Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KELOMPOK

ALAT DAN MESIN PERTANIAN

PEMECAHAN KASUS

Nurul Aulia Sari

G41113001

Lukman Afriansa Barlian

G41113016

Astuti Asad

G41113313

Gemala Hardinasinta

G41113514

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN


JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

Kasus 1.
Sebuah perusahaan mempunyai dua bidang usaha yaitu perkebunan dan
peternakan, perusahaan ini memiliki lahan 500 ha untuk kedua bidang usaha
tersebut. Karena kesulitan tenaga kerja, ternak sapi dilepasliarkan di lahan, namun
hewan ternak ini sering memasuki area perkebunan sehingga menyebabkan
kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan. Selain gangguan dari hewan ternak,
tanaman yang dibudidayakan seperti sayuran dan jagung juga terganggu oleh
keberadaan gulma yang tidak terurus, begitupun saat panen, tidak semua tanaman
dapat dipanen tepat waktu karena kurangnya tenaga kerja. Berdasarkan uraian
tersebut :
1. Identifikasi informasi tambahan yang anda butuhkan untuk mengatasi
masalah yang ada!
2. Jelaskan alternatif solusi yang anda tawarkan !
3. Susunlah dalam bentuk artikel yang terdiri dari sekurang-kurangnya 1500
kata!
Jawab:
Informasi tambahan yang dibutuhkan:
a. Komuditas sayuran yang menguntungkan untuk dibudidayakan
b. Metode budidaya atau alat yang digunakan untuk mengatasi masalah gulma
c. Berbagai jenis alat panen sayuran dan jagung
d. Metode peternakan dan jenis hewan yang diternakkan
Alternatif solusi yang ditawarkan:
a. Membagi lahan untuk perkebunan seluas 300 ha dan peternakan seluas 200
ha. Lahan untuk budidaya tanaman jagung seluas 150 ha dan untuk budidaya
tanaman kentang seluas 150 ha.
b. Memberikan pagar pembatas antara lahan perkebunan dan lahan peternakan.
c. Menggunakan teknik budidaya dengan mulsa plastik untuk mengatasi
masalah gulma.
d. Menggunakan mesin panen sehingga seluruh tanaman dapat dipanen tepat
waktu tanpa perlu penambahan tenaga kerja.
e. Mennyediakan kandang untuk ternak sapi seluas 70 ha, dan padang rumput
seluas 130 ha sehingga sapi dapat berkeliaran bebas mencari makan.

Artike kasus 1:
Lahan pertanian seluas 500 ha yang dimiliki dapat dibagi menjadi dua bagian
yang terdiri dari perkebunan dan peternakan. Lahan perkebuanan seluas 300 ha
yang ditanami dengan tanaman jagung dan sayuran. Masing-masing jenis tanaman
akan menempati lahan seluas 150 ha.
Pada kasus ini kami menggunakan tanaman kentang sebagai komoditas
sayuran yang dibudidayakan. Dalam budidaya sayur-sayuran tidak lepas kaitannya
dengan gangguan dari keberadaan gulma, untuk mengatasi hal tersebut dapat
diterapkan sistem tanam menggunakan mulsa plastik. Dengan menerapkan sistem
tanam mulsa plastik dapat meminimalisir tumbuhnya gulma, mencegah terjadinya
kontaminasi bahan bakar terhadap tanaman akibat penggunaan teknologi
penyiang.
Tanaman kentang (Solanum tuberosum .L) menghasilkan umbi sebagai
komoditas sayuran yang dikembangkan dan berpotensi untuk dipasarkan di dalam
negeri maupun diekspor. Tanaman kentang merupakan salah satu tanaman
penunjang program diversifikasi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi
masyarakat. Tingginya kandungan karbohidrat menyebabkan umbi kentang
dikenal sebagai bahan pangan yang dapat menggantikan bahan pangan penghasil
karbohidrat lain seperti beras, gandum, dan jagung. Tanaman kentang juga dapat
meningkatkan pendapatan petani serta produknya merupakan komoditas
nonmigas dan bahan baku industri. Selain itu, umbi kentang lebih tahan lama di
simpan dibandingkan dengan sayuran lainnya.
Di Indonesia pertanaman kentang banyak diusahakan di daerah dataran tinggi
(1000 3000 m dpl) dengan sentra produksi kentang adalah: Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Jambi.
Secara umum produktivitas kentang Indonesia masih rendah yaitu 16.2 t ha-1,
sedangkan produktivitas kentang negara subtropis mencapai 37.8 t ha-1.
Teknik Budidaya Menggunakan Mulsa Plastik
Kendala utama yang dihadapi ketika membudidayakan tanaman kentang
adalah ketidakmampuan kultivar yang ditanam terhadap stress lingkungan
sehingga produksi sangat rendah.

Sehubungan dengan kondisi tersebut perlu diupayakan rekayasa lingkungan


yang dapat dilakukan untuk memberikan lingkungan tumbuh yang optimum bagi
pertanaman kentang agar produktifitasnya dapat mendekati potensinya.
Salah satu modifikasi lingkungan perakaran tanaman di dataran medium
antara lain dapat dilakukan dengan penggunaan

mulsa. Mulsa menimbulkan

berbagai keuntungan, baik dari aspek fisik maupun kimia tanah. Secara fisik
mulsa mampu menjaga suhu tanah lebih stabil dan mampu mempertahankan
kelembaban di sekitar perakaran tanaman. Penggunaan mulsa akan mempengaruhi
suhu tanah. Penggunaan mulsa akan mencegah radiasi langsung matahari. Selain
itu juga mulsa plastik dapat mengurangi evaporasi, pemadatan tanah dan
pencucian hara tanah serta menekan pertumbuhan gulma yang pada akhirnya
dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman. Efek aplikasi mulsa ditentukan oleh
jenis bahan mulsa. Bahan yang dapat digunakan sebagai mulsa di antaranya
sisa-sisa tanaman (serasah dan jerami) atau bahan plastik.
Mulsa plastik dipasang pada seluruh bedeng lahan, kemudian diberikan
lubang berukuran dan berjarak tertentu sesuai dengan ukuran batang dan jarak
tanam dari tanaman kentang. Lubang tersebut dibuat sehingga tanaman kentang
bisa tumbuh dengan baik dan mendapatkan cahaya matahari yang dibutuhkan bagi
pertumbuhan.
Tanaman kentang selama pertumbuhannya tergolong peka terhadap gulma
yaitu antara 1/4 sampai 1/3 periode total pertumbuhan dan fase perkembangan
umbinya. Gulma pada pertanaman kentang dapat menurunkan produksi sampai
45,2 %. Penurunan hasil secara nyata dapat terjadi karena adanya persaingan
antara gulma dengan tanaman budidaya terutama saat periode kritis. Kerugian
yang ditimbulkan terjadi akibat persaingan dalam hal pengambilan unsur hara,
cahaya, air dan ruang tumbuh. Selain itu gulma juga dapat menjadi inang bagi
hama dan patogen, yang berakibat menurunnya produksi dan mutu umbi kentang.
Salah satu tujuan pemasangan mulsa adalah menghambat gulma dalam
menangkap sinar matahari sehingga gulma tidak mampu melakukan proses
fotosintesis. Dengan menghambat proses tersebut pertumbuhan gulma akan
terhambat. Dengan menghambat pertumbuhan gulma, maka tanaman kentang
tidak akan mengalami persaingan dalam hal pengambilan unsur hara, cahaya, air,

dan ruang tumbuh sehingga berdampak pada peningkatan kualitas dan kuantitas
hasil panen kentang.
Penggunaan Alat Panen
Untuk mengatasi masalah waktu pemanenan yang singkat dan kurangnya
tenaga kerja, maka solusi yang ditawarkan adalah menggunakan mesin panen baik
untuk tanaman kentang maupun tanaman jagung. Penggunaan mesin panen dapat
mengurangi waktu kerja dan tenaga yang dibutuhkan untuk memanen tanaman,
penggunaan mesin panen memang disarankan pada lahan yang luas.
Jagung dapat dipanen dengan cara mengambil tongkol dan membuang
biomassa di lahan atau mengambil seluruh biomassa tanaman jagung. Untuk
panen yang hanya mengambil tongkol jagung digunakan alat panen corn harvester
atau corn combine harvester. Corn harvester memisahkan tanaman jangung
dengan tongkolnya, sedangkan corn combine harvester selain memisahkan
tongkol juga memisahkan biji jagung dengan tongkolnya sehingga tidak
diperlukan penggunaan mesin pemipil jagung lagi.
Prinsip kerja corn harvester adalah mengarahkan jagung pada alat pemotong
kemudian mengangkut tanaman jagung tersebut pada bagian yang akan
memisahkan antara tongkol dan biomassa lain. Tongkol jagung diangkut pada
tangki penyimpanan dan biomassa sisa dibuang pada lahan. Pembuangan
biomassa di lahan walaupun mengotori lahan tetapi dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk alami. Corn combine harvester memiliki prinsip kerja yang sama sama
dengan corn harvester, tetapi tongkol yang dihasilkan tidak langsung disimpan
pada tangki penampungan melainkan dipisahkan antara biji jagung dan
tongkolnya. Pemipilan dilakukan dengan memanfaatkan gaya gesek sehingga biji
jagung terlepas dari tongkolnya.
Untuk memanfaatkan biomassa sebagai pakan ternak, dapat digunakan corn
ensilage harvester. Prinsip kerja alat ini adalah dengan mengarahkan jagung pada
alat pemotong kemudian mengangkut tanaman jagung tersebut pada bagian yang
akan memisahkan antara tongkol dan biomassa lain. Tongkol jagung diangkut
pada tangki penyimpanan. Biomassa sisa berupa batang dan daun dicacah
kemudian dikeluarkan pada kendaraan pengangkut yang ada di belakang atau di
samping corn combine harvester.

Sementara untuk pemanenan kentang dapat digunakan dua jenis mesin panen,
yaitu mesin panen sederhana dan mesin pemanen berukuran besar. Prinsip kerja
mesin pemanen kentang yaitu mesin ini akan menggali sejumlah besar tanah yang
mengandung umbi, kemudian umbi dan tanah ini akan dipisahkan dengan cara
dialirkan sambil digetarkan sehingga tanah dan kotoran rontok ke bawah,
sedangkan umbi dibawa ke suatu tempat penampungan. Mesin panen kentang ini
dilengkapi dengan kemampuan untuk menggali umbi, mangambil dan
memisahkan daun dengan batang, mensortasi manual (oleh pekerja) dan
memasukkan umbi kedalam wadah penyimpan. Mesin ini bisa dipergunakan
untuk kentang, ketela rambat, wortel dan taro. Mesin ini mempunyai kapasitas
lapang 7 are/jam untuk pemanenan kentang. Prinsip kerja pemisahan umbi dan
bagian tanaman lainnya dengan menggesekkan umbi dengan belt sehingga dapat
terpisah antara kentang dan daunnya.
Jenis lainnya yang lebih sederhana hanya dapat menggali umbi dari dalam
tanah dan menggetarkan umbi agar terpisah dari tanah. Ubi yang telah dipanen
tetap berada pada lahan dan tidak disimpan pada tempat penampungan. Jika
menggunakan alat panen ini batang dan daun perlu dipangkas terlebih dahulu.
Pemanenan

kentang

yang

menggunakan

mulsa

plastik

sebaiknya

menggunakan alat panen yang lebih sederhana karena mulsa plastik perlu
dilepaskan terlebih dahulu. Penggunaan alat panen yang lebih sederhana ini dapat
mengurangi biaya operasional mesin karena bahan bakar yang dibutuhkan lebih
sedikit dan mesinnya lebih kecil dan sederhana sehingga lebih mudah dirawat.
Tetapi penggunaan alat panen yang lebih sederhana ini memerlukan tenaga kerja
yang lebih banyak untuk memotong bagian batang dan daun tanaman kentang
serta melepas mulsa dan memungut kentang yang telah dipanen.

Gambar 1. Proses pemanenan kentang

Peternakan Sapi
Pada bagian yang akan dijadikan lahan untuk peternakan kita menggunakan
200 ha. Jumlah 200 ha tersebut kita dapat membagi 2 bagian yang akan
digunakan sebagai kandang dan lahan yang akan digunakan sebagai tempat
tumbuhnya rumput yang akan akan dijadikan makanan bagi sapi tersebut.
Pembagian lahannya dengan jumlah 130 ha untuk lahan rumput dan 70 ha untuk
kandang sapi. Metode pemberian pakan dengan melepaskan secara bebas sapi
pada siang hari dan memasukkannya kembali ke kandang pada sore hari. Metode
ini banyak dilakukan oleh peternakan di Newzeland dan Australia. Metode ini
terbukti menghasilkan sapi dengan bobot yang lebih berat dan lebih sehat jika
dibandingkan dengan sapi yang dikurung di dalam kandang. Metode ini juga
dapat menghemat pengeluaran untuk pemberikan pakan untuk sapi yang
diternakkan. Hal yan perlu diperhatikan jika menggunakan metode ini adalah
agar rumput yang tumbuh sebagai pakan ternak tidak tercemar bahan kimia
berbahaya.
Memiliki suatu ladang rumput yang luas memberikan kewajiban untuk
merawatnya, hal itu berpengaruh pada biaya perawatan. Mengurus ladang rumput
berbanding lurus dengan luasnya. Banyak cara yang dapat dilakukan agar rumput
menjadi lebih rapi (tidak terlalu tinggi), pada saat rumput terlalu tinggi dapat
mengakibatkan gangguan pada saat sapi mengkonsumsi rumput yang disediakan.
Alat yang bisa digunakan untuk memotong antara lain dengan sabit, gunting
rumput atau dengan mesin pemotong rumput. Alat pemotong yang cocok
digunakan pada lahan yang akan ditanami rumput yaitu mower yang dapat
memangkas rumput secara rata.
Keunggulan yang dimiliki alat pemotong mower ini yaitu memiliki kecepatan
0,57 km/jam, lebar kerja 100 cm atau 4 alur dengan jarak antar jalur
25 cm, lebih murah, kapasitas kerja 18-20 jam/orang/ha atau delapan kali lebih
cepat dari alat manual. Teknologi ini sangat bermanfaat bagi pengguna jasa alat
dan mesin pertanian untuk mempercepat proses pemotongan rumput.
Ladang Penggembalaan seluas 20 ha dapat menampung sekitar 100 ekor sapi.
Jadi untuk luas lahan yang kita gunakan yaitu 70 ha kita dapat menampung sekitar
350 ekor sapi. Jumlah sapi yang semakin banyak akan menghasilkan limbah

kotoran sapi yang banyak pula. Kotoran sapi yang tersusun dari feses, urin, dan
sisa pakan mengandung nitrogen yang lebih tinggi dari pada yang hanya berasal
dari feses. Jumlah nitrogen yang dapat diperoleh dari kotoran sapi dengan total
bobot badan kurang lebih 120 kg (6 ekor sapi dewasa) dengan periode
pengumpulan kotoran selama tiga bulan sekali mencapai 7,4 kg. Jumlah ini dapat
disetarakan dengan 16,2 kg urea (46% nitrogen). Jadi untuk 350 ekor sapi dapat
menghasilkan 431,67 kg kotoran sapi. Banyaknya limbah yang dihasilkan akan
lebih baik jika dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan pada
perkebunan maupun pada ladang rumput yang dimiliki. Keunggulan pupuk
organik berupa pupuk kandang atau kompos maupun pupuk cair dibandingkan
dengan pupuk buatan (anorganik) adalah diantaranya adalah memperbaiki tekstur
tanah, meningkatkan pH tanah, menambah unsur hara makro maupun mikro,
meningkatkan keberadaan jasad-jasad renik dalam tanah, dan tidak menimbulkan
polusi lingkungan. Sedangkan kelemahannya adalah jumlah pupuk yang diberikan
lebih tinggi dari pada pupuk anorganik dan respon tanaman lebih lambat.

Kasus 2
Perusahaan exportir kakao ingin memperluas bidang usahanya, dengan
membuat pabrik pengolahan kakao, pabrik ini akan bekerja sama dengan petani,
pabrik ini akan menjemput langsung kakao yang baru di panen dari kebun petani.
Selanjutnya kakao akan diolah sehingga menjadi berbagai bentuk makanan
maupun minuman. Dari uraian terebut, idetifikasi informasi tambahan yang anda
butuhkan untuk memberikan masukan kepada pabrik tersebut, uraikan hasil
identiikasi tambahan anda berserta masukan yang anggap perlu untuk pabrik
tersebut, susun dalam bentuk artikel yang terdiri dari sekuang-kurangnya 1500
kata!
Jawab:
Identifikasi informasi tambahan:
a. Proses pengolahan kakao menjadi biji kakao sebagai bahan dasar pembuatan
makan dan minuman
b. Alat dan mesin yang digunakan pada proses tersebut
c. Syarat transportasi bahan dari kebun ke pabrik
d. Syarat tempat penyimpanan biji kakao yang telah diolah
Artikel kasus 2:
Transportasi Buah dari Kebun ke Pabrik
Pada kasus ini pabrik akan menjemput langsung buah yang baru saja
dipanen dari kebun petani menuju ke lokasi pabrik untuk selanjutnya diolah
menjadi makanan dan minuman. Keputusan tersebut dipilih karena biji kakao
yang diolah oleh masyarakat memiliki mutu yang rendah. Jika pabrik membeli biji
kakao dari masyarakat maka dapat mempengaruhi kualitas produk dari pabrik
tersebut. Sehingga akan lebih baik jika pabrik mengolah sendiri buah kakao
menajdi biji kakao karena dapat menghasilkan biji kakao yang memiliki mutu
tinggi.
Ketika pabrik menjemput langsung buah dari kebun petani maka terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga buah tidak mengalami kerusakan
selama pengangkutan. Kerusakan tersebut dapat berupa kerusakan fisik dan
mekanis,

kerusakan

kimiawi,

kerusakan

biologis,

maupun

kerusakan

mikrobiologis. Kerusakan yang paling mungkin terjadi saat pengangkutan buah

dari lahan ke pabrik adalah kerusakan mekanis akibat benturan selama perjalanan.
Oleh karena itu untuk menghindari kerusakan tersebut diperlukan pemilihan rute
perjalanan yang paling sesuai. Sebaiknya rute perjalanan yang dipilih adalah rute
tersingkat dan memiliki kondisi jalan yang memadahi.
Buah yang disimpan di dalam truk sebaiknya tidak memiliki banyak ruang
gerak sehingga dapat meminimalisir benturan selama perjalanan. Buah perlu
dilindungi sehingga tidak terkena paparan sinar matahari secara langsung atau
tidak terkena hujan sehingga tidak terjadi perubahan suhu yang mempengaruhi
kualitas buah.
Sortasi Buah Kakao
Buah yang telah tiba di pabrik perlu disortasi terlebih dahulu. Sortasi buah
kakao disebut juga sortasi basah atau sortasi kebun. Sortasi ini dilakukan
sebelum pemecahan buah dan pengambilan biji dari dalam buah. Sortasi ini
bertujuan

untuk

menseleksi

atau memisahkan buah kakao menjadi dua

kelompok besar yaitu buah yang sehat dan masak optimal dengan yang tidak
atau kurang sehat dan belum masak optimal seperti diserang ulat buah, salah
petik, dimakan tupai, dan sebagainya. Buah sehat akan tercemar oleh buah busuk
jika ditimbun dalam satu tempat sama. Buah yang terkena serangan hama dan
penyakit hendaknya ditimbun di tempat terpisah dan segera dikupas kulitnya.
Setelah diambil bijinya, kulit buah segera ditimbun dalam tanah untuk mencegah
penyebaran hama dan penyakit.

Gambar.1. buah kakao hasil sortasi

Pengupasan Buah dengan Alat Pemecah

Buah kakao yang telah disortir selanjutnya akan diambil bijinya karena
yang dibutukan untuk membuat produk olahan coklat adalah biji kakao. Hal yang
dibutuhkan untuk mengambil biji kakao adalah alat untuk mengupas buah kakao.
Tujuan pengupasan buah adalah untuk mengeluarkan dan memisahkan biji kakao
dari kulit buah dan plasentanya. Biji kakao kemudian ditampung di wadah yang
bersih, sedang kulit buah dan plasentanya dibuang sebagai limbah. Alat pemecah
buah yang umum dipakai adalah golok atau sabit. Pemecahan buah harus
dilakukan secara hati-hati supaya biji tidak terlukai atau terpotong oleh alat
pemecah.

Gambar 2. Alat Pemecah


Buah kakao dipecah dengan dua buah silinder dengan putaran berlawanan.
Celah antar permukaan silinder diatur sedemikian rupa sehingga kulit buah bagain
luar terpecah menjadi fraksi-fraksi kulit buah, sedangkan biji-biji kakao yang
terikat oleh plasenta tidak terluka atau rusak. Fraksi-fraksi kulit, biji dan plaseta
kemudian dilewatkan di atas ayakan getar dua tingkat. Fraksi kulit buah terpecah
dengan ukuran yang relatif besar sehingga pecahannya tertahan di atas ayakan
pertama

dan

dikumpulkan

lewat

corong

pengeluaran.

Getaran

ayakan

menyebabkan biji kakao terlepas dari kulit buah atau plasenta pengikatnya dan
lolos lewat lubang ayakan pertama, namun tertahan di atas ayakan yang kedua.
Kumpulan biji-biji kakao yang tertahan diayakan kedua meluncur dan terkumpul
lewat corong ayakan yang kedua. Pecahan-pecahan kulit yang kecil yang
ukurannya lebih kecil dari ukuran biji akan lolos lewat lubang ayakan kedua dan
terkumpul di dalam bak paling bawah.

Setelah biji terpisah maka ada yang namanya proses pemisahan kulit biji
dilakukan karena hanya biji kakao nib saja yang digunakan untuk proses
pengolahan selanjutnya. Kulit biji kakao tidak cocok untuk dikonsumsi oleh
manusia karena memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi yang dapat
mengakibatkan rasa pedih. Kulit biji uga dapat menyebabkan kapasitas
penghancuran biji secara mekanis sangat rendah. Proses pemisahan nib dari biji
dilakukan setelah biji disangrai dan mengalami proses tempering. Biji kakao ini
dimasukkan ke dalam mesin pemecah kulit. Mesin ini digunakan untuk proses
pemisahan kulit biji kakao menjadi nib sekaligus memperkecil ukuran dari kakao
tersebut.
Fermentasi Biji Kakao
Untuk meningkatkan mutu dari produk kakao, maka dilakukan fermentasi
biji kakao. Fermentasi biji kakao pada dasarnya bertujuan untuk menghancurkan
pulp dan sebagai bentuk usaha agar terjadi reaksi kimia dan biokimia didalam
keping biji. Penghancuran pulp ini memiliki peran agar keping biji

kakao

menjadi lebih bersih dan cepat kering, sedangkan reaksi kimia dan biokimia ini
mememiliki peran membentuk prekursor senyawa aroma dan warna pada
kakao. Selama proses fermentasi mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan
pada biji kakao, seperti: pulp terurai, terjadi fermentasi gula dalam lapisan pulp
menjadi alkohol, adanya kenaikan suhu, terjadi oksidasi oleh bakteri, terjadinya
perubahan

alkohol

menjadi asam

asetat,

menyebabkan

kematian

biji,

kehilangan daya berkecambah, terjadi difusi zat warna dari kantong sel,
terjadi dektruksi zat warna antosianin, terjadi pembentukan prekursor aroma
dan warna. Agar perubahan tersebut dapat berhasil optimal, maka pulp sebagai
media utama harus sesuai untuk pertumbuhan mikrobia.

Pulp yang

sesuai

berasal dari buah kakao yang sehat dan masak optimum, sehingga perbandingan
kandungan gula dan asam optimal untuk pertumbuhan yeast.

Gambar 3. Kotak fermentasi dan biji kakao dalam proses fermentasi tiga hari
Pengeringan dengan Mesin Pengering
Kadar air yang tinggi pada akhir proses fermentasi ( k.a 60%), harus
diturunkan menjadi sekitar 6-7% sebelum biji kakao tersebut diolah lebih lanjut.
Hal ini dilakukan agar pada biji kakao tidak mudah tumbuh kapang maupun jamur
yang dapat mengurangi kualitas dari biji kakao. Ada berbagai cara pengeringan
yang dapat dilakukan yaitu pengeringan secara alami (penjemuran/sun drying) dan
pengeringan secara buatan (menggunakan alat/artificial drying).
Dengan kebutuhan pabrik yang sangat tinggi, jadi segala sesuatunya harus
di perhitungkan contohnya saja waktu. Untuk mempercepat terjadinya
pengeringan kita menggunakan alat untuk mengeringkan kakao tersebut. Lebih
cepat keringnya bahan (biji kakao) akan mempercepat juga kinerja dari suatu
pabrik.
Pengeringan biji kakao sebaiknya dilakukan dengan dua tahap. Proses
pengeringan diawali denan proses penjemuran untuk mengurangi kadar air awal
biji kakao dari 55% sampai dengan kadar air 25%, kemudian diikuti dengan tahap
kedua yaitu proses pengeringan secara mekanis.
Sortasi Biji Kakao
Setelah biji dikeringkan dilakukan proses sortasi biji kakao. Sortasi
ditujukan untuk mengelompokkan biji kakao berdasarkan ukuran fisiknya dan
sekaligus memisahkan kotoran-kotoran yang tercampur di dalamnya. Mesin
sortasi ukuran yang umum digunakan adalah jenis silinder berputar atau jenis
datar dengan getaran dengan kapasitas antara 500 - 1.250 kg per jam. Mesin
sortasi mempunyai tiga saringan dengan memisahkan biji dengan golongan mutu
A, B dan C. Secara kuantitatif definisi mutu A adalah golongan biji dengan ukuran

besar dan mempunyai jumlah biji antara 85 - 90 untuk setiap 100 g. Mutu B
adalah golongan biji dengan ukuran medium dan mempunyai jumlah biji antara
95 - 110. Sedangkan mutu C adalah golongan biji dengan ukuran kecil dan
mempunyai jumlah biji di atas 120. Biji pecah keluar dari ayakan paling bawah
untuk mesin tipe getar.
Penyimpanan Biji Kakao
Setelah biji kakao melalui proses pengeringan biji kakao dapat disimpan
dalam waktu yang lebih lama guna menjaga pasokan bahan baku sehingga pabrik
dapat terus beroprasi walaupun musim panen telah berlalu.
Penyimpanan biji kakao jika tidak ditangani dengan baik dapat
menyebabkan penurunan mutu biji kakao. Serangan jamur dan hama pada biji
kakao selama penggudangan merupakan penyebab penurunan mutu yang serius.
Udara yang humid pada gudang di daerah tropis merupakan pemicu utama
pertumbuhan jamur pada biji, sedangkan sanitasi atau kebersihan yang kurang
baik menyebabkan hama gudang seperti serangga atau tikus akan cepat
berkembang dan pada akhirnya akan merusak biji kakao.
Faktor yang penting dalam penyimpanan bahan pertanian adalah kadar air
bahan dan kelembaban udara tempat penyimpanan. Proses kerusakan bahan secara
biologis, fisiologis dan kimiawi selama penyimpanan membutuhkan air sebagai
media. Fungi adalah salah satu penyebab kerusakan terbesar atas bahan-bahan
yang mengandung senyawa selulosa. Dua kelompok spesies fungi yang dianggap
domonan mengawali kerusakan bahan pertanian adalah Aspergillus restriclus G.
Sm dan Aspergillus glaucus de Bary. Keduanya akan tumbuh pada lingkungan
dengan kelembaban relatif 70%, pada suhu optimum 300 350 C.
Kadar air yang aman untuk penyimpanan umumnya mengacu pada nilai
kadar air kesetimbangan pada suhu dan kelembaban relatif ruang penyimpanan.
Untuk komoditas kakao kadar air maksimum biji kakao yang berkeseimbangan
pada kelembaban relatif ruang simpan 70 % adalah 7,5%.
Syarat yang perlu diperhatikan sebagai tempat penyimpanan biji kakao
kering adalah :
1. Gudang harus terpisah dari tempat penyimpanan bahan lainnya ataupun
penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik.

2. Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau kemungkinan
masuk air hujan.
3. Suhu gudang tidak melebihi 300C.
4. Kelembaban udara sebaiknya diusahakan serendah mungkin (< 70%) untuk
mencegah terjadinya penyerapan air. Kelembaban udara yang tinghgi dapat
memacu pertumbuhan mikroorganisme sehingga menurunkan mutu biji kakao
kering.
5. Masuknya sinar matahari langsung menyinari biji kakao kering harus dicegah
6. Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering memakan biji
kakao kering harus dicegah
Untuk menyimpan biji kakao kering agar tetap dalam kondisi baik, biji
kakao sebaiknya disimpan dengan kemasan dan ditempatkan dalam ruangan yang
bersuhu 300C serta kelembaban relative 74%, sedang suhu minimal 250C. Apabila
ruang simpan mempunyai kelembaban diatas 75% maka bahan yang disimpan
akan rusak karena jamur, sedang apabila kelembaban relatif dapat diusahakan
sekitar 70%, maka daya simpan akan menjadi lebih baik.
Pembuatan Bubuk Kakao
Untuk memproses biji untuk dijadikan produk yang bisa dikonsumsi kita
menggunakan alat penghalus yang disebut breaker agar menjadikan biji menjadi
bubuk halus. Untuk memperoleh ukuran fraksi yang seragam, setelah penghalusan
dilakukan pengayakan. Biji kakao relatif sulit dihaluskan dibandingkan biji-bijian
dari produk pertanian lainnya karena pengaruh kadar lemak. Lemak yang tersisa
di dalam bubuk akan meleleh saat dihaluskan karena gesekan, dan menyebabkan
komponen peralatan penghalus tidak dapat bekerja secara optimal. Jika suhu
penghalusan di bawah 340C, fraksi gliserida di dalam lemak kakao menjadi tidak
stabil dan menyebabkan bubuk menggumpal kembali membentuk bongkahan
(lump). Untuk itu, selama proses penghalusan suhu operasi harus dikontrol agar
diperoleh bentuk bubuk yang stabil, baik warnanya maupun sifat-sifatnya.

REFERENSI
Anna, Ony Nur. 2011. Pengelolaan Panen dan Pasca Panen Tanaman Kakao
(Theobroma Cacao L.) di Kebun Pt Rumpun Sari Antan 1, Cilacap, Jawa
Tengah. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Anonim. 2012. Bab 13. Mesin Panen Umbi, Buah, dan
http://web.ipb.ac.id. Diakses pada tanggal 6 Desember 2015.

Sayuran.

Anonim. 2012. Pengolahan Kakao. disbun.jatimprov.go.id. Diakses pada tanggal


7 Desember 2015.
Anonim. 2013. Alat dan Mesin Pemanenan. www.scribd.com. Diakses pada
tanggal 6 Desember 2015.
Dumadi, Suyatmi Retno. 2011. The Moisture Content Increase of Dried Cocoa
Beans During Storage at Room Temperature. Pusat Teknologi Agroindustri,
Badan Pengkajian dan Penetapan Teknologi: Jakarta.
Ikhsan, Muh.2013. Hubungan Antara Tingkat Kekerasan Dan Waktu Pemecahan
Daging Buah Kakao. http://repository.unhas.ac.id. Diakses pada tanggal 7
Desember 2015.
Easter, Roberta Lei. 2011. Kerusakan Pangan dan Perubahan Pasca Panen.
Universitas Diponegoro: Semarang.
Elwin. 2012. Mesin Pemanen Jagung. http://blog.ub.ac.id. Diakses pada tanggal 6
Desember 2015.
Hamdani, Jajang Sauman. 2009. Pengaruh Jenis Mulsa terhadap Pertumbuhan
dan Hasil Tiga Kultivar Kentang (Solanum tuberosum L.) yang Ditanam di
Dataran Medium. Universitas Padjajaran: Bandung.
Napitupulu, Farel.2012. Perancangan Dan Pengujian Alat Pengering Kakao
Dengan Tipe Cabinet Dryer Untuk Kapasitas 7,5 Kg Per-Siklus.
http://download.portalgaruda.org. Diakses pada tanggal 7 Desember 2015.
Setyowati, N. 2003. Pertumbuhan dan Hasil Kentang Dataran Tinggi Rejang:
Teknik Pemulsaan dan Pemupukan Bokashi Terhadap Pertumbuhan Gulma.
Universitas Bengkulu: Bengkulu.
Umar, Sudirman. 2010. Teknologi Alat dan Mesin Pengolahan Pasca Panen
sebagai Komponen Pendukung Usaha Tani Jagung di Lahan Kering
Kalimantan Selatan. Balai Pertanian dan Penelitian Lahan Rawa.
Yusriana. 2013. Rancang Bangun Transportasi Logistik Kakao Agroindustri Coklat
Kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh. Universitas Syiah Kuala: Banda Aceh.

Catatan Diskusi
Hari Minggu, 6 Desember 2015
1. Menentukan alternatif solusi yang ditawarkan untuk kasus 1:
a. Memilih jenis komoditas sayuran yang akan dibudidayakan. Diantara dua
jenis sayuran yang dipertimbangkan yaitu labu dan kentang, dipilih
tanaman kentang.
b. Memilih model budidaya tanaman jagung dan sayuran secara tumpang
sari atau terpisah. Diputuskan untuk membudidayakan secara terpisah
karena lahan yang dimiliki cukup luas.
c. Memberikan pagar pembatas antara perkebunan dan peternakan
d. Memilih metode peternakan sapi yang menguntungkan
e. Menggunakan mesin panen
f. Memilih alternatif penggunaan mesin penyiang gulma atau mulsa plastik.
Mulsa plastik dipilih sebagai solusi untuk mengatasi gulma karena
memberikan manfaat lain yang berpengaruh pada mutu tanaman.
2. Pembagian tugas membuat artikel:
a. Lukman: Membahas mengenai keuntungan budidaya kentang dalam
beberapa aspek
b. Nurul: Membahas metode peternakan sapi yang paling menguntungkan
dan pemanfaatan limbah kotoran sapi sebagai pupuk kompos
c. Astuti: Membahas mengenai penggunaan mulsa plastik dan perannya
dalam mencegah perkembangan gulma
d. Gemala: Membahas mengenai jenis-jenis dan prinsip kerja mesin panen
yang dapat digunakan untuk tanaman jagung dan kentang.

Hari Senin, 7 Desember 2015


1. Menentukan masukan yang akan diberikan pada kasus 2:
a. Menggunakan alata tau mesin dalam melakukan pengolahan kakao. Alat
yang dibahas adalah alat pemecah buah kakao, alat pengering biji kakao,
alat fermentasi biji kakao, dan alat pembuat bubuk dari biji kakao.
b. Memperhatikan masalah transportasi buah kakao dari kebun ke pabrik
c. Membuat gudang penyimpanan yang sesuai dengan kriteria penyimpanan
biji kakao
d. Melakukan sortasi terhadap buah kakao dari petani untuk meningkatkan
mutu produk
2. Pembagian tugas membuat artikel:
a. Lukman: Membahas tentang tahap-tahap pengolahan kakao
b. Nurul: Membahas prinsip kerja mesin-mesin untuk pengolahan kakao
c. Astuti: Membahas mengenai proses sortasi buah kakao dan proses
fermentasi biji kakao
d. Gemala: Membahas mengenai transportasi buah kakao dan syarat gudang
penyimpanan biji kakao