Anda di halaman 1dari 4

Analisis Kuantitatif

a. Metode Titrasi
1. Metode Titrasi 2,6 D (Dichloroindophenol)
Metode ini menggunakan 2,6 D dan menghasilkan hasil yang lebih
spesifik dari titrasi yodium. Pada titrasi ini, persiapan sampel ditambahkan
asam oksalat atau asam metafosfat, sehingga mencegah logam katalis
lain mengoksidasi vitamin C. Prinsip analisis kadar vitamin C metode
titrasi 2,6-diklorofenol yaitu menetapkan kadar vitamin C pada bahan
pangan berdasarkan titrasi dengan 2,6-diklorofenol indofenol dimana
terjadi

reaksi

reduksi

2,6diklorofenol

indofenol

dengan

adanya

vitamin C dalam larutan asam. Asam askorbat mereduksi 2,6diklorofenol indofenol dalam suatu larutan yang tidak berwarna. Titik
akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah muda
dalam kondisi asam (Wijanarko, 2002).
Penetapan Kadar sediaan injeksi vitamin C:
Ukur seksama sejumlah volume injeksi setara lebih kurang 50 mg
asam askorbat, jika perlu sebelumnya encerkan dengan air secukupnya,
masukkan ke dalam labu ukur 100 mL. Tambahkan 20 mL asam
metafosfat asetat LP, encerkan dengan air secukupnya sampai tanda.
Ukur seksama sejumlah volume larutan tersebut setara dengan lebih
kurang 2 mg asam askorbat, masukan ke dalam labu erlenmeyer 50 mL,
tambahkan 5 mL asam metafosfat asetat LP. Titrasi dengan larutan baku
diklorofenol indofenol LV, hingga terjadi warna merah muda selama paling
sedikit 5 detik. Lakukan penetapan blangko menggunakan campuran 5,5
mL asam metafosfat asetat LP dan 15 mL air. Hitung jumlah asam
askorbat dalam mg per mL injeksi dari asam askorbat yang setara dengan
larutan baku diklorofenol indofenol LV (FI IV, 1995).
2. Titrasi Asam-Basa
Titrasi Asam Basa merupakan contoh analisis volumetri, yaitu,
suatu cara atau metode, yang menggunakan larutan yang disebut titran
dan dilepaskan dari perangkat gelas yang disebut buret. Bila larutan yang
diuji bersifat basa maka titran harus bersifat asam dan sebaliknya. Untuk

menghitungnya kadar vitamin C dari metode ini adalah dengan mol NaOH
= mol asam Askorbat (Sastrohamidjojo, 2005).
3. Iodium
Metode ini paling banyak digunakan, karena murah, sederhana,
dan tidak memerlukan peralatan laboratorium yang canggih. titrasi ini
memakai Iodium sebagai oksidator yang mengoksidasi vitamin C dan
memakai amilum sebagai indikatornya. (Wijanarko, 2002).
Titrasi redoks adalah titrasi yang melibatkan proses oksidasi dan
reduksi. Kedua proses ini selalu terjadi secara bersamaan. Dalam titrasi
redoks biasanya menggunakan potensiometri untuk mendeteksi titik
akhir. Untuk mengetahui kadar vitamin C metode titrasi redoks yang
digunakan adalah titrasi langsung yang menggunakan iodium. Iodium
akan mengoksidasi senyawa-senyawa yang mempunyai potensial reduksi
yang lebih kecil dibanding iodium. Vitamin C mempunyai potensial reduksi
yang lebih kecil daripada iodium sehingga dapat dilakukan titrasi langsung
dengan iodium. Pendeteksian titik akhir pada titrasi iodimetri ini adalah
dilakukan dengan menggunakan indikator amilum yang akan memberikan
warna biru pada saat tercapainya titik akhir (Gandjar, dkk., 2007).
Penetapan Kadar:
Timbanglah

seksama

lebih

kurang

400

mg,

larutkan

dalam

campuran 100 mL air dan 25 mL asam sulfat 2 N, tambahkan 3 mL kanji


LP. Titrasi segera dengan iodium 0,1 N LV.
Keterangan: 1 mL iodum 0,1 N setara dengan 8,806 mg asam askorbat (FI
IV, 1995).
b. Metode Spektrofotometri
Pada metode ini, larutan sampel (vitamin C) diletakkan pada
sebuah kuvet yang disinari oleh cahaya UV dengan panjang gelombang
yang sama dengan molekul pada vitamin C. Analisis menggunakan
metode ini memiliki hasil yang akurat (Sudarmaji, 2007).
Uji Larutan:

Larutkan 0,1 g di dalam aquades dan ditambahkan hingga 100 mL.


Pipet 1 mL dari larutan ke dalam 10 mL asam hidroklorida 0,1 M dan
ditambahkan aquades hingga 100 mL. Ukur absorbansinya segera pada
absorpsi maksimum 243 nm (British Pharmacopoeia, 2013).
c. Metode Kromatograf
Penetapan kadar
Penetapan kadar dilakukan dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi
(HPLC).
Fase gerak: Larutkan 15,6 g natrium fosfat dibasa P dan 12,2 g kalium
fosfat monobasa P dalam 2000 ml air, atur pH hingga 2,50,05 dengan
penambahan asam fosfat P.
Larutan baku: Timbang saksama sejumlah Asam Askorbat BPFI, larutkan
dalam Fase gerak hingga kadar lebih kurang 0,5 mg per ml. [Catatan
Simpan dalam lemari pendingin dan terlindung cahaya hingga saat
digunakan. Larutan stabil selama 24 jam. Suntikkan dalam waktu 3 jam
setelah diambil dari lemari pendingin].
Larutan uji: Jika perlu encerkan sejumlah volume injeksi secara bertahap
dan kuantitatif dengan Fase gerak hingga kadar lebih kurang 0,5 mg per
ml. [Catatan Simpan dalam lemari pendingin dan terlindung cahaya
hingga saat digunakan. Larutan stabil selama 24 jam. Suntikkan dalam
waktu 3 jam setelah diambil dari lemari pendingin].
Sistem kromatografi: Kromatograf cair kinerja tinggi dilengkapi dengan
detektor 245 nm dan kolom 6 mm x 150 mm, berisi bahan pengisi L39.
Laju alir lebih kurang 0,6 ml per menit. Lakukan kromatografi terhadap
Larutan baku,rekam kromatogram dan ukur respons puncak seperti
tertera pada Prosedur: efisiensi kolom tidak kurang dari 3500 lempeng
teoritis, faktor ikutan tidak lebih dari 1,6 dan simpangan baku relatif pada
penyuntikan ulang tidak lebih dari 1,5%.
Prosedur: Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang
4 l) Larutan baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf, rekam
kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung jumlah dalam mg
asam askorbat, C6H8O6, per ml zat uji dengan rumus:

Ket:

C adalah kadar Asam Askorbat BPFI dalam mg per ml Larutan baku;


D adalah faktor pengenceran;
rU dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan uji dan

Larutan baku
(FI IV, 1995).

Daftar Pustaka
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM PRESS
Sudarmaji, Slamet dkk. 2007. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan
Pertanian (edisi keempat). Yogyakarta: Liberti
Wijanarko, Simon Bambang. 2002. Analisa Hasil Pertanian. Malang:
Universitas Brawijaya
Gandjar, Ibnu G. dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta. (Hal. 153 - 154).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
British Pharmacopeia. 2013. Volume III. London: The Stationery Office.

Anda mungkin juga menyukai