Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Perkembangan Akuntansi Pemerintah di Indonesia mengalami
peningkatan yang signifikan sejak diterapkan Undang-Undang No.17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan diikuti dengan Peraturan
Pemerintah No.24 Tahun 2004 Tentang Standar Akuntansi Pemerintah
serta Turunan Peraturan lain yang Terkait.
Penerapan sistem akuntansi pemerintahan dari suatu negara akan
sangat bergantung kepada peraturan perundang-undangan yang
berlaku pada negara yang bersangkutan. Ciri-ciri terpenting atau
persyaratan dari sistem akuntansi pemerintah menurut PBB dalam
bukunya A Manual for Government Accounting,

antara lain

disebutkan bahwa:
1.

Sistem akuntansi pemerintah harus dirancang sesuai dengan


konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku pada
suatu negara.

2.

Sistem akuntansi pemerintah harus dapat menyediakan informasi


yang

akuntabel

dan

auditabel

(artinya

dapat

dipertanggungjawabkan dan diaudit).


3.

Sistem

akuntansi

informasi

pemerintah

keuangan

yang

harus

diperlukan

mampu
untuk

menyediakan
penyusunan

rencana/program dan evaluasi pelaksanaan secara fisik dan


keuangan.
Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah sistem
akuntansi yang mengolah semua transaksi keuangan, aset, kewajiban,
dan ekuitas dana pemerintah pusat, yang menghasilkan informasi
akuntansi dan laporan keuangan yang tepat waktu dengan mutu yang
dapat diandalkan, baik yang diperlukan oleh badan-badan di luar
1 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

pemerintah pusat seperti DPR, maupun oleh berbagai tingkat


manajemen pada pemerintah pusat.
Sistem akuntansi pemerintah daerah (SAPD) merupakan suatu
instrumen untuk mengoperasionalkan prinsip-prinsip akuntansi yang
telah ditetapkan dalam SAP dan kebijakan akuntansi. SAPD
menunjukkan rangkaian proses akuntansi yang terdiri dari proses
identifikasi

transaksi

keuangan, menjurnal ke dalam buku jurnal,

memposting ke buku besar, menyusun neraca saldo, menyusun kertas


kerja konsolidasian, dan diakhiri dengan penyusunan laporan keuangan.
Sebagai sebuah pedoman, SAPD menjelaskan siapa melakukan apa
dan menegaskan tentang transaksi apa saja yang dicatat dan bagaimana
mencatatnya. Pada prinsipnya, SAPD disusun agar para petugas yang
menjalankan fungsi akuntansi dapat memahami dan menjalankan proses
akuntansi dengan baik dan benar.
Perkembangan akuntansi pemerintahan di Indonesia sangat lamban
dalam

merespons

tuntutan

perkembangan

zaman.

Akuntansi

pemerintahan di Indonesia juga belum berperan sebagai alat untuk


meningkatkan kinerja birokrasi. pemerintah dalam memberikan
pelayanan publik kepada masyarakat. Pada periode lama, output yang
dihasilkan oleh akuntansi pemerintahan di Indonesia sering tidak
akurat, terlambat, dan tidak informatif, sehingga tidak diandalkan dalam
pengambilan keputusan. Malah, segala kekurangan ada dalam akuntansi
pemerintahan pada periode tersebut sering menjadi ladang yang subur
untuk tumbuhnya praktek-praktek KKN.
Namun

demikian,

pada dasawarsa terakhir

yang

berkulminasi

diundangkannya tiga paket keuangan negara, terdapat dorongan yang


kuat untuk memperbaharui akuntansi pemerintahan di Indonesia.
Beberapa faktor penting yang menjadi pendorong tumbuh pesatnya
perkembangan akuntansi pemerintahan di Indonesia akhir-akhir ini
antara lain, adalah:

2 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

1. Ditetapkannya tiga paket UU yang mengatur Keuangan Negara


Pasal 32 (1) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
mengamanatkan hahwa laporan pertanggungjawaban pelaksanaan
APBN/APBD berupa laporan keuangan yang disusun dan disajikan
sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan.
2.

Ditetapkannya UU tentang pemerintahan daerah dan UU


tentang penmbangan antara keuangan pemerintah pusat dan
daerah. Pasal 184 ayat 1; UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah menyatakan bahwa laporan keuangan disusun
dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

3.

Profesi akuntansi. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah lama


menginginkan adanva standar akuntansi di sektor publik sebagai
hal yang paralel dengan telah adanya lebih dahulu standar
akuntansi di sektor komersiil.

4.

Birokrasi. Pemerintahan merupakan penyusun dan sekaligus


pemakai yang berkepentingan akan adanya suatu akuntansi
pemerintahan yang handal. Dengan diundangkannya tiga paket
keuangan negara mendorong birokrat secara serius menyiapkan
sumber daya, sarana, dan prasarananya.

5.

Masyarakat (LSM dan wakil rakyat). Masyarakat melaiui LSM


dan wakil rakyat di

DPR, DPD, dan DPRD juga menaruh

perhatian terhadap praktik good governance pada pemerintahan di


Indonesia. Ditetapkannya undang-undang yang menyangkut tiga
paket keuangan negara dan pemerintahan daerah merupakan
cerminan dari kontribusi aktif para wakil rakyat di DPR. Di
samping itu, pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN/APBD
6.

memerlukan persetujuan dari DPR/DPRD.


Sektor Swasta. Perhatian dari sektor swasta mungkin tidak terlalu
signifikan karena akuntansi pemerintahan tidak terlalu berdampak
secara langsung atas kegiatan dari sektor swasta. Namun,
penggunaan teknologi informasi dan pengembangan sistem

3 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

informasi berbasis akuntansi akan mendorong sebagian pelaku


bisnis di sektor swasta untuk ikut menekuninya.
7.

Akademisi. Akademisi terutama di sektor akuntansi menaruh


perhatian yang cukup besar atas perkembangan pengetahuan di
bidang akuntansi pemerintahan. Perhatian ini sangat erat kaitannya
dengan penyiapan SDM yang menguasai kemampuan di bidang
akuntansi pemerintahan untuk memenuhi kebutuhan tenaga
operasional dan manajer akuntansi di pemerintahan. Beberapa
anggota Komite Standar Akuntansi Pemerintahan saat ini berasal
dari perguruan tinggi. Di samping itu, jurusan akuntansi pada
perguruan tinggi sudah lama memberikan kepada mahasiswa S1
mata kuliah akuntansi pemerintahan. Beberapa perguruan tinggi
juga sudah mulai menawarkan spesialisasi akuntansi sektor publik
pada program magister akuntansinya.

8. Dunia Internasional (lender dan investor). World Bank, ADB, dan


JBIC, merupakan lembaga internasional (lender), yang ikut
berkepentingan untuk berkembangnya akuntansi sektor publik yang
baik di Indonesia. Perkembangan akuntansi tadi diharapkan dapat
meningkatkan

transparansi

dan

akuntanbilitas

dari

proyek

pembangunan yang didanai oleh lembaga tersebut. Lembaga ini,


baik langsung maupun secara tidak langsung, ikut berperanan
dalam mendorong terwqjudnya standar akuntansi pemerintahan
yang menopang perubahan akuntansi pcnwrrntaiarn di Indonesia.
9.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). UU 17/2003 dan UU


15/2004 menyebutkan bahwa Pertanggungjawaban Pelaksanaan
APBN/APBD diperiksa oleh BPK. Untuk dapat memberikan
opininya, BPK memerlukan suatu standar akuntansi pemerintahan
yang

diterima

secara

umum.

Perhatian

BPK

terhadap

pengembangan akuntansi pemerintahan sangat besar antara lam


ditandai dengan partisipasi dari lembaga ini dalam pembahasan tiga
paket UU dengan DPR. Selain itu, pasal 32 (2) UU No. 17 Tahun
200' mengamanatkan bahwa standar akuntansi pemerintahan
4 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

ditetapkm dengan Peraturan Pemerintah setelah terlebih dahuiu


mendapat pertimbangan dari BPK.
10. Aparat Pengawasan Intern Pemerintah. APIP yang meliputi
Bawasda, Irjen, dan BPKP merupakan auditor intern pemerintah
yang berperan untuk membantu pimpinan untuk terwujudnya
sistem pengendalian intern yang baik sehingga dapat mendorong
peningkatan kinerja instansi pemerintah sekaligus mencegah
praktek-praktek KKN. Akuntansi pemerintahan sangat erat kaitan
dan dampaknya terhadap sistem pengendalian intern sehingga
auditor intern mau tidak mau harus memiliki kemampuan di bidang
akuntansi pemerintahan sehingga dapat berperan untuk mendorong
penerapan akutansi pemerintahan yang sedang dikembangkan.
1.2

TUJUAN
Adapun tujuan makalah ini sebagai berikut :
1. Menjelaskan dan menggambarkan Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat
(SAPP)
2. Menjelaskan dan menggambarkan Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD)

1.3

MANFAAT
Adapun manfaat makalah ini sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP)
2. Dapat mengetahui Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD)

5 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP)


Sistem Akuntansi Pemerintah Pusat (SAPP) adalah serangkaian prosedur

baik manual maupun terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan,


pengikhtisaran sampai pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan
pemerintah pusat.(Deddi Nordiawan 2010:191).
Ruang lingkup SAPP adalah pemerintah pusat (dalam hal ini adalah
lembaga tinggi negara dan lembaga eksekutif) serta pemerintah daerah yang
mendapat dana dari APBN (terkait dengan dana dekonsentrasi dan dana tugas
pembantuan). Oleh karena itu SAPP tidak dapat diterapkan untuk lingkungan
pemerintah daerah (yang menggunakan APBD), lembaga keuangan negara serta
BUMN/BUMD.
2.1.1 Pendelegasian Kekuasaan dan Pengelolaan Keuangan Negara

6 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

Keterangan Gambar :
Kekuasaan pengelolaan keuangan negara oleh Presiden:
- Dikuasakan kepada Menteri Keuangan, selaku pengelola fiskal dan Wakil
Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan;
- Dikuasakan

kepada

menteri/pimpinan

lembaga

selaku

Pengguna

Anggaran/Pengguna Barang kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya;


- Diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintahan
daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah
dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan;
- Tidak termasuk kewenangan dibidang moneter, yang meliputi antara lain
mengeluarkan dan mengedarkan uang, yang diatur dengan undang-undang.
2.1.2
1.

Tujuan SAPP
Penjagaan aset

(safeguarding aset) agar aset pemerintah dapat terjaga

melalui serangkaian proses pencatatan, pengolahan dan pelaporan keuangan


2.

yang konsisten sesuai dengan standar;


Memberikan informasi yang relevan (relevance) yaitu menyediakan
informasi yang akurat dan tepat waktu tentang anggaran dan kegiatan
keuangan pemerintah pusat, baik secara nasional maupun instansi yang
berguna sebagai dasar penilaian kinerja untuk menentukan ketaatan terhadap

3.

otorisasi anggaran dan untuk tujuan akuntabilitas;


Memberikan informasi yang dapat dipercaya (reliability) tentang posisi

4.

keuangan suatu instansi dan pemerintah pusat secara keseluruhan;


Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan,
pengelolaan dan pengendalian kegiatan dan keuangan pemerintah secara
efisien (feedback and predictability). SAPP dilaksanakan oleh Menteri
keuangan selaku pengelola fiskal dan wakil pemerintah dalam kepemilikan
kekayaan negara yang dipisahkan. SAPP terdiri dari sistem akuntansi yang
Bendahara Umum Negara (SA-BUN) dan Sistem Akuntansi Instansi (SAI).
SA-BUN merupakan sistem yang memproses data transaksi utang
pemerintah, investasi pemerintah, penerimaan dan pengeluaran pembiayaan,
kas umum negara, serta akuntansi umum;

7 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

2.1.3

Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara (SA-BUN)


Sistem akuntansi pusat adalah sistem yang digunakan untuk menghasilkan

Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara (LK-BUN) yang terdiri atas


Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Posisi Utang,
Laporan Posisi Penerusan Pinjaman, dan Laporan Investasi Pemerintah.
SA-BUN terdiri atas :
1.
Sistem Akuntansi Pusat (SiAP)
SiAP terdiri atas Sistem Akuntansi Kas Umum Negara (SAKUN) yang
menghasilkan LAK dan neraca KUN dan Sistem Akuntansi Umum (SAU) yang
menghasilkan LRA dan neraca SAU.
2.

Sistem Akuntansi Utang Pemerintah dan Hibah (SAUP&H)


SAUP&H menghasilkan laporan realisasi penerimaan hibah, pembayaran

bunga utang, penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan serta neraca.


SAUP&H dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang
selaku unit akuntansi pembantu BUN (UAPBUN). Transaksi pengelolaan utang
terdiri atas :
a. Pembayaran bunga utang dalam dan luar negeri
b. Pembayaran cicilan utang luar negeri
c. Pembayaran cicilan utang dalam negeri
d. Penerimaan utang luar negeri
e. Penerimaan utang dalam negeri
f. Penerimaan hibah
Dokumen sumber pengelolaan utang terdiri atas dokumen anggaran,
dokumen

pengeluaran,

dokumen

penerimaan,

dan dokumen

lain

yang

dipersamakan untuk pengelolaan utang. Pemrosesan dokumen sumber ini akan


menimbulkan pengeluaran pembiayaan dan penurunan nilai utang.
3.

Sistem Akuntansi Investasi Pemerintah (SA-IP)


Sistem ini menghasilkan neraca dan LRA dan dilaksanakan oleh unit yang

menjalankan fungsi penatausahaan dan pelaporan investasi pemerintah, yaitu


Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Departemen Keuangan.
Direktorat Jenderal Kekayaan Negara selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara
Umum Negara (UAPBUN) memproses data transaksi investasi permanen yang
merupakan bahan penyusunan laporan investasi. Kemudian, laporan tersebut
dikirimkan ke Unit Akuntansi Bendahara Umum Negara (UABUN).
4.

Sistem Akuntansi Penerusan Pinjaman (SA-PP)


Sistem Akuntansi Penerusan Pinjaman menghasilkan LRA dan neraca, serta

8 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

dilaksanakan oleh Direktorat Pengelolaan Penerusan Pinjaman Departemen


Keuangan.
5.

Sistem Akuntansi Transfer ke Daerah (SA-TD)


SA-TD menghasilkan LRA dan neraca dan dilaksanakan oleh Direktorat

Jenderal Perimbangan Keuangan.


Transaksi transfer pada pemerintah daerah terdiri atas :

Belanja Dana Perimbangan

Belanja Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian


6.

Sistem Akuntansi Bagian Anggaran Perhitungan dan Pembiayaan (SA-

7.
8.

BAPP)
Sistem Akuntansi Transaksi Khusus (SA-TK)
Sistem Akuntansi Badan Lainnya (SA-BL)
Menghasilkan LRA dan Neraca atas transaksi badan lainnya. SA-BL

dilaksanakan oleh unit-unit eselon 1 di lingkup Departemen Keuangan yang diberi


wewenang oleh

menteri keuangan selaku UPBUN untuk memproses data

transaksi dari badan lainnya sehingga menghasilkan laporan berupa Neraca dan
LRA atas transaksi badan lainnya yang kemudian diberikan kepada UABUN.
2.1.4 Sistem Akuntansi Instansi
Adalah serangkaian prosedur manual dan terkomputerisasi mulai dari
pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai pelaporan posisi keuangan
dan operasi keuangan pada kementerian negara atau lembaga.(Deddi Nordiawan
2010:196).
SAI wajib dilaksanakan oleh setiap kementerian negara/lembaga untuk
menghasilkan laporan keuangan. Untuk melaksanakan SAI, setiap kementerian
negara/lembaga wajib membentuk unit akuntansi yang terdiri atas :
1.
2.

Unit Akuntansi Pengguna Anggaran /Barang (UAPA/B);


Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran /Barang Eselon (UAPPA/B-

3.

EI);
Unit

4.

(UAPPA/B-W);
Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran/Barang (UAKPA/B).

Akuntansi

Pembantu

Pengguna

Anggaran

/Barang-Wilayah

SAI terdiri dari tiga subsistem yaitu :


a.
Sistem Akuntansi Keuangan (SAK)
Subsistem dari SAI yang merupakan menghasilkan informasi mengenai
Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan
9 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

(CaLK) milik kementerian/Instansi. Dalam rangka melaksanakan SAK, setiap


kementerian negara/lembaga membentuk unit akuntansi: UAPA, UAPPA-EI,
UAPPA-W dan UAKPA
b.
Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN)
Subsistem dari SAI yang merupakan serangkaian prosedur yang saling
berhubungan untuk mengolah dokumen suber dalam rangka menghasilkan
informasi untuk menyusun neraca dan laporan Barang Milik Negara serta laporan
manajerial lainnya menurut ketentuan yang berlaku. Dalam rangka melaksanakan
SIMAK-BMN, setiap kementerian Negara/lembaga membentuk unit akuntansi
barang berikut : UAPB, UAPPB-EI, UAPPB-W, dan UAKPB.
c.
Sistem Akuntansi Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (SABAPP)
Subsistem dari SAI yang merupakan prosedur manual dan terkomputerisasi,
mulai dari dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai pelaporan
posisi keuangan dan operasi keuangan atas transaksi keuangan pusat pada
kementerian negara/lembaga dan menteri keuangan sebagai pengguna anggaran.
Meliputi sistem untuk transaksi keuangan yang dilakukan oleh BUN yang
merupakan kewajiban pemerintah atas suatu kegiatan dan tidak dilakukan pada
kementerian Negara/lembaga.
Transaksi keuangan BAPP terdiri atas :
1)
Belanja subsidi
2)
Belanja transfer lainnya
3)
Belanja lain-lain
4)
Transfer kepada pemerintah daerah
Belanja dana perimbangan
Belanja otonomi khusus dan penyesuaian
5)
Pengelolaan utang
Pembayaran bunga utang dalam dan luar negeri
Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri
Pembayaran cicilan pokok utang dalam negeri
Penerimaan pembiayaan
Penerimaan hibah
6)
Belanja penerusan pinjaman
7)
Belanja penyertaan modal Negara
8)
Belanja penerusan pinjaman sebagai hibah
9)
Belanja penerusan hibah
10) Transaksi khusus
Pengeluaran kerja sama internasional
Pengeluaran perjanjian hukum internasional
10 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

2.2

Pengeluaran koreksi dan pengembalian


Pembayaran jasa perbendaharaan
Pembayaran PFK
Pendapatan jasa perbendaharaan dan perbankan

Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah


Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) adalah serangkaian prosedur

mulai dari proses pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan


pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang
dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. SAPD terdiri
atas dua subsistem yaitu :
1.

Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD)


Dilaksanakan oleh PPKD. PPKD akan mencatat transaksi-transaksi yang

dilakukan oleh level pemerintah daerah seperti pendapatan dana perimbangan,


belanja bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan
keuangan, belanja tidak terduga, transaksi-transaksi pembiayaan, pencatatan
investasi serta hutang jangka panjang.
2.
Sistem Akuntansi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Dilaksanakan oleh Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) SKPD.
Transaksi-transaksi yang terjadi di lingkungan satuan kerja harus di catat dan di
laporkan oleh PPK SKPD.
Transaksi yang terjadi di SKPKD dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu :

Transaksi-transaksi yang dilakukan oleh SKPKD sebagai satuan kerja

Transaksi-transaksi yang dilakukan oleh SKPKD pada level pemerintah


daerah
2.2.1

Sistem Akuntansi Satuan Kerja (SKPD)


Satuan kerja merupakan entitas akuntansi yang wajib melakukan pencatatan

atas transaksi-transaksi yang terjadi di lingkungan satuan kerja. Kegiatannya


meliputi pencatatan atas pendapatan, belanja, asset dan selain kas. Proses
tersebut dilaksanakan oleh Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK) berdasarkan
dokumen-dokumen sumber yang diserahkan oleh bendahara.
2.2.2 Akuntansi Pendapatan SKPD
PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
11 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

menyebutkan bahwa pendapatan adalah semua penerimaan rekening kas umum


Negara/daerah yang menambah ekuitas dana lancar pada periode tahun anggaran
yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali
oleh pemerintah.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 menyebutkan
bahwa pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah nilai kekayaan bersih.
Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan asas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran). Akuntansi pendapatan SKPD dilakukan
hanya untuk mencatat pendapatan asli daerah (PAD) yang dalam wewenang
SKPD.
2.2.3 Akuntansi Belanja SKPD
Belanja adalah semua pengeluaran dari rekening Kas Umum Negara/Daerah
yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan
yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
Menurut Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan
daerah, Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai
pengurang nilai kekayaan bersih.
Akuntansi belanja pada satuan kerja meliputi akuntansi belanja UP, GU, TU,
dan Akuntansi belanja LS. UP atau persediaan adalah uang muka kerja yang
bersifat pengisian kembali (revolving). Setiap SKPD biasanya mendapat UP di
awal tahun anggaran dari bendahara umum daerah.

GU (ganti uang), yaitu

penggantian uang persediaan (reimburshment). jurnal penerimaan uang GU dan


pelaksanaan belanja GU sama dengan penjurnalan pada UP. TU (tambah uang )
adalah tambahan uang persediaan guna melaksanakan kegiatan SKPD yang
bersifat mendesak dan tidak dapat tercukupi dengan uang persediaan. Jurnal
penerimaannya sama dengan penjurnalan pada UP dan GU. Belanja Langsung
(LS) adalah belanja yang dilakukan oleh SKPD, mengalir langsung dari rekening
kas daerah kepada pihak ketiga atau pihak lain yang telah ditetapkan. Terdiri dari
belanja LS gaji dan tunjangan dan belanja LS barang dan jasa. Perlakuan
akuntansi untuk belanja LS adalah PPK SKPD mencatat belanjanya sedangkan
pengeluaran kas dicatat oleh PPKD
12 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

2.2.4 Akuntansi Aset SKPD


Meliputi pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan, pemeliharaan,
rehabilitasi, perubahan klasifikasi, dan penyusutan terhadap aset tetap yang
dikuasai/digunakan SKPD. Transaksi tersebut digolongkan dalam dua kelompok
besar yaitu penambahan nilai aset tetap dan pengurangan nilai aset tetap.
Penambaan nilai aset tetap dapat berasal dari perolehan aset tetap
melalui belanja modal. Perolehan aset tetap dari bantuan, hibah, donasi revaluasi
aset dari kegiatan sensus barang dan sebagainya. Sementara pengurangan nilai
aset tetap dapat terjadi karena pelepasan atau penghapusan barang daerah,
depresiasi/penyusutan, dan pentransferan aset tetap pada SKPD lainnya.
Mekanisme akuntansinya dimulai dengan pembuatan bukti memorial oleh PPK.
dokumen sumber untuk membuat bukti memorial tersebut adalah bukti transaksi,
antara lain berita acara penerimaan barang, berita acara serah terima barang, berita
acara penghapusan barang, atau berita acara penyelesaian pekerjaan. Bukti
memorial akan menjadi dasar penjurnalan aset tetap, baik penambahan maupun
pengurangan.
2.2.5 Akuntansi Selain Kas SKPD
Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD :
1. Koreksi kesalahan pencatatan
Merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah
diposting ke buku besar yang dilakukan oleh PPK SKPD.
2. Pengakuan aset, hutang dan ekuitas
Merupakan pengakuan terhadap perolehan/perubahan

nilai/pelepasan

aset,hutang, dan ekuitas yang terjadi di SKPD.


3. Jurnal depresiasi
Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh aset tetap SKPD dapat
disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut. Jurnal
penyusutan aset tetap ini dibuat di akhir tahun.
4. Jurnal terkait dengan transaksi yang bersifat accrual dan prepayment
Jurnal tersebut merupakan jurnal yang dilakukan karena transaksi yang sudah
dilakukan SKPD, tetapi pengeluaran kas belum dilakukan (accrual) atau terjadi
transaksi pengeluaran kas untuk belanja di masa mendatang (prepayment).

13 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

2.2.6

Penyusunan Laporan Keuangan SKPD


Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi

keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan.


Tujuannya adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi
anggaran, arus kas dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat
bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya.
Laporan keuangan yang harus dibuat oleh SKPD adalah :
1. Laporan Realisasi Anggaran
2. Neraca
3. Catatan atas Laporan Keuangan
Proses pembuatan laporan keuangan SKPD secara manual pada dasarnya
sama dengan proses pembuatan laporan keuangan pada akuntansi komersil.
Dimulai dengan posting jurnal yang telah dibuat ke buku besar, penyusunan
neraca saldo, pencatatan jurnal penyesuaian penyusunan neraca saldo yang telah
disesuaikan, hingga membuat LRA dan Neraca. Proses tersebut dapat dibantu
dengan menggunakan worksheet atau kertas kerja.
PPK SKPD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi neraca
saldo. Angka-angka neraca tersebut diletakkan di kolom neraca saldo pada
worksheet SKPD kemudian PPK membuat jurnal penyesuaian. Juranl penyesuaian
tersebut diletakkan pada kolom penyesuaian yang terdapat pada kertas kerja.
Jurnal penyesuaian yang diperlukan antara lain digunakan untuk :

Koreksi kesalahan /pemindahbukuan

Pencatatan jurnal yang belum dilakukan (accrual atau prepayment)

Pencatatan piutang, persediaan, dan atau aset lainnya pada akhir tahun.
PPK melakukan penyesuaian atas neraca saldo berdasarkan jurnal
penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya. Nilai yang telah disesuaikan
diletakkan pada kolom neraca saldo setelah penyesuaian yang terdapat pada
kertas kerja. PPK mengidentifikasi akun-akun yang termasuk dalam komponen
LRA dan memindahkannya ke kolom Laporan Realisasi Anggaran yang
terdapat pada kertas kerja. Begitu juga akun-akun yang termasuk dalam
komponen neraca akan dipindahkan ke kolom Neraca yang terdapat pada kertas
kerja. Dari kertas kerja yang telah selesai diisi, PPK dapat menyusun laporan
keuangan yang terdiri atas neraca dan laporan realisasi anggaran.
2.2.7

Sistem Akuntansi Pemda/PPKD

14 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

Merupakan sebuah entitas akuntansi yang dijalankan oleh fungsi akuntansi


di SKPKD yang mencatat transaksi-transaksi yang dilakukan oleh SKPKD dalam
kapasitas sebagai pemda. SKPKD adalah suatu satuan kerja yang mempunyai
tugas khusus untuk mengelola keuangan daerah. SKPKD biasanya dikelola oleh
suatu entitas tersendiri berupa Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD).
Sistem akuntansi PPKD meliputi:
1.
Akuntansi pendapatan PPKD
2.
Akuntansi belanja PPKD
3.
Akuntansi pembiayaan
4.
Akuntansi aset (investasi jangka panjang)
5.
Akuntansi hutang
6.
Akuntansi selain kas

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Undang - Undang Perbedaharaan Negara Nomor 1 tahun 2004 mempunyai
implikasi jadwal kerja amat ketat dan bersanksi. Bentuk pertanggungjawaban
APBN/APBD adalah laporan keuangan yang harus sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintah. Agar dalam penyusunan standar akuntansi pemerintahan
objektif maka dalam tahun 2002 (sebelum disahkan UU Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara) menteri keuangan membentuk Komite Standar
Akuntansi Pemerintah Pusat dan Pernerintah daerah.
15 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia

Menurut ketentuan UU No. 1 Tahun 2004 Menteri atau pimpinan lembaga


selaku pengguna anggaran menyusun laporan keuangan dan disampaikan paling
lambat 2 bulan setelah tahun anggaran berakhir. Menteri Keuangan menyusun
laporan keuangan pmerintah pusat untuk disampaikan kepada presiden dalam
tiga bulan setelah tahun anggaran yang lalu berakhir setidak-tidaknya meliputi
Laporan realisasi APBN. neraca, laporan arus kas dan catatan atas lapuran
keuangan yang dilampiri laporan keuangan perusahaan negara. Selanjutnya,
BPK membuat laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan dilengkapi
dengan opini seperti umumnya dilakukan auditor eksternal
3.2

Saran
Diberlakukannya desentralisasi merupakan peluang bagi pemerintah untuk

dapat mengembangkan diri menuju perbaikan sistem akuntansi yang berlaku,


keinginan pemerintah yang menerapkan sistem akuntansi modern adalah suatu
upaya

membenahi

sistem

yang

sudah

ketinggalan

zaman.

Dengan

diberlakukannya akrual yang semula berbasis kas adalah wujud dari pembenahan
sistem akuntansi birokrasi dan diharapkan terus mempernaiki sistem akuntansi
pusat dan daerah yang berstandar internasional yakni IFRS.

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Nordiawan, & Ayuningtyas Hertiati. (2010), Akuntansi Sektor publik, Jakarta
: Salemba Empat
Mardiasmo. (2009), Akuntansi Sektor publik, Yogyakarta : Andi

16 | Makalah ASP | Akuntansi Pemerintah Di Indonesia