Anda di halaman 1dari 20

BORANG PORTOFOLIO GAWAT DARURAT

Topik :
Intoksikasi Herbisida
Tanggal (kasus) :
9 April 2016
Presenter :
dr. Rendy Dwi Osca
Tanggal Presentasi :
Pendamping : dr. Indra Barata
Tempat Presentasi :
Ruang Komite Medik RSUD Siti Aisyah
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Os datang dengan penurunan kesadaran setelah meminum racun rumput.
Tujuan :
Mempelajari tatalaksana Intoksikasi Herbisida
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
E-mail
Pos
Membahas :
Data Pasien : Tn. Edi S., , 33 tahun,
No. Registrasi : 099970
Nama Klinik : RSUD Siti Aisyah
Telp : (0733) 451902
Terdaftar sejak :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
Diagnosis / Gambaran Klinis : Os mengalami penurunan kesadaran setelah meminum

racun rumput 1 jam yang lalu. Tenggorokan terasa panas (+), perut terasa panas (+), nyeri ul
hati (+), badan terasa panas (+), volume racun rumput yang diminum tidak diketahui.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pem fisik : GCS 11 (E3M6V2)


Riwayat Pengobatan : Os belum berobat.
Riwayat Kesehatan/Penyakit: Riwayat hipertensi (-), sakit jantung (-), DM (-)
Riwayat Keluarga : Riwayat Pekerjaan : Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Tidak ada yang berhubungan.
Lain-lain : -

Daftar Pustaka :

1. Mishra AK, Pandey AB. Paraquat. Available from : http://www.panap.net/ uploads/


media/paraquat_monograph_PAN_AP.pdf
2. Anonym. NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards-Paraquat. Available
from : http://www.cdc.gov/niosh/npg/npgd0478.html
3. Anonym. Paraquat. Available from:
http://www.inchem.org/documents/jmpr/jmpmono/v076pr19.htm
4. Bronstein 5. Herbicides. In : Dart RC, Ed. Medical Toxicology. 3rd ed. Philadelphia: Lippinco
Williams and Wilkins, 2004: 1515-24
5. Ashton C, Leahy N. Paraquat. Available from :
1

http://www.inchem.org/documents/pims/chemical/pim399.htm
6. Anonym. The ocular surface toxicity of Paraquat. Br J Ophthalmol 2002;86:350362
7. Anonym. Paraquat. Available from : npic.orst.edu/RMPP/rmpp_ch12.pdf
8. Day BJ et al. A Mechanism of Paraquat Toxicity Involving Nitric Oxide
Synthase. PNAS;96(22):12760-12765
9. Anonym. Free Radical Introduction. Available
from : http://www.exrx.net/Nutrition/Antioxidants/Introduction.html
10. Saeed SAM, et al. 2001. Acute diquat poisoning with intracerebral bleeding. Postgrad Med J
2001;77:329332
11. Marrs TC, Adjei A. Pesticide residues in food-2003-Joint FAO/WHO Meeting on Pesticide
Residues - PARAQUAT. Available from :
http://www.inchem.org/documents/jmpr/jmpmono/v070pr19.htm
12. Yang W. The Bipyridyl Herbicide Paraquat-Induced Toxicity In Human Neuroblastoma SHS5Y5 Cells: Relevance To Dopaminergic Pathogenesis. Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16263688
13. Wesseling C et al. Paraquat in Developing Countries. Int J Occup Environ Health:1-23
14. Thundiyil JG et al. Acute Pesticide Poisoning:A Proposed Classification Tool. Available
from : http://www.who.int/bulletin/volumes/86/3/07-041814/en/
15. Anonym. Signs and Symptoms of Paraquat Poisoning. Available from:
http://chemweb.calpoly.edu/cbailey/377/PapersF2000/Jeff/symptoms.htm
16. Anonym. Paraquat poisoning Treatment. University of Maryland Medical Center. Available
from: http://www.umm.edu/ency/article/001085trt.htm
17. Sullivan JB, Krieger GR. 2001. Clinical Enviromental Health and Toxic Exposure. 2nd Ed.
Lippincott Williams & Wilkins: USA. p.1100
Hasil Pembelajaran :
1. Memahami tatalaksana Intoksikasi Herbisida

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

Subjektif :

Keluhan Utama : Penurunan kesadaran setelah terminum racun rumput.


Riwayat Penyakit Sekarang :
Os mengalami penurunan kesadaran setelah meminum racun rumput
1 jam yang lalu. Tenggorokan terasa panas (+), perut terasa panas (+),
nyeri ulu hati (+), badan terasa panas (+), volume racun rumput yang
diminum tidak diketahui.
Riwayat hipertensi (-)
2

Riwayat DM (-)
Riwayat penyakit jantung (-)
1. Objektif :
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: tampak sakit

Keadaan sakit

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: GCS 11 (E3M6V2)

Tekanan darah

: 100/ 70 mmHg

Nadi

: 92 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup

Pernafasan

: 28 x/menit, thorakoabdominal, reguler

Suhu

: 36,4 C

Keadaan spesifik
Mata : anemis (-), ikterik (-), Refleks Cahaya (+/+), Pupil isokor 3mm/3mm
Leher : JVP (5-2) H20
Dada
Paru-paru : dalam batas normal
Jantung

: dalam batas normal

Perut

: dalam batas normal

Ekstremitas : dalam bata normal


Laboratorium: DIAGNOSIS KERJA
Penurunan kesadaran e.c Intoksikasi Herbisida (Racun Rumput)
Terapi :
1. Tirah baring
2. IVFD RL gtt 20x/menit (makro)
3. NGT Terpasang
4. Inj. Ranitidine 2x50mg
5. Inj. Metoclopamide 2x8mg
6. Inj. Metilprednisolon 2x125mg
7. Inj. Vit C 1x1gr
8. Pasang Dower Kateter

9. Norit tab 2x1


Assesment (penalaran klinis) :
Seorang pasien laki-laki, berusia 33 tahun, dengan keluhan utama
penurunan kesadaran yang diawali mual dan muntah sejak 1 jam yang lalu
setelah os meminum racun rumput. Berdasarkan hasil anamensis dan
pemeriksaan fisik, pasien didiagnosa dengan intoksikasi herbisida/ racun
rumput.
Paraquat adalah herbisida yang paling beracun yang dipasarkan selama
60 tahun terakhir. Namun, paraquat merupakan herbisida ketiga yang paling
banyak digunakan di dunia, dan di sebagian besar negara di mana ia dapat
digunakan tanpa pembatasan. Gramoxone, diproduksi oleh Syngenta, adalah
nama dagang yang paling umum untuk paraquat, namun herbisida juga dijual
dengan banyak nama yang berbeda oleh produsen yang berbeda. Produk ini
digunakan pada lebih dari 50 tanaman pada lebih dari 120 negara. Paraquat
telah dilarang atau dibatasi di 13 negara, terutama untuk alasan kesehatan. Yang
terbaru negara yang melarang penggunaan paraquat yaitu Malaysia pada tahun
20021.
Ribuan kematian telah terjadi akibat konsumsi (paling sering bunuh diri)
atau paparan kulit (terutama saat bekerja) dengan paraquat. Di negara-negara
berkembang, di mana kondisi pemakaian paraquat telah meningkat sedikit
dalam tiga puluh tahun terakhir, paraquat sering dipakai dalam kondisi yang
berbahaya yang mengakibatkan paparan kulit yang tinggi. Kondisi tersebut
yaitu suhu dan kelembaban yang tinggi, kurangnya pakaian pelindung, tas
penyemprot yang bocor, buta huruf, kurangnya fasilitas untuk mencuci, atau
pengobatan medis, dan paparan berulang. Di Malaysia wanita penyemprot
dapat menyemprotkan herbisida 262 hari per tahun: paraquat adalah herbisida
yang paling sering disemprotkan. Namun diketahui bahwa petani dapat
meninggal setelah hanya 3,5 jam penyemprotan paraquat yang diencerkan
dengan tas penyemprot yang bocor1.
Hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berat pada
banyak negara meskipun fakta bahwa paraquat dianggap aman oleh para
4

produsen, yang percaya bahwa mereka tidak bertanggung jawab untuk kasus
bunuh diri. Suatu program pencegahan untuk regulasi di negara-negara ini akan
mencegah banyak masalah yang terjadi1.
Plan :
Pendidikan :
Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan bahwa kondisi pasien saat ini
kurang baik, penurunan kesadaran diakibatkan oleh keracunan zat kimia, yaitu
racun rumput yang dapat mengganggu kerja hati, ginjal, maupun pembuluh
darah.
Konsultasi : spesialis penyakit dalam untuk dilakukan pengobatan lebih lanjut.

TINJAUAN PUSTAKA
Gramoxone
Gramoxone merupakan nama dagang dari paraquat yang paling banyak dipakai
1,BC

. Paraquat yang digunakan lebih dari 120 negara bekerja secara non-selektif

menghancurkan jaringan tumbuhan dengan mengganggu/merusak membran sel.


Paraquat (metil viologen), [C12H14N2]2+, dengan nama kimia 1,1-dimetil-4,4bipiridinum atau dalam bentuk paraquat diklorida [C12H14N2]Cl2 , merupakan
herbisida golongan bipiridil yang berefek toksik sangat tinggi. Paraquat dapat pula
ditemukan secara komersial sebagai garam metil sulfat (C12H14N2
2CH3SO4)1,2.
5

Gambar 1. Paraquat dan metabolitnya3


Paraquat adalah produk sintesis yang pertama kali dibuat pada tahun 1882
oleh Weidel dan Russo. Pada tahun 1933, Michaelis dan Hill menemukan
kandungan redoks dan disebut senyawa metil viologen. Kandungan paraquat
pertama kali dijelaskan pada tahun 1958 dan mulai menjadi produk komersil pada
tahun 1962 4,5.
Paraquat mempunyai ciri berupa 2,4,5:
a. berupa massa padat, tetapi biasanya dalam bentuk konsentrat 20-24%
b. berat molekul 257,2 D
c. pH 6,5 7,5 dalam bentuk larutan
d. titik didih pada 760 mmHg sekitar 175oC 180oC.
e. berwarna kuning keputihan dan berbau seperti ammonia
f. sangat larut di dalam air, kurang larut dalam alkohol, dan tidak larut dalam
senyawa hidrokarbon
g. stabil dalam larutan asam atau netral dan tidak stabil dalam senyawa alkali
6

h. tidak aktif akibat paparan sinar ultraviolet


Asal Paparan
Jenis herbisida seperti paraquat memberikan efek toksik yang berbeda tergantung
bagaimana zat tersebut masuk ke dalam tubuh manusia. Beberapa di antaranya,
yaitu5:
a. Oral
Merupakan jalan masuknya zat yang paling sering yang didasari adanya tujuan
bunuh diri. Tertelannya paraquat juga dapat terjadi secara kebetulan atau dari
masuknya butiran semprotan ke dalam faring, namun biasanya tidak
menimbulkan keracunan secara sistemik.
b. Inhalasi
Belum ada kasus keracunan sistemik yang dilaporkan dari paraquat akibat
inhalasi droplet paraquat yang ada di udara walaupun pada penilitian pada
hewan menunjukkan tingginya keracunan melalui inhalasi. Efek toksik
melalui inhalasi melalui semprotan biasanya hanya berupa iritasi pada saluran
pernapasan atas akibat deposit paraquat pada daerah tersebut.
c. Kulit
Kulit normal yang intak merupakan barier yang baik mencegah absorbsi dan
keracunan sistemik. Namun, jika terjadi kontak yang lama dan lesi kulit yang
luas, keracunan sistemik dapat terjadi dan dapat menyebabkan keracunan yang
berat sampai kematian. Kontak yang lama dan trauma dapat memperburuk
kerusakan kulit, namun ini terbilang jarang.
d. Mata
Konsentrat paraquat yang terpercik dapat menyebabkan iritasi mata yang berat
yang jika tidak diobati dapat menyebabkan erosi atau ulkus dari kornea dan
epitel konjungtiva. Inflamasi tersebut berkembang lebih dari 24 jam dan
ulserasi yang terjadi menjadi faktor resiko infeksi sekunder. Jika diberikan
pengobatan yang adekuat, penyembuhan biasanya sempurna walaupun
memakan waktu yang lama.

Gambar 2. Paparan paraquat pada mata6


e. Parenteral
Keracunan sistemik jarang terjadi pada kasus akibat injeksi subkutan,
intraperitonial, dan intravena dari paraquat.
Farmakokinetik
Penelitian pada tikus dan anjing menunjukkan absorpsi paraquat yang cepat tetapi
tidak sempurna melalui traktus gastrointestinal khususnya lambung, kira-kira
kurang dari 5% diabsorpsi. Informasi absorpsi paraquat melalui lambung pada
manusia belum ada, tetapi bisa diasumsikan hal itu dapat disamakan, namun
masih perlu penilitian untuk mendukung hal tersebut. Absorpsi melalui kulit yang
tidak intak dapat terjadi, namun terbatas hanya sekitar 0,3% dari dosis terapan5.
Paraquat yang terabsorpsi didistribusikan ke semua organ dan jaringan
melalui aliran darah. Paru-paru merupakan organ selektif tempat terkumpulnya
paraquat dari plasma melalui suatu proses energi. House et al (1990) menemukan
bahwa waktu paruh paraquat sekitar 5 84 jam. Paraquat tidak dimetabolisme
tetapi direduksi menjadi radikal bebas yang tidak stabil, yang kemudian
mengalami reoksidasi untuik membentuk kation dan menghasilkan anion
superoksida5.
Penelitian pada hewan menunjukkan paraquat diekskresi secara cepat oleh
ginjal. Sekitar 80-90% diekskresi dalam waktu 6 jam dan hampir 100% dalam 24
jam.

Paraquat

dapat

menyebabkan

nekrosis

tubular

akut

yang

dapat

memperlambat ekskresi lebih dari 10-20 hari5.

Patofisiologi
Ketika masuk dalam tubuh per oral dalam dosis yang adekuat, paraquat
mempunyai efek terhadap traktus gastrointestinal, ginjal, hepar, jantung, dan
organ lainnya. Paru-paru merupakan target organ utama dari paraquat dan efek
toksik yang dihasilkan dapat menyebabkan kematian walaupun toksisitas melalui
inhalasi terbilang jarang7.
Mekanisme utama yang terjadi ialah paraquat menimbulkan stres oksidatif
melalui siklus redoks (reduksi oksidasi) sehingga membentuk radikal bebas yang
dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan. Radikal bebas merupakan suatu
kelompok bahan kimia baik berupa atom atau molekul dengan reaksi jangka
pendek yang memiliki satu atau lebih elektron bebas. Atom atau molekul dengan
elektron bebas ini dapat digunakan untuk menghasilkan tenaga dan beberapa
fungsi fisiologis di dalam tubuh. Namun oleh karena mempunyai tenaga yang
sangat tinggi, zat ini juga dapat merusak jaringan normal apabila jumlahnya
terlalu banyak. Radikal bebas yang terdiri atas unsur oksigen dikenal sebagai
kelompok oksigen reaktif (reactive oxigen species / ROS), seperti anion
superoksida (O2-)7,8,9.
Telah ditemukan bukti bahwa reaksi redoks merupakan reaksi utama yang
bertanggung jawab terhadap toksisitas paraquat. Kation paraquat dapat direduksi
oleh NADPH-dependent mikrosomal flavoprotein reductase menjadi bentuk
radikal tereduksi. Kemudian bereaksi dengan molekul oksigen membentuk kation
paraquat dan ion superoksida (O2-). Paraquat berlanjut ke dalam siklus dari
bentuk teroksidasi ke bentuk tereduksi dengan elektron dan oksigen. Paraquat
menyebabkan kematian sel melalui lipid peroksidase atau deplesi NADPH, seperti
yang terjadi pada paru-paru 5, 8.
Brian J. Day (1999) dalam salah satu jurnalnya menggambarkan
bagaimana toksisitas paraquat juga melibatkan nitrc oxide synthase (NOS). NOS
adalah enzim yang memproduksi NO dan molekul lainnya dengan mengkatalisis
oksigen dan NADPH. Teori saat ini menjelaskan NO bereaksi dengan O2- yang
terbentuk dari paraquat untuk menghasilkan toksin peroxynitrit. Dan dari hasil

penelitiannya menunjukkan bahwa NOS merupakan diaforase paraquat dan


toksisitas berupa senyawa aktif redoks melibatkan penurunan aktivitas NO.
Diaforase adalah suatu kelas enzim yang memindahkan elektron dari NADH atau
NADPH ke molekul seperti tetrazolium, quinon, dan paraquat. Biasanya diaforase
paraquat merupakan enzim oksidoreduktase yang terdiri dari flavin dan
menggunakan NADH atau NADPH sebagai elektron donor. Pada umumnya enzim
diaforase yang dapat bereaksi redoks dengan paraquat adalah sitokrom P450
reduktase 8.
Edema paru akut dan kerusakan paru-paru dini dapat terjadi dalam
beberapa jam akibat paparan akut yang berat. Kerusakan lanjut berupa fibrosis
paru, penyebab kematian, yang kebanyakan terjadi 7-14 hari setelah paparan. Pada
pasien yang terpapar dalam konsentrasi yang sangat tinggi, beberapa di antaranya
meninggal lebih cepat (sekitar 48 jam) akibat kegagalan sirkulasi7.
Baik pneumatosit tipe I maupun tipe II bergerak ke daerah akumulasi
paraquat. Biotrasnformasi dari paraquat di dalam sel-sel tersebut menyebabkan
produksi radikal bebas sehingga terjadi peroksidase lipid dan kerusakan sel.
Cairan protein hemoragik dan leukosit menginfiltrasi alveolus, setelah terjadi
proliferasi fibroblast yang cepat. Terjadi penurunan progresif pada tekanan parsial
oksigen arteri dan kapasitas difusi CO2. Kerusakan berat pada pertukaran gas
tersebut menyebabkan proliferasi yang cepat dari jaringan ikat fibrous di dalam
alveolus dan pada akhirnya kematian akibat asfiksia dan anoksia jaringan7.

10

Gambar 3. Mekanisme toksisitas paraquat10


Paraquat juga bersifat neurotoksik. Paraquat secara struktural menyerupai
neurotoksikan dopaminergik, yaitu 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-tetrahydropyridine
(MPTP). Akhirnya telah disadari bahwa paraquat dapat menjadi faktor etiologi
dari penyakit Parkinson 11,12.
Wonsuk Yang (2005) pada penelitiannya mendapatkan adanya hubungan
antara toksistas paraquat terhadap dopaminergik akibat dari proses stres oksidatif
dan disfungsi proteasomal. Dari disertasinya dikemukakan beberapa bukti dan
kesimpulan yang mendukung hal tersebut, di antaranya 12:
a. paraquat meningkatkan konsentrasi ROS pada sel saraf yang diteliti (SY5Y)
b. paraquat menghambat aktivitas glutathione peroksidase
c. paraquat menurunkan potensial transmembran mitokondria (MTP)
d. paraquat

menyebabkan

peningkatan

malondialdehyde

(MDA)

yang

mengindikasikan kerusakan oksidatif pada komponen sel yang diteliti

11

e. paraquat menurunkan aktivitas proteasomal, aktivitas mitokondria, dan tingkat


ATP intrasel, yang mengindikasikan disfungsi mitokondria disertai aktivasi
jalur apoptosis
Kerusakan pada tubulus proksimal ginjal sering bersifat reversibel
dibandingkan kerusakan yang terjadi pada jaringan paru-paru. Namun, rusaknya
fungsi ginjal menjadi penting sebagai penentu pengeluaran racun dari paraquat.
Sel tubulus normal secara aktif mengekskresi paraquat melalui urin, secara efisien
membersihkan racun dari dalam darah7.
Nekrosis lokal dari miokardium dan otot rangka adalah kelainan utama
akibat keracunan dibandingkan jaringan otot lainnya, dan secara khas terjadi
sebagai fase kedua. Keracunan paraquat yang lama memberi efek toksik pada otot
lurik dan otot polos berupa miopati akibat degenerasi fiber otot tipe I. Pernah
dilaporkan keracunan melalui proses pencernaan menyebabkan edema cerebral
dan kerusakan pada otak 5,7.
Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang timbul bergantung pada dosis atau konsentrasi racun yang pada
akhirnya menjadi dasar prognosis dari kasus keracunan paraquat5, 7,13:

Dosis rendah, yaitu < 20 mg/kgBB (7,5 ml dalam konsentrasi 20%) tidak
memberikan gejala atau hanya gejala gastrointestinal yang muncul seperti
muntah atau diare

Dosis sedang, yaitu 20-40 mg/kgBB (7,5-15 ml dalam konsentrasi 20%)


menyebabkan fibrosis jaringan paru yang masif dan bermanifestasi sebagai
sesak napas yang progresif yang dapat menyebabkan kematian antara 2-4
minggu setelah masuknya racun. Gangguan ginjal dan hati dapat ditemukan.
Sesak napas dapat muncul setelah beberapa hari pada beberapa kasus berat.
Fungsi ginjal biasanya dapat kembali ke normal.

Dosis besar, yaitu > 40 mg/kgBB (> 15 ml dalam konsentrasi 20%)


menyebabkan kerusakan multi organ, tetapi lebih progresif. Sering disertai
tanda khas berupa ulkus pada orofaring. Gejala gastrointestinal sama seperti
pada konsumsi racun dengan dosis yang lebih rendah namun gejalanya lebih
12

berat akibat dehidrasi. Gagal ginjal, aritmia jantung, koma, kejang, perforasi
oesofagus, dan koma kemudian diakhiri dengan kematian yang dapat terjadi
dalam 24-48 jam akibat gagal multi organ.
Tertelannya paraquat dengan dosis yang sedang (20-40 mg/kgBB) dapat
menyebabkan kelainan morbiditas yang terdiri dari 3 tingkat, yaitu5:
a. Stage I : 1-5 hari. Efek korosif lokal seperti hemoptisis, ulserasi membran
mukosa, mual, diare, dan oligouria.
b. Stage II : dalam 2-8 hari didapatkan tanda-tanda kerusakan hati, ginjal,
dan jantung berupa ikterus, demam, takikardi, miokarditis, gangguan
pernapasan, sianosis, peningkatan BUN, kreatinin, alkali fosfatase,
bilirubin, dan rendahnya protrombin.
c. Stage III : dalam 3-14 hari terjadi fibrosis paru. Batuk, dispnea, takipnea,
edema, efusi pleura, atelektasis, penurunan tekanan O2 arteri yang
menunjukkan hipoksemia, peningkatan gradien tekanan O2 alveoli, dan
kegagalan pernapasan.
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, didapatkan
kesimpulan besar dosis dan toksiknya pada manusia11.
a. Estimasi dosis yang dapat diterima untuk manusia sekitar 0-0,005 mg ion
paraquat/kgBB
b. Estimasi dosis gejala akut 0,006 mg/kgBB
c. Estimasi insiden mortalitas dari keracunan paraquat sekitar 33-50%5
Waktu merupakan faktor penting dalam menentukan seberapa besar
konsentrasi letal. Sebagai contoh, konsentrasi 100 g/L dalam 4 jam setelah
masuknya racun, mengindikasikan 70% kesempatan hidup, tetapi pada 20 jam
mengindikasikan < 10% kesempatan hidup5.
Gejala yang timbul bergantung pada jalur masuk paparan dan konsentrasi
paraquat dalam tipa produknya. Pada kasus tertelannya paraquat yang masif, dapat
bermanifestasi muntah, nyeri abdomen, diare, gagal ginjal dan hati, serta gagal
jantung yang berkembang pada 24 jam pertama. Kadang-kadang diakhiri dengan
kematian akibat gagal jantung akut5.

13

Gejala dan tanda dini dari keracunan melalui melalui pencernaan di


antaranya rasa terbakar pada mulut, kerongkongan, dada, perut atas, akibat dari
efek korosif paraquat terhadap mukosa. Diare yang kadang-kadang dengan darah
juga dapat terjadi. Muntah dan diare dapat berujung hipovolemia. Pusing, sakit
kepala, demam, mialgia, letargi, dan koma adalah contoh lain dari gejala sistemik
dan susunan saraf pusat (SSP). Pankreatitis dapat menyebabkan nyeri abdomen
berat. Proteinuria, hematuri, pyuria, dan azotemia menunjukkan adanya kerusakan
ginjal. Oligouria atau anuria mengindikasikan adanya nekrosis tubular akut 5,7,8.
Oleh karena ginjal merupakan organ yang mengeliminasi paraquat dari
jaringan tubuh, gagal ginjal dapat terjadi akibat terbentuknya konsentrasi tinggi,
termasuk paru-paru. Kelainan patologik ini dapat terjadi dalam beberapa jam
pertama setela masuknya paraquat yang melalui pencernaan. Asidosis metabolik
dan hiperkalemia dapat terjadi akibat gagal ginjal 5. Sebelum diberikan terapi
untuk membatasi absorbsi dan efeknya, terjadi suatu reaksi dari konsentrasi
tersebut pada jaringan paru-paru. Hal ini menjadi alasan mengapa metode terapi
untuk mengeliminasi paraquat beberapa jam setelah tertelan dapat menurunkan
angka mortalitas7.
Batuk, sesak napas, dan takipnea biasanya muncul 2-4 hari setelah
tertelannya paraquat, tetapi dapat muncul setelah 14 hari. Sianosis secara progresif
dan sesak napas menunjukkan adanya gangguan pertukaran oksigen pada paru
yang rusak. Pada beberapa kasus, batuk berdahak adalah awal dan manifestasi
terpenting dari kerusakan paru akibat paraquat7.
Traktus gastrointestinal adalah tempat pertama atau keracunan fase I ke
permukaan mukosa melalui proses pencernaan dari zat tersebut. Keracunan ini
bermanifestasi sebagai edema dan nyeri akibat ulseratif pada mulut, faring,
oesofagus, lambung, dan usus. Pada derajat yang lebih tinggi, keracunan
gastrointestinal yang lain berupa kerusakan sel-sel hati yang menyebabkan
peningkatan bilirubin dan enzim hati seperti AST, ALT, dan LDH 13. Beberapa
penelitian menjelaskan tentang fenomena toksisitas pada hati ini dan pada tahun
1977 oleh Cagen dan Gibson menemukan bahwa paraquat tidak bersifat
hepatotoksik pada jenis tikus tertentu 11,14.

14

Gambar 4. Kongesti pulmonal, edema, dan perdarahan akibat keracunan


paraquat15
Gejala pada kulit biasanya terjadi pada pekerja tani akibat keracunan
paraquat. Khususnya dalam bentuk konsentrat, paraquat menyebabkan kerusakan
lokal pada jaringan yang terpapar dengan zat tersebut. Kerusakan lokal pada kulit
berupa dermatitis kontak. Kontak yang lama akan menyebabkan eritema, vesikel,
erosi dan ulkus, dan perubahan pada kuku. Walaupun absorbsi melalui kulit
lambat, kulit yang erosif akan mempertinggi tingkat absorbsinya7.
Keracunan fatal dilaporkan telah terjadi akibat kontaminasi paraquat yang
lama, tetapi hal ini terjadi hanya pada kulit yang tidak intak. Kontak yang lama
pada kulit akan menimbulkan pengikisan atau ulserasi, yang cukup untuk
mempermudah absorpsi ke sistemik. Kontak racun pada kuku dapat menyebabkan
bintik putih atau pada kasusu berat dapat terjadi atrofi kuku7.
Sebagai tambahan, beberapa pekerja tani dapat terpapar melalui inhalasi
semprotan dengan gejala perdarahan hidung akibat kerusakan lokal. Namun,
paparan melalui inhalasi tidak menyebabkan keracunan sistemik karena
penguapan dan konsentrasi yang rendah dari paraquat. Kontaminasi pada mata
menyebabkan konjungtivitis berat dan kadang-kadang berlanjut ke kelainan
kornea7.
Diagnosis
Kualitatif

15

Pada

beberapa

fasilitas

pelatihan,

tes

kolorimetri

digunakan

untuk

mengidentifikasi paraquat dalam urin dan untuk memberikan indikasi seberapa


besar konsentrasi zat yang diabsorpsi. Pada alat terdapat lubang tes untuk paraquat
di dalam urin atau aspirat cairan lambung. Biasanya tes ini digunakan pada kasus
darurat untuk konfirmasi adanya keracunan paraquat secara cepat. Metode tes ini
berdasarkan pada reduksi kation paraquat menjadi ion radikal stabil berwarna biru
oleh natrium dithionit 5,7.
Dalam satu volume urin, ditambahkan setengah volume dari urin preparat
1% sodium ditionit dalam 0,1 N NaOH. Perubahan warna diperhatikan dalam
waktu satu menit. Warna biru mengindikasikan adanya paraquat sekitar 0,5 mg/l.
Baik positif dan negatif kontrol sebaiknya dijamin bahwa senyawa dithionitnya
tidak teroksidasi dalam kemasannya7. Tes ini bernilai jika 12 jam setelah
masuknya paraquat dan dapat mendeteksi konsentrasi paraquat dalam urin < 1
mg/L5.
Ketika urin 24 jam diperiksa, tes dithionit terlihat mempunyai beberapa
nilai prognosis. Konsentrasi yang kurang dari 1 mg/l (tidak berwarna biru terang),
pada umumnya menunjukkan tingkat keselamatan, sedangkan konsentrasi lebih
dari 1 mg/l (biru gelap) sering berakibat fatal7.
Kuantitatif
Paraquat dapat diukur di dalam cairan biologis seperti darah dan urin dengan
spektrofotometri, liquid kromatografi, dan metode radioimunoassay. Tes jenis ini
tersedia pada laboratorium klinik dan beberapa industri. Kelangsungan hidup
biasanya dapat tercapai jika konsentrasi dalam plasma tidak melebihi
2;0,6;0,3;0,16;dan 0,1 mg per liter berturut-turut dalam waktu 4, 6, 10, 16, dan 24
jam, setelah masuk ke pencernaan7.
Metode radioimmunoassay yang digunakan untuk mendeteksi paraquat
dalam konsentrasi rendah dalam urin dan plasma pertama kali ditemukan oleh
Levitt (1977). Prosedur tes ini berdasarkan adanya antibodi yang meningkat
terhadap derivat paraquat. Sensivitas dari pemeriksaan ini 6 ng ion paraquat/ml
plasma5.

16

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang ditemukan oleh


Gill (1983) merupakan pemeriksaan yang berdasrkan ekstraksi paraquat
menggunakan sep-pak C18 cartridge, dengan ethyl viologen (garam 1,1dimethyl4,4-bipyridium sebagai standar. Kromatografi dapat mendeteksi paraquat dalam
urin sekitar 1 mg/L. Spektrofotometri yang telah ditemukan oleh Smith (1993)
berguna pula untuk menilai ekstrak dan reduksi natrium dithionit dalam cairan
biologis5.
Penatalaksanaan
Tidak ada pengobatan khusus untuk keracunan Paraquat. Tujuannya adalah untuk
meringankan gejala dan komplikasi yang ada (perawatan suportif). Lepaskan
semua pakaian yang terkontaminasi. Jika ada suatu bahan kimia yang menyentuh
kulit, cuci area tersebut dengan sabun dan air selama 15 menit, tanpa menggosok
keras, agar tidak menimbulkan lecet yang akan memungkinkan penyerapan lebih
besar dari racun. Jika telah ada kontaminasi pada mata, bilas dengan air selama 15
menit16.
Jika Paraquat tertelan, harus segera dibeikan arang aktif secepat mungkin.
Pasien yang sakit mungkin memerlukan prosedur yang disebut hemoperfusion,
yang menyaring darah melalui arang untuk mencoba untuk mengeluarkan
Paraquat dari paru-paru16.

17

Gambar 5. Charcoal hemoperfusion16


Prinsip umum pada penatalaksanaan keracunan paraquat antara lain5:
a. prioritas yang dipikirkan adalah mencegah absorpsi paraquat lebih lanjut
dengan menyingkirkan semua bahan yang terkontaminasi dari tubuh
b. pemberian oksigen merupakan kontraindikasi dari keracunan paraquat karena
dapat memperbesar pembentukan radikal bebas (superoksida) yang merupakan
patogenesis penyebab kerusakan pada paru-paru
c. bilas lambung harus dipikirkan dalam satu jam pertama setelah masuknya
racun yang melalui saluran pencernaan
d. apabila terjadi asidosis sebaiknya dikoreksi dengan natrium bikarbonat
intravena
e. gagal ginjal akut dapat diterapi dengan hemodialisis
f. efek paparan pada mata dapat dilakukan irigasi dengan air yang mengalir
sekitar 15 menit
Ekskresi paraquat di urin 20-50 kali lebih besar daripada konsentrasi
plasma. Pasien dengan fungsi ginjal yang normal setelah tertelan paraquat
memiliki clearance yang lebih besar dibandingkan dengan creatinine clearance.
Hal ini disebabkan sekresi tubular aktif dan difusi nonionik additif ke laju filtrasi
glomerulus. Paraquat tidak direabsorbsi pada tubulus ginjal; sehingga, memaksa

18

diuresis tidak akan meningkatkan eliminasi paraquat. Namun diuresis tetap


diperlukan untuk mengurangi konsentrasi paraquat di tubulus ginjal17.
Untuk memaksimalkan pengeluaran paraquat, dekontaminasi GI harus
dilakukan segera setelah tertelan paraquat. Dosis arang aktif untuk dewasa yaitu
30-100 g; untuk anak-anak kurang dari 12 tahun yaitu 15-30 g atau 1-2g/kgBB.
Benzonite clay USP (larutan 7%) diberikan untuk dewasa sebanyak 100-150 g dan
untuk anak-anak kurang dari 12 tahun sebanyak 2g/kgBB. Dosis untuk fullers
earth (larutan 30%) yaitu 100-150 g untuk dewasa dan 2 g/kgBB untuk anak-anak
kurang dari 12 tahun17.
Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat terjadi akibat keracunan paraquat16:

Sindrom distress pernapasan akut

Lubang di esofagus

Inflamasi pada daerah antara paru-paru (mediastinitis)

gagal ginjal

Jaringan parut pada paru-paru (fibrosis paru)

Prognosis
Prognosis tergantung pada tingkat keparahan paparan. Beberapa orang mungkin
mengalami gejala respiratori ringan yang dapat sembuh total, sementara yang
lainnya mungkin mengalami perubahan permanen pada paru-paru. Jika seseorang
menelan racun, kematian dapat terjadi tanpa pertolongan medis segera16.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Mishra AK, Pandey AB. Paraquat. Available from : http://www.panap.net/
uploads/ media/paraquat_monograph_PAN_AP.pdf
2. Anonym. NIOSH Pocket Guide to Chemical Hazards-Paraquat. Available
from : http://www.cdc.gov/niosh/npg/npgd0478.html
3. Anonym. Paraquat. Available from:
http://www.inchem.org/documents/jmpr/jmpmono/v076pr19.htm
4. Bronstein 5. Herbicides. In : Dart RC, Ed. Medical Toxicology. 3rd ed.
Philadelphia: Lippincot Williams and Wilkins, 2004: 1515-24
5. Ashton C, Leahy N. Paraquat. Available from :
http://www.inchem.org/documents/pims/chemical/pim399.htm
6. Anonym. The ocular surface toxicity of Paraquat. Br J Ophthalmol
2002;86:350362
7. Anonym. Paraquat. Available from : npic.orst.edu/RMPP/rmpp_ch12.pdf
8. Day BJ et al. A Mechanism of Paraquat Toxicity Involving Nitric Oxide
Synthase. PNAS;96(22):12760-12765
9. Anonym. Free Radical Introduction. Available
from : http://www.exrx.net/Nutrition/Antioxidants/Introduction.html
10. Saeed SAM, et al. 2001. Acute diquat poisoning with intracerebral bleeding.
Postgrad Med J 2001;77:329332
11. Marrs TC, Adjei A. Pesticide residues in food-2003-Joint FAO/WHO
Meeting on Pesticide Residues - PARAQUAT. Available from :
http://www.inchem.org/documents/jmpr/jmpmono/v070pr19.htm
12. Yang W. The Bipyridyl Herbicide Paraquat-Induced Toxicity In Human
Neuroblastoma SH-S5Y5 Cells: Relevance To Dopaminergic Pathogenesis.
Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16263688
13. Wesseling C et al. Paraquat in Developing Countries. Int J Occup Environ
Health:1-23
14. Thundiyil JG et al. Acute Pesticide Poisoning:A Proposed Classification
Tool. Available from : http://www.who.int/bulletin/volumes/86/3/07041814/en/
15. Anonym. Signs and Symptoms of Paraquat Poisoning. Available from:
http://chemweb.calpoly.edu/cbailey/377/PapersF2000/Jeff/symptoms.htm
16. Anonym. Paraquat poisoning Treatment. University of Maryland Medical
Center. Available from: http://www.umm.edu/ency/article/001085trt.htm
17. Sullivan JB, Krieger GR. 2001. Clinical Enviromental Health and Toxic
Exposure. 2nd Ed. Lippincott Williams & Wilkins: USA. p.1100

20