Anda di halaman 1dari 4

Catatan Akhir Tahun;

Menunggu Harapan Hajatan Besar Pilkada Serentak Terhadap Lahirnya Masyarakat


Madani (Civil Society) Dari Perspektif State-Society Relation
Oleh:
Sarjiyanto, SE.,MBA
(Dosen FEB UNS & Peneliti pada Pusat Pengkajian Kebijakan Daerah Dan Kelembagaan. PPKDK-LPPM UNS )

A.

Pilkada Langsung Serentak Turunan Reformasi Desentralisasi dan Otonomi


Daerah di Indonesia
Pelaksanaan hajatan besar bangsa Indonesia dalam melakukan reorganisasi pucuk
pimpinan daerah melalui pilkada langsung secara serentak secara umum dapat dikatakan
berhasil dengan sukses. Pilkada langsung secara serentak pada tanggal 9 Desember ini
memilih kurang lebih 852 pasangan calon dari 265 deerah, sebanyak 8 propinsi, 170
kabupaten dan 26 Kota. Walaupun di beberapa daerah masih menyisakan permasalah terkait
gugatan dan ketidak puasan masing-masing pasangan terhadap Perselisihan Hasil Pemilu.
Berdasarkan data Humas Mahkamah Kostitusi (MK), sampai Rabu (23/12) ini, jumlah
pasangan calon yang mengajukan gugatan Perselisihan Hasil Pemilu (PHP) sebayak 145
pasangan calon, sedangkan MK masih mempunyai waktu 45 hari sejak tanggal 4 Januari
2016 untuk memproses dan mengambil putusan. Sesuai dengan PKPU No. 2 Tahun 2015
tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaran Pemilihan Gubernur dan Wakil
Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota, dipastikan tidak
akan menggangu tahapan penetapan dan pelantikan pasangan calon yang menang dipilih
rakyat.
Pelaksanaan Pilkada secara serentak merupakan turunan reformasi desentralisasi dan
otonimi daerah yang berlangsung pasca tumbangnya rezim Orde Baru yang cederung
sentralistik dan otoriter. Walapun dalam perjalananya sempat membuat khawatir, karena
adanya upaya koalisi elit politik di DPR yang ingin mengkebiri reformasi dan melemahkan
keterlibatan masyarakat (society) dalam pengelolaan negara dengan memutuskan Pilkada
tidak langsung. Utungnya pada waktu detik-detik diakhir masa jabantanya, presiden SBY
masih memiliki komitmen dan kesadaran penuh terhadap agenda reformasi dan demokrasi
indonesia dengan menerbitkan Perpu Pilkada langsung. Selanjutnya pada tanggal 2 Februari
2015 oleh pemerintahan presiden Jokowi dengan persetujuan DPR mengesahkan UndangUndang No 1 tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 1 tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi
Undang-Undang, sebagai dasar hukum pelaksanaan pilkada langsung secara serentak di
Indonesia.
Keberhasilan pelaksaaan Pilkada langsung secara serentak di Indonesia merupakan
salah satu indikator yang menghantarkan Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga
di dunia. Demokratisasi dalam pelibatan masyarakat (society) dalam pengambilan keputusan
dan pengelolaan negara hendaknya benar-benar terjadi dalam alam demokrasi ini. Karena
pada dasarnya domokratisasi dan pilkada secara langsung adalah untuk memberikan peluang
yang besar keterlibatan masyarakat (society) dan mengurangi hegemoni negara (state) dalam
pengambilan keputusan dan kebijakan yang menyangkut negara dan masyarakat bangsa.

B.

Pilkada Langsung Serentak dalam Perspektif State-Society Relation


Desentralisasi dan otonomi daerah dengan pilkada langsung secara serentak dapat
dipahami berdasarkan perspektif State-Society Relation, bahwa sejatinya tujuan yang ingin
dicapai adalah untuk mendekatkan negara (state) kepada masyarakat (society) sedemikian
rupa, diantara keduanya dapat tercipta interaksi yang sinergis dalam pengambilan keputusan
maupun dalam implementasi kebijakan (Ostrom, 1991). Desentralisasi dan otonomi daerah
dengan pilkada langsung secara serentak dari perspektif State-Society Relation secara tegas
mengartikulasi bahwa desentralisasi dan otonomi bukan merupakan tujuan akhir, tetapi
hanya merupakan cara atau sarana untuk menegakkan kedaulatan rakyat (society). Tujuan
besar yang hendak dicapai (goal setting) adalah demokratisasi, kemakmuran, kesejahteraan
rakyat dan semakin menguatnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan negara menuju
masyarakat madani (civil society). Alagappa (1995) menegaskan bahwa interaksi negara
(state) dan masyarakat (society) cenderung tidak memisahkan antara konsep dan
implementasi kebijakan desentralisasi dengan sistem politik dan/atau tipe rezim yang
berkuasa. Secara umum dengan pilkada langsung secara serentak telah menghasilkan
pasangan calon kepala daerah beserta rezimnya sehingga dalam menjalankan peran dan
fungsinya kedepan hubungan antara negara (state) dalam hal ini Pemerintah Daerah dengan
rakyatnya atau masyarakat (society) diharapkan sangat dimanis. Interaksi yang sinergis dan
dinamis harus terjalin pada proses pengambilan kebijakan (policy making) maupun dalam
tahap implementasi kebijakan (policy implementation). Sehingga dengan pola interaksi ini,
berbagai keputusan yang diambil oleh pemerintah secara prinsipil merupakan
pengejawantahan tuntutan masyarakat (society) dan program kebijakan pemerintah itu
sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Martin Smith (1995: 209-2010) kunci dalam
mengakomodir kompleksitas dan perbedaan kepentingan (pluralism and conflic of inters in
cociety) dari kalangan masyarakat, jika negara (state) dalam hal ini Pemerintah Daerah secara
legal dan formal dalam pengambilan keputusan yang menyangkut publik dan society dapat
berperan sebagai mediator.
Perubahan mendasar reformasi desentralisasi dan otonomi daerah adalah pergeseran
pola interaksi antara Pemerintah Daerah (state) kepada masyarakat (society). Salah satu
karakteristik penting dari perubahan pola hubungan tersebut adalah masyarakat (society)
tidak lagi sebagai obyek dan terabaikan keberadaanya baik dalam pengambilan keputusan
maupun dalam pelaksanaan kebijakan. Namun sayangnya kesadaran dan peran masyarakat
masih rendah dalam keterlibatanya dalam kebijakan. Menurut Hidayat (2010) peran
masyarakat dalam hal ini belum dalam arti civil cociety, tetapi lebih banyak diwakili oleh
elite masyarakat (societal actors). Dalam kondisi seperti ini, maka sulit dihindari jika
kemudian proses pengambilan keputusan, baik ditingkat nasional maupun pada tingkat
pemerintahan daerah, lebih banyak diwarnai oleh koalisi dan tawar-menawar kepentingan
(transaksional) antara societal actors dengan para elite penyelenggara negara/pemerintahan
(state actors). Masih segar di ingatan kita kasus papa minta saham, terlepas benar atau
salah, etis tidak etis, kasus tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kita bagaimana peran
elite masyarakat (societal actors) dan elite negara (state actors) mengatur keputusankeputusan vital menyangkut kebijakan publik seolah-olah tidak ada rakyat/ masyarakat
(society) yang ada di negara ini yang perlu didengar dan dilibatkan dalam menentukan masa
depan bangsanya. Pada konteks inilah, desentralisasi dan otonomi daerah, serta Pilkada
Langsung secara serentak harus dimaknai sebuah perubahan besar dalam tata pembaharuan
pemerintahan di indonesia, dengan mendudukan masyarakat bukan sebagai obyek tetapi
menjadi aktor yang atif dalam menyongsong masa depan indonesia yang lebih baik dan
mempercepat lahirnya masyarakat madani (civil society) yang sesungguhnya.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung, yang dimulai dilaksanakan di


Indonesia sejak pertengahan tahun 2005 yang lalu. Melalui berbagai simulasi dan evaluasi
akhirnya disempurnakan pelaksanaanya menjadi secara serentak secara nasional. Pada
tanggal 9 Desember 2015 ini mencacat sejarah penting dalam lompatan kebijakan
desentralisasi dan otonomi daerah dengan pelaksanaan pilkada langsung dan serentak.
Kedepan di Indonesia hanya akan ada dua kali Pemilihan Umum, Pemilihan Kepala Daerah
dan Presiden, dan Pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat baik tingkat pusat dan daerah (DPR
RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/Kota) beserta Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Hajatan besar Pilkada langsung secara serentak sudah berlalu, orang-orang pilihan sudah
terpilih oleh masyarakat, tinggal menunggu penetapan KPU dan Pelantikan secara resmi oleh
Pemerintah dan dinantikan program dan kebijakanya yang dijanjikan pada saat kampanye.
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, khususnya Kepala Daerah akan sangat terkait dengan
apa yang terjadi pada proses Pilkada itu sendiri. Secara teoritis ada peluang bahaya laten yang
terjadi pada proses pasca pilkada, yakni tumbuh dan berkembangnya praktik pemerintahan
informal (informal governance) dimana penyelenggaraan pemerintahan lebih banyak
dikendalikan oleh kekuatan sosial, ekonomi dan politik di luar struktur formal pemerintahan.
William Reno (1995) dan Barbara Harries White (1999) melabelinya instilah ini dengan
terminologi Shadow State dan Informal Economy.
C.

Antara Realita Regulasi dan Harapan dari Tumbuhnya Civil Society pasca
Pilkada Langsung Serentak
Pilkada langsung secara serentak yang merupakan implementasi pelaksanaan
desentralisasi dan otonomi daerah pada dasarnya memiliki tujuan utama mendekatkan peran
negara (state) dengan rakyatnya (society). Dengan semangat botton-up dan bersifat holistik,
pemerintah daerah mulai diberi keleluasaan dan pelibatan masyarakat secara partisipatif aktif
dalam pengambilan keputusan maupun dalam implementasi kebijakan. Masyarakat (society)
harus diberi ruang yang cukup untuk ikut menyuarakan aspirasi dan pemenuhan kepentingan
publiknya dalam penyenggaraan pemerintahan di daerah. Para Kepala Daerah yang terpilih
diharapkan memiliki komitmen yang kuat terhadap partisipatif masyarakat dalam
membangun daerahnya. Disamping itu Kepala Daerah yang terpilih harus membuka ruangruang publik yang bisa menjadi media tumbuh dan berkembangnya peran masyarakat di
daerah. Walaupun secara penuh masyarakat (society) kita belum menyadari perananya dalam
ikut berpartisipasi dalam pemerintahan dan pembanguan. Secara nasional pemerintahan saat
berkomitmen untuk memperkuat peran negara dan meningkatkan peran serta masyarakat. Hal
ini tertuang dalam butir kedua Nawacita; Membuat Pemerintah tidak adsen dengan
membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya.
Melalui Nawacita ini Pemerintah berkomitmen untuk memprioritaskan pada upaya
pemulihan kepercayaan publik pada insitusi-institusi demokrasi, diikuti dengan upaya
mewujudkan tata kelola pemerintahan yang trasparan. Pemerintah juga mewajibkan baik
instansi pusat maupun pemerintah daerah untuk membuat laporan kinerja serta membuka
akses informasi publik seperti yang diatur dalam UU No. 12 Tahun 2008 tetang Keterbukaan
Informasi Publik. Pemerintah juga berkomitmen serta konsisten untuk menjalankan agenda
reformasi birokrasi yang berkelanjutan dengan restrukturisasi kelembagaan, perbaikan
kualitas pelayanan publik, meningkatkan kompetensi aparatur, memperkuat monitoring dan
supervisi atas kinerja pelayanan publik, serta membuka ruang partisipatif publik melalui
citizen charter. Amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, mengamanatkan dan mengemban dua misi utama di dalamnya:
Pertama; terciptanya penyelenggaraan pembangunan di tingkat daerah yang partisipatif.
Kedua; pemerataan pembangunan di seruh daerah dengan mengoptimalkan kemampuan,
prakarsa, kreativitas, inisiasi dan partisipasi masyarakat, serta kemampuan untuk mengurasi

dominasi pemerintah daerah dalam melaksanakan pembangunan dengan prinsip-prinsip tata


pemerintahan yang baik (good governance).
Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN), perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan dengan
pendekatan tiga pendekatan; (1) Politik, karena rencana pembangunan merupakan hasil dari
proses politik (public choice theory of planing) khususnya penjabaran visi dan misi Kepala
daerah terpilih; (2) Teknokratik, perencanaan yang dilakukan di Pemerintahan Daerah
dilakukan oleh lembaga/unit organisasi yang secara fungsional dan profesional melakukan
perencanaan (misal Bappeda, TAPD, dll); (3) Partisipatif, perencanaan pembangunan darah
harus melibatkan peran serta masyarakat secara demokratis dalam proses penyusunan
perencanaan, melalui Musyawarah Prencencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbang); (4)
Atas bawah (top donw) dan dari bawah ke atas (bottom up), Perencanaan yang aliran
prosesnya dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas dalam hirarki pemerintahan.
Perencanaan partisipatif adalah adanya partisipasi aktif masyarakat dalam ikutserta
untuk mengakomodasi kepentingan mereka dalam proses penyusunan rencana pembangunan.
Sedangkan yang dimaksud masyarakat adalah orang-perseorangan, kelompok orang termasuk
masyarakat hukum adat atau badan hukum yang berkepentingan dengan kegiatan dan hasil
pembangunan baik sebagai penanggung biaya, pelaku, penerima manfaat, maupun
penanggung resiko (penjelasan Pasal 2 ayat 4 UU No 25/2004). Agenda pemerintahan pusat
melalui Nawacitanya, juga berkomitmen mendorong partisipasi publik dalam proses
pengambilan kebijakan publik dengan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam
pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik.
Kepala Daerah diharapkan memiliki komitmen yang tinggi dalam pendidikan politik
dan penguatan kapasitas masyarakat sehingga proses demokratisasi melalui Pilkada
Langsung dalam kerangka otonomi daerah ini akan mempercepat lahirnya masyarakat
madani (civil society). Jangan sampai dengan Pilkada Langsung dan serangkaian kebijakan
dalam desentralisasi dan otonomi daerah justru membuat masyarakat menjadi apatis dan
cenderung abey dalam ruang-ruang publik yang menyangkut pemerintahan dan
pembangunan. Semoga dengan semangat tahun baru 2016 dan semangat kepemimpinan baru
hasil Pilkada langsung serentak tahun ini, bisa menjadi tonggak lahirnya Kepala DaerahKepala Daerah yang inovatif dan partisipatif dalam menciptakan peran serta masyarakat
dalam membanguan daerahnya sehingga tercipta hubungan interaksi yang sinergis dan
dinamis menuju masyarakat madani (civil society).