Anda di halaman 1dari 14

METODE LAPANGAN

Taksonomi hewan vertebrata merupakan cabang ilmu biologi yang mempelajari cara
pemberian nama, pengelompokan atau klasifikasi, dan deskripsi dari hewan-hewan yang
tergolong hewan vertebrata. Untuk menunjang mata kuliah taksonomi hewan vertebrata
diperlukan kuliah lapangan yang memungkinkan untuk berinteraksi ataupun mempelajari
hewan vertebrata secara langsung di alam. Kelancaran dalam kuliah lapangan yang akan
dilakukan harus diimbangi oleh kemampuan untuk menangkap hewan objek dengan metodametoda lapangan sehingga memudahkan praktikan untuk mengkoleksi hewan objek
dilapangan (Rabinowitz, 1993).
Metoda-metoda lapangan sangat diperlukan dalam pengkoleksian hewan objek di
alam kerena setiap hewan mempunyai waktu beraktifitas yang berbeda-beda, habitat tempat
tinggal yang berbeda, dan makanan yang berbeda. Metoda-metoda lapangan dapat dilakukan
dengan cara metoda aktif dan metoda pasif. Metoda aktif merupakan cara mengkoleksi
hewan objek dengan interaksi langsung, baik dengan pengejaranmaupun penangkapan
langsung dengan tangan. Metoda aktif misalnya penangkapan ikan dengan jaring ataupun
jala, night visual encounter, dan pengejaran hewan objek secara langsung.Metoda pasif
merupakan metoda lapangan yang digunakan untuk mengkoleksi hewan objek secara tidak
langsung. Dalam menggunakan metoda ini umumnya dibutuhkan alat-alat bantu yang
mengharuskan penggunanya memiliki kemampuan atau keterampilan kusus dalam
memakainya. Metoda pasif misalnya fish trap, pifall trap, mist net, digiscoping, smallmedium trap, harpa trap, auditory cencus, dan camera trap (Corbert & Hill, 1992).
Dalam hal ini, setiap praktikan diharuskan untuk mengetahui metoda-metoda
pengkoleksian hewan vertebrata di lapangan, alat-alat yang digunakan, maupun keterampilan
dalam memakai alat-alat tersebut.Agar lebih memudahkan pemahaman dalam mengenali
metoda-metoda lapangan beserta alat-alat yang digunakan, metoda-metoda pengkoleksian
tersebut dibagi berdasarkan kelaskelas yang ada pada hewan vertebrata (Rabinowitz, 1993).
1. KELAS PISCES
Ikan merupakan hewan vertebrata yang memiliki habitat di air, tubuh dilindungi oleh sisik,
bernapas dengan insang, serta berdarah dingin. Pada umumnya untuk mengkoleksi hewan
kelas ini diperlukan metoda dan alat-alat bantu, serta keterampilan dalam penggunaan alat
tersebut. Alat-alat bantu tersebut seperti pancing, jaring, jala, sentrum listrik, pukat, fish trap

dan sebagainya. Metoda langsung dengan menggunakan tangan untuk menangkap hewan ini
juga dapat digunakan, tetapi sangat memerlukan keterampilan khusus dan sangat bergantung
pada keberuntungan (Kottelat, Whitten, Kartikasari and Wirjoatmodjo, 1993).
Penggunaan jala, jaring, pancing, pukat, dan sentrum listrik pada hakekatnya sudah
umum digunakan oleh masyarakat.Jala dan pukat biasanya digunakan untuk menangkap ikan
dengan cangkupan area yang luas seperti di sungai besar, danau, dan laut.Akan tetapi
penggunaan pukat telah dilarang karena dapat mengganggu habitat maupun populasi ikan
dalam jumlah besar.Pancing dapat juga digunakan di sungai, danau, maupun laut, tetapi alat
ini kurang efisien karena praktikan harus menunggu dan hasil tangkapan tidak terlalu
banyak.Penggunan jaring biasanya digunakan untuk menangkap ikan peliharaan di kolam dan
akuarium, walaupun tidak mustahil untuk menangkap ikan di perairan dangkal.Untuk
penggunaan sentrum listrik harus sangat berhati-hati karena dalam aplikasinya menggunakan
aliran listrik yang bersumber dari accu.Alat ini terbagi menjadi dua bagian utama yaitu kotak
sumber arus dan tongkat penyalur arus ke air.Alat ini juga dilengkapi dengan jaring atau
tangguk yang digunakan untuk mengambil ikan yang pinsan setelah tersentrum.Sumber arus
pada alat ini juga dapat diganti dengan battrai.Sedangkan tegangan yang digunakan yaitu 15
Volt.Dalam pemasangannya, accu atau battrai dipasang sedemikian rupa di dalam kotak
sumber listrik dan dihubungkan dengan tongkat penyalur arus listrik ke air.Dalam
penggunaan alat ini harus sangat diperhatikan keamanan saat pemakaian, pemakai juga
diharuskan memakai sepatu boot karet.Sentrum listrik biasa digunakan untuk menangkap
ikan di perairan dangkal.Penggunaan alat ini juga dapat merusak populasi hewan air
walaupun dalam taraf yang kecil (Saanin, 1960).
Metoda lain yang digunakan untuk mengkoleksi ikan di lapangan yaitu dengan fish
trap (jebakan ikan). Fish trap merupakan metoda pasif untuk menjebak ikan, fish trap
berbentuk persegi yang terbuat dari rajutan tali khusus. Di dalam fish trap terdapat tempat
khusus sebagai tempat untuk meletakkan umpan guna memancing ikan agar masuk ke dalam
rongga pada samping fish trap, sehingga ikan terperangkap di dalam fish trap dan tidak dapat
keluar karena sistem corong tempat masuk ikan hanya memungkinkan ikan untuk masuk dan
tidak dapat keluar. Penerapan fish trap ini dapat menangkap ikan yang mempunyai bentuk
tubuh langsing, sedangkan pengecekan dapat dilakukan minimal 1 jam sekali. Alat tradisional
yang memiliki prinsip kerja seperti fish trap yaitu bubu dan lukah (Saanin, 1960).

a
b
c

Gambar 1. Metoda-Metoda Menangkap Ikan, (a) fish trap, (b) jaring, (c) bubu
2. KELAS AMPHIBI
Hewan kelas Amphibi memiliki habitat di air dan di darat. Dalam siklus hidupnya, hewan
pada kelas ini mengalami metamorfosis sempurna, sebelum menjadi katak dewasa hewan ini
berhabitat di air.Sehingga walaupun telah menjadi katak dewasa hewan tersebut tetap
memiliki ketergantungan yang kuat terhadap lingkungan air.Hal tersebut dapat menjadi
petunjuk dalam memperkirakan keberadaan hewan amphibi ini sehingga memudahkan dalam
mengkoleksi di alam. Kebanyakan hewan amphibi hidup di lingkungan atau habitat yang
lembab, rawa, serta dapat juga ditemukan disekitar arus air (Bennett, 1999).
Metoda yang digunakan untuk mengkoleksi hewan amphibi yaitu night visual
encounter.Night visual encounter merupakan metoda aktif karena melibatkan interaksi
langsung dengan hewan target. Metoda ini biasa dilaksanakan pada malam hari dengan
menggunakan bantuan penerangan cahaya lampu senter.Metoda ini dilakukan dengan
menyusuri aliran sungai atau perairan yang diduga sebagai habitat tempat tinggal bagi hewan
amphibi tersebut. Hewan target yang terlihat dapat dilumpuhkan dengan menyorotkan lampu
senter ke arah hewan tersebut untuk membutakannya dan langsung ditangkap dengan tangan.
Hewan target yang telah didapatkan dapat dikoleksi di dalam kotak koleksi (Iskandar, 1998).
Metoda lain untuk mengkoleksi hewan amphibi secara tidak langsung (metoda pasif)
yaitu dengan pitfall trap. Pitfall trap merupakan metoda pencarian pasif dengan
menggabungkan antara perangkap jatuh dengan pagar pengarah. Perangkap jatuh yang dibuat
yaitu dengan menanam ember di tanah sedalam 30 cm. Mulut ember yang ditanam harus
sejajar dengan permukaan tanah.Pada bagian dalam ember diberi pelumas berupa sabun colek
ataupun oli agar hewan yang terperangkap di dalam ember tidak dapat keluar.Sedangkan pada
bagian bawah ember dilubangi agar tidak ada air yang tergenang di dalam ember. Pagar
pengarah juga dipasang pada metoda pitfall trap sebagai pengarah hewan target agar terjebak

di dalam ember. Sebagai pagar pengarah dapat digunakan terpal plastik yang dipasang
dengan kedalaman kurang lebih10 cm, serta timbal balik pada kedua sisinya. Metoda pitfall
trapini memungkinkan hewan-hewan yang bergerak di permukaan tanah ataupun serasah
dapat terjebak di dalam perangkap yang telah dibuat. Pengecekan dapat dilakukan 1 jam
sekali sampai 3 jam sekali. Penggunaan pitfall trap ini jarang digunakan oleh peneliti karena
kurang efisien dan hewan yang dapat ditangkap dengan metoda ini sangat sedikit (Bennett,
1999).

Gambar 2. Metoda Pitfall Trap (a) terpal, (b) lubang jebakan yang diolesi dengan sabun colek
3. KELAS REPTIL
Pada umumnya hewan reptil merupakan hewan yang berbahaya dan beracun.Tetapi tidak
sedikit juga hewan reptil yang tidak berbahaya. Hewan reptil hanya akan menyerang dan
bersifat agresif apabila merasa terganggu ataupun terancam. Anggapan bahwa hewan reptil
tersebut berbahaya membuat sebagian besar orang takut terhadap hewan ini. Tetapi hewan
tersebut tidak akan menyerang apabila tidak merasa terancam. Untuk menangkap hewan
reptil biasanya diharuskan untuk menghentikan pergerakan dari hewan tersebut agar tidak
dapat melawan dan melarikan diri. Langkah yang dilakukan untuk menghentikan pergerakan
(immobilisasi) dari hewan reptil biasanya dilakukan dengan memegang langsung
menggunakan tangan maupun alat bantu pada bagian kepala atau bagian leher. Setelah bagian
kepala dipegang, bagian tubuh lainnya dipegang juaga lalu dimasukkan ke dalam kantong
ataupun kotak (Pope, 1956).
Metoda yang digunakan untuk mengkoleksi hewan pada kelas reptil tidak jauh
berbeda dengan metoda pengkoleksian hewan amphibi.Metoda aktif yang digunakan untuk
mengkoleksi hewan reptil yaitu metoda night visual encounter yang dilakukan pada malam
hari. Dalam pengkoleksiannya juga menggunakan alat bantu berupa snake hook dan snake

tang untuk memudahkan dalam menangkap hewan target serta mengurangi resiko serangan
hewan target (Bennett, 1999).
Untuk menangkap hewan reptil seperti ular dapat digunakan jebakan seperti
paralon.Paralon yang digunakan dipasang sedemikian rupa di atas permukaan tanah
menyerupai lubang tempat tinggal ular. Pada bagian ujung paralon ditutup agar ular tidak
lolos dan ular yang telah terjebak di dalam paralon tidak akan bisa berbalik ataupun mundur.
Jebakan yang telah dipasang dapat dicek 1 jam ataupun 3 jam sekali. Apabila hewan telah
terjebak di dalam paralon tersebut, maka hewan yang terjebak dimasukkan ke dalam kotak
koleksi dengan membuka tutup ujung pada paralon tersebut (Weber, 1915).
Perangkap lainnya yang dapat digunakan untuk menangkap hewan reptile di alam
yaitu dengan perangkap lem. Perangkap lem terdiri dari tongkat panjang untuk menjangkau
hewan target dan pada bagian ujung tongkat diberi lem tikus agar hewan target terjebak
sehingga tidak dapat meloloskan diri. Hewan reptil yang biasa ditangkap dengan metoda ini
yaitu hewan reptil dengan ukuran tubuh yang kecil sampai sedang.Sedangkan untuk
melepaskan hewan yang terjebak di perangkap tersebut dapat dilepaskan dengan
menggunakan minyak (Bennett, 1999).
4. KELAS AVES
Aves merupakan salah satu kelas hewan vertebrata yang umumnya dapat terbang dan pada
permukaan tubuhnya dilindungi oleh bulu. Karena kemampuannya yang dapat terbang
tersebut maka sering digunakan metoda mist net (jala kabut) untuk mengkoleksi hewan ini di
alam. Mist net berupa jala yang terbuat dari benang atau serat nilon yang berwarna gelap.
Penggunaan metoda mist net merupakan metoda pasif karena sifatnya yang mengharuskan
praktikan menunggu dan menggunakan alat bantu dalam penangkapan hewan target. Jala
pada mist net mempunyai mata jala berukuran 36 mm atau lebih tergantung pada ukuran
hewan target yang akan ditangkap. Sedangkan panjang jala pada mist net mencapai 6, 9, 12
hingga 18 meter. Tinggi jala berkisar 2,5 meter dan pemasangannya biasanya 1 meter dari
permukaan tanah untuk menghindari hewan-hewan yang bergerak di permukaan tanah agar
tidak terperangkap di mist net yang telah dipasang (Soehartono & Mardiastuti, 2003).
Mist net terdiri dari jala yang terbagi menjadi beberapa ruang yang berfungsi untuk
menahan burung yang terperangkap di jala kabut ini sehingga tidak mudah meloloskan diri
dan tertampung pada kantong tersebut. Umumnya jala yang terdapat pada mist net memiliki 4
ruang atau kantong. Mist net dipasang dengan menggunakan 2 buah tiang bambu secara
bersambungan. Mist net direntangkan pada jalur yang diperkirakan sebagai tempat yang

sering dilewati oleh burung. Mist net juga dapat dipasang di area sungai dengan ketentuan
direntangkan di atas permukaan air dengan arah memotong jalur sungai atau di tepi sungai
dengan arah menghadap ke badan sungai. Pada lokasi pepohonan yang diperkirakan sebagai
tempat burung mencari makan, maka mist netdipasang sejajar dengan kanopi pohon.Mist net
dipasang sedemikian rupa sehingga mengelilingi pohon tersebut. Selain itu, mist netjuga
dapat dipasang pada mulut gua dengan pemasangan sejajar atau lebih tinggi dari mulut gua
(Milne, 1962).
Pemasangan mist netbiasanya dilakukan pada pukul 06.00 sampai 18.00 dengan
pengecekan yang dilakukan setiap 1 jam sekali. Burung yang terperangkap dilepaskan dengan
melepaskan bagian kaki terlebih dahulu kemudian bagian sayap, kepala, dan ekor.Burung
yang telah didapatkan dapat dilakukan pengukuran atau pengambilan data parameter dan
morfologinya.Dalam pengamatan juga sangat diperlukan buku panduan lapangan untuk
mempermudah mengenali spesies atau mengidentifikasinya (Milne, 1962).

Gambar 3.Mist net (a) jala, (b) tiang bambu

Metoda lainnya yang digunakan untuk mengamati aves yaitu mackinnon


method.Mackinnon method merupakan alat yang digunakan untuk mengamati hewan target
seperti jenis-jenis burung yang sulit ditangkap dengan mist net dan biasanya pengamat dapat
mengamati hewan target walaupun jarak antara pengamat dan hewan target jauh. Alat ini
dilengkapi dengan pengatur lensa sehingga dapat mengatur perbesaran bayangan.Dalam
melakukan pengamatan hendaknya pengamat membawa buku catatan, alat tulis, buku
panduan lapangan untuk jenis-jenis burung serta pakaian yang tidak mencolok
(Mackinnon,Phillips, dan Van Bellen, 1998).

a
b

Gambar 4.Mackinnon Method (a) pengatur perbesaran, (b) lensa, (c) penyangga
Pengamatan berbagai hewan kelas aves juga dapat dilakukan dengan metoda
digiscoping.Digiscoping merupakan metoda pengamatan yang fungsinya hampir sama
dengan mackinnon method, tetapi alat digiscoping lebih kecil dan penggunaannya lebih
efisien. Alat ini dapat dipadukan dengan kamera untuk mendapatkan hasil foto dari objek
yang diamati.Dengan perkembangan zaman, alat ini memiliki kemampuan yang lebih
canggih dalam mengambil, resolusi bagus, serta penggunaannya praktis (Mackinno et all,
1998).
a
b

Gambar 5.Digiscoping (a) pengatur perbesaran, (b) lensa, (c) tali


5. KELAS MAMALIA
Mamalia pada umumnya mempunyai pergerakan yang sangat bebas dan sangat sulit apabila
ditangkap menggunakan metoda aktif, sehingga dalam pengamatan ataupun pengkoleksian
hewan kelas ini perlu dilakukan dengan metoda pasif.Dalam pengkoleksian hewan ini
dilapangan biasa digunakan perangkap yang telah diberi umpan.Umpan yang umumnya
dipakai yaitu bungkil kelapa, selai roti, pisang, dan sebagainya.Pemasangan perangkap harus
dilakukan secara hati-hati dan memakai sarung tangan agar aroma tangan kita tidak tertinggal
pada perangkap yang dipasang. Perangkap biasanya dipasang pada lokasi yang diperkirakan
hewan target sering melewati lokasi tersebut, serta pemasangan perangkap harus ditali sekuat
mungkin pada pohon agar posisi perangkap tidak berubah saat hewan yang tertangkap

meronta dan memungkinkan hewan tersebut tidak dapat melarikan diri (Corbert & Hill,
1992).
Metoda harpa trap juga dapat digunakan untuk menangkap hewan mamalia
khususnya kelelawar yang hidup di dalam gua. Harpa tarp terdiri dari barisan benang nilon
yang terpasang tegak lurus pada batang besi yang dapat diatur tingginya.Sedangkan pada
bagian bawah terdapat kantong untuk menampung kelelawar yang jatuh akibat menabrak
benang tersebut.Kantong ini juga dilapisi dengan plastik agar kelelawar tidak memiliki
landasan pacu untuk terbang melarikan diri.Pemasangan alat ini dapat dilakukan pada pukul
18.00 sampai 24.00 karena kelelawar beraktivitas pada malam hari sehingga kemungkinan
pemasangan alat pada malam hari lebih mendapatkan banyak hewan tangkapan.Pengecekan
dapat dilakukan setiap 1-3 jam sekali (Suyanto, 2001).

a
b

Gambar 6.Harpa Trap (a) senar, (b) tiang, (c) kantong penampung (bunks)
Auditory census merupakan metoda sensus dengan menggunakan suara.Dalam
menggunakan alat ini, pengamat harus mempunyai kemampuan pendengaran yang baik dan
mengenali suara hewan dengan baik.Metoda ini sering digunakan untuk mensensus jenisjenis hewan yang mempunyai suara nyaring dan suaranya dapat didengar dari jarak yang jauh
seperti pada beberapa jenis primata yang memiliki kebiasaan melakukan morning
call.Pengamat memperkirakan jarak sehingga dapat mendengarkan suara hewan objek secara
jelas.Pengamatan biasanya dilakukan pada pukul 05.00 sampai 09.00.Apabila terdengar suara
hewan objek, maka digambarkan arah datangnya sumber suara dan diperkirakan jarak sumber
suara dengan tempat pengamat.Suara yang berasal dari jarak yang terpisah sejauh 50 meter
atau lebih dapat dianggap sebagai individu atau kelompok yang berbeda.Metoda ini
dilakukan untuk memperkirakan populasi suatu hewan yang ada di daerah tersebut. Dalam
menggunakan auditory census juga harus dilengkapi dengan alat bantu lain seperti GPS
(Global Positioning System), kompas, dan work sheet. Untuk meningkatkan konsentrasi

dalam mendengarkan suara hewan objek juga dianjurkan untuk mengurangi suara saat
bekerja (Corbert & Hill, 1992).

Gambar 7.Auditory Census (a) monitor, (b) tombol menu


Metoda yang digunakan untuk mengkoleksi hewan mamalia darat yang umumnya
berukuran kecil hingga sedang yaitu dengan menggunakan Snap Trap, Multiple Small Mamal
Trap, Medium Trap, dan Small Trap.Biasanya pemasangan jebakan dilakukan dengan
memperkirakan lokasi atau jalur yang sering dilalui oleh hewan target.Pemasangan jebakan
juga perlu ditali pada batang pohon agar jebakan tidak mudah goyah apabila hewan yang
terperangkap mencoba untuk melarikan diri.Pada tempat tertentu diberi umpan agar hewan
objek tertarik untuk masuk ke dalam jebakan yang telah di buat (Payne, Fransis, Phillps, and
Kartikasari, 2000).
Snap trap merupakan perangkap yang hanya bisa untuk menjebak 1 ekor hewan saja.
Biasanya hewan yang terjebak oleh perangkap ini adalah mencit dan sejenisnya.Multiple
small mamal trap merupakan perangkap mamalia yang memiliki ukuran tubuh kecil, tetapi
ruangan yang tersedia cukup luas sehingga memungkinkan mendapat hewan objek cukup
banyak.Medium trap merupakan perangkap mamalia yang berukuran sedang sehingga hewan
objek yang ditangkap kemungkinan seperti landak, tapir, rusa, dan sebagainya. Sedangkan
small trap digunakan untuk menangkap hewan mamalia yang berukuran kecil (Payne et all,
2000).

a
b

c
d

Gambar 8.Small-Medium Trap (a) Snap Trap, (b) Multiple Small Mamal Trap, (c) Medium
Trap, (d) Small Trap
Metoda lainnya untuk pengamatan atau menginventarisasi jenis-jenis hewan pada
suatu lokasi yaitu dengan menggunakan camera trap.Camera trap dilengkapi dengan sensor
gerak dan diatur rentang waktu pengambilan gambarnya. Alat ini juga dapat ditinggal di
hutan dalam waktu yang lama.Tetapi camera ini juga harus diperiksa minimal 1 minggu
sekali untuk mengganti batterai dan mengganti memori penyimpanan foto yang telah diambil.
Pada gambar di atas terdapat dua tipe camera trap, yaitu model lama dan model baru. Dalam
mekanisme kerjanya kedua tipe kamera tersebut sama, tetapi dari bentuk dan cara
pengaturannya camera trap tipe baru lebih efisien dan simple. Camera trap model baru diatur
dengan menggunakan remote, sedangkan pada model lama terdapat tombol menu dan layar
monitor kecil untuk pengaturannya.Sedangkan untuk menjaga keamanan alat ini perlu diberi
terpat agar terhindar dari hujan, gangguan hewan, dan gangguan manusia (Rabinowitz, 1993).

a
b

Gambar 9.Camera Trapmodel baru (a) lampu, (b) sensor gerak

b
c
d

Gambar 10.Camera Trapmodel lama (a) lampu, (b) layar monitor, (c) sensor gerak, (d)
tombol menu
6. METODE JEJAK
Jejak adalah cetakan telapak kaki kuku atau cakar atau gabungan dari keduanya, diatas suatu
substrat sesuai dengan kebiasaan gerak hewan tersebut. Dalam kejadian tertentu, jejak
diperluaskan menjadi segala hal yang ditinggalkannya. Hewan mammalian merupakan hewan
yang sulit diamati secara langsung keberadaannya, sebagian ada yang aktif di malam hari,
sebagian bersifat malu dan menghindari pertemuan dengan manusia (Suyanto, 2001).
Pada metode jejak disediakan 3 bidang tanah, yaitu tanah berpasir, tanah digemburkan,
dan tanah yang diberi humus. Diantara 3 tanah tersebut dapat dibedakan tanah mana yang
tahan terhadap jejak dan juga dapat ditentukan umur,besar, dan ukuran dari makhluk hidup
dari jejak yang ditinggalkanya.

DAFTAR PUSTAKA

Bennett, D. 1999. Expedition Field Techniques Reptile and Amphibian.Expedition Advisory


Center-Royal Geographical Society. London.
Corbert, G.B and J.E Hill. 1992. The Mamals of Indomalayan Region: A Systematic Review.
Oxford University Press. Oxford.
Iskandar, D.T. 1998. Amfibi Jawa dan Bali. Seri Panduan Lapangan. Puslitbang Biologi-LIPI.
Kottelat, M,.A.J. Whitten, S.N. Kartikasari and S. Wirjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of
Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd. Indonesia.
Mackinnon, J.K. Phillips dan B. Van Bellen.1998.Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali,
dan Kalimantan.LIPI-Seri Panduan Lapangan. Puslitbang Biologi-LIPI. Bogor.
Indonesia.
Milne, L.J. and M. Milne. 1962. Animal Life. Prentice-Hall Inc. New Jersey.
Payne, J., C.M Fransis, K. Phillps, and S.N. Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mamalia
di Kalimantan, Sabah, Sarawak, dan Brunei Darussalam. Kerjasama The SabahSociety-Wildlife Concervation Society-WWF Malaysia. Jakarta.
Pope, CH. 1956. The Reptile World.Routledge & Kegan Paul Ltd. London.
Rabinowitz, A. 1993.Wildlife Field Research and Conservation Training Manual.NYZS
Wildlife Concervation Society.
Saanin, H. 1960. Taksonomi dan Kuntji Identifikasi Ikan.Binatjipta. Jakarta.
Soehartono dan A. Mardiastuti. 2003. Pelaksanaan Konsvensi CITES di Indonesia. Japan
International Cooperation Agency. Jakarta.
Suyanto, A. 2001. Seri Panduan Lapangan Kelelawar di Indonesia. Puslitbang-LIPI. Bogor.
Weber, M. 1915. The Reptilia of The Indo-Australian Archipelago. Amterdam.

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEMATIKA HEWAN
METODE LAPANGAN DAN METODE JEJAK

OLEH

: FITRI ANITA

NO. BP

: 1410422032

KELOMPOK

: 3B

ASISTEN

: 1. LUTHFY FATEH MUBARAK


2. ROZA PUSPITA

LABORATORIUM PENDIDIKAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2015

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN VERTEBRATA

Nama

: Fitri Anita

Nomor Bp

: 1410422032

Kelompok

: III (TIGA)

Judul Praktikum

: Metode-Metode Lapangan

Asisten pendamping

: Roza Puspita
Luthfy Fateh Mubarak

Konsultasi I

(.../.../2015)

(..................)

Konsultasi II

(.../.../2015)

(..................)

Konsultasi III

(.../.../2015)

(..................)