Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kista merupakan suatu kavitas tertutup atau kantung yang bagian dalam
dilapisi oleh epitelium, dan pusatnya terisi cairan atau bahan semisolid. Tandanya,
bila epitelium tumbuh dalam suatu masa sel, bagian pusat kehilangan sumber
nutrisi dari jaringan periferal. Perubahan ini menyebabkan nekrosis di pusat suatu
kavitas terbentuk, dan terciptalah suatu kista.
Kista rongga mulut dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelas, yaitu kista
odontogenik dan kista non odontogenik. Selain itu kista odontogenik juga dapat
terjadi selama proses perkembangan maupun karena inflamasi.
Kista dirawat dengan prosedur pembedahan enukleasi maupun dengan
marsupialisasi. Dalam melakukan prosedur pembedahan seorang klinisi juga
harus mempertimbangkan kondisi kesehatan umum pasien yang nantinya dapat
mempengaruhi kesuksesan perawatan.

BAB II
1

PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Kista

adalah

rongga

patologik

yang

dapat

berisi

cairan,

semisolid/semifluid, atau gas yang bukan berasal dari akumulasi pus maupun
darah. Kista dapat terjadi di antara tulang atau jaringan lunak. Dapat
asymptomatic atau dapat dihubungkan dengan nyeri dan pembengkakan. Pada
umumnya kista berjalan lambat dengan lesi yang meluas (Balaji, 2009).
Mayoritas kista berukuran kecil dan tidak menyebabkan pembengkakan di
permukaan jaringan. Apabila tidak ada infeksi, maka secara klinis pembesarannya
minimal dan berbatas jelas. Pembesaran kista dapat menyebabkan asimetri wajah,
pergeseran gigi yang terlibat, hilangnya gigi yang berhubungan atau gigi tetangga.
Dilihat dari gambaran radiograf, terlihat radiolusen yang dikelilingi lapisan
radioopak tipis, dapat berbentuk unilokular atau multilokular.

2.2 Klasifikasi (Balaji, 2009)


1. Odontogenik
a. Developmental
1) Dental lamina cyst (gingival cyst of infant)
2) Odontogenic keratocyst (primordial cyst)
3) Dentigerous cyst (follicular cyst)
4) Eruption cyst
5) Lateral periodontal cyst
6) Botryoid odotogenic cyst
7) Glandular odotogenic cyst
8) Gingival cyst of adults
9) Calcifying odontogenic cyst (Gorlin cyst) (WHO mengklasifikasikannya
sebagai tumor)
b. Inflamatory
1) Radicular cyst ( periapical cyst)
2) Residual cyst
3) Paradental cyst
4) Buccal bifurcation cyst
2. Non-odontogenik
a. Naso- palatine duct cyst (incisive canal cyst)
b. Nasolabial cyst (nasoalveolar cyst)
c. Palatal cyst of infant
1) Epsteins pearls
2) Bohns nodules
d. Lymphoepithelial cyst
1) Oral lymphoepithelial cyst
2) Cervical lymphoepithelial cyst (brachial cleft cyst)
2

e.
f.
g.
h.

Gastric heterotropic cyst


Thyroglossal duct cyst
Salivary duct cyst
Maxillary antrum associated cyst
1) Surgical ciliated cyst
2) Mucosal cyst of the maxillary antrum
i. Soft tissue cyst
1) Epidermoid cyst
2) Thymic cyst
3) Bronchogenic cyst
4) Trichilemmal cyst (pilar cyst)
j. Pseudo cyst
1) Idiopathic bone cavity (traumatic bone cyst, haemorrhagic bone cyst,
simple bone cyst)
2) Aneurysmal bone cyst
3) Stafnes bone cavity
k. Retention cyst
1) Mucocoele
2) Ranula
l. Congenital cyst
1) Dermoid and epidermoid cysts
2) Lymphoepithelial cysts
3) Thyroglossal duct cyst
4) Cystic hygroma
m. Parasitic cyst
1) Hydatid cysts
2) Cysticercosis
2.3 Patogenesis
1. Inisiasi
Inisiasi kista mengakibatkan

proliferasi

batas

epithelia

dan

pembentukan suatu kavitas kecil. Inisiasi pembentukan kista umumnya berasal


dari epithelium odontogenic. Akan tetapi, rangsangan yang mengawali proses
ini tidak diketahui. Faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan suatu kista
adalah proliferasi epithelia, akumulasi cairan dalam kavitas kista dan resorpsi
tulang.
2. Pembesaran Kista
Proses ini umumnya sama pada setiap jenis kista yang memiliki batas
epithelium. Tahap pembesaran kista meliputi peningkatan volume kandungan
kista, peningkatan area permukaan kantung kista, pergeseran jaringan lunak
disekitar kista dan resorpsi tulang.
a. Peningkatan volume kandungan kista
Infeksi pada pulpa non-vital merangsang sisa sel malasez pada
membran periodontal periapikal untuk berproliferasi dan membentuk suatu
jalur menutup melengkung pada tepi granuloma periapikal, yang pada

akhirnya membentuk suatu lapisan yang menutupi foramen apikal dan diisi
oleh jaringan granulasi dan sel infiltrasi melebur.
Sel-sel berproliferasi dalam lapisan dari permukaan vaskular
jaringan penghubung sehingga membentuk suatu kapsul kista. Setiap sel
menyebar dari membran dasar dengan percabangan lapisan basal sehingga
kista dapat membesar di dalam lingkungan tulang yang padat dengan
mengeluarkan faktor-faktor untuk meresorpsi tulang dari kapsul yang
menstimulasi pembentukan osteoclast.
b. Proliferasi epitel
Pembentukan dinding dalam membentuk proliferasi epitel adalah
salah satu dari proses penting peningkatan permukaan area kapsul dengan
akumulasi kandungan seluler. Pola multisentrik pertumbuhan kista
membawa proliferasi sel-sel epitel sebagai keratosis mengakibatkan
ekspansi

kista.

Aktifitas

kolagenase

meningkatkan

kolagenalisis.

Pertumbuhan tidak mengurangi batas epitel akibat meningkatnya mitosis.


Adanya infeksi merangsang sel-sel seperti sisa sel malasez untuk
berproliferasi dan membentuk jalur penutup. Jumlah lapisan epitel
ditentukan oleh periode viabilitas tiap sel dan tingkat maturasi serta
deskuamasinya.
c. Resorpsi tulang
Seperti percabangan sel-sel epitel, kista mampu untuk membesar di
dalam kavitas tulang yang padat dengan mengeluarkan faktor resorpsi
tulang dari kapsul yang merangsang fungsi osteoklas (PGE2). Perbedaan
ukuran kista dihasilkan dari kuantitas pengeluaran prostaglandin dan faktorfaktor lain yang meresorpsi tulang.
2.4 Epidemiologi
Menurut Cawson (2002) kista dentigerous merupakan kista kedua yang
paling banyak terjadi setelah kista radikular, yakni dengan jumlah 15-18%. Pada
tahun 2006, studi yang dilakukan oleh Jean Paul M, dengan jumlah kasus 695
ditemukan

bahwa

persentase

kista odontogenik yang terdapat

di Pitie-

salpetriere University Hospital, Paris, Prancis yaitu :


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kista periodontal 53,5%


Kista dentigerous 22,3%
Keratosis odontogenik 19,1%
Residual cyst 4,6%
Kista lateral periodontal 0,3%
Kista glandular odontogenik 0,2%

Kista non odontogenik yang paling sering terjadi di rongga mulut adalah
nasopalatine duct cyst, prevalensi 1% dari populasi.
2.5 Kista Odontogenik

Gambar. Kista Odontogenik Developmental; 1) Kista Primordial, 2) Keratokista,


3) Kista Folikular, 4) Kista Erupsi, 5) Kista periodontal lateral

Gambar. Kista Odontogenik Inflamatory; 1) Kista Radikular Apikal, 2) Kista


Radikular Lateral, 3) Kista Radikular Residual, 4) Kista Paradental
2.5.1 Kista Radikular
1. Definisi
Kista radikular adalah suatu kista yang berasal dari sisa-sisa epitel
Malassez yang berada di ligamen periodontal, karena suatu infeksi gigi
(gangren pulpa, gangren radik) ataupun trauma yang menyebabkan gigi
nekrosis.
2. Etiologi
Suatu kista radikular mensyaratkan injuri fisis, kimiawi ataupun
bakterial yang menyebabkan matinya pulpa, diikuti oleh stimulasi sisa epitel
Malassez, yang biasanya dijumpai pada ligamen periodontal.
3. Gejala Klinis
Tidak ada gejala yang dihubungkan dengan perkembangan suatu kista,
kecuali yang kebetulan diikuti nekrosis pulpa. Suatu kista dapat menjadi cukup
besar untuk secara nyata menjadi pembengkakan.
Tekanan kista cukup untuk menggerakkan gigi yang bersangkutan, yang
disebabkan oleh timbunan cairan kista. Pada kasus semacam itu, apeks-apeks
gigi yang bersangkutan menjadi renggang, sehingga mahkota gigi dipaksa
5

keluar jajaran. Gigi juga dapat menjadi goyang. Bila dibiarkan tidak dirawat,
suatu kista dapat terus tumbuh dan merugikan rahang atas atau rahang bawah.
4. Diagnosis
Pulpa gigi dengan kista radikular tidak bereaksi terhadap stimuli listrik
atau termal, dan hasil tes klinis lainnya adalah negatif, kecuali radiografik.
Pasien mungkin melaporkan suatu riwayat sakit sebelumnya. Biasanya pada
pemeriksaan radiograf, terlihat tidak adanya kontinuitas lamina dura, dengan
suatu daerah rerefaksi. Daerah radiolusen biasanya bulat dalam garis
bentuknya, kecuali bila mendekati gigi sebelahnya, yang dalam kasus ini dapat
mendatar atau mempunyai bentuk oval. Daerah radiolusen lebih besar dari
pada suatu granuloma dan dapat meliputi lebih dari satu gigi, baik ukuran
maupun bentuk daerah rerefaksi bukan indikasi definitif suatu kista.
5. Diagnosis Banding
Gambaran radiografik kista akar yang kecil tidak dapat dibedakan dari
gambaran granuloma. Meskipun suatu perbedaan positif antara suatu kista dan
granuloma tidak dapat dibuat dari radiograf saja, sifat-sifat tertentu dapat
memberi kesan adanya suatu kista. Suatu kista biasanya lebih besar dari pada
granuloma dan dapat menyebabkan akar berdekatan merenggang karena
tekanan terus-menerus dari akumulasi cairan kista.
6. Histopatologi
Kista radikular terdiri dari suatu kavitas yang dilapisi oleh epitelium
skuamus berasal dari sisa sel Malassez yang terdapat didalam ligamen
periodontal. Suatu teori pembentukan kista adalah bahwa perubahan
inflamatori periradikular menyebabkan epitelium berpoliferasi. Bila epitelium
tumbuh dalam suatu massa sel, bagian pusat kehilangan sumber nutrisi dari
jaringan periferal. Perubahan ini menyebabkan nekrosis di pusat, suatu kavitas
terbentuk, dan tercipta suatu kista.
7. Gambaran RO

Gambar. Kista Radikular


a. Lokasinya
6

Mendekati apeks gigi-gigi non-vital, tanpa pada permukaan mesial


akar gigi, pada pembukaan canal aksesoris atau pada pocket periodontal gigi
dalam.
b. Batas dan Bentuk
Biasanya memiliki batas kortical. Jika kista menjadi infeksi
sekunder, reaksi inflamasi disekitar tulang menyebabkan hilangnya lapisan
luar (corteks) atau cortex berubah menjadi lebih banyak pinggiran sklerotik.
c. Struktur Internal
Pada kebanyakan kasus, struktur internal kista ini adalah radiolusen.
Kadang-kadang kalsifikasi distrofik bisa berkembang pada kista lama
(menetap), kelihatan seperti penyebaran tipis, radioopasitas kecil.
8. Perawatan
Pengambilan secara bedah seluruh kista radikular sehingga bersih tidak
perlu dilakukan pada semua kasus. Kista di jumpai pada sekitar 42% atau
kurang pada daerah rerefaksi akar gigi. Resolusi (hilangnya inflamasi) daerah
rerefaksi ini terjadi setelah terapi saluran akar pada 80 sampai 98% kasus.
Drainase juga bisa mengurangi tekanan kista pada dinding kavitas tulang dan
merangsang fibroplasia dan perbaikan dari perifer lesi.
9. Prognosis
Prognosis tergantung pada gigi khususnya, perluasan tulang yang rusak,
dan mudah dicapainya perawatan.
2.5.2 Kista Dentigerous
1. Gambaran Klinis
a. Berkembang di sekitar mahkota gigi yang tidak erupsi/ gigi supernumerary
b. Pemeriksaan klinis menunjukkan suatu missing, pembengkakan yang keras
(hard swelling) dan biasanya mengakibatkan asimetri wajah.
c. Khasnya pasien tidak merasakan nyeri dan ketidaknyamanan
2. Gambaran RO

Gambar. Kista Dentigerous


a. Lokasi
Epicenter kista tepat di atas mahkota gigi yang bersangkutan,
biasanya M3 maxilla atau mandibula, atau yang paling sering terjadi adalah

C maxilla. Kista melekat pada CEJ. Terkadang kista berkembang dari aspek
lateral follicle, menempati area disamping mahkota.
b. Batas Luar dan Bentuk
Secara khas memiliki batas luar yang tegas (well-defined cortex)
dengan garis berkurva atau sirkular.
c. Struktur Internal
Bagian internal radiolusen secara menyeluruh kecuali mahkota gigi.
d. Pengaruh pada struktur sekitar
Kista ini cenderung memindahkan (menggerakkan) dan meresorbsi
gigi geligi tetangganya. Biasanya pada direksi apical. Contohnya : M3
mandibula dapat digerakkan pada region condilar atau coronoid/ hingga
cortex inferior dr mandibula.
2.5.3 Keratosis odontogenik
1. Gambaran Klinis
a. Terkadang terbentuk disekitar gigi yang tidak erupsi.
b. Biasanya asymtomatik walaupun terdapat pembengkakan ringan.
c. Nyeri bisa terjadi dengan infeksi sekunder.
d. Aspirasi menunjukkan suatu material tebal, kuning dan cheesy material
(keratin).
e. Kista ini cenderung berulang.
2. Gambaran RO

Gambar. Keratokista
a. Lokasi
Badan posterior mandibula dan ramus mandibula. Epicenter terdapat
pada superior hingga inferior alveolar nerve canal.
b. Batas Luar dan Bentuk
Menunjukkan tepi kortical seperti kista-kista lainnya kecuali jika
terjadi infeksi sekunder, smooth round atau berbentuk oval atau scalloped
outline.
c. Struktur internal

Radiolusen,

adanya

keratin

internal

tidak

meningkatkan

radioopasitas. Pada beberapa kasus dapat menunjukkan septa internal


berkurang, memberikan gambaran lesi multilocular.
2.5.4 Kista Residual
1. Gambaran Klinis
a. Asymtomatik
b. Sering ditemukan pada pemeriksaan RO daerah edentulous
c. Mungkin terjadi ekspansi pada rahang atau nyeri pada kasus dengan infeksi
sekunder
2. Gambaran RO
a. Lokasi
Terjadi pada kedua rahang. Lebih sering pada mandibula. Epicenter
terletak pada lokasi periapikal. Pada mandibula; epicenter selalu di atas
canal inferior alveolar nerve.
b. Batas dan Bentuk
Memiliki garis tepi cortical kecuali jika menjadi infeksi sekunder.
Bentuk kista residual ini adalah oval atau bulat
c. Struktur Internal
Radiolusen, kalsifikasi bisa terdapat

pada

kista

lama.

Kista residual dapat menyebabkan displacement gigi atau resorbsi. Kista


bisa invaginasi pada antrum maxilla atau menekan saluran inferior alveolar
nerve.

2.5.5 Kista Lateral Periodontal


1. Gambaran klinis
Lesi biasanya asymtomatik dan diameternya kurang dari 1cm. jika kista
terinfeksi sekunder, maka lesi ini akan menunjukkan suatu abses lateral
periodontal.
2. Gambaran RO

Gambar. Kista Periodontal Lateral

a. Lokasi
50-75% berkembang pada mandibula, umumnya pada I1-P2, pada
maxilla I1-C.
b. Batas Luar dan Bentuk
Radiolusensi berbatas tegas dengan kortical boundary dan berbentuk
bulat oval.
c. Struktur internal
Aspek internal biasanya radiolusen
d. Pengaruh pada struktur sekitar
Kista kecil bisa mempengaruhi lamina dura gigi tetangga. Kista yang
berukuran besar dapat menggeser gigi-gigi tetangga dan mengakibatkan
ekspasi.
2.5.6 Kista Glandular Odontogenik
Kista odontogenik glandular adalah salah satu jenis kista odontogenik tipe
perkembangan dan juga merupakan salah satu kista rahang yang sangat jarang
dijumpai.
1. Gambaran Klinis
a. Berupa pembengkakan yang disertai rasa sakit atau tidak sakit.
b. Lesi biasanya terlokalisir.
c. Dapat unilateral atau bilateral, sehingga pada pemeriksaan ekstra oral
menunjukkan adanya pembengkakan yang menyebabkan wajah yang
asimetris, tetapi ada juga yang menunjukkan wajah yang simetris dengan
pemeriksaan intra oral menunjukkan adanya massa anterior mandibula
berupa ekspasi bukal yang terasa lembut jika dipalpasi.
2. Histopatologis
Gambaran histopatologis kista odontogenik glandular menunjukkan
adanya sel-sel kuboid eosinofilik dalam lapisan superfisial dan sel-sel mukus.
3. Gambaran Radiografi
a. Menunjukkan gambaran radiolusen yang unilokuler atau multilokuler.
b. Berpinggir halus atau scallop.
c. Mengakibatkan terjadinya resorpsi akar gigi dan pergeseran gigi serta
terjadinya perforasi ke arah mukosa alveolar.

4. Perawatan
Perawatan dengan kuretase, enukleasi dan reseksi rahang. Setelah enu
kleasi dilakukan, kemudian mandibula direkonstruksi dengan lempeng metal.
2.5.7 Kista Erupsi
Kista erupsi adalah suatu kista yang terjadi akibat rongga folikuler di
sekitar mahkota gigi sulung/tetap yang akan erupsi mengembang karena
penumpukan cairan dari jaringan atau darah. Biasanya ditemukan pada anak-anak.
10

1. Gambaran Klinis
a. Kista erupsi menyebabkan pembengkakan yang licin di atas gigi yang
sedang erupsi, yang bisa mempunyai warna gingival yang normal, ataupun
biru.
b. Biasanya tanpa nyeri, kecuali jika terinfeksi.
c. Lunak dan berfluktuasi.
d. Kadang-kadang terdapat lebih dari satu kista.
2. Gambaran Radiologi

Gambar. Kista Erupsi


Kista bisa membuat bayangan lunak, tetapi biasanya tidak melibatkan
tulang, kecuali kripta terbuka yang berdilatasi yang bisa terlihat pada radiograf.
3. Diagnosa Banding

4. Perawatan
a. Beberapa kista yang ringan (pembengkakan kecil) dapat hilang dengan
robeknya kista dan erupsinya gigi.
b. Teknik marsupialisasi.
2.5.8
Buccal Bifurcation Cyst
1. Gambaran klinis
a. Tertundanya erupsi M1 dan M2 mandibula
b. Pada pemeriksaan klinis, molar mungkin missing atau puncak cusp lingual
bisa abnormal menonjol keluar melalui mukosa, lebih tinggi dari pada posisi
cusp buccal.
c. Gigi geligi selalu vital
d. Hard swelling bisa terdapat pada buccal molar dan jika terdapat infeksi
sekunder, pasien bisa merasakan nyeri.
2. Gambaran RO
a. Lokasi

11

Paling sering terjadi pada m1 mandibula. Terkadang terjadi secara


bilateral. Selalu terdapat pada furkasi buccal dari molar yang bersangkutan.
b. Batas Luar dan Bentuk
Pada beberapa kasus tidak ada batas luar, lesi bisa sangat halus
region radiolusen berlapis pada gambaran akar molar. Beberapa kasus, lesi
memiliki bentuk sirkular dengan tepi cortical yang tegas.
c. Struktur Internal
Radiolusen.
2.6 Kista Non Odontogenik

Gambar. 1) Kista Nasopalatinus, 2) Kista Nasolabial


2.6.1 Nasopalatine Duct Cyst
Kista ini mengandung sisa duktus nasopalatin organ primitif hidung dan
juga pembuluh darah dan serabut saraf dari area nasopalatin.
1. Gambaran Klinis

Gambar. Kista Nasopalatinus


a. Asimtomatik atau dengan gejala minor yang dapat di tolerir dalam jangka
waktu yang lama.
b. Kista ini berbentuk kecil, pembengkakan berbatas tegas tepat pada posterior
papila palatina.

12

c. Pembengkakan biasanya fluktuan dan berwarna biru jika terdapat di


permukaan.
d. Perluasan kista dapat berpenetrasi pada plate labial dan mengakibatkan
pembengkakan dibawah frenulum labial maksila. Terkadang lesi dapat
meliputi rongga hidung dan merusak septum nasal.
e. Mengakibatkan gigi geligi menjadi divergen.
2. Gambaran Radiograf

Gambar. Kista Nasopalatinus


a. Kista ini terletak pada foramen nasopalatin meluas ke posterior untuk
melibatkan palatum durum.
b. Kista ini berbatas jelas, bayangan dari nasal spine terkadang superimpose
yang mengakibatkan kista berbentuk seperti hati.
c. Struktur interna radiolusensi secara total, terkadang terjadi kalsifikasi
distrofik interna yang mengakibatkan radioopasitis menyebar.
d. Efek kista ini mengakibatkan divergensi akar insisif sentral dan resorpsi
akar serta pergeseran dari nasal fosa ke arah superior.
2.6.2 Globulomaxillary Cyst

Gambar. Kista Globulomaxillary


Kista ini terbentuk di persambungan dari proc. globulo maxillary, sisa selsel epitel terjepit di kedua proc. ini dan berproliferasi, membesar di antara
incisivus lateral dan caninus (I2 dan C), tapi tak ada hubungan dengan gigi
tetangganya. Gigi tetap dalam keadaan vital.

13

Gambaran histopatologi, lapisan epiteliumnya dapat berupa stratified


squamous epithelium atau columnar epithelium.
2.6.3 Nasolabial Cyst
Asal dari kista ini bisa jadi suatu kista fisural yang muncul dari suatu sisa
epitel dalam garis fusi globular, lateral nasal, dan prosesus maksila.

1. Gambaran Klinis

a. Pembengkakan

Gambar. Kista Nasolabial


unilateral pada pembungkus nasolabial

dan

dapat

menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan jika kista berukuran kecil.


b. Jika kista berukuran besar dapat masuk ke dalam kavitas nasal yang dapat
menyebabkan obstruksi, pengembangan alae hidung, distorsi nostril hidung
da pembesaran bibir atas
2. Gambaran Radiograf

Gambar. Kista Nasolabial


a. Lokasinya dekat prosesus alveolaris diatas apeks insisif karena kista ini
merupakan lesi jaringan lunak sehingga radiograf tidak cukup jelas.
b. Lesi berbentuk sirkular atau oval dengan peninggian ringan jaringan lunak
pada tepi kista.
c. Struktur internal radiolusensi homogen

14

d. Mengakibatkan erosi tulang , peningkatan prosesus alveolar dibawah kista


dan apikal insisif, distorsi border inferior fosa nasal.

2.7 Pseudocyst
2.7.1 Solitary Bone Cyst (Haemorrhagic cyst)
Biasanya disebut sebagai haemorragic bone cyst, extravasation cyst dan
progressive bone capity. Meskipun jarang tapi dapat pula ditemukan pada
mandibula.
1. Gambaran Klinis
Umumnya asimtomatis, hanya ditemukan secara kebetulan dalam
pemeriksaan rontgen foto. Jarang terjadi ekspansi pada tulang.
Gigi-gigi dalam region kista tersebut mengandung mass of bone
fragments, blood clot dan small scraps oleh soft tissue.
2. Gambaran Radiografi
Kelihatan suatu daerah yang radioluscent dengan dinding bagian luar
yang tidak teratur.
3. Diagnosa Banding
Untuk traumatic bone cyst dengan kista jinak adalah berdasarkan hasil
biopsy aspirasi. Kista traumatik sering tidak berisi cairan cholesterin.
2.7.2 Aneurysmal Bone Cyst
Aneurysmal Bone Cyst merupakan kista pada tulang dengan tipe non
epitel, dinding berasal dari jaringan ikat fibro-oseous dan rongga kista berisi
darah.
1. Gambaran Klinis
a. Adanya pembengkakan yang berkembang dengan cepat, progresif, ekspansif
dan dekstruktif pada tulang.
b. Dapat menyebabkan maloklusi, mobiliti, migrasi dan resorpsi dari gigi yang
terlibat.
c. Kebanyakan terjadi pada usia dewasa muda dengan puncaknya pada usia 20
tahun.
d. Sering ditemukan pada tulang rahang regio posterior, tetapi mandibula lebih
sering dari pada maksila.
2. Gambaran Radiografi
Lesi tampak sebagai gambaran radiolusen unilokular ataupun
multilokular dengan gambaran seperti gelembung sabun atau sarang lebah.
15

3. Histopatologis
Rongga berisi darah dan tepinya dapat dibatasi oleh sel endotelial,
osteosit dan tulang muda pada sisi periosteum yang hiperplastik, dinding
jaringan ikat dan sel datia yang tersebar.
4. Perawatan
Dilakukan enukleasi atau pengangkatan kista secara keseluruhan
kemudian dilakukan kuretase sampai bersih. Selanjutnya dilakukan aplikasi
krioterapi untuk mencegah rekurensi. pada kasus yang ekstensif dengan
kerusakan tulang melibatkan sudut dan ramus mandibula, direncanakan reseksi
yang sekaligus dan rekonstruksi segera dengan pencangkokan tulang.
Radiografi dilakukan satu minggu setelah tindakan pembedahan untuk evaluasi
hasil perawatan.
2.7.3 Stafnes Bone Cavity
Stafnes bone cavity merupakan suatu kavitas pada mandibula yang
biasanya berisi kelenjar submandibula dan sering dijumpai oleh dokter gigi
sewaktu pemeriksaan radiografi intraoral.
Edward Stafne merupakan orang pertama yang melaporkan 35 kasus
Stafnes bone cavity menyatakan lesi ini adalah kista palsu karena menyerupai
kista pada gambaran radiografi intraoral, berbentuk bulat atau ovoid, berbatas
jelas, unilokular dan radiolusen. Para ahli setuju, etiologinya disebabkan oleh
localized pressure atrophy oleh kelenjar submandibula sehingga menghasilkan
kavitas yang konkaf dan terbuka pada permukaan lingual mandibula.
Lesi ini diklasifikasikan berdasarkan hubungan antara garis terluar lesi dan
plat kortikal bukal. Lesi bersifat asimptomatis, sering terjadi pada pria yang ratarata berumur sekitar 53 tahun. Kebanyakannya terjadi pada daerah sudut
mandibula yaitu dibawah kanal dental inferior dan tidak dijumpai pembengkakan
di daerah tersebut.
Gambaran radiografi menunjukkan lesi terlihat radiolusen, berbatas jelas,
berbentuk bulat atau ovoid, unilokular dan posisinya dibawah kanal dental inferior
yaitu diantara molar satu dan sudut mandibula.
Perawatan lesi ini adalah dengan melakukan pemeriksaan rutin radiografi,
kuretase dan graft tulang.

2.8 Salivary and Antral Cyst


2.8.1 Mukokel

16

Mukokel merupakan lesi mukosa oral yang terbentuk akibat rupturnya


glandula saliva minor dan penumpukan mucin pada sekeliling jaringan lunak.
Sering diakibatkan oleh trauma lokal atau mekanik.
1. Gambaran Klinis

Gambar. Mukokel
a. Pembengkakan lunak yang berfluktuasi.
b. Berwarna translusen kebiruan apabila massa belum begitu dalam letaknya,
kadang warnanya normal seperti warna mukosa mulut apabila massa sudah
terletak lebih dalam.
c. Apabila dipalpasi tidak sakit.
d. Diameter 1 mm sampai beberapa sentimeter, umumnya kurang dari 1 cm.
2. Histopatologis
Gambaran histopatologis mukokel sesuai dengan tipenya. Tipe
ekstravasasi gambaran histopatologinya memperlihatkan glandula yang
dikelilingi oleh jaringan granulasi. Tipe retensi menunjukkan adanya epithelial
lining.
3. Perawatan
Pada umumnya pasien yang berkunjung ke dokter gigi dan meminta
perawatan, memiliki ukuran mukokel yang relatif besar. Perawatan mukokel
dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan gangguan fungsi mulut yang
dirasakan pasien akibat ukuran dan keberadaan massa.
2.8.2 Ranula
Ranula adalah istilah yang digunakan untuk menyebut mukokel yang
letaknya di dasar mulut. Merupakan pembengkakan dasar mulut yang
berhubungan dan melibatkan glandula sublingualis, dapat juga melibatkan
galndula salivari minor. Kata ranula yang digunakan berasal dari bahasa latin
RANA yang berarti katak, karena pembengkakannya menyerupai bentuk
tenggorokan bagian bawah katak.
Ranula dibagi menjadi dua tipe, ranula simpel/superfisial, sebagai retensi
karena trauma glandula sublingualis, dan ranula plunging, sebagai ekstravasasi
dengan cabang ke leher.
Gambaran klinis dan perawatan sama dengan mukokel.

17

Gambar. Ranula
2.9 Kista Jaringan Lunak (Kongenital dan Kista Parasitik)
2.9.1 Dermoid Cyst
Suatu kista yang berasal dari sel-sel embrionik yang terperangkap. Kista
dibatasi oleh epidermis dan diisi dengan keratin atau material sebasea.
1. Gambaran Klinis
a. Pembengkakan, nyeri dan dapat berkembang hingga diameternya bertambah
besar beberapa senti meter.
b. Jika terdapat pada leher atau lidah maka dapat mengganggu pernapasan,
bicara dan makan
c. Pada palpasi kista bisa fluktuan
2. Gambaran Radiograf
a. Kista ini merupakan kista jaringan lunak sehingga di gunakan CT atau MRI.
b. Kista ini memiliki batas yang jelas dan jaringan lunak disekitarnya lebih
radioopak.
c. Struktur internalnya radiolusen
2.9.2 Branchial Cleft Cyst
Kista celah brankial merupakan sisa aparatus brankial janin.

2.10
2.10.1

Gambar. Branchial Cleft Cyst


Penatalaksanaan Kista
Enukleasi

18

Merupakan proses pengangkatan seluruh lesi kista tanpa terjadinya


perpecahan pada kista. Kista itu sendiri dapat dilakukan enukleasi karena lapisan
jaringan ikat antara komponen epitelial (melapisi aspek anterior kista) dan
dinding kista yang bertulang pada rongga mulut. Lapisan ini akan lepas dan kista
dapat diangkat dari kavitas yang bertulang. Proses enukleasi sama dengan
pengangkatan periosteum dari tulang. Enukleasi pada kista seharusnya dilakukan
secara hati hati untuk mencegah terjadinya lesi rekuren.
1. Indikasi :
a. Pengangkatan kista pada rahang
b. Ukuran lesi kecil, sehingga tidak banyak melibatkan struktur jaringan yang
berdekatan
2. Keuntungan :
a. Pemeriksaan patologi dari seluruh kista dapat dilakukan
b. Pasien tidak dilakukan perawatan untuk kavitas marsupialisasi dengan
irigasi konstan
c. Jika akses flap mucoperiosteal sudah sembuh, pasien tidak merasa
terganggu lebih lama oleh kavitas kista yang ada
3. Kerugian :
Jika beberapa kondisi diindikasikan untuk marsupialisasi, enukleasi
bersifat merugikan seperti :
a. Fraktur rahang
b. Devitalisasi pada gigi
c. Impaksi gigi
d. Banyak jaringan normal yang terlibat
4. Teknik :
a. Insisi
b. Flap mucoperiosteal
c. Pembuangan tulang pada aspek labial dari lesi
d. Osseous window untuk membuka bagian lesi
e. Pengangkatan kista dari kavitas menggunakan hemostate & kuret
f. Menjahit daerah pembedahan
g. Penyembuhan mukosa & remodelling tulang, dimana terbentuk jaringan
granulasi pada dinding kavitas yang bertulang dalam waktu 3-4 hari. Dan
2.10.2

remodelling tulang akan terjadi selama 6 12 bulan.


Marsupialisasi
Merupakan metode pembedahan yang menghasilkan surgical window

pada dinding kista, mengevakuasi isi kista dan memelihara kontinuitas antara
kista dan rongga mulut, sinus maksilary atau rongga nasal. Proses ini
mengurangi tekanan inrakista dan meningkatkan pengerutan pada kista.
Marsupialisasi dapat digunakan sebaga terapi tunggal atau sebagai tahap
preeliminary dalam perawatan dengan enukleasi.
1. Indikasi :
19

a. Jumlah jaringan yang terluka


Dekatnya kista dengan struktur vital berarti keterlibatan jaringan
tidak baik jika dilakukan enukleasi.
Contoh : jika enukleasi pada kista menyebabkan luka pada struktur
neurovaskular mayor atau devitalisasi gigi sehat, sebaiknya diindikasikan
metode marsupialisasi.
b. Akses pembedahan
Jika akses untuk pengangkatan kista sulit, sebaiknya dilakukan
marsupialisasi untuk mencegah lesi rekuren.
c. Bantuan erupsi gigi
Jika gigi tidak erupsi (dentigerous cyst), marsupialisasi dapat
memberikan jalur erupsi ke rongga mulut.
d. Luas pembedahan
Untuk pasien dengan kondisi

medik

yang

kurang

baik,

marsupialisasi merupakan alternatif yang tepat dibandingkan enukleasi,


karena prosedurnya yang sederhana dan sedikit tekanan untuk pasien.
e. Ukuran kista
Pada kista yang sangat besar, adanya resiko fraktur rahang selama
enukleasi. Ini lebih baik dilakukan marsupialisasi, setelah remodelling
tulang dapat dilakukan enukleasi.
2. Keuntungan :
a. Prosedur yang dilakukan sederhana
b. Memisahkan struktur vital dari kerusakan akibat pembedahan
3. Kerugian :
a. Jaringan patologi kemungkinan masih tertinggal di dalam kavitas
b. Tidak dapat dilakukan pemeriksaan histologi secara teliti
c. Terselip debris makanan akibat adanya kavitas
d. Pasien harus irigasi kavitas beberapa kali setiap hari
4. Teknik :
a. Diberikan antibiotik sistemik, untuk pasien dengan kondisi yang tidak
sehat.
b. Pemberian anastesi lokal.
c. Aspirasi kista, jika aspirasi dapat memperkuat diagnosis kista, prosedur
marsupialisasi dapat dilakukan.
d. Insisi awal, biasanya sirkular / ellips dan menghasilkan saluran yang besar
(1 cm atau lebih besar) di dalam kavitas kista.
e. Jika lapisan atas tulang tebal, osseous window dibelah secara hati hati
dengan round bur atau rongeurs
f. Pengambilan isi kista
g. Menjahit tepi luka hingga membentuk sseperti kantung
h. Irigasi kavitas kista untuk menghilangkan beberapa fragmen residual
debris
i. Masukkan iodoform gauze ke dalam kavitas kista
20

j. Irigasi kavitas rutin selama 2 minggu


k. Menjahit daerah pembedahan

2.10.3

Enukleasi dengan kuretase


Dimana setelah dilakukan

enukleasi,

dilakukan

kuretase

untuk

mengangkat 1 2 mm tulang sekitar periphery kavitas kista. Ini dilakukan untuk


membuang beberapa sel epitelial yang tersisa pada dinding kavitas.
1. Indikasi :
a. Jika dokter melakukan pengangkatan keratosis odontogenik, dimana
keratosis odontogenik memiliki potensi yang tinggi untuk rekuren.
b. Jika terdapat beberapa kista rekuren setelah dilakukan pengangkatan kista
2. Keuntungan :
Jika enukleasi meninggalkan sel sel epitelium, kuretase dapat
mengangkat sisa sisa epitelium tersebut, sehingga kemungkinan untuk
rekuren minimal.
3. Kerugian :
Kuretase lebih merusak tulang dan jaringan yang berdekatan. Pulpa
gigi kemungkinan akan hilang suplai neurovaskularnya ketika kuretase
dilakukan dekat dengan ujung akar. Kuretase harus dilakukan dengan
ketelitian yang baik untuk mencegah terjadinya resiko ini.
4. Teknik :
a. Kista dienukleasi atau diangkat
b. Memeriksa kavitas serta struktur yang berdekatan dengannya
c. Melakukan kuretase dengan rigasi steril untuk mengangkat lapisan tulang
1 2 mm sekitar kavitas kista
d. Dibersihkan dan ditutup
2.10.4
Marsupialisasi disertai enukleasi
Dilakukan jika terjadi penyembuhan

awal

setelah

dilakukan

marsupialisasi tetapi ukuran kavitas tidak berkurang.


1. Teknik :
a. Kista pertama kali dimarsupialisasi
b. Menunggu penyembuhan tulang, untuk mencegah terjadinga fraktur
rahang saat melakukan enukleasi
c. Terjadi penurunan ukuran kista
d. Dilakukan enukleasi

BAB III
KESIMPULAN

21

1. Kista adalah rongga patologik yang dapat berisi cairan, semisolid/semifluid, atau
gas yang bukan berasal dari akumulasi pus maupun darah.
2. Klasifikasi kista rongga mulut dibagi menjadi dua, odontogenik dan non
odontogenik, kemudian dikelompokkan lagi menjadi dua, yaitu developmental dan
inflamatory.
3. Berdasarkan prevalensi, kista odontogenik yang paling sering terjadi adalah kista
radikular, kemudian diikuti oleh kista dentiderous, keratosis odontogenil, kista
residual, kista lateral periodontal dan kista glandular odontogenik.
4. Kista non odontogenik yang paling sering terjadi adalah kista nasopalatinus.

Daftar Pustaka
Balaji. 2009. Textbook of Oral & Maxillofacial Surgery. India: Elsevier.

22

23