Anda di halaman 1dari 14

Pendugaan Erosi dan Sedimentasi

dengan Menggunakan Model GeoWEPP


(Studi Kasus DAS Limboto, Propinsi Gorontalo)

Sri Legowo WD.


Pengajar Jurusan Teknik Sipil, FTSL Institut Teknologi Bandung
Sri.legowo@ftsl.itb.ac.id

Abstrak
DAS Limboto merupakan bagian dari Satuan Wilayah Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
(SWP-DAS) Bone Bolango yang luasnya 91.004 ha dan termasuk salah satu DAS prioritas dari
DAS kritis di SWP-DAS Bone Bolango. Wilayah ini memiliki sumber daya alam berupa hutan,
tanah dan air dan sangat potensial. Apabila dikelola dengan baik akan memberikan manfaat yang
besar dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sedimentasi di dalam Danau Limboto terus berlangsung secara intensif dan selalu
meningkat dari tahun ke tahun, menyebabkan pendangkalan dan menciutnya luas perairan.
Terjadinya erosi dan masuknya sedimen ke danau akan mengakibatkan pengendapan dan
pendangkalan sehingga akan mempengaruhi kapasitas tampung danau. Studi ini dibatasi pada
pendugaan jumlah erosi dan sedimen yang terjadi dengan menggunakan model simulasi
GeoWEPP (Geo-spasial Water Erosion Prediction Project).
GeoWEPP merupakan model fisik simulasi kontinyu yang dapat digunakan untuk
memperkirakan tingkat erosi yang terjadi di DAS Limboto karena GeoWEPP memiliki kelebihan
untuk memprediksi distribusi kehilangan tanah spasial dan temporal untuk sebuah lereng atau titik
tertentu pada suatu lereng secara harian, bulanan atau rata-rata tahunan. Hasil keluaran dapat
diekstrapolasi kedalam kondisi yang lebih luas. Dengan kata lain, model GeoWEPP dapat
memprediksi efek in-site dan off site dari erosi tersebut
Hasil keluaran GeoWEPP menunjukkan DAS Limboto berada pada kondisi kritis yakni
memiliki laju erosi 44,69 ton/ha/thn atau 3.72 mm/thn. Sediment deposisi per hektar pada DAS
Limboto adalah sebesar 2,94 ton/ha/thn atau 0.245 mm/ha. Sediment yield per hektar DAS
Limboto adalah 41,75 ton/ha/thn atau 3.48 mm/thn. Sebaran erosi dan sedimentasi DAS Limboto
ditampilkan melalui peta spasial. Hasil output parameter pendukung lainnya ditampilkan berupa
tabel pada lampiran.
Kata Kunci : erosi, sedimen, DAS Limboto, GeoWEPP

PENDAHULUAN
DAS Limboto merupakan bagian dari
Satuan Wilayah Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai (SWP-DAS) Bone Bolango yang
luasnya 91.004 ha dan termasuk salah satu
DAS Prioritas dari DAS Kritis di SWP-DAS
Bone Bolango. Wilayah ini memiliki sumber
daya alam berupa hutan, tanah dan air dan
sangat potensial, apabila dikelola dengan
baik akan memberikan manfaat yang besar
dan mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Pemanfaat potensi sumber daya alam
antara lain :

Sumber air untuk irigasi Biyonga yang


mampu mengairi areal seluas 899
ha.
Sumber air untuk instalasi air bersih
yang mensuplai wilayah Kecamatan
Limboto, Limboto Barat, Batudaa,
Bongomeme, Tibawa, dan Telaga
Biru.
Danau Limboto, yang terletak di
Kota
Gorontalo,
Ibukota
Propinsi
Gorontalo, merupakan cekungan rendah atau
laguna, yang merupakan muara sungaisungai, diantaranya : Rintenga, Alo Pohu,
Marisa,
Meluopo,
Biyonga,
Bulota,

Talubongo dan sungai-sungai kecil dari sisi


selatan : Olilumayango, Ilopopala, Huntu,
Hutakiki, Langgilo.
Laju pendangkalan danau akibat erosi
dari 11 sungai yang bermuara padanya,
cukup mengesankan. Pada tahun 1932, luas
danau tersebut masih 7.000 ha, dengan
kedalaman mencapai 30 meter. Dalam
tempo 30 tahun, yaitu 1962, luasnya
menyusut
menjadi
4.250
ha
dan
berkedalaman hanya 10 meter. Pada
penelitian tahun 2002 lalu, luasnya menjadi
3.000 ha dan kedalaman rata-ratanya 2
meter. Tanah timbul danau seluas 637 ha
sudah berubah menjadi sawah, 329 ha
menjadi ladang, 1.272 ha berubah menjadi
perkampungan dan 42 ha sisanya untuk
keperluan lainnya.
Pendangkalan itu selain dipicu oleh
erosi sungai, juga dipacu oleh para nelayan
yang selama bertahun-tahun membangun
perangkap
ikan
yang
menggunakan
gundukan tanah dari darat serta batangbatang pohon. Pembusukan flora juga
mengakibatkan air danau mulai berbau
busuk pada saat-saat tertentu, serta
mengurangi oksigen di dalamnya sehingga
membahayakan biota di dalamnya.
Sedimentasi di dalam Danau Limboto
terus berlangsung secara intensif dan selalu
meningkat
dari
tahun
ke
tahun,
menyebabkan pendangkalan dan menciutnya
luas perairan.
Penyebab
sedimentasi
Danau
Limboto ada 2 penyebab, yaitu pertama dari
erosi lahan dari yang masuk ke sungai dan
ditambah longsoran tebing sungai, yang
dibawa debit sungai masuk ke danau, kedua
kondisi outlet Sungai Topadu yang sempit,
sehingga sedimen tidak mampu keluar dari
danau.
Danau Limboto akhir-akhir ini sering
mengalami
banjir
karena
kapasitas
tampungan sudah mengalami penurunan.
Sungai-sungai di DAS Limboto juga
mengalami peningkatan banjir, baik
frekuensi maupun kuantitas debitnya serta
angkutan sedimennya (debit solid).
Direktorat Jenderal Sumber Daya
Air, Departemen Permukiman dan Prasarana
Wilayah telah melaksanakan pekerjaan
mendesak
(urgent
works),
untuk
menanggulangi banjir dan sedimenasi. Akan
tetapi, pekerjaan tersebut masih belum
dilaksanakan.
Perencanaannya
masih
ditinjau ulang (review).
Pola induk pengelolaan air DAS
Limboto telah dirumuskan pada tahun 1999

oleh
Konsultan
CIDA
(Canadian
International Development Agency). Akan
tetapi, permasalahan banjir dan sedimenasi
kurang terungkap, dan bukan tujuan utama.
Pada tahun 2001, Pemerintah
Indonesia telah meminta Pemerintah Jepang
untuk studi pengendalian banjir (flood
control) dan pengelolaan air (water
management) DAS Limboto dan Bolango
Bone (sungai tidak bermuara di Danau
Limboto), yang dilaksanakan oleh JICA
(Japan International Cooperation Agency),
yang bekerja sama dengan Konsultan
Nippon Koei Co,Ltd dan Nikken
Consultant,Inc. Pekerjaan perencanaan
diselesaikan selama 19 bulan dari Juni 2001
sampai Desember 2002.
Perencanaan hasil studi Flood
Control and Water Management in Limboto
Bolango Bone Basin, menghasilkan
bahwa pencegahan sedimen ke Danau
Limboto membuat tangkapan sedimen
(sediment trap) di muara-muara sungai.
Sedangkan untuk mencegah banjir di danau,
menormalisasi outlet Sungai Topadu dan
Muara Bolango Bone. Pekerjaan tersebut
sampai ini belum juga dilaksanakan.
Tahun 2004, Pemerintah Propinsi
Gorontalo telah mengadakan pengadaan
jasa konsultan PT. MAXITECH Utama
Indonesia untuk pekerjaan Perencanaan
Bangunan Erosi dan Sedimentasi DAS
Limboto.

EROSI
Hardjowigeno (1995) menjelaskan
bahwa erosi adalah suatu proses dimana
tanah dihancurkan (detached) dan kemudian
dipindahkan (transported) ke tempat lain
oleh kekuatan air, angin, sungai atau
gravitasi.
Empat faktor utama yang dianggap
terlibat dalam proses erosi adalah iklim, sifat
tanah, topografi dan vegetasi penutup lahan.
Oleh Wischmeier dan Smith (1975) keempat
faktor tersebut dimanfaatkan sebagai dasar
untuk menentukan besarnya erosi tanah
melalui persamaan umum yang kemudian
lebih dikenal dengan sebutan persamaan
universal (Universal Soil Loss Equation.USLE).
Laju erosi yang dinyatakan dalam
mm/thn atau ton/ha/thn yang terbesar yang
masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan
agar terpelihara suatu kedalaman tanah yang
cukup bagi pertumbuhan tanaman yang
memungkinkan tercapainya produktivitas

yang tinggi secara lestari disebut erosi yang


masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan
disebut nilai T.
Hasil penelitian Hardjowigeno (1987,
dalam Arsyad, 2000) dapat ditetapkan
besarnya T maksimum untuk tanah-tanah di
Indonesia adalah 2.5 mm/thn, yaitu untuk
tanah dalam dengan lapisan bawah (subsoil)
yang permeabel dengan substratum yang
tidak terkonsolidasi (telah mengalami
pelapukan).
Tanah-tanah
yang
kedalamannya kurang atau sifat-sifat lapisan
bawah yang lebih kedap air atau terletak di
atas subsstratum yang belum melapuk, nilai
T harus lebih kecil dari 2.5 mm/thn.

angkutan dan deposit sedimen dapat


dihitung pada lereng. Perhitungan itu
termasuk generator iklim, komponen
hidrologi, model pertumbuhan tanaman, dan
iklim tanah penutup lahandan database
tanaman untuk kondisi yang umum yang
terjadi di Amerika. Versi teknologi
sebelumnya dirilis pada tahun 1989. Versi
tersebut sudah diuji secara ekstensif pada
lahan
pertanian
di
Amerika
dan
menghasilkan hasil yang baik. Verisi ini
juga sudah diuji di Eropa, Asia, dan Afrika.
Program ini dirilis ke publik pada tahun
1993.
Karena WEPP dapat menghitung
tidak hanya jumlah tanah yang tererosi,
tetapi juga kapasitas angkutt dari runoff,
WEPP juga dapat memprediksi jumlah dan
lokasi dari sedimen yang akan dideposit
ketika air mengalir perlahan dan lereng
mulai rata (Favis-Mortlock dan Guerra,
2000 dalam Troeh et al., 2004). WEPP juga
sudah dimodifikasi untuk memprediksi
perubahan pola erosi yang akan muncul
sebagai suatu solusi dari pemanasan global.
GeoWEPP merupakan perangkat
lunak berbentuk Geo-spasial untuk model
WEPP yang menggunakan Geographic
Information System (GIS) ArcView dan
ekstension analisis spasialnya ; yang
keduanya dikembangkan oleh Environment
Systems Research Institute (ESRI) ; sebagai
dasar untuk mengaplikasikan model prediksi
erosi (WEPP) dan Windows interface
(WEPPWIN) dengan data geospasial
topografi, penggunaan lahan dan jenis tanah.
Versi
GeoWEPP
yang
telah
ada
memungkinkan untuk mendeliniasi DAS
yang lebih besar dibandingkan ukuran DAS
yang direkomendasikan pada simulasi DAS
WEPP (<500 ha) (Renschler, 2004).
Simonato (2002, dalam Suhartanto,
2005) menyatakan bahwa sesuai fakta dalam
skala bulanan estimasi WEPP dan erosi
terukur mempunyai perbedaan sekitar 100%,
pada skala musiman perbedaan sekitar 040%, dan pada skala tahunan perbedaan
sekitar 13-80%.
Ketersediaan data sampai beberapa
tahun yang akan datang, masih akan tetap
merupakan faktor penghambat penggunaan
WEPP, terutama di luar pulau Jawa. Akan
tetapi dengan makin banyaknya tuntutan
untuk mengevaluasi kualitas lingkungan dan
untuk perencanaan tindakan konservasi,
maka WEPP layak untuk diverifikasi dan
secara bertahap digunakan (Agus et al, 1997
dalam Suhartanto, 2005).

MODEL PENDUGAAN EROSI


Pendugaan erosi dari sebidang tanah
adalah metode untuk memperkirakan laju
erosi yang akan terjadi dari tanah yang
dipergunakan dalam penggunaan lahan dan
pengelolaan tertentu. Jika laju erosi yang
akan terjadi telah dapat diperkirakan dan
laju erosi yang masih dapat dibiarkan atau
ditoleransikan sudah dapat ditetapkan, maka
dapat ditentukan kebijakan penggunaan
lahan dan tindakan konservasi tanah yang
diperlukan agar tidak terjadi kerusakkan
tanah dan tanah dapat dipergunakan secara
produktif dan lestari.
Program WEPP dimaksudkan untuk
mengembangkan generasi baru dalam
teknologi memperkirakan erosi karena air
untuk penggunaan dalam skala besar oleh
pengguna melibatkan konservasi tanah dan
air dan kajian serta perencanaan lingkungan
(Foster and Lane, 1987 dalam Troeh et al,
2004). Agricultural Research Service
(ARS), Natural Resources Conservation
Service (NRCS), Forest Service, USDA, dan
Bureau of Land Management di U.S.
Department of the Interior terlibat dalam
proyek ini.
WEPP merupakan model buatan
Amerika pertama yang dikembangkan untuk
memprediksi erosi pada skala luas yang
tidak didasari oleh teknologi USLE. WEPP
merupakan model physical based, didasari
oleh proses dan simulasi harian yang
dikembangkan
untuk
menggantikan
Universal Soil Loss Equation (USLE) untuk
prediksi erosi (Laflen et al., 1991; Lane dan
Nearing, 1989 dalam Troeh et al., 2004).
WEPP merupakan suatu model yang
menghasilkan perhitungan harian dari
keadaan tanah dan biomassa pada suatu
lahan. Apabila hujan turun, runoff dihitung.
Apabila terjadi runoff, maka sebaran,

Pada dasarnya, partikel tanah dan


aliran air bersih saling berhubungan dalam
hal detasemen tanah pada alur. Baik partikel
tanah dan aliran air bersih memiliki tekanan
potensial. Langkah awal untuk memisahkan
tanah tekanan pada aliran air bersih
seharusnya lebih besar daripada tekanan
potensial tanah. Setelah tanah terpisahkan
untuk
disalurkan,
muatan
sedimen
seharusnya lebih kecil daripada kapasitas
angkut dari aliran air bersih tersebut. Oleh
karena itu, penyebaran tanah bersih pada
alur diperkirakan ketika tekanan geser
hidrolik melebihi tekanan geser kritis tanah
dan ketika muatan sedimen lebih kecil
daripada kapasitas angkut sedimen (NSERL,
1995 didalam Endale, 2003).

KONSEP DASAR WEPP/GEOWEPP


Dalam model WEPP, kehilangan
tanah dihitung sepanjang lereng dan
menghasilkan hasil sedimen pada akhir
lereng. Maksimum lahan yang bisa dihitung
oleh WEPP adalah 259 ha untuk lahan
pertanian dan seluas 809 ha untuk lahan
kosong. Pada GeoWEPP luasan area yang
bisa dihitung seluas 16000 ha, lebih besar
daripada WEPP karena dapat menghitung
untuk beberapa lereng.
Proses
physical
based
erosi
dimodelkan didalam GeoWEPP sebagai
suatu konsep persamaan kontinuitas steady
state sedimen untuk menjelaskan pergerakan
dari sedimen dalam rangka mempertahankan
hukum kekalan energi. (NSERL, 1995).
WEPP membutuhkan input empat
kelompok data untuk dapat dijalankan
seperti berikut ini (USDA, 1995) :
1. Data iklim seperti curah hujan harian,
temperatur, radiasi matahari dan angin.
Suatu
program tersendiri
disebut
CLIGEN
digunakan
untuk
membangkitkan data iklim yang baik
secara kontinyu maupun kejadian
tunggal.
2. Data topografi seperti panjang lereng,
kemiringan lereng, dan arah lereng.
3. Data tanah seperti tekstur, albedo (
bagian dari radiasi matahari yang
dipantulkan kembali ke atmosfer),
kejenuhan awal, erodibilitas tanah,
tegangan geser kritis tanah, konduktivitas
hidraulik, presentase batuan.

G
D f = Dc 1
Tc
dimana :
Dc = kapasitas detasemen dari aliran alur
(kg/s.m2)
G = muatan sedimen (kg)
Tc = kapasitas angkut sedimen pada alur
(kg/s.m)
Tingkat Erosi Antar Alur
Tingkat erosi alur adalah ukuran
sedimen yang dialirkan ke saluran
terkonsentrasi. Nilai ini diasumsikan secara
proposional pada intensitas curah hujan, run
off dan dampak dari kekasaran tanah dengan
parameter erodibilitas (Ki) yang secara
proporsional
konstan,
yang
pada
kenyataannya disesuaikan untuk beberapa
faktor yang bervariasi (NSERL, 1995, di
dalam Endale 2003). Tinkat erosi antar alur
dihitung dengan menggunakan persamaan

Proses
erosi
physical
based
disimulasikan didalam WEPP dengan
konsep persamaan kontinuitas steady-state
untuk menjelaskan pergerakan sedimen pada
alur mengacu kepada hukum konservasi
massa
dan
energi.
Model
WEPP
menggunakan
persamaan-persamaan
tersebut dibawah (NSERL., 1995 di dalam
Endale, 2003).
Total tingkat erosi dihitung dengan
persamaan :

R
Di = K iadj .I e . ir .SDR RR .Fnozzle s
W
dimana :
Kiadj = erodibilitas antar alur yang
disesuaikan (kg.s/m4)
Ie
= intensitas cuah hujan efektif (m/s)
ir
= tingkat run off antar alur (m/s)
SDRRR = sediment delivery ratio (%)
Fnozzle = faktor yang disesuaikan untuk
nozzle irigasi curah yang berdampak pada
variasi energi (%)
Rs
= jarak alur (m)
W
= lebar alur (m)

dG
= D f + Di
dx
dimana :
dG = perubahan muatan sedimen (kg/s.m)
dx = perubahan panjang lereng (m)
Df = tingkat erosi alur (kg/s.m2), positif
untuk detasemen, negatif untuk deposit
Di = angkutan sedimen antar alur ke alur
(kg/s.m2)

LOKASI STUDI
Studi mengenai teknik pendugaan
erosi dan sedimentasi berbasis model

simulasi GeoWEPP dan SIG menggunakan


satuan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Penelitian ini dilaksanakan di DAS Limboto.
Secara astronomis, DAS Limboto terletak
pada 122 42 0.24 123 03 1.17 BT
dan 00 30 2.035 00 47 0.49 LU.
Dataran area dari DAS Limboto
sangat sempit, hanya 20 % dari seluruh
DAS. Ketinggian daratan pada pegunungan

Utara danau berkisar + 700 - + 1000 dan


pegunungan Selatan berkisar + 1000 +
1500 serta pegunungan di bagian Barat
perbukitan berkisar + 100 - + 500. Pada
bagian tengah DAS Limboto, ketinggian
berkisar + 50 - + 100, sedangkan DAS yang
berbatasan dengan Danau Limboto berkisar
+ 20 - + 50.

Gambar 1. Peta Topografi DAS Limboto

data hujan bulanan statistik dan data iklim


khusus
sebagai
contoh
dibutuhkan
pencatatan curah hujan setiap 15 menit pada
suatu stasiun cuaca. Data yang tersedia di
studi area adalah data curah hujan harian dan
temperatur bulanan, penyinaran matahari
bulanan, dan kecepatan serta arah angin
bulanan. Data yang dibutuhkan adalah data
iklim harian. Oleh karena itu digunakan data
daerah yang dekat dengan studi area yakni
Stasiun Watampone, Kabupaten Bone,
Sulawesi Selatan. Daerah ini dipilih karena
memiliki data iklim harian selama 10 tahun
yang cukup lengkap dan memiliki kondisi
geografis yang similar dengan lokasi stusi
area.
Kabupaten Bone sebagai salah satu
daerah yang berada dipesisir Timur Sulawesi
Selatan memiliki posisi strategis dalam
perdagangan barang dan jasa di Kawasan
Timur Indonesia yang berada antara 4o13
5o06 lintang selatan dan 119o42 120o30
bujur timur. Wilayah Kabupaten Bone

PERSIAPAN INPUT DATA


A. Data Iklim
Data iklim yang dibutuhkan oleh
GeoWEPP termasuk nilai harian dari curah
hujan, temperatur, radiasi matahari, dan
kecepatan angin. Data iklim tersebut
dibutuhkan untuk diolah terlebih dahulu
dengan menggunakan model CLIGEN.
CLIGEN merupakan generator iklim
stokastik yang menghasilkan perkiraan
harian time series dari curah hujan,
temperatur, titik embun, angin dan radiasi
matahari untuk satu titik geografis,
berdasarkan pengukuran rata-rata bulanan
untuk suatu periode iklim tertentu, seperti
nilai rata-rata, standar deviasi dan
penyimpangan data. Perkiraan dari tiap
parameter diolah secara independen
terhadap satu dengan lainnya. (NSERL,
2002).
Model GeoWEPP membutuhkan
input data iklim yang dibangun oleh model
CLIGEN. Model CLIGEN membutuhkan

termasuk
daerah
beriklim
sedang
kelembaban udara berkisar antara 95 % - 99
% dengan temperatur berkisar 26 43oC.
Pada periode April-September bertiup angin
timur yang membawa hujan, sebaliknya
pada. bulan Oktober-Maret bertiup angin
barat, dimana pada waktu itu Kabupaten
Bone mengalami musim kemarau.

(tanah yang berada pada ekosistem padang


rumput).
Berdasarkan peta tanah tinjau yang
dibuat oleh Pusat Penelitian Tanah
Agroklimat (1992) yang menggunakan
sistem Taxonomi Tanah Amerika Serikat
(USDA) di wilayah DAS Limboto terdapat
beberapa ordo tanah yaitu :

B. Pengolahan Data Topografi


Untuk mendapatkan peta kontur DAS
Limboto, digunakan data SRTM (Shuttle
Radar Topography Mission) dan software
Global Mapper 6. SRTM merupakan proyek
gabungan
antara
NASA
(National
Aeronautics and Space Administration) dan
NGA (National Geospatial-Intelligence
Agency) yang didistribusikan oleh USGS
(U.S. Geological Survey) untuk memetakan
permukaan bumi dalam tiga dimensipada
suatu level detail yang unik untuk area yang
luas. SRTM telah berhasil mengumpulkan
data 80 % dari seluruh permukaan bumi
terutama daerah yang terletak diantara 60
LU sampai 56 LS dari pesawat ulang alik
NASA Endeavour pada 11-22 Februari
2000.
Pada program Global Mapper 6,
SRTM DAS Limboto berada pada 122 42
0.24 123 03 1.17 BT. Peta kontur
dibuat dalam program Global Mapper
dengan interval 10 m. Data kontur yang
akan diolah disimpan dalam bentuk data
digital. Data digital ini adalah adalah data
vektor dalam format ArcView shape file
ataupun format yang lain yang dapat
dikonversi menjadi ArcView shape file.
Data kontur format vektor diolah terlebih
dahulu menjadi Model Elevasi Digital
(Digital Elevation Model / DEM) dengan
metode TIN (Triangulated Irregular
Network). Berdasarkan DEM kemudian
dibuat data ketinggian dalam 25 format
raster (GRID).

Tabel 1. Klasifikasi Tanah pada DAS


Limboto
Luas
ha
(%)
1
Alfisol
43.849
50.01
2
Molisol
6.027
6.87
3
Vertisol
5.022
5.73
4
Entisol
1.965
2.24
5
Inceptisol
27.400
31.25
*)
Danau
3.415
3.89
Total
84.263
96.11
Sumber : Peta Tanah Tinjau Kabupaten
Gorontalo Tahun 1992 Puslitan Bogor.
*) Luasan tidak termasuk Luas Danau
No.

Ordo

D. Data Penggunaan Lahan


Berdasarkan hasil interpretasi foto
udara dan citra satelit serta hasil pengecekan
lapangan, penggunaan lahan di wilayah
DAS Limboto terbagi menjadi dua belas
kelompok. Secara rincei dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 2. Jenis Penggunaan Lahan DAS
Limboto
Luas
Jenis Penggunaan
Lahan
ha
(%)
1
Danau
3.415
3.75
2
Belukar
8.029
8.82
3
Hutan
14.893
16.37
4
Kebun
676
0.74
5
Kebun Campuran
3.042
3.34
6
Kelapa
12.526
13.76
7
Ladang
10.056
11.05
8
Pemukiman
708
0.78
9
Rawa
143
0.16
10 Sawah
4.791
5.26
11 Sawah/Rawa
608
0.67
12 Tegalan
32.117
35.29
Total
91.004
100.00
Sumber : Peta Citra Landsat Kabupaten
Gorontalo di dalam RTL-RLKT, 2003

No.

C. Data Tanah
Jenis tanah area studi meliputi
Inceptisols, (tanah dengan pengembangan
horizon minimal), Entisols (tanah asli,
diolah dengan material induk yang tidak
terkonsolidasi), Alfisols (tanah hutan yang
mudah menyerap dengan tingkat kesuburan
yang relatif tinggi), Vertisols, Mollisols

Gambar 2. Peta Penggunaan Lahan DAS Limboto


Berdasarkan data tersebut di atas,
terlihat bahwa sebagian besar penggunaan
lahan di wilayah DAS Limboto adalah
tegalan dengan luas 32.117 ha (35.29 %).
Dari luas DAS, urutan kedua adalah hutan
14.893 ha (16.37 %), berikutnya perkebunan
kelapa dengan luas 12.526 ha atau (13.76 %)
dari total luas DAS. Luasan yang paling
kecil adalah rawa mencapai 143 ha (0.16 %)
dari total luas DAS Limboto.

TEKNIK PENDUGAAN EROSI DAN


SEDIMEN BERBASIS MODEL
GEOWEPP
Program GeoWEPP hanya dapat
mensimulasikan erosi dan sedimen untuk
luasan area tertentu saja (< 16000 ha). Oleh
karena itu DAS Limboto dibagi menjadi
beberapa zone berdasarkan outlet anak
sungai yang paling luar dan mencukupi
syarat minimal simulasi dengan program
GeoWEPP. Pembagian zone ini lebih baik
berupa persegi panjang karena dalam
pembuatan
TIN
dari
peta
kontur
membutuhkan bentuk peta trianggular.
Pembagian zone dilakukan pada program
ArcView GIS diikuti dengan pembagian
DEM, peta tanah dan peta penggunaan lahan
masing-masing zone. Pembagian zone yang
dilakukan cukup banyak mengingat agar sub
DAS yag terbentuk nanti memiliki bentuk
dan batas yang tepat.
Program GeoWEPP terbatas hanya
dapat mensimulasikan daerah-daerah yang
berkontur. Simulasi akan menjadi error
apabila diterapkan pada daerah datar. Oleh
karena itu daerah yang berada disekitar
danau tidak dapat dihitung. Program ini
dapat diinstal dari file zip GeoWEPP20043.zip yang terdapat di CD-ROO maupun
didownload
dari
situs
GeoWEPP
http://www.geog.buffalo.edu/~rensch/geowe
pp/ .

E. Data Jenis Saluran


Dalam
program
GeoWEPP,
diperlukan input jenis saluran yang ada serta
lebar saluran secara umum. Untuk
saluran/sungai yang terdapat didalam DAS
Limboto diasumsikan seragam seperti yang
tertera pada Tabel 3.
Tabel 3. Asumsi jenis saluran yang berada di
DAS Limboto
Lebar Saluran
No.
Jenis Saluran
(m)
1
Saluran berbatu
1
2
Saluran berbatu
2
3
Saluran kerikil
2
4
Saluran kerikil
3
5
Saluran alam
3

Gambar 3. Peta Pembagian Batas Zone

Gambar 4. Tampilan Jaringan Sungai yang Terdeliniasi


Pada legenda dari peta hasil running
WEPP secara dinamis diset pada nilai
kehilangan tanah yang dapat ditoleransi atau
nilai target T. Hal ini memungkinkan
pengguna program GeoWEPP memasukkan
nilai batas yang dapat ditoleransi dan
membuat peta tampilan area dengan nilai T
yang dapat ditoleransi (berwarna hijau), nilai
T yang tidak dapat ditoleransi (berwarna
merah) dan area deposit (berwarna kuning).
Dalam hal ini nilai T yang dipakai adalah 10
ton/ha/thn (Suripin, 2002).
Peta off-site menunjukkan hasil
sedimen yang masuk ke sungai dari masingmasing lereng berdasarkan nilai T. Peta onsite ditampilkan dengan mengaktifkan theme
on-site sehinga peta hasil sedimen akan
hilang temporari dari tampilan layar dan
menampilkan peta kehilangan tanah (per

Metode Simulasi yang digunakan


terbagi menjadi :
1. Metode DAS (Watershed), yakni
simulasi
untuk
merepresentasikan
kelerengan dan saluran-saluran sungai
(metode DAS) yang mengkaji akibat
off-site dari lereng dan sungai yang
terdapat di dalam sub DAS tersebut.
2. Metode Aliran (Flowpath), yakni
simulasi untuk seluruh masing-masing
aliran dan menyatukan mereka menjadi
suatu
analisa
spasial
dengan
mempertimbangkan
hasil
simulasi
untuk setiap sel raster dari luas area dan
panjang
aliran
yang
tercakup
didalamnya.

pixel). Gambar 5. menampilkan hasil dari

watershed method dan flowpath method.

(a)

(b)

Gambar 5. Hasil Running GeoWEPP dengan (a) Watershed Method dan (b) Flowpath Method
tersebar di DAS Limboto. Maisng-masing
sub DAS akan menghasilkan model simulasi
prediksi erosi dan sedimen yang berbedabeda tergantung dari luas das, topografi das,
penutup lahan yang ada, dan jenis tanah
yang terkandung didalamnya.
Setelah model terbentuk dari masingmasing sub DAS maka akan dihasilkan dua
jenis peta yakni peta off-site dan peta onsite. Masing-masing peta dari masingmasing sub DAS dikumpulkan kembali
dengan program ArcView dan dihasilkan
peta off-site dan peta on-site DAS Limboto
seperti yang tertera pada Gambar 6 dan
Gambar 7.

HASIL RUNNING MODEL GEOWEPP


Untuk membuat model simulasi
dengan GeoWEPP dibuat 14 zone untuk
membantu pembentukan masing-masing sub
DAS dari outlet-outlet jaringan sungai yang
ditentukan. Setiap zone dimungkin kan
terdapat beberapa outlet yang dapat dibentuk
dan masing-masing otlet akan mewakili sub
das yang berbeda-beda.
Setelah melalui beberapa proses trial
and error dalam hal penentuan letak dan
besar zone serta letak masing-masing outlet,
didapat pembagian pembentukan sub DAS
yang paling baik yakni terbagi menjadi 14
zone, 42 outlet dan 42 sub DAS yang

Gambar 6. Peta Hasil Sedimen Model GeoWEPP (Kajian Off-site)

Gambar 7. Peta Kehilangan Tanah Model GeoWEPP (Kajian On-site)


Pada Gambar 6. terdapat peta hasil
sedimen yang merupakan peta kajian off-site
dari model GeoWEPP. Dari gambar tersebut
dapat dilihat bahwa kontribusi sedimen
terbesar yakni dengan dengan nilai sediment
yield > 4T (T = 10 ton/ha/thn) berada pada
Utara Danau Limboto atau berada pada
pertengahan DAS Limboto dan sejumlah
besar dengan kadar yang lebih kecil tersebar
ditenggara DAS Limboto. Hal ini
disebabkan karena pada daerah tersebut
memiliki dominan penutupan lahan berupa
ladang, kebun dan belukar. Daerah tersebut
juga berada pada rata-rata ketinggian 350500 m MSL. Daerah yang memberikan
kontribusi sedimen yield yang cukup rendah
berada pada daerah utara dan selatan DAS
yang kebanyakan terdiri dari hutan.
Pada Gambar 7. terdapat peta
kehilangan jumlah tanah yang merupakan
peta kajian on-site dari mdoel GeoWEPP.
Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa
kehilangan jumlah tanah terbesar juga
berada pada Utara Danau Limboto dan
sedikit tersebar dibagian tenggara DAS
Limboto. Kehilangan jumlah tanah dengan
jumlah yang kecil tersebar merata di bagian
Utara, Tengah dan Selatan DAS Limboto.
Pada hasil running model simulasi
GeoWEPP terdapat beberapa perbedaan
dengan studi yang terdahulu pernah
dilakukan. Perbedaan pertama terletak pada
luas DAS yang tercakup dari hasil running.
Pada RTL-RLKT yang diterbitkan oleh BP

DAS Bone Bolango tertera luas DAS Limboto


adalah 91004 ha. Pada hasil running GeoWEPP
luas DAS Limboto menjadi 90357.951 ha.
Rincian luas DAS Limboto hasil running
GeoWEPP tertera pada Tabel 4.
Tabel 4. Rincian Luas DAS Limboto Hasil
Running GeoWEPP

No.
1
2
3

Luas

% Luas

ha

Keterangan
LuasDAS yang
tercakup GeoWEPP
Danau
Luas area yang
tidak tercakup
GeoWEPP
Jumlah

76276,81

84,42

3412,704

3,78

10667,477

11,81

90357,951

100,00

Program
GeoWEPP
memiliki
keterbatasan dalam mensimulasikan daerahdaerah yang relatif datar. Oleh karena itu
11.81% dari total luas DAS Limboto atau
10.667,477 ha tidak dapat disimulasi mengingat
keterbatasan tersebut. Daerah yang dapat
disimulasikan adalah 76276,81 ha atau 84.42%
dari keseluruhan total luas DAS Limboto.
Danau Limboto yang memiliki luas 3412.704 ha
tidak termasuk daerah yang disimulasikan oleh
GeoWEPP.

Tabel 5. Hasil Running GeoWEPP


Keterangan
Luas Area
Total Erosi
Total Deposisi
Sedimen
Total Sediment Yield
Rata-rata Erosi
Rata-rata Deposisi
Sedimen
Rata-Rata Sediment
Yield

menjadi grid dengan erosi dan deposisi menurut


sebaran ruang dan waktu dan dapat
menampilkan jumlah tanah tererosi, deposisi,
hasil sedimen dan hasil limpasan permukaan.
Total erosi dan sedimen hasil running
GeoWEPP juga memiliki perbedaan dengan
hasil studi PT. MAXITECH Utama Indonesia
untuk pekerjaan Perencanaan Bangunan
Erosi dan Sedimentasi DAS Limboto. Hasil
studi tersebut menyatakan bahwa laju erosi
lahan berkisar 126.355,41 m3/thn/ atau 1.76
mm/thn. Hal ini disebabkan karena studi
tersebut menggunakan pendekatan formula
empiris Murano (1967). Studi ini menyatakan
bahwa terdapat sumber sedimen lain yang
masuk ke Danau Limboto yakni dijumpai
rreruntuhan tebing-tebing sungai terutama pada
tikungan (meander belt) dengan material lepas
pasir kerikil yang terbawa aliran sungai
menjadi sumber endapan di Danau Limboto.
Hasil studi ini juga menyatakan bahwa umur
guna Danau Limboto sebagai laguna tinggal 6070 tahun dinilai sanagt cepat. Oleh karena itu,
upaya untuk mencegah sedimentasi dan
mengurangi laju angkutan sedimen di sungaisungai DAS Limboto harus dilakukan secara
nyata dan menerus (berkelanjutan).

Nilai
76276,81

ha

3.409.067,36

ton/thn

224.356,54

ton/thn

3.184.710,41

ton/thn

44,69

ton/ha/thn

2,94

ton/ha/thn

41,75

ton/ha/thn

Berdasarkan hasil running GeoWEPP


didapat jumlah total erosi pada DAS
Limboto sebesar 3.409.067,36 ton/thn atau
rata-rata erosi per hektar adalah 44,69
ton/ha/thn atau 3.72 mm/thn. Nilai erosi
tersebut telah melewati ambang batas
bahaya erosi yang diperkenankan (dapat
ditoleransikan) yaitu sebesar 10 ton/ha/thn
(Suripin 2002). Sediment deposisi pada
DAS Limboto 224.356,54 ton/thn atau
sedimen deposisi per hektar adalah sebesar
2,94 ton/ha atau 0.245 mm/thn. Sediment
yield DAS Limboto adalah 3.184.710,41
ton/thn atau sedimen yield per hektar adalah
41,75 ton/ha/thn atau 3.48 mm/thn. Dari data
diatas adalah sesuai dengan keadaan DAS
Limboto yang sebagian besar tertutupi oleh
ladang dan tegalan. Usaha penanganan
semakin terfokus kepada pengendalian
pengelolaan lahan perladangan yang terjadi
pada lahan miring dan tidak menerapkan
kaidah konservasi.
Total erosi dan sedimen hasil running
GeoWEPP memiliki perbedaan dengan
RTL-RLKT. Pada RTL-RLKT didapat hasil
total erosi DAS Limboto adalah 4.222.096
ton/thn atau nilai rata-rata erosi per hektar
adalah
108.81
ton/ha/thn.
Terdapat
perbedaan yang cukup mencolok dengan
hasil running GeoWEPP yakni 23.85% lebih
kecil dari total erosi RTL-RLKT. Hal ini
disebabkan
karena
RTL-RLKT
menggunakan pendekatan USLE (Universal
Soil Loss Equation). Pendekatan USLE
memiliki beberapa kekurangan salah satunya
adalah memiliki skala prediksi bentang
lereng (hillslope profile) dengan erosi ratarata tahunan dari suatu bentang lereng yang
tidak ada cekungan deposisinya sedangkan
GeoWEPP memiliki skala prediksi DAS dan
bentang lereng (hillslope) yang dibagi

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Kekurangan data tanah dan iklim merupakan
kendala terbesar penggunaan GeoWEPP.
2. Program
GeoWEPP
hanya
dapat
mensimulasikan erosi dan sedimen untuk
luasan area tertentu saja (< 16000 ha). Oleh
karena itu DAS Limboto dibagi menjadi
beberapa zone berdasarkan outlet anak
sungai yang paling luar dan mencukupi
syarat minimal simulasi dengan program
GeoWEPP.
3. Pada kajian off-site DAS Limboto, diketahui
bahwa sebagian besar wilayah DAS bagian
Tengah, Utara dan sedikit dibagian Tenggara
memberikan kontribusi sediment yield > 40
ton/ha/thn. Pada kajian on-site DAS
Limboto, diketahui bahwa wilayah DAS
Limboto bagian Tengah, Utara dan Tenggara
memberikan kontribusi kehilangan tanah >40
ton/ha/thn. Hal ini disebabkan karena pada
daerah tersebut memiliki dominan penutupan
lahan berupa ladang, kebun dan belukar.

10

Daerah tersebut juga berada pada ratarata ketinggian 350-500 m MSL.

pupuk hijau atau tanaman penutup tanah


(conservation rotation),sistem pertanian
hutan (agroforestry),penanaman saluransaluran pembuangan dengan rumput), secara
mekanik (pengolahan tanah (tillage),
pengolahan tanah menurut kontur (contour
cultivation), guludan dan guludan bersaluran
menurut kontur, teras, dam penghambat
(check dam), waduk (balong) (form ponds),
rorak, tanggul perbaikan drainase dan irigasi)
dan diprogramkan secara terpadu dari
seluruh Dinas Teknis yang terkait
(Kehutanan, Pekerjaan Umum, Pertanian,
Perkebunan dan lainnya).

4. Program
GeoWEPP
memiliki
keterbatasan tidak dapat mensimulasikan
daerah yang relatif datar sehingga
11.81% dari total luas DAS Limboto atau
10.667,477 ha tidak dapat disimulasi
mengingat keterbatasan tersebut. Daerah
yang
dapat
disimulasikan
adalah
76276,81ha atau 84.42% dari keseluruhan
total luas DAS Limboto.
5. Berdasarkan hasil running GeoWEPP
DAS Limboto berada pada kondisi kritis
yakni dengan total erosi pada DAS
Limboto sebesar 3.409.067,36 ton/thn
atau rata-rata erosi per hektar adalah
44,69 ton/ha/thn atau 3.72 mm/thn.. Nilai
erosi tersebut telah melewati ambang
batas bahaya erosi yang diperkenankan
(dapat ditoleransikan) yaitu sebesar 10
ton/ha/thn (Suripin 2002).

2. Diperlukan pendekatan sosial, ekonomi dan


budaya sehingga pemilik lahan atau petani
setempat mau melakukan usaha konservasi
untuk meminimalisasi jumlah erosi dan
sedimen yang masuk ke Danau Limboto.
3. Untuk penelitian lebih lanjut, perlu
dipersiapkan input data tanah dan iklim yang
lebih mendetail agar prediksi erosi dan
sedimen dapat lebih mendetail dan lebih
sesuai dengan kondisi lapang.

6. Sediment deposisi pada DAS Limboto


224.356,54 ton/thn atau sedimen deposisi
per hektar adalah sebesar 2,94 ton/ha atau
0.245 mm/thn. Sediment yield DAS
Limboto adalah 3.184.710,41 ton/thn
atau sedimen yield per hektar adalah
41,75 ton/ha/thn atau 3.48 mm/thn. Dari
data diatas adalah sesuai dengan keadaan
DAS Limboto yang sebagian besar
tertutupi oleh ladang dan tegalan. Usaha
penanganan semakin terfokus kepada
pengendalian
pengelolaan
lahan
perladangan yang terjadi pada lahan
miring dan tidak menerapkan kaidah
konservasi.

4. Pemberian skenario simulasi pencegahan


erosi dan sedimen akan memberikan
alternatif yang dapat dijadikan pedoman bagi
pemerintah
daerah
setempat
untuk
menjalankan program konservasi tanah dan
air.

DAFTAR PUSTAKA

7. Terdapat
perbedaan
yang
cukup
mencolok mengenai total erosi dan
sedimen hasil running GeoWEPP dengan
RTL-RLKT (4.222.096 ton/thn atau
108.81 ton/ha/thn) yakni 23.85% lebih
kecil dari total erosi RTL-RLKT. Hal ini
disebabkan
karena
RTL-RLKT
menggunakan
pendekatan
USLE
(Universal Soil Loss Equation).

B. Saran
1. Perbaikan kualitas DAS Limboto perlu
dilakukan secara menerus sedikit demi
sedikit (gradually) baik secara vegetaif
(penanaman tumbuhan atau tanaman
yang menutupi tanah secara terus
menerus, penanaman dalam strip (strip
cropping), pergiliran tanaman dengan

11

1.

Ascough, J.C, et al. (1005), Watershed


Model
Channel
Hydrology and
Erosion Processes, dalam Technical
Documentation
USDA - Water Erosion
Prediction Project (WEPP), NSERL
Repot
No. 10, USDA ARS - MWA,
WestLafayette,<http://topsoil.nserl.purdue.e
du/nserlweb/weppmain/docs/chap13.pdf>,
diakses 9 Mei 2006.

2.

Asdak, C. (1995), Hidrologi dan


Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Gadjah
Mada University Press.

3.

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai


Bone-Bolango. (2003), Rencana Teknik
Lapangan
Rehabilitasi
Lahan
dan
Konservasi
Tanah
DAS
Limboto,
Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal
Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial.

4.

Bazzoffi, P. (2002), Impact of Human


Activities on Soil Loss, Direct and Indirect

Evaluation, dalam Sustainable Land


Management

Environmental
Protection A Soil Physical Approach,
Chapter V, Pagliai, M., Jones, R.,
Editor, IUSS, 429-580.

Danau Tondano Menggunakan Geographic


Information System (GIS), Jurnal Sumber
Daya Air, Volume 1, No. 1, November
2005, Pusat Litbang Sumber Daya Air, 6777.

5.

Canadian International Development


Agency (CIDA). (1999), Master Plan
Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah
Sungai Limboto-Bolango-Bone, Dinas
PU Prop. Sulawesi Utara.

13. Larekeng, A.S. (2003), Prediksi Laju Erosi


Berbasis Sistem Informasi Geografis pada
DAS Tangka, Sulawesi Selatan, Skripsi
Program Sarjana, Universitas Hasanuddin.

6.

Cligen Weather Generator, expanded


and
improved
by USDA Agricultural Research
Service and U. S. Forest Service
<http://horizon.nserl.purdue.edu/Cligen
>, diakses 27 April 2006.

7.

Darsono, S. (1994), Pengendalin Erosi


untuk Mengatasi Angkutan Sedimen
yang Berlebihan pada Suatu Sungai,
Jurnal dan Pengenbangan Keairan, No.
1-Tahun 1-April 94, Jurusan Teknik
Sipil Fakultas Teknik Universitas
Diponegoro, 70-78.

8.

Endale, M. (2003), Cropland Soil


Erosion Prediction using WEPP Model
(A Case Study on Hillslope in
Lom Kao District, Thailand), Thesis
of
International
Institute
for
Geo-Information Science and Earth
Observation, Enschede, The Netherland,
www.itc.nl/library/Papers_2003/msc/ere
g/melkam.pdf, diakses 30 Maret 2006.

9.

14. Linsley, R.K., Franzini, J.B.


(1972),
Water-Resources Engineering, McGrawHill Book Company, 147-171.
15. Linsley, R.K., Kohler M.A., Paulhus,
J.L.H. (1989), Hidrologi untuk Insinyur,
Penerbit Erlangga.
16. Japan Internasional Cooperation Agency
dan The Government of Republic of
Indonesia. (2002), The Study on Flood
Control and Water Management in
Limboto-Bolango-Bone Basin in The
Republic
of
Indonesia,
Nikken
Consultants, Inc and Nippon Koei
CO,.LTD.
17. Minkowski, M. (2005),
Advanced
GeoWEPP
Tools,
University
of
Buffalo,
Buffalo,
NewYork,http://www.geog.buffalo.edu/~re
nsch/geowepp/documents/Advance%20Geo
WEPP%20Tools.pdf>, diakses 27 Maret
2006.
18. PT. Maxitech Utama Indonesia. (2004),
Laporan Akhir Pekerjaan : Pekerjaan
Bangunan
Pengendali
Erosi
dan
Sedimentasi DAS Limboto, Dinas PU
Propinsi Gorontalo.

Foster, G.R., et al. (1995), Hillslope


Erosion Component, dalam Technical
Documentation
USDA - Water
Erosion prediction Project (WEPP),
NSERL Repot No. 10, USDA-ARSMWA,West
Lafayette,<http://topsoil.nserl.purdue.ed
u/nserlweb/weppmain/docs/chap11.pdf>
, diakses 9 Mei 2006.

19. Renard, K.G., Lane, L.J., Foster, G.R.,


Laflen, J.M. (1995), Soil Loss Estimation,
dalam Soil Erosion Conservation, and
Rehabilitation, Bab 9, Agassi, M., Editor,
Marcel Dekker, Inc., 169-199.

10. Garbrecht, J., Martz, L. Topographic


Parameterization Software (TOPAZ),
U.S. Department of Agriculture, USA
and the Department of Geography,
University of Saskatchewan, Canada, <
http://grl.ars.usda.gov/topaz/TOPAZ1.H
TM#generalinfo>, 15 Mei 2006.

20. Renschler, C.S. (2004), GeoWEPP ArcX


2004.3 Tutorial, University of Buffalo
The
State
UniversityofNewYork,http://www.geog.buf
falo.edu/~rensch/geowepp/documents/Geo
WEPP%20Tutorial%20ArcX%202004.3.pd
f, diakses 18 April 2006.

11. Gardiner, D.T., Miller, R.W. (2004),


Soils in Our Environtment, Tenth
Edition, Prentice Hall, 204-429.

21. Simonato, Tommaso, Bischetti, G.B.,


Crosta, G.B.
(2002), Evaluating Soil
Erosion with RUSLE and WEPP in an
Alpine Environment (Dorena Valley
Central Alps, Italy), dalam Sustainable

12. Ginting, S.H., Putuhena, W.M. (2005),


Estimasi erosi Lahan si Daerah Aliran

12

Land Management Environmental


Protection A Soil Physical Approach,
Chapter V, Pagliai, M., Jones, R.,
Editor, IUSS, 481-494.
22. Shuttle Radar Topography Mission
(SRTM), Fact Sheet 071-03 (June
2004). (2004), USGS/EROS Data
Center,
http://mac.usgs.gov/isb/pubs/factsheets/
fs07103.html, diakses 27 Juni 2006.
23. Suhartanto, E.
(2005), Pendugaan
Erosi, Sedimen dan Limpasan Berbasis
Model Hidrologi WEPP dan SIG di
Sub-DAS Ciriung, DAS Cidanau,
Disertasi Program Doktor, Institut
Pertanian Bogor.
24. Suripin. (2001), Pengaruh Sedimentasi
Waduk
Terhadap
Keberlanjutan
Pembangunan,
Jurnal
dan
Pengembangan Keairan, No.1-Tahun 8Juli 2001, Jurusan Teknik Sipil Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro, 1-6.
25. Troeh, F.R., Hobbs, J.A., Donahue, R.L.
(2004), Soil and Water Conservation for
Productivity
and
Environmental
Protection, Prentice Hall, 129-155.
26. Wild, A.
(1993), Soils and the
Environment : An Introduction,
Cambridge University Press, 17-19.
27. Yang, C.T. (1996), Sediment Transport
Theory and Practice, The McGraw-Hill
Companies, Inc., 267-314.
28. Yoshino, K., Ishioka Y.,
(2005),
Guidelines for Soil Conservation
Towards Integrated Basin Management
for Sustainable Development : A new
Approach based on The Assessment of
Soil Loss Risk Using Remote Sensing
and GIS, Article of Paddy Water
Environ, 235-247.

13