuai

Nilai Skor
40
10

Sumber : Analisis, 2013

No
1
2
3

Jarak Lempeng (m)


> 1000
100 1000
< 100

Skoring Kondisi Geologi


Deskripsi
Keterangan
Stabil
Sangat Sesuai
Kurang Stabil Sesuai Bersyarat
Tidak Stabil
Tidak Sesuai

Nilai Skor
40
20
10

Sumber : MenPu, 2007 dengan modifikasi

No
1
2

Skoring Sempadan Sungai


Sempadan Sungai (m)
Keterangan
> 15
Sangat Sesuai
< 15
Tidak Sesuai

Nilai Skor
40
10

Sumber : MenPu, 1993 dengan modifikasi

No

Skoring Kondisi Aksesibilitas


Jarak Dari Jalan (m)
Keterangan
< 250
Sangat Sesuai

Skor
40

13

250 500
500 750
>750

Cukup Sesai
Sesuai Bersyarat
Tidak sesuai

30
20
10

Sumber : Analisis, 2013

Pada tahap akhir penilaian kriteria fisik yang diperoleh dari data
akan diolah dengan metode skoring dimana hasil skoring didapatkan
dengan metode sebagai berikut:
N : Tidak Sesuai

-Skor 10 x 9 Variabel = 90 (interval 0-90)

S3 : Sesuai Bersyarat -Skor 20 x 9 Variabel = 180 (interval 91-180)


S2 : Cukup Sesuai

-Skor 30 x 9 Variabel = 270 (Interval 181-270)

S1 : Sangat Sesuai

-Skor 40 x 9 Variabel = 360 (interval 271-360)

Hasil Pembobotan Kesesuaian Lahan Kawasan Permukiman


Kelas

Keterangan

Total Nilai Skor

S1

Sangat Sesuai

271 360

S2

Cukup Sesuai

181 270

S3

Sesuai Bersyarat

91 180

Tidak Sesuai

0 90

Sumber : Analsis, 2013

14

Gambar : Hasil Analisis

B. Analisis Arah Pengembangan Kawasan Permukiman Kecamatan


Bungku Tengah

15

Bila dilihat dari segi tata guna lahan yang ada saat ini maka
perkembangan Kecamatan Bungku Tengah cenderung berkembang
membentuk pola merumpun dan linier dengan mengikuti jalur jalan
utama mengingat kondisi lereng Kecamatan Bungku Tengah yang
bervariasi. Berdasarkan hasil analisis Superimpose yang dilakukan
didapatkan hasil kesesuaian lahan kawasan permukiman yang sangat
sesuai sebagian besar berada di sekitar pesisir Kecamatan Bungku
Tengah

dengan

luas

8.386,15

Ha.

Pengembangan

Kawasan

permukiman dapat di arahkan disepanjang pesisir Desa Bente, Desa


Bahomohoni, dan Desa Bahomoleo. Desa Lanona, Desa Bahomante,
Desa Ipi, Desa Bahoruru dan Desa Matansala melihat dari lahan yang
sanagat sesuai untuk kawasan permukiman. Dan sisanya adalah lahan
yang cukup sesuai dimana sebagian dari lahan yang cukup sesuai itu
terdapat pada kawasan lindung menurut Rencana Tata Ruang
Kabupaten Morowali.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya penulis
dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
B. Kondisi

kesesuaian

lahan

untuk

pengembangan

kawasan

permukiman di Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten Morowali


sangat sesuai untuk dikembangkan yang terletak disepanjang pesisir
Kecamatan Bungku Tengah.
C. Potensi dan arah pengembangan kawasan permukiman di Kecamatan
Bungku Tengah berdasarkan aspek fisik alami yang di analisis

16

menggunakan GIS menunjukan potensi yang besar berdasarkan


kesesuaian lahannya dan arah pengembangan kawasan permukiman
yang sangat sesuai berada di Desa Bente, Desa Bahomohoni, Desa
Bahomoleo, Desa Lanona, Desa Bahomante, Desa Ipi, Desa
Bahoruru, dan Desa Matansala.
D. Saran
Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan kawasan permukiman di
wilayah Kecamatan Bungku Tengah maka dikemukakan saran, di antaranya
sebagai berikut :
1. Pemanfaatan

lahan

dalam

upaya

pengembangan

kawasan

permukiman di Kecamatan Bungku Tengah sudah seharusnya


mengacu pada kesesuaian lahan dan pemerintah selaku pengambil
kebijakan semestinya dalam membuat kebijakan memperhatikan
potensi sumber daya lahan.
2. Penentuan arah pengembangan kawasan permukiman seharusnya
melihat kesesuaian lahan serta keterkaitannya dengan fungsi aktifitas
kawasan yang lain sehingga perkembangan wilayah dapat berjalan
sesuai dengan arah yang ditetapkan di Kecamatan Bungku Tengah.
3. Pemerintah Kabupaten Morowali harus tegas dalam mengarahkan
perkembangan fisik di Kecamatan Bungku Tengah yang merupakan
Ibu Kota Kabupaten dengan memperhatikan kesesuaian lahan yang
ada. Penetapan kawasan-kawasan yang sesuai dengan kondisi
lahannya akan tetapi tidak sejalan dengan kondisi dilapangan,

17

sebaiknya dikembalikan ke fungsi yang telah ditetapkan berdasarkan


rencana tata ruang yang ada sehingga dapat mengurangi dampak
negatif yang ditimbulkan penduduk dan lingkungan di kawasan
tersebut dan sekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bintarto, 1989. Interaksi Kota-Kota dan Permasalahannya, Penerbit Ghalia


Indonesia : Jakarta.
Hermit,Herman. 2008. Pembahasan Undang-Undang Penataan Ruang (U.U.
No. 26 Tahun 2007), Mandar Maju: Bandung.
http://perencanaankota.blogspot.com/2011/11/definisi-dan-konsepperkembangan-kota.html (diakses tanggal 20 maret 2013 pukul 20:17
Wita)
Jayadinata, Johara T. (1986). Tata Guna Tanah dalam Perencanaan
Pedesaan, Perkotaan dan Wilayah, ITB. Bandung.
Peraturan Menteri PU No.63. 1993. Garis Sempadan Sungai, Daerah
Manfaat Sungai,Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai,
Departemen PU : Jakarta.

18

Peraturan Menteri PU No. 41. 2007. Pedoman Kriteria Teknis Kawasan


Budidaya, Departemen PU : Jakarta.
Setyowati, Dewi Liesnoor, 2007. Kajian Evaluasi Kesesuaian Lahan
Permukiman Dengan Teknik SIG. Jurnal Geografi(Online). Volume 4. No.
1
Sutikno dan Su Rito, 1991, ESL UNTUK PEMUKIMAN, Makalah pada
Kursus Evaluasi Sumber-daya Lahan, angkatan I, Fakultas Geografi
UGM, Yogyakarta.
Tarigan, Robinson. 2005. Perencanaan Pembangunan Wuilayah, Edisi
Revisi. Bumi Aksara: Jakarta.
Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Sekretariat
Negara: Jakarta.
Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman, Sekretariat Negara: Jakarta
Yayasan PelaGIS, 2011. Modul Pelatihan Sistem Informasi Geografis Tingkat
Lanjut : Aceh
Zainuddin.

2002.

Pendekatan

Geografi

Terhadap

Pengelolaan

Pengembangan Kecamatan Benawa Ibukota Kabupaten Donggala, PPS


UNHAS : Makassar.

19

Anda mungkin juga menyukai