Anda di halaman 1dari 17

Materi Agama Buddha

Bab 1
KETUHANAN YANG MAHA ESA DALAM AJARAN
BUDDHA
Oleh :
Wendy (150200391)
Grifin Laurent (150200393)

2015/2016
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Medan

1.Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Ajaran Buddha


1.Saddha (Keimanan)
Saddha atau Sradha mempunyai arti kata Keyakinan. Keyakinan disini bukan
berarti kepercayaan yang membabi buta atau asal percaya saja, akan tetapi
suatu "Keyakinan yang didasarkan pada pengertian yang muncul karena
bertanya dan menyelidiki" ( Vimamsaka Sutta, MN)
Keyakinan itu muncul karena pengertian, maka keyakinan umat Buddha pada
sesuatu yang diyakini adalah tidak sama kualitasnya. Tidak ada pengertian
yang sama dari orang yang berbeda-beda, akibatnya kualitas keyakinan setiap
individu berbeda. Contohnya : Walaupun sama-sama siswa SMA beragama
Buddha, namun karena pengetahuan dan pengertian seorang siswa tentang
agama Buddha tidak sama dengan temannya, maka hal ini mengakibatkan
kualitas keyakinan mereka berbeda.
1.1.Keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
1.2.Keyakinan terhadap Tri Ratna/ Tiratana
1.3.Keyakinan terhadap adanya Bodhisattva, Arahat dan Dewa
Bodhisattva
Secara etimologi bodhisatwa terdiri dari kata bodhi, suci dan satwa yang
berarti mahluk.
Jadi kata bodhisatwa artinya mahluk suci.
Secara harfiah bodhisatwa berarti orang yang hakikat atau tabiatnya adalah
bodhi (hikmat) yang sempurna.
Orang yang mempersiapkan diri untuk mencapai tingkat budha. Berdasarkan
sifatnnya bodhsatwa di bedakan menjadi tiga:
Bodhisatwa pannadhika Ialah bodhisatwa yang di dalam usahanya untuk
mencapai tingkat kebudhaan lebih mengutamakan kebijaksanaan, dimana lebih
banyak mengadakan perenungan terhadap hakekat dari kehidupan ini.
Bodhisatwa Saddhadika Ialah bodhisatwa yang didalam usahanya untuk
mencapai tingkat kebudaan lebih mengutamakan keyakinan (sadha) terhadap
darma yang diajarkan oleh budha. Dengan mengembangkan keyakinan
terhadap apa yang diajarkan oleh budha maka tercapailah tingkat budha.
Bodhisatwa viriyadika Ialah bodisatwa yang di dalam usahanya untuk
mencapai tingkat kebudhaan, lebih mengutamakan pengabdian

kepadanpenderitaan semua mahlik dengan kemauan keras. Sebelum Mahayana


timbul, pengertian bodhisatwa sudah di kenal juga, dan dikenakan juga kepada
budha Gautama, sebelum ia menjadi budha. Di situ bodhisatwa berarti orang
yang sedang dalam perjalanan untuk mencapai hikmat yang sempurna, yaitu
orang yang akan menjadi budha. Jadi semula bodhisatwa adalah sebuah gelar
bagi tokoh yang ditetapkan untuk menjadi budha
Arahat
Arahat adalah orang yang telah berhasil membebaskan diri dari dukha
mencapai tingkat kesucian tertinggi.arahat juga merupakan orang yang sudah
bebas daripada segala keinginan untuk di lahirkan kembali, baik dalam dunia
yang tidak berbentuk, maupun di dalam dunia yang tidak berbentuk, ia juga
sudah bebass daripada sgala ketinggian hati, kebenaran diri, dalam
ketidaktahuan.
Proses tercapainya tingkat kesucian arahat adalahterlebih dahulu harus
menjadi bodhisatwa saddhadika, setelah itu dalam usahannya lebih
mengutamakan keyakinan terhadap dhamma yang diajarkan oleh budha
Gautama dan akhirnya tercapailah penerangan sempurna, ialah yang disebut
savaka bodhi dan kemudian menjadi savaka budha yaiyu disebut juga arahat.
1.4. Keyakinan terhadap Hukum Kesunyataan
1.5. Keyakinan terhadap Kitab Suci
1.6. Keyakinan terhadap Nirvana/Nibbana

2.Puja (bakti, ketaqwaan)


Upacara pemujaan atau penghormatan kepada sesuatu atau benda yang
dianggap suci maupun keramat.
Dalam Agama Buddha, kata Puja berbeda arti, makna, cakupan, serta
penulisannya.
2.1.Amisa Puja dan Patipti Puja

Amisa Puja, artinya menghormat dengan materi atau benda, misalnya memuja
dengan mempersembahkan bunga, lilin, cendana/dupa, dll.
Amisa Puja dilaksanakan bermula dari kebiasaan bhikkhu Ananda, yang setiap
hari mengatur tempat tidur, membersihkan tempat tinggal, membakar dupa,
menata bunga, dan lain-lain, mengatur penggiliran umat untuk menemui umat
untuk menemui atau menyampaikan dana makanan.kepada Buddha.
Patipati Puja artinya menghormat dengan melaksanakan ajaran (Dhamma),
mempraktekkan sila, samadhi, dan panna.
Kebaktian merupakan salah satu praktik Patipati puja.
Patipati puja merupakan cara menghormat yang paling tinggi kepada Buddha,
dengan melaksanakan ajaran Buddha berarti telah menghormati Buddha.
seperti kisah Bhikkhu Atadata yang berusaha keras mencapai arahat sebelum
Buddha Parinibbana.
2.2.Sarana Puja
Sikap batin dalam melaksanakan Puja: puja dapat dilaksanakan secara
perorangan atau kelompok, maka yang melaksanakan puja perlu
mempersiapkan batinnya untuk dipusatkan kepada objek tertinggi yaitu
Triratna (Buddha, Dhamma, dan Sangha)
Buddha dihormati sebagai objek tertinggi karena kata Buddha yang dimaksud
adalah mencakup pengertian pencapaian penerangan sempurna. Buddha adalah
penemu jalan kesucian, guru, dan penunjuk jalan ke kesucian.
Dhamma dihormati sebagai objek tertinggi sebagai kebenaran mutlak yang
telah ditemukan oleh Buddha.
2.2.1.Paritta,Sutra,Dharani dan Mantra
2.2.2.Vihara ( Uposathagara, Dhammasala, Kuti, Perpustakaan dan
Pohon Bodhi)
Tempat pelaksanaan Puja yang merupakan kompleks bangunan yang mempunyai
sana lengkap, yang meliputi :
Uposathagara (Gedung Uposatha) : Uposathagara memiliki kegunaan sebagai
tempat untuk melaksanakan upacara pentahbisan Bhikkhu/Bhikkhuni,
Samanera/Samaneri ; tempat mempersembahkan Jubah Kathina ; tempat
membacakan Patimokkha ; Tempat membahas pelanggaran yang dilakukan
Bhikkhu/bhikkhuni
Dhammasala, adalah tempat untukmendengarkan dhamma dan juga tempat
untuk melaksanan puja bakti

Kuti, adalah tempat untuk bhikkhu/bhikkhuni berdiam/ tinggal


Perpustakaan, adalah tempat untuk menyimpan satu set Tripitaka
2.2.3.Cetya atau altar
Cetiya adalah bangunan yang lebih kecil daripada Vihara, yang biasanya hanya
terdapat Bhaktisala, untuk melaksanakan kebaktian. ada beberapa macam
cetya.
Dhamma Cetya, adalah cetya yang memiliki satu set Tripitaka lengkap
Dhatu Cetya, adalah cetya yang memiliki Relik Buddha
Paribhoga Cetya, adalah cetya yang memiliki barang-barang peninggalan
Buddha
Uddesika Cetya, adalah cetya yang hanya memiliki gambar Buddha ataupun
Rupang Buddha
Altar merupakan tempat meletakkan simbol-simbol/lambang-lambang
kesucian agama Buddha, seperti :
- Patung Buddha melambangkan penghormatan kepada Sang Buddha
- Lilin melambangkan penerangan dhamma Sang Buddha.
- Dupa/hio yang melambangkan keharuman Dhamma Sang Buddha.
- Bunga, melambangkan anicca atau ketidakkekalan.
- Air, yang dianggap memiliki sifat-sifat seperti : dapat membersihkan nodanoda, dapat memberikan tenaga kepada makhluk-makhluk, dapat
menyesuaikan diri dengan semua keadaan, selalu mencari tempat yang rendah
(tidak sombong)
-Buah, melambangkan buah dari kamma-kamma kita, selain itu sebagai
lambang dari rasa terima kasih.
2.2.4.Stupa
Bentuk stupa melambangkan pemikiran terpusat.
Merupakan tempat untuk menyimpan relik Buddha atau para arahat.
2.3.Hari Raya Agama Buddha
2.3.1.Magha Puja
Mgha adalah nama bulan lunar yang jatuh pada bulan Februari, dan kebaktian
untuk memperingati peristiwa di bulan Mgha ini disebut Mgha-Pja. Hari
Besar Mgha yang biasanya jatuh pada purnama sidhi bulan Februari / Maret.

Hari Besar Mgha memperingati suatu peristiwa yang terjadi pada purnama
sidhi di bulan Mgha. Peristiwa tersebut adalah:
1. Disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Ajaran Sang Buddha dan Etika
Pokok Para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha ini dibabarkan di Veluvana Vihara di
Rajagaha,
Di hadapan 1.250 Arahat.
Kesemua Arahat tersebut ditahbiskan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi
Bhikkhu)
Kehadiran para Arahat tersebut tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian
satu dengan yang lainnya terlebih dahulu.
2.3.2.Waisak
Hari Raya Waisak pada umumnya jatuh pada purnamasidhi di bulan Mei,
namun kadangkala pada hari-hari pertama bulan Juni bila jatuh pada tahun
kabisat lunar.
1. Arti Dari Prosesi Puja
Hari Waisak dijuluki pula Hari Trisuci Waisak karena pada hari itu umat
Buddha sedunia memperingati Tiga Peristiwa Agung yang terjadi pada zaman
kehidupan Sang Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu. Tiga
Peristiwa Agung tersebut adalah:
1. Bodhisatva (Calon Buddha) yang diberi nama Pangeran Sidharta Gotama
dilahirkan di Taman Lumbini, Nepal, pada tahun 623 S.M.
2. Pangeran Sidharta, yang kemudian menjadi pertapa, di bawah Pohon Bodhi
Suci, di Buddha-Gaya, India, dengan kekuatan sendiri mencapai Penerangan
Agung (mencapai Nibbana) dan menjadi Buddha.
3. Sesudah 45 tahun lamanya mengembara dan memberi pelayanan Dhamma
kepada umat manusia dan para dewa, Sang Buddha Parinibbana atau wafat
pada usia 80 tahun di Kusinara, India pada tahun 543 S.M.
2. Waktu Detik-detik Waisak
2.3.3.Asadha
Asadha adalah nama bulan lunar kedelapan, dari bahasa Sansekerta,
sedangkan bahasa Plinya adalah Asalha. Kebaktian untuk memeperingati Hari
Besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Hari besar Asadha,
diperingati 2 (dua) bulan sesudah Hari Raya Waisak, yang biasanya jatuh pada
bulan Juli, guna memperingati kejadian yang menyangkut kehidupan Sang
Buddha dan Ajaran-Nya, yaitu:

1. Untuk pertama kali Sang Buddha membabarkan Ajaran-Nya kepada 5 (lima)


orang pertapa, bekas teman-temannya sebelum menjadi Buddha, bertempat
di Taman Rusa Isipatana, dekat Vanarasi, India, pada purnama sidhi di bulan
Asalha. Khotbah pertama Sang Buddha ini terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka
Pli dengan nama Dhammacakkappavattana Sutta.
2. Kelima pertapa tersebut adalah Kondaa, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan
Asajji. Dengan adanya 5 (lima) orang pertapa yang menjadi murid Sang
Buddha, maka kemudian terbentuklah Sangha.
Dengan demikian lengkaplah tiga perlindungan Umat Buddha, yaitu Buddha,
Dhamma, dan Sangha atau yang disebut Tiratana (Tiga Perlindungan)
2.3.4.Kathina
Pada purnamasidhi tiga bulan sesudah Hari Besar Asadha, yang jatuh kirakira pada bulan Oktober-November, para bhikkhu telah mnyelesaikan Masa
Vassa, dan umat melakukan persembahan jubah Khatina pada Sangha.
Perayaan tersebut diselenggarakan sebagai ungkapan perasaan terima kasih
umat kepada Bhikkhu yang telah menjalankan Vassa di daerah mereka, dengan
cara mempersembahkan pada Bhikkhu Sangha barang-barang berupa jubah,
perlengkapan Vihara dan kebutuhan Bhikkhu sehari-hari.
NB:Tambahkan Hari Raya Buddhis Mahayana

3.Buddha, Bodhisattva dan Arahat


Secara etimologi bodhisatwa terdiri dari kata bodhi, suci dan satwa yang
berarti mahluk.
Jadi kata bodhisatwa artinya mahluk suci.
Secara harfiah bodhisatwa berarti orang yang hakikat atau tabiatnya adalah
bodhi (hikmat) yang sempurna.
Orang yang mempersiapkan diri untuk mencapai tingkat budha. Berdasarkan
sifatnnya bodhsatwa di bedakan menjadi tiga:
Bodhisatwa pannadhika Ialah bodhisatwa yang di dalam usahanya untuk
mencapai tingkat kebudhaan lebih mengutamakan kebijaksanaan, dimana lebih
banyak mengadakan perenungan terhadap hakekat dari kehidupan ini.
Bodhisatwa Saddhadika Ialah bodhisatwa yang didalam usahanya untuk
mencapai tingkat kebudaan lebih mengutamakan keyakinan (sadha) terhadap

darma yang diajarkan oleh budha. Dengan mengembangkan keyakinan


terhadap apa yang diajarkan oleh budha maka tercapailah tingkat budha.
Bodhisatwa viriyadika Ialah bodisatwa yang di dalam usahanya untuk
mencapai tingkat kebudhaan, lebih mengutamakan pengabdian
kepadanpenderitaan semua mahlik dengan kemauan keras. Sebelum Mahayana
timbul, pengertian bodhisatwa sudah di kenal juga, dan dikenakan juga kepada
budha Gautama, sebelum ia menjadi budha. Di situ bodhisatwa berarti orang
yang sedang dalam perjalanan untuk mencapai hikmat yang sempurna, yaitu
orang yang akan menjadi budha. Jadi semula bodhisatwa adalah sebuah gelar
bagi tokoh yang ditetapkan untuk menjadi budha
Arahat
Arahat adalah orang yang telah berhasil membebaskan diri dari dukha
mencapai tingkat kesucian tertinggi.arahat juga merupakan orang yang sudah
bebas daripada segala keinginan untuk di lahirkan kembali, baik dalam dunia
yang tidak berbentuk, maupun di dalam dunia yang tidak berbentuk, ia juga
sudah bebass daripada sgala ketinggian hati, kebenaran diri, dalam
ketidaktahuan.
Proses tercapainya tingkat kesucian arahat adalahterlebih dahulu harus
menjadi bodhisatwa saddhadika, setelah itu dalam usahannya lebih
mengutamakan keyakinan terhadap dhamma yang diajarkan oleh budha
Gautama dan akhirnya tercapailah penerangan sempurna, ialah yang disebut
savaka bodhi dan kemudian menjadi savaka budha yaiyu disebut juga arahat.
4.Dhammaniyama
4.1.Utu Niyama
Dunia materi terbentuk dari empat unsur utama (mahabhuta), yaitu unsur
pathavi, apo, tejo, dan vayo. Unsur pathavi (secara harfiah berarti "tanah")
merupakan unsur yang bersifat "luasan" dan liat, yang berfungsi menjadi
basis unsur lainnya.
Unsur kedua tidak dapat saling mengikat tanpa dasar untuk ikatan tersebut;
unsur ketiga tidak dapat menghangatkan tanpa basis bahan bakar; unsur
keempat tidak dapat bergerak tanpa dasar untuk gerakannya; semua materi
bahkan atom sekali pun membutuhkan unsur pathavi sebagai basisnya.

Unsur apo (secara harfiah berarti "air") merupakan unsur yang bersifat
kohesif (ikat-mengikat) dan dapat menyesuaikan diri, yang berfungsi
memberikan sifat ikat-mengikat pada unsur lainnya. Unsur ini juga
memberikan kelembaban dan cairan pada tubuh makhluk hidup.
Unsur tejo (secara harfiah berarti "api") merupakan unsur yang bersifat
panas, yang memberikan fungsi panas dan dingin pada unsur lainnya. Karena
unsur ini, semua materi dapat dihasilkan kembali untuk tumbuh dan
berkembang setelah mencapai kematangan.
Unsur vayo (secara harfiah berarti "udara") merupakan unsur yang bersifat
gerakan dan memberikan fungsi gerak pada unsur lainnya. Unsur gerak ini
membentuk kekuatan tarikan dan tolakan pada semua materi.
4.1.1.Alam Semesta
4.1.2.Kejadian Bumi dan Manusia
4.1.3.Kehancuran Bumi
4.2.Bija Niyama
Bija berarti "benih" di mana tumbuhan tumbuh dan berkembang darinya
dalam berbagai bentuk.
Dari pandangan filosofi, hukum pembenihan hanyalah bentuk lain dari hukum
energi. Dengan demikian pengatur perkembangan dan pertumbuhan dunia
tumbuhan merupakan hukum energi yang cenderung mewujudkan kehidupan
tumbuhan dan disebut bija-niyama.
Hukum pembenihan menentukan kecambah, tunas, batang, cabang, ranting,
daun, bunga, dan buah di mana dapat tumbuh. Dengan demikian, biji jambu
tidak akan berhenti menghasilkan keturunan spesies jambu yang sama. Hal ini
juga berlaku untuk semua jenis tumbuhan lainnya dan tidak ada sosok
pencipta yang mengaturnya.
4.3.Kamma Niyama
Perbuatan (kamma) merupakan perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan
seseorang yang disertai kehendak (cetana). Seperti yang disebutkan dalam
kitab Pali: "Para bhikkhu, kehendak itulah yang Ku-sebut perbuatan. Melalui
kehendaklah seseorang melakukan sesuatu dalam bentuk perbuatan, ucapan,
atau pikiran" (Anguttara Nikaya, iii:415).

Di sini kehendak merupakan kemauan (tindakan mental). Dalam melakukan


sesuatu, baik maupun buruk, kehendak mempertimbangkan dan memutuskan
langkah-langkah yang diambil, menjadi pemimpin semua fungsi mental yang
terlibat dalam perbuatan tersebut. Ia menyediakan tekanan mental pada
fungsi-fungsi ini terhadap objek yang diinginkan.
4.4.Citta Niyama
4.5.Dhamma Niyama
Dhamma adalah sesuatu yang menghasilkan (dhareti) sifat dasarnya sendiri,
yaitu kekerasannya sendiri ketika disentuh, sifat khusus sekaligus sifat
universalnya adalah berkembang, melapuk, hancur, dan seterusnya. Dhamma
yang dikategorikan dalam hubungan sebab "menghasilkan" fungsi hubungan
sebab tersebut, dan yang dikategorikan dalam hubungan akibat
"menghasilkan" fungsi akibat atau hasil. Pengertian ini meliputi semua
Dhamma yang dibahas dalam Suttanta dan Abhidhamma Pitaka. Ini juga
meliputi hal-hal yang disebutkan dalam Vinaya Pitaka dengan nama "tubuh
aturan" (silakkhandha).

5.Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Ajaran Buddha


5.1.Lokattara dan Ariya
5.2.Kitab Udana VIII. 3
Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang
Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu,
apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak
Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari
kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi
para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang
Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari
kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
6.Samadhi, sebagai landasan memahami & mengerti Ketuhanan YME
6.1.Bhavana
Bhavana adalah pengembangan yaitu suatu pengembangan batin yang
mengarah pada ketenangan batin atau untuk membebaskan diri dari

penderitaan (dukkha) yang berakar dari tanha sifat kelobhaan, kebencian dan
kebodohan. Bhavana juga sering disebut dengan samadhi yang mana juga
merupakan pengembangan batin dengan cara memusatkan perhatian atau pada
umumnya diketahui oleh khalayak Buddhis adalah konsentrasi pada suatu
obyek dan hanya satu obyek saja dari konsentrasi itu akan timbul pemusatan
pikiran yang kuat yang
disebut Jhana, ini dapat memunculkan kekuatan-kekuatan yang disebut
sebagai abhinna. Ketenangan ini juga dapat juga mengantarkan seorang
meditator mencapai tingkat kesuc
6.1.1. Vipassana Bhavana
vipassana bhavana adalah pengembangan batin dengan obyek yang ada pada
kita (Nama dan Rupa) dan 4 satipathana. Vipassana bhavana ini dilakukan
untuk melenyapkan/memusnahkan dan mencabut akar-akar sebab penderitaan
dengan memahami Anicca, Dukkha, Anatta dan melihat segala sesuatu dengan
apa adanya/ sesuai dengan kenyataan.
6.1.2. Samattha Bhavana
Samatha bhavana adalah pengembangan batin dengan obyek diluar diri
meditator/didalam diri meditator yang berjumlah 40 obyek. Samatha
bhavana ini dilakukan untuk menekan/mengendapkan 5 rintangan batin
(nivarana) dan 10 gangguan (10 Palibhoda).
6.2.Nivarana, Jhana, Abinna
Nivarana adalah rintangan batin atau yang merupakan suatu
penghalang/penghambat kemajuan batin didalam melaksanakan meditasi.
Abhia berarti kemampuan atau kekuatan batin yang luar biasa, atau tenaga batin.
Abhia akan timbul dalam diri orang yang telah mencapai jhana-jhana, dimana jhana
tingkat keempat (catuttha-jhana) merupakan dasar untuk timbulnya abhia ini.
Namun, hal ini juga tergantung pada kusala-kamma (perbuatan baik) dari kehidupan
yang lampau. Mengenai obyek meditasi yang dapat menimbulkan abhia ialah hanya
sepuluh kasina.

6.3.Visuddhi dan Samyojana


Visuddhi magga : Jalan kesucian
Visuddhi magga terdiri dari tujuh tahap, yaitu :

1). Sila Visuddhi :


adalah kesucian pelaksanaan sila. Dalam hal ini berarti seseorang
melaksanakan sila dengan sempurna, yaitu tidak ada sila yang dilanggar. Bagi
umat buddha (Upasaka dan Upasika) melaksanakan Pancasila atai Atthasila.
Sedangkan bagi Viharawan (Anagarini, Anagarika, Samanera, Samaneri,
Bhikkhu dan Bhikkhuni ) melaksanakan Atthasila, Dasasila dan Patimokkha
sila.
2). Citta Visuddhi :
Adalah kesucian batin. Visuddhi ini dipenuhi dengan bermeditasi hingga
mencapai Jhana IV ( Abhidhamma pitaka = Jhana V ). dengan menguasai
(vasita) seseorang memungkinkan memiliki satu atau beberapa abhinna.
3). Ditthi Visuddhi :
Adalah kesucian pandangan terang. Tahap ini dicapai dengan pandangan
seseorang menjadi suci. Sesuai dengan kenyataan ia mengerti tentang batin
dan jasmani ( nama-rupa) atau pancakkhandha. ia menolak pandangan salah
tentang konsep individu, menjadi bebas dari kemelekatan pada ke-Aku-annya
4). Kankhavitarana Visuddhi :
Adalah kesucian mengatasi keragu-raguan. kesucian ini dicapai dengan
mengerti tentang kondisi-kondisi natin dan jasmani, serta telah mengatasi
keragu-raguan sehubungan dengan masa lampau, sekarang dan akan datang,
yang ternyata, itu semua dipengaruhi oleh Karma.
5). Maggamaggananadassana Visuddhi :
Adalah kesucian oleh pengetahuan dan penglihatan tentang jalan dan bukan
jalan. Kesucian ini dicapai karena ia mengerti dengan baik tentang mana jalan
yang benar dan jalan yang salah. Juga pencapaian ini dicapai setelah ia
mengatasi vipassana kilesa, yaitu gangguan yang muncul pada saat
melaksanakan vipassana. Munculnya Vipassana kilesa sering membuat
seseorang beranggapan bahwa ia telah mencapai kesucian, karena vipassana
kilesa ini memang sangat menarik.
Vipassana kilesa ini terdiri dari 10 pengalaman batin, yaitu :
Cahaya gemilang (obhisa)
Pengetahuan (nana)
kenikmatan (piti)
Ketenangan (passadhi )

Kebahagiaan (sukkha)
tekad (adhimokkha)
Semangat (paggaha )
sadar (upatthana )
Keseimbangan (upekkha )
Senang (nikanti )

6). Patipadananadassana visudhi :


adalah kesucian pengetahuan dan penglihatan tentang praktik.
Kesucian ini adalah kebijaksanaan yang disempurnakan dengan sembilan
pengetahuan (nanna),
Secara ringkas sembilan pengetahuan itu adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Perenungan tentang muncul dan lenyap


Perenungan tentang pelenyapan
Perenungan tentang ketakutan
menyadari tentang derita
Perenungan tentang ketidaksenangan
Keinginan untuk pembebasan
Perenungan tentang refleksi
Keseimbangan terhadap segala fenomena
Pengadaptasian kebenaran

Pengetahuan ini direalisasikan dengan mengerti secara mendalam sekali


tentang Tilakhana ( anicca, dukhha, anatta ) yang berlaku kepada segala
sesuatu, sehingga seseorang melihat sega;la sesuatu itu adalah kosong. Ia
terbebas dari ketakutan dan kesenangan, ia menjadi tak terpengaruh dan
seimbang terhadap semua fenomena, ia tidak menganggap mereka sebagai
saya atau milikku.
Ketika seseorang mencapai tahap pencapaian arah dari nibbana, ia
merenungkan tentang tilakkhana, maka ia disebut telah memasuki Tiga
gerbang kebebasan.
Ada tiga gerbang kearah pembebasan dari dunia seperti tersebut dalam
Patisambhida:

Pengertian benar tentang keterbatasan dan proses dari segala


fenomena ( muncul dan lenyap- anicca) serta kegiatan pikiran ke dalam
Animitta Dhatu ( keadaan tanpa bayangan atau gambaran batin )


Ketidaksenangan batin (dukkha) terhadap segala fenomena, - serta
kegiatan pikiran ke dalam Appanihita dhatu ( keadaan tanpa keinginan).

Pengertian benar tentang segala fenomena adalah tanpa aku (anatta),


serta kegiatan ke dalam Sunnata Dhatu ( keadaan kekosongan )
7). Nanadassana Visuddhi :
Adalah kesucian pengetahuan dan penglihatan. Pada tahap ini sesorang telah
memasuki kesucian, ia menjadi ariya puggala ( makhluk suci )
10 Belenggu(Samyojana) kehidupan
10 Belenggu(Samyojana) yg menyebabkan para makhluk berputar-putar dlm
Samsara
1. Sakkayaditthi : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang
kekal.
2. Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.
3. Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat
membebaskan manusia dari penderitaan.
4. Kamaraga : Nafsu Indriya.
5. Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.
6. Ruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk.
(rupa-raga).
7. Aruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa
bentuk.
8. Mana = Ketinggian hati yang halus, Perasaan untuk membandingkan diri
sendiri dengan orang lain .
9. Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.
10. Avijja = Kegelapan bathin, Suatu kondisi batin yang halus sekali karena
yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).
6.4.Ariya Puggala
Ariya-Puggala berarti Orang Suci.

Ariya-Puggala terdapat 4 tingkatan yaitu :


a. Sotapanna: Orang Suci tingkat pertama (Sotpatti-Phala ) yang akan lahir paling
banyak tujuh kali lagi.
b. Sakadagami: Orang Suci tingkat kedua (Sakadagami-Phala ) yang akan lahir sekali
lagi.
c. Anagami: Orang Suci tingkat ketiga (Anagami-Phala ) yang tidak lahir lagi, yaitu tidak
lahir lagi di Kamasugati-Bhumi 7.
d. Arahat: Orang Suci tingkat keempat (Arahatta-Phala ) yang telah terbebas dari
kelahiran dan kematian.

6.4.1.Sotapanna
Sotapanna terdiri dari 3 macam, yaitu :
A1. Sattakkhattu-parama-Sotapanna : Sotapanna paling banyak tujuh kali lagi dilahirkan
di Alam Sugati-Bhumi.
Penjelasannya :
Kalau Sotapanna tersebut tidak mempunyai Jhana, paling banyak tujuh kali lagi lahir di
Alam Kamasugati-Bhumi 7.
Kalau Sotapanna tersebut mempunyai Jhana, paling banyak tujuh kali lagi lahir di Alam
Brahma-Bhumi.
Ada bukti dalam bahasa Pali sebagai berikut :
YE ARIYASACCANI VIBHAVAYANTI
GAMBHIRRAPANNENA SUDESITANI
KINCAPI TE HONTI BHUSAPPAMATTA
NA TE BHAVAM ATTHAMAMADIYANTI.
Artinya :
Barang siapa menembus sepenuhnya Ariya-Sacca 4 yang telah diajarkan oleh YMS
Sang Buddha, walaupun masih ada kealpaan, ia tidak dilahirkan pada kehidupan yang
kedelapan, yaitu hanya akan dilahirkan tujuh kali lagi.
A2. Kolankola-Sotapanna : Sotapanna yang akan dilahirkan dua sampai dengan enam
kali lagi, setelah itu akan menjadi Arahat dan Parinibbana.
Ada bukti yang terdapat dalam Mahatika hal. 654 sebagai berikut :
YAVA CHATTHABHAVA SAMSARANTOPI KOLAM KOLOVA HOTI
Artinya :
Akan harus dilahirkan dari dua sampai dengan enam kali lagi, setelah itu akan menjadi
Arahat dan Parinibbana.
A3. Ekabiji-Sotapanna : Sotapanna yang akan dilahirkan hanya sekali lagi, setelah itu
akan menjadi Arahat dan Parinibbana.
Keterangan :
Sebab apakah Sotapanna terbagi menjadi 3 macam ?
Karena :
a. Sattakkhattu-parama-Sotapanna : Dalam kehidupan yang lampau beliau
melaksanakan Paramita yang kurang tekun , maka bila itu menjadi Sotapanna menjadi
Sattakkhattu-parama-Sotapanna.

b. Kolankola-Sotapanna : Dalam kehidupan yang lampau beliau melaksanakan


Paramita yang setengah tekun maka itu bila menjadi Sotapanna, menjadi KolankolaSotapanna.
c. Ekabiji-Sotapanna : Dalam kehidupan yang lampau beliau melaksanakan Paramita
dengan tekun , maka itu bila menjadi Sotapanna, menjadi Ekabiji-Sotapanna.

6.4.2.Sakadagami
Sakadagami terdiri dari 5 macam, yaitu :
B1. Idha patva idha parinibbayi : Mencapai Sakadagami-Phala di Alam Manusia
dan mencapai Arahatta-Phala ( Arahat ) di Alam Manusia, juga dalam
kehidupan yang sama.
B2. Tattha patva tattha parinibbayi : Mencapai Sakadagami-Phala di Alam
Dewa dan mencapai Arahatta-Phala ( Arahat ) di Alam Dewa, juga dalam
kehidupan yang sama.
B3. Idha patva tattha parinibbayi : Mencapai Sakadagami-Phala di Alam
Manusia, setelah itu meninggal dunia dan dilahirkan di Alam Dewa dan
mencapai Arahatta-Phala ( Arahat ) di Alam Dewa.
B4. Tattha patva idha parinibbayi : Mencapai Sakadagami-Phala di Alam
Dewa, setelah itu meninggal dari Alam Dewa dan dilahirkan di Alam Manusia
dan mencapai Arahatta-Phala ( Arahat ) di Alam Manusia.
B5. Idha patva tattha nibbattitva idha parinibbayi : Mencapai SakadagamiPhala di Alam Manusia, setelah itu meninggal dunia dan dilahirkan di Alam
Dewa. Setelah itu meninggal dari Alam Dewa dan dilahirkan kembali di Alam
Manusia dan mencapai Arahatta-Phala ( Arahat ) di Alam Manusia.
6.4.3.Anagami
Anagami terdiri dari 5 macam, yaitu :
C1. Antaraparinibbayi : Anagami yang mencapai Arahat dan Pari-Nibbana
dalam usia yang belum mencapai setengah usia.
C2. Upahaccaparinibbayi : Anagami yang mencapai Arahat dan Pari-Nibbana
dalam usia yang hampir mencapai batas usia.
C3. Asangkharaparinibbayi : Anagami yang mencapai Arahat dan Pari-Nibbana
dengan tidak usah berusaha keras.
C4. Sasangkharaparinibbayi : Anagami yang mencapai Arahat dan PariNibbana dengan berusaha keras.
C5. Uddhangsoto akanitthgami : Anagami yang mencapai Arahat dan PariNibbana di Alam Akanittha-Bhumi.

6.4.4.Arahat
Arahat adalah orang yang telah berhasil membebaskan diri dari dukha
mencapai tingkat kesucian tertinggi.arahat juga merupakan orang yang sudah
bebas daripada segala keinginan untuk di lahirkan kembali, baik dalam dunia
yang tidak berbentuk, maupun di dalam dunia yang tidak berbentuk, ia juga
sudah bebass daripada sgala ketinggian hati, kebenaran diri, dalam
ketidaktahuan.
Proses tercapainya tingkat kesucian arahat adalahterlebih dahulu harus
menjadi bodhisatwa saddhadika, setelah itu dalam usahannya lebih
mengutamakan keyakinan terhadap dhamma yang diajarkan oleh budha
Gautama dan akhirnya tercapailah penerangan sempurna, ialah yang disebut
savaka bodhi dan kemudian menjadi savaka budha yaiyu disebut juga arahat.

7. Konsep Keselamatan:
7.1.Ortodoks
(keselamatan sepenuhnya tergantung dari pengampunan)
7.2.Heterodoks
(Keselamatan dpt terjadi sebab adanya pengampunan & usaha
manusia)
7.3.Independen
(Keselamatan sepenuhnya tergantung dari usaha manusia)