Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KOMPONEN BUDAYA SEBAGAI BAHAN

PEMBELAJARAN MUATAN LOKAL


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal
Dosen Pengampu:
Drs. Sigit Yulianto

Disusun Oleh :
Kelompok 8
1.
2.
3.
4.

Rizqi Amalia
Gina Rizki Yuniarti
Rilo Eko Pambudi
Siti Konipah

(1401412066)
(1401414096)
(1401414298)
(1401414299)

Rombel 4B

PGSD UPP TEGAL


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah ini. Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dan
sebagai materi untuk pembaca agar dapat digunakan sebagai buku panduan
pembelajaran.
Ungkapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Drs. Sigit Yulianto,
selaku dosen mata kuliah Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal dan semua
pihak yang membantu dalam penulisan makalah ini. Besar harapan kami agar
pembaca lebih memahami tentang Komponen Budaya Sebagai Bahan
Pembelajaran Muatan Lokal yang akan dipaparkan dalam makalah ini.
Kami menyadari bahwa keterbatasan waktu kami hanya dapat menyusun
dan menyelesaikan makalah ini dalam bentuk yang sederhana. Kami berharap
agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi generasi muda khususnya
dan masyarakat pada umumnya.
Dalam pembuatan makalah ini tentunya kami tidak terlepas dari kekurangan
dan kelemahan. Untuk itu besar harapan kami untuk menerima kritik dan saran
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Tegal, April 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................................................
Kata Pengantar..................................................................................................................
Daftar Isi...........................................................................................................................
Bab I Pendahuluan.............................................................................................................
A. Latar Belakang Masalah...................................................................................
B. Rumusan Masalah.............................................................................................
C. Tujuan Penulisan...............................................................................................
Bab II Pembahasan............................................................................................................
A. makna kebudayaan, adat dan nilai budaya........................................................
B. muatan lokal dari rumpun budaya.....................................................................
C. strategi pembelajaran bahan kaji budaya.........................................................
Bab III Penutup................................................................................................................
A. Kesimpulan.....................................................................................................
B. Saran...............................................................................................................
Daftar Pustaka .................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sering kali kita menggunakan istilah-istilah nilai budaya, kebudayaan,adat
atau bahkan peradabaan, tanpa kita merinci lebih lanjut apa sebenarnya maka
kata-kata ini. Keracunan ini dapat juga terjadi karena, semua orang sudah
dianggap tahu artinya. Padahal dalam menggunakannya masih tumpang tindih.
Misalnya apa beda budaya dengan peradaban. Sebelum anda mempelajari lebih
lanjut materi muatan lokal dari rumpun budaya ini, beberapa istilah di atas perlu
dibahas. Walaupun kita tahu, ada beberapa kesamaan dan kemiripan diantara
istilah-istilah itu.
Setelah menjelaskan istilah-istilah kebudayaa,adat,peradaban dan nilai
budaya, bab ini menjelaskan lebih rinci tentang muatan lokal dari rumpun budaya
ini. Dengan demikian, anda dapatmengembangkannya lebih lanjut tentang materi
muatan lokal lebih luas. Disamping itu kita juga dihadapkan pada masalah
warisan nilai budaya ini, yang manakah yang perlu kita lestarikan dan yang
manakah yang perlu kita buang. Kita juga dihapkan dengan masuknya nilai
budaya asing, bagaimana pula cara atau sikap kita menghadapi semuanya ini.
Inilah beberapa agenda yang perlu kita cermati secara lebih hati-hati dan waspada.
B. Rumusan Masalah
1. Apa makna kebudayaan, adat dan nilai budaya?
2. Bagaimana muatan lokal dari rumpun budaya?
3. Bagaimana strategi pembelajaran bahan kaji budaya?
C. Tujuan Masalah
1. Menjelaskan makna kebudayaan, adat dan nilai budaya
2. Menjelaskan muatan lokal dari rumpun budaya
3. Menjelaskan strategi pembelajaran bahan kaji budaya

BAB II
PEMBAHASAN

A. Makna Kebudayaan, Peradaban, Adat dan Nilai Budaya


Disiplin ilmu yang secara rinci menggunakan istilah-istilah ini adalah ilmu
antropologi. Secara khusus para akar antropologi mendalami berbagai bentuk
kebudayaan, adat istiadat, baik di masa lalu maupun sekarang. Oleh sebab itu,
tidak ada salahnya jika kita menggunakan hasil-hasil temuan pada ahli antropologi
ini, untuk kita jadikan sebagai pedoman memahami berbagai gejala sosial yang
ada di sekitar kita. Salah seorang pakar antropologi itu adalah
Koentjoroningrat.Menurut Koentjoroningrat (1980) istilah kebudayaan berasal
dari kata Sanskerta yaitu buddhayah bentuk jamak dari budhi yang berarti budi
atau akal . jadi yang dimaksud ke-budya-an itu adalah hal-hal yang
bersangkutan dengan budi dan akal . ada juga yang mengambil kata kebudayaan
itu dari perkembangan budi-daya artinya daya dari budi atau kekuatan akal.
Berdasarkan pengertian ini Koentjoroningrat menyimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan kebudayaan itu adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia,
yang harus dibiaskannya dengan belajar,beserta keseluruhan dari hasil budi dan
karyanya itu.
Peradaban (civilization) adalah unsur-unsur dari kebudayaan yang halus
dan indah seperti kesenian, ilmu pengetahuan, sopan santun dan sistem pergaulan
yang kompleks dalam suatu masyarakat. Itulah sebabnya istilah peradaban ini
disejajarkan dengan kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni
bangunan, seni rupa dan sistem kenegaraan.Koentjoroningrat menjelaskan bahwa
kebudayaan mempunyai 3 wujud yaitu (1) wujud ideel, (2) wujud kelakuan dan
(3) wujud fisik. Adat adalah wujud ideel dari kebudayaan, secara lengkap kita
gunakan adat tata krama sebab adat berfungsi sebagai pengatur kelakuan.
Istilah sistem lapisan budaya adalah lapisan yang paling abstrak dan luas
ruang lingkup. Tingkat adat yang disebut nilai budaya adalah gagasan-gagasan
atau ide-ide yang ada dalam konsep masyarakat. Masyarakat menganggap paling
bernilai. Ia berasal dari emosional jiwa manusia. Misalnya masyarakat itu
menganggap tinggi seseorang bila ia suka berkerjasama dengan sesama manusia
lain, sopan dan santun dalam pergaulan. Tentu saja setiap masyarakat berbedabeda sistem nilai budayanya ini tentang apa yang di anggep bernilai dan
dihormati. Oleh karena itu peran guru sangat penting, guru harus mampu

membaca dan memahami sistem nilai budaya setiap daerah di Nusantara ini. Jika
guru berasal dari suku Jawa dan mengajar di Jawa memang tidak masalah, tapi
bila guru dari suku Jawa dan mengajar di Sumatera disini guru suka atau tidak
suka harus memahami dan mau mengerti sistem nilai budaya orang-orang dari
Sumatra, begitu juga sebaliknya. Inilah salah satu kunci muatan lokal ingin
berhasil dilaksanakan.
B. Muatan Lokal dalam Rumpun Budaya
Dalam muatan lokal yang termasuk kedalam rumpun budaya antara lain:
Seni Rupa, Seni Suara, Seni Tari, Seni Peran, Budaya Tradisional,Budi Pekerti,
Olah raga Tradisonal, dan lain-lain. Di Sumatera dan pulau-pulau lain Aksara
Arab Melayu dan Tulisan Arab Melayu sampai sekarang ini masih sangat populer
dan perlu diajarkan sebagai salah satu bahan kajian. Karena buku-buku warisan
Kerajaan Islam Melayu masih banyak tersimpan di pesantren-pesantren dan
daerah Riau, bahkan orang-orang tua kita yang masih hidup banyak menggunakan
Akasara Arab Melayu ini sebagai alat komunikasi secara tertulis. Karena itu salah
satu mata pelajaran muatan lokal di Sumatera adalah Arab Melayu. Tulisan Arab
Melayu merupakan bagian budaya Melayu yang perlu dikembangkan, baik secara
pengetahuan, ketereampilan berbahasa dan sikap menghargai budaya tersebut.
Oleh karena itu meskipun bahan kaji itu secara sepintas sudah tidak banyak
terdengar di lain propinsi tetapi perlu diangkat menjadi bahan kajian Muatan lokal
di Sumatera.
Masalah kita sekarang bagaimana caranya menanamkan atau mengajarkan
warisan budaya ini pada anak didik. Misalnya apakah siswa dapat menguasai
bahan kajian bahan kajian yang disebutkan dengan hanya mendengarkan cerita
guru, atau tanya jawab antara guru dengan siswa? Demikian juga dengan belajar
Seni Tari dapatkah siswa hanya dengan menyaksikan demonstrasi atau contoh
tarian yang dilakukan oleh guru? Bagaimana pula siswa dapat merasakan seni
gerak yang terkandung didalam tari tersebut? Disinilah letak pentingnya mengajak
siswa menceburkan diri atau masuk ke alam kejiwaan seni itu sendiri siswa harus
menyatu dengan kehidupan seni daerah itu seolah-olah dirinya merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari budaya tersebut. Untuk menciptakan situasi seperti ini
jelas bukan masalah mudah, dan sekali jadi perlu ada proses yang panjang.

Apalagi derasnya sistem budaya barat yang masuk lewat film-film dan video yang
menjamur hari ini, hampir-hampir sistem nilai budaya kita yang bersumber dari
ajaran-ajaran agama semakin pudar. Maka tugas guru sangatlah berat
Muatan lokal yang masuk dalam kajian rumpun budaya ini antara lain:
kesenian (termasuk seni suara, seni rupa, seni tari, seni musik, seni peran), budaya
tradisional yang sering juga disebut dengan budaya dan adat istiadat yaitu bahasa
daerah, olah raga tradisional, permainan tradisioal, budi pekerti, dan pendidikan
lingkungan. Salah satu tujuan kurikulum muatan lokal adalah siswa diharapkan
daapat menjadi akrab dengan lingkungan, khususnya lingkungan budaya yang
sudah dimiliki oleh masyarakat dan hidup dimasyarakat tersebut sampai sekarang.
Maka khusus untuk kesenian daerah disebutkan, tujuan yang diharapkan adalah
mengembngkan bakat dan potensi kesenian daerah yang dimiliki oleh para siswa,
serta untuk berperan serta dalam melestarikan budaya daerah yangjuga merupakan
bagian dari kehidupan masyarakat. Berdasarkan itulah pendekatan yang tepat
terhadap rumpun budaya ini adalah dengan pendekatan menyatupadu
(immersion). didalam pendekatan tersebut siswa merupakan bagian yang tidk
terpisahkan dari kegiatan budaya yang di pelajari. Siswa harus masuk kedalam
budaya, menceburkan diri, masuk ke dalamnya. Jika kegiatan budaya tidak ada,
dalam arti tidak ada kegiatan budaya di lingkungan siswa. Maka dapat dibuat
tiruan atau simulasi (berpura-pura) misalnya budaya berpantun di Masyarakat
Melayu atau memainkan wayang di Jawa. Dengan demkian sisw merasa
menyatupadu dengan kegiatan budaya lokal.
Alasan adanya keharusan menyatupadu dengan budaya lokal ini adalah
agar di dalam diri siswa dapat terjadi proses interalisasi terjadinya proses
interalisasi (mendarah daging) dalam diri siswa terhadap budaya lokal dapat
digambarkan diagram berikut ini:

Mengamati
dengan Seluruh
indra

Memahami
seluruh
aspeknya

Mengenal
secara
mendalam

Merasa
memiliki

mencintaiai
Bersedia melakukan sesuatu
untuknya

Bagan 7.1 proses Internalisasi (mendarah daging) Nilai-nilai Budaya


Keterangan :

proses tahapan yang sebaiknya


Proses tahapan yang mungkin terjadi

Sumber

Modifikasi dari Modul Pendidikan Lingkungan Untuk Penataran


Lokakarya Calon Instruktur Kurikulum Muatan Lokal. Jakarta :
Dircktorat Pendidikan Mencegah Umu (1997).

Berikut ini adalah penjelasan dari diagram di atas sesuai dengan urutan logisnya
seseorang menerima sistem budaya.
1. Mengamati dengan seluruh indra
Dalam kehiduan sehari-hari siswa itu telah melakukan pengamatan dengan
seluruh inderanya terhadap nilai budaya lingkungannya. Tapi untuk lebih
mendekatkan kembali siswa dengan budaya lokalnya ini perlu dirangsang
kembali untuk mengamati objek, kejadian atau kegiatan. Pengamatan
tersebut bukan hanya dilakukan dengan indera mata saja (seperti lazimnya
orang mengartikan),tetapi juga pendengaran, rabaan, penciuman dan
pencecapan. Bila mungkin, disertai juga dengan dengan indera kinetis,
yaitu menggerakan bagian tubuh dan ototnya. Contoh: siswa diajak
mengamati upacara adat perkawinan,selamatan, upacara kelahiran bayi
dan sebagainya. Siswa diajak untuk mendiskusinya, untuk taraf
perkembangan jiwa anak, cukuplah mengemukakan aspek-aspek
positifnya saja dulu.
Walaupun ada hal-hal yang sudah dianggap kuno, sebaiknya siswa dijak
untuk menghormati budaya itu, meski ia dari suku yang berlainan

a. Dengan indra mata,siswa melihat urutan peristiwa yang dilalui dalam


upacara selapanan
b. Dengan telinga (indera pendengaran), siswa mendengarkan pidato
tentang maksud upacara selapanan: sejarah atau riwayat terjadinya
kebiasaan memperingati bayi yang mencapai usia 35 hari.
c. Dengan indera peraba, siswa diminta untuk meraba sesaji yang ditata
di tempat upacara, satu demi satu, bertanya tentang maka masingmasing simbul.
d. Dengan penciuman, siswa diminta untuk membahu/ mencium berbagai
benda yang khusus disajikan untuk upacara
e. Dengan pencecapan, siswa diminta untuk mencicipi makanan yang
khas untuk peristiwa selapanan
f. Dengan indera kinestis (penggerak otot dan saraf), siswa diminta untuk
menirukan gerakan-gerakan yang dilakukan oleh petugas khusus
sehubungan dengan upacara tersebut.
2. Memahami seluruh aspeknya
Jika langkah pertama d atas berjalan lancar, dan siswa tersebut
mengikutinya secara keseluruhan, secara tidak langsung siswa tersebut
sudah menggunakan seluruh kemampuannya untuk mengamati secara
cermat. Misalnya pada upacara selamatan pada bayi yang baru lahir. Perlu
di beri nama dan didoakan. Sebagai indikatornya dapat kita tanyakan
langsung kepada siswa. Boleh jadi ia juga telah di beritahu oleh orang
tuanya di rumah. Kalau begini tugas guru sudah lebih ringan.
3. Merasa memiliki
Dengan menceritakan peristiwa tentang upacara selamatan siswa akan
merasa bangga karena sudah menyaksikan peristiwa unik yang hanya ada
di daerahnya. Rasa bangga tersebut akan diikuti oleh rasa memiliki, bukan
milik orang lain.
4. Mencintai
Menumbuhkan rasa mencintai terhadap budaya ini juga masalah sulit,
yang lebih efektif adalah guru sendiri memberi contoh, bukan hanya
bercerita tetapi juga terlibat secara langsung. Jika upacara di atas
dilakukan secara hati-hati dan berkali-kali, maka rasa memiliki tersebut
dapat berkembang menjadi rasa cinta. Perasaan cinta ditandai oleh
munculnya beberapa perilaku, misalnya ingin mengulang-ulang melihat

peristiwa seperti itu lagi, kecewa jika tidak sempat menyaksikan peristiwa
langka itu, menyisihkan waktu dan kalu perlu tidak segan-segan
mengalahkan kegiatan lain, dan sesudah selesai menyaksikan akan
bercerita dengan nada gembira dengan semangat yang berapi-api. Tanda
mencintai yang lain adalah siswa akan marah apabila budaya yang
dimilikinya itu dicemooh oleh orang lain. Ia akan melindunginya
5. Bersedia melakukan sesuatu
Inilah tahap yang paling tinggi dari proses internalisasi (proses
mendarahdagingnya) suatu budaya pada diri siwa. Jika siswa sudah sampai
pada tingkatan mencintai, biasanya demi cinta iitu, siswa bersedia
melakukan sesuatu hal yang dicintainya. Untuk upacra selapanan tersebut,
misalnya siswa mau membantu melaksanakan upacara dengan serius, dan
lebih jauh lagi siswa bersedia ikut melestarikannya.
Namun seiring kali yang terjadi di masyarakat, tidaklah sesuai dengan
urutan diatas. Ada juga orang yang langsung melakukan sesuatu tanpa memahami
dan mengerti apalagi mencintai . apakah sikap orang ini keliru . jelas tidak, ia
dapat saja telah melakukan sesuatu terhadap sistem nilai budaya, baru kemudian
pelan-pelan ia diberi pengertian. Jadi ia mencelup, meleburkan dirinya dulu, baru
mengerti dan memahami.
Akhir-akhir ini, bukan rahasia lagi bahwa tidak banyak diantara anak-anak
kita sekarang tertarik pada budaya daerah. Alasannya bermacam-macam: yang
tidak menarikalah, yang takut dikatakan ketinggalan jamanlah, yang tidak dinamis
dan lain-lain alasan lagi yang kadang-kadang seperti halnya dicari-cari saja.
Untunglah bahwa setelah menyaksikan gejala seperti itu pemerintah kta cepat
tanggap dan mengeluarkan kebijakan tentang Muatan Lokal masuk di kurikulum.
Lantas apa misi lain yang harus dilakukan muatan lokal menghadapi
perubahan pandangan siswa ini? Tidak ada alternatif lain kecuali turut melawan
ketidaksenangan atau ketidaktertarikan siswa tersebut, mungkin awalnya siswa
terpaksa, selajutnya dengan berbagai penjelasan guru muatan lokal harus pandaipandai memilih cara yang strategis dan sungguh- sungguh menyenangkan siswa.
Menurut hukum didatikyang sudah Anda pelajari di lembaga pendidikan guru,
keberhasilan pembelajaran sangat ditentuka oleh minat siswa terhadap

pembelajaran tersebut. Lebih awal dari proses itu, minat siswa terhadap
pebelajaran itu akan tinggi apa bila guru mengajar secara menarik. Pendekatan
Arket yang menekankan pada aktivitas dan kreativitas siswa, apabila diterapkan
dengan benar oleh guru, maka siswa secara otomatis tertarik.
Budaya daerah dan adat istiadat adalah sesuatu yang berkenaan dengan
nilai. Tidak ada satu definisi yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengertian
Budaya dan Adat Istiadat, tetapi dapat terangkan bahwa budaya yang dimiliki
oleh masyarakat di suatu daerah tertentu, termasuk di dalamnya: kebiasaan, adat
istadat, dan aturan-aturan yang pada umunya tidak tertulis seperti misalnya tata
krama, tata cara, dalam pergaulan, hasil karya manusia berupa benda, simbol atau
perlambang.
Dalam pengertian yang singkat, seperti yang dikemukakan oleh
Koentjooroningrat diatas, budaya dapat juga diartikan sebagai semua bentuk hasil
oleh pikir manusia. Wujud dari budaya antara lain: bahasa ( sebagai lambang
kata), upacra dan tata krama (lambang perilaku), kesenian daerah (lambang benda
dan penampilan), dan lain-lain. Di dalam GBPP Muatan Lokal yang dapat dilihat
nama-nama bahan kajian untuk seluruh propinsi antara lain adalah: Budaya Alam,
Minangkabau, Budaya Daerah, Budi Pekerti, Kesenian Daerah dan Olahraga,
Organisasi Sosial dan Adat Istiadat Daerah Sulawesi Tenggara, Kesenian dan
Budaya Banjar, Pengetahuan Adat dan Tradisi.
Apa sebab siswa perlu mempelajari Budaya dan Adat Istiadat? Sudah
dijelaskan bahwa di dalam budaya terdapat nilai-nilai atau norma-norma setempat
yang perlu diikuti oleh semua warga generasi penerusnya. Akan sangat
memperhatikan apabila siswa tidak mengetahui sopan satun dalam berbicara dan
berperilaku menurut aturan yang berlaku didaerahnya. Lebih jauh dapat dipahami
bahwa dengan mempelajari budaya dan adat istiadat setempat pendidik akan dapat
memperkuat wawasan siswa tentang daerahnya.
Makna budaya itu sendiri tidak dapat dilihat dan disaksikan dengan mata,
tetapi dengan hati. Oleh karena itu pendekatan yang dipilih haruslah yang dapat
menyentuh hati siswa. Apa yang sudah di jelasakan di atas merupakan salah satu
alternatif pemebelajaran bahan kajian rumpun budaya. Marilah kita bicarakan
lebih lanjut apa saja pembelajaran yang dapat diterapkan untuk bahan kajian

budaya agar siswa dapat tersentuh hatinya dan menyatupadu dengannya seperti
yang disebutkan dalam karakteristik pemebelajaran rumpun budaya ini.
C. Strategi Pembelajaran Rumpun Budaya
Secra garis besar bahan kajian budaya menurut Arikunto S (1996) dapat
dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Menggunakan Strategi Formal
Strategi formal dalam pembelajaran dilakukan dengan sengaja, sistematis
terencana, dalam suasana resmi, serta berlangsung di dalam kelas (ruang
praktek) atau tempa tertentu. Khususnya mata pelajaran seni tari, strategi
ini dapat berlangsung di ruang tari, aula, bengkel seni dan sanggar.
Kondisi seperti ini memungkinkan peralihan pengetahuan dan
keterampilan mengajar menjadi tenaga profesional,guru, instruktur atau
pelatih tari, pada gilirannya siswa dapat menyelami, menyatupadu dengan
tarian yang sedang dipelajari. Demikian pula untuk pelajaran seni rupa,
seni ukir, siswa di samping langsung membuat benda ukir, sebelumnya ia
belajar membersihkan benda-benda ukir dulu. Sambil membersihkan
benda-benda itu,secara tidak langsung siswa telah mengamati desain atau
motif yang terdapat di dalam benda-benda itu. Guru tidak perlu langsung
menajarkan motif tertentu, ia dapat pula meminta pada siswa
menggambarkan desain atau motif yang lebih menarik
2. Menggunakan Stategi non-formal
Yang dimaksud strategi non-formal dalam belajar adalah strategi yang
dilakukan di luar guru, atau tanpa anjuran dari guru. Hal ini dapat
berlangsung jika di dalam diri siswa sudah terjadi proses internalisasi
sampai pada taraf mencintai dan bersedia melakukan sesuatu. Hal ini
dapat dilihat dari perilaku siswa yang mendatangi langsung ke tempat
terjadinya peristiwa budaya.
Memang kreteria formal dan non-formal ini tidak begitu jelas dalam
muatan lokal, sebab bagaimanapun guru akan mempertimbangkan nilai
seni dan budaya yang diperoleh siswa dalam mengikuti pelajran dari guru.
Misalnya membiasakan siswa menggunakan bahasa daerah di rumah,
meskipun mungkin di luar rumah menggunakan bahasa nasional.
Penggunaan bahasa daerah di rumah ini dapat juga disebut pembelajaran
secara non-formal.

Target yang ingin dicapai untuk rumpun bahan kajian budaya ini adalah
tumbuhnya rasa memiliki, berkembangnya apresiasi atau penghargaan
terhadap berbagai budaya yang menjadi milik daerah. Untuk mencapai
taraf ini memang tidak mudah, peran guru untuk mengajak muridnya
melihat secra fisik budaya di daerahnya, berikut dengan makna-maknanya
atau nilai filosofis dibalik hasil karya itu juga perlu diberitahukan pada
murid. Hal ini sungguh sangat berarti bagi murid, menumbuhkan rasa
mengagumi dan memiliki budaya daerahnya, betapa tingginya nilai
budaya itu.
Komponen budaya merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan dalam
pengejaran muatan lokal. Strategi pembelajaran rumpun budaya dapat dilakukan
D.dengan
Contoh
Beberapa
Budaya Sebagai Bahan Pengajaran Muatan
strategi
formalRumpun
dan non-formal
Lokal
Seperti sudah kita ketahui yang termasuk rumpun budaya daerah adalah
kesenian (meliputi seni suara, seni rupa, seni musik dan seni peran), budaya
tradisional di sebut juga dengan adat istiadat, bahasa daerah, olah raga tradisonal,
budi pekerti dan pendidikan lingkungan. Dibeberapa propinsi di pulau Sumatra
tulisan dan akasara arab melayu adalah bahan kajian muatan lokal, hal ni termasuk
peninggalan budaya islam yang nyaris dilupakan orang.
Kasus Bahasa Daerah
Masalahnya adalah bagaimanakah cara agar membuat siswa mempunyai
minat yang besar dan senang mempelajari bahasa daerah ? berikut ini adalah
beberapa cara pendekatan akret yang dapat digunakan oleh guru. Walupun cara ini
hanya sekedar garis besarnya saja, namun dapat digunakan sebagai rambu-rambu
untuk dikembangkan lebih lanjut oleh guru.
1. Apakah bahassa daerah ini dapat di pelajari selain diruang kelas? Jika Ya,
maka guru dapat memberi tugas kepada siswa untuk mempelajari bahasa
daerah tersebut misalnya di pasar, mendengar langsung orang yang
sedang berbelanja dan melakukan tawar-menawar
2. Selama pengamatan langsung di pasar itu, guru memberikan tugas yang
berbeda kepada setiap siswa, dengan begini hasilnya dapat saling mengisi.
Artinya bahasa daerah dapat dirancang dengan melibatkan semua siswa.

3. Bila perlu selama kunjungan di pasar itu, siswa tidak hanya


mendengarkan orangsaling berbicara, tetapi ikut juga berbelanja, dengan
begini siswa itu ditantang untuk berbicara walaupun ada kesalahan dalam
mengucapkannya, inilah yang kita sebut learning by doing
4. Ciri khas dengan pendekatan ini adalah dapat dilihat dan dirasakan
hasilnya. Selama di pasar tadi misalnya, secara langsung siswa terlibat
dalam isi pembiaraan, cara berbicara, ragam bicara, intonasi, ritme dan
sebagainya adalah hal-hal yang berkaitan dengan proses.
Kasus Budi Pekerti
Dari seluruh mata pelajaran, agaknya masalah budi pekerti inilah yang
nyaris sangat memperhatikan, ternyata kenakalan remaja semakin meningkat,
perkelahian,kebrutalan, rasa hormat pada guru yang kurang. Semuanya ini
mengingatkn kita betapa rendahnya budi pekerti anak-anak kita sekarang.
Penyebabnya sulit diduga, di mana sumbernya, apakah karena kesalahan sistem
pendidikan atau memang sistem kenegaraan secara keseluruhan. Ini memang
pekerjaan rumah yang teramat berat bagi guru-guru untu mengembalikan budi
pekerti anak-anak.
Jika budi pekerti ini masuk dalam muatan lokal, apakah tidak tumpang
tindih dengan pelajaran Agama dan PPKn? Sebab ketika kita bicara masalah budi
pekerti, maka di sini terkandung masalah nilai baik dan buruk. Untuk mengukur
nilai baik dan buruk ini, belum ada keseragaman. Masuknya budaya Barat melalui
TV dan Film, paling tidak sudah menggeser pengertian baik dan buruk. Tapi
sebenarnya jik anak didik dibekali ajaran agama sejak dini, masalah budi pekerti
telah masuk di dalamnya.
Kasus Olah Raga Tradisional
Setiap daerah memiliki olah-raga tradisional sendiri-sendiri sesuai
dengan keunikannya masing-masing. Ia mengandung nilai, norma dan
kepercayaan. Sekalipun beragam nilai, dan norma tersebut ia masih mengendung
beberapa persamaan. Secara umum olahraga yang ada di daerah itu memang
diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang jelas ciri khas olah
raga tradisional ini adalah membutuhkan gerak dan mengandung unsur
kegembiraan, di samping jasmani sehat.

Sampai saat ini nama dari olah raga tradisonal ini disesuaikan dengan alat
yang digunakan, misalnya Dayung,Sumpit, Panahan, ada juga berdasarkan fungsi
benda yang menjadi patokan untuk disentuh sebagai tempat jethung, maka
permainan tersebut disebut jethungan. Ada juga yang disebut gobag bunder,
karena anak-anak membentuk lingkaran bulat. Disini jelas nama olah raga
tradisonal sangat bervariasi, tapi untuk olah raga bela diri, panahan, dan perangperangan ada beberapa kesamaan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Disiplin ilmu yang secara rinci menggunakan istilah-istilah ini adalah ilmu
antropologi. Secara khusus para akar antropologi mendalami berbagai bentuk
kebudayaan, adat istiadat, baik di masa lalu maupun sekarang. Oleh sebab itu,
tidak ada salahnya jika kita menggunakan hasil-hasil temuan pada ahli antropologi
ini, untuk kita jadikan sebagai pedoman memahami berbagai gejala sosial yang
ada di sekitar kita.
Dalam muatan lokal yang termasuk kedalam rumpun budaya antara lain:
Seni Rupa, Seni Suara, Seni Tari, Seni Peran, Budaya Tradisional,Budi Pekerti,
Olah raga Tradisonal, dan lain-lain. Di Sumatera dan pulau-pulau lain Aksara
Arab Melayu dan Tulisan Arab Melayu sampai sekarang ini masih sangat populer
dan perlu diajarkan sebagai salah satu bahan kajian. Adapun strategi yang harus di
gunakan dalam rumpun budaya yaitu mengunakan strategi formal dan strategi
non-formal.
B. Saran

Seperti yang kita ketahui kita merupakan calon guru yang nantinya akan
menjadi guru untuk mendidik peserta didiknya agar berlaku sesuai nilai dan
norma yang ada, untuk itu dengan adanya komponen budaya yang bersumber
pada muatan lokal diharapkan guru mencapai target yang telah di tentukan dalam
hal ini, target yang ingin dicapai untuk rumpun bahan kajian budaya ini adalah
tumbuhnya rasa memiliki, berkembangnya apresiasi atau penghargaan terhadap
berbagai budaya yang menjadi milik daerah.

DAFTAR PUSTAKA
Rohmaniyah, Siti. 2014. Pendukung Kurikulum Mulok dan Komponen,
http://sitirohmaniyah-nia.blogspot.co.id/2014/05/pendukung-kurikulummulok-dan-komponen.html?m=1 (diakses 20 April 2016)