Anda di halaman 1dari 3

2.

4 Penanganan Pasien Hipertensi


Hipertensi dapat didiagnosis dengan cara mengukur tekanan darah pasien.
Pemeriksaan tekanan darah pasien sebelum perawatan di bidang kedokteran gigi merupakan
langkah penting untuk menentukan rencana perawatan. Prosedur kedokteran gigi tidak
berpengaruh terhadap pasien dengan hipertensi terkontrol. Menurut Laporan JNC 7, pasien
didiagnosis hipertensi jika tekanan sistolik sama dengan atau melebihi 140 mmHg, tekanan
diastolik sama dengan atau lebih dari 90 mmHg, serta pasien yang rutin mengkonsumsi obat
antihipertensi (Chidambaram, 2013).
Langkah pertama dalam prosedur perawatan kedokteran gigi meliputi penilaian tandatanda vital (tekanan darah, nadi, pernafasan), maupun pemeriksaan ekstraoral dan intraoral.
Diperlukan peralatan ideal yang memadai untuk mengukur tekanan darah pasien di setiap
tempat praktek dokter gigi. Tekanan darah pasien hipertensi selalu diperiksa pada setiap
kunjungan ke dokter gigi, untuk meminimalisir resiko terjadinya stroke atau infark miokard
selama prosedur kedokteran gigi (Chidambaram, 2013).
2.4.1

Langkah Pencegahan Sebelum Tindakan

2.4.1.1 Kontrol stres dan kecemasan


Dokter gigi sebaiknya melakukan prosedur perawatan dengan kontrol nyeri seminimal
mungkin untuk mengurangi rasa stres dan kecemasan pada pasien hipertensi. Kontrol efektif
dari nyeri saat operasi dan pasca operasi setelah bedah periodontal atau prosedur gigi lainnya
adalah salah satu hal paling penting yang dilakukan dokter gigi untuk menurunkan resiko
peningkatan tekanan darah pada pasien hipertensi. Rasa stres dan kecemasan dapat
meningkatkan tekanan darah pasien. Langkah awal dalam mengurangi stres dan kecemasan
pasien adalah membangun komunikasi yang baik dengan pasien. Selain itu, diharapkan
pasien aktif untuk mengajukan pertanyaan kepada dokter gigi yang merawat. Pasien harus
mengetahui rencana perawatan dan perawatan yang dilakukan dokter selama kunjungan
pertamanya. Ini adalah tugas dari dokter gigi untuk menanggapi pertanyaan pasien dengan
cara jujur dan rendah hati. Jika pasien mengalami ketidaknyamanan selama prosedur
perawatan, dokter gigi harus bisa meyakinkan pasien dengan baik. Jika tidak, hal ini dapat
menyebabkan peningkatan kecemasan dan ketidaknyamanan bagi operator dan pasien. Pasien
dengan tingkat kecemasan tinggi dapat diberikan diazepam dosis kecil (5 mg) atau
benzodiazepin short-acting, seperti oxazepam (30 mg) pamada lam sebelumnya dan 1 jam
sebelum prosedur pencabutan gigi (Chidambaram, 2013).

2.4.1.2 Pencegahan sebelum pemberian anestesi lokal


Pemberian anestesi lokal dengan epinefrin sebelum tindakan pencabutan pada pasien
hipertensi dianggap berisiko karena efek beta1 epinefrin pada jantung, dan efek beta2 pada
pembuluh darah otot skeletal dapat mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan denyut
nadi pasien. Literatur mengatakan bahwa penggunaan anestesi lokal yang mengandung
epinefrin pada gigi pasien hipertensi (dua ampul 1,8 ml lidokain yang mengandung 1:
100.000 epinefrin (0,036 mg)) aman untuk pasien dengan hipertensi stage 1 dengan tekanan
darah 159/99. Sedangkan, pasien hipertensi stage 2 dengan tekanan darah diatas 160/100
mmHg, anestesi lokal yang mengandung epinefrin dapat diberikan dengan tindakan
pencegahan dan perawatan pendahuluan yang tepat (Chidambaram, 2013).
Untuk melakukan prosedur ekstraksi gigi yang aman, dokter gigi harus mematuhi
pedoman berikut. Pemeriksaan tekanan darah harus dipantau sebelum dan setelah pemberian
anestesi lokal. Nitrous oxide bisa juga dipakai dalam mengendalikan kecemasan, namun
hipertensi bisa terjadi jika oksigenasi yang tidak adekuat (hipoksia) terjadi. Jaminan
praoperasi dengan menggunakan anestesi lokal yang efektif (dengan atau tanpa epinefrin)
dapat membantu mengurangi kecemasan terkait dengan kemungkinan peningkatan tekanan
darah. Penggunaan obat sedatif oral pada malam sebelumnya atau selama prosedur juga
efektif dilakukan. Sekitar 40% dari penderita hipertensi memiliki hormon katekolamin tinggi,
yang menyebabkan aktivitas simpatik menjadi abnormal. Akibatnya, penggunaan anestesi
lokal setiap kunjungan dengan vasokonstriktor 0,036-0,054 mg epinefrin (2-3 ampul dari 2%
lidocaine dengan 1: 100.000 epinefrin) pada pasien berisiko ini harus diminimalkan
(Chidambaram, 2013).
2.4.1.3 Perubahan Gaya Hidup
Faktor lain yang bisa menimbulkan hipertensi meliputi gaya hidup dengan pola diet
tinggi garam, obesitas, dan peminum alkohol yang berlebihan. Perubahan gaya hidup yang
lebih sehat dapat mempengaruhi perawatan pasien dengan hipertensi. Perubahan ini meliputi
peningkatan aktivitas fisik, asupan garam dikurangi menjadi <6 g per hari, dan asupan
alkohol dibatasi. Studi menunjukkan bahwa diet rendah garam mengurangi risiko 25%
gangguan kardiovaskular di masa mendatang. Pasien dengan hipertensi dianggap sebagai
kelompok

berisiko

tinggi

terhadap

pemberian

anestesi

lokal

yang

mengandung

vasokonstriktor, karena epinefrin meningkatkan tekanan darah dengan cepat, yang bisa
menyebabkan

serangan

hipertensi

berbahaya.

Banyak

literatur

merekomendasikan

menggunakan obat anestesi lokal dengan batasan 1-3 ampul dari 2% lidocaine dengan 1:
100.000 epinefrin untuk keamanan pasien dengan hipertensi (Chidambaram, 2013).

Daftar pustaka:
Chidambaram, R. Protocols for Hypertensive Patient Management in The Dental Office-Short Communication.
International Journal of Medical History: Malaysia. 2013;Vol3:267-269