Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH OSEANOGRAFI

Dampak Bencana Lumpur Lapindo pada Perikanan Budidaya

Oleh : Kelompok 12
Anissa Dwi Rahmadhanti

NIM 13962/MSP

Febriansyah Yuditomo

NIM 13965/BDP

Ferry Cahya Raharja

NIM 13958/BDP

Saiful Nur Syarifudin

NIM 13959/MSP

DEPARTEMEN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

ABSTRAK
Tujuan makalah ini adalah menjelaskan dan menguraikan berbagai dampak yang
ditimbulkan oleh bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo terhadap kegiatan budidaya perikanan.
Kabupaten Sidoarjo terletak di Provinsi Jawa Timur yang memiliki potensi perikanan budidaya
yang cukup tinggi. Ikan budidaya yang menjadi komoditas adalah ikan bandeng dan udang
windu. Pada 29 Mei 2006, terjadi peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran
Lapindo Brantas Inc. di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten
Sidoarjo, Jawa Timur. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan
tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di
sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Kegiatan budidaya ikan di
Sidoarjo juga terganggu karena peristiwa ini, limbah lumpur mencemari tambak-tambak ikan dan
udang, dan menyebabkan produksi ikan di Sidoarjo menurun.

Kata Kunci : budidaya, dampak, Lapindo, lumpur, Sidoarjo

DAFTAR ISI
ABSTRAK i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR ii
BAB I : PENDAHULUAN
a. Latar Belakang. 1
b. Rumusan Masalah.. 2
BAB II : ISI
a. Potenisi Budidaya Perikanan Daerah Sidoarjo. 3
b. Bencana Lumpur Lapindo.

c. Dampak Terhadap Budidaya Perikanan..

d. Upaya yang Telah Dilakukan.

BAB III : PENUTUP


a. Simpulan.. 10
b. Saran 10
DAFTAR PUSTAKA 11

DAFTAR GAMBAR
Nomor
1-2

Judul
Potensi Udang Windu dan Ikan Bandeng di Sidoarjo

Halaman
1

BAB I
PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menguraikan bagaimana dampak yang

ditimbulkan oleh bencana Lumpur Lapindo yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur
terhadap kegiatan budidaya perikanan, beserta potensi perikanan budidaya di daerah yang
terkena dampak dari bencana Lumpur Lapindo. Makalah ini dibuat dengan mengumpulkan
informasi terkait rumusan masalah dari berbagai sumber.
Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa
Timur. Menurut (BPS, 2002; Ikanmania, 2008) Propinsi Jawa Timur memiliki luasan tambak
terluas di Indonesia terutama berpusat pada Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo. Luasan
tersebut mencapai 53. 423 ha atau 15% dari keseluruhan luas wilayah tambak di seluruh
Indonesia. Memiliki area luasan tambak yang besar membuat Kabupaten Sidoarjo sangat
potensial dibuat untuk budidaya ikan bandeng yang nantinya turut membantu mengurangi tingkat
pengangguran dan meningkatkan perekonomian masyarakat, khususunya masyarakat Kabupaten
Sidoarjo yang tingal di wilayah pesisir yang banyak terdapat tambak.
Secara teknis budidaya ikan bandeng di Kabupaten Sidoadrjo sangat mendukung.
Letaknya yang strategis antara jarak lokasi tambak dan kota yang relatif dekat turut membantu
proses pemasaran ikan bandeng produksi para petani Kabupaten Sidoarjo (Hamdani, 2007).
Kabupaten Sidoarjo yang terletak berbatasan langsung dengan laut jawa mebuat mepunyai
potensi air asin yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas budidaya ikan bandeng, selain
itu daerah Kabupaten Sidoarjo yang dialiri oleh beberapa sungai besar seperti Sungai Porong
berpotensi menyediakan air tawar yang juga dapat digunakan untuk mendukung aktivitas
budidaya ikan bandeng. Untuk persediaan air payau sendiri juga banyak terutama di daerah
pesisir yang banyak dijadikan kawasan pertambakan.
Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sidoarjo menyebutkan bahwa
produksi budidaya ikan bandeng yang dihasilkan semakin meningkat dari tahun 2001- 2003.
Produksi ikan bandeng menunjukkan tren peningkatan produksi dari 13.552.200 Kg pada tahun
2001, meningkat menjadi 14.229.800 Kg pada tahun 2002 dan 14.464.000 Kg pada tahun 2003.

Sedangkan produksi udang windu menduduki peringkat kedua, yang menunjukkan kenaikan
produksi dari 3.592.100 Kg pada tahun 2001 menjadi 4.191.700 Kg pada tahun 2002 Akan
tetapi, tren peningkatan produksi perikanan dan kelautan itu berakhir pada tahun 2006 seiring
dengan munculnya kejadian luapan lumpur PT. Lapindo Brantas di Kecamatan Porong, Sidoarjo.
Hasil produksi perikanan dan kelautan pada tahun 2006 hanya menunjukkan nilai sebesar
22.253.500 Kg. Hal itu diindikasikan karena adanya pengaruh luapan lumpur yang mengandung
berbagai macam unsur dan zat kimia yang perlu diteliti secara lebih mendalam. (Samsundari dan
Perwira, 2011)
II.

Rumusan Masalah
1. Bagaimana potensi budidaya Perikanan di daerah bencana lumpur lapindo,
Sidoarjo, Jawa Timur?
2. Bagaimana terjadinya bencana lumpur Lapindo?
3. Bagaimana dampak yang ditimbulkan dari bencana terhadap kegiatan budidaya?
4. Upaya apa yang telah dilakukan untuk menanggulangi bencana tersebut ?

BAB II
ISI

a. Potenisi Budidaya Perikanan di Sidoarjo, Jawa Timur


Sidoarjo dikenal sebagai sentranya budidaya tambak di Jawa Timur. Berdasarkan data
statistik perikanan budidaya Jawa Timur, total produksi budidaya tambak sidoarjo terbaik kedua
setelah kabupaten Gresik. Andalan produksi budidaya tambak kabupaten Sidoarjo adalah
komoditas bandeng dan udang terutama udang windu dan vaname. Oleh karenanya tidak salah
jika Sidoarjo menjadikan ikan bandeng dan udang sebagai ikon daerah.

Potensi Udang Windu dan Ikan Bandeng di Sidoarjo

Sentra produksi budidaya tambak kabupaten sidoarjo terbagi dalam 8 kecamatan yang
tersebar di muara sungai atau delta yang sangat subur lahannya dan perairannya yang bagus.
Potensi pengembangan budidaya tambak di kabupaten sidoarjo sangat besar. Berdasarkan data
dinas kelautan dan perikanan kabupaten sidoarjo memiliki potensi budidaya tambak sebesar
15.530 hektare Berikut secara lengkap luas lahan budidaya tambak di Kabupaten Sidoarjo:
1. Kecamatan Jabon 4.144 hektare.
2. Kecamatan Sedati 4.100 hektare.
3. Kecamatan Sidoarjo 3.128 hektare.

4. Kecamatan Candi 1.032 hektare.


5. Kecamatan Buduran 731 hektare.
6. Kecamatan Tanggulangin 497 hektare.
7. Kecamatan Porong 496 hektare.
8. Kecamatan Waru 402 hektare.
Lokasi lahan budidaya tambak terbesar terletak di kecamatan Sedati dan kecamatan
Jabon yang masing-masing luasan lahan tambaknya berada dikisaran 4.100 ha. Kecamatan
Sedati lokasi lahan budidaya cukup dekat dengan kota sidoarjo dan juga sangat dekat dengan
bandara Djuanda. Bahkan lokasinya terlihat dari pesawat ketika berada di atas Jawa Timur.
Lokasi yang cukup dekat dengan pusat ekonomi dan pusat kota menyebabkan kecamatan Sedati
cukup rawan dengan alih fungsi lahan dan penurunan kualitas air dan tanah. Apalagi, kini berdiri
beberapa pabrik yang dikhawatirkan mencemari perairan budidaya tambak sekitar.
Sementara kecamatan jabon letaknya cukup jauh Sama halnya dengan kecamatan Sedati,
kecamatan Jabon sebagian besar petambaknya juga usaha budidaya tambaknya juga
menggunakan system polikultur. Komoditas yang dikembangkan di kecamatan ini juga lebih
beragam. Setidakya ada polikultur dengan rumput laut Gracilaria di daerah ini.

Secara umum budidaya tambak di kabupaten Sidoarjo lebih banyak didominasi


komoditas bandeng, udang windu dan udang

vaname. Model budidaya tambak yang

dikembangkan adalah system polikultur yakni membudidayakan dua komoditas atau lebih dalam
satu lahan tambak. Polikultur yang banyak dikembangkan di Sidoarjo adalah budidaya bandeng
dengan

udang

baik

udang

windu

ataupun

udang

vaname.

Petambak di kabupaten Sidoarjo rata-rata dapat melakukan panen sebanyak dua sampai
tiga kali panen. Hasil panen sebagian besar dijual ke pedagang yang datang ke pembudidaya.
Komoditas bandeng dipanen sebanyak dua kali dalam setahun sementara udang windu dipanen
sebanyak tiga kali dalam setahun.

Rata-rata panen yang dihasilkan oleh pembudidaya cukup menjanjikan. Oleh karenanya
banyak penduduk yang menggantungkan hidupnya pada usaha budidaya tambak. Setiap
pembudidaya melakukan usaha budidaya tambak dengan rata-rata luasan 1-2 hektare. Sebagian
besar pembudidaya tambak melakukan usaha budidaya tambak berlatar belakang warisan orang
tua. Para pembudidaya tambak memiliki kemampuan berbudidaya tambak didapat dari usaha
sendiri dengan cara otodidak.

Hasil budidaya bandeng dan udang dijual di daerah Sidoarjo dan ke luar negeri.. Potensi
pengembangan budidaya bandeng dan udang di kabupaten ini masih cukuo besar. Hal ini dapat
dilihat dari masih kurangnya pasokan bandeng dan udang. Permintaan pasar akan udang dan
bandeng cukup besar sehingga belum mampu dipenuhi dari hasil budidaya di Sidoarjo.
Pemenuhan

kekurangan

pasokan

udang

dan

bandeng

diambil

dari

luar

daerah.

Permasalahan yang sering dihadapi oleh pembudidaya adalah adanya penyakit,


penurunan kualitas air dan pendangkalan perairan. Penyakit yang pernah menyerang udang di
sidoarjo ini adalah white spot dan yellow head. Akibat serangan penyakit ini menyebabkan
turunnya kuantitas panen udang yang biasanya per hectare mampu menghasilkan panen pada
kisaran 700 kg sampai dengan 1 ton, akibat penyakit hanya menghasilkan panen sebanyak 200
kg. Serta akibat dari meluapnya lumpur yang berasal dari PT. Lapindo Brantas yang
mengakibatkan tertanggunya ekosistem alami serta lahan-lahan perikanan yang terkena dampak
langsung lumpur. Yaitu tertimbun lumpur

b. Bencana Lumpur Lapindo


Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama
(KKKS)

yang ditunjuk BPMIGAS untuk

melakukan proses pengeboran minyak dan gas

bumi di Indonesia. Banjir lumpur panas Sidoarjo, juga dikenal dengan sebutan Lumpur
Lapindo atau Lumpur Sidoarjo (Lusi), adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi
pengeboran

Lapindo

Brantas

Inc. di

Dusun

Balongnongo

Desa Renokenongo,

Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, sejak tanggal 29 Mei 2006.
Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan

permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi


aktivitas perekonomian di Jawa Timur.

Penyebab Terjadinya Lumpur Lapindo adalah sebagai berikut.


1.

Faktor Alam
Ada dua teori ilmuwan yang selama ini ditengarai menjadi potensi penyebab bencana

tersebut. Kemungkinan pertama adalah bahwa semburan itu bisa saja dipicu oleh pengeboran
saat eksplorasi sumur gas Banjar Panji-1, sekitar 500 kaki (150 m) dari gunung api lumpur.
Kemungkinan lainnya adalah semburan itu mungkin dipicu oleh gempa bumi (aksi tektonik)
berkekuatan 6,3 Skala Richter yang melanda Yogyakarta, sekitar 240 kilometer jauhnya dari
lokasi, dua hari sebelumnya yang menewaskan hampir 6.000 orang.

2.

Faktor Manusia (Akibat Kelalaian Pihak Lapindo )


Bencana semburan lumpur panas yang terjadi di Sidoarjo mutlak karena kesalahan

operasional pengeboran (kesalahan dalam pemasangan casing) yang dilaksanakan PT Lapindo


Brantas. Pendapat itu disampaikan pakar geologi, RP Koesoemadinata.

Kita tahu Sidoarjo Timur merupakan kawasan budidaya perikanan dan udang yang
merupakan sektor pendorong ekonomi masyarakat Sidoarjo. Dengan adanya lumpur yang
dibuang ke laut dikawatirkan akan merusak ekosistem kawasan tersebut yang menyebabkan
turunnya produksi perikanan. Sekarang dampak tersebut mulai dikeluhkan oleh petani tambak
yaitu menurunnya kualitas air sungai Porong sebagai air baku utama bagi tambak-tambak
tersebut, berapa besar kerugian petani tambak akibat penurunan hasil panen.

c. Dampak Lumpur Lapindo Terhadap Budidaya Perikanan di Sidoarjo


Lumpur Lapindo memberikan dampak yang luar biasa terhadap penurunan perekonomian
Jawa Timur, sejak adanya lumpur mulai tahun 2006 kondisi penurunan tersebut sampai sekarang
sangat terasa. Ini disebabkan belum adanya perbaikan yang signifikan terhadap insfrastruktur
perekonomian, terutama perbaikan jalur transportasi. Karena transportasi merupakan moda
perekonomian yang utama, dapat dibayangkan berapa kerugian akibat macetnya distribusi
barang. Kita tahu bahwa lumpur lapindo telah memutus jalur akses ke pelabuhan, akses menuju

kota surabaya, sidoarjo ke daerah-daerah timur dan selatan Jawa Timur. Kemacetan distribusi
membuat distribusi barang & jasa tidak lancar yang menjadikan high cost economy yang juga
menaikkan harga barang-barang. Tempat-tempat wisata dan hotel-hotel di kawasan Prigen dan
Batu banyak mengeluh karena tingkat hunian turun drastis bahkan ada yang tutup. Belum lagi
akibat dari warga yang terdampak yang harus mengungsi dan memulai usaha baru karena
ditempat lama sudah mapan dengan usahanya. Perusahaan-perusahaan yang pindah dan
mengalami kerugian besar akibat lumpur yang sampai sekarang ganti ruginya masih belum jelas,
rusaknya ekosistem lingkungan di wilayah Sidoarjo Timur.
Kita tahu Sidoarjo Timur merupakan kawasan budidaya perikanan dan udang yang
merupakan sektor pendorong ekonomi masyarakat Sidoarjo. Dengan adanya lumpur yang
dibuang ke laut dikawatirkan akan merusak ekosistem kawasan tersebut yang menyebabkan
turunnya produksi perikanan. Sekarang dampak tersebut mulai dikeluhkan oleh petani tambak
yaitu menurunnya kualitas air sungai Porong sebagai air baku utama bagi tambak-tambak
tersebut, berapa besar kerugian petani tambak akibat penurunan hasil panen.
Untuk itu perlu dicarikan solusi bagaimana lumpur Lapindo itu tidak memberikan
dampak yang sedemikian buruk bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya. Maka perlu adanya
terobosan-terobosan baru guna mengurangi dampak lumpur tersebut dengan slogan "Sidoarjo
Bangkit". Dengan cara intensifikasi dan ekstensifikasi usaha perekonomian pada masyarakat
Sidoarjo yang terdampak baik terdampak langsung maupun tidak langsung.
Perikanan tambak merupakan sektor unggulan Kabupaten Sidoarjo namun sejak
terjadinya pembuangan lumpur melalui aliran Sungai porong menimbulkan permasalahan bagi
petani tambak karena sumber pengairan tambak menjadi tercemar.

Hasil Penelitian menunjukkan : (1) Dampak sosial dari luapan lumpur lapindo antara lain
: menurunnya tingkat kesejahteraan petani tambak bandeng, berkurangnya lapangan pekerjaan,
terjadinya mobilitas penduduk, menimbulkan konflik pada hubungan petani dan keluarganya. (2)
Menurunnya pendapatan petani tambak bandeng dan kerugian materiil berupa : tambak yang
hilang dan rusak dan penurunan harga jual tanah, tambak, dan rumah. (3) Lumpur lapindo
berdampak negatif dan merusak terhadap tanah, menimbulkan dampak negatif pada udara,
menimbulkan dampak negatif, merusak, dan menimbulkan dampak jangka panjang pada air serta

berdampak negatif pada manusia. (4) Budidaya bandeng di Desa Kedung Pandan memiliki
prospek usaha kuat terancam, dengan strategi pengembangan peningkatan intensitas tenaga kerja
dalam perawatan, meningkatkat kemampuan teknologi produksi, mutu, dan inovasi terhadap
produk,dukungan pemerintah dan strategi untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
M.Widiatmocho (2013),
Berdasar Laporan Environmental Assesment oleh UNDAC, 2006, disebutkan bahwa
kandungan pelepasan lumpur ke perairan akan menyebabkan kematian hewan air dan
menyebabkan akibat serius bagi manusia yang tergantung pada perairan tersebut. Kandungan
logam berat yang bersifat toksik dan ditemukan pada konsentrasi yang tinggi adalah merkuri
(Hg) yang berpotensi terakumulasi dalam tubuh manusia melalui konsumsi ikan. Kandungan Hg
terukur 9,6 s/d 14 ng/g; Pb terukur 13,5-17 g/g , Cd terukur 0,13 g/g ;Cr terukur 25-40 g/g.
Sedangkan berdasar hasil uji pendahuluan terhadap air lumpur lapindo diketahui mengandung Pb
sebesar 3,08 ppm, Fenol 1,56 ppm (Hidayati dan Widya yanti, 2007). Padahal menurut
KepMenLH 51/2004 kadar yang diperbolehkan di peraiaran: untuk Pb sebesar 0,008 ppm
sedangkan Cd dan Hg hanya diperekenankan 0,001 ppm. Lumpur ini terdiri dari 30% zat padat
dan 70% air, sehingga jika airnya diolah, masih ada potensi sebagai media pemeliharaan ikan
atau udang .

Bencana lumpur lapindo yang terjadi di Desa Ronokenongo, Kecamatan Porong,


Kabupaten Sidoarjo mengakibatkan kerugian berbagai bidang, baik sosial, ekonomi maupun
ekologi. Pencemaran sungai yang terjadi akibat pembuangan lumpur ke sungai menyebabkan
hilangnya areal pertambakan yang menjadi sumber utama mata pencaharian sebagian besar
warga sidoarjo. Bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu hasil perikanan tambak andalan
di Sidoarjo. Contoh diversifikasi perikanan di Sidoarjo adalah bandeng Tandu (tanpa duri) dan
bandeng asap yang bernilai ekonomis tinggi. Kelangsungan usaha ini sangat dipengaruhi oleh
kualitas air pemeliharaan di wilayah tersebut.

Dampak lumpur lapindo terahadap perekononiam di Sidoarjo :


1. Lumpur Lapindo memberikan dampak yang luar biasa terhadap penurunan perekonomian
Jawa Timur, sejak adanya lumpur mulai tahun 2006 kondisi penurunan tersebut sampai sekarang

sangat terasa. Belum adanya perbaikan yang signifikan terhadap insfrastruktur perekonomian,
terutama perbaikan jalur transportasi. Karena transportasi merupakan moda perekonomian yang
utama, dapat dibayangkan berapa kerugian akibat macetnya distribusi barang. Kita tahu bahwa
lumpur lapindo telah memutus jalur akses ke pelabuhan, akses menuju kota surabaya, sidoarjo ke
daerah-daerah timur dan selatan Jawa Timur. Kemacetan distribusi membuat distribusi barang &
jasa tidak lancar yang menjadikan high cost economy yang juga menaikkan harga barang-barang.
2. Tempat-tempat wisata dan hotel-hotel di kawasan Prigen dan Batu banyak mengeluh karena
tingkat hunian turun drastis bahkan ada yang tutup.
3. Warga yang terdampak yang harus mengungsi dan memulai usaha baru karena ditempat lama
sudah mapan dengan usahanya. Perusahaan-perusahaan yang pindah dan mengalami kerugian
besar akibat lumpur yang sampai sekarang ganti ruginya masih belum jelas,
4. Rusaknya ekosistem lingkungan di wilayah Sidoarjo Timur. Kita tahu Sidoarjo Timur
merupakan kawasan budidaya perikanan dan udang yang merupakan sektor pendorong ekonomi
masyarakat Sidoarjo. Dengan adanya lumpur yang dibuang ke laut dikhawatirkan akan merusak
ekosistem kawasan tersebut yang menyebabkan turunnya produksi perikanan. Sekarang dampak
tersebut mulai dikeluhkan oleh petani tambak yaitu menurunnya kualitas air sungai Porong
sebagai air baku utama bagi tambak-tambak tersebut, berapa besar kerugian petani tambak akibat
penurunan hasil panen
d. Upaya yang Telah Dilakukan untuk Penanggulangan Lumpur Lapindo
Pihak Lapindo telah menyediakan dana sebesar US$ 70 juta atau sekitar 665 milyar untuk
dana darurat penanggulangan lumpur. Dana ini digunakan untuk salah satunya adalah membuat
tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun dengan terus bertambahnya volume
semburan lumpur lapindo, pembuatan tanggul dirasa tidak menyelesaikan masalah. Ditambah
lagi dengan datangnya musim hujan, volume yang tertampung dalam tanggul akan menjadi besar
dan dapat mengakibatkan jebolnya tanggul. Hal ini sangat bebahaya jika terjadi dalam jangka
waktu yang pendek, karena kawasan sekitar tanggul adalah jalan raya, rel kereta api, dan rumah
penduduk. Ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah bencana lumpur
lapindo. Tiap tim terdiri dari perwakilan Lapindo Brantas Inc., pemerintah dan sejumlah ahli dari
beberapa universitas terkemuka. Tim ini dibentuk untuk menyelamatkan penduduk sekitar,

menjaga infrastuktur, dan menangai semburan lumpur dengan resiko lingkungan terkecil.
Seluruh biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas tiap tim akan ditanggung oleh Lapindo
Brantas Inc.
Selain itu Lapindo Brantas Inc. juga harus memberikan ganti rugi bagi para korban.
Lapindo Brantas Inc berkewajiban untuk membayar sebanyak 13.237 berkas. Saat ini masih ada
3.348 berkas dengan total pembayaran 786 milyar yang masih belum tertangani. Dengan kata
lain sebanyak 75 persen dari berkas yang ada telah dilunasi. Lapindo Brantas Inc telah
mengeluarkan dana sebanyak 8 triliun, dimana 5 triliun digunakan untuk penanganan semburan
lumpur lapindo dan triliun digunakan untuk pembayaran aset warga (Insani, 2013).
BAB III
PENUTUP
a. Simpulan
Kabupaten Sidoarjo merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa
Timur, memiliki potensi budidaya yang cukup tinggi. Komoditas budidayanya adalah ikan
bandeng. Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sidoarjo menyebutkan bahwa
produksi budidaya ikan bandeng yang dihasilkan semakin meningkat dari tahun 2001- 2003.
Akan tetapi, tren peningkatan produksi perikanan dan kelautan itu berakhir pada tahun 2006
seiring dengan munculnya kejadian luapan lumpur PT. Lapindo Brantas di Kecamatan Porong,
Sidoarjo. Hal itu diindikasikan karena adanya pengaruh luapan lumpur yang mengandung
berbagai macam unsur dan zat kimia yang perlu diteliti secara lebih mendalam. Bencana Lumpur
Lapindo ini sangat menimbulkan dampak diberbagai bidang, yaitu social, ekonomi, dan
lingkungan. Dampak yang mempengaruhi petani tambak ikan antara lain, menurunnya
pendapatan petani tambak bandeng dan kerugian materiil berupa, tambak yang hilang dan rusak
serta penurunan harga jual tanah, tambak, dan rumah. Upaya penanggulangan bencana terus
dilakukan Pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab PT. Lapindo Brantas Inc untuk
menghentikan semburan lumpur yang terjadi, namun hingga sekarang belum menemukan hasil
yang signifikan.
b. Saran
Perlu dilakukan pengkajian secara serius dan berkelanjutan terkait peristiwa semburan
Lumpur Lapindo ini untuk menghentikan efek negative yang timbulnya dan menghindari
kerugian yang lebih besar yang dapat timbul dari bencana ini.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. DAMPAK LUMPUR LAPINDO TERHADAP PEREKONOMIAN DI
SIDOARJO

DAN

SEKITARNYA

Tersedia

<http://haris-

ekonomil.blogspot.co.id/2009/04/dampak-lumpur-lapindo-terhadap.html> diakses 12
April 2016
Hidayati, Dewi dan Tutik Nurhidayati. 2008. SINTASAN (SURVIVAL RATE ) UDANG
WINDU (PENAEUS MONODON) PADA MEDIA PEMELIHARAAN HASIL
PENGOLAHAN AIR LUMPUR LAPINDO DENGAN METODE BIOFILTER
ENCENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES (MART.) SOLM.). ITS press.
Surabaya
Insani, Sekar A.A., 2013. Makalah Dampak Lumpur Lapindo pada masyarakat dan lingkungan
Sekar. Tersedia : <https://sekarayuaulia.wordpress.com/2013/09/01/makalah-dampaklumpur-lapindo-pada-masyarakat-dan-lingkungan/> diakses 14 April 2016
Samsundari, Sri & Ima Yudha Perwira. KAJIAN DAMPAK PENCEMARAN LOGAM BERAT
DI DAERAH SEKITAR LUAPAN LUMPUR SIDOARJO TERHADAP KUALITAS
AIR DAN BUDIDAYAPERIKANAN. Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas PertanianPeternakan Universitas Muhammadiyah Malang Press. Malang. GAMMA Volume 6,
Nomor 2, Maret 2011: 129 136
Sudinno, Dinno. 2009. STUDI DAYA DUKUNG PERAIRAN PESISIR KABUPATEN
SIDOARJO UNTUK BUDIDAYA TAMBAK UDANG DAMPAK PEMBUANGAN
LUMPUR LAPINDO. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Press. Surabaya.
Widiatmocho,

Muhammad.

2013.

SKRIPSI

DAMPAK

SOSIAL

EKONOMI

DAN

LINGKUNGAN LUMPUR LAPINDO TERHADAP PETANI TAMBAK BANDENG


DI

KABUPATEN

SIDOARJO.

JURUSAN

SOSIAL

EKONOMI

PERTANIAN/AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER.


Jember