Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN HIPEREMESIS GRAVIDARUM (HEG)

Nama

: Padrizal Lubis

NIM

: 1111114068

Ruang

: Kebidanan PB

Tanggal

: 28 Maret 2 April 2016

A. Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil,
sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk,
sebagai akibatnya terjadilah dehidrasi (Hidayati, 2009).
Hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan muntah
berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat, sehingga menggganggu
kesehatan dan pekerjaan sehari hari (Arief, 2009).
B. Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti
bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor toksik, juga tidak ditemukan kelainan
biokimia. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang menjadi penyebab
Hiperemesis Gravidarum adalah:
1. Faktor konsentrasi human chorionic gonadothropin (HCG) yang tinggi : sering terjadi
pada kehamilan primigravida, Molahidatidosa, kehamilan ganda, dan hidramnion.
2. Faktor organik, karena masuknya vili khoriales ke dalam sirkulasi maternal dan
perubahan metabolik.
3. Faktor Psikologis: keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut pada
kehamilan dan persalinan, takut memikul tanggung jawab, dan sebagainya (Hidayati,
2009).
4. Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dsb.
5. Faktor gizi / anemia meningkatkan terjadinya hiperemesis gravidarum. (Manuaba, dkk,
2007).
C. Faktor Resiko
Ada 2 faktor risiko hiperemesis gravidarum adalah sebagai berikut yaitu :
1. Maternal
Akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan terjadinya diplopia, palsi
nervus ke-6, nistagmus, ataksia, dan kejang. Jika hal ini tidak segera ditangani, akan
terjadi psikosis korsakoff (amnesia, menurunnya kemampuan untuk beraktivitas),
ataupun kematian. Oleh karena itu, untu

hiperemesis

dipertimbangkan terminasi kehamilan (Prawirohardjo, 2010).

tingkat III perlu

Melalui muntah dikeluarkan sebagian cairan lambung serta elektrolit, natrium,


kalium, dan kalsium. Penurunan kalium akan menambah beratnya muntah, sehingga
makin berkurang kalium dalam keseimbangan tubuh serta makin menambah berat
terjadinya muntah. Muntah yang berlebihan dapat menyebabkan pecahnya pembuluh
darah kapiler pada lambung dan esophagus , sehingga muntah bercampur darah
(Manuaba, 2010)
2. Fetal
Menurut Tiran (2008) "Wanita yang memiliki kadar HCG di bawah rentang
normal lebih sering mengalami hasil kehamilan yang buruk, termasuk keguguran,
pelahiran prematur, atau retardasi pertumbuhan intrauterus (IUGR )". Selain itu,
penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian gangguan
pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR) (Prawirohardjo, 2010).
Muntah yang berlebihan menyebabkan dapat menyebabkan cairan tubuh
makin berkurang, sehingga darah menjadi kental (hemokonsentrasi) yang dapat
memperlambat peredaran darah yang berarti konsumsi O2 dan makanan ke jaringan
berkurang. Kekurangan makanan dan O2 ke jaringan akan menimbulkan kerusakan
jaringan yang dapat menambah beratnya keadaan janin dan wanita hamil (Manuaba,
2010).
D. Patofisiologi
Muntah adalah suatu cara dimana saluran cerna bagian atas membuang isinya bila
terjadi iritasi, rangsangan atau tegangan yang berlebihan pada usus. Muntah merupakan
refleks terintegrasi yang kompleks terdiri atas tiga komponen utama yaitu detector
muntah, mekanisme integratif dan efektor yang bersifat otonom somatik. Rangsangan
pada saluran cerna dihantarkan melalui saraf vagus dan aferen simpatis menuju pusat
muntah. Pusat muntah juga menerima rangsangan dari pusat-pusat yang lebih tinggi pada
sereberal, dari chemoreceptor trigger zone (CTZ) pada area postrema dan dari aparatus
vestibular via serebelum. Beberapa signal perifer mem-bypass trigger zone mencapai
pusat muntah melalui nucleus traktus solitarius. Pusat muntah sendiri berada pada
dorsolateral daerah formasi retikularis dari medula oblongata. Pusat muntah ini
berdekatan dengan pusat pernapasan dan pusat vasomotor. Rangsang aferen dari pusat
muntah dihantarkan melalui saraf kranial V, VII, X, XII ke saluran cerna bagian atas dan
melalui saraf spinal ke diapragma, otot iga dan otot abdomen (Widayana, dkk, 2012).
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil
muda terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak seimbangnya
elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan
cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi

lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton asetik,
asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan volume cairan yang diminum
dan kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan
plasma berkurang. Natrium dan khlorida air kemih turun. Selain itu juga dapat
menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah berkurang. Kekurangan kalium
sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal menambah frekuensi
muntah muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran yang sulit
dipatahkan. Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi
robekan pada selaput lendir esophagus dan lambung (Sindroma Mallory Weiss) dengan
akibat perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan
dapat berhenti sendiri, jarang sampai diperlukan transfusi atau tindakan operatif
(Wiknjosastro, 2005).
E. Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala hiperemesis gravidarum dibagi menjadi tiga tingkatan gejala antara lain
yaitu:
1. Hiperemesis Gravidarum Tingkat I
a. Termasuk tingkat ringan
b. Mual muntah terus menerus menyebabkan penderita lemah, tidak mau makan,
berat badan turun dan nyeri pada epigastrium, denyut nadi meningkat, tekanan
darah turun, turgor kulit kurang, lidah kering, serta mata cekung.
2. Hiperemesis Gravidarum Tingkat II
a. Termasuk tingkat sedang
b. Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah,
apatais, turgor kulit mulai buruk, lidah kering dan kotor, nadi teraba lemah dan
cepat, suhu badan naik (dehidrasi), ikterus ringan, berat badan turun, mata cekung,
tekanan darah menurun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi, dapat juga terjadi
aseton uria, serta napas bau aseton.
3. Hiperemesis Gravidarum Tingkat III
a. Termasuk tingkat berat
b. Keadaan umum buruk, kesadaran sangat menurun, somnolen sampai koma, nadi
teraba lemah dan cepat, dehidrasi berat, suhu badan naik, tekanan darah turun,
serta terjadi ikterus. Jika sampai timbul komplikasi dapat berakibat fatal, berupa:
memengaruhi susunan saraf pusat, ensefalopati wernicke dengan adanya
nistagmus, diplopia, dan perubahan mental.
F. Pathway
Terlampir
G. Komplikasi
1. Dehidrasi berat

2. Takikardi
3. Ensefalopati Wernicke dengan gejala nistagmus
4. Diplopia dan perubahan mental
5. Alkalosis
6. Ikterik
7. payah hati dengan gejala timbulnya ikterus (Arif, 2000).
H. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis yang dapat diberikan antara lain:
1. Hospitalisasi
Tujuan penatalaksanaan hiperemesis gravidarum, saat ibu dihospitalisasi,
adalah merehidrasi ibu, memperbaiki gangguan elektrolit dan hematologis lain,
mencegah komplikasi dan memindahkan ibu ke rumah sakit dengan segera, meskipun
banyak wanita memiliki angka yang tinggi untuk masuk kembali ke rumah sakit.
Penyebab muntah yang terjadi secara berlebihan harus diidentifikasi, bukan sematamata untuk membuat diagnosis banding, tetapi juga untuk mempertimbangkan faktor
lain seperti masalah psikologis, yang dapat menambah keparahan ibu (Tiran, 2008).
Menurut (Runiari, 2010), Manifestasi klinik yang ditimbulkan dari kasus
hiperemesis gravidarum menjadikan klien harus dirawat di rumah sakit, indikasinya
adalah sebagai berikut:
a. Memuntahkan semua yang dimakan dan yang diminum, apalagi bila telah
berlangsung lama
b. Berat badan turun lebih dari 10% dari berat badan normal
c. Dehidrasi yang ditandai dengan turgor yang kurang dan lidah kering
d. Adanya aseton dalam urin.
2. Obat-obatan Sedativa: Phenobarbital, Vitamin: Vitamin C, B1 dan B6 atau B
kompleks, Anti histamine: dramamin, avomin, Anti emetik (pada keadaan lebih
berat): Dislikomin hidrokloride atau khlorpromasine. Penanganan hiperemesis
gravidarum yang lebih berat perlu dikelola di rumah sakit
3. Cairan parenteral: cairan yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan
glukosa 5% dalam cairan fisiologis (23 liter/hari), dapat ditambah kalium yang
diperlukan untuk kelancaran metabolisme dan vitamin (vitamin B komplek, vitamin
C), bila kekurangan protein dapat diberiakan asam amino secara intravena, bila dalam
24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum membaik dapat diberikan
minuman dan lambat laun makanan yang tidak cair. Dengan penanganan diatas, pada
umumnya gejalagejala akan berkurang dan keadaan akan bertambah baik
(Wiknjosastro, 2005).
I. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Isolasi dan Terapi Psikologis
a. Isolasi di ruangan yang dilakukan dengan baik dapat meringankan gravidarum
karena perubahan suasana rumah tangga.

b. Konseling dan edukasi (KIE) tentang kehamilan yang dilakukan untuk


menghilangkan factor psikis rasa takut.
c. Memberikan informasi tentang diet ibu hamil dengan makan tidak sekaligus
banyak, tetapi dalam porsi yang sedikit namun sering.
d. Jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, karena akan membuat ibu hamil
mengalami pusing, mual, dan muntah (Hidayati, 2009).
2. Terapi psikologika
Perlu diyakinkan kepeda penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,
hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan
masalah dan konflik.
3. Terapi Alternatif
Ada beberapa macam pengobatan alternatif bagi hiperemesis gravidarum,
antara lain:
a. Vitamin B6
Vitamin B6 merupakan koenzim yang berperan dalam metabolisme lipid,
karbohidrat dan asam amino. Peranan vitamin B6 untuk mengatasi hiperemesis
masih kontroversi. Dosis vitamin B6 yang cukup efektif berkisar 12,5 - 25 mg per
hari tiap 8 jam. Vitamin B6 merupakan ko-enzim berbagai jalur metabolisme
protein dimana peningkatan

kebutuhan

protein

pada

trimester I diikuti

peningkatan asupan vitamin B6. Vitamin B6 diperlukan untuk sintesa serotonin


dari tryptophan. Defisiensi vitamin B6 akan menyebabkan kadar serotonin rendah
sehingga saraf panca indera akan semakin sensitif yang menyebabkan ibu mudah
mual dan muntah. Pada wanita hamil terjadi peningkatan kynurenic dan
xanturenic acid di urin. Kedua asam ini diekskresi apabila jalur perubahan
tryptophan menjadi niacin terhambat. Hal ini dapat juga terjadi karena defisiensi
vitamin B6.

Kadar

hormon

estrogen yang tinggi pada ibu hamil juga

menghambat kerja enzim kynureninase yang merupakan katalisator perubahan


tryptophan menjadi niacin, yang mana kekurangan niacin juga dapat mencetuskan
mual dan muntah (Widayana, dkk, 2013).
b. Jahe (zingiber officinale)
Pemberian dosis harian 250 mg sebanyak 4 kali perhari lebih baik hasilnya
dibandingkan plasebo pada wanita dengan hiperemesis gravidarum. Salah satu
studi di Eropa menunjukan bubuk jahe (1 gram per hari) lebih efektif
dibandingkan plasebo dalam menurunkan gejala hiperemesis gravidarum. Belum
ada penelitian yang menunjukan hubungan kejadian abnormalitas pada fetus
dengan jahe. Namun, harus diperhatikan bahwa akar jahe diperkirakan

mengandung

tromboksan

sintetase

inhibitor

dan

dapat

mempengaruhi

peningkatan reseptor testoteron fetus (Widayana, dkk, 2012).


c. Aromaterapi
Aromaterapi adalah salah satu pengobatan alternatif yang dapat diterapkan
dengan menggunakan minyak esensial tumbuhan dan herbal. Penggunaan minyak
esensial sejak zaman dahulu telah digunakan di Mesir, italia, india, dan cina.
Kimiawan

Prancis, Rene Maurice Gattefosse menyebutnya dengan istilah

aromaterapi pada tahun 1937, ketika ia menyaksikan kekuatan penyembuhan


minyak lavender pada kulit dengan luka bakar. Setiap minyak esensial memiliki
efek farmakologis yang unik, seperti anti bakteri, antivirus, diuretik, vasodilator,
penenang dan merangsang adrenal. Minyak atsiri dapat digunakan dirumah dalam
bentuk uap yang dapat dihirup atau pernafasan topikal. Penghirupan uap sering
digunakan untuk kondisi pernafasan dan mengurangi mual. inhalasi uap dilakukan
dengan cara menambahkan 2-3 tetes minyak esensial eucalyptus, rosemary, pohon
teh, atau minyak kedalam air panas. Beberapa tetes minyak esensial juga dapat
ditambahkan untuk mandi, kompres atau pijat (Runiari, 2010).
J. Pemeriksaan Penunjang
1. USG (dengan menggunakan waktu yang tepat)
2. Pemeriksaan darah lengkap
3. Kadar gula darah
4. Analisis gas darah
5. Urinalisis: kultur, mendeteksi bakteri, BUN (Blood Urea Nitrogen)
6. Pemeriksaan fungsi hepar: AST, ALT dan kadar LDH (Hazlynpotc, 2013).
K. Manajemen Diet
1. Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III
Makanan yang diberikan berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak
diberikan bersama makanan tetapi 1 2 jam setelah makan. Diet itu kurang
mengandung zat gizi, kecuali vitamin C, sehingga diberikan hanya selama beberapa
hari.
2. Diet hiperemesis II diberikan jika rasa mual dan muntah berkurang
Pemberian dilakukan secara bertahap untuk makanan yang bernilai gizi tinggi.
Minuman tidak diberikan bersama makanan. Diet itu rendah dalam semua zat gizi,
kecuali vitamin A dan D.
3. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Pemberian minuman dapat diberikan bersama makanan. Diet ini cukup dalam semua
zat gizi, kecuali kalsium (Baskoro, 2013).
L. Pencegahan
Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar ridak terjadi hipermesis
gravidarum dengan cara :

1. Memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang
fisiologik.
2. Memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang kadang muntah merupakan gejala
yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan.
3. Menganjurkan mengubah makan sehari hari dengan makanan dalam jumlah kecil
tapi sering
4. Menganjurkan pada waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, terlebih
dahulu makan roti kering atau biscuit dengan teh hangat
5. Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan
6. Makanan seyogyanya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin
7. Menghindari kekurangan kardohidrat merupakan factor penting, dianjurkan makanan
yang banyak mengandung gula (Wiknjosastro, 2005).
M. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
1. Gangguan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Pengeluaran nutrisi yang
berlebihan dan intake kurang.
Tujuan :
Menjelaskan komponen diet seimbang prenatal, memberi makanan yang mengandung
vitamin, mineral, protein dan besi.
Mengikuti diet yang dianjurkan.
Mengkonsumsi suplemen zat besi / vitamin sesuai resep
Menunjukkan penambahan berat badan yang sesuai ( biasanya 1,5 kg pada ahir
trimester pertama )
Intervensi:
a. Tentukan keadekuatan kebiasaan asupan nutrisi dulu / sekarang dengan
menggunakan batasan 24 jam. Perhatikan kondisi rambut, kulit dan kuku.
b. Dapatkan riwayat kesehatan ; cacat usia ( khususnya kurang dari 17 tahun, lebih
dari 35 tahun)
c. Pastikan tingkat pengetahuan tentang kebutuhan diet.
d. Berikan informasi tertulis / verbal yang tepat tentang diet pranatal dan suplemen
vitamin / zat besi setiap hari.
e. Evaluasi motivasi / sikap dengan mendengar keterangan klien dan meminta umpa
balik tentang informasi yang di berikan.
f. Tanyakan keyakinan berkenaan dengan diet sesuai budaya dan hal hal tabu
selama kehamilan.
g. Perhatikan adanya pika/mengidam. Kaji pilihan bahwa bukan makanan dan
itngkat moitvasi untuk memakannya.
h. Timbang berat badan klien ; pastikan berat badan pregravid biasanya. Berikan
informasi tentang penambahan prenatal yang optimum.
i. Tinjau ulang frekuensi dan beratnya mual/muntah. Kesampingkan muntah
pernisiosa (hiperemesis gravidarum)

j. Pantau kadar hemoglobin (Hb)/Hematokrit (Ht)


k. Tes urine terhadap aseton, albumin, dan glukosa.
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d kehilangan cairan.
Tujuan:
Mengidentifikasi dan melakukan tindakan untuk menurunkan frekuensi dan

keparahan mual/muntah.
Mengkonsumsi cairan dengan jumlah yang sesuai setiap hari.
Mengidenifikasi tanda-tanda dan gejala-gejala dehidrasi yang memerlukan
tindakan.
Intervensi:
a. Auskultasi denyut jantung janin ( DJJ ).
b. Tenutkan frekuensi/ beratnya mual/muntah.
c. Tinjau ulang riwayat kemungkinan masalah medis lain (miasal; ulkus
peptikum, gastritis, kolesistisis).
d. Anjurkan klien memperahankan masukan/keluaran, tes urin,dan penurunan
bert badan setiap hari.
e. Kaji suhu dan turgor kulit, membrane mukosa, tekanan darah (TD), suhu,
masukan/keluaran,daan berat jenis urine. Timbang berat badan klien daan
banidngkan dengan standar.
f. Anjurkan penigkatan mauskan minian berkarbonat, makan enam kali sehari
dengan jumlah yang sedikit, dan makanan tinggi karbohidrat (mis;

popcorn,roti kering sebelum bangun tidur)


3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan tubuh, penurunan metabolisme sel.
Tujuan :
Melaporkan peningkatan rasa sejahtera/tingkat energi.
Mendemonstrasikan peningkatan aktivitas fisik yang dapat diukur.
Intervensi:
a. Pantau respon fisiologis terhadap aktivitas, missal ; perubahan TD atau
frekuensi jantung/pernafasan.
b. Buat tujuan aktivitas realistis dengan pasien.
c. Rencanakan perawatan untuk memungkinkan periode istirahat.Jadwalkan
aktivitas untuk periode bila pasien mempunyai banyak energi. Libatkan
pasien/orang terdekat dalam perencanaan jadwal.
d. Dorong pasien untuk melakukan kapanpun mungkin, misal ; perawatan diri,
bangin dari kursi, berjalan.
e. Berikan latihan rentang gerak pasif/aktif pada pasien yang terbaring di tempat
tidur.
f. Pertahankan tempat tidur pada posisi rendah, singkirkan perabotan, bantu
ambulasi.

g.

Berikan O2 suplemen sesuai indikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Arif, M, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilid I. Jakarta: Media Acculapius.
Prawiroharjo, S. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Tridasa Printer.

Baskoro,

B.

2013.

Askep

Hiperemesis

Gravidarum.

(http://binbask.

blogspot.

com/2013/01/askep-hiperemesis-gravidarum.html) (Online), diakses pada tanggal 28


Maret 2014.
Manuaba, I. B. G. 2001. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana.
Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Runiari, N. 2010. Asuhan keperawatan pada klien dengan hiperemesis gravidarum. Jakarta:
Salemba Medika