Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA INDUSTRI

PEMBUATAN BIOETANOL DARI AIR KELAPA


Disusun Oleh :
Kelompok II
Patrisia Jaklin Landeng (13101101001)
Muhammad Fajrin Salim (13101101006)
Putri Utami Kiay Demak (13101101008)
Lydia Priskilla Kamagi (13101101015)
Agres Krismantona Tarigan (13101101017)
Andika Saranaung (13101101020)

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO

BIOETANOL DARI AIR KELAPA

I.

Tujuan
1. Mengetahui cara pembuatan etanol dari air kelapa
2. Menentukan kadar etanol yang dihasilkan dari air kelapa

II.

Dasar Teori
Dari sekian banyak jenis palem, kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan jenis tanaman
yang telah lama dikenal dan banyak tersebar di daerah tropis. Kelapa merupakan salah satu
komoditi perkebunan yang penting bagi Indonesia disamping coklat, kopi, lada, dan vanili.
Komoditi ini berperan penting bagi kehidupan bangsa Indonesia baik ditinjau dari aspek
ekonomi maupun aspek sosial budaya. Kelapa dikenal sebagai tanaman serba guna karena
seluruh bagian tanaman ini bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bagian-bagian yang dapat
digunakan adalah akar, batang, daun, bunga, dan yang paling barmanfaat adalah buah. Kelapa
ditanam hampir di seluruh Indonesia dengan sentral produksinya adalah Aceh, Sumatera Utara,
Riau, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku
(Cahyadi, 2006)
Kelapa (Cocos nucifera) terdiri dari beberapa jenis, dengan kelapa jenis hibrida sebagai
jenis kelapa yang paling banyak ditemukan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Industri
yang memanfaatkan kelapa khususnya kelapa tua ternyata menghasilkan limbah yang cukup
banyak setiap harinya, diantaranya air kelapa tua tersebut. Air kelapa ini merupakan media yang
baik untuk pertumbuhan mikroba dan akan mengubahnya menjadi asam organik sehingga dapat
mengasamkan tanah tempat air kelapa dibuang, polusi air, dan bau serta beberapa kerusakan
lingkungan lainnya. Potensi kuantitatif limbah air kelapa nasional sangat besar dengan asumsi
produksi nasional sekitar 11 juta butir/tahun, air kelapa yang dihasilkan setiap tahun sekitar 3,3
juta kg (Suhardiyono, 1995).

Usahausaha pemanfaatan air kelapa sudah dilakukan dalam skala kecil atau industri.
Usaha tersebut bukan hanya didasarkan pada motivasi peniadaan limbah dan pengurangan
dampak negatifnya terhadap lingkungan, namun juga oleh karena motivasi ekonomi. Usaha ini
semakin berarti karena berkembangnya konsep sistem pengolahan kelapa terpadu yaitu sistem
pengolahan yang mengusahakan pemanfaatan seluruh bagian (buah) kelapa secara ekonomis
(Desrosier, 1988).
Di Indonesia, pemanfaatan air kelapa belum maksimal, banyak terbuang percuma.
Namun akhirakhir ini sudah ada upaya untuk mengolah air kelapa menjadi nata de coco. Lain
halnya dengan Filipina yang sudah memanfaatkan air kelapa untuk berbagai produk, seperti
minuman ringan, jelly, dekstran, anggur, cuka, etil asetat, dan alkohol (Suhardiyono, 1995)
Komposisi kimia air buah kelapa mengandung karbohidrat sebanyak 4,60 gram,
disamping itu juga mengandung komponen lain, seperti : protein, asam amino, lemak, fosfor, dan
mineral lainnya. Dengan adanya karbohidrat tersebut maka alternatif lain untuk memanfaatkan
air kelapa ialah dengan mengolahnya menjadi minuman beralkohol. Untuk mengolah air kelapa
menjadi minuman beralkohol dilakukan dengan fermentasi. Menurut Effendi (2009), dalam
proses fermentasi ini umumnya menggunakan jenis khamir Saccharomyces cereviceae karena
mempunyai kesanggupan yang tinggi untuk menghasilkan alkohol.
Fermentasi alkohol merupakan kurangnya oksigen dalam tubuh, maka proses
pembongkaran zat dilakukan dengan cara anaerob. Sebagian besar dari energi yang terkadung di
dalam glukosa masih terdapat di dalam etanol (ini adalah alasan etanol sering dipakai sebagai
bahan bakar mesin). Proses fermentasi alkohol sangat berbahaya. Ragi meracuni diri sendiri jika
konsentrasi etanol mencapai kira-kira 19 % (Eegriwe, 1937).
Dalam fermentasi alkohol digunakan ragi (yeast) dari jenis Eumycetes spesies
Saccharomyces yang dapat hidup, baik dalam kondisi lingkungan cukup oksigen maupun kurang
oksigen. Organisme yang demikian disebut aerob fakultatif. Dalam keadaan cukup oksigen,
Saccharomyces akan melakukan respirasi biasa. Akan tetapi, jika dalam keadaan lingkungan
kurang oksigen Saccharomyces akan melakukan fermentasi. Saccharomyces cereviseae (tumbuh
sempurna pada suhu 300C dan pH 4,8 untuk mengubah glukosa menjadi alkohol + CO2
(Cahyadi, 2006).

Menurut Suhardiyono (1995), alam keadaan anaerob, asam piruvat yang dihasilkan oleh
proses glikolisis akan diubah menjadi asam asetat dan CO 2. Selanjutnya, asam asetat diubah
menjadi alkohol. Proses perubahan asam asetat menjadi alkohol tersebut diikuti pula dengan
perubahan NADH menjadi NAD+. Dengan terbentuknya NAD+, peristiwa glikolisis dapat terjadi
lagi. Dalam fermentasi alkohol ini, dari satu mol glukosa hanya dapat dihasilkan 2 molekul ATP.
Fermentasi alkohol, secara sederhana, berlangsung sebagai berikut.
C6H12O6
Alkohol

2C2H5OH + 2CO2 + 2ATP


Etanol

Sebagaimana halnya fermentasi asam laktat, reaksi ini merupakan suatu pemborosan. Sebagian
besar dari energi yang terkandung di dalam glukosa masih terdapat di dalam etanol, karena itu
etanol sering dipakai sebagai bahan bakar mesin. Reaksi ini, seperti fermentasi asam laktat, juga
berbahaya. Ragi dapat meracuni dirinya sendiri jika konsentrasi etanol mencapai 13%.
Gula merah, gula jawa, brown sugar, palm sugar, berasal dari berbagai material. Di
Indonesia, gula merah berasal dari kelapa, aren (enau), lontar (siwalan), nipah (rumbia), dan
tebu. Gula merah atau gula jawa datang dalam berbagai bentuk (batok, butiran, koin, dll),
berbagai warna (emas pucat sampai coklat gelap) dan berbagai rasa. Dihasilkan dari cairan nira
yang manis yang menetes dari kuncup bunga yang potong dan kemudian dipanen dari sejumlah
pohon palma yang berbeda-beda (Eegriwe, 1937).
Menurut Cahyadi (2006), gula sebagai sukrosa diperoleh dari nira tebu, bit gula, atau
aren. Meskipun demikian, terdapat sumber-sumber gula minor lainnya, seperti kelapa. Sumbersumber pemanis lain, seperti umbi dahlia, anggur, atau bulir jagung, juga menghasilkan semacam
pemanis namun bukan tersusun dari sukrosa sebagai komponen utama. Proses untuk
menghasilkan gula mencakup tahap ekstraksi (pemerasan) diikuti dengan pemurnian melalui
distilasi (penyulingan)

III.

Alat dan Bahan


3.1 Alat
- Saringan
- Botol Aqua 1500 Liter
- Selang
- Hot plate
- Gelas beker
- Gelas ukur
- Erlenmeyer
- Labu destilat
- Alkohol meter
-

IV.

3.2 Bahan
Kelapa muda (2 buah)
Gula merah
Gula putih
Ragi

Prosedur Kerja
Pembuatan Starter :
1. Disiapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan
2. Buah Kelapa di belah, Air kelapa disaring
3. Air kelapa yang telah di homogenkan dimasukkan kedalam wadah, lalu diambil 1 liter
air kelapa kemudian dimasukan kedalam 2 gelas beker masing-masing 500 ml air kelapa
Proses Fermentasi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

V.

Selanjutnya air kelapa dipanaskan sampai mendidih selama 5 menit.


Setelah air kelapa mendidih kemudian ditambahkan gula 20 %.
Tabung 1 ditambahkan gula merah dan tabung kedua ditambahkan gula putih.
Setelah ditambahkan gula , masing-masing tabung didinginkan dan dimasukan kedalam
botol aqua 1500 liter.
Setelah dingin kemudian ditambahkan 6% ragi menggunakan corong.
Dikocok sampai homogen.
Diinkubasi maksimal 3 hari.
Setelah 3 hari ,kedua Larutan tersebut (gula merah-gula putih) didestilasi untuk
mendapatkan etanol murni.

Hasil Pengamatan

Perhitungan untuk massa gula pasir dan gula aren sebanyak 20% :

massa gula=

20
x volume air kelapa
100

massa gula=

20
x 500 ml
100

massa gula = 100 gram

Perhitungan untuk massa ragi 3% :


massa ragi=

3
x volume air kelapa
100

massa gula=

3
x 500 ml
100

massa gula = 15 gram


Tabel Hasil Pengamatan Massa Gula yang ditimbang
Gula Putih(gram)

Gula Merah (gram)

100,1738

100,4116

Tabel Pengamatan Kadar Etanol yang telah diukur Alkohol Meter


Kadar Etanol Pada Gula Merah (%)
+ air
50 %

Kadar Etanol Pada Gula Putih (%)


57%

Diketahui : V etanol sebelum diencerkan = 78 ml


V etanol + V akuades = 100 ml,V akuades = 22 ml

Kadar Etanol Pada Gula Merah (%)


64,1025 %

Kadar Etanol Pada Gula Putih (%)


57 %

Rumus Pengenceran :
V1 x N1

= V2 x N2

78 ml x N1 = 100 ml x 50%
78ml. N1 = 5000 ml.%
N1= 5000ml.% /78 ml
N1 =64,1025 %

Kadar Etanol sesungguhnya

Tabel kadar etanol sesungguhnya

Pada Gula Merah,pada saat pengukuran dengan alkohol meter dilakukan pengenceran hingga
volumenya menjadi 100 ml karena jika tidak dilakukan pengenceran sampai 100 m l,alkohol
meter tidak akan bekerja dengan baik karena alkohol meter tidak mengapung.
Tabel Pengamatan Volume Etanol yang Dihasilkan dari Proses Destilasi
Volume etanol (Gula Merah) (ml)
78

VI.

Pembahasan

Volume Etanol (Gula Putih) (ml)


104

Berdasarkan hasil pengamatan diatas menunjukkan bahwa kadar etanol untuk gula merah
dengan volume 78 mL diperoleh 64,10 % dan kadar etanol untuk gula putih dengan volume 104
mL diperoleh 57 %. Dari representatif yang ada terlihat bahwa perolehan kadar tertinggi yaitu
64,10 %. Tampak jelas bahwa dari kadar tersebut dengan volume 78 mL yang ada harus
diencerkan dengan Aquades 22 mL dikarenakan ketika menggunakan Alkoholmeter guna untuk
bisa menghitung kadar etanolnya. Hal ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan terdapat
beberapa senyawa lain berupa air, asam amino, liglin, dan lain-lain pada gula merah sehingga
memberikan kadar maksimum. Dari hasil yang ada berlawanan dengan teori yaitu kadar suatu
etanol dengan gula putih lebih tinggi dibandingkan dengan suatu etanol dengan gula merah.
Dikarenakan produksi gula putih lebih murni. Artinya bahwa pada produk hasil gula putih dari
tebu tersebut terlihat bahwa kandungan gula putih yang murni tidak ada senyawa lain di
dalamnya sedangkan gula merah ada senyawa lain sehingga kadar etanolnya sedikit.

Fermentasi
Pada praktikum ini dilakukan selama 3 hari atau sekitar 30-70 jam. Hari pertama
pemberian ragi tidak langsung terjadi reaksi karena bakteri butuh waktu yang agak lama untuk
berkembang. Dan hari berikutnya diaduk agar homogen. Setelah 3 hari perbedaan ari kelapa hari
pertama dan hari ketiga mulai tampak. Lalu dihasilkan gelembung-gelembung udara pada air
kelapa tampak agak kekuningan di banding hari sebelumnya. Gelembung tersebut merupakan
fermentasi dimana dihasilkan gas CO2 dan etanol serta energi yang berupa panas.
Menurut Buckle et al., (1987) Dalam keadan anaerobik, kebanyakan khamir lebih
cenderung memfermentasi substrat karbohidrat untuk menghasilkan etanol bersama sedikit
produk akhir sesuai jalur glikolisis

Gambar 1. Jalur Perombakan Glukosa


Fermentasi etanol dipengaruhi oleh factor mikroorganisme, kondisi proses fermentasi dan
teknologi. Umumnya mikroorganisme yang sangat berperan pada fermentasi etanol adalah
saccharomyces sp. Factor-faktor linkungan seperti pH larutan, suhu dan nutrisi mempengaruhi
pertumbuhan mikroorganisme dalam mensintesa gula menjadi etanol. Oleh karena itu, upaya
untuk meningkatkan efisiensi fermentasi adalah mendaptkan strain strain baru yang unggul, dan
penguasaan teknologi proses fermentasi (Santoso dan Murdiyatmo, 1994).
Ragi atau dikenal juga dengan sebutan yeast merupakan semacam tumbuh-tumbuhan
bersel 1 yang tergolong dalam keluarga cendawan. Ragi akan bekerja bila ditambahkan gula dan
kondisi suhu yang hangat. Kandungan CO 2 yang dihasilkan akan membuat suatu adonan menjadi
mengembang dan terbentuk pori-pori. Praktikum ini digunakan jenis ragi yang butirannya halus
dan berwarna kecoklatan ini umumnya digunakan dalam roti.
Pemilihan mikroorganisme biasanya didasarkan pada jenis karbohidrat yang digunakan
sebagai medium. Untuk memproduksi alcohol dari pati dan gula digunakan khamir
Saccharomycess cereviceae. Pemilihan tersebut bertujuan agar didapatkan mikoorganisme yang
mampu tumbuh dengan cepat dan mempunyai toleransi terhadap konsentrasi gula yang tinggi,
maka mampu menghasilkan alcohol dalam jumlah yang banyak dan tahan terhadap alcohol
tersebut (Said, 1987).
Menurut

Fraenkel

(1982),

temperature

pertumbuhan

yang

optimum

untuk

Saccharomycess cereviceae adalah 28-360C dan pH optimum untuk pertumbuhan sel khamir 4,5-

5,5 (Moat and Foster, 1988). Tetapi ketika praktikum tidak menggunakan pH sehingga hasil yang
diperoleh tidak maksimal.
Menurut Buckle et al., (1987) karbon dan energi dapat diperoleh dari gula karbohidrat
sederhana seperti glukosa. Karbohidrat sederhana seperti glukosa. Karbohidrat merupakan
sumber carbon yang paling diigunakan dalam fermentasi oleh sel khamir.
Salah satu jenis mikroorganisme yang memiliki daya konversi gula menjadi etanol yang
sangat tinggi adalah Saccharomycess cereviceae. Mikroorganisme ini menghasilkan enzim
zimase dan invertase. Enzim zimase berfungsi sebagai pemecah sukrosa menjadi monosakarida
(glukosa dan fruktosa). Enzim intervase selanjutnya mengubah glukosa menjadi etanol.
Konsentrasi gula yang umumnya dibuat dalam pembuatan etanol sekotar 14-20 %. Jika
konsentrasi gula terlalu tinggi akan menghambat aktivitas khamir. Lama fermentasi sekitar 30-70
jam dengan kondisi fermentasi anaerob. (Judoamidjojo et al., 1992).
Fermentasi adalah proses produksi energi sel dalam keadaan anaerobic. Fermentasi
sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobic dengan tanpa akseptor electron eksternal
(Dirmanto, 2006).
Fermentasi dapat diartikan sebagai perubahan gradual oleh enzim beberapa bakteri, khamir,
jamur. Contoh perubahan kimia dari fermentasi meliputi pengasaman susu, dekomposisi, pati dan
gula menjadi alcohol dan CO2 serta oksidasi senyawa N organic. (Hidayat et al., 2006)
Mekanisme Fermentasi
Didalam proses fermentasi, kapasitas mikroba untuk mengoksidasi tergantung dari
jumlah akseptor electron terakhir yang dapat dipakai. Sel-sel melakukan fermentasi
menggunakan enzim-enzim yang akan mengubah hasil dari reaksi oksidasi. Dalam hal ini yaitu
asam menjadi senyawa yang memiliki muatan positif, sehingga dapat menangkap electron
terakhir dan menghasilkan energi. (Winarno dan Fardiaz, 1990).

Distilasi/Penyulingan

Untuk mendapatkan etanol hasil fementasi perlu dilakukan pemisahan yaitu dengan cara
penyulingan atau destilasi pada suhu 800 C dan suhu ini harus dipertahankan, karena etanol
sendiri menguap pada suhu tersebut. Uap etanol yang dihasilkan dikembalikan ke fase cair
dengan cara kondensasi sehingga didapatkan etanol. Pada penyulingan pertama biasanya
dihasilkan etanol 50% - 60% oleh karena itu etanol tersebut disuling lagi agar kadar etanol yang
dihasilkan meningkat sekitar 20% sehingga mendapatkan etanol dengan kadar 95% - 96% sudah
cukup.
Dalam praktikum ini, penyulingan dilakukan hanya sekali didapatkan 64,10 % untuk
etanol gula merah dan 57 % untuk etanol gula putih. Tetapi tidak dilakukan kedua kali
penyulingan karena praktikan tidak melakukan pengulangan
Meningkatnya kadar etanol, kadar gula dan menurunnya pH, disebabkan terpisahnya
asam-asam yang dikandung larutan etanol kasar dan air, selama proses penguapan dan destilasi,
sehingga konsentrasi etanol, kadar gula dan pH meningkat. Sedangkan residu (bagian yang tidak
menguap) adalah cairan air-etanol sisa yang terdapat pada tangki evaporator, yang masih
mengandung etanol sekitar 2 %, kadar gula 4,0-4,5 % dan bersifat asam dengan pH 4,0-4,3.
Residu tidak digunakan lagi dalam proses pengolahan etanol, karena berkadar rendah dan
membutuhkan energi panas yang banyak untuk menguapkan etanol (Lay, et al, 2011).
Pengunaan etanol dibagi menjadi empat kelompok : (a) etanol berkadar 25-45% sebagai
minuman beralkohol, (b) etanol berkadar lebih dari 70-90%, sebagai bahan farmasi desinfektan,
minuman beralkohol golongan C (bir dan wine) dan bahan bakar kompor, (c) Etanol berkadar
tinggi (90-96%), digunakan untuk farmasi, obatobatan dan bahan pelarut, dan (d) Etanol absolut
(kadar 99%),sebagai bahan bakar (Hambali, et al, 2008).

Kelebihan

Tanaman serbaguna karena hampir semua bagianya bernilai ekonomi dan tidak
membutuhkan pemeliharaan intensif seshingga cocok bagi petani miskin di lahan marginal.
Tanaman kelapa juga menghasilkan biomassa diatas tanah yang sangat besar 1 hingga 2 ton /
pohon, sehingga dapat berpern penting dalam CO2. Kelapa dapat berperan sebagai salah satu
sumber bioenergi yang penting mengikat produktivitasnya yang sanggat tinggi sehingga hemat
pemakaian lahan. Air kelapa memiliki potensi yang sangat besar sebagai sumber utama
bioenergiyang ramah lingkungan samping sebagai penghasil pangan dan tanaman konservasi, air
kelapa memiiki kelebihan dibandingkan dengan bahan baku bioetanol lainnya seperti singkong
dan jagung (tanaman penghasil pati) dikarenakan tahap yang dilakukan dua tahap yaitu
fermentasi dan destilasi, sedangkan bioetanol yang berasal dari tumbuhan berpati memerlukan
tahap hidrolisis ringan (sakarifikasi) untuk mengubah polimerpati menjadi gula sederhana.
Etanol / bioetanol apabila dicampur dengan prmium dapat meninagkatkan nilai oktan dimana
nilai oktan etanol /bioetanol 98% adalah sebesar 115, selain itu mengingat etanol / bioetanol
mengandung 30% oksigen ,sehingga campuranethanol /bioetanol dengan gasoline dapat masuk
kategori high octane gasoline (HOG) dimana campuran sebanyak 15% bioetanol setara dengan
pertamax (RON 92) dan capuran sebanyak 24% bioetanol setara dengan peramax plus (RON 95)
Kekurangan
Air kelapa tidak tahan lama (mudah basi) jika berada di udara bebas maka air kelpa
tersebut akan menjadi asam. Tingkat keasamanyang semakin tinggiakn berakibat kadar gula yang
terkandungdi dalam nya semakin rendah. Sehingga diperlukan proses yang cepat agartidak
menyusut. Selain itu bioetanol sendiri juga memiliki kelemahan , yaitu mempunyai sifat korosif.
Sehingga sangat berpengaruh terhadap logam (khususnya logam yang mmudah terkena korosi),
seperti membuat mesin tidak bisa disterter

VII. Kesimpulan dan Saran


7.1 Kesimpulan

1. Pembuatan Etanol dengan Reaksi Fermentasi yang menggunakan ragi, air


kelapa, gula (gula aren dan gula pasir)
2. Kadar etanol pada gula pasir 57% , kadar etanol pada gula aren di tambah
air 50% dan kadar etanol sebelum pengenceran 64%
7.2 Saran
diperlukan pengulangan penyulingan agar mendapat suatu kadar etanol
yang tinggi (maksimum)

DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi, W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan

Tambahan Pangan. Bumi Aksara,

Jakarta.
Desrosier, N.W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. UI.Press, Jakarta.
Eegriwe, E. 1937. Reaktionen und Reagenzien zum nachweis Organischer Verbindungen. Zeit
Anal. Chemie. 110: 22-25.
Effendi, S. 2009. Teknologi Pengolahan dan Pengawetan

Pangan. Alfabeta : Bandung.

LAMPIRAN
Proses Fermentasi

Proses destilasi

Etanol hasil
destilasi