Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PKN

S I S T E M P O L I T I K D A N K E TATAN E G A R A A N
INDONESIA

OLEH ;

NURSIDA
I 11115 0 7 8

UNIVERSITAS HASANUDDIN
F A K U LTA S P E T E R N A K A N
2016

SISTEM POLITIK DAN KETATANEGARAAN


INDONESIA
A. Pengertian Sistem Politik
1. Pengertian Sistem
Sistem adalah suatu kebulatan atau keseluruhan yang kompleks dan terorganisasi.
2. Pengertian Politik
Politik berasal dari bahasa yunani yaitu polis yang artinya Negara kota. Istilah
politik dalam ketatanegaraan berkaitan dengan tata cara pemerintahan, Politik biasanya
menyangkut kegiatan partai politik, tentara dan organisasi kemasyarakatan. Dapat
disimpulkan bahwa politik adalah interaksi antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka
proses pembuatan kebijakan dan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama
masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.
3. Pengertian Sistem Politik
Menurut Drs. Sukarno, sistem politik adalah sekumpulan pendapat, prinsip, yang
membentuk satu kesatuan yang berhubungan satu sama lain untuk mengatur pemerintahan
serta melaksanakan dan mempertahankan kekuasaan dengan cara mengatur individu atau
kelompok individu satu sama lain atau dengan Negara dan hubungan Negara dengan Negara.
4. Pengertian Sistem Politik di Indonesia
Sistem politik Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai
kegiatan dalam Negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk proses
penentuan tujuan,
Politik adalah semua lembaga-lembaga negara yang tersebut di dalam konstitusi
negara ( termasuk fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif ). Dalam Penyusunan keputusankeputusan kebijaksanaan diperlukan adanya kekuatan yang seimbang dan terjalinnya
kerjasama yang baik antara suprastruktur dan infrastruktur politik sehingga memudahkan
terwujudnya cita-cita dan tujuan-tujuan masyarakat/Negara. Dalam hal ini yang dimaksud
suprastruktur politik adalah Lembaga-Lembaga Negara. Lembaga-lembaga tersebut di
Indonesia diatur dalam UUD 1945 yakni MPR, DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden,

B. Proses Politik Di Indonesia


Sejarah Sistem politik Indonesia dilihat dari proses politiknya bisa dilihat dari masamasa berikut ini:
- Masa prakolonial
- Masa kolonial (penjajahan)
- Masa Demokrasi Liberal
- Masa Demokrasi terpimpin

- Masa Demokrasi Pancasila


- Masa Reformasi
Masing-masing masa tersebut kemudian dianalisis secara sistematis dari aspek :
- Penyaluran tuntutan
- Pemeliharaan nilai
- Kapabilitas
- Integrasi vertikal
- Integrasi horizontal
- Gaya politik
- Kepemimpinan
- Partisipasi massa
- Keterlibatan militer
- Aparat negara
- Stabilitas
Bila diuraikan kembali maka diperoleh analisis sebagai berikut :
1. Masa prakolonial (Kerajaan
- Penyaluran tuntutan rendah dan terpenuhi
- Pemeliharaan nilai disesuikan dengan penguasa
- Kapabilitas SDA melimpah
- Integrasi vertikal atas bawah
- Integrasi horizontal nampak hanya sesama penguasa kerajaan
- Gaya politik kerajaan
- Kepemimpinan raja, pangeran dan keluarga kerajaan
- Partisipasi massa sangat rendah
- Keterlibatan militer sangat kuat karena berkaitan dengan perang
- Aparat negara loyal kepada kerajaan dan raja yang memerintah
- Stabilitas stabil dimasa aman dan instabil dimasa perang
2. Masa kolonial (penjajahan)
- Penyaluran tuntutan rendah dan tidak terpenuhi
- Pemeliharaan nilai sering terjadi pelanggaran ham
- Kapabilitas melimpah tapi dikeruk bagi kepentingan penjajah
- Integrasi vertikal atas bawah tidak harmonis
- Integrasi horizontal harmonis dengan sesama penjajah atau elit pribumi
- Gaya politik penjajahan, politik belah bambu (memecah belah)
- Kepemimpinan dari penjajah dan elit pribumi yang diperalat
- Partisipasi massa sangat rendah bahkan tidak ada
- Keterlibatan militer sangat besar
- Aparat negara loyal kepada penjajah
- Stabilitas stabil tapi dalam kondisi mudah pecah
3. Masa Demokrasi Liberal

- Penyaluran tuntutan tinggi tapi sistem belum memadani


- Pemeliharaan nilai penghargaan HAM tinggi
- Kapabilitas baru sebagian yang dipergunakan, kebanyakan masih potensial
- Integrasi vertikal dua arah, atas bawah dan bawah atas
- Integrasi horizontal- disintegrasi, muncul solidarity makers dan administrator
- Gaya politik ideologis
- Kepemimpinan angkatan sumpah pemuda tahun 1928
- Partisipasi massa sangat tinggi, bahkan muncul kudeta
- Keterlibatan militer militer dikuasai oleh sipil
- Aparat negara loyak kepada kepentingan kelompok atau partai
- Stabilitas - instabilitas
4. Masa Demokrasi terpimpin
- Penyaluran tuntutan tinggi tapi tidak tersalurkan karena adanya Front nas
- Pemeliharaan nilai Penghormatan HAM rendah
- Kapabilitas abstrak, distributif dan simbolik, ekonomi tidak maju
- Integrasi vertikal atas bawah
- Integrasi horizontal berperan solidarity makers,
- Gaya politik ideolog, nasakom
- Kepemimpinan tokoh kharismatik dan paternalistik
- Partisipasi massa dibatasi
- Keterlibatan militer militer masuk ke pemerintahan
- Aparat negara loyal kepada negara
- Stabilitas - stabil
5. Masa Demokrasi Pancasila
- Penyaluran tuntutan awalnya seimbang kemudian tidak terpenuhi karena fusi
- Pemeliharaan nilai terjadi Pelanggaran HAM tapi ada pengakuan HAM
- Kapabilitas sistem terbuka
- Integrasi vertikal atas bawah
- Integrasi horizontal nampak
- Gaya politik intelek, pragmatik, konsep pembangunan
- Kepemimpinan teknokrat dan ABRI
- Partisipasi massa awalnya bebas terbatas, kemudian lebih banyak dibatasi
- Keterlibatan militer merajalela dengan konsep dwifungsi ABRI
- Aparat negara loyal kepada pemerintah (Golkar)
- Stabilitas stabil
6. Masa Reformasi
- Penyaluran tuntutan tinggi dan terpenuh
-Pemeliharaan nilai Penghormatan HAM tinggi
- Kapabilitas disesuaikan dengan Otonomi daerah
- Integrasi vertikal dua arah, atas bawah dan bawah atas
- Integrasi horizontal nampak, muncul kebebasan (euforia)

- Gaya politik pragmatik


- Kepemimpinan sipil, purnawiranan, politisi
- Partisipasi massa tinggi
- Keterlibatan militer dibatasi
- Aparat negara harus loyal kepada negara bukan pemerintah
- Stabilitas instabil

C. Sejarah Sistem Politik di Indonesia


Sejarah Sistem Politik Indonesia bisa dilihat dari proses politik yang terjadi di dalamnya.
Namun dalam menguraikannya tidak cukup sekedar melihat sejarah Bangsa Indonesia tapi
diperlukan analisis sistem agar lebih efektif. Dalam proses politik biasanya di dalamnya
terdapat interaksi fungsional yaitu proses aliran yang berputar menjaga eksistensinya. Sistem
politik merupakan sistem yang terbuka, karena sistem ini dikelilingi oleh lingkungan yang
memiliki tantangan dan tekanan.
Dalam melakukan analisis sistem bisa dengan pendekatan satu segi pandangan saja seperti
dari sistem kepartaian, tetapi juga tidak bisa dilihat dari pendekatan tradisional dengan
melakukan proyeksi sejarah yang hanya berupa pemotretan sekilas. Pendekatan yang harus
dilakukan dengan pendekatan integratif yaitu pendekatan sistem, pelaku-saranan-tujuan dan
pengambilan keputusan
Kapabilitas sistem adalah kemampuan sistem untuk menghadapi kenyataan dan tantangan.
Pandangan mengenai keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini berbeda diantara para
pakar politik. Ahli politik zaman klasik seperti Aristoteles dan Plato dan diikuti oleh teoritisi
liberal abad ke-18 dan 19 melihat prestasi politik diukur dari sudut moral. Sedangkan pada
masa modern sekarang ahli politik melihatnya dari tingkat prestasi (performance level) yaitu
seberapa besar pengaruh lingkungan dalam masyarakat, lingkungan luar masyarakat dan
lingkungan internasional. Pengaruh ini akan memunculkan perubahan politik. Adapun pelaku
perubahan politik bisa dari elit politik, atau dari kelompok infrastruktur politik dan dari
lingkungan internasional.
Perubahan ini besaran maupun isi aliran berupa input dan output. Proes mengkonversi
input menjadi output dilakukan oleh penjaga gawang (gatekeeper)
Terdapat 5 kapabilitas yang menjadi penilaian prestasi sebuah sistem politik :
1. Kapabilitas Ekstraktif, yaitu kemampuan Sumber daya alam dan sumber daya
manusia. Kemampuan SDA biasanya masih bersifat potensial sampai kemudian
digunakan secara maksimal oleh pemerintah
2. Kapabilitas Distributif. SDA yang dimiliki oleh masyarakat dan negara diolah
sedemikian rupa untuk dapat didistribusikan secara merata, misalkan seperti sembako
yang diharuskan dapat merata distribusinya keseluruh masyarakat. Demikian pula

dengan pajak sebagai pemasukan negara itu harus kembali didistribusikan dari
pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
3. Kapabilitas Regulatif (pengaturan). Dalam menyelenggaran pengawasan tingkah laku
individu dan kelompok maka dibutuhkan adanya pengaturan. Regulasi individu sering
memunculkan benturan pendapat.
4. Kapabilitas simbolik, artinya kemampuan pemerintah dalam berkreasi dan secara
selektif membuat kebijakan yang akan diterima oleh rakyat. Semakin diterima
kebijakan yang dibuat pemerintah maka semakin baik kapabilitas simbolik sistem.
5. Kapabilitas responsif, dalam proses politik terdapat hubungan antara input dan output,
output berupa kebijakan pemerintah sejauh mana dipengaruhi oleh masukan atau
adanya partisipasi masyarakat sebagai inputnya akan menjadi ukuran kapabilitas
responsif. kapabilitas dalam negeri dan internasional.

D. Perbedaan sistem politik di berbagai Negara


1. Sistem Politik Di Negara Komunis
Bercirikan pemerintahan yang sentralistik, peniadaan hak milk pribadi, peniadaan
hak-haak sipil dan politik, tidak adanya mekanisme pemilu yang terbuka, tidak adanya
oposisi, serta terdapat pembatasan terhadap arus informasi dan kebebasan berpendapat
2. Sistem Politik Di Negara Liberal
Bercirikan adanya kebebasan berpikir bagi tiap individu atau kelompok, pembatasan
kekuasaan, khususnya dari pemerintah dan agama, penegakan hukum; pertukaran gagasan
yang bebas, sistem pemerintahan yang transparan yang didalamnya terdapat jaminan hak-hak
kaum minoritas.
3. Sistem Politik Demokrasi Di Indonesia
Sistem politik yang didasarkan pada nilai, prinsip, prosedur, dan kelembagaan yang
demokratis. Adapun sendi-sendi pokok dari sistem politik demokrasi di Indonesia adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

ide kedaulatan rakyat


negara berdasarkan atas hokum
bentuk republic
pemerintahan berdasarkan konstitusi
pemerintahan yang bertanggung jawab
sistem pemilihan langsung
sistem pemerintahan presidensiil