Anda di halaman 1dari 17

BORANG PORTOFOLIO KEJIWAAN

Topik :
Episode Depresif Sedang (F32.1).
Tanggal (kasus) :
31 Maret 2016
Presenter :
dr. Rendy Dwi Osca
Tanggal Presentasi :
Pendamping : dr. Indra Barata
Tempat Presentasi :
Ruang Komite Medik RSUD Siti Aisyah
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Wanita, 28 tahun, dengan keluhan susah tidur sudah 2 bulan ini.
Tujuan :
Mengetahui klasifikasi dan pengobatan F 32.1
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
E-mail
Pos
Membahas :
Data Pasien : Nn. Winda Deliana, 28 tahun
No. Registrasi : 099558
Nama Klinik : RSUD Siti Aisyah
Telp : (0733) 451902
Terdaftar sejak :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
Diagnosis Multiaksis :
a. Aksis I : Episode Depresif Ringan Dengan Gejala Somatik (F32.01).
b. Aksis II : Tidak cukup data untuk menentukan ciri kepribadian.
c. Aksis III : Tidak ada kelainan organic.
d. Aksis IV : Masalah pekerjaan
e. Aksis V : GAF Scalae 70-61: beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik.

Gambaran Klinis
Susah tidur sekitar 1 minggu yang lalu, datang dengan afek depresif, disertai denga
beberapa keluhan sbb: kehilangan minat dalam bekerja ataupun aktivitas lain, merasa tida
memiliki tenaga dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, jarang dan malas berinterak
dengan rekan kerjanya, kepercayaan diri hilang, merasa tidak berguna, tidur terganggu, nafs
makan berkurang, tidak ada gejala psikotik.
1. Riwayat Pengobatan : Tidak ada riwayat pengobatan sebelumnya.
2. Riwayat Kesehatan/ Penyakit: Belum pernah mengalami keluhan serupa.
3.
4.
5.
6.

Riwayat Keluarga : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.
Riwayat Pekerjaan : Os adalah seorang CPNS di dinas kesehatan kota.
Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Tidak ada yang berhubungan.
Lain-lain : -

DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka :
1. Sadock BJ, Sadock VA. Mood Disorders. In: Grebb JA, Pataki CS, Sussman N, eds. Kaplan &

Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition. New


York: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. p.528-540.
2. Halverson JA et al. Depression. (Online). 2011. [23 Juni 2011]. Available from
http://emedicine.com
3. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma
Jaya; 2003. p. 66-69.
4. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Textbook of Psychiatry. 2nd edition. Philadelphia: Churchill
Livingstone; 2002. p.173-196.
Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. Jakarta: Bagian Ilm
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya; 2007. p. 23-30.
Hasil Pembelajaran :
1. Memahami Gangguan Depresi
2. Klasifikasi/ tahapan dari depresi dan penatalaksanaannya

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio

Subjektif :
Pasien datang dengan keluhan tidak bisa tidur sejak seminggu yang
lalu. Biasanya pasien tidur malam jam 12 malam dan terbangun jam 5
pagi, sudah 1 minggu ini pasien sulit tidur tanpa sebab yang jelas,
pasien ,menyangkal memiliki gangguan tidur seperti: tidur berjalan,
mudah terbangun, mudah bergerak dalam tidur, menggigau, dan gangguan
tidur lainnya. Pasien merupakan CPNS di dinas kesehatan kota lubuk
linggau, sebelumnya 3 bulan yang lalu pasien sempat beberapa kali ditegur
oleh atasan karena salah menjalankan tugas, semenjak itulah pasien mulai
merasa keluhan susah tidurnya muncul dan memberat 1 minggu ini.
Sekitar 2 bulan ini pasien malas berinteraksi dengan rekan-rekan
kerja lainnya, malas bekerjan, pasien juga merasa tenaganya hilang
disetiap beliau melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Kepercayaan
dirinya hilang oleh karena itu beliau semakin jarang masuk kerja.
Dirumah, pasien juga merasa malas berinteraksi dengan orang dirumah,
merasa tidak berguna, nafsu makannya berkurang. Tidak ditemukan gejalagejala psikotik pada pasien.

1. Objektif :
Tanda-tanda Vital
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah : 120/70 mmHg


Nadi

: 82 x/menit, isi dan tegangan cukup, reguler

Suhu

: 36,5 C

Pernapasan

: 20 x/menit, reguler,

Keadaan umum : Baik


Status Generalis
Kepala : Nyeri tekan kepala -, rambut tidak mudah dicabut, alopecia -.
Wajah

: Nyeri tekan sinus -.

Mata

: Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, RCL +/+, RCTL +/+,
diameter pupil 3mm/3mm.

Telinga : Nyeri tekan tragus -/-, nyeri tekan mastoid -/-, serumen +/+, sekret
-/-, membran timpani intak/intak.
Hidung : Sekret -/-, deviasi septum -, mukosa hiperemis -.
Mulut

: Higiene buruk, karies dentis +, tonsil T1/T1, mukosa hiperemis -,


uvula di tengah, arkus faring simetris.

Leher

KGB : Tidak teraba.


Tiroid :Tidak terdapat pembesaran.
JVP : 5+2 cmH2O.
Dada

:
Paru : I:

Pergerakan dinding dada simetris kanan=kiri, retraksi (-),


ketinggalan gerak (-), pectus excavatum (-), pectus
carinatum(-), spider nevi (-), sikatriks (-).

P:

Krepitasi (-), massa (-), Vokal fremitus lapang paru

P:

Sonor pada seluruh lapang paru.

kiri=kanan.

Jantung: I :
P:

Sd vesikuler +/+, Rbh-/-, Rbk -/-, Wh-/-

Ictus cordis tidak terlihat


Ictus cordis teraba di SIC 5 2jari medial linea midklavikula

kiri

P:

Batas jantung kiri di SIC 5 2jari medial linea midklavikula


kiri, batas jantung kanan di ICS 5 linea sternalis kanan.

S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-).

Abdomen: I : Abdomen datar, caput medusa -, sikatriks -, venektasi -.


A : Bising usus +, 6 kali per menit.
P : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
P : Dinding abdomen supel, nyeri tekan + regio epigastrium, nyeri
tekan McBurney -, hepar dan lien tidak teraba, ballotement -/-,
nyeri ketok CVA -/H/L: tidak teraba besar
Ekstremitas: CRT <2, Tidak ada edema, akral hangat, turgor kulit baik, tidak
ada gangguan gerak pada ekstrimitas superior dan inferior
Status Psikiatri
Ditemukan 3 gejala mayor berupa:
- Afek depresif
- Kehilangan minat & kegembiraan
- Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
dan menurunnya aktivitas.
Ditemukan 5 dari 6 gejala minor, berupa:
- Konsentrasi dan perhatian yang kurang
- Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang.
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Tidur terganggu
- Nafsu makan berkurang
Dengan pedoman diagnostic mengarah pada diagnosis episode depresif tipe
sedang, antara lain sbb:
- Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada
episode depresi ringan
- Ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya
- Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
- Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan social, pekerjaan
dan rumah tangga.

2. Assesment (penalaran klinis) :


Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psokomotor, konsentrasi,
anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya serta gagasan bunuh diri.
Gejala depresi memang sering tidak terasa dan tidak diketahui.
Bahkan, lebih dari 30 persen kasus depresi di tempat praktik dokter tidak
terdeteksi. Karena, gejala utama depresi seperti perasaan depresif (murung,
sedih), hilangnya minat/gairah, dan rasa lemas pernah terjadi pada siapa pun.
Depresi merupakan gangguan mental yang paling banyak
menimbulkan beban distabilitas, meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan
risiko bunuh diri. Berdasarkan studi Badan Kesehatan Dunia (World Health
Organization/WHO), gangguan mental menempati urutan keempat penyebab
disabilitas pada tahun 2000.
Diperkirakan, 121 juta manusia di muka bumi ini menderita depresi.
Ironisnya, mereka yang menderita depresi berada dalam usia produktif, yakni
cenderung terjadi pada usia kurang dari 45 tahun. Tidak mengherankan, bila
diperkirakan 60 persen dari seluruh kejadian bunuh diri terkait dengan depresi
(termasuk skizofrenia). Depresi juga berdampak pada penurunan kualitas
hidup pasien dan seluruh keluarganya.
Penyebab gangguan neurosa depresi tidak diketahui dengan pasti.
Etiologi secara hipotetis diperbincangkan antara lain karena factor gangguan
biologik (termasuk faktor genetik) dan faktor psiko-sosial.
1. Faktor Biologik
Diduga kuat bahwa norepinephrine dan serotonin adalah dua jenis
neurotransmitter yang bertanggung jawab mengendalikan patofisiologi
ganguan alam perasaan pada manusia. Pada binatang percobaan.
Pemberian antidepresan dalam waktu sekurang kurangnya dua sampai tiga
minggu, berkaitan dengan melambatnya penurunan sensitifitas pada
receptor post synaptic beta adrenergic dan 5HT2.
Temuan terakhir penelitian biogenic amine menunjukkan dukungan
terhadap hipotesa bahwa pada gangguan alam perasaan (mood) pada
umumnya, khususnya episode depresif terjadi kekacauan regulasi
norepinephrine dan serotonin dijaringan otak yang dapat dikoreksi oleh zat
antidepressant dalam jangka waktu dua sampai tiga minggu.
2. Masalah genetik
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) baik tipe
5

bipolar (adanya episode manik dan depresi) dan tipe unipolar (hanya
depresi saja) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya,
berdasar etiologi biologik.
3. Psikososial
Peristiwa traumatik kehidupan dan lingkungan sosial dengan
suasana yang menegangkan dapat menjadi kausa gangguan neurosa
depresi. Sejumlah data yang kuat menunjukkan kehilangan orangtua
sebelum usia 11 tahun dan kehilangan pasangan hidup harmoni dapat
memacu serangan awal gangguan neurosa depresi.
GAMBARAN KLINIK
1. Gejala utama (pada derajat ringan, sedang dan berat) :
a. afek depresif
b. kehilngan minat dan kegembiraan, dan
c. berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas.
2. Gejala Lainnya :
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c. Gagasan tentaang rasa bersalah dan tidak berguna
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f. Tidur terganggu
g. Nafsu makan berkurang
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut
diperlukan masa sekurang-kurangnya dua minggu untuk penegakkan
diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala
luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
DIAGNOSIS
Berdasarkan PPDGJ III, Pedoman Diagnostik Episode Depresif Ringan
terdiri dari :
1. F32.0 Episode Depresif Ringan
a. sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi
b. ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
c. tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
d. lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2
minggu
e. hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa

dilakukannya
2. F32.1 Episode Depresif Sedang
a. sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti
pada episode depresif ringan
b. ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya
c. lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu
d. menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan dan urusan rumah tangga.
3. F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
a. semua 3 gejala utama depresi harus ada
b. ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa
diantaranya harus berintensitas berat.
c. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor)
yang mencolok, maka pasien mungkibn tidak mau atau tidak mampu
untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian
penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih
dapat dibenarkan.
d. Episode depresif biasanya haarus berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat,
maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun
waktu kurang dari 2 minggu
e. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga kecuali paada taraf yang sangat
terbatas.
4. F32.3 Episode Depresif Berat dengan gejala Psikotik
a. episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F.32 tersebut
b. disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya
melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang
mengancam, dan pasien merasa bertanggung jawab atas hal itu.
5. F 32.8 Episode Depresif Lainnya
6. F 32.9 Episode Depresif YTT
DIAGNOSIS BANDING
Dalam diagnosis banding bisa dipertimbangkan sindrom mental
organik dan kesedihan (berkabung) bila cocok dengan situasi penderita.
Gejala-gejala fisiologik dari keadaan sedih dan depresi dapat saja sama, tetapi
hilangnya rasa percaya diri, perasaan bersalah, dan membenci diri sendiri
mengisyaratkan depresi, terutama bila gejala-gejala ini menetap lebih dari
sebulan. Sikap pesimis merupakan ciri diagnostik yang dapat membantu
dalam membedakan kesedihan dengan depresi. Ide-ide bunuh diri juga
mengarah pada depresi. Pertanyaan mengenai keinginan bunuh diri perlu

dikeluarkan selama wawancara secara terbuka dan langsung.


Penderita yang berisiko tinggi bunuh diri adalah pecandu alkohol, jenis
kelamin pria, mereka yang hidup sendiri, mereka yang mempunyai suatu
rencana bunuh diri yang spesifik, dan orang-orang tua. Perlu diketahui bahwa
kebanyakan korban bunuh diri yang berhasil telah berkonsultasi dengan dokter
(tidak mesti karena depresinya) sebelum kematiannya. Dalam membedakan
depresi dengan perasaan berkabung, maka waktu dan gejala-gejala dapat
membantu. Proses berkabung yang berlangsung lebih dari 6 bulan
mengisyaratkan adanya penyakit sekunder. Dua petunjuk dari rasa kehilangan
yang berlarut-larut adalah hilangnya ini.
kestabilan emosional bila orang yang dikasihi disebut-sebut, dan yang
berduka merasa bahwa orang yang dicintai tersebut masih ada.
Baik delirium maupun demensia sulit dibedakan dari depresi.
Membedakan delirium dengan dmenesia adalah penting untuk
penatalaksanaan penderita. Pada delirium, terjadi perkabutan kesadaran
dengan berkurangnya kapasitas untuk memusatkan dan mempertahankan
perhatian terhadap rangsang, biasanya disertai disorientasi. Gambaran klinis
ini timbul dalam waktu singkat. Pada demensia, terjadi penurunan fungsi yang
tidak nyata. Penyebab psudodemensia yang paling sering adalah depresi:
pasien yang depresi dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan,
sementara penderita yang benar-benar mengalami demensia tidak akan dapat
menjawab. Pada depresi juga terjadi perubahan mendadak, citra diri yang
buruk, menarik diri, dan apatis.
Penggunaan kuesioner tentang kesehatan secara umum atau inventaris
depresi Beck (keduanya dapat memberi kesimpulan sendiri) dapat membantu
spesialis dalam diagnosis banding kasus-kasus yang sulit. Akhir-akhir ini telah
digunakan tes penekanan dengan deksametason untuk membantu diagnosis.
Tes ini merupakan suatu teknik riset, namun kesulitan interpretasi timbul pada
kasus alkoholik dan obesitas. Selain itu, tes ini juga tidak spesifik untuk
depresi; hampir separuh dari penderita dengan depresi endogen gagal dalam
menjalani tes penekanan
PENATALAKSANAAN
Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi. Selain itu
pengobatan dengan psikofarmako dengan mengutamakan antidepresan,
terutama yang mengandung agen serotonergik seperti sertraline (zoloft 50
mg/hari). Beberapa pasien memberikan respon yang cukup bagus dengan
pemberian obat psikostimulan dalam dosis kecil seperti amfetamin 5-15 mg/
hari. Dalam semua kasus harus ada kombinasi kedua hal tadi (Kaplan).
Pengobatan lainnya adalah dengan ECT digunakan pada depresi berat,
terutama pada penderita psikotik, mengancam melakukan bunuh diri dan

penderita yang tidak mau makan. Obat-obatan yang juga bisa digunakan:
1. Anti depresi Trisiklik
2. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)
3. Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)
4. Psikostimulan
3. Plan :
DIAGNOSIS KERJA
Episode Depresi Sedang (F32.1)
Terapi:
Farmakoterapi
- Amitriptilin 1 x 25 mg 0-0-1
Psikoterapi
- Ventilasi
Memberi kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan isi hati dan
keinginannya sehingga pasien merasa lega.
- Konseling
Memberikan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar pasien
memahami kondisi dirinya.
- Sosioterapi
Memberi penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat pasien
tentang keadaan pasien dan menciptakan lingkungan yang kondusif agar
dapat membantu proses penyembuhan pasien.
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Definisi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk pada perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta
gagasan bunuh diri. (ilmu kedokteran jiwa darurat kaplan)

II.

Epidemiologi
1. Insiden dan prevalensi

Gangguan depresi berat, paling sering terjadi dengan prevalensi


seumur hidup sekitar 15 persen. Perempuan dapat mencapai 25 persen.
Sekitar 10 persen di perawatan primer dan 15 persen dirawat rumah
sakit.
2. Jenis kelamin
Perempuan dua kali lipat lebih besar dibanding laki laki. Diduga
adanya perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stressor
psikososial antara laki laki dan perempua.
3. Usia
Rata rata usia sekitar 40 tahunan, hampir 50 persen awitan diantara
usia 20 50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa
anak atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan, gangguan depresi
berat diusia kurang dari 20 tahun mungkin berhubungan dengan
meningkatnya pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat dalam
kelompok usia tersebut.
4. Status perkawinan
Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan
interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau pisah.
Wanita yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah
untuk menderita depresi dibandingkan dengan yang menikah namun
hal ini berbanding terbalik untuk laki laki.

III.

Etiologi
Menurut Kaplan, faktor faktor yang dihubungkan dengan penyebab
depresi dapat dibagi atas:
1. Faktor Biologi
Data penelitian biopsikologi menyatakan yang paling berperan dalam
patofisologi gangguan mood adalah disregulasi pada amin biogenik
(norepinefrin, serotonin dan dopamin). Penurunan serotonin dapat
mencetuskan depresi, dan pada beberapa pasien yang bunuh diri

10

memiliki

konsentrasi

metabolik

serotonin

di

dalam

cairan

serebrospinal yang rendah serta konsentrasi tempat ambilan serotonin


yang rendah di trombosit. Beberapa pasien depresi juga memiliki
respon neuroendokrin yng abnormal. Walaupun norepinefrin dan
serotonin adalah amin biogenik yan paling sering dihubungkan dengan
patofisologi depresi, dopamin juga telah diperkirakan memiliki
peranan dalam depresi. Data menyatakan bahwa aktivitas dopamin
mungkin menurun pada depresi dan meningkat pada mania.
Faktor

neurokimiawi

lain

seperti

adenylate

cyclase,

phospotidylinositol dan regulasi kalsium mungkin juga memiliki


relevansi penyebab. Kelainan pada neuroendokrin utama yang menarik
perhatian

dalam

adalah

sumbu

adrenal,

tiroid

dan

hormon

pertumbuhan. Neuroendokrin yang lain yakni penurunan sekresi


nokturnal

melantonin,

penurunan

pelepasan

prolaktin

karena

pemberian tryptopan, penurunan kadar dasar folikel stimulating


hormon (FSH), luteinizing hormon (LH) dan penurunan kadar
testoteron pada laki-laki.
2. Faktor Genetik
Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di
dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola
penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks,
bukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial tetapi
faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam
perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa orang.
Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemugkinan menderita
suatu gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekelurgaa
melebar. Sebagai contoh, sanak saudara derajat kedua (sepupu) lebih
kecil kemungkinannya menderita daripada sanak saudara derajat
pertama (kakak).

11

Peneltian adopsi juga telah menunjukkan bahwa orang tua biologis


dari anak adopsi dengan gangguan mood mempunyai suatu prevalensi
gangguan mood yang serupa dengan orang tua anak penderita
gangguan mood yang tidak diadopsi.
3. Faktor Psikososial
Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, suatu pengamatan klinis
yang telah lama direplikasi bahwa peristiwa kehidupan yang
menyebabkan stress lebih sering mendahului episode pertama
gangguan mood daripada episode selanjutnya, hubungan tersebut telah
dilaporkan untuk pasien dengan gangguan depresi berat.
Data yang paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa kehidupan
paling berhubungan dengan perkembangan depresi selanjutnya adalah
kehilangan orang tua sebelum usia 11 tahun. Stressor lingkungan yang
paling berhubungan dengan onset satu episode depresi adalah
kehilangan pasangan. Beberapa artikel teoritik dan dari banyak
laporan, mempermasalahkan hubungan fungsi keluarga dan onset
dalam perjalanan gangguan depresi berat. Selain itu, derajat
psikopatologi didalam keluarga mungkin mempengaruhi kecepatan
pemulihan, kembalinya gejala dan penyesuaian pasca pemulihan.
IV.

Klasfikasi
Berikut adalah pembagian dari episode depresif :
1) Episode depresif ringan (F32.0)
Suasana perasaan mood yang depresif, kehilangan minat
dan kesenangan, dan mudah menjadi lelah biasanya dipandang
sebagai gejala depresi yang paling khas; sekurang-kurangnya dua dari
ini, ditambah sekurang-kurangnya dua gejala lazim di atas harus ada
untuk menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh ada gejala yang berat
di antaranya. Lamanya seluruh episode berlansung ialah sekurangkurangnya sekitar 2 minggu (Depkes RI, 1993).

12

Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah


tentang gejalanya dan agak sukar baginya untuk meneruskan
pekerjaan biasa dan kegiatan social, namun mungkin ia tidak akan
berhenti berfungsi sama sekali (Depkes RI, 1993).
2) Episode depresif sedang (F32.1)
Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala yang paling
khas yang ditentukan untuk episode depresif ringan, ditambah
sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala lainnya.
Beberapa gejala mungkin tampil amat menyolok, namun ini tidak
esensial apabila secara keseluruhan ada cukup banyak variasi
gejalanya. Lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2
minggu (Depkes RI, 1993).
Individu dengan episode depresif taraf; sedang biasanya
menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan dan urusan rumah tangga (Depkes RI, 1993).
3) Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2)
Pada

episode

depresif

berat,

penderita

biasanya

menunjukkan ketegangan atau kegelisahan yang amat nyata, kecuali


apabila retardasi merupakan ciri terkemuka. Kehilangan harga diri dan
perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri
merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus berat.
Anggapan di sini ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada
episode dpresif berat.
Semua tiga gejala khas yang ditentukan untuk episode
depresif ringan dan sedang harus ada, ditambah sekurang-kurangnya
empat gejala lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas
berat. Namun, apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi)
menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu utnuk
melaporkan banyak gejalanya secara terinci. Dalam hal demikian,
penentuan menyeluruh dalam subkategori episode berat masih dapat
dibenarkan. Episode depresif biasanya seharusnya berlangsung

13

sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan


beronset sangat cepat, maka mungkin dibenarkan untuk menegakkan
diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.
Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkin
penderita akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau
urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Kategori ini hendaknya digunakan hanya untuk episode
depresif berat tunggal tanpa gejala psikotik; untuk episode
selanjutnya, harus digunakan subkategori dari gangguan depresif
berulang.
4) Episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3)
Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut
F32.2 tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.
Wahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau
malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung
jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya
berupa suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau
daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju
pada stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan
sebagai serasi atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).
5) Episode depresif lainnya (F32.8)
6) Episode depresif YTT (F32.9)
V.

Gejala Klinis
Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami
depresi dan tidak mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka
menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang sebelumnya menarik
bagi dirinya. Hampir semua pasien depresi (97 persen) mengeluh tentang
penurunan energi dimana mereka mengalami kesulitan menyelesaikan
tugas, mengalami hendaya di sekolah dan pekerjaan, dan menurunnya
motivasi untuk terlibat dalam kegiatan baru. Sekitar 80 persen pasien
mengeluh masalah tidur, khususnya terjaga dini hari (terminal insomnia)

14

dan sering terbangun di malam hari karena memikirkan masalah yang


dihadapi. Kecemasan adalah gejala tersering dari depresi dan menyerang
90 persen pasien depresi. (buku psikiatri UI)
Berikut merupakan beberapa gejala depresi (ringan, sedang dan
berat) berdasarkan PPDGJ III :
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :
-

Afek depresi (sedih, murung, lesu, menangis)

Kehilangan minat dan kegembiraan

Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah


(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas.

Gejala lainnya :
a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
d) Pandangan masa depan suram dan pesimis
e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f) Tidur terganggu
g) Nafsu makan terganggu
Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan
masa sekurang kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan
tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa
beratnya dan berlangsung cepat.
Kategori diagnosis episode depresif ringan, sedang dan berat hanya
digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif
berikutnya harus diklasifikasi di bawah salah satu diagnosis gangguan
depresif berulang.
VI.

Diagnosis Banding
1) Gangguan Skizofrenia

15

Terutama katatonik, tetapi tiap jenis skizofrenia dapat terlihat atau


menjadi depresi selama atau setelah satu episode. Adanya penyesuaian
premorbid yang buruk, gangguan proses pikir formal dengan waham
yang tersusun baik dan halusinasi yang komplek, tidak ada riwayat
siklik, dan tidak ada riwayat keluarga yang mengalami gangguan
afektif, menyokong dugaan suatu skizofrenia.
2) Gangguan Skizoafektif
Suatu gangguan psikotik yang memenuhi kriteria skizofrenia, tetapi
beberapa saat bertumpang tindih dengan gejala gejala mood mayor.
3) Gangguan Cemas Menyeluruh
Pertama terlihat ansietas yang sangat menonjol. Pasien dengan cemas
hendaknya selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya depresi.
(buku saku psikiatri ed.6)
VII.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien dengan gangguan mood harus diarahkan
kepada beberapa tujuan. Pertama, keselamatan pasien harus terjamin.
Kedua, kelengkapan evaluasi diagnostik pasien harus dilaksanakan.
Ketiga, rencana terapi bukan hanya untuk gejala, tetapi kesehatan jwa
pasien kedepan juga harus diperhatikan. (buku psikiatri UI)
Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi, dan
beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi khusus
bergantung pada diagnosis, berat penyakit, umur pasien, respon terhadap
terap sebelumnya. (buku saku psikiatri ed.6)

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ, Sadock VA. Mood Disorders. In: Grebb JA, Pataki CS, Sussman
N, eds. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition. New York: Lippincott Williams &
Wilkins; 2007. p.528-540.
2. Halverson JA et al. Depression. (Online). 2011. [23 Juni 2011]. Available
from http://emedicine.com
16

3. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa


FK Unika Atma Jaya; 2003. p. 66-69.
4. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Textbook of Psychiatry. 2nd edition.
Philadelphia: Churchill Livingstone; 2002. p.173-196.
5. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi
Ketiga. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya; 2007. p.
23-30.

17