Anda di halaman 1dari 46

ASUHAN KEPERAWATAN INJEKSI INTRA MUSCULAR ( IM )

ASUHAN KEPERAWATAN INJEKSI INTRA MUSCULAR ( IM )


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat adalah senyawa atau campuran senyawa untuk mengurangi gejala atau menyembuhkan penyakit.
Teknik pemberian obat didapati ada berbagi macam cara, diantaranya secara oral, parenteral, dermal,
bucal, sublingual dan sebagainya. Yang akan dibahas lebih lengkap dalam makalah kali ini adalah
pemberian obat atau sediaan parenteral (Perry Potter, 2006).
Sediaan parenteral merupakan sediaan seteril yang biasa diberikan dengan berbagai rute. Sediaan
parenteral ini merupakan sediaan unik diantara bentuk obat yang terbagi-bagi, karena sediaan ini
disuntikan melalui kulit atau membrane mukosa kebagian dalam tubuh. Jenis pemberian parenteral yang
paling umum adalah intra vena, intra muscular, subkutan, intrakutan dan intra spinal. Pada umumnya
pemberian secara parenteral dilakukan bila diinginkan kerja obat yang lebih cepat, seperti pada keadaan
gawat bila penderita tidak dapat diajak bekerjasama, tidak sadar atau bila obat tersebut tidak efektif
dengan cara pemberian yang lain (Perry Potter, 2006).
Salah satu tugas terpenting dari seorang perawat adalah memberikan obat yang aman dan akurat
kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah klien. Obat
bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan klien dalam
banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau berpotensi menimbulkan
efek yang berbahaya bila tidak tepat diberikan (Perry Potter, 2006).
Seorang perawat memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan efek samping yang
ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat, memantau respon klien, dan membantu klien
menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan (Perry Potter, 2006).
1.2 Tujuan Penulisan

Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan tindakan injeksi Intra muscular (IM) secara benar dan tepat sesuai
dengan langkah-langkah.

1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat mengkaji data pasien
Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa
Mahasiswa dapat melakukan tindakan sesuai dengan langkah langkah
Mahasiswa dapat menevaluasi tindakan yang akan dilakukan
Mahasiswa dapat memberikan KIE kepada pasien

1.3 Sistematika Penulisan


BAB I : Pendahuluan
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan Penulisan
1.3 Sistematika Penulisan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB III. TINJAUAN KASUS
BAB IV. PEMBAHASAN
BAB V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI PEMBERIAN OBAT SECARA PARENTERAL
Istilah Parenteral berasal dari kata Yunani Para dan Enteran, yang berarti disamping atau lain dari
usus. Sediaan ini diberikan dengan cara menyuntikkan obat di bawah atau melalui satu atau lebih lapisan
kulit atau membrane mukosa. Karena rute ni disekitar daerah pertahanan yang sangat tinggi dari tubuh,
yaitu kulit dan selaput/membrane mukosa, maka kemurnian yang sangat tinggi dari sediaan harus
diperhatikan. Sediaan ini diberikan melalui beeberapa rute pemberian yaitu intra muscular, intra vena,
intra cutan, subcutan, intra spinal, dan intra dermal (Ganiswara, 2005).
Obat suntik hingga volume 100 ml disebut sediaan parenteral volume kecil, sedangkan apabila lebih dari
itu disebut sediaan parenteral volume besar, yang biasa diberikan secara intra vena.
2.1.1 Macam macam Injeksi Parenteral
a)
Injeksi IM (Intra muskular)
Memberikan obat melalui intramuskular yaitu pemberian obat dengan memasukkannya kedalam jaringan
otot.
b)
Injeksi SC (Subkutan)
Menyuntikan obat dibawah kulit.
c)
Injeksi IC (Intrakutan)
Memberikan obat ke dalam jarinagn kulit (epidermis)
d) Injeksi IV (Intra Vena)
Injeksi yang dilakukan langsung ke pembuluh darah(kedalam vena)
2.1.2 Keuntungan Obat Secara Parenteral
- Efeknya timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian per oral
- Dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar atau muntah-muntah
- Sangat berguna dalam keadaan darurat (Ratna Ambarwati, 2009).
2.1.3 Kerugian Pemberian Secara Darurat
- Sediaan parenteral mempunyai dosis yang harus ditentukan lebih teliti waktu dan cara pemberian harus
diberikan oleh tenaga yang sudah terlatih
- Bila obat diberikan secara parenteral maka sulit dikembalikan efek fisiologisnya
- Terapi parenteral akan menimbulkan komplikasi dari beberapa penyakit seperti infeksi jamur, bakteri,
sehingga interaksinya tidak bisa dikendalikan
- Kemajuan dalam manufaktur atau pabrikasi kemasan menimbulkan beberapa masalah dalam sterilisasi
partikulasi, pirogenitasi, sterilisasi, dll (Ratna Ambarwati, 2009).
2.2 PROSEDUR PEMBERIAN OBAT
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai
perawatan, pengobatan, atau bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam
tubuh (Musrifatul Uliyah, 2008).
2.2.1 Standar Obat
Terdiri dari 2 aspek, yaitu :
a.
Kemurnian, yaitu suatu keadaan dimiliki obat karena unsure keasliannya tidak ada pencampuran,
dan standar potensi yang baik
b.
Bioavailabilitas, berupa keseimbangan obat, keamanan dan efektivitas standar-standar tersebut
harus dimiliki obat agar menghasilkan efek yang baik akan obat itu sendiri. (Musrifatul Uliyah, 2008).
2.2.2
Efek Obat
Terdiri dari 2 efek, yaitu :
1.
Efek terapeutik
Yaitu obat memiliki kesesuaian terhadap efek yang diberikan sesuai kandungan obatnya.
Terdiri dari :
a. Efek paliatif : mengurangi gejala
b. Efek kuratif : efek pengobatan
c. Efek suportif : menaikkan fungsi atau respons tubuh

d. Efek substitutive : berefek sebagai pengganti


e. Efek kemoterapi : mematikan/menghambat
f. Efek restorative : memulihkan fungsi tubuh yang sehat
2. Efek samping
Yaitu dampak yang tidak diharapkan, tidak bisa diramal dan bahkan bisa membahayakan, seperti adanya
alergi, toksisitas (keracunan), penyakit tatrogenik, kegagalan dalam pengobatan, dll.
2.2.3 Prinsip Pemberian Obat
1.
Tepat Obat
Sebelum mempersiapakan obat ke tempatanya petugas medis harus memperhatiakan kebenaran
oabt sebanyak tiga kali ,yakni ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat,saat obat
diprogramkan,dan saat mengembalikan obat ke tempat penyimpanan.
2.
Tepat Dosis
Untuk menghindari kesalahan dalam pemberian obat, maka penentuan dosis harus diperhatikan
dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus dilengkapi alat tetes, gelas ukur, spuit, alat
untuk membelah tablet, dan lain-lain. Dengan demikian, penghitungan dosis benar untuk diberikan
kepada pasien.
3.
Tepat Pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan. Hal ini dilakukan
dengan mengidentifikasi kebenaran obat, yaitu mencocokkan nama, nomor register, alamat, dan program
pengobatan pada pasien.
4.
Tepat Jalur Pemberian
Kesalahan rute pemberian dapat menimbulkan efek sistemik yang fatal pada pasien. Untuk itu,
cara pemberiannya adalah dengan melihat cara pemberian/jalur obat pada label yang ada sebelum
memberikannya ke pasien.
5.
Tepat Waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang diprogramkan, karena
berhubungan dengan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.
6.
Tepat Dokumentasi
Mencatat semua proses langkah-langkah pemberian obat (Musrifatul Uliyah, 2008)

2.3
PEMBERIAN OBAT MELALUI INTRA MUSKULAR (IM)
2.3.1
Definisi
Pemberian obat melalui intra muskular merupakan pemberian obat dengan
memasukkannya ke dalam jaringan otot.
2.3.2
Lokasi Penyuntikan
Tempat atau lokasi suntikan sebaiknya sejauh mungkin dari saraf-saraf atau pembuluh darah
utama. Tempat-tempat yang lazim digunakan antara lain di dorsogluteal (posisi tengkurap), ventrogluteal
(posisi berbaring), vastus lateralis (daerah paha), atau deltoid (lengan atas).
Pada orang dewasa tempat yang paling sering digunakan untuk suntikan intra muscular adalah
superempat bagian atas luar otot gluteus maximus. Sedangkan pada bayi, tempat penyuntikan dibatasi
sebaiknya paling banyak 5 ml bila disuntikkan ke daerah gluteal, dan 2 ml di daerah deltoid.Tujuanya
adalah agar absorsi obat dapat lebih cepat (Formulasisteril.blogspot.com).
2.3.3
Tehnik Pemberian obat secara IM
Rute intra muscular (IM) memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat dari pada rute
SC/subcutan, karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan
berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam, tetapi bila tidak hati-hati, ada resiko menginjeksi obat
langsung ke pembuluh darah. Perawat menggunakan jarum berukuran lebih panjang dan lebih besar
untuk melewati jaringan SC dan mempenetrasi jaringan otot dalam. Berat badan mempengaruhi
pemilihan ukuran jarum. Sudut insersi untuk injeksi IM ialah 90o (Perry, Potter, 2006)
2.3.4
Indikasi Penyuntikan
1.
Pada pasien yang memerlukan penyuntikan IM
2.
Atas perintah dokter

2.4
LANGKAH-LANGKAH TINDAKAN INJEKSI INTRA MUSCULAR
1.
Persiapan Alat
Bak instrument kecil yang telah berisi alas
Sarung tangan bersih yang bersih satu pasang
Jarum pengambil obat
Spuit 2,5 cc dan 5 cc
Obat yang sudah yang ditentukan
Kapas alkohol dalam tempatnya
Bengkok
Buku catatan injeksi
Alat tulis
Safety box (Jarum dan spuit)
Larutan klorin0,5 % dalam tempatnya
Handuk kecil cuci tangan
Sampah medis & non medis
2.
Persiapan Pasien
Memberi salam pada pasien
Mengenalkan diri pada klien /keluarga
Menjelaskan tujuan dilakuakn tidakan
Memberi prosedur tindakan
3.
Langkah-langkah
Menyiapkan alat-alat dengan rapi, mendekatkan ke pasien, menutup lingkungan untuk menjaga
privasi pasien
Menanyakan pada pasien apa pernah alergi obat atau pernah mengalami gangguan
pembekuan darah
Membaca daftar obat pasien
Perawat mencuci tangan dan mengeringkan dengan handuk kering
Melarutkan obat bila obat masih dalam bentuk serbuk
Mengisi spuit dengan obat sesuai dengan dosis
Mengeluarkan udara dalam spuit dan langsung dibawa ke dekat pasien
Membaca kembali pemberian obat dan dicocokkan dengan nama pasien atau langsung tanyakan
namanya kepada pasien yang bersangkutan
Mengatur posisi pasien sesuai densn kondisi
Membebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien
Menentukan tempat penyuntikan

Pada bokong dengan menarik garis lurus dan SIAS menuju Os.coccygeus kemudian dibagi tiga
kuadran dan diambil satu pertiga dari SIAS

Pada otot pangkal lenagn (muskulus deltoideus)

Pada otot paha bagian luar,yaitu sebelah luar satu per tiga
Mendesinfeksi dengan kapan alcohol lembab pada daerah yang akan disuntik dengan sekali oles
Meregangkan daerah yang akan disuntik dengan jari telunjuk dan ibu jari
Menusukkan jarum dengan posisi tegak lurus dengan cepat sedalam 2/3 bagian
Melakukan aspirasi untuk mengecek apakah ada darah atau tidak, dan pastikan tidak ada darah
yang keluar
Bila darah tidak keluar masukkan obat dengan perlahan-lahan
Telunjuk tangan kiri menekan bekas suntikan dengan kapas alcohol dan tangan kanan mencabut
jarum dengan cepat.
Menekan daerah yang telah disuntik dan mengadakan komunikasi dengan klien bahwa proses
sudah selesai dikerjakan.
Merapikan pasien (anjurkan pasien untuk berbaring 3 menit) dan lingkungan
Spuit disepul dengan larutan klorin lalu spuit dipisahkan dengan jarum dibuang di safety box
Merapikan dan membuang sampah pada tempatnya
Perawat mencuci tangan
Mencatat hasil kegiatan dan reaksi klien
Melakukan tindakan dengan teliti dan hati-hati
4.
Sikap

Komunikasi terapiutik
Dalam melakukan tindakan
(Ceklis Akbid Brawijaya husada 2011)
5.Langkah-langkah tindakan dan hasilnya
1. Persiapan alat
- Spuit soloshot sesuai ukuran
- Obat Depo Progestin 3 cc
- Kapas alkohol dalam tempatnya
- Bengkok
- Tempat sampah
- Buku catatan dan alat tulis
R/ Memudahkan petugas kesehatan dalam melakukan tindakan, tanpa ada alat yang lupa dibawa
2. Persiapan pasien
- Memberi salam pada pasien
R/ Menghormati pasien dan memberi kesan awal yang baik pada pasien.
- Menganjurkan pasien untuk tidur tengkurap pada tempat yang telah disediakan
3.
Langkah-langkah tindakan
- Petugas mencuci tangan di air yang mengalir dengan menggunakan sabun dan dikeringkan dengan
handuk kering dan bersih
R/ menghilangkan kuman sebagai tindakan antiseptic dan mencegah terjadinya infeksi silang
- Memperhatikan lingkungan pasien
R/ menjaga privasi pasien
- Melakukan anamnese pada pasien
R/ memastikan biodata pasien
- Memastikan bahwa hari tersebut memang tepat waktu pasien untuk kunjungan ulang suntik 3 bulanan
dengan cara melihat di kartu KB pasien
- Menimbang pasien, catat hasil
- Melakukan pengukuran tekanan darah pasien, digunakan sebagai acuan untuk melakukan tindakan
penyuntikan, catat hasilnya diles pasien
- Membuka spuit dari kemasan
- Membuka tutup obat, mendesinfeksi dengan kapas alcohol
R/ Agar tutup obat dalam keadaan bersih terhindar dari mikroorganisme.
- Mengisi spuit dengan obat
R/ Memasukkan obat yang akan disuntikan sesui dengan dosisi pemberian
- Mengeluarkan udara dalam spuit
R/ Agar udara tidak masuk kedalm jaringan tubuh dan mencegah terjadinya emboli
- Menganjurkan pasien untuk berbaring pada tempat yang telah disiapkan
- Mengatur posisi pasien dan membebaskan daerah yang akan disuntikan dari pakaian pasien
R/ Memudahkan petugas dalam melakukan tindakan
- Menentukan tempat penyuntikan yaitu pada daerah bokong dengan menarik garis lurus dari SIAS
menuju Os Coccygeus, dibagi 3 bagian lalu diambil 1/3 bagian pertama dari SIAS
R/ Untuk mendapatkan lokasi penyuntikan yang tepat
- Mengantisepsis bagian yang akan disuntik dengan kapas alcohol
R/ sebagai tindakan antiseptik untuk menghindari masukknya mikro organisme dalam tubuh
- Meregangkan daerah yang akan disuntik dengan jari telunjuk & ibu jari
R/ mengurangi rasa sakit pada saat penyuntikan
- Memasukkan jarum ke posisi tegak lurus 900 dan cepat sedalam 2/3 bagian jarum
R/ agar penyuntikn tepat pada jaringan otot
- Memasukkan obat secara perlahan-lahan
R/ Agar pasien tidak sakit ketikan obat dimasukkan
- Telunjuk tangan kiri menekan bekas suntikan dengan kapas alcohol dan tangan kanan mencabut jarum
dengan cepat.
R/ untuk mengurangi rasa sakit pada daerah yang disuntik.

- Menekan daerah yang telah disuntik dan mengadakan komunikasi dengan klien bahwa proses sudah
selesai dikerjakan.
R/ agar pasien mengerti dan tahu bahwa tindakan telah selesai dilakukan
- Merapikan baju pasien dan menata lingkungan
R/ membantu pasien dan memberikan lingkungan yang nyaman.
- Mengembalikan alat pada tempatnya
R/ untuk memudahkan petugas dalam melakukan tindakan selanjutnya.
- Membuang bekas spuit dan jarum ke safety box, tutup spuit dibuang ke sampah medis
- Mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir dengan cara menggunakan 7 langkah dan
dikeringkan dengan handuk kering dan bersih.
R/ menghilangkan kuman setelah bersentuha dengan kulit pasien sebagai tindakan aseptik
- Mencatat tindakan yang sudah dilakukan
R/sebagai dokumentasi
- memberi tahu jadwal kembali pasien
7.Hasil tindakan
- klien merasa lega dan puas
- Keadaan pasien baik tidak mengalami pusing
8.KIE
Menganjurkan pada pasien untuk melakukan kompres hangat pada area yang dilakukan
penusukan, apabila masih terasa nyeri/bengkak, untuk mengurangi rasa nyeri tersebut.
BAB IV
PEMBAHASAN
1. Menurut teori dalam persiapan alat ada bak instrumen kecil yang telah diberi alas, Sedangkan
dilapangan tidak memakai bak instrumen. Jadi persiapan alat antara teori dan praktek dilapangan ada
kesenjangan, keefisiensi waktu dan banyaknya pasien yang menunggu merupakan faktor utama
penyebab terjadinya kesenjangan.
2. Pada saat persiapan pasien, terjadi kesenjangan antara teori dan praktek. Bidan tidak memberikan
salam dam memperkenalkan diri, keefisieni waktu dan banyaknya pasien yang menunggu merupakan
faktor utama penyebab terjadinya kesenjangan tersebut.
3. Pada saat melakukan tindakan
a. setiap melakukan suatu tindakan injeksi, petugas tidak selalu mencuci tangan, tetapi hanya di
awal/pasien pertama saja. Hal ini dikarenakan sudah ada pasien lain yang menunggu dan untuk
keefisienan waktu. Selain itu handuk yang digunakan untuk mengeringkan tangan bukan handuk sekali
pakai, melainkan handuk yang setiap kali digunakan untuk mengeringkan tangan sesudah selesai
melakukan tindakan, untuk setiap orang yang memakai. Petugas juga tidak selalu memperkenalkan diri
pada setiap pasien, yang sekali lagi disebabkan dengan tujuan efisiensi waktu.
b. Menurut teori dalam pengambilan obat dilakukan dengan jarum tersendiri yaitu jarum no.23 dan spuit
5 cc, digunakan untuk aspirasi udara saat penyuntikan. Sedangkan di lapangan tidak memakai jarum
no.23 dan spuit 5 cc, dikarenakan spuit yang digunakan memakai spuit disposibble.
c. Menurut teori selesai melakukan tindakan spuit harus di spool dengan larutan clorin sebelum
dibuang, sedangkan di lapangan tidak dilakukan karena spuit langsung dibuang di safety box. Karena
spuit yang digunakan memakai spuit disposibble.
d. Menurut teori pada saat kita melakukan tindakan penyuntikan kita mengaspirasi dulu sedangkan
kalau praktek di lapangan tidak mengasiprasi karena spuit yang dipakai sudah terisi penuh oleh obat.
BAB V
PENUTUP
2.4
a.
b.

Kesimpulan
Pasien yang di periksa adalah Ny. S usia 35 tahun.
Diagnosa medis Ny. S usia 35 tahun dengan Injeksi Intra muscular KB depo 3 bulanan

c.
Dalam melakukan tindakan pengukuran tekanan darah tersebut ada beberapa kesenjangan antara
teori yang di dapat dengan kenyataan pada praktik di lapangan.
d.
Setelah di lakukan tindakan keadaan pasien baik tidak mengalami pusing, pasien merasa lega dan
puas
e.
KIE yang diberikan pada pasien adalah tentang efek samping dari KB 3 bulan, dan memberikan
Jadwal kembali untuk pemberian KB 3 bulan lagi pada tanggal 13 Oktober 2011 dan sewaktu-waktu jika
ada keluhan.

2.5
Saran
a.
Lahan Praktek
Diharapkan bagi lahan praktek untuk terus meningkatkan mutu pelayanan dan konseling KB pada
masyarakat sekitar guna meningkatkan kesejahteraan keluarga.
b.
Masyarakat
Agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya ber-KB bagi masyarakat. Terlebih
untuk keluarga yang sudah mempunyai jumlah anggota yang banyak. Selain itu juga agar mengetahui
macam-macam jenis KB yang ada beserta kelebihan dan kekurangannya, sehingga biasa memilih jenis
KB yang terbaik untuk mereka.
c.
Mahasiswa
Diharapkan bagi mahasiswa lebih meningkatkan ilmu pengetahuan, lebih banyak membaca buku
tentang kesehatan, serta dapat memahami dan menerapkan tindakan sesuai dengan teori.
d.
Institusi
Institusi pendidikan sebagai tempat untuk mencari ilmu, diharapkan dapat menjadi tempat
pengembangan ilmu khususnya tentang injeksi yang sering dijumpai dalam lahan praktek.

DAFTAR PUSTAKA
Ceklist Akbid Brawijaya Husada,Injeksi intramuscular,2011
Potter, Perry. Ganiswara. 2005. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : Famakologi, FKUI
Ratna Ambarwati, Eni. 2009. KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT. Kawan Pustaka
Uliyah, Musrifatul dkk. 2008. Ketrampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta : Salemba Medika
Saifudin, Abdul Bani. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Tjay, T.H. 2009. Faktor Patofisiologi Tubuh. Http://liew.267.wordpress.com/ pengaruh cara pemberian
terhadap absorbs obat/ diakses tanggal 26 Agustus 2011

Anfis vena
Anatomi & Fungsi Pembuluh Darah
Selain alat pemompa, darah juga memerlukan pembuluh untuk dapat beredar ke seluruh tubuh.
Pembuluh ini berbentuk bulat, dengan ukuran berbeda-beda, dan berdiameter antara 0,01 mm hingga 10
mm. Ada tiga macam pembuluh darah, yaitu arteri, vena, dan kapiler. Ketiga pembuluh darah tersebut
selalu berhubungan satu dengan lainnya dan membentuk suatu sistem. Perhatikan Gambar 5.11 dan
gambar 5.12.
ANFIS OTOT

SISTEM MUSCULARIS (OTOT TUBUH MANUSIA)

A. ANATOMI OTOT
Ilmu yang mempelajari tentang otot disebut Myologi. Jaringan otot sangat penting bagi tubuh karena
fungsinya, diantaranya sebagai alat gerak aktif, alat transportasi pengedar makanan dalam usus, juga
pengedaran darah keseluruh tubuh. Jaringan otot ditandai adanya myofibril-miofibril pada selnya yang
memanjang. Myofibril tersebut yang bertangung jawab atas kontraktilitas sel-sel otot. Berdasarkan
srtukturnya maupun fisiologisnya, otot dibagi menjadi tiga macam yaitu otot rangka, otot polos dan otot
jantung.
1. Otot rangka
Otot rangka juga disebut otot skelet atau otot serat lintang, otot bercorak, otot lurik dan musculus striata.
Secara mikroskopis, terlihat otot rangka tersebut terdiri dari sel-sel otot (serabut-serabut otot) yang
tebalnya kira-kira 10-199um dan panjangnya kira-kira 15cm. inti terletak tepat di bawah permukaan sel,
selain itu juga Nampak adanya garis-garis terang dan gelap yang melintang, oleh karena itu disebut otot
serat melintang. Satu sel otot diselubungi oleh fascia propria kemudian beberapa fascicule diselubungi
oelh selaput yang disebut fascia superfisialis yang terdapat dibawah kulit membentuk fasciculus otot. Di
dalam sarcoplasma terdapat sejumlah mitokondria(sarcosum). Warna otot ditentukan oleh adanya suplay
darah dan kandungan myoglobin, juga kadar air maupun banyaknya fibril-fibril yang menyusunya. Oleh
karena itu otot yang tipis biasanya warnanya lebih muda karena kandungan air yang sedikit, fibrilnya juga
lebih sedikit serta suplay darahpun sedikit, jika disbanding otot yang tebal akan berwarna gelap.
Bentuk fasciculus otot ini biasanya berupa kumparan, bagian tengah menggembung yang disebut empal
(ventrikel), dan kedua ujungnya mengecil yang disebut dengan urat otot (lendon). Pada umumnya tendon
tersebut melekat pada tulang, sifatnya keran dan liat. Bagian ventrikel penting dalam fungsi gerak aktif,
yaitu terjadi kontraksi (mengkerut). Jika kontraksi terjadi pada ventrikel otot tersebut maka akan terjadi
gerakn tulang dengan perantaraan persendian dimana otot melekat melalui tendonya.
Pada umumnya otot melekat pada dua tulang atau lebih, sehingga tiap otot mempunyai dua tempat
pelekatan. Istilah perlekatan pada segmen tulang biasanya digunakan :
Punctum fixum (origo) yaitu perlekatan otot pada segmen tulang yang tidak ikut bergerak.
Punctum mobile (insertion) yaitu perlekatan otot pada segmen tulang yang bergerak.
Sedang istilah lain yang juga sering digunakan sekarang tanpa mengngat tempat perlekatan tersebut
bergerak atau tidak bergerak yaitu :
Perlekatan distal, yaitu perlekatan otot pada segmen tulang yang berada disebelah distal (terletak
menjauhi dari semua badan).
Perlekatan proximal, yaitu perlekatan otot pada segmen tulang yang berada disebelah proximal (terletak
lebih dekat dengan sentrum badan).

2. Otot polos
Otot ini juga disebut musculus nontriata, otot alat dalam, otot tak sadar. Terdiri dari sel-sel berbentuk
spindel dengan panjang 40-200 u.m dan tebal 4-20 u.m, dengan inti berada di tengah. Miofibrilnya sulit
untuk dilihat, tidak mempunyai garis-garis gelap terangya. Serabut retikuler (bentuk jala) tranvesal
menghubungkan sel-sel otot menbentuk suatu berkas sehingga menjadi satu unit funsional.
Otot polos tidak melekat pada tulang tetapi ikut membentuk alat dalam seperti terdapat pada dinding
pembuluh darah, saluran pencernaan, system urogenitalis dan lain sebagainya.

Otot polos bekerja tidak dipengaruhi oleh kehendak, tidak terlalu cepat tetapi berurutan dan tidak cepat
lelah. Oleh pengaruh hormonal, kemungkinan otot polos dapat bertambah panjang dan berproliferasi
(membentuk sel-sel baru) contohnya yaitu pada uterus, serabut otoitnya dapat mencapai 800 u.m
3. Otot jantung
Serabut-serabut otot yang mengandung sarcaoplasma dalam jumlah besar membentuk jala-jala, seperti
otot serat lintang juga terdapat garis-garis melintang gelap dan terang tetapi sarcomernya lebih pendek,
intinya terletak ditengah, sarcosom jauh lebih banyak dari otot rangka, serabut otot bercabang-cabang.
Otot jantung bergerak teratur dan tidak cepat, tetapi diluar kehendk kita.

BAB 1
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG

Salah satu tugas terpenting seorang perawat/bidan adalah member obat yang aman dan akurat
kepada klien. Obat merupakan alat utama terapi untuk mengobati klien yang memiliki masalah.
Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yang bermanfaat. Walaupun obat menguntungkan
klien dalam banyak hal, beberapa obat dapat menimbulkan efek samping yang serius atau
berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya bila kita memberikan obat tersebut tidak sesuai
dengan anjuran yang sebenarnya.
Seorang perawat/bidan juga memiliki tanggung jawab dalam memahami kerja obat dan efek
samping yang ditimbulkan oleh obat yang telah diberikan, memberikan obat dengan tepat,
memantau respon klien, dan membantu klien untuk menggunakannya dengan benar dan
berdasarkan pengetahuan.

1. TUJUAN PENULISAN
1. TUJUAN UMUM
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keterampilan Dasar Praktik Kebidanan.
1. TUJUAN KHUSUS

Untuk mengetahui teknik pemberian obat secara intramuscular

Untuk mengetahui teknik pemberian obat secara intravena

Untuk mengetahui teknik pemberian obat secara subcutan

Untuk mengetahui teknik pemberian obat secara intracutan

1. RUMUSAN MASALAH

Apa itu pemberian obat secara intramuscular?

Apa itu pemberian obat secara intravena?

Apa itu pemberian obat secara subcutan?

Apa itu pemberian obat secara intracutan?

1. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
Bab I. Pendahuluan, berisi pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah, rumusan
masalah, maksud dan tujuan, sistematika penulisan, metode penulisan.
Bab II. Pembahasan, berisi pembahasan yang menjelaskan tentang pemberian obat secara
intramuscular, intravena, subcutan, intracutan
Bab III. Penutup, berisi kesimpulan, dan saran.

1. METODE PENULISAN
Metode penulisan makalah ini adalah studi kepustakaan berdasarkan referensi buku yang
berkaitan dengan materi yang diperlukan dalam pembuatan makalah ini.

BAB 2
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai
perawatan, pengobatan, atau bahkn pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di
dalam tubuh. Dalam pelaksanaannya ,tenaga medis memiliki tanggung jawab dalam keamanan
obat dan pemberian secara lsngsung ke pasien.hal ini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan
pasien

1. MACAM-MACAM JENIS TEKNIK PEMBERIAN OBAT


1. Secara Intramuscular
1. Pengertian
Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Lokasi
penyuntikan dapat dilakukan pada daerah paha (vastus lateralis) dengan
posisi ventrogluteal (posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap),
atau lengan atas (deltoid).
2. Tujuan
Agar obat di absorbs tubuh dengan cepat.
1. Hal-hal yang perlu diperhatikan:

Tempat injeksi.

Jenis spuit dan jarum yang digunak

Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.

Kondisi atau penyakit klien.

Obat yang tepat dan benar.

Dosis yang diberikan harus tepat.

Pasien yang tepat.

Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar

1. Indikasi dan kontra indikasi

indikasi :

bisa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak
memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut,
tonjolan tulang, otot atau saras besar di bawahnya.

kontra indikasi :

Infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, otot atau saraf besar di bawahnya.
1. Alat dan bahan

Daftar buku obat/catatan dan jadwal pemberian obat.

Obat dalam tempatnya.

Spuit da jarum suntik sesuai dengan ukuran. Untuk dewasa panjangnya 2,5-3 cm, untuk
anak-anak panjangnya 1,25-2,5 cm.

Kapas alkohol dalam tempatnya.

Cairan pelarut.

Bak injeksi.

Bengkok

1. Prosedur kerja:

cuci tangan.

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisnya. Setelah itu letakkan
dalam bak injeksi.

Periksa tempat yang akan di lakukan penyuntikan (perhatikan lokasi penyuntikan).

Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan injeksi.

Lakukan penyuntikan :

Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara, anjurkan pasien untuk berbaring
telentang dengan lutut sedikit fleksi.


Pada ventrogluteal dengan cara, anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang
dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan penyuntikan dalam keadaan fleksi.
cara, anjurkan pasien untuk tengkurapPada daerah dorsogluteal dengan dengan lutut di putar
kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan diletakkan di depan tungkai bawah.
cara, anjurkan

Pada daerah deltoid (lengan atas) dilakukan dengan pasien untuk duduk atau berbaring
mendatar lengan atas fleksi.

Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.

Setelah jarum masuk, lakukan aspirasi spuit, bila tidak ada darah yang tertarik dalam
spuit, maka tekanlah spuit hingga obat masuk secara perlahan-lahan hingga habis.

Setelah selesai, tarik spuit dan tekan daerah penyuntikan dengan kapas alcohol, kemudian
spuit yang telah di gunakan letakkan dalam bengkok.

Catat reaksi pemberian, jumlah dosis, dan waktu pemberian.

Cuci tangan

1. Daerah Penyuntikan :

Bagian lateral bokong (vastus lateralis)

Butoks (bagian lateral gluteus maksimus)

Lengan atas (deltoid)

1. Secara Intravena
Secara tidak langsung.
1. Pengertian
Merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukkan obat ke
dalam wadah cairan intra vena.
2. Tujuan
Pemberian obat intra vena secara tidak langsung bertujuan untuk meminimalkan efek
samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah.
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan

injeksi intra vena secara tidak langsung hanya dengan memasukkan cairan obat ke dalam
botol infuse yang telah di pasang sebelumnya dengan hati-hati.

Jenis spuit dan jarum yang digunakan.

Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.

Obat yang baik dan benar.

Pasien yang akan di berikan injeksi tidak langsung adalah pasien yang tepat dan benar.

Dosis yang diberikan harus tepat.


tidak langsung harus tepat dan benar.

Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi

1. Indikasi dan kontra indikasi

indikasi :

bisa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak
memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.

kontra indikasi :

tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau
butiran darah.
1. Alat dan bahan:

Spuit dan jarum sesuai ukuran

Obat dalam tempatnya.

Wadah cairan (kantung/botol).

Kapas alcohol dalam tempatnya.

1. Prosedur kerja

cuci tangan.

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

Periksa identitas pasien dan ambil obat dan masukkan ke dalam spuit.

Cari tempat penyuntikan obat pada daerah kantung. Alangkah baiknya penyuntikan pada
kantung infuse ini dilakukan pada bagian atas kantung/botol infuse.

Lakukan desinfeksi dengan kapas alcohol pada kantung/botol dan kunci aliran infuse.

Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah
dan masukkan obat secara perlahan-lahan ke dalam kantong/botol infuse/cairan.

Setelah selesai, tarik spuit dan campur larutan dengan membalikkan kantung cairan
dengan perlahan-lahan dari satu ujung ke ujung yang lain.

Ganti wadah atau botol infuse dengan cairan yang sudah di injeksikan obat di dalamnya.
Kemudian gantungkan pada tiang infuse.

Periksa kecepatan infuse.

Cuci tangan.

Catat reaksi pemberian, tanggal, waktu dan dosis pemberian.

Secara langsung
1. Pengertian
Cara memberikan obat pada vena secara langsung. Diantaranya vena mediana kubiti/vena
cephalika (lengan), vena sephanous (tungkai), vena jugularis (leher), vena
frontalis/temporalis (kepala)
2. Tujuan
Pemberian obat intra vena secara langsung bertujuan agar obat dapat bereaksi langsung
dan masuk ke dalam pembuluh darah.
3. Hal-hal yang diperhatikan

Setiap injeksi intra vena dilakukan amat perlahan antara 50 sampai 70 detik lamanya.

Tempat injeksi harus tepat kena pada daerha vena.

Jenis spuit dan jarum yang digunakan.

Infeksi yang mungkin terjadi selama injeksi.

Kondisi atau penyakit klien.

Obat yang baik dan benar.

Pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat dan benar.

Dosis yang diberikan harus tepat.


harus benar.

Cara atau rute pemberian obat melalui injeksi

1. Indikasi dan kontra indikasi

indikasi :

bisa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak
memungkinkan untuk diberikan obat secara oral dan steril.

kontra indikasi :

tidak steril, obat yang tidak dapat larut dalam air, atau menimbulkan endapan dengan protein atau
butiran darah.
1. Alat dan bahan

Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat.

Obat dalam tempatnya.

Spuit sesuai dengan jenis ukuran

Kapas alcohol dalam tempatnya.

Cairan pelarut (aquades).

Bak injeksi.

Bengkok.

Perlak dan alasnya.

Karen pembendung.

1. Prosedur kerja

Cuci tangan.

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

Bebaskan daerah yang akan disuntik dengan cara membebaskan pakaian pada daerah
penyuntikan, apabila tertutup, buka dan ke ataskan.

Ambil obat pada tempatnya sesuai dosi yang telah ditentukan. Apabila obat dalam bentuk
sediaan bubuk, maka larutkan dengan aquades steril.

Pasang perlak atau pengalas di bawah vena yang akan dilakukan injeksi.

Tempatkan obat yang telah di ambil ke dalam bak injeksi.

Desinfeksi dengan kapas alcohol.

Lakukan pengikatan dengan karet pembendung pada bagian atas daerah yang akan
dilakukakn pemberian obat atau minta bantuan untuk membendung daerah yang akan
dilakukan penyuntikan dan lakukan penekanan.

Ambil spuit yang berisi obat.

Lakukan penusukan dengan lubang menghadap ke atas dengan memasukkan ke


pembuluh darah.

Lakukan aspirasi, bila sudah ada darah lepaskan karet pembendung dan langsung
semprotkan hingga habis.

Setelah selesai ambil spuit dengan menarik secara perlahan-lahan dan lakukan masase
pada daerah penusukan dengan kapas alcohol, spuit yang telah digunakan di masukkan ke
dalam bengkok.

Catat hasil pemberian, tanggal, waktu, dan dosis pemberian obat.

Cuci tangan.

1. Daerah Penyuntikan :
1. Pada Lengan (v. mediana cubiti / v. cephalika)
2. Pada Tungkai (v. Spahenous)
3. Pada Leher (v. Jugularis)
4. Pada Kepala (v. Frontalis atau v. Temporalis) khusus pada anak anak

1. Secara Subcutan
1. Pengertian
Merupakan cara memberikan obat melalui suntikan di bawah kulit yang dapat
dilakukan pada daerah lengan bagian atas sebelah luar atau sepertiga bagian dairi
bahu, paha sebelah luar, daerah dada dan sekitar umbilicus (abdomen).
2. Tujuan
Pemberian obat melalui jaringan sub kutan ini pada umumnya dilakukan dengan
program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah.
Pemberian insulin terdapat 2 tipe larutan yaitu jernih dan keruh karena adanya
penambahan protein sehingga memperlambat absorbs obat atau juga termasuk
tipe lambat.
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan:

Tempat injeksi

Jenis spuit dan jarum suntik yang akan digunakan

Infeksi nyang mungkin terjadi selama injeksi

Kondisi atau penyakit klien

Apakah pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat

Obat yang akan diberikan harus benar

Dosis yang akan diberikan harus benar

Cara atau rute pemberian yang benar

Waktu yang tepat dan benar

1. Indikasi dan kontra indikasi

Indikasi :

bisa dilakukan pada pasien yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama, karena tidak
memungkinkan diberikan obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan
tulang, otot atau saras besar di bawahnya, obat dosis kecil yang larut dalam air.

Kontra indikasi : obat yang merangsang, obat dalam dosis besar dan tidak larut dalam air
atau minyak.

1. Alat dan bahan

Daftar buku obat/catatan dan jadual pemberian obat

Obat dalam tempatnya

Spuit insulin

Kapas alcohol dalam tempatnya

Cairan pelarut

Bak injeksi

Bengkok perlak dan alasnya

1. Prosedur kerja

Cuci tangan

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

Bebaskan daerah yang akan disuntik atau bebaskan suntikan dari pakaian. Apabila
menggunakan pakaian, maka buka pakaian dan di keataskan.

Ambil obat dalam tempatnya sesuai dosis yang akan diberikan. Setelah itu tempatkan
pada bak injeksi.

Desinfeksi dengan kapas alcohol.

Regangkan dengan tangan kiri (daerah yang akan dilakukan suntikan subkutan).

Lakukan penusukan dengan lubang jarum menghadap ke atas dengan sudut 45 derajat
dari permukaan kulit.

Lakukan aspirasi, bila tidak ada darah, suntikkan secara perlahan-lahan hingga habis.

Tarik spuit dan tahan dengan kapas alcohol dan spuit yang telah dipakai masukkan ke
dalam bengkok.

Catat hasil pemberian, tanggal, waktu pemberian, dan jenis serta dosis obat.

Cuci tangan.

1. Daerah Penyuntikan :

Otot Bokong (musculus gluteus maximus) kanan & kiri ; yang tepat adalah 1/3 bagian
dari Spina Iliaca Anterior Superior ke tulang ekor (os coxygeus)

Otot paha bagian luar (muskulus quadriceps femoris)

Otot pangkal lengan (muskulus deltoideus)

1. Secara Intracutan
1. Pengertian
Merupakan cara memberikan atau memasukkan obat ke dalam jaringan kulit.
Intra kutan biasanya di gunakan untuk mengetahui sensivitas tubuh terhadap obat
yang disuntikkan.
2. Tujuan
Pemberian obat intra kutan bertujuan untuk melakukan skintest atau tes terhadap
reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan. Pemberian obat melalui jaringan
intra kutan ini dilakukan di bawah dermis atau epidermis, secara umum dilakukan
pada daerah lengan tangan bagian ventral.
3. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

Tempat injeksi

Jenis spuit dan jarum yang digunakan

Infeksi yang mungkin terjadi selama infeksi

Kondisi atau penyakit klien

Pasien yang benar

Obat yang benar

Dosis yang benar

Cara atau rute pemberian obat yang benar

Waktu yang benar

1. Indikasi dan Kontra Indikasi

Indikasi :

Bisa dilkakukan pada pasien yang tidak sadar, tidak mau bekerja sama karena tidak
memungkinkan untuk diberikan obat secara oral, tidak alergi. Lokasinya yang ideal adalah
lengan bawah dalam dan pungguang bagian atas.

Kontra Indikasi :

Luka, berbulu, alergi, infeksi kulit


1. Alat dan Bahan

Daftar buku obat/catatan, jadwal pemberian obat.

Obat dalam tempatnya

Spuit 1 cc/spuit insulin

Cairan pelarut

Bak steril dilapisi kas steril (tempat spuit)

Bengkok

Perlak dan alasnya.

1. Prosedur Kerja

Cuci tangan

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada pasien

Bebaskan daerah yang akan disuntik, bila menggunakan baju lengan panjang terbuka dan
keatasan

Pasang perlak/pengalas di bawah bagian yang akan disuntik

Ambil obat untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan dengan aquades. Kemudian
ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai kurang lebih 1 cc dan siapkan pada bak injeksi
atau steril.

Desinfeksi dengan kapas alcohol pada daerah yang akan dilakukan suntikan.

Tegangkan dengan tangan kiri daerah yang akan disuntik.

Lakukan penusukan dengan lubang jarum suntik menghadap ke atas dengan sudut 15-20
derajat di permukaan kulit.

Suntikkkan sampai terjadi gelembung.

Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase.

Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat/tes obat, waktu, tanggal dan jenis obat.

1. Daerah Penyuntikan :

Dilengan bawah : bagian depan lengan bawah 1/3 dari lekukan siku atau 2/3 dari
pergelangan tangan pada kulit yang sehat, jauh dari PD.

Di lengan atas : 3 jari di bawah sendi bahu, di tengah daerah muskulus deltoideus.
BAB 3
PENUTUPAN

1. KESIMPULAN
Obat dapat diberikan dengan berbagai cara disesuaikan dengan kondisi pasien, diantaranya : sub
kutan, intra kutan, intra muscular, dan intra vena. Dalam pemberian obat ada hal-hal yang perlu
diperhatikan, yaitu indikasi dan kontra indikasi pemberian obat. Sebab ada jenis-jensi obat
tertentu yang tidak bereaksi jika diberikan dengan cara yang salah.

1. SARAN
Setiap obat merupakan racun yang yang dapat memberikan efek samping yang tidak baik jika
kita salah menggunakannya. Hal ini tentunya dapat menimbulkan kerugian bahkan akibatnya
bisa fatal. Oleh karena itu, kita sebagai perawat kiranya harus melaksanakan tugas kita dengan
sebaik-baiknya tanpa menimbulkan masalah-masalah yang dapat merugikan diri kita sendiri
maupun orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Priharjo, Robert. 1995. Tekhnik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Jakarta: EGC
Hidayat, AAA. Uliyah, Musriful. 2005. Buku Saku Pratikum: Kebutuhan Dasar Manusia.
Jakarta:EGC
Potter, Patricia A. 2005. Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik Edisi 1. Jakarta:
EGC
Hidayat, AAA, Uliyah, Musriful. 2008. Konsep Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan Edisi 2.
Jakarta:Salemba Medika
LAPORAN PENDAHULAN INJEKSI INTRA MUSKULER (IM)

LAPORAN PENDAHULUAN
INJEKSI INTRAMUSCULAR (IM)

AKADEMIKEBIDANAN WIYATA MITRA HUSADA


PROGRAMSTUDI D-III KEBIDANAN
NGANJUK2014

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Pemberian Obat Secara Intramuskular


Pengertian

pemberian

obat

secara

intramuskular

adalah

pemberian

obat/cairan dengan cara dimasukkan langsung kedalam otot (muskulus). Pemberian


obat dengan cara ini dilakukan pada bagian tubuh yang berotot besar, agar tidak
ada kemungkinan untuk menusuk saraf, misalnya pada bokong dan kaki bagian
atas atau pada lengan bagian atas. Pemberian obat seperti ini memungkinkan obat
akan dilepas secara berkala dalam bentuk depot obat.
Jaringan intramuskular terbentuk dari otot yang bergaris yang mempunyai
banyak vaskularisasi aliran darah tergantung dari posisi otot ditempat penyuntikan.

1.2 Mekanisme fisiologis


Obat masuk kedalam tubuh beberapa saat setelah di injeksikan, obat akan
masuk ke dalam tubuh melalui pembuluh darah, mengikuti aliran darah, disana obat
akan di absorbsi oleh tubuh,

Setelah di absorbsi partikel obat yang telah

terabsorbsi akan di edarkan oleh darah ke seluruh tubuh lainnya, namun disini
belum memberikan efek karena belum tepat pada organ target sesuai dengan
fungsi obat itu sebagai apa, entah sebagai analgesik, antipiretik, antiemesis, dan
lain sebagainya. Selanjutnya setelah obat di distribusikan ke seluruh tubuh, karena
obat belum memberikan efek , obat akan di metabolisme oleh hati, di hati ini obat
akan dipisahkan berbagai komponenenya, partikel obat yang dibutuhkan oleh organ
target akan di edarkan ke organ target tersebut untuk memberikan efek sesuai
dengan masalah ( penyakit ) yang akan diatasi , sedangkan bagian partikel yang
tidak dibutuhkan tubuh akan di ekskresikan oleh tubuh baik melalui keringat, urine,
dan lain sebagainya.

1.2 Tujuan pemberian obat secara intramuskular


Tujuan pemberian obat secara intramuskular yaitu agar obat diabsrorbsi tubuh
dengan cepat.

1.3 Indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular


Indikasi pemberian obat secara intramuskular biasa dilakukan pada pasien
yang tidak sadar dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk
diberika obat secara oral, bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, benjolan
tulang, otot atau saraf besar dibawahnya. Pemeberian obat secara intramuskular
harus dilakukan atas perintah dokter.

1.4 Kontra indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular


Kontra indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular yaitu: infeksi, lesi
kulit, jaringan parut, benjolan tulang, otot atau saraf besar dibawahnya.

1.5 Daerah penyuntikan dalam pemberian obat secara intramuscular


a.

Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring

b.

telentang dengan lutut sedikit fleksi.


Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau
telentang dengan lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi.
Area ini paling banyak dipilih untuk injeksi muscular karena pada area ini tidak

c.

terdapat pembuluh darah dan saraf besar.


Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan
lutut diputar kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi

d.

dan diletakkan di depan tungkai bawah.


Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau
berbaring mendatar lengan atas fleksi.

1.6 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Obat Secara IM


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tempat injeksi
Jenis spuit dan jarum yang digunakan
Kondisi atau penyakit klien
Obat yang tepat dan benar
Dosis yang diberikan harus tepat
Pasien yang tepat
Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar

1.7 Alat dan Bahan Dalam Pemberian Obat Secara Intramuskular


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Daftar buku obat/catatan dan jadwal pemberian obat


Obat yang dibutuhkan (obat dalam tempatnya)
Spuit dan jarum suntik sesuai dengan ukuran. Untuk orang dewasa panjangnnya
2,5-3 cm dan untuk anak-anak panjangnya 1,25-2,5 cm.
Kapas alcohol
Cairan pelarut/aquabidest steril
Bak instrument/ bak injeksi
Gergaji ampul (bila diperlukan)
Nierbekken
Handscoon 1 pasang

1.8 Prosedur Kerja Pemberian Obat Secara Intramuskular


a.
b.
c.

Mencuci tangan
Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisnya. Setelah itu

letakkan dalam bak injeksi.


d. Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan (perhatikan lokasi penyuntikan)
e. Desinfekasi dengan kapas alkohol pada tempat yang akan dilakukan injeksi.
f. Lakukan penyuntikan:
Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring
telentang dengan lutut sedikit fleksi.
Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau
telentang dengan lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi.
Area ini paling banyak dipilih untuk injeksi muscular karena pada area ini tidak
terdapat pembuluh darah dan saraf besar.

Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan
lutut diputar kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi
dan diletakkan di depan tungkai bawah.
Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau
g.
h.

berbaring mendatar lengan atas fleksi.


Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus (900).
Setelah jarum masuk lakukan inspirasi spuit,bila tidak ada darah yang tertarik
dalam spuit maka tekanlah spuit hingga obat masuk secara berlahan-lahanhingga

i.

habis.
Setelsh selesai tarik spuit dan tekan sambil dimasase penyuntikan dengan kapas

j.
k.

alcohol,kemudian spuit yang telah di gunakan letakkan dalam bengkok.


Catat reaksi pemberian jumlah dosis dan waktu pemberian
Cuci tangan

1.9

Prosedur Pelaksanaan Pemberian Obat Secara IM (Intra Muskuler) dan


Penyuluhan Pasien
Penyuluhan pasien,memungkinkan pasien untuk minum obat dengan aman dan
efektif.

a. Tahap PraInteraksi
Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
Mencuci tangan
Menyiapkan obat dengan benar
Menempatkan alat di dekat klien dengan benar

b. Tahap Orientasi
Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
c. Tahap Kerja
d. Tahap Terminasi
Melakukan evaluasi tindakan
Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
Membereskan alat-alat
Berpamitan engan klien
Mencuci tangan
Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

Nissa Anagh Uchil

Friday, 25 April 2014


IM (Injeksi Intramuskuler)

KELOMPOK 3
KDM INJEKSI INTRAMUSKULAR

Tugas ini disusun untuk memenuhi nilai mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia II
semester dua tahun akademik 2013/2014
Disusun Oleh :

1. Amilatul Kamilah

7. Nailatul Khikmah

2. Dea Fera Indikasari

8. Nurul Febriana Hidayah

3. Dimas Janu Pratama

9. Rizkiana Amelia

4. Hidayatul Khosidah

10. Susiyanti

5. Joko Setyabudi

11. Wiji Astuti

6. Loly Risqiani
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI D III KEPERAWATAN PEKALONGAN
TAHUN AKADEMIK 2013 / 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, tufiq, hidayah, serta inayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas Kebutuhan Dasar Manusia II.
Dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan sumbangan pemikiran
dari beberapa pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis sampaikan
ucapan terima kasih khususnya kepada:
1.
H. Sri Mawar, SST selaku dosen Kebutuhan Dasar Manusia II yang telah
membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.

2.
Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah
membantu penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Hal ini disebabkan
terbatasnya pengetahuan yang kami miliki. Untuk itu, saran dan kritik yang bersifat
membangun dari para pembaca selalu kami harapkan demi sempurnanya makalah
ini.
Akhirnya, harapan kami mudah-mudahan makalah yang sederhana ini ada
manfaatnya khususnya bagi kami dan umumnya bagi para pembaca. Amin.

Pekalongan,
20 Maret 2014

Penulis

INJEKSI INTRAMUSKULER
A.

Pengertian

Injeksi intramuskuler adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke


jaringan otot dengan menggunakan spuit.

B.

Tujuan Pemberian Obat Intramuskuler

Pemberian obat dengan intramuscular bertujuan agar

a. Memasukan sejumlah obat pada jaringan otot untuk absorpsi obat lebih cepat
disbanding dengan pemberian secara subcutan karena lebih banyaknya suplai
darah di otot tubuh
b.
Untuk memasukkan dalam jumlah yang lebih besar disbanding obat yang
diberikan melalui subcutan.

c.
Pemberian dengan cara ini dapat pula mencegah atau mengurangi iritasi obat.
Namun perawat harus nerhati-hati dalam melakukan injeksi secara intramuscular
karena cara ini dapat menyebabkan luka pada kulit dan rasa nyeri dan rasa takut
pad pasien.

C.
-

Tempat Injeksi
Deltoid/lengan atas

Area ini dapat ditemukan pada lengan atas bagian luar. Letakkan dua jari secara
vertical dibawah akromion dengan jari yang atas diatas akromion. Lokasi injekssi
adalah 3 jari dibawah akromion.
-

Dorso gluteal/otot panggul

Bagi area glutael menjadi kuadran-kuadran. Area glutael tidak terbatas hanya pada
bokong saja tetapi memanjang kearah Kristal iliaka. Area injeksi dipilih pada
kuadran area luar atas. Lokasi ini dapat digunakan pada orang dewasa dan anakanak diatas usia 3 tahun, Injeksi tidak mengenai saraf skiatik dan pembuluh darah
-

Ventrogluteal

Posisi klien berbaring miring, telentang, atau telentang dengan lutut atau panggul
miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi. Area ini juga disebut area von
hoehstetter. Area ini paling banyak dipilih untuk injeksi muscular karena pada area
ini tidak terdapat pembuluh darah dan saraf besar. Area ini ini jauh dari anus
sehingga tidak atau kurang terkontaminasi.
-

Vastus lateralis (Paha)

Area ini terletak antar sisi median anterior dan sisi midlateral paha. Bila melakukan
injeksi pada bayi disarankan menggunakan area ini karena pada area ini tidak
terdapat serabut saraf dan pemubuluh darah besar. Area injeksi disarankan pada
1/3 bagian yang tengah
-

Rektus femoralis

Pada orang dewasa, rectus femoris terletak pada sepertiga tengah paha bagian
depan.Pada bayi atau orang tua, kadang-kadang kulit di atasnya perlu ditarik atau
sedikit dicubit untuk membantu jarum mencapai
kedalaman yang tepat
-

Pada bokong

Daerah tersebut diatas digunakan dalam penyuntikan dikarenakan massa otot yang
besar, vaskularisasi yang baik dan jauh dari syaraf.

D.
1.

Persiapan
Persiapan Alat

Handscoon 1 pasang

Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau spuit imunisasi

Bak instrument steril

Kom berisi kapas alcohol

Perlak dan pengalas

Bengkok

Obat injeksi dalam vial atau ampul

Daftar pemberian obat

Kikir ampul bila diperlukan

waskom larutan klorin 0,5 %

tempat cuci tangan

handuk/lap tangan

kapas alcohol

2.

Persiapan Tempat / Lingkungan

Tempat / lingkungan yang harus disiapkan dalam pemberian obat yaitu :


-

Meminta pengunjung atau keluarga menunggu di luar

Bekerja sebaiknya dari sebelah kanan pasien

Meletakkan alat sedemikian rupa sehingga mudah bekerja

3.

Persiapan Klien

Jelaskan prosedur pada pasien

Tempatkan pasien pada posisi yang nyaman, contoh, posisi sims dll.

4.

Persiapan Perawat

Cuci tangan

Memakai hanscoon

E.

Prosedur kerja

A.

Fase orientasi

1.

Salam terapeutik

2.

Evaluasi/ validasi

3.

Kontrak

B.

Fase kerja

1.

Siapkan peralatan ke dekat pasien

2.

Pasang sketsel atau tutup tirai untuk menjaga privasi pasien

3.

Cuci tangan

4.
Mengidentifikasi pasien dengan prinsip 5 B (Benar obat, dosis, pasien, cara
pemberian dan waktu
5.

Memberitahukan tindakan yang akan dilakukan

6.

Letakkan perlak dan pengalas dibawah daerah yang akan di injeksi

7.

Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien

8.

Mematahkan ampula dengan kikir

9.

Memakai handscoon dengan baik

10. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dengan advice dokter dengan teknik
septic dan aseptic
11. Menentukan daerah yang akan disuntik
12. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik
13. Usapkan daerah penyuntikan secara sirkuler menggunakan kapas
14. Mengangkat kulit sedikit dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri (tangan
yang tidak dominant)
15. Tusukkan jarum ke dalam otot dengan jarum dan kulit membentuk sudut 900
16. Lakukan aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk memeriksa apakah jarum
sudah masuk kedalam pembuluh darah yang ditandai dengan darah masuk ke
dalam tabung spuit (saat aspirasi jika ada darah berarti jarum mengenai pembuluh
darah, maka cabut segera spuit dan ganti dengan spuit dan obat yang baru). Jika
tidak keluar darah maka masukkan obat secara perlahan-lahan
17. Tarik jarum keluar setelah obat masuk (pada saat menarik jarum keluar tekan
bekas suntikan dengan kapas alcohol agar darah tidak keluar)

18. Lakukan masase pada tempat bekas suntikan (pada injeksi suntikan KB maka
daerah bekas injeksi tidak boleh dilakukan masase, karena akan mempercepat
reaksi obat, sehingga menurunkan efektifitas obat.
19. Rapikan pasien dan bereskan alat (spuit diisi dengan larutan chlorine 0,5%
sebelum dibuang)
20. Lepaskan sarung tangan rendam dalam larutan chlorine
21. Cuci tangan

C.

Fase Terminasi

1.

Evalusi respon klien terhadap tindakan yang dilakukan

2.

Rencana tindak lanjut

3.

Kontrak yang akan datang

F.

1.

Hal Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemberian Obat

Perhatikan 5 benar dalam pemberian obat.

2.
Oleh karena injeksi ini menakutkan klien, mkaka usahakan klien tidak menjadi
takut dengan memberikan penjelasan.
3.
Perhatikan tekhnik aseptik dan anti septik baik pada alat-alat maupun cara
kerja.
4.
Pada injeksi IM, memasukkan jarum seperti melepaskan anak panah sehingga
rasa sakit berkurang
5.
Tempat penyuntikan IM pada Muskuslus Gluteus harus betul-betul tepat,
apabila salah akan berbahaya karena dapat mengena saraf ischiadicus yang
menyebabkan kelumpuhan.

BAB III
a.

Kesimpulan

Injeksi intramuskuler (IM) adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke
jaringan otot dengan menggunakan spuit.
Injeksi intra muskuler bertujuan untuk memepercepat absorpsi obat yang diberikan
dibandingkan dengan injeksi subkutan.
Injeksi intra muskuler dapat diberiakan pada bagian tubuh deltoid/lengan atas,
dorso gluteal/otot panggul, vastus lateralis (Paha), rektus femoralis,dan pada
bokong (Dorsogluteal).
Dalam pemberian injeksi IM perhatikan 5 benar dalam pemberian obat, teknik
aseptik pada prosedur kerja dan alat, beri penjelasan pada klien agar klien tidak
merasa takut, dan tempat injeksi harus benar supaya tidak mengenai saraf dan
membahayakan klien.

b.

Saran

Mahasiswa agar lebih memahami prinsip-prinsip pemberian obat melalui


injeksi intra muskuler (IM)

Mahasiswa agar dapat melakukan injeksi intramuskuler dengan baik dan


benar sesuai prosedur yang berlaku

DAFTAR PUSTAKA

http://meimemeidiana.blogspot.com/2013/06/injeksi-im.html
http://ramitsul.blogspot.com/2012/07/teknik-penyuntikan-intramuscular.html
http://meimemeidiana.blogspot.com/2013/06/injeksi-im.html
http://vinayuniarti.blogspot.com/2013/04/injeksi-intramuskuler_9.html

Diposkan oleh Nissa Anagh Uchil di 1:49:00 p.m.


Reaksi:
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home


Subscribe to: Post Comments (Atom)
Translate
Select Language
Total Pengunjung
556394
Pengikut
Search This Blog

My Posting

2011 (15)

2012 (1)

2013 (8)

2014 (110)
February (12)
March (23)
April (6)
KDM - SubCutan
IC (Injeksi Intracutan)
INFORMASI OBAT UMUM
Sosiologi
IM (Injeksi Intramuskuler)
Radang
May (7)
October (49)
November (13)

2015 (57)

My Album Photos

Picture Window template. Powered by Blogger.


Original text
Contribute a better translation

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Intramuskular (IM), rute IM memungkinkan adsorbsi obat yang lebih cepat daripada rute
SC karena pembuluh darah lebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang
ketika obat memasuki otot yang dalam tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat

langsung ke pembuluh darah. Dengan injeksi di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam 1030 menit, guna memperlambat adsorbsi dengan maksud memperpanjang kerja obat, seringkali
digunakan larutan atau suspensi dalam minyak umpamanya suspense penicilin dan hormone
kelamin.
1.2. Ruang Lingkup Penulisan
1.Pengertian pemberian obat secara IM
2. Tujuan pemberian secara IM
3. Indikasi pembrian obat secara IM
4. Kontra indikasi pemberian obat secara IM
5. Daerah penyuntikan IM
6. Persiapan alat dn bahan dalam pemberian obat secara IM
7. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam IM
8. Prosedur pelaksanaan dan penyuluhan pasien
9. Contoh kasus
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini sebagai pembelajaran tentang bagaimana proses pemberian
obat secara intramuskular secara benar dan tpat sehingga tidak beresiko bagi pasien dan petugas
kesehatan.
1.4. Metode Penulisan
Data penulisan makalah ini diperoleh dengan metode studi kepustakaan. Metode studi
kepustakaan yaitu suatu metode dengan membaca pustaka tentang sistem pemberian obat secara
intramuskular. Selain itu, tim penulis juga memperoleh data dari CI Ruang Rawat Bedah (RRB)
serta dari interne yang merupakan metode yang dapat mempermudah memperoleh informasi
yang dibutuhkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pemberian Obat Secara Intramuskular
Pengertian pemberian obat secara intramuskular adalah pemberian obat/cairan dengan cara
dimasukkan langsung kedalam otot (muskulus). Pemberian obat dengan cara ini dilakukan pada
bagian tubuh yang berotot besar, agar tidak ada kemungkinan untuk menusuk saraf, misalnya
pada bokong dan kaki bagian atas atau pada lengan bagian atas. Pemberian obat seperti ini
memungkinkan obat akan dilepas secara berkala dalam bentuk depot obat.
Jaringan intramuskular terbentuk dari otot yang bergaris yang mempunyai banyak
vaskularisasi aliran darah tergantung dari posisi otot ditempat penyuntikan.
2.2. Tujuan pemberian obat secara intramuskular
Tujuan pemberian obat secara intramuskular yaitu agar obat diabsrorbsi tubuh dengan
cepat.
2.3. Indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular
Indikasi pemberian obat secara intramuskular biasa dilakukan pada pasien yang tidak sadar
dan tidak mau bekerja sama karena tidak memungkinkan untuk diberika obat secara oral, bebas
dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, benjolan tulang, otot atau saraf besar dibawahnya.
Pemeberian obat secara intramuskular harus dilakukan atas perintah dokter.
2.4. Kontra indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular
Kontra indikasi dalam pemberian obat secara intramuskular yaitu: infeksi, lesi kulit,
jaringan parut, benjolan tulang, otot atau saraf besar dibawahnya.
2.5. Daerah penyuntikan dalam pemberian obat secara intramuskular
a. Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring telentang
dengan lutut sedikit fleksi.
b. Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan
lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi. Area ini paling banyak dipilih
untuk injeksi muscular karena pada area ini tidak terdapat pembuluh darah dan saraf besar.
c. Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut diputar
kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan
tungkai bawah.
d. Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring
mendatar lengan atas fleksi.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

2.6. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Obat Secara


Tempat injeksi
Jenis spuit dan jarum yang digunakan
Kondisi atau penyakit klien
Obat yang tepat dan benar
Dosis yang diberikan harus tepat
Pasien yang tepat
Cara atau rute pemberian obat harus tepat dan benar

Intramuskular

2.7. Alat dan Bahan Dalam Pemberian Obat Secara Intramuskular


1. Daftar buku obat/catatan dan jadwal pemberian obat
2. Obat yang dibutuhkan (obat dalam tempatnya)
3. Spuit dan jarum suntik sesuai dengan ukuran. Untuk orang dewasa panjangnnya 2,5-3 cm dan
untuk anak-anak panjangnya 1,25-2,5 cm.
4. Kapas alkohol
5. Cairan pelarut/aquabidest steril
6. Bak instrument/ bak injeksi
7. Gergaji ampul (bila diperlukan)
8. Nierbekken
9. Handscoon 1 pasang
2.8. Prosedur Kerja Pemberian Obat Secara Intramuskular
1. Mencuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisnya. Setelah itu letakkan dalam
bak injeksi.
4. Periksa tempat yang akan dilakukan penyuntikan (perhatikan lokasi penyuntikan)
5. Desinfekasi dengan kapas alkohol pada tempat yang akan dilakukan injeksi.
6. Lakukan penyuntikan:
a. Pada daerah paha (vastus lateralis) dengan cara anjurkan pasien untuk berbaring telentang
dengan lutut sedikit fleksi.
b. Pada ventrogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk miring, tengkurap atau telentang dengan
lutut atau panggul miring dengan tempat yang diinjeksi fleksi. Area ini paling banyak dipilih
untuk injeksi muscular karena pada area ini tidak terdapat pembuluh darah dan saraf besar.
c. Pada daerah dorsogluteal dengan cara anjurkan pasien untuk tengkurap dengan lutut diputar
kearah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan
tungkai bawah.
d. Pada daerah deltoid (lengan atas) dengan cara anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring
mendatar lengan atas fleksi.
7. Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus.
8. Setelah jarum masuk lakukan inspirasi spuit,bila tidak ada darah yang tertarik dalam spuit maka
tekanlah spuit hingga obat masuk secara berlahan-lahanhingga habis.
9. Setelsh selesai tarik spuit dan tekan sambil dimasase penyuntikan dengan kapas
alcohol,kemudian spuit yang telah di gunakan letakkan dalam bengkok.
10. Catat reaksi pemberian jumlah dosis dan waktu pemberian

11. Cuci tangan


2.9. Prosedur Pelaksanaan Pemberian Obat Secara IM (Intra Muskuler) dan Penyuluhan
Pasien
Penyuluhan pasien,memungkinkan pasien untuk minum obat dengan aman dan efektif.
a. Tahap PraInteraksi
1. Melakukan verifikasi data sebelumnya bila ada
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan obat dengan benar
4. Menempatkan alat di dekat klien dengan benar
b. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
c. Tahap Kerja
d. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan
2. Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
3. Membereskan alat-alat
4. Berpamitan engan klien
5. Mencuci tangan
6. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

BAB III
TINJAUAN KASUS
1. Biodata pasien
Nama
: Tn M
Umur
: 55 tahun
Pekerjaan
: Petani
Agama
: Islam
Alamat
: Desa Purwodadi
2. Keluhan Utama
Pasien mengatakan adanya benjolan pada skrotum sebelah kanan yang sudah dirasakan 1 tahun
ini.
3. Diagnosa Medis

Tn M Usia 55 Tahun dengan Hernia Scrotalis Dextra


4. Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Hari/Tanggal
: Selasa, 18 Maret 2014
Jam
: 12.00 WIB
Tempat
: Ruang Rawat Bedah/RSUD Padangsidimpuan
Pembimbing lapangan
: Hanti Fitiani, AmK (Staf RRB)
Oleh
: Kelompok II
5. Langkah-langkah tindakan dan hasilnya:
a. Persiapan alat
Spuit sesuai ukuran
Obat Xylomidon 2 cc/8 jam
Obat Duradryl 2cc/8 jam (anti histamin)
Pengguanaan secara IM jarang menimbulkan efek samping sehingga cara ini paling
digunakan.
Kapas alkohol
Bengkok
Tempat sampah
Buku catatan dan alat tulis

sering

b. Persiapan pasien
1. Memberi salam pada pasien
2. Menganjurkan pasien untuk tidur tengkurap pada tempat yang telah disediakan
6. Langkah-langkah tindakan
a. Petugas mencuci tangan di air yang mengalir dengan menggunakan sabun dan dikeringkan
dengan handuk kering dan bersih
b. Memperhatikan lingkungan pasien untuk menjaga privasi pasien
c. Melakukan anamnese pada pasien
d. Membuka spuit dari kemasan dan memasukkan obat kedalam spuit (jangan ada gelembung
udara dalam spuit)
e. Mengatur posisi pasien (ventrogluteal) dan membebaskan daerah yang akan disuntikkan dari
pakaian pasien
f. Menentukan tempat penyuntikan yaitu pada daerah bokong dengan menarik garis lurus dari
SIAS menuju Os Coccygeus, dibagi 3 bagian lalu diambil 1/3 bagian pertama dari SIAS
g. Mendesinfekasi bagian yang akan disuntik dengan kapas alcohol
h. Meregangkan daerah yang akan disuntik dengan jari telunjuk dan ibu jari
i. Memasukkan jarum ke posisi tegak lurus 900 dan cepat sedalam 2/3 bagian jarum
j. Memasukkan obat secara perlahan-lahan
k. Telunjuk tangan kiri menekan bekas suntikan dengan kapas alcohol dan tangan kanan mencabut
jarum dengan cepat.
l. Menekan daerah yang telah disuntik dan mengadakan komunikasi dengan klien bahwa proses
sudah selesai dikerjakan.
m. Merapikan baju pasien dan menata lingkungan
n. Mengembalikan alat pada tempatnya
o. Membuang bekas spuit dan jarum ke safety box, tutup spuit dibuang ke sampah medis
p. Mencuci tangan dengan sabun pada air yang mengalir dengan cara menggunakan 7 langkah dan
dikeringkan dengan handuk kering dan bersih.

q. Mencatat tindakan yang sudah dilakukan


7. Hasil tindakan
- Klien merasa lega dan puas
- Keadaan pasien baik tidak mengalami pusing
8. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)
Menganjurkan pada pasien untuk melakukan kompres hangat pada area yang dilakukan
penusukan, apabila masih terasa nyeri/bengkak, untuk mengurangi rasa nyeri tersebut.

BAB IV
PEMBAHASAN
1. Menurut teori dalam persiapan alat ada bak instrumen kecil yang telah diberi alas, Sedangkan
dilapangan tidak memakai bak instrumen. Jadi persiapan alat antara teori dan praktek dilapangan
ada kesenjangan, keefisiensi waktu dan banyaknya pasien yang menunggu merupakan faktor
utama penyebab terjadinya kesenjangan.
2. Pada saat persiapan pasien, terjadi kesenjangan antara teori dan praktek. Bidan tidak
memberikan salam dam memperkenalkan diri, keefisieni waktu dan banyaknya pasien yang
menunggu merupakan faktor utama penyebab terjadinya kesenjangan tersebut.
3. Pada saat melakukan tindakan
a. Setiap melakukan suatu tindakan injeksi, petugas tidak selalu mencuci tangan, tetapi hanya di
awal/pasien pertama saja. Hal ini dikarenakan sudah ada pasien lain yang menunggu dan untuk
keefisienan waktu. Selain itu handuk yang digunakan untuk mengeringkan tangan bukan handuk
sekali pakai, melainkan handuk yang setiap kali digunakan untuk mengeringkan tangan sesudah

selesai melakukan tindakan, untuk setiap orang yang memakai. Petugas juga tidak selalu
memperkenalkan diri pada setiap pasien, yang sekali lagi disebabkan dengan tujuan efisiensi
waktu.
b. Menurut teori selesai melakukan tindakan spuit harus di spool dengan larutan clorin sebelum
dibuang, sedangkan di lapangan tidak dilakukan karena spuit langsung dibuang di safety box.
Karena spuit yang digunakan memakai spuit disposibble.

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
a. Pasien yang di periksa adalah Tn. M usia 55 tahun.
b. Diagnosa medis Tn. M usia 55 tahun dengan Injeksi Intra muscular Xylomidon 2cc dan
Duradryl 2cc setiap 8 jam sekali.
c. Dalam melakukan tindakan injeksi IM tersebut ada beberapa kesenjangan antara teori yang di
dapat dengan kenyataan pada praktik di lapangan.
d. Setelah di lakukan tindakan keadaan pasien baik tidak mengalami pusing, pasien merasa lega
dan puas
5.2. Saran
Lahan Praktek
Diharapkan bagi lahan praktek untuk terus meningkatkan mutu pelayanan pada
masyarakat/pasien sekitar guna meningkatkan kesejahteraan kesehatan pasien.
b. Mahasiswa
Diharapkan bagi mahasiswa lebih meningkatkan ilmu pengetahuan, lebih banyak
membaca buku tentang kesehatan, serta dapat memahami dan menerapkan tindakan sesuai
dengan teori.
c. Institusi
Institusi pendidikan sebagai tempat untuk mencari ilmu, diharapkan dapat menjadi
tempat pengembangan ilmu khususnya tentang injeksi yang sering dijumpai dalam lahan praktek.
a.

DAFTAR PUSTAKA
Ceklist Akbid Brawijaya Husada (2011). Injeksi intramuscular
Potter, Perry. Ganiswara (2005). Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Famakologi, FKUI
Ratna Ambarwati, Eni (2009). KDPK Kebidanan Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT. Kawan Pustaka

Saifudin, Abdul Bani (2006). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Tjay, T.H (2009). Faktor Patofisiologi Tubuh. Http://liew.267.wordpress.com/ pengaruh cara
pemberian terhadap absorbs obat/ diakses tanggal 26 Agustus 2011
Uliyah, Musrifatul dkk (2008). Ketrampilan Dasar Praktik Klinik. Jakarta: Salemba Medika