Anda di halaman 1dari 42

Tinea Unguium

Oleh:
Joko Wibowo S (012116424)
Pembimbing Klinik:
dr. Susilowati, Sp.KK

I.

IDENTITAS

IDENTITAS PENDERITA

Nama
: Tn. M
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur
: 59 tahun
Alamat
: Citromanggisan 03/02,
Secang, Magelang.
Suku
: Jawa
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Purnawirawan TNI AD
No. CM
: 029353
Poli
: Kulit dan Kelamin
Tanggal Periksa : 28 Oktober 2015

Kalijoso,

II. ANAMNESIS
Anamnesis
dilakukan
secara
autoanamnesis dengan pasien pada
tanggal 28 Oktober 2015 pukul 10.00 WIB
di Poli Kulit dan Kelamin RST dr. Soedjono
Magelang dan didukung catatan medis.
A.Keluhan Utama : Kuku seluruh jari
tangan kanan kiri dan kuku jempol kaki
kanan kiri menebal mudah menggumpal
dan berwarna kekuningan.
B. Keluhan Tambahan : Kulit tangan kanan
kiri gatal dan tampak bercak kemerahan.

C. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin
RST dr. Soedjono - Magelang dengan keluhan
utama kuku seluruh jari tangan kanan kiri dan
kuku jempol kaki kanan kiri menebal, lapuk, rapuh
dan berwarna kekuningan yang tidak gatal atau
nyeri 4 bulan yang lalu. Keluhan pada kuku
pasien pertama kali muncul di jempol tangan kiri
lalu menyebar ke seluruh kuku tangan dan jempol
kaki.
Pasien
sudah
menggunakan
salep
Ketokonazole selama 4 bulan untuk mengatasi
kelainan pada kuku tersebut dan pasien mengakui
ada sedikit perbaikan namun kuku masih tampak
kuning dan menggumpal.

Pasien juga mengeluhkan kulit tangan


dan kaki kanan kirinya gatal dan tampak
bercak kemerahan 1 tahun yang lalu.
Pasien sering menggaruk daerah
tersebut dan gatal dirasakan bertambah
jika berkeringat. Pasien sebelumnya
pernah berobat untuk keluhan ini
menggunakan Desoksimetasone, namun
keluhan kembali muncul jika obat habis.
Pasien sudah menderita gatal-gatal di
daerah ini selama 6 bulan namun
keluhan hilang timbul.

D.RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pasien
mengaku
kulitnya
gatal
bertambah jika makan ayam dan telur
Riwayat penyakit asma disangkal
Riwayat rhinitis alergi disangkal
Riwayat konjungivitis alergi disangkal
Riwayat
penyakit
kulit
lainnya
disangkal
Riwayat penyakit sistemik disangkal.

E. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

Riwayat
penyakit
serupa
dalam keluarga disangkal
Riwayat alergi dalam keluarga
disangkal
Riwayat penyakit asma dalam
keluarga disangkal.

F. RIWAYAT PENYAKIT SOSIAL


EKONOMI

Pasien
bekerja
sebagai
Purnawirawan AD, memiliki 1
istri dan 2 orang anak, dan
tinggal
serumah.
Biaya
pengobatan ditanggung pasien
sendiri.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 28
Oktober 2015, pukul 10.00 WIB di Poli Kulit
dan Kelamin RST dr. Soedjono - Magelang.
A. Status Generalis

Keadaan Umum : Baik


Kesadaran
: Kompos mentis
Tekanan Darah
: tidak diperiksa
Laju Nadi
: tidak diperiksa
Laju Napas
: tidak diperiksa
Suhu
: afebris

B. Status Dermatologis
1. Regio / Letak lesi : kuku tangan kanan dan kiri
Efloresensi :

Primer : perubahan
subungual.
Sekunder : -

warna

kuku,

kusam,

lapuk,

hiperkeratosis

Sifat UKK :

Ukuran : Susunan / bentuk : Penyebaran dan lokalisasi : -

Pembesaran KGB : tidak ada

2. Regio / Letak lesi : lengan bawah tangan kanan dan kiri


Efloresensi :

Primer : makula, hipopigmentasi.


Sekunder : erosi, skuama.

Sifat UKK :

Ukuran : bervariasi
Susunan / bentuk : bulat, berbatas tegas, multipel.
Penyebaran dan lokalisasi : tangan dan kaki.

Pembesaran KGB : tidak ada

Gambar 1.1. UKK di kuku dan lengan bawah


tangan kanan dan kiri

3. Regio / Letak lesi : kuku jempol kaki kanan dan kiri


Efloresensi :

Primer : perubahan warna kuku, kusam, lapuk, hiperkeratosis


subungual.
Sekunder : -

Sifat UKK :

Ukuran : Susunan / bentuk : Penyebaran dan lokalisasi : -

Pembesaran KGB : tidak ada

4. Regio / Letak lesi : tungkai bawah kaki kanan dan kiri


Efloresensi :

Primer : makula, hipopigmentasi.


Sekunder : erosi, skuama.

Sifat UKK :

Ukuran : bervariasi
Susunan / bentuk : bulat, berbatas tegas, multipel.
Penyebaran dan lokalisasi : tangan dan kaki.

Pembesaran KGB : tidak ada

Gambar 1.2. UKK di kuku jempol dan tungkai


bawah kanan dan kiri

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tidak dilakukan

D. USULAN PEMERIKSAAN
Pemeriksaan KOH 20%
Pemeriksaan darah tepi
Pemeriksaan kadar IgE

IV. RESUME
Pasien laki-laki usia 59 tahun datang ke Poliklinik
Kulit dan Kelamin RST dr. Soedjono - Magelang
dengan keluhan utama kuku seluruh jari tangan
kanan kiri dan kuku jempol kaki kanan kiri menebal
menebal, lapuk, rapuh dan berwarna kekuningan
yang tidak gatal atau nyeri 4 bulan yang lalu.
Keluhan pada kuku pasien pertama kali muncul di
jempol tangan kiri lalu menyebar ke seluruh kuku
tangan dan jempol kaki.
Pasien juga mengeluhkan kulit tangan dan kaki
kanan kirinya gatal dan tampak bercak kemerahan 1
tahun yang lalu. Pasien sudah menderita gatal-gatal
di daerah ini selama 6 bulan namun keluhan
hilang timbul.

Pemeriksaan Fisik:
Pada pemeriksaan kuku digiti I - V manus
dextra et sinistra dan hallux dextra et
sinistra diitemukan kuku yang tampak
rapuh dan berwarna kusam, lapuk,
hiperkeratosis subungual yang dimulai
dari arah distal.
Pada pemeriksaan regio antebrachii
dextra et sinistra dan regio cruris dextra
et
sinistra
ditemukan
makula
hipopigmentasi disertai erosi dan skuama
dengan bentuk bulat, berbatas tegas,
multipel, dan ukuran bervariasi.

V. DIAGNOSIS
Diagnosis banding
Tinea Unguium

Onikomikosis Kandida (OK)


Onikomikosis moulds
Psoriasis Kuku
Dermatitis Atopik (DA)

Dermatitis Numularis
Dermatitis Kontak Iritan
.Diagnosis kerja
Tinea unguium

Dermatitis Atopik (DA)

VI. PENATALAKSANAAN
Tatalaksana umum :
Edukasi pasien untuk menjaga kebersihan dan
menjaga kelembapan daerah-daerah lipatan
kulit dan kaki.
Edukasi pasien untuk mengeringkan kaki dengan
baik seetiap terpapar dengan air, menggunakan
kaus kaki yang bersih, dan bentuk sepatu yang
baik.
Menjelaskan bahwa penyebab dermatitis atopik
bersifat multifaktorial, dan faktor genetik
memiliki persentase terbanyak.
Meminta pasien untuk menghindari faktor-faktor
pencetus.
Edukasi pasien untuk teratur menggunakan

Tatalaksana khusus :
Sistemik :
Itrakonazol tab 200 mg 1 x 1
Griseofulvin tab 1000 mg 1 x 1
Loratadin tab 10 mg 1 x 1
Topikal :
Ciclopirox lacquer 8% 2 x 1
Hydrocortisone cream 15 gr 2,5% 2 x 1
Tacrolimus ointment 0,1% cream 2 x 1
Bedah :
Avulsi (pengangkatan) kuku yang diikuti
pemberian obat antidermatofit topikal.
Avulsi kuku dapat dilakukan dengan bedah
skapel atau bedah kimia, misalnya dengan
menggunakan urea.

VII.PROGNOSIS
Qua ad vitam : dubia ad bonam
Qua ad sanam : dubia ad bonam
Qua ad fungsional : dubia ad
bonam

TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI
Tinea unguium (dermatophytic onychomycosis) adalah
infeksi jamur dermatofita pada kuku. Sedangkan
onikomikosis adalah infeksi pada kuku yang
disebabkan oleh jamur dermatofita, jamur nondermatofita atau yeast.
Dermatofita
dibagi
menjadi
3
genus,
yaitu
Microsporum, Trichophyton dan Epidermophyton.
Golongan
jamur
ini
mempunyai
kemampuan
mencerna keratin. Patogen lain golongan nondermatofita yang menyebabkan tinea unguium adalah
S. Dinidiatum, S. Hyalinum dan kadang-kadang
Candida spp.

2. EPIDEMIOLOGI

Dapat terjadi baik pada anak-anak maupun


dewasa.
Prevalensi tinea unguium meningkat sesuai
dengan pertambahan usia.
Sekitar 1% pada individu <18 tahun dan hampir
50% pada usia >70 tahun.
Dari 1305 anak yang berusia 3-15 tahun di 17
sekolah di Barcelona tahun 2003-2004 didapatkan
bahwa prevalensi :
Dermatofita di kaki (tinea pedis) 2,5%,
Dermatofita di kepala (tinea kapitis) 0,23%
Dermatofita di kuku (tinea unguium) 0,15%.
The Achilles project memperkirakan prevalensi
tinea unguium di Eropa sekitar 27% dan di

3. ETIOLOGI
Onikomikosis 80-90%.
Semua
jenis
dermatofita
dapat
menyebabkan
tinea
unguium,
penyebab terbanyak adalah:
Trichophyton rubrum (71%)
Trichophyton mentagrophytes (20%)
Penyebab
lain
diantaranya
E.
Floccosum,
T,
violaaceum,
T.
Schoenleinii, T. Verrrucosum.

4. PATOGENESIS

Jamur invasi pada kuku yang sehat.


Jamur dapat masuk melalui tiga cara yaitu:
dari manusia ke manusia (antrofopilik),
dari hewan ke manusia (zoofilik) dan
dari tanah ke manusia (geofilik).
Dermatofita menghasilkan keratinases
(enzim
yang
memecah
keratin)

memungkinkan untuk invasi jamur ke dalam


jaringan keratin.
Dinding sel dermatofit juga mengandung
mannans (sejenis polisakarida) yang dapat
menghambat respon kekebalan tubuh.
Trichophyton rubrum khususnya mengandung
mannans yang dapat mengurangi proliferasi
keratinosit.

Terdapat
beberapa
predisposisi
yang
memudahkan terjadinya tinea unguium yang
mungkin sama dengan penyakit jamur
superfisial lainnya seperti:
Kelembaban,
Trauma berulang pada kuku,
Penurunan imunitas serta gaya hidup seperti
penggunaan kaos kaki dan sepatu tertutup
terus-menerus,
Olahraga berlebihan
Penggunaan tempat mandi umum.
Invasi kuku oleh jamur juga akan meningkat
pada pasien dengan defek pada suplai
vaskularisai seperti akibat pertambahan usia,
insufisiensi vena, penyakit arteri perifer, serta

5. MANIFESTASI KLINIS
1. Onikomikosis Distal Subungual (ODS)

Infeksi dimulai dari stratum korneum daerah


hiponokium atau lipatan kuku, kemudian masuk
ke subungual. Onikomikosis Distal Subungual
(ODS) sering dikaitkan dengan tinea pedis.
Biasanya disebabkan oleh T. rubrum.

2. Onikomikosis
(OSP)

Subungual

Proksimal

Jamur masuk melalui kutikula lipatan kuku


posterior kemudian berpindah sepanjang lipatan
kuku proksimal menginvasi matrik kuku. Pada tipe
ini, paling sering disebabkan oleh T. rubrum. Tipe
ini
selalu
dikaitkan
dengan
keadaan
immunocompromised. Banyak ditemukan pada
pasien HIV. Onikomikosis Subungual Proksimal
(OSP) dapat mengenai satu atau dua kuku.
Gambaran klinis yang dapat ditemukan adalah

3. Onikomikosis Superfisial Putih (OSPT)

Pada tipe ini, jamur menginvasi permukaan dorsal


kuku.
Penyebab
terbanyak
adalah
T.
mentagrophytes atau T. rubrum (pada anak-anak).
Penyebab yang jarang Acremonium, Fusarium,
dan Aspergillus terreus. Permukaan lempeng kuku
yang terinvasi oleh jamur menunjukkan gambaran
putih, seperti tepung/ serbuk kapur (chalky white)
dan kadang mudah retak.

6. DIAGNOSIS BANDING
Sangat penting untuk membedakan
tinea
unguium
dengan
berbagai
penyakit
lain
yang
memberikan
gambaran klinis yang hampir sama,
yaitu :
Kuku psoriasis
Ekzema dan dermatitis kontak
Liken planus
Pakionikia kongenital.

7. DIAGNOSIS
Anamnesis dan gambaran klinis saja pada
umumnya sulit untuk memastikan diagnosis
terutama pada tinea unguium yang
merupakan
kelainan
sekunder
pada
kelainan kuku yang telah ada sebelumnya.
Gambaran klinis harus dikonfirmasi dengan
ditemukannya
elemen
jamur
pada
pemeriksaan mikroskopik langsung dengan
preparat KOH, pemeriksaan histopatologi
dari clipping nail atau dengan biakan jamur.

7. DIAGNOSIS
Anamnesis dan gambaran klinis saja pada umumnya
sulit untuk memastikan diagnosis terutama pada
tinea unguium yang merupakan kelainan sekunder
pada kelainan kuku yang telah ada sebelumnya.
Gambaran
klinis
harus
dikonfirmasi
dengan
ditemukannya elemen jamur pada pemeriksaan
mikroskopik langsung dengan preparat KOH,
pemeriksaan histopatologi dari clipping nail atau
dengan biakan jamur.
Mengingat banyaknya diagnosis banding secara
klinis, maka dapat digunakan pendekatan diagnosis
pada kuku yang distrofi.

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan
mikroskopik
langsung:
KOH 20-30% dalam air atau
dalam dimetil sulfoksida (DMSO)
40%
Pemeriksaan Biakan
Pemeriksaan Histopatologi

9. PENATALAKSANAAN
Obat topikal
Amorolfin:
Bekerja dengan cara menghambat biosintesis
ergosterol jamur.
Dioleskan satu atau dua kali setiap minggu selama 6
bulan sedangkan untuk kuku kaki harus digunakan
selama 9-12 bulan.

Siklopiroks:
Anti
jamur
sintetik
hydroxypiridone,
bersifat
fungisidal, sporosidal dan anti jamur ini mempunyai
penetrasi yang baik pada kulit dan kuku.
Diberikan 2 hari sekali selama bulan pertama, setiap
3 hari sekali pada bulan kedua dan seminggu sekali
pada bulan ketiga hingga bulan keenam pengobatan.

Obat Sistemik

Terapi Bedah
Pengangkatan kuku dengan tindakan
bedah skalpel selain menyebabkan
nyeri juga dapat memberikan gejala
sisa distrofi kuku. Tindakan bedah
dapat dipertimbangkan bila kelainan
hanya 1-2 kuku, bila terdapat
kontraindikasi terhadap obat sistemik,
dan pada keadaan patogen resisten
terhadap obat. Tindakan bedah tetap
harus dikombinasi dengan obat anti
jamur topikal atau sistemik.

10.PROGNOSIS
Kondisi
ini
sulit
diobati,
dibutuhkan pengobatan dalam
waktu
yang
panjang.
Tinea
unguium tahap awal lebih mudah
diobati pada orang muda, dan
individu
sehat
dibandingkan
dengan individu yang sudah tua
dengan kondisi kesehatan yang
buruk.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai