Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH EVOLUSI

Homo erectus

Disusun oleh:
Ningtyas Yuniar Respati
Riemas Widodo
Tantyn Nurhidayah
Dinda Mardiani Lubis
Anis Anya Habibah
Triana
Nova Rahmawati
Mesa Septiana
Mega Eka Kapti
Wiwit Nurhidayah

13308141026
133081410
133081410
133081410
133081410
13308141008
133081410
13308141005
11308141027
13308141006

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Manusia yang hidup pada zaman Praaksara sekarang sudah berubah menjadi
fosil. Fosil manusia yang ditemukan di Indonesia dalam perkembangan terdiri dari
beberapa jenis. Penemuan - penemuan fosil ini banyak disumbang oleh Indonesia. Hal
ini dikarenakan Indonesia merupakan wilayah tropis dan mempunyai iklim yang
cocok dihuni manusia kala itu. Penemuan - penemuan fosil sangat berguna bagi
perkembangan ilmu sejarah sekarang ini. Baik dalam hal menjelaskan kehidupan
manusia kala itu. Hewan yang pernah hidup dan bagaimana evolusi manusia hingga
menjadi sekarang ini. Indonesia banyak menyumbang fosil manusia - manusia purba.
Dilihat dari hasil penemuan di Indonesia maka dapat dipastikan Indonesia
mempunyai banyak sejarah peradapan manusia mulai saat manusia hidup. Dengan
begitu ilmu sejarah akan terus berkembang sejalan dengan fosil-fosil yang ditemukan.
Hal ini diketahui dari kedatangan para ahli dari Eropa pada abad ke-19, dimana
mereka tertarik untuk mengadakan penelitian tentang fosil manusia di Indonesia. Itu
sebabnya makalah ini dibuat untuk mengetahui lebih jelas dan terperinci mengenai
pengertian manusia purba khusunya homo erectus serta kehidupannya pada masa itu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa
permasalahan yang akan dibahas adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana kehidupan Homo erectus pada zaman dahulu?
b. Bagaimana pendapat para evolusionis tentang homo erectus?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, makalah ini bertujuan sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui kehidupan Homo erectus pada zaman dahulu?
b. Untuk mengetahui pendapat para evolusionis tentang homo erectus?
D. Manfaat
Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pembaca untuk menambah
pengetahuan tentang kehidupan manusia purba pada zaman dahulu
b. Dapat menjadi informasi berharga bagi para penulis guna menciptakan tulisan
yang lebih bermanfaat bagi masyarakat untuk bisa mengetahui kehidupan
manusia Homo erectus pada zaman dahulu.

BAB II
PEMBAHASAN

Manusia yang hidup pada zaman Praaksara sekarang sudah berubah menjadi fosil.
Fosil manusia yang ditemukan di Indonesia dalam perkembangan terdiri dari beberapa jenis.
Penemuan - penemuan fosil ini banyak disumbang oleh Indonesia. Hal ini dikarenakan
Indonesia merupakan wilayah tropis dan mempunyai iklim yang cocok dihuni manusia kala
itu. Penemuan - penemuan fosil sangat berguna bagi perkembangan ilmu sejarah sekarang ini.
Antara waktu 250.000 300.000 tahun yang lalu, Homo erectus masih hidup di Cina
(Zhoukoudian dan Hexian) tetapi sudah menghilang di benua Eropa dan Afrika, digantikan
dengan pemunculan Homo sapiens purba. Banyak ahli mengatakan bahwa nenek moyang
Homo sapiens purba adalah Homo erectus. Tetapi fenomena ini hanya nampak di beberapa
tempat saja seperti halnya di Eropa dan Afrika. Proses evolusi Homo erectus menjadi Homo
sapiens purba di Eropa melalui kondisi perubahan iklim dari panas ke dingin dan di Afrika
melalui kondisi iklim yang kering.
Homo erectus adalah manusia purba pertama yang bermigrasi ke luar Afrika dan
menyebar hingga ke Eropa dan Asia Timur, termasuk Indonesia. Para ahli menduga migrasi
terjadi akibat perubahan lingkungan yang cukup besar sebelum 1 juta tahun lalu. Migrasi
Homo erectus berjalan cukup lambat. Mereka hanya berpindah rata-rata 20 km dalam satu
generasi (sekitar 30 tahun), sehingga dibutuhkan sedikitnya 25.000 tahun untuk mencapai
Cina atau Jawa.
Umur fosil Homo erectus dari Jawa tidak diketahui secara jelas hingga sekarang.
Koenigswald (1962 dalam Bartstra 1983) mengatakan bahwa fosil Homo erectus dari
Sangiran dan Trinil berasal dari dua unit stratigrafi yang berbeda yang masing-masing unit
dicirikan oleh kelompok fosil hewan tersendiri. Unit stratigrafi tertua diberi nama Formasi
Pucangan dan kelompok fosil hewannya diberi nama Fauna Jetis. Fosil Homo erectus sangat
jarang terdapat di dalam fauna ini. Unit stratigrafi termuda tempat ditemukan banyak fosil
Homo erectus, diberi nama Formasi Kabuh dan kelompok fosil hewannya diberi nama Fauna
Trinil. Sondaar (1984) berpendapat bahwa pembagian stratigrafi atas dasar batuannya dan
kumpulan fosil hewan di atas tidak begitu akurat, dan oleh karenanya kedudukan Homo
erectus di dalam satuan stratigrafi tersebut tetap belum jelas.
Ketidaksesuaian umur Homo erectus di Jawa disebabkan oleh adanya ketidakcocokan
antara data penetuan umur fosil dengan data paleomagnet yang dipakai untuk mengukur

lapisan sedimen yang diduga merupakan sumber fosil Homo erectus. Ada factor yang
mempengaruhi ketidakcocokan itu, antara lain fosil Homo erectus itu kemungkinan berasal
dari lapisan sedimen yang umurnya lebih tua daripada lapisan sedimen yang diduga
merupakan sumbernya. Walaupun sampai saat ini hasil penetuan umur fosil Homo erectus di
Jawa masih diperdebatkan, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa Homo erectus di Jawa
muncul sesudah 0,8 juta tahun yang lalu. Penelitian manusia purba di Indonesia dilakukan
oleh :
1. Eugena Dobois,
Dia adalah yang pertama kali tertarik meneliti manusia purba di Indonesia
setelah mendapat kiriman sebuah tengkorak dari B.D Von Reitschoten yang
menemukan tengkorak di Wajak, Tulung Agung.Fosil itu dinamai Homo Wajakensis,
termasuk dalam jenis Homo Sapien (manusia yang sudah berpikir maju)Fosil lain
yang ditemukan adalah : Pithecanthropus Erectus (phitecos = kera, Antropus Manusia,
Erectus berjalan tegak) ditemukan di daerah Trinil, pinggir Bengawan Solo, dekat
Ngawi, tahun 1891. Penemuan ini sangat menggemparkan dunia ilmu pengetahuan.
Pithecanthropus Majokertensis, ditemukan di daerah Mojokerto Pithecanthropus
Soloensis, ditemukan di daerah Solo
2. G.H.R Von Koeningswald
Hasil penemuannya adalah : Fosil tengkorak di Ngandong, Blora. Tahun 1936,
ditemukan tengkorak anak di Perning, Mojokerto. Tahun 1937 1941 ditemukan
tengkorak tulang dan rahang Homo Erectus dan Meganthropus Paleojavanicus di
Sangiran, Solo.
3. Penemuan lain tentang manusia Purba :

Ditemukan tengkorak, rahang, tulang pinggul dan tulang paha manusia


Meganthropus, Homo Erectus dan Homo Sapien di lokasi Sangiran, Sambung Macan
(Sragen),Trinil, Ngandong dan Patiayam (kudus).

Gambar. Peta persebaran homo erectus


Terdapat 3 tipe homo erectus yaitu:
a. Homo erectus arkaik
Mempunyai ciri fisik yang paling kekar, dengan gigi geligi yang kuat dan
diduga lebih banyak memakan tumbuhan. Fosilnya dikenal dengan nama
Meganthropus

Palaeojavancus,

Pithecanthropus

robustus

(Sangiran)

dan

Pithecanthropus mojokertoensis (Perning, Mojokerto).


b. Homo erectus tipik
Wajahnya lebih mungil, dahi landai dan agak tonggos. Termasuk temuan pertama
Eugene Dubois di Trinil. Jenis ini paling banyak ditemukan di situs-situs jawa,
terutama Ssangiran, Ngawi, Sambungmacan. Oleh karena itu dinamai Homo erectus
tipik (dari typical) atau klasik (Classical).
c. Homo erectus progresif
Jenis yang paling maju, volume otak lebih besar, dahi agak meninggi. Fosilnya
banyak ditemukan di situs Ngandong, dikenal sebagai Pithecanthropus soloensis.
Dalam skema evolusi manusia yang dirancang oleh para evolusionis, fosil-fosil
yang digolongkan sebagai Homo erectus ditempatkan setelah Australopithecus.Sebagaimana
yang terkandung dalam kata erect, Homo erectus berarti >> manusia tegak. Evolusionis
harus memisahkan mereka dari kelompok sebelumnya dengan menambahkan tingkat
ketegakan, karena semua fosil Homo erectus yang ada memiliki tingkat ketegakan yang
tidak dijumpai pada spesimen Australophitecus atau Homo Habilis .
Alasan utama bagi para evolusionis untuk mengatakan Homo erectus sebagai
primitif adalah ukuran rongga otak pada tengkoraknya (900-1100cc), yang berukuran lebih
kecil dari milik manusia modern dan tonjolan alis yang tebal. Namun, terdapat banyak orang
di zaman sekarang yang masih hidupa di dunia ini yang memiliki volume otak sebesar Homo
erectus (misalnya bangsa pigmi) dan terdapat pula sejumlah bangsa yang memiliki alis mata

yang menonjol (misalnya bangsa Aborogin dari Australia). Adalah fakta yang sudah
dimaklumi bahwa perbedaan volume otak tidaklah selalu menunjukkan perbedaan tingkat
kecerdasan atau ketrampilan. Kecerdasan lebih bergantung pada pengaturan internal otak dan
bukan volumenya.
Bahkan seorang evolusionis , Rhichard Leakey , menyatakan perbedaan antara Homo
erectus dan manusia modern tidaklah lebih dari perbedaan ras. Seseorang juga akan melihat
adanya perbedaan-perbedaan pada bentuk tengkorak, besarnya tonjolan di bagian muka,
ketebalan alis mata dan seterusnya . Perbedaan perbedaan ini mungkin tak kenal perbedaan
diantara ras-ras manusia modern yang terpisahkan secara geografis, sebagaimana yang kita
saksikan sekarang.
Menurut Harun Yahya :
Dari paparan diatas, manusia yang dikelompokkan oleh para evolusionis ke dalam
Homo erectus, ternyata merupakan ras manusia yang telah hilang dan memiliki tingkat
kecerdasan yang tidak berbeda dengan kita. Sebaliknya terdapat perbedaan sangat besar
antara Homo erectus, ras manusia dan kera yang berada di awal skenario evolusi manusia
(Australophitecus atau Homo Habilis). Ini berarti manusia pertama muncul dalam catatan
fosil secara tiba-tiba dan secara langsung tanpa sejarah evolusi apapun. Hal ini merupakan
petunjuk paling jelas bahwa makhluk-makhluk ini telah diciptakan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penemu : Eugene Dubois (1890).
Fosil yang ditemukan : tulang rahang, tengkorak bagian atas, geraham dan tulang

kaki.
Tempat penemuan : Trinil lembah Bengawan Solo dekat Ngawi.
Letak stratigrafi temuan : plestosen tengah, pada lapisan / formasi kabuh.
Tipologi / ciri-ciri fisik :
Badan tegap dengan tinggi 165 170 cm.
Tengkorak : volume otak 775 975 cc, belum menjulang tinggi.
Wajah : kening menonjol di atas, pipi menonjol ke samping, hidung lebar,

tidak berdagu.
Alat pengunyah : rahang menonjol ke depan, geraham dan gigi besar, otot

kunyah masih kuat.


Cara berjalan : belum tegak benar.
Makanan masih kasar dan mulai makan daging, mulai mengolah makanan.
Tempat tinggal sama seperti Pithecanthropus mojokertensis.
Pembuatan alat : telah membuat alat- alat dari batu sangat sederhana dan

telah menggunakan api.


Kurun waktu hidupnya : 1 1,5 juta tahun yang lalu.

DAFTAR PUSTAKA
Koenigswald.1962.Penelusuran di Zaman Prasejarah, Perjumpaan Dengan Nenek Moyang
Kita. http://museum.geology.esdm.go.id/. Diakses pada tanggal : 28 April 2016 pukul
14.50 WIB.
Sondaar. 1984. Netherlands Journal of Zoology.
http://booksandjournals.brillonline.com/content/journals/10.1163/002829675x00128.
Diakses pada tanggal : 28 April 2016 pukul 14.57 WIB.