Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PENDAHULUAN ASKEP

KELUARGA DM
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Konsep Dasar
1.1.1 Pengertian
Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai
kelainan metabolic akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai
komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada
membran basalis dalam pemeriksaan dangan mikroskop elektron ( Arif Mansjoer
dkk 2001 : 580 )
Diabetes Melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis
termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
Secara klinis ditandai dengan hiperglikemia puasa, aterosklerotik dan
mikroangiopati dan neuropati (Sylfia A. Price dan Lorraine M. Wilson, 1995 : 1109).
1.1.2 Etiologi
Klasifikasi etiologi diabetes mellitus American Diabet Association (1997) sesuai
anjuran PERKENI (Perkumpulan Endrokonologi Indonesia)
1. Diabetes tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) / Diabetes Mellitus
Tergantung Insulin (DMTI)).
Disebabkan oleh distruksi sel Beta pulau langerhans akibat proses auto imun dan
idiopatik.
2. Diabetes tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) / Diabetes
Melitus Tidak Tergantung Insulin (DMTTI).
Disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi Insulin adalah
turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan
perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel beta tidak mampu
mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi insulin,
ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan
glukosa maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi
insulin lain, berarti sel beta pankreas mengalami desentisisasi terhadap glukosa.

3. Diabetes tipe lain.


a. Defek genetic fungsi sel beta :
- Maturity Onset Diabetes of the young (MODY) 1,2,3.
- DNA mitokondria.
b. Defek genetik kerja insulin.
c. Penyakit eksokrin pancreas
- Pancreatitis
- Tumor / Pankreatektomi
- Pankreatopati fibrokalkulus
d. Endrokinopati : akromegali,sindrom chusing, feokromositoma dan hipertiroidisme.
e. Karena obat / zat kimia
- Vacor, pentamidin, asam nikotinat
- Glukortikoid , hormone tiroid
- Tiazid, dilantin,interferon alpha dan lain lain.
f. Infeksi :rubella congenital, sito megalovirus.
g. Penyebab imunologi yang jarang : anti body anti insulin.
h. Sindrom genetic lain yang berkaitan dengan DM ; sindrom down, sindrom
klinefelter, sindrom turner dan lain lain.
4. Diabetes Melitus Gestasional (DMG).
1.1.3 Anatomi fisiologi
Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke
dalam darah yang beredar dalam jaringan kelenjar tanpa melewati duktus atau
saluran dan hasil sekresinya disebut hormon. Banyak organ tubuh yang
menghasilkan hormon antara lain hipotalamus, hipofise, tiroid, paratiroid, adrenal,
pankreas dan lain lain. Kelenjar pankreas terdapat pada belakang lambung didepan
vertebra lumbalis I dan II. Secara fungsional pancreas di bagi menjadi 2 bagian
yaitu :
a. Bagian eksokrin
Menghasilkan enzyim pencernaan (dalam bentuk inaktif)
b. Bagian endokrin
Menghasilkan hormon yang tersebar dalam kelompok sel yang disebut is lets of
langerhans yang terdiri atas :
1. Sel alfa
Memproduksi hormon glukogen yang berfungsi untuk melepaskan glukosa ke dalam
darah sehingga glukosa dalam darah meningkat.

2. Sel beta
Memproduksi hormon insulin yang berfungsi untuk pengambilan glukosa oleh
jaringan sehingga jumlah glukosa dalam darah menurun, bila digunakan dalam
pengobatan dapat memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk mengobservasi dan
menggunakan glukosa dan lemak.
3. Sel delta
Menghasilkan hormon somatoslatin yang berfungsi menghambat sekresi hormon
hormon lain dari pulau langerhans.
1.1.4 Patofisiologi DM

1.1.5 Manifestasi Klinis


Diagnosa DM awalnya dipikirkan dengan adanya gejala khas berupa polifagia,
poliuria, polidipsi, lemas, dan berat badan turun. Gejala lain yang mungkin
dikeluhkan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensi pada pria,
serta pruritus vulva pada wanita.

1.1.6 Penatalaksanaan
1. Tujuan penatalaksanaan DM untuk jangka pendek adalah menghilangkan keluhan /
gejala DM.
2. Tujuan jangka panjang adalah untuk mencegah komplikasi.
Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menurunkan kadar glukosa, lipid dan
insulin.

a.
b.
c.
d.
e.

Untuk memudahkan terapinya, tujuan tersebut adalah kegiatan, dilaksanakan dalam


bentuk pengelolaan pasien holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri,
pelaksanaannya dengan :
Perencanaan makan / diit (meal planning).
Aktivitas fisik.
Health education.
Obat-obatan.
Operasi.

1.1.7 Komplikasi
1. Akut.
Koma hipoglikemia.
Ketoasidosis.
Koma hiperosmolar non ketotik.
2. Kronik
Makro angiopati, mengenai pembuluh darah besar, pembuluh darah jantung,
pembuluh darah tepi, pembuluh darah otak.
Mikro angiopati, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati diabetik, nefropati.
Neuropati diabetik.
Rentan infeksi.
Ganggren.
1.1.8 Pemeriksaan Penunjang dan Penegakan Diagnosa
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemerikaan glukosa darah sewaktu
dan kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan tes toleransi glukosa
oral (TTGO) standar. Kadar gukosa darah puasa dan acak dengan metode enzimatik
sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl)

a. Gula darah acak


-

Plasma vena
Darah kapiler
b.
Gula
darah
puasa
- Plasma vena

Bukan DM
< 110
< 90

Belum
pasti
DM
110 199
90 199

DM
> 200
> 200

< 110
< 90

110 125
90 - 109

> 126
> 110

- Darah kapiler
Diagnosa DM
Penegakkan diagnosa DM didasarkan atas adanya keluhan dan gejala yang khas
ditambah hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu > 200 mg /dl atau glukosa darah
puasa > 126 mg/dl. Bila pemeriksaan glukosa darh meragukan pemeriksaan TTGO
diperlukan untuk memastikan diagnosis diabetes melitus.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
Dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan Keluarga pada penderita Diabetes
Mellitus meliputi beberapa Tahap

A. Tahap Pengkajian

1.
2.
3.
4.
5.

Data Umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :
Nama kepala keluarga (KK)
Alamat dan telfon
Pekerjaan kepala keluarga
Pendidikan kepala keluarga
Komposisi keluarga
No

Nama

JK

Hub dng
KK

Umur

Pendidikan

Status Imunisasi
BCG

Polio

DPT

Hepa
titis

Ket
Campak

6. Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi
dengan jenis tipe keluarga tersebut .
7. Suku bangsa
Mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut serta mengidentifikasi budaya suku
bangsa tersebut berkait dengan kesehatan.

8. Agama
Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat
mempengaruhi kesehatan.
9. Status sosial ekonomi

Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala
keluarga maupun anggota keluarga yang lain. Kebutuhan-kebutuhan yang
dikeluarkan oleh keluarga, barang yang dimiliki keluarga.
10. Aktifitas rekreasi keluarga
Rekreasi keluarga tidak hanya dilihat pergi bersama-sama untuk mengunjungi
tempat rekreasi.
Nonton TV.
Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga
11. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti
12. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga,
serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi.
13. Riwayat keluarga inti (tinggal dalam satu rumah)
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti, yang meliputi riwayat
penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga, perhatian
terhadap pencegahan penyakit (status imunisasi), sumber Yankes yang biasa
digunakan keluarga serta pengalaman terhadap Yankes.
14. Riwayat keluarga sebelumnya
Dijelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan istri.
Pengkajian Lingkungan
15. Karakteristik rumah
Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah
ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakan perabotan rumah tangga,
jenis septik tank, jarak septik tank dengan sumber air, sumber air minum yang
digunakan serta denah rumah.
16. Karakteristik tetangga dan komunitas RW menjelaskan mengenai karakteristik dari
tetangga dan komunitas setempat yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik,
aturan / kesepakatan penduduk setempat, budaya setempat yang mempengaruhi
kesehatan.
17. Mobilisasi geografis keluarga
Mobilisasi geografis keluarga ditentukan dengan kebiasaan keluarga berpindah
tempat.

18. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat menjelaskan mengenai


waktu yang digunakan keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang
ada dan sejauh mana keluarga interaksinya dengan masyarakat.
19. Sistem penduduk keluarga
Yang termasuk pada sistem pendukung keluarga adalah jumlah anggota keluarga
yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan.
Fisik, psikis atau dukungan dari anggota keluarga.
Sosial atau dukungan dari masyarakat setempat.
Struktur Keluarga
20. Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi antar anggota keluarga.
21. Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk
merubah perilaku.
22. Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga baik secara formal maupun
informal.
23. Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga yang
berhubungan dengan kesehatan.
Fungsi Keluarga
24. Fungsi efektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga perasaan memiliki dan
dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya,
bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga
mengembangkan sikap saling menghargai.

25. Fungsi sosialisasi


Hal yang perlu dikaji bagaimana interaksi / hubungan dalam keluarga sejauh mana
anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku.
26. Fungsi perawatan kesehatan

a).

b).
c).
-

d).

Menjelaskan sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan


serta merawat anggota keluarga yang sakit, sejauh mana pengetahuan keluarga
mengenai sehat sakit.
Kesanggupan keluarga melaksakan 5 tugas kesehatan.
Hal-Hal Yang Dikaji Sejauh Man Keluarga Melakukan Pemenuhan Tugas Perawatan
Keluarga adalah :
Untuk mengetahui pengetahuan keluarga mengenal masyarakat kesehatan, yang
perlu dikaji adalah sejauh mana keluarga mengetahui mengenai fakta-fakta dari
masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan
mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masyarakat.
Untuk mengetahui kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan
kesehatan yang tepat, hal yang perlu dikaji adalah :
Sejauh mana kemampuan keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah.
Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga.
Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masyarakat yang dialami.
Apakah keluarga merasa takut akan akibat dari tindakan penyakit.
Apakah keluarga mempunyai sikap negatif terhadap masalah kesehatan.
Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada.
Apakah keluarga kurang mempercayai terhadap tenaga kesehatan.
Apakah keluarga mendapat informasi yang salah terhadap tindakan dalam
mengatasi masalah.
Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga merawat anggota keluarga
yang sakit, yang perlu dikaji adalah :
Sejauh mana keluarga mengetahui keadaan penyakit (sifat, penyebaran,
komplikasi, prognosa dan cara perawatannya).
Sejauh mana keluarga mengetahui tentang sifat dan perkembangan perawatan yang
dibutuhkan.
Sejauh mana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk
perawatan.
Sejauh mana keluarga mengetahui tentang sumber-sumber yang ada dalam
keluarga (anggota keluarga yang bertanggung jawab, sumber keuangan / finansial,
fasilitas fisik, psiko sosial).
Bagaimana sikap keluarga terhadap yang sakit.
Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga memelihara lingkungan
rumah yang sehat, hal yang perlu dikaji adalah :

e).

Sejauh mana keluarga mengetahui sumber-sumber keluarga yang dimiliki.


Sejauh mana keluarga melihat keuntungan / manfaat pemeliharaan lingkungan.
Sejauh mana keluarga mengetahui pentingnya hygiene sanitasi.
Sejauh mana keluarga mengetahui upaya pencegahan penyakit.
Sejauh mana sikap / pandangan keluarga terhadap hygiene sanitasi.
Sejauh mana kekompakan antara anggota keluarga.
Mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga menggunakan fasilitas / pelayanan
kesehatan dimasyarakat yang perlu dikaji adalah :
Sejauh mana keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan.
Sejauh mana keluarga memahami keuntungan-keuntungan yang diperoleh fasilitas
kesehatan.
Sejauh mana tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas dan fasilitas
kesehatan.
Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang baik terhadap petugas
kesehatan.
Apakah fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga.
27. Fungsi reproduksi
a). Berapa jumlah anak
b). Bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota keluarga.
c). Metode apa yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota
keluarga.
28. Fungsi ekonomi
a). Sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan.
b). Sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada dimasyarakat dalam upaya
peningkatan status kesehatan keluarga.

Stres Dan Koping Keluarga


29. Stressor jangka pendek dan panjang
a). Stressor jangka pendenk adalah stressor yang dialami keluarga yang memerlukan
penyelesaian dalam waktu 6 bulan.
b). Stressor jangka panjang adalah stressor yang dialami keluarga yang memerlukan
penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.

30. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi / stressor hal yang perlu dikaji
adalah sejauh mana keluarga berespon terhadap situasi / stressor.
31. Strategi koping yang digunakan
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila mengalami permasalahan.
32. Strategi adaptasi disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila
menghadapi masalah.

Pemeriksaan Fisik
Memeriksa fisik dilakukan pada semua anggota keluarga.
Metode yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan pemeriksaan
fisik di klinik.
Harapan Keluarga
Pada akhirnya pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas
yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Arif Mansjoer. dkk, (2002), Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi III, Media
Aesculapius FKUI, Jakarta
Askandar Tjokroprawiro, dr. DR. Prof. (2002), Hidup Sehat Dan Bahagia Bersama
Diabetes, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Brunner & Suddarth (2002), Keperawatan Mediakl Bedah Vol.2, EGC, Jakarta

M. Syaifullah (2002), Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid Edisi III, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta
Sarwono Waspadji (2002), Pedoman Diit Diabetes Melitus, Balai penerbit FKUI,
Jakarta

AskepKeluargapadakliendenganDiabetesMellitus

A. Konsep Dasar Diabetes Melitus


1.

Pengertian
Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik
absolute maupun relative (Waspadji dan sukardji, 2004 : 2).
Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan
kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Smeltzer dan Bare, 2008 : 1220).
American Diabetes Association (ADA) 2010, mendefinisikan Diabetes Melitus sebagai
suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Ernawati, 2013 :10)
Diabetes Melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) didalam
darah cukup tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara
cukup (Fauzi, 2014 : 70)

Berdasarkan keempat definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Diabetes mellitus adalah
suatu penyakit yang timbul pada seseorang yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa
dalam darah (hiperglikemia) yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya.

2.

Klasifikasi Diabetes Melitus


Ada 3 jenis diabetes yang umum terjadi dan diderita banyak orang, yaitu :

a.

Diabetes tipe 1
Diabets tipe 1 ini sering disebut Insulin Dependent Diabetes Melitus(IDDM) atau diabetes
mellitus yang bergantung pada insulin. Penderita penyakit diabetes tipe 1 sebagian besar
terjadi pada orang dibawah usia 30 tahun. Oleh karena itu, penyakit ini sering dijuluki
diabetes anak-anak karena penderitanya lebih banyak terjadi pada anak-anak dan remaja
(Fauzi, 2014 : 73).

b.

Diabetes Tipe 2
Penyakit diabetes tipe 2 sering juga disebut Non Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (NIDDM) atau diabetes mellitus tanpa bergantung pada insulin. Penyakit diabetes
tipe 2 ini sering disebut sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula.
Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang sebagian besaar diderita. Sekitar 90 %
hingga 95 % penderita diabetes menderita diabetes tipe 2. Jenis diabetes ini paling sering
diderita oleh orang dewasa berusia lebih dari 30 tahun dan cenderung semakin parah secara
bertahap (Fauzi, 2014 : 75).

c.

Diabetes jenis lain


Diabetes terkait Malnutrisi (DMTM) dan diabetes pada kehamilan (gestasional diabetes),
yang timbul hanya pada saat hamil (Waspadji dan sukardji, 2004 : 4)

3.

Etiologi

a.

Pada Diabetes Tipe 1 (IDDM)


Berkaitan dengan ketidaksanggupan, kerusakan, atau gangguan fungsi pankreas untuk
memproduksi insulin sehingga tidak dapat menghasilkan cukup insulin. Beberapa penyebab

pankreas tidak dapat menghasilkan cukup insulin pada penderita diabetes tipe 1 ini adalah
sebagai berikut (Fauzi, 2014 : 73-74) :
1)

Keturunan atau genetik


Jika salah satu atau kedua orangtua dari seorang anak menderita diabetes, maka anak
tersebut akan beresiko terkena diabetes.

2)

Autoimunitas
Autoimunitas adalah tubuh mengalami alergi terhadap salah satu jaringan atau jenis selnya
sendiri. Dalam kasus ini alergi yang ada dalam pankreas. Oleh sebab itu, tubuh kehilangan
kemampuan untuk membentuk insulin karena sistem kekebalan tubuh menghancurkan selsel yang memproduksi insulin.

3)

Virus atau zat kimia


Virus atau zat kimia yang menyebabkan kerusakan pada pulau sel atau kelompok sel dalam
pankreas tempat insulin dibuat. Semakin banyak peulau sel yang rusak, semakin besar
kemungkinan seseorang menderita diabetes.
b.

Pada Diabetes Tipe 2 (NIDDM)


Diabetes tipe 2 disebabkan karena pankreas tidak bisa memproduksi insulin yang cukup.
Kebanyakan dari insulin yang diproduksi pankreas dihisap oleh sel-sel lemak akibat gaya
hidup dan pola makan yang tidak baik. Karena pankreas tidak dapat membuat cukup insulin
untuk mengatasi kekurangan insulin sehingga kadar gula dalam darah akan naik. Beberapa
penyebab utama diabetes tipe 2 sebagai berikut (Fauzi, 2014 : 75-76).

1)

Faktor keturunan
Apabila orangtua atau saudara sekandung yang mengalami penyakit ini, maka resiko
diabetes tipe 2 lebih tinggi.

2)

Pola makan dan gaya hidup


Pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat menjadi pemicu utama pankreas tidak dapat
memproduksi insulinsecara maksimal. Mengkonsumsi makanan cepat saji atau fast
food yang menyajikan makanan berlemak dan tidak sehat merupkan penyebab utama.
Kurang olahraga dan istirahat yang tidak mencukupi juga berpengaruh terhadap munculnya
penyakit ini.

3)

Kadar kolesterol tinggi

Kadar kolesterol dalam darah yang tinggi akan menyerap insulin yang diproduksi oleh
pankreas. Pada akhirnya, tubuh tidak dapat menyerap insulin ini untuk merubahnya menjadi
energi.
4)

Obesitas
Obesitas atau kelebihan berat badan disebabkan oleh timbunan lemak yang tidak positif bagi
tubuh. Seperti kolesterol, lemakjuga akan menyerap produksi insulin pankreas secara habishabisan sehingga tubuh tidak kebagian insulin untuk diproduksi sebagai energi.

c.

Pada diabetes jenis lain


Misalnya disebabkan oleh karena kerusakan pankreas akibat kurang gizi, obat, hormon atau
hanya timbul pada saat hamil (Waspadji dan sukardji, 2004 : 4).

4.

Patofisiologi
Pada diabetes tipe 1 terdapat kemampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta
pancreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia-puasa terjadi akibat
produksi glukosa ysng tidak terukur oleh hati. Disamping itu glukosa yang berasal dari
makanan tidak dapt disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan
menimbulkan hiperglikemia prospandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali
semua glukosa yang tersaring. Akibatnya, glukosa tersebut muncul dalam urine
(glukosauria). Ketika glukosa yang berlebihan dieskresikan kedalam urine, ekskresi ini akan
disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan dieresis
osmotic. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia), keadaan itu menyebabkan
kehilangan elektrolit dalam sel dan pasien mengalami dehidrasi sehingga dapat
menyebabkan syok.
Defisiensi insulin juga dapat menyebabkan kehilangan kalori, menganggu metabolism
protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami
peningkatan selera makan (poifagia) akibatnya terjadi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh, gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Selain itu dengan
kurangnya sel untuk mettabolisme dapat menyebabkan katabolisme lemak yang membuat

meningkatnya asam lemak, serta pemecahan protein yang membuat keton dan ureum
meningkat. Keadaan dimana asam lemak dan keton meningkat dapat mengakibatkan
ketoasidosis. (Nurarif, 2013)

5.

Tanda dan gejala

a.

Menurut Fauzi ( 2014) pada permulaan gejala Diabetes Melitus yang ditunjukan meliputi:

1)

Polidipsia (banyak minum)


Rasa haus dan ingin minum terus. Kadang hal ini sering ditafsirkan karena udara yang panas
dan banyak kerja berat, padahal tanda-tanda ini muncul sebagai awal gejala penyakit DM

2)

Polifagia (banyak makan)


Penderita sering makan (banyak makan) ini terjadi akibat kadar gula yang tinggi namun tidak
dapat masuk kedalam seluntuk digunakan dalam proses metabolisme. Ketika kadar gula
darah tidak dapat masuk kedalam sel, tubuh berpikir belum mendapatkan asupan makanan
sehingga mengirim sinyal lapar untuk mendapatkan glukosa lebih banyak agar sel-sel dapat
berfungsi

3)

Poliuria (banyak kencing)


Gejala yang sering dirasakan penderita adalah sering kencing dengan volume urine yang
banyak kencing yang sering pada malam hari terkadang sangat mengganggu penderita.
Pada kondisi ini ginjal bekerja sangat aktif untuk menyingkirkan kelebihan glukosa didalam
darah.

4)

Penurunan berat badan (BB) dan rasa lemah


Penurunan berat badan dalam waktu relatif singkat, merupakan gejala awal yang sering
dijumpai, selain itu rasa lemah dan cepat capek kerap di rasakan.

b.

Gejala kronik yang sering timbul adalah :

a. Kesemutan

b. Kulit terasa panas seperti tertusuk jarum, gatal dan kering


c. Rasa tebal di kulit
d. Kram
e. Mudah lelah dan marah
f. Mudah ngantuk
g. Mata kabur
h. Gatal di sekitar kemaluan (keputihan)
i.

Seksual menurun

j.

Pada ibu hamil mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau dengan
bayi BB lahir lebih dari 4 kg.

6.

Pemeriksaan Diagnostik

a. Tes kadar gula darah


Ukuran kadar gula didalam darah harus disesuaikan. Berikut ini kadar gula dalam darah
setelah puasa.
1)

Kadar gula darah normal adalah kurang dari 100 mg/dl.

2)

Kadar gula darah pradiabetes adalah antara 100 sampai 126 mg/dl.
3)

Kadar gula darah orang yang menderita diabetes adalah lebih dari 126 mg/dl.
Kadar glukosa darah 2 jam setelah makan (postpranndial) juga dapat mengindikasikan orang
terkena diabetes atau tidak. Berikut ini ukuran kadar gula dalam darah setelah makan 2 jam.

1)

Kadar gula darah normal adalah kurang dari 140 mg/dl.

2)

Kadar gula darah pradiabetes adalah antara 140 sampai 200 mg/dl
3)

Kadar gula darah bagi penderita diabetes adalah lebih dari 200 mg/dl(Fauzi, 2014 : 7778).

b. Tes toleransi glukosa (TTG)


Menunjang (lebih besar dari 200mg/21), biasanya tes ini dianjurkan utuk pasien yang
menunjang kadar glukosa darah meningkat dibawah kondisi stress.
c. Tes Glukosa Urine
Adanya glukosa dalam urine dapat diperiksa dengan cara benedict (reduksi), yang tidak
khas untuk glukosa, karena dapat positif pada diabetes,
Persiapan Pasien: Sama dengan persiapan pasien pada tes glukosa darah puasa.
Glukosa Negatif: bukan DM bila hasil tes urin berwarna biru.
Tabel 2.1
Hasil pemeriksaan Warna Tes Glukosa Urin
Warna
Interpretasi: (1+) s/d ( 4+)
mungkin/diduga DM
Hijau kekuningan dan keruh
Positif +
(1+): sesuai dengan 0,5
1% glukosa
Kuning keruh
Positif ++ (2+): sesuai dengan 1
1,5 % glukosa
Jingga / warna lumpur keruh
Positif +++ (3+): sesuai dengan 2
3,5 % glukosa
Merah keruh
Positif ++++(4+): sesuai dengan >
3,5 % glukosa

d. Tes HbA1C atau tes A1C


Pemeriksaan hemoglobin terglikasi (HbA1C) merupakan salah satu pemeriksaan darah
yang penting untuk mengevaluasi pengendalian gula darah.

Hasil pemeriksaan A1C

memberikan gambaran rata-rata gula darah selama priode waktu 6-12 minggu dan hasil ini
dipergunakan bersama dengan hasil pemeriksaan gula darah mandiri sebagai dasar untuk
melakuakan penyesuaian terhadap pengobatan diabetes yang dijalani.
Hemoglobin adalah salah satu substansi sel darah merah yang berfungsi untuk mengangkut
oksigen ke seluruh tubuh. Ketika gula darah tidak terkontrol (yang berarti kadar gula darah

tinggi) maka gula darah akan berkaitan dengan hemoglobin (terglikasi). Oleh karena itu, ratarata kadar gula darah dapat ditentukan dengan cara mengukur kadar HbA1C. Bila kadar gula
darah tinggi dalam satu beberapa minggu, maka kadar HbA1C akan tinggi pula. Ikatan
HbA1C yang terbentuk bersifat stabil dan dapat bertahan hingga 2-3 bulan (sesuai dengan
usia sel darah merah). Kadar HbA1C akan mencerminkan rata-rata kadar gula darah dalam
jangka waktu 2-3 bulan sebelum pemeriksaan. sebaliknya (Ernawati 2013 : 85-86).

Tabel 2.2
Kolerasi antara Kadar HbA1C dan Rata-Rata Kadar Gula Darah
HbA1C (%)

Rata-rata Gula Darah (mg/dl)

6
7
8
9
10
11

135
170
205
240
275
310

12

345

Kadar HbA1C normal pada bukan penyandang diabetes antara 4% sampai dengan 6%.
Beberapa studi menunjukan bahwa diabetes yang tidak terkontrol akan mengakibatkan
timbulnya komplikasi, untuk itu pada penyandang diabetes kadar HbA1C ditargetkan kurang
dari 7 %. Semakin tinggi kadar HBa1C maka akan semakin tinggi pula resiko timbulnya
komplikasi, demikian pula sebaliknya (Ernawati 2013 : 85-86).

7.

Komplikasi

a. Komplikasi Akut
Gangguan keseimbangan kadar gula darah dalam jangka waktu pendek meliputi
hipoglikemia, ketoasidosis diabetic dan syndrome HHNK (Koma Hiperglikemik Hiperosmolar
Nonketokik) atau Hiperosmolar Nonketokik (HONK). (Ernawati, 2013 : 87-106).
1)

Hipoglikemia
Komplikasi hipoglikemia merupakan keadaan gawat darurat yang dapat terjadi pada
perjalanan penyakit DM. Hipoglikemia merupakan keadaan dimana kadar gula darah
abnormal yang rendah yaitu dibawah 50 hingga 60 mg/d. lGlukosa merupakan bahan bakar
utama untuk melakukan metabolisme di otak. Sehingga kadar glukosa darah harus selalu
dipertahankan diatas kadar kritis, yang merpakan salah satu fungsi penting system pengatur
glukosa darah. Bila glukosa darah turun terlalu rendah dalam batas 20-50 mg/100ml lebih
dari beberapa menit, timbul gejala syok hipopolemik, ditandai oleh iritabilitas progresif yang
menyebabkan pingsan, kejang dan koma.

2)

Ketoasidosis Diabetik
Ketoasidosi Diabetik (KAD) adalah keadaan dekompensasi kekacauan metabolic yang
ditandai oleh trias hiperglikemia, asidosis dan ketosis, terutama disebabkan oleh defisensi
insulin absolute atau relative. Keadaan komplikasi akut ini memerlukan penanganan yang
tepat karena merupakan ancaman kematian bagi diabetes.

3)

Synrome Hiperglikemik Hiperosmolar Nonketokik (HHNK)


Perjalanan keadaan HHNK berlangsung dalam waktu beberapa hari hingga beberapa
minggu pada pasien DM tipe 2 yang tidak mengalami absolute defisiensi insulin namun
relative defisiensi insulin. HHNK sering terjadi pada pasien lansia yang tidak menyadari
mengalami DM atau mengalami DM dan disertai dengan penyakit penyerta yang

mengakibatkan menurunnya intake makanan salah satunya seperti infeksi (pneumonia,


sepsis, infeksi gigi).
b. Komplikasi Kronis
1)

Komplikasi makrovaskuler

a)

Penyakit Arteri Koroner


Penyakit arteri koroner yang menyebabkan penyakit jantung koroner merupakan salah satu
komplikas makrovaskuler yang sering terjadi pada penderita DM tipe 1 maupun DM tipe 2.
Proses terjadinya penyakit jantung koroner pada penderita DM disebabkan oleh control
glukosa darah yang buruk dalam waktu yang lama yang disertai dengan hipertensi, resistensi
insulin, hiperinsulinemia, hiperamilinemia, disliedemia, gangguan system koagulasi dan
hiperhomosisteinimia.

b) Penyakit serebrovaskuler
Penyakit serebrovaskuler pasin DM memiliki kesamaan dengan pasien non DM, namun
pasien DM memilki kemungkinan dua kali lipat mengalami penyakit kardiovaskuler. Pasien
yang mengalami perubahan aterosklerotik dalam pembuluh serebral atau pembentukan
emboli ditempat lain dalam system pembuluh darah sering terbawa aliran darah dan
terkadang terjepit dalam pembuluh darah serebral. Keadaan diatas dapat mengakibatkaan
iskemi sesaat. Gejalanya pusing, vertigo, gangguan penglihatan, bicara pelo dan kelemahan.
c)

Penyakit vaskuler perifer


Pasien DM beresiko mengalami penyakit oklusif arteri perifer dua hingga tiga kali lipat
dibandingkan pasien non-DM. Hal ini disebabkan pasien DM cenderung mengalami
perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar pada ekstermitas bawah. Pasien
dengan gangguan pada vaskuler perifer akan mengalami berkurangnya denyut nadi perifer
dan kaludikasio intermiten (nyeri pada pantat atau betis ketika berjalan). Penyakit oklusif

arteri yang parah pada ekstermitas bawah merupakan penyebab utama terjadinya ganggren
yang berakibat amputasi pada pasien DM.
2)

Komplikasi mikrovaskuler

a)

Retinopati diabetik
Hiperglikemia yang berlangsung lama merupakan factor resiko utama terjadinya retinopati
diabetik.

b)

Nefropati diabetik
Nefropati diabetik merupakan sindrom klinis pada pasien DM yang ditandai dengan
albuminuria menetap (<33 mg/24 jam) pada minimal 2 kali pemeriksaan dalam waktu tiga
hingga enam bulan. Penyandang DM tipe 1 sering memperlihatkan tanda-tanda penyakit
renal setelah 15 hingga 20 tahun kemudian, sedangkan penderita DM tipe 2 dapat menderita
penyakit renal setelah menderita 10 tahun kemudian.

c)

Neuropati Diabetik
Menunjukan adanya gangguan klinis maupun subklinis yang terjadi pada penderita DM tanpa
penyebab neuropati perifer yang lain. (Ernawati, 2013 :106-120)

8.

Penatalaksanaan
Pengobatan bertujuan untuk mengurangi gejala-gejala, mengusahakan keadaan gizi
dimana berat badan ideal dan mencegah terjadinya komplikasi. Dalam pengelolaan diabetes
dikenal 4 pilar utama, yaitu : Penyuluhan (edukasi), perencanaan makanan, latihan jasmani
dan obat hipoglikemik. Tujuan pengelolaan diabetes dapat dibagi atas tujuan jangka pendek
dan tujuan jangka panjang. (Waspadji dan sukardji, 2004 : 5)

a. Tujuan jangka pendek adalah hilangnya berbaga keluhan/ gejala diabetes sehingga pasien
dapat menikmati kehidupan yang sehat dan nyaman.

b. Tujuan jangka panjang adalah tercegahnya berbagai komplikasi baik pada pembuluh darah
(mikroangiopatidan makroangiopati) maupun pada susunan saraf (neurofati) sehingga dapat
menekan angka morbiditas dan mortilitas.
Tujuan pengelolaan diabetes tersebut dapat dicapai dengan senantiasa mempertahankan
control metabolic yang bai seperti dicerminkan oleh normalnya kadar glukosa dan lemak
darah. Secara praktis, criteria pengendalian diabetes adalah sebagai berikut :
1) Kadar glukosa darah puasa : 80-110 mg/dl
Kadar glukosa darah 2 jam sesudah makan : 110-160 mg/dl
dan HbA1c : 4 -6,5.
2) Kadar kolesterol total dibawah 200 mg/dl
Kolesterol HDL diatas 45 mg/dl
dan trigliserida dibawah 200 mg/dl.
a.

Penyuluhan (edukasi)
Edukasi merupakan bagian integral asuhan keperawatan diabetes. Edukasi diabetes adalah
pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan
diabetes yang diberikan pada setiap pasien diabetes. Diasamping kepada pasien diabetes,
edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyrakat beresiko tinggi
dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan.
Diantara materi edukasi, yang perludiberikan pada pasien diabetes paling tidak adalah
sebagai berikut :

1)

Apakah diabetes itu?

2)

Factor-faktor

yang

berpengaruh

menekannya.
3)

Pengelolaan diabetes secara umum.

terhadap

timbulnya

diabetes

dan

upaya-upaya

4)

Perencanaan makan dan latihan jasmani

5)

Obat-obat hipoglikemik

6)

Komplikasi diabetes

7)

Pencegahan dan pengenalan komplikasi akut/kronik

8)

Pemeliharaan kaki.

b.

Perencanaan makan DM
Tujuan perencanaan makan dalam pengelolaan diabetes adalah sebagai berikut
(Waspadji dan sukardji, 2004 : 6) :

1)

Mempertahankan kadar glukosa darah dan lipid dalam batas-batas normal.

2)

Menjamin nutrisi yang optimal untuk pertumbuhan anak dan remaja, ibu hamil dan janinnya.

3)

Mencapai dan mempertahankan berat badan idaman.


Untuk penentuan status gizi, secara praktis dipakai rumus Brocca yaitu :

1)

Berat badan idaman : (tinggi badan - 100) - 10%

2)

Berat badan kurang : < 90 %BB idaman

3)

Berat badan normal : 90 110 % BB idaman

4)

Berat badan lebih

5)

Gemuk

: 110- 120 % BB idaman

: >120 %

Cara menghitung pengukuran keseimbangan energi dengan cara mengukur IMT (Indeks
Masa Tubuh)
IMT = Berat Badan (kg)
Tinggi Badan (m)
a)

IMT yang dihubungkan dengan resiko paling rendah terhadap kesehatan adalah 22-25

b)

Berat badan lebih bila IMT antara 25-30

c)

Obesitas bila IMT lebih dari 30

1)

Menghitung Kebutuhan Kalori


Sebelum menghitung kebutuhan kalori yang dibutuhkan seorang pasien diabetes, terlebih
dahulu harus diketahui berapa berat badan ideal (idaman) seseorang. Yang paling mudah
dengan rumus Brocca :

Berat badan idaman = 90% X (tinggi badan


dalam cm 100 ) X 1 kg

(Waspadji
dan
sukardji, 2004 : 7).

Catatan : pada laki-laki dengan tinggi badan <160 cm atau


Perempuan < 150 cm, Berlaku rumus :

Berat badan idaman : (tinggi badan dalam cm 100 ) X 1 kg

Tabel 2.3
Tingkat Kegiatan Sehari-hari untuk Perhitungan Kalori
Ringan
Sedang
Berat
Mengendarai mobil
Kerja rumah tangga
Aerobik
Memancing
Bersepeda
Bersepeda
Kerja Lab
Bowling
Memanjat
Kerja sekertaris
Jalan cepat
Menari
Mengajar
Berkebun
Lari

Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan seorang pasien
diabetes :

1. Menghitung kebutuhan basal dahulu dengan cara mengalikan berat badan idaman dengan
sejumlah kalori :
a.

Berat badan idaman dalam kg X 30 KKal untuk laki-laki

b.

Berat badan idaman dalam kg X 25 KKal untuk perempuan


Kemudian ditambah dengan jumlah kalori yang diperlukan untuk kegiatan sehari-hari (lihat
table 2.3). tampak pada table itu ada tiga jenis kegiatan, dari yang ringan sampai yang berat.

1)

Kerja ringan

: tambah 10% dari kalori basal

2)

Kerja sedang

: tambah 20 % dari kalori basal

3)

Kerja berat

: tambah 40-100 dari kalori basal

2.

Tambahkan kalori sekitar 20-30 % pada keadaan sebagai berikut :

1)

Pasien kurus

2)

Pasien masih tumbuh kembang

3)

Ada stress misalnya infeksi, hamil atau menyusui

3.

Kurangi kalori bila gemuk sekitar 20-30% tergantung pada tingkat kegemukannya.
Cara lain seperti tertera pada table 2.3 yang tampaknya lebih mudah. Tampak pada table itu
bahwa seseorang dengan beerat badan normal yang bekerja santai memerlukan 30 KKal/kg
BB idaman. Yang kurus dan bekerja berat memerlukan 40-50 KKal/kg BB idaman. Dengan
cara ini perlu ditambah-tambahkan lagi.

Untuk gampangnya, secara kasar dapat dibuat suatu pegangan sbb:

Pasien kurus

: 2300-2500 Kkal

Pasien berat normal

: 1700-2100 Kkal

Pasien gemuk

: 1300-1500 Kkal
Tabel 2.4
Kebutuhan Kalori pada Pasien Diabetes
Dewasa
kerja santai
Kerja sedang
Gemuk
20-25
30

Kerja berat
35

Normal
Kurus

30
35

35
40

40
40-50

(Waspadji dan sukardji, 2004 : 5-12)


Tabel 2.5
Cara Menentukan Kebutuhan Kalori
Nama :..
DATA
TB :..cm BB ideal = 90% (TB 100) kg =..kg ..(a)
(Wanita <150 cm, Pria <160 cm, BB ideal = TB 100 kg)
BB aktual = ..kg Gemuk/Kurus
Jenis kelamin = laki-laki/wanita
Kalori basal = .kalori (laki-laki : 30 kal/kg, wanita : 25 kal/kg (b)
Aktivitas : ringan/ sedang
Umur : ..Thn
PERHITUNGAN KALORI
Kalori basal :a x b =x
=..kalori (c)
Koreksi :
Umur . 40 thn -5% x c = -5% x = -...kalori
Aktivitas : ringan : + 20% x c= +20% x... = +..kalori
Sedang : +30% x c= +30% x . = + .kalori
Berat badan : gemuk -20% x c = -20% x .= .kalori
Kurus +20% x c = +20% x=...kalori
Total kebutuhan
DIET : DM kalori

=kalori

(Waspadji dan sukardji, Jakarta 2004 : 30)


2)

Komponen gizi pada diabetes


Menurut Waspadji dan sukardji, 2004, diantaranya
Karbohidrat
Tujuan diet ini adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks (khususnya yang
berserat tinggi) seperti roti, gandum utuh, nasi beras tumbuk, sereal dan pasta / mie yang
berasal dari gandum yang masih mengandung bekatul.

Karbohidrat sederhana tetap harus dikonsumsi dalam jumlah yang tidak berlebihan dan lebih
baik jika dicampur ke dalam sayuran atau makanan lain daripada dikonsumsi secara terpisah
Lemak
Pembatasan asupan total kolesterol dari makanan hingga < 300 mg / hr untuk membantu
mengurangi faktor resiko, seperti kenaikan kadar kolesterol serum yang berhubungan
dengan proses terjadinya penyakit koroner yang menyebabkan kematian pada penderita
diabetes
Protein
Makanan sumber protein nabati (misal : kacang-kacangan dan biji-bijian yang utuh) dapat
membantu mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh.
Serat
Terdapat pda tumbuh-tumbuhan, biji-bijian dan buah-buahan dan secara fisis dapat dijumpai
dalam dua bentuk yaitu yang larut dan ada yang tidak larut.
3)

Pemanis pada diabetes


Selama ini zat yang ada dipasaran adalh sukrosa, fruktosa, sorbitol, manitol, xylitol,s akarin,
siklamat dan aspartam. Yang mengandung kalori hanyalah sukrosa dan fruktosa. Oleh
karena itu penggunaannya harus dibatasi atau malah dihindari. Yang lain tidak ada atau
sangat sedikit kalorinya. Karena ada petunjuk karsinogenik pada binatang, penggunaan
sakarin dan siklamat sekarang sangat terbatas. Sebenarnya gula masih dapat digunakan
dalam jumlah terbatas, tidak melebihi 5% dari kalori, misalnya gula dapat digunakan dalam
bumbu masakan (Waspadji dan sukardji, 2004 : 13-14).

c.

Latihan jasmani

Menurut Waspadji dan sukardji (2004) , dalam pengelolaan diabetes, latihan jasmani yang
teratur memegang peran penting terutama pada DM tipe 2. Manfaat latihan jasmani yang
teratur pada diabetes antara lain adalah
1)

Memperbaiki metabolisme

2)

Meningkatkan kerja insulin

3)

Membantu menurunkan BB

4)

Meningkatkan kesegaran jasmani dan rasa percaya diri

5)

Mengurangi penyakit kardioaskule.

Prinsip latihan jasmani bagi penderita diabetes meliputi :


1) Continuous
Misalnya jogging selama 30 menit, maka penderita DM melakukan jogging tanpa istirahat
selama 30 menit.
2) Rytmical
Misalnya jalan kaki, jogging, berlari, berenang, bersepeda, mendayung, main golf, tenis atau
badminton tidak memenuhi syarat karena boleh berhenti.
3) Interval
Misalnya jalan cepat diselingi jalan lambat, jogging diselingi jalan.
4) Progressive
Latihan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dari intensitas ringan hingga sedang.
5) Endurence
Seperti jalan, jogging, berenang dan bersepeda (Ernawati, 2013 :52)
d.

Obat Hipoglikemik
Jika pasien telah melaksanakan program makan dan latihan jasmani teratur; namun
pengendalian kadar glukosa darah belum tercapai, perlu ditambahkan obat hipoglikemik baik

oral maupun insulin. Obat hipoglikemk oral (OHO) tidak dianjurkan pada DM dengan
gangguan hati dan ginjal, dapat dijumpai dalam bentuk golongan :
1. Golongan sulfonilurea
Diberikan pada DM tipe 2 yang tidak gemuk, mempunyai efek utama meningkatkan sekresi
insulin oleh sel beta pankreas. Oleh sebab itu sulfonilurea merupakan pilihan utama pada
pasien dengan BB normal atau kurang. Untuk mengurangi resiko hipoglikemik yang
berkepanjangan, pada pasien diabetes usia lanjut, obat golonga sulfonilurea yang waktu
kerjanya panjang (klorpropamid, glibenklamid) sebaiknya dihindari.
2. Golongan biguanid (Metformin)
Diberikan pada DM gemuk, mempunyai efek utama menurunkan puncak glikemik sesudah
makan. Oleh karena itu prinsip kerja obat ini disamping memperbaiki ambilan glukosa perifer,
juga menghambat secara kompetitif absorpsi glukosa di usus maka dianjurkan pemberiannya
pada setiap mulai makan.
3. Inhibitor glukosidase alfa (acarbose)
Pada diabetes dengan kadar glukosa darah 2 jam sesudah makan yang tinggi. Efektif untuk
menurunkan absorpsi glukosa.
4. Insulin
Dberikan pada DM tipe 21, ketoasidosis/ koma hiperosmolar, stress berat berat badan
menurun cepat, DM hami, gagal/ kontraindikasi dengan OHO. Cara kerja utama insulin yaitu
menurunkan produk glukosa hati dan menaikan pemakaian glukosa agar BB naik dan terjadi
penurunan kadar glukosa didalam darah (Waspadji dan sukardji, Jakarta 2004 : 7-8)

B. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Diabetes Melitus

Asuhan keperawatan keluarga merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam praktek


keperawatan yang diberikan pada klien sebagai anggota keluarga pada tatanan komunitas
dengan menggunakan proses keperawatan, berpedoman pada standar keperawatan dalam
lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan (Mc Closkey & Grace, dalam Gusti
2013 : 51).
Asuhan Keperawatan Keluarga adalah suatu rangkaian yang diberikan melalui praktik
keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah
kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan,
yaitu sebagai berikut (Suprajitno, 2004):
1.

Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah wal pelaksanaan asuhan keperawatan, agar diperoleh data
pengkajian yang akurat dan sesuai dengan keadaan keluarga. Data yang diperoleh dari
pengkajian
a.

Berkaitan dengan keluarga

1)

Data demografi dan sosiokultural

2)

Data lingkungan

3)

Struktur dan fungsi keluarga

4)

Stress dan koping keluarga yang digunakan keluarga

5)

Perkembangan keluarga

b.

Berkaitan dengan individu sebagai anggota keluarga

1) Fisik
2) Mental
3) Emosi
4) Sosio
5) Spiritual
Adapun tujuan pengkajian menurut Suprjitno (2004) yang berkaitan dengan tugas
keluarga dibidang kesehatan, yaitu :

a.

Mengetahui Kemampuan keluarga untuk mengenal masalah kesehatan. Hal ini yang perlu
dikaji adalah sejauh mana keluarga mengetahui fakta dari masalah kesehatan, meliputi
pengertian, tanda dan gejala, factor penyebab dan factor yang mempengaruhi serta persepsi
keluarga terhadap masalah kesehatan terutama yang dialami anggota keluarga.

b.

Mengetahui kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan mengenai tindakan


kesehatan yang tepat, perlu dikaji tentang :

1)

Kemampuan keluarga memahami sifat dan luasnya masalah.

2)

Apakah masalah kesehatan dirasakan oleh keluarga?

3)

Apakah keluarga merasa menyerah terhadap masalah yang dialami?

4) Apakah keluarga merasa takut terhadap akibat dari masalah kesehatan yang dialami anggota
keluarga?
5) Apakah keluarga mempunyai sikap yang tidak mendukung (negative) terhadap upaya
kesehatan yang dapat dilakukan pada anggota keluarga?
6)

Apakah kelarga mempunyai kemampuan untuk menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan?

7)

Apakah keluarga mempunyai kepercayaan terhadap tenaga keshatan?

8) Apakah keluarga telah memperoleh informasi tentang kesehatan yang tepat untuk melakukan
tindakan dalam rangka mengatasi masalah kesehatan?
c.

Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga kemampuan keluarga merawat


anggota keluarga yang sakit, perlu dikaji tentang :

1) Pengetahuan keluarga tentang penyakit yang dialami anggota keluarga (sifat, penyebaran,
komplikasi, kemungkinan setelahtindakan, dan cara perawatannya)
2)

Pemahaman keluarga tentang perawatan yang perlu dilakuakan anggota keluarga

3) Pengetahuan keluarga tentang peralatan, cara, dan fasilitas untuk merawat anggota keluarga
yang mempunyai masalah kesehatan.
4) Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki keluarga (anggota keluarga yang
mampu dan dapat bertanggung jawab, sumber keuangan/financial, fasilitas fisik, dukungan
psikososial).
5) Bagaimana sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit atau membutuhkan bantuan
kesehatan.

d. Untuk mengetahui kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah sehat


yang seha, perlu dikaji tentang :
1)

Pengetahuan keluarga tentang sumber yang dimiliki oleh keluarga disekitar lingkungan
rumah.

2)

Kemampuan keluarga melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan.

3) Pengetahuan keluarga tentang pentingnya dan sikap keluarga terhadap sanitasi lingkungan
yang higenis sesuai syarat kesehatan
4)

Pengetahuan keluarga tentang upaya pencegahan penyakit yang dapat dilakukan keluarga

5) Kebersamaan anggota keluarga untuk meningkatkan dan memelihara lingkungan rumah yang
menunjang kesehatan keluarga.
e.

Untuk mengetahui kemampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan di


masyaraka, perlu dikaji tentang:

1) Pengetahuan keluarga tentang keberadaan fasilitas pelayanan keshatan yang dapat dijangkau
keluarga.
2)

Pemahaman keluarga tentang keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan.

3)

Tingkat kepercayaan keluarga terhadap fasilitas dan petugas keshatan melayani.

4)

Apakah keluarga mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan tentang fasilitas dan
petugas kesehatan yang melayani?

5)

Apakah keluarga dapat menjangkau fasilitas kesehatan dan bila tidak dapat apakah
penyebabnya?

Dari pengkajian Asuhan Keperawatan Keluarga di atas maka diagnosa keperawatan


keluarga yang mungkin muncul pada kasus Diabetes Mellitus adalah (Mubarak, 2012) :
a.

Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah DM yang terjadi pada keluarga

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang arti, tanda atau gejala
penyakit Diabetes Mellitus.
b.

Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi

penyakit Diabetes Mellitus berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat,
berat dan luasnya masalah Diabetes Melitus.

c.

Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan


perawatan Diabetes Mellitus.
d.

Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang

dapat

mempengaruhi

penyakit

Diabetes

Mellitus

berhubungan

dengan

kurangnya

pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus Diabetes


Melitus.
e.

Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan guna

perawatan dan pengobatan DM berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat
terhadap pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang
pentingnya segera datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit
Diabetes Mellitus.

2.

Menentukan Diagnosa Keperawatan


Sebelum menentukan diagnoasa keperawatan tentu harus menyusun prioritas masalah

dengan menggunakan proses skoring seperti pada tabel 2.5 berikut.


Tabel 2.6
Proses skoring menggunakan skala yang telah dirumuskan oleh Balion dan Maglaya,
1978.
No
1.

Kriteria

Sifat masalah :
Tidak/kurang sehat
Ancaman kesehatan
Krisis

Kemungkinan
2
masalah dapat diubah
Dengan mudah
Hanya sebagian
Tidak dapat
3

Potensi masalah untuk diubah


Tinggi
Cukup
Rendah
Menonjolnya masalah

Nilai

Bobot

3
2
1

2
1
0

3
2
1

Masalah berat harus ditangani


Masalah yang tidak perlu

2
1

segera

ditangani
Masalah tidak dirasakan

Skoring
1)

Tentukan skor untuk setiap kriteria

2)

Skor dibagi dengan angka tertinggi dan kalikan dengan bobot

3)

Jumlahkan skor untuk semua kriteria

4)

Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot

3.

Membuat Perencanaan
Menurut Suprajitno (2004) perencanaan keperawatan mencakup tujuan umum dan

khusus yang didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan criteria dan standar yang
mengacu pada penyebab. Selanjutnya merumuskan tindakan keperawatan yang berorientasi
pada criteria dan standar.
Perencanaan yang dapat dilakukan pada Asuhan keperawatan keluarga dengan
Diabetes Melitus ini adalah sebagai berikut (Mubarak, 2012):
a. Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah Diabetes Melitus yang terjadi pada keluarga
berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit Diabetes Melitus.
Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengenal

dan mengerti tentang penyakit

Diabetes Melitus.
Tujuan

: Keluarga mengenal masalah penyakit Diabetes Melitus setelah dua kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit Diabetes Melitus

Standar

: Keluarga dapat menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan gejala penyakit DM, serta
pencegahan dan pengobatan penyakit Diabetes Melitus secara lisan.

Intervensi

:
1)

Jelaskan arti penyakit Diabetse Melitus.

2)

Diskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit Diabetes Melitus.

3)

Tanyakan kembali apa yang telah didiskusikan.

b.

Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi penyakit


Diabetes Melitus berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan
luasnya masalah Diabetes Melitus.

Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengetahui akibat lebih lanjut dari Penyakit
Diabetes Melitus.

Tujuan

: Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan Diabetes
Melitus setelah tiga kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan dan dapat mengambil tindakan yang tepat dalam
merawat anggota keluarga yang sakit.

Standar

: Keluarga dapat menjelaskan dengan benar bagaimana akibat DM dan dapat mengambil
keputusan yang tepat.

Intervensi:
1)

Diskusikan tentang akibat penyakit Diabetes Melitus.

2)

Tanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang menderita
Diabetes Melitus .

c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan Diabetes Melitus berhubungan


dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan perawatan Diabetes
Melitus.
Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat anggota keluarga yang menderita
penyakit Diabetes Melitus.

Tujuan

: Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang menderita
Diabetes Melitus setelah tiga kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan cara pencegahan dan perawatan penyakit Diabetes
Melitus.

Standar

: Keluarga dapat melakukan perawatan anggota keluarga yang menderita penyakit Diabetes
Melitus secara tepat.

Intervensi:
1)

Jelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit Diabetes Melitus.

2)

Jelaskan pada keluarga tentang manfaat istirahat, diet yang tepat dan olah raga khususnya
untuk anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.

d. Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang dapat


mempengaruhi penyakit Diabetes Melitus berhubungan dengan kurangnya pemahaman
keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus Diabetes Melitus .
Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga mengerti tentang pengaruh lingkungan terhadap


penyakit DM.

Tujuan

: Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang penyembuhan dan


pencegahan setelah tiga kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang pengaruh lingkungan terhadap proses
penyakit Diabetes Melitus.

Standar

: Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit Diabetes


Melitus .

Intervensi

:
1)

Ajarkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah dan mengatasi penyakit Diabetes
Melitus misalnya :

a)

Jaga lingkungan rumah agar bebas dari resiko kecelakaan misalnya benda yang tajam.

b)

Gunakan alat pelindung bila bekerja Misalnya sarung tangan.

c)

Gunakan bahan yang lembut untuk pakaian untuk mengurangi terjadinya iritasi.

2)

Motivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah dijelaskan.

e.

Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan guna perawatan


dan pengobatan DM berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat terhadap
pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang
pentingnya segera datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit
Diabetes Melitus.

Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan


sesuai kebutuhan.

Tujuan

: Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan yang tepat untuk mengatasi
penyakit Diabetes Melitus setelah dua kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan ke mana mereka harus meminta pertolongan untuk
perawatan dan pengobatan penyakit Diabetes Melitus.

Standar

: Keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan secara tepat.

Intervensi

: Jelaskan pada keluarga ke mana mereka dapat meminta pertolongan untuk perawatan dan
pengobatan Diabetes Melitus.

4.

Pelaksanaan Rencana Keperawatan / Implementasi


Menurut Mubarak (2012), tahapan dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk

membangkitkan minat keluarga dalam mengadakan perbaikan kearah perilaku hidup sehat.
Implementasi yang dilakukan pada asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes
Mellitus, yaitu :
a.

Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah DM yang terjadi pada keluarga

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit Diabetes Mellitus


1)

Menjelaskan arti penyakit Diabetes Mellitus.

2)

Mendiskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit Diabetes Mellitus.

3)

Menanyakan kembali apa yang telah didiskusikan.


b.

Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk mengatasi

penyakit Diabetes Mellitus berhubungan dengan keluarga tidak memahami mengenai sifat,
berat dan luasnya masalah Diabetes Mellitus, yaitu :
1)

Mendiskusikan tentang akibat penyakit Diabetes Mellitus.

2)

Menanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang


menderita Diabetes Mellitus.
c.

Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan Diabetes Mellitus

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pencegahan dan


perawatan Diabetes Mellitus, yaitu :
1)

Menjelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit Diabetes Mellitus.

2)

Menjelaskan pada keluarga tentang manfaat istirahat, diet yang tepat dan olah raga
khususnya untuk anggota keluarga yang menderita Diabetes Mellitus.
d.

Ketidakmampuan keluarga dalam memelihara atau memodifikasi lingkungan yang

dapat

mempengaruhi

penyakit

Diabetes

Mellitus

berhubungan

dengan

kurangnya

pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap faktor pencetus Diabetes


Mellitus, yaitu :
1)

Menjaga lingkungan rumah agar bebas dari resiko kecelakaan misalnya benda yang tajam.

2)

Menggunakan alat pelindung bila bekerja Misalnya sarung tangan.

3)

Menggunakan bahan yang lembut untuk pakaian untuk mengurangi terjadinya iritasi.

4)

Memotivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah dijelaskan.


e.

Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan guna

perawatan dan pengobatan DM berhubungan dengan sikap keluarga yang kurang tepat
terhadap pelayanan atau petugas kesehatan atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang
pentingnya segera datang ke tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit
Diabetes Mellitus.
1)

Menjelaskan pada keluarga ke mana mereka dapat meminta pertolongan untuk perawatan
dan pengobatan Diabetes Mellitus.

5.

Melaksanakan Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang diberikan, tahap penilaian dilakukan untuk melihat

keberhasilannya. Bila tidak/belum berhasil maka perlu disusun rencana baru yang sesuai
(Mubarak, 2012).
Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan keluarga dengan Diabetes Mellitus
adalah:
a.

Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit Diabetes Mellitus.

b.

Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota keluarga dengan Diabetes
Mellitus.

c.

Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota keluarga yang
menderita Diabetes Mellitus.

d.

Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang penyembuhan dan


pencegahan.

e.

Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan yang tepat untuk mengatasi
penyakit Diabetes Melitus

DAFTAR PUSTAKA
Ernawati, 2013. Penatalaksanaan Keperawatan Diabetes Melitus Terpadu, Mitra Wacana Media,
Jakarta.
Fauzi, Isma, 2014. Buku Pintar Deteksi Dini Gejala, dan Pengobatan Asam Urat, Diabetes Melitus dan
Hipertensi, ARASKA, Jakarta.
Gusti ADP, Salvari, 2013. Asuhan Keperawatan Keluarga, TIM, Jakarta.
Hidayat, Aziz Alimul, 2011, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.
Mubarak, Wahid iqbal, dkk, 2011. Ilmu Pengantar Komunitas Pengantar dan Teori Buku 1, Salemba
Medika, Jakarta.
Mubarak, Wahid iqbal dkk, 2012. Ilmu Pengantar Komunitas Pengantar dan Teori Buku 2, Salemba
Medika, Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta, Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rineka Cipta, Jakarta.
Nurarif, amin huda dkk, 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
dan NANDA NIC-NOC. Media Action, Jakarta.
Profil Puskesmas Periuk Jaya, 2013 dan 2014
Suprajitno, 2004. Asuhan Keperawatan Keluarga, EGC, Jakarta.
Waspadji dan sukardji, 2004. Pedoman Diet Diabetes Melitus, FKUI, Jakarta.