Anda di halaman 1dari 18

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

TUGAS
Mei 2016

KEDOKTERAN KELUARGA
Rheumatoid Arthritis

OLEH :
Fardimayanti Abidin
10542 0079 09

Pembimbing :
dr.Gusti Gunawan DPDK

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti
sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang
sendi. Sedangkan rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana
persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi
pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam
sendi (Gordon, 2002).
Engram (1998) mengatakan bahwa, rheumatoid arthritis adalah penyakit
jaringan penyambung sistemik dan kronis dikarakteristikkan oleh inflamasi dari
membran sinovial dari sendi diartroidial.
RA merupakan salah satu kelainan multisistem yang etiologinya belum
diketahui secara pasti dan dikarateristikkan dengan destruksi sinovitis (Helmick,
2008). Penyakit ini merupakan peradangan sistemik yang paling umum ditandai
dengan keterlibatan sendi yang simetris (Dipiro, 2008). Penyakit RA ini merupakan
kelainan autoimun yang menyebabkan inflamasi sendi yang berlangsung kronik dan
mengenai lebih dari lima sendi (poliartritis) (Pradana, 2012).

BAB II
LAPORAN KASUS

ANAMNESIS
Seorang pasien perempuan umur 50 tahun datang kepuskesmas dengan keluhan nyeri
semua sendi yang sudah dialamai sejak kurang lebih 5 bulan yang lalu. Awalnya keluhan
hanya dirasakan pada sendi tangan saja, tetapi lama-kelamaan keluhan yang sama juga
dirasakan pada semua sendi. Keluhan makin memberat saat pasien selesai mencuci.

Home Visit
PEMERIKSAAN FISIS

Keadaan Umum
Tekanan darah
Frekuensi nadi
Frekuensi Nafas
Suhu
Berat Badan
Tinggi Badan

: Compos mentis
: 120/70 mmHg
: 82x/menit
: 21x/menit
: 36,5 0C
: 68 Kg
: 160 cm

ANAMNESIS YANG MENGARAH KE DIAGNOSIS

Gejala klinis :

Kaku sendi
Pembengkakan pada sendi
Kadang demam
Kesemutan pada jari-jari tangan

Pemeriksaan fisis
Perubahan bentuk pada sendi-sendi tangan
Teraba hangat

PEMERIKSAAN ORGAN

PEMERIKSAAN KELENJAR LIMFE

PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DIPERLUKAN


1) Pemeriksaan cairan synovial
2) Pemeriksaan kadar sero-imunologi
3) Pemeriksaan darah tepi
ALASAN PEMERIKSAAN
1. Dilakukan jika ada terjadi peradangan pada sendi
2. Dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis yang lain

DIAGNOSIS KERJA

Rheumatoid Arthritis

DIAGNOSIS BANDING

Osteoarrttritis
Arttritis Gout

STATUS KESHATAN KELUARGA


Nama
Ny. M

Umur/JK
67 tahun/Pr

Hub. keluarga
Ibu

Tanda Vital
TD : 120/80

Riwayat Penyakit
- Thypoid

mmHg
N : 78x/menit
P : 22x/menit
S : 36,50c

RIWAYAT PENGOBATAN TERDAHULU

Paracetamol 3x1
Asam Mefenamat 3x1

PENATALAKSANAAN

Non Farmakologi
o Memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi
o Memperbaiki gizi
o Latihan Fisik
Farmakologi
o Ibuprofen 3 x 1
o Vitamin B12 1 x 1

Kegiatan Yang dilakukan pada Kunjungan RumaH


PERJALANAN PENYAKIT SAAT INI
Kunjungan
I

Ananmnesis
Kaku pada semua sendi

Pemfis
Perubahan bentuk pada

terutama sendi tangan

sendi jari-jari tangan


Teraba hangat.

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Pada riwayat penyakit keluarga pasien, ada yang mengalami keluhan yang sama dan ada
juga yang mengalami hypertensi, selain itu pemeriksaan tidak dilakukan sebelumnya
oleh anggota keluarga lain sehingga tidak diketahui penyebab sakit dan kematian. Cara
keluarga pasien menghadapi penyakit ini adalah memantau keadaan pasien, mengatur
pola makan, mengawasi konsumsi obat, mengurangi stress emosional, dan mengantar
pasien untuk kontrol di puskesmas.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien telah menderita rheumatoid arttritis 5 bulan yang lalu dan sering berulang dan
pasien juga pernah mengalami thypoid.
STRUKTUR KELUARGA

DIAGNOSTIK HOLISTIK
1

Aspek Personal (Alasan berobat, Harapan, dan Kekhawatiran)

.
Alasan Berobat : Pasien datang karena merasakan kekakuan dank ram pada semua
sendi yang makin hari makin memberat.
Harapan : Pasien mengharapkan untuk segera sembuh dan tidak merasakan lagi
keluhan.

2
.
3

Kekhawatiran : Keluhan makin memberat.


Aspek Resiko Internal (Faktor internal yang mempengaruhi masalah
kesehatan pasien)
- Gaya hidup pasien
- Stress psikologik
Aspek Psikologi Keluarga

.
Peran keluarga pasien untuk senantiasa mengingatkan untuk rutin mengkonsumsi
obat dan melakukan latihan fisik. Apabila keluhan bertambah maka segera keluarga
untuk membawa pasien untuk berobat lagi.

DIAGNOSIS SOSIAL,EKONOMI,PENCARIAN
PERILAKU
1
.
2
.
3
.
4
.

PELAYANAN

Sosial

KESEHATAN DAN

Pendidikan terakhir SMA, Pendidikan Informal (-), Riw.


Organisasi (-), Riw. Pekerjaan : IRT
Ekonomi
Sumber keuangan pasien didapatkan dari hasil pekerjaan
suaminya sebagai supir pribadi. Uang digunakan hanya
untuk kebutuhan primer dan sekunder. Kebutuhan tersier
tidak dipikirkan pasien.
Penggunaan
Pasien datang kepuskesmas jika terdapat keluhan pada
Pelayanan Kesehatan penyakitnya dan apabila obatnya habis atau hanya untuk
memeriksakan kesehatannya (kuratif saja).
Perilaku yang Tidak Merokok (-)
Menunjang
Alkohol (-)
Kesehatan
Narkoba (-)

LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL


o Kepemilikan rumah
: Rumah Sewa
o Daerah perumahan
: Padat
o Luas Rumah
:5mx7m
o Rumah
:Tidak Bertingkat
o Jumlah penghuni
: 7 orang
o Luas halaman
:1m
o Lantai rumah
: Semen
o Dinding rumah
: Kayu
o Kondisi Rumah
: Kecil

PENCEGAHAN YANG DISAMPAIKAN PADA KELUARGA


Pencegahan Primer
- Memberikan penjelasan

tentang

pentingnya

istirahat yang cukup untuk mengurangi gejala


-

penyakit.
Memberikan penjelasan untuk rutin melakukan
latihan gerak untuk tetap menjaga kekuatan otot

Pencegaham Sekunder

dan pergerakan sendi.


Memberikan penjelasan

mengkonsumsi obat secara teratur.


Dan apabila ada salah satu anggota keluarga

tentang

pentingnya

yang juga mengalami keluhan yang sama maka


Pencegahan Tersier

segera diperiksakan kepuskesmas.


Mencegah terjadinya komplikasi

KESIMPULAN
A
.

Penyelesaian masalah yang dihadapi pasien :


-

Pesien rutin mengkonsumsi obat dan rutin memeriksakan kesehatannya

dipuskesmas
- Rutin melakukan aktifitas yang membantu mengurangi gejala penyakit
- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
B. Penjelasan yang anda sampaikan pada pasien dan keluarganya tentang penyakit
yang diderita :
Pasien menderita penyakit RA dimana penyakit itu adalah penyakit kronis

yang menyerang lebih dari 5 sendi yang berawal dari sendi-sendi yang kecil
kemudian menyebar kesendi yang besar. Penyakit ini bisa berulang dan akan
lebih memberat jika tidak diberikan pengobatan secara rutin. Untuk
mengurangi gejala penyakit ini maka disarankan untuk melakukan istirahat
dan kegiatan fisik untuk mengurangi gejala serta rutin mengkonsumsi obat.
C. Penjelasan yang anda sampaikan tentang peranan pasien dan keluarganya dalam
proses penyembuhan penyakit yang diderita :
Diberikan penjelasan tentang pentingnya mengkonsusmsi obat secara teratur
untuk menghindari bertambah parahnya keluhan tentang penyakit yang
D
.

diderita.
Penyuluhan yang anda lakukan pada pasien dan keluarganya :

Rutin melakukan kontrol dipuskesmas


Istirahat yang cukup
Mengkonsumsi obat secara teratur
Melatih sendi-sendi yang sakit
Apabila terjadi bengkak, dapat dilakukan kompres dan segera memeriksakan
diri kepuskesmas.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Rheumatoid Arthritis
1. Pengertian Rheumatoid Arthritis
Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti
sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan. Secara harfiah, arthritis berarti radang
sendi. Sedangkan rheumatoid arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana
persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi
pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam
sendi (Gordon, 2002).
Engram (1998) mengatakan bahwa, rheumatoid arthritis adalah penyakit
jaringan penyambung sistemik dan kronis dikarakteristikkan oleh inflamasi dari
membran sinovial dari sendi diartroidial.

RA merupakan salah satu kelainan multisistem yang etiologinya belum


diketahui secara pasti dan dikarateristikkan dengan destruksi sinovitis (Helmick,
2008). Penyakit ini merupakan peradangan sistemik yang paling umum ditandai
dengan keterlibatan sendi yang simetris (Dipiro, 2008). Penyakit RA ini merupakan
kelainan autoimun yang menyebabkan inflamasi sendi yang berlangsung kronik dan
mengenai lebih dari lima sendi (poliartritis) (Pradana, 2012).
2. Klasifikasi
Buffer (2010) mengklasifikasikan rheumatoid arthritis menjadi 4 tipe, yaitu :
1. Rheumatoid arthritis klasik. Pada tipe ini harus terdapat 7 kriteria
tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus,
paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
2. Rheumatoid arthritis defisit. Pada tipe ini harus terdapat 5 kriteria
tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus,
paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
3. Probable rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 3 kriteria
tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus,
paling sedikit dalam waktu 6 minggu.
4. Possible rheumatoid arthritis pada tipe ini harus terdapat 2 kriteria
tanda dan gejala sendi yang harus berlangsung terus menerus,
paling sedikit dalam waktu 3 bulan.
3. Etiologi
Etiologi RA belum diketahui dengan pasti. Namun, kejadiannya
dikorelasikan dengan interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan
lingkungan (Suarjana, 2009).
a. Genetik, berupa hubungan dengan gen HLA-DRB1 dan faktor ini
memiliki angka kepekaan dan ekspresi penyakit sebesar 60% (Suarjana,
2009).
b. Hormon Sex, perubahan profil hormon berupa stimulasi dari Placental
Corticotraonin

Releasing

Hormone

yang

mensekresi

dehidropiandrosteron (DHEA), yang merupakan substrat penting dalam


sintesis estrogen plasenta.

Dan stimulasi esterogen

dan progesteron

pada respon imun humoral (TH2) dan menghambat respon imun selular
(TH1). Pada RA respon TH1 lebih dominan sehingga estrogen dan
progesteron mempunyai efek yang berlawanan terhadap perkembangan
penyakit ini (Suarjana, 2009).
c. Faktor Infeksi, beberapa agen infeksi diduga bisa menginfeksi sel induk
semang (host) dan merubah reaktivitas atau respon sel T sehingga
muncul timbulnya penyakit RA (Suarjana, 2009).
d. Heat Shock Protein (HSP), merupakan protein yang diproduksi sebagai
respon terhadap stres. Protein ini mengandung untaian (sequence) asam
amino homolog. Diduga terjadi fenomena kemiripan molekul dimana
antibodi dan sel T mengenali epitop HSP pada agen infeksi dan sel
Host. Sehingga bisa menyebabkan terjadinya reaksi silang Limfosit
dengan sel Host sehingga mencetuskan reaksi imunologis (Suarjana,
2009).
e. Faktor Lingkungan, salah satu contohnya adalah merokok (Longo,
2012).
4. Patofisiologi
RA merupakan penyakit autoimun sistemik yang menyerang
sendi. Reaksi autoimun terjadi dalam jaringan sinovial. Kerusakan sendi
mulai terjadi dari proliferasi makrofag dan fibroblas sinovial. Limfosit
menginfiltrasi daerah perivaskular dan terjadi proliferasi sel-sel endotel
kemudian terjadi neovaskularisasi. Pembuluh darah pada sendi yang
terlibat

mengalami oklusi oleh bekuan kecil atau sel-sel inflamasi.

Terbentuknya pannus akibat terjadinya pertumbuhan yang iregular pada


jaringan

sinovial

yang mengalami

inflamasi.

Pannus

kemudian

menginvasi dan merusak rawan sendi dan tulang Respon imunologi


melibatkan peran sitokin, interleukin, proteinase dan faktor pertumbuhan.
Respon

ini

mengakibatkan destruksi sendi dan komplikasi sistemik

(Surjana, 2009).
Sel T dan sel B merupakan respon imunologi spesifik. Sel T
merupakan bagian dari sistem immunologi spesifik selular berupa Th1, Th2,

Th17, Treg, Tdth, CTL/Tc, NKT. Sitokin dan sel B merupakan respon imunologi
spesifik humoral, sel B berupa IgG, IgA, IgM, IgE, IgD (Baratwidjaja, 2012).
Peran sel T pada RA diawali oleh interaksi antara reseptor sel T
dengan share epitop dari major histocompability complex class II (MHCII-SE) dan
peptida pada antigen-presenting cell (APC) pada sinovium atau sistemik. Dan
peran sel B dalam imunopatologis RA belum diketahi secara pasti (Suarjana,
2009).
Ditinjau dari stadium penyakitnya, ada tiga stadium pada RA yaitu
(Nasution, 2011) :
a. Stadium Sinovitis
Artritis yang terjadi pada RA disebabkan oleh sinovitis, yaitu inflamasi
pada membran sinovial yang membungkus sendi. Sendi yang terlibat
umumnya simetris, meski pada awal bisa jadi tidak simetris. Sinovitis
ini menyebabkan erosi permukaan sendi sehingga terjadi deformitas
dan kehilangan fungsi (Nasution, 2011). Sendi pergelangan tangan
hampir selalu terlibat, termasuk sendi interfalang proksimal dan
metakarpofalangeal (Suarjana, 2009).
b. Stadium Destruksi
Ditandai adanya kontraksi tendon saat terjadi kerusakan pada jaringan
sinovial (Nasution, 2011).
c. Stadium Deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali,
deformitas dan gangguan fungsi yang terjadi secara menetap (Nasution,
2011).
5. Gejala Klinis
RA dapat ditemukan pada semua sendi dan sarung tendo, tetapi
paling sering

di

tangan.

RA juga

dapat

menyerang

sendi

siku,

kaki,

pergelangan kaki dan lutut. Sinovial sendi, sarung tendo, dan bursa menebal
akibat radang yang diikuti oleh erosi tulang dan destruksi tulang disekitar
sendi (Syamsuhidajat, 2010).
Manifestasi klinis RA terbagi menjadi 2 kategori yaitu manifestasi artikular
dan manifestasi ekstraartikular (Suarjana, 2009).

Manfestasi artikular RA terjadi secara simetris berupa inflamasi sendi,


bursa, dan sarung tendo yang dapat menyebabkan nyeri, bengkak, dan
kekakuan sendi, serta hidrops ringan (Sjamsuhidajat, 2010). Tanda kardinal
inflamasi berupa nyeri, bengkak, kemerahan dan teraba hangat mungkin
ditemukan pada awal atau selama kekambuhan, namun kemerahan dan
perabaan hangat mungkin tidak dijumpai pada RA kronik (Surjana, 2009).
Sendi-sendi besar, seperti bahu dan lutut, sering menjadi manifestasi klinis
tetap, meskipun sendi-sendi ini mungkin berupa gejala asimptomatik setelah
bertahun-tahun dari onset terjadinya (Longo, 2012).
Manifestasi ekstraartikular jarang ditemukan pada RA (Syamsyuhidajat,
2010). Secara umum, manifestasi RA mengenai hampir seluruh bagian tubuh.
Manifestasi ekstraartikular pada RA, meliputi (Longo, 2012) :
a. Konstitusional, terjadi pada 100% pasien yang terdiagnosa RA. Tanda
dan

gejalanya

berupa

penurunan

berat

badan,

demam

>38,3 oC,

kelelahan (fatigue), malaise, depresi dan pada banyak kasus terjadi


kaheksia, yang secara umum merefleksi derajat inflamasi dan kadang
mendahului terjadinya gelaja awal pada kerusakan sendi (Longo, 2012).
b. Nodul, terjadi pada 30-40% penderita dan biasanya merupakan level
tertinggi aktivitas penyakit ini. Saat dipalpasi nodul biasanya tegas,
tidak lembut, dan dekat periosteum, tendo atau bursa. Nodul ini juga
bisa terdapat di paru-paru, pleura, pericardium, dan peritonuem. Nodul
bisanya benign (jinak), dan diasosiasikan dengan infeksi, ulserasi dan
gangren (Longo, 2012).
c. Sjogrens syndrome, hanya 10% pasien yang memiliki secondary
sjogrens

syndrome.

Sjogrens

syndrome

ditandai

dengan

keratoconjutivitis sicca (dry eyes) atau xerostomia (Longo, 2012).


d. Paru (pulmonary) contohnya adalah penyakit pleura kemudian diikuti
dengan penyakit paru interstitial (Longo, 2012).
e. Jantung (cardiac) pada <10% penderita. Manifestasi klinis pada jantung
yang

disebabkan

oleh

RA

adalah

perikarditis,

kardiomiopati,

miokarditis, penyakti arteri koreoner atau disfungsi diastol (Longo,


2012).
f. Vaskulitis, terjadi pada <1% penderita, terjadi pada penderita dengan
penyakit RA yang sudah kronis (Longo, 2012).
g. Hematologi
berupa
anemia
normositik,
trombocytopenia

dan

keadaan

dengan

immmune

trias

berupa

mediated
neutropenia,

splenomegaly,dan nodular RA sering disebut dengan felty syndrome.


Sindrom ini terjadi pada penderita RA tahap akhir (Longo, 2012).
h. Limfoma, resiko terjadinya pada penderita RA sebesar 2-4 kali lebih
besar dibanding populasi umum. Hal ini dikarenakan penyebaran B-cell
lymphoma sercara luas (Longo, 2012).
Keterbatasan fungsi sendi dapat terjadi sekalipun stadium pada penyakit
yang dini sebelum terjadi perubahan tulang dan ketika terdapat reaksi inflamasi
yang akut pada sendi-sendi tersebut. Persendian yang teraba panas, membengkak,
tidak mudah digerakkan dan pasien cendrung menjaga atau melinddungi sendi
tersebut dengan imobilisasi. Imobilisasi dalam waktu yang lama dapat menimbulkan
kontraktur sehingga terjadi deformitas jaringan lunak. Deformitas dapat disebabkan
oleh ketidaksejajajran sendi yang terjadi ketika sebuah tulang tergeser terhadap
lainnya dan menghilangkan rongga sendi (Smeltzer & Bare, 2002).
Adapun tanda dan gejala yang umum ditemukan atau sangat serius terjadi
pada lanjut usia menurut Buffer (2010), yaitu : sendi terasa kaku pada pagi hari,
bermula sakit dan kekakuan pada daerah lutut, bahu, siku, pergelangan tangan dan
kaki, juga pada jari-jari, mulai terlihat bengkak setelah beberapa bulan, bila diraba
akan terasa hangat, terjadi kemerahan dan terasa sakit/nyeri, bila sudah tidak
tertahan dapat menyebabkan demam, dapat terjadi berulang.

6.

Diagnosa
Untuk menegakkan

digunakan, yaitu

kriteria

Rheumatology (ACR)

diagnosa

diagnosis

tahun

1987

RA

ada

beberapa

kriteria

yang

RA

menurut

American

College

of

dan

kriteria

American

College

of

Rheumatology/European League Against Rheumatism


2010 (Pradana, 2012). Pemeriksaan

laboratorium

(ACR/EULAR) tahun

yang

diperlukan

untuk

diagnosa RA antara lain, pemeriksaan serum untuk IgA, IgM, IgG, antibodi
anti-CCP dan RF, analisis cairan sinovial, foto polos sendi, MRI, dan
ultrasound (Longo, 2012).
Beberapa faktor yang turut dalam memeberikan kontribusi pada penegakan
diagnosis rheumatoid arthritis, yaitu nodul rheumatoid, inflamasi sendi yang
ditemukan

pada

saat

palpasi

dan

hasil-hasil

pemeriksaan

laboratorium.

Pemeriksaaan laboratorium menunjukkan peninggian laju endap darah dan faktor


rheumatoid yang positif sekitar 70%; pada awal penyakit faktor ini negatif.
Jumlah sel darah merah dan komplemen C4 menurun. Pemeriksaan Creaktifprotein (CRP) dan antibody antinukleus (ANA) dapat menunjukan hasil yang
positif. Artrosentesis akan memperlihatkan cairan sinovial yang keruh, berwarna
mirip susu atau kuning gelap dan mengandung banyak sel inflamasi, seperti leukosit
dan komplemen (Smeltzer & Bare, 2002).
Pemeriksaan sinar-X dilakukan untuk membantu penegakan diagnosis dan
memantau perjalanan penyakitnya. Foto rongen akan memperlihatkan erosi tulang
yang khas dan penyempitan rongga sendi yang terjadi dalam perjalanan penyakit
tersebut (Smeltzer & Bare, 2002).
7. Penatalaksanaan
Terapi di mulai dengan pendidikan pasien mengenai penyakitnya dan
penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik antara pasien
dan keluarganya dengan dokter atau tim pengobatan yang merawatnya. Tanpa
hubungan yang baik akan sukar untuk dapat memelihara ketaatan pasien untuk tetap
berobat dalam suatu jangka waktu yang lama (Mansjoer, dkk. 2001).
Penanganan medik pemberian salsilat atau NSAID (Non Steriodal AntiInflammatory Drug) dalam dosis terapeutik. Kalau diberikan dalam dosis terapeutik
yang penuh, obat-obat ini akan memberikan efek anti inflamasi maupun analgesik.
Namun pasien perlu diberitahukan untuk menggunakan obat menurut resep dokter
agar kadar obat yang konsisten dalam darah bisa dipertahankan sehingga keefektifan

obat anti-inflamasi tersebut dapat mencapai tingkat yang optimal (Smeltzer & Bare,
2002).
Kecenderungan yang terdapat dalam penatalaksanaan rheumatoid arthritis
menuju pendekatan farmakologi yang lebih agresif pada stadium penyakit yang
lebih dini. Kesempatan bagi pengendalian gejala dan perbaikan penatalaksanaan
penyakit terdapat dalam dua tahun pertama awitan penyakit tersebut (Smeltzer &
Bare, 2002).
Terapi

non-farmakologi

melingkupi

terapi

modalitas

dan

terapi

komplementer. Terapi modalitas berupa diet makanan (salah satunya dengan


suplementasi minyak ikan cod), kompres panas dan dingin serta massase untuk
mengurangi rasa nyeri, olahraga dan istirahat, dan penyinaran menggunakan
sinar inframerah. Terapi komplementer berupa obat-obatan herbal, accupressure,
dan relaxasi progressive (Afriyanti, 2009).
Menjaga supaya rematik tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari,
sebaiknya digunakan air hangat bila mandi pada pagi hari. Dengan air hangat
pergerakan sendi menjadi lebih mudah bergerak. Selain mengobati, kita juga bisa
mencegah datangnya penyakit ini, seperti: tidak melakukan olahraga secara
berlebihan, menjaga berat badan tetap stabil, menjaga asupan makanan selalu
seimbang sesuai dengan kebutuhan tubuh, terutama banyak memakan ikan laut.
Mengkonsumsi suplemen bisa menjadi pilihan, terutama yang mengandung Omega
3. Didalam omega 3 terdapat zat yang sangat efektif untuk memelihara persendian
agar tetap lentur.