Anda di halaman 1dari 26

Latar Belakang

Sejarah perkembangan keperawatan di Indonesia diawali Perawat


(verpleger) di bantu oleh penjaga orang sakit (zieken oppaser) bekerja
pertama kali di RS binnen Hospital Jakarta (1799) dengan tugas
memelihara kesehatan, staf dan tentara belanda, sehingga terbentuk
dinas kesehatan tentara dan dinas kesehatan rakyat Raffles (penjajahan
inggris) memberi perhatian pada kesehatan rakyat dengan motto
kesehatan adalah milik manusia. pada tahun 1819 mulai berdiri rumah
sakit di Jakarta Stadsverband sekarang dikenal dengan RSCM. Pada
tahun 1942 - 1945 terjadi kekalahan sekutu dan kedatangan tentara
jepang dan dunia, keperawatan mengalami kemunduran.
Pada tahun 1949 telah banyak berdiri rumah sakit dan balai
pengobatan, pada tahun 1952 didirikan sekolah perawat, tahun 1962
didirikan pendidikan keperawatan setara diploma, tahun 1985 dibuka
pendidikan keperawatan setara sarjana yakni S1 keperawatan Universitas
Indonesia, serta perawat spesialis yang sudah ada saat, dengan makin
majunya dunia keperawatan disertai dengan perkembangan teknologi
maka perawat diharapkan untuk lebih dapat meningkatkan mutu
pelayanan keperawatan yang diberikan.
Paradigma yang kemudian terbentuk karena kondisi ini adalah
pandangan bahwa perawat merupakan bagian dari dokter.Dengan
demikian, dokter berhak mengendalikan aktivitas perawat terhadap
pasien.Perawat menjadi perpanjangan tangan dokter dan berada pada
posisi submisif.Kondisi seperti ini sering kali ditemui dalam pelayanan
kesehatan di rumah sakit.Salah satu penyebabnya adalah masih belum
berfungsinya sistem kolaborasi antara dokter dan perawat dengan
benar.Asuhan keperawatan yang diberikan pun sepanjang rentang sehatsakit.Dengan demikian, perawat adalah pihak yang paling mengetahui
perkembangan kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh dan
bertanggung jawab atas pasien. Sudah selayaknya jika profesi kesehatan lain meminta izin
terlebih dahulu kepada perawat sebelum berinteraksi dengan pasien. Hal yang sama juga
berlaku untuk keputusan memulangkan pasien. Pasien boleh pulang setelah perawat
menyatakan kondisinya memungkinkan. Keperawatan merupakan sebuah ilmu dan profesi
yang memberikan pelayanan kesehatan guna untuk meningkatkan kesehatan bagi

masyarakat.Keperawatan sudah ada sejak manusia itu ada dan hingga saat ini profesi
keperawatan berkembang dengan pesat dan keperawatan suatu bentuk layanan kesehatan
profesional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang berdasarkan pada
ilmu dan etika keperawatan.Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan,
ikut menentukan mutu dari pelayanan kesehatan.Tenaga keperawatan secara keseluruhan
jumlahnya mendominasi tenaga kesehatan yang ada, dimana keperawatan memberikan
konstribusi yang unik terhadap bentuk pelayanan kesehatan sebagai satu kesatuan yang
relatif, berkelanjutan, koordinatif dan advokatif.Keperawatan sebagai suatu profesi
menekankan kepada bentuk pelayanan profesional yang sesuai dengan standar dengan
memperhatikan kaidah etik dan moral sehingga pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh
masyarakat dengan baik.
B. Peraturan internal staf keperawatan atau Nursing Staff Bylaws
(NSBL)adalah :
merupakan peraturan penyelenggaraan profesi staf keperawatan dan
mekanisme tata kerja Komite Keperawatan.Staf keperawatan adalah
meliputi tenaga keperawatan dan tenaga bidan.Peraturan ini dirasakan
penting karena staf keperawatan merupakan jumlah terbesar dari
tenaga kesehatan yang berada di rumah sakit, memiliki kualifikasi
berjenjang dan sebagai profesi yang berhubungan langsung dengan
klien dan keluarganya.
merupakan acuan dan sebagai dasar hukum yang sah bagi komite
keperawatan dan direktur rumah sakit dalam hal pengambilan
keputusan tentang staf keperawatan termasuk mengatur mekanisme
pertanggungjawaban komite keperawatan kepada direktur utamaRSUP
Nasional Dr. Cipto Mangunksumo mengenai profesionalisme staf
keperawatan di rumah sakit.
Tidak mengatur pengelolaan rumah sakit namun pengaturan utamanya
adalah tentang kewenangan klinis, penugasan klinis, mekanisme
mempertahankan, mendisiplinkandan membina perawat
sebagaitenaga professional keperawatan.
Untuk memastikan agar hanya staf keperawatan yang kompeten
sajalah yang boleh melakukan asuhan keperawatan di RSUP Nasional
Dr. Cipto Mangunksumo. Hal ini untuk melindungi pasien agar

mendapatkan pelayanan yang aman, yang mengacu pada prinsipprinsip keselamatan pasien (patient safety).
C. Manfaat Peraturan internal staf keperawatan atau Nursing Staf By Laws
(NSBL):
1. Sarana untuk menjamin mutu keperawatan
2. Menentukan katagori pelimpahan kewenangan yang jelas yaitu
delegasi atau mandate terhadap intervensi keperawatan yang
dilakukan oleh perawat dan bidan di rumah sakit.
3. Komite keperawatan dapat menyelenggarakan tata kelola klinis yang
baik melalui mekanisme kredensial, peningkatan mutu profesi, dan
penegakan etik dan disiplin profesi perawat dan bidan di RSCM.
4. Sebagai acuan bagi Direktur dalam melakukan pembinaan dan
pengawasan terhadap perawat dan bidan oleh Komite Keperawatan
5. Sebagai acuan bagi Direktur dalam menyusun kebijakan dan prosedur
dibidang klinis/Medik, penunjang medik, keperawatan, uraian tugas
dalam menyelenggarakan kegiatan keperawatan.
6. Sarana untuk menjamin efektifitas, efesiensi dan mutu Keperawatan.
Sarana perlindungan hukum bagi semua keperawatan di RSUP
Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan internal staf keperawatan yang dimaksud dengan :
1. Peraturan internal staf keperawatan (Nursing Staff Bylaws) adalah aturan
yang mengatur tata kelola klinik untuk menjaga profesionalisme tenaga
keperawatan di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo;
2. Rumah Sakit adalah Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit Umum
Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo:
3. Komite keperawatan adalah wadah non struktural rumah sakit yang
mempunyai fungsi utama mempertahankan dan meningkatkan
profesionalisme staf keperawatan melalui mekanisme kredensial,
penjagaan mutu profesi dan pemeliharaan etika dan disiplin profesi.
4. Keperawatan/ kebidanan adalah kegiatan pemberian asuhan

keperawatan/ kebidanan kepada individu, keluarga, kelompok, atau


masyarakat baik dalam keadaan sakit maupun sehat.
5. Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan
pada ilmu kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok atau masyarakat baik sehat maupun sakit.
6. Praktik keperawatan adalah pelayanan yang diselenggarakan oleh
perawat dalam bentuk asuhan keperawatan.
7. Asuhan keperawatan adalah rangkaian interaksi perawat denganpasien
dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan
kemandirian pasien dalam merawat dirinya.
8. Staf keperawatan RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo adalah
seluruh perawatdan bidan yang bekerja di RSCM.
9. Kewenangan klinis adalah uraian intervensi keperawatan yang dilakukan
oleh staf keperawatan sesuai dengan area prakteknya.
10.Penugasan klinis adalah penugasan yang diberikan oleh direktur utama
RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumoterhadap staf keperawatan
untuk melakukan asuhan keperawatan atau asuhan kebidanan
berdasarkan daftar kewenangan klinis.
11.Kredensial adalah proses evaluasi terhadap staf keperawatan untuk
menentukan kelayakan pemberian kewenangan klinis.
12.Rekredensial adalah proses revaluasi terhadap staf keperawatan yang
telah memiliki kewenangan klinis untuk menentukan kelayakan
pemberian kewenangan klinis tersebut.
13.Profesionalisme adalah sifat profesional dari seseorang yang memiliki
pengetahuan dan keahlian khusus meliputi integritas diri, kejujuran, budi
pekerti dan bersedia memenuhi sesuai dengan standar etik.
14.Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh
seseorang berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang
diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga dapat
melaksanakan tugasnya secara profesional, efektif, dan efisien serta
sesuai dengan standar kinerja yang disyaratkan.
15.Asesmen kompetensi / uji kompetensi adalah suatu proses penilaian
terhadap perawat yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan

sikap kerja minimal yang harus dimiliki seseorang sesuai dengan standar
kinerja (performance) yang ditetapkan.
16.Panitia Ad Hoc adalah panitia yang dibentuk oleh komite keperawatan
untuk membantu melaksanakan tugas komite keperawatan dalam masa
tugas tertentu.
17.Mitra bestari (Peer Group) adalah kelompok staf keperawatan dengan
reputasi dan kompetensi profesi yang baik untuk menelaah segala
sesuatu yang terkait dengan profesi keperawatan di RSUP Nasional Dr.
Cipto Mangunkusumo;
18.Pelimpahan wewenang delegatif adalah melakukan sesuatu tindakan
medis diberikan oleh tenaga medis kepada Perawat dengan disertai
pelimpahan tanggung jawab.
19.Pelimpahan wewenang secara mandate

Bab II tujuan
. Sebagai pilar utama akuntabilitas kinerja profesional dan etika
anggota.
2. Menjamin agar staf keperawatan dan tata laksana klinis pasien di
rumah sakit dilaksanakan sesuai standar pelayanan dan dengan
efisien yang tinggi.
3. Memungkinkan peran serta staf keperawatan dalam pembuatan
kebijakan serta perencanaan rumah sakit.
4. Staf keperawatan dapat berperan serta dalam pendidikan dan
pelatihan Keperawatan;
5. Staf keperawatan dapat berperan serta dalam pendidikan profesional
pelayanan kesehatan secara berkelanjutan;
6. Menjamin bahwa tingkat keperawatan terus meningkat dengan
menerapkan kaidah ilmiah dalam praktik dengan pertimbangan etika.
7. Dimilikinya suatu tatanan peraturan dasar yang mengatur staf
keperawatan atau Nursing Staf Bylaws (NSBL) di RSUP
Nasional Dr. Cipto Mangunksumo;
8. Meningkatkan profesionalisme staf keperawatan di RSUP

Nasional Dr. Cipto Mangunksumo;


9. Mengembangkan dan meningkatkan mutu profesi staf
keperawatan di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo:
10.Menegakan etik dan disiplin profesi staf keperawatan di RSUP
Nasional Dr. Cipto Mangunksumo;
11.Menjamin agar perawatan pasien di rumah sakit dilaksanakan
secara efesien dan dengan standar yang tinggi:
12.Memberikan dasar hukum bagi mitra bestari dalam pengambilan
keputusan profesi melalui komite keperawatan.

BAB III
WEWENANG KLINIS
Pasal 3
Tata cara penentuan wewenang klinis (clinical privilege) :
1. Wewenang klinis staf keperawatan sesuai dengan kompetensinya
yang ditetapkan oleh direksi.
2. Dalam penetapan wewenang klinis tersebut, direksi mendapatkan
rekomendasi dari komite keperawatan yang dibantu oleh mitra bestari
(peer group) sebagai pihak yang paling mengetahui masalah keprofesian
yang bersangkutan.
3. Wewenang klinis setiap staf keperawatan dapat berbeda, walaupun
mereka memiliki area klinis yang sama.
4. Rincian kewenangan klinis setiap area kekhususan di RSUP Nasional
Dr. Cipto Mangunkusumo ditetapkan oleh komite keperawatan, dengan
berpedoman pada referensi intervensi keperawatan (NIC) Bulechek
Gloria M. At all (2013) yang sesuai dengan tindakan keperawatan yang
ada di RSCM, apabila kolegium spesialisasikeperawatan di Indonesia
telah menetapkan standar kompetensi yang baku maka rincian
kewenangan klinis kolegium spesialisasi.
5. Komite keperawatan wajib menetapkan dan mendokumentasi syaratsyarat yang terkait kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan
pelayanan keperawatanyang mengacu kepada jenjang karir keperawatan,
apabila kolegium spesialisasi keperawatan di Indonesia telah menetapkan

persyaratan yang baku maka persyaratan yang yang terkait kompetensi


akan berpedoman pada kolegium spesilaisasi keperawatan.
6. Komite Keperawatan menyusun buku putih (white paper) untuk
pelayanan keperawatan tertentu dengan melibatkan mitra bestari (peer
group) dari beberapa area kekhususan serta spesialisasi terkait.
Selanjutnya pemberian wewenang klinis (clinical privilege) kepada staf
keperawatan yang akan melakukan tindakan tertentu tersebut mengacu
pada buku putih (white paper) yang telah disusun bersama.
7. Wewenang klinik seorang staf keperawatan tidak hanya didasarkan
pada kredensial terhadap kompetensi keilmuan dan keterampilannya
saja, akan tetapi juga didasarkan pada kesehatan jasmani, kesehatan
mental, dan perilaku (behavior) staf keperawatan tersebu

BAB IV
PENUGASAN KLINIS
(Clinical Appointment)
Pasal 4
Tata cara penentuan penugasan klinis(clinical appointment):
1. Rumah sakit bertugas mengatur wewenang klinis setiap staf
keperawatan agar staf keperawatan dapat melaksanakan tugasnya
dengan kualitas yang baik.
2. Untuk mewujudkan tata kelola klinis (clinical governance) yang baik,
semua pelayanan keperawatan yang dilakukan oleh setiap staf
keperawatan di rumah sakit dilakukan atas penugasan klinis oleh Direksi.
3. Penugasan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa
pemberian wewenang klinis oleh Direksi melalui penerbitan surat
penugasan klinis kepada staf keperawatan.
4. Surat penugasan klinis sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diterbitkan oleh Direksi setelah mendapat rekomendasi dari Komite
Keperawatan.
5. Rekomendasi komite keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) diberikan setelah dilakukan proses kredensial.
6. Dengan memiliki surat penugasan klinis maka seorang staf

keperawatan tergabung dalam anggota kelompok staf keperawatan yang


memiliki wewenang klinis untuk melakukan pelayanan keperawatan di
RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
7. Dalam keadaan tertentu atau darurat Direksi dapat pula menerbitkan
surat penugasan klinis sementara (temporary clinical appointment) tanpa
rekomendasi Komite Keperawatan, misalnya untuk konsultan tamu yang
diperlukan sementara oleh RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
8. Direksi dapat mengubah, membekukan untuk waktu tertentu, atau
mengakhiri penugasan klinis seorang staf keperawatan berdasarkan
pertimbangan Komite Keperawatan atau alasan tertentu.
9. Dengan dibekukan atau diakhirinya penugasan klinis, seorang staf
keperawatan tidak berwenang lagi melakukan pelayanan keperawatan di
RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
BAB V
TUGAS DAN WEWENANG
Pasal 5
(1) Dalam menyelenggarakan praktik keperawatan di rumah sakit perawat
bertugas sebagai :
a. pemberi asuhan keperawatan;
b. pengelola Pelayanan Keperawatan;
c. peneliti Keperawatan;
d. pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang;
(2) Dalam menjalankan tugas sebagai pemberi asuhan keperawatan di
rumah sakit, perawat berwenang :
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien/pasien
b. Menetapkan masalah keperawatan
c. Merencanakan tindakan keperawatan
d. Melaksanakan tindakan keperawatan
e. Melakukan evaluasi hasil tindakan keperawatan;
(3) Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengelola pelayanan
keperawatan, perawat berwenang :
a. Melakukan pengkajian, menetapkan maslah keperawatyan;
b. Merencankana, melaksanakan dan mengevaluasi pelaynan
keperawatan; dan

c. Mengelola kasus
(4) Dalam menjalankan tugasnya sebagai peneliti keperawatan, perawat
berwenang;
a. Melakukan penelitian sesuai dengan standar etika
b. Menggunakan sumber daya pada fasilitas rumah sakit atas izin
pimpinan;
c. Menggunakan pasien sebagai subyek penelitian sesuai etika profesi
dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 6
(1) Pelaksanakan tugas berdasarkan pelimpahan wewenang
sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (1) huruf d, hanya dapat
diberikan secara tertulis oleh tenaga medis kepada perawat untuk
melakukan sesuatu tindakan medis dan melalukan evaluasi
pelkasanaannya.
(2) Pelimpahan wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan secara delegatif atau mandate.
(3) Pelimpahan wewenang secara delegatif untuk melakukan sesuatu
tindakan medis diberikan oleh tenaga medis kepada perawat diserttai
pelimpahan tanggung jawab.
(4) Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud dalam
pasal 6 ayat (3) hanya dapat diberikan kepada perawat profesi atau
perawat vokasi terlatih yang memiliki kompetensi yang diperlukan.
(5) Pelimpahan wewenang secara mandate diberikan oleh tenaga medis
kepada perawat untuk melakukan sesuatu tindakan medis dibawah
pengawasan.
(6) Tanggung jawab atas tindakan medis pada pelimpahan wewenang
mandate sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berada pada pemberi
pelimpahan wewenang.
(7) Dalam melaksanakan tugas berdasarkan pelimpahan wewenang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perawat berwenang :
a. Melakukan tindakan medis yang sesuai dengan kompetensinya
atas pelimpahan wewenang delegatif tenaga medis.
b. Melakukan tindakan medis dibawah pengawasan atas pelimpahan
wewennag mandate;

HAK DAN KEWAJIBAN


Bagian Kesatu
Pasal 7
Perawat dalam menjalankan Praktik keperawatan di rumah sakit berhak :
a. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar pelayanan, standar profesi, standar prosedur operasional,
dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
b. Memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur dari paisen dan/atau
keluarganya.
c. Menerima imbalan jasa atas pelayanan keperawatan yang diberikan.
d. Menolak keinginan klien atau pihak lain yang bertentangan dengan kode
etik, standar pelayanan, standar profesi, standar prosedur operasional,
atau ketentauan perundang-undangan; dan
e. Memperoleh fasilitas kerja sesuai standar.
Pasal 8
Perawat dalam melaksnakan praktik keperawatan di rumah sakit
berkewajiban :
a. Memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan kode etik, standar
pelayanan keperawatan, standar profesi, standar prosedur operasional,
dan ketentuan perundang-undangan;
b. Merujuk pasien/klien yang tidak dapat ditangani kepada perawat atau
tenaga medis serta tenaga kesehatan lain yang lebih tepat sesuai dengan
lingkup dan tingkat kompetensinya.
c. Mendokumentasikan asuhan keperawatan sesuai dengan standar
d. Memberikan informasi yang lengkap, jujur, benar, jelas dan mudah
dimengerti mengenai tindakan keperawatan kepada pasien/klien dan /atau
keluarganya sesuai dengan batas kewenanganannya.
e. Melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga medis
maupun tenaga kesehatan lain yang sesuai dengan kompetensi perawat
Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Klien
Pasal ..
Dalam prakttik keperawatan, klien berhak :
a. Mendapatkan informasi secara, benar, jelas dan jujur tentang tindakan

keperawatan yang akan dilakukan


b. Meminta pendapat perawat lain dan/atau tenaga medis serta tenaga
kesehatan lainnya;
f. Mendapatkan pelayanan keperawatan sesuai dengan kode etik, standar
pelayanan keperawatan, standar profesi, standar prosedur operasional,
dan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. Member persetujuan atau penolakan tindakan keperawatan yang akan
diterimanya; dan
d. Memperoleh keterjagaan kerahasiaan kondisi kesehatannya.
Pasal 9
Pengungkapan rahasia kesehatan klien sebagaimana dimaksud dalam pasl 8
huruf d dilakukan atas dasar :
a. Kepentingan kesehatan klien
b. Pemenuhan permintaan aparatur penegak hokum dalam rangka
penegakkan hukum.
c. Persetujuan klien sendiri
d. Kepentingan pendidikan dan penelitian; dan
e. ketentuan peraturan perundang-undangan
Pasal 10
Dalam praktik keperawatan, klien berkewajiban :
a. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur tentang masalah
kesehatannya.
b. Mematuhi nasehat dan petunjuk perawat
c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di rumah sakit
d. Member imbalan jasa ke rumah sakit atas pelayanan yang diterima
BAB VII
KOMITE KEPERAWATAN
Pasal 11
(1) Komite Keperawatan merupakan organisasi non struktural yang
dibentuk oleh Direktur Utama RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
dan bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Ketua, Sekretaris Komite
Keperawatan ditetapkan oleh Direktur Utama.
(2) Jumlah Sub komite diusulkan oleh Ketua Komite Keperawatan dan
ditetapkan oleh Direksi.

(3) Mekanisme pengambilan keputusan di bidang keprofesian dalam


setiap kegiatan Komite Keperawatan dilaksanakan secara sehat dengan
memerhatikan azas kolegialitas.
(4) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya komite Keperawatan
melibatkan mitra bestari untuk mengambil keputusan profesional.
(5) Rumah sakit bersama Komite Keperawatan menyiapkan daftar mitra
bestari yang meliputi berbagai macam bidang ilmu Keperawatan sesuai
kebutuhan.
Pasal 12
Keanggotaan Komite Keperawatan
(1) Susunan organisasi Komite Keperawatan sekurang-kurangnya terdiri
atas:
a. Ketua;
b. Sekretaris; dan
c. Sub komite.
(2) Keanggotaan Komite Keperawatan ditetapkan oleh direksi
dengan mempertimbangkan sikap profesional, reputasi dan perilaku.
(3) Anggota Komite Keperawatan terbagi dalam sub komite.
(4) Sekretaris Komite Keperawatan dan Ketua Sub Komite
ditetapkan oleh Direksi berdasarkan rekomendasi dari Ketua KomiteKeperawatan dengan
memperhatikan masukan dari staf keperawatan
yang bekerja di rumah sakit.
(5) Sub komite yang dimaksud adalah:
a. Sub Komite Kredensial bertugas menapis profesionalisme staf
keperawatan;
Pasal 13
(1) Secara umum Komite Keperawatan berfungsi untuk meningkatkan
profesionalisme tenaga keperawatan RSCM dengan cara :
a. Melakukan Kredensial bagi seluruh tenaga keperawatan yang akan
melakukan pelayanan keperawatan dan kebidanan:
b. Memelihara mutu profesi tenaga keperawatan:
c. Menjaga disiplin, etika dan perilaku profesi tenaga keperawatan.
(2) Dalam melaksanakan fungsi Kredensial, Komite Keperawatan memiliki

tugas sebagai berikut:


a. Menyusun daftar rincian Kewenangan Klinis dan Buku Putih;
b. Melakukan verifikasi persyaratan Kredensial;
c. Merekomendasikan kewenangan klinik tenaga keperawatan
d. Merekomendasikan pemulihan Kewenangan Klinis;
e. Melakukan kredensial ulang secara berkala sesuai waktu yang
ditetapkan;
f. Melaporkan seluruh proses Kredensial kepada Ketua Komite
Keperawatan untuk diteruskan kepada Direktur Medik dan
Keperawatan;
(3) Dalam melaksanakan fungsi memelihara mutu profesi, Komite
Keperawatan memiliki tugas sebagai berikut:
a. Menyusun data dasar profil tenaga keperawatan sesuai area praktik;
b. Merekomendasikan perencanaan pengembangan professional
berkelanjutan tenaga keperawatan;
c. Melakukan audit keperawatan dan kebidanan;
d. Menfasilitasi proses pendampingan sesuai kebutuhan.
(4) Dalam melaksanakan fungsi menjaga disiplin dan etika profesi tenaga
keperawatan, Komite Keperawatan memiliki tugas sebagai berikut
a. Melakukan sosialisasi kode etik profesi tenaga keperawatan;
b. Melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga keperawatan;
c. Merekomendasikan penyelesaian masalah pelanggaran disiplin dan
masalah etik dalam kehidupan profesi dan pelayanan asuhan
keperawatan, kebidanan dan asuhan keperawatan gigi;
d. Merekomendasikan pencabutan Kewenangan Klinis;
e. Memberikan pertimbangan dalam mengambil keputusan etis dalam
asuhan keperawatan, kebidanan dan asuhan keperawatan gigi.
(5) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya komite keperawatan memiliki
kewenangan, sebagai berikut :
a. Memberikan rekomendasikan rincian Kewenagnan Klinis;
b. Memberikan rekomendasi rincian perubahan Kewenangan Klinis;
c. Memberikan rekomendasikan penolakan kewenangan Klinis tertentu;
d. Memberikan rekomendasi surat penugasan Klinis.

e. Memberikan rekomendasikan tindak lanjut audit keperawatan dan


kebidanan;
f. Memberikan rekomendasikan pendidikan berkelanjutan tenaga
keperawatan;
g. Memberikan rekomendasikan pendampingan dan memberikan
tindakan disiplin.
Pasal 14
Wewenang komite keperawatan
a. Memberikan rekomendasi rincian wewenang klinik;
b. Memberikan rekomendasi surat penugasan klinik;
c. Memberikan rekomendasi penolakan wewenang klinik tertentu;
d. Memberikan rekomendasi perubahan/modifikasi rincian wewenang klinik;
e. Memberikan rekomendasi tindak lanjut audit klinik;
f. Memberikan rekomendasi pendidikan keperawatan berkelanjutan;
g. Memberikan rekomendasi pendampingan (proctoring); dan
h. Memberikan rekomendasi pemberian tindakan disiplin
Pasal 15
Kedudukan Komite Keperawatan
(1) Direksi menetapkan kebijakan, prosedur dan sumber daya yang
diperlukan untuk menjalankan tugas dan fungsi Komite Keperawatan;
(2) Komite Keperawatan bertanggung jawab kepada Direktur Utama.
(3) Hubungan antara direksi dengan Komite Keperawatan terbatas pada hal
yang berkaitan dengan profesionalisme staf keperawatan.
(4) Hal-hal yang terkait dengan pengelolaan rumah sakit dan sumber
dayanya dilakukan sepenuhnya oleh Direksi.
(5) Direksi bekerja sama dengan Komite Keperawatan menyusun peraturan
layanan keperawatan (nursing staff rules and regulation) agar menjamin
pelayanan yang profesional mulai saat pasien masuk rumah sakit hingga
keluar rumah sakit.
Pasal 16
(1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Komite Keperawatan dapat
dibantu oleh panitia ad hoc.
(2) Panitia ad hoc ditetapkan oleh Direksi berdasarkan usulan Komite
Keperawatan.

(3) Panitia ad hoc sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berasal dari
daftar mitra bestari yang ditetapkan oleh rumah sakit.
(4) Mitra Bestari yang dimaksud dalam ayat (3) dapat berasal dari rumah
sakit lain, PPNI/IBI, dan atau institusi pendidikan
Keperawatan/Kebidanan.
Pasal 17
(1) Anggota komite Keperawatan berhak memperoleh insentif sesuai
dengan kemampuan keuangan RSUP Nasional Dr. Cipto
Mangunkusumo.
(2) Pelaksanaan kegiatan Komite Keperawatan didanai dengan anggaran
RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
17
Pasal 18
Pembinaan dan Pengawasan Komite Keperawatan
(1) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Komite Keperawatan
dilakukan oleh Direktur Utama sesuai dengan tugas dan fungsi masingmasing.
(2) Pembinaan dan pengawasan diarahkan untuk meningkatkan kinerja
Komite Keperawatan dalam rangka menjamin mutu pelayanan
keperawatan dan keselamatan pasien di rumah sakit dan dilaksanakan
melalui:
a. advokasi, sosialisasi dan bimbingan teknis;
b. pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia;
c. monitoring dan evaluasi.
Pasal 19
Rapat-Rapat Komite Keperawatan
(1) Rapat Komite Keperawatan terdiri atas rapat rutin, rapat khusus,
dan rapat tahunan.
(2) Rapat rutin adalah rapat yang memantau dan mengendalikan
seluruh kegiatan komite keperawatan yang diselenggarakan sekurangkurangnya 10 (sepuluh) kali dalam 1(satu) tahun.
(3) Rapat khusus bertujuan untuk membahas dan memutuskan
segala hal yang dianggap perlu di luar rapat rutin dan dapat

diselenggarakan setiap saat.


(4) Rapat tahunan bertujuan untuk melakukan evaluasi kinerja
komite keperawatan selama setahun dan menetapkan kegiatan tahunan
(5) Rapat dianggap sah apabila dihadiri oleh lebih dari separuh
anggota dan hal ini dinyatakan sebagai sudah memenuhi kuorum.
(6) Bilamana rapat sudah dibuka secara resmi dan belum
memenuhi kuorum maka rapat ditunda selama 30 menit, selanjutnya
rapat dinyatakan sah dengan tanpa memperhatikan kuorum
(7) Hasil rapat dituangkan dalam risalah rapat
BAB
SUB KOMITE KREDENSIAL
Pasal 20
Tujuan
(1) Tujuan Umum Subkomite Kredensial adalah untuk melindungi
keselamatan pasien dengan memastikan bahwa staf keperwatan yang
akan melakukan pelayanan keperawatan di RSUP Nasional Dr. Cipto
Mangunkusumo memiliki kompetensi sesuai dengan white paper.
(2) Tujuan Khusus Subkomite Kredensial adalah:
a. Memastikan staf keperawatan yang profesional dan akuntabel bagi
pelayanan di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
b. Menyusun jenis-jenis wewenang klinis bagi setiap staf keperawatan
yang melakukan pelayanan keperawatan di RSUP Nasional Dr. Cipto
Mangunkusumo sesuai dengan cabang ilmu keperawatan/kebidanan
yang ditetapkan oleh Kolegium Keperawatan/Kebidanan.
c. Memberikan masukan pada Komite Keperawatan untuk
merekomendasi penerbitan penugasan klinis bagi setiap staf
keperawatan untuk melakukan pelayanan keperawatan di rumah sakit.
d. Menjamin terjaganya reputasi dan kredibilitas para staf keperawatan
dan institusi rumah sakit di hadapan pasien, penyandang dana, dan
pemangku kepentingan (stakeholders) lain rumah sakit.
Pasal 21
(1) Sub Komite Kredensial terdiri atas sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang staf
keperawatan yang memiliki surat penugasan klinik (clinical appointment)
di rumah sakit, berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.

(2) Pengorganisasian Sub Komite Kredensial sekurang-kurangnya terdiri dari


ketua, sekretaris, dan anggota, yang ditetapkan oleh dan bertanggung
jawab kepada ketua Komite Keperawatan.
Pasal 22
Standar Kompetensi
(1) Untuk menjaga keselamatan pasien, maka dalam menjalankan tugas
dan tanggung jawabnya, seorang staf keperawatan wajib menjaga
standar kompetensi dengan melakukan uji standar kompetensi sesuai
ketentuan kolegium.
(2) Apabila standar kompetensi belum terbentuk maka dapat mengacu
kepada Pedoman Kompetensi Rumah Sakit.
(3) Kompetensi meliputi 2 aspek:
a. Kompetensi profesi perawat terdiri atas pengetahuan, ketrampilan dan
perilaku profesional.
b. Kompetensi fisik dan mental.
(4) Rumah sakit sebagai penyelenggara uji standar kompetensi staf
keperawatan, wajib melakukan verifikasi sertifikat kompetensi terhadap
keabsahan bukti kompetensi seseorang dan menetapkan wewenang klinis
untuk melakukan pelayanan keperawatan dalam lingkup area kekhususan
atau spesialisasi tersebut.
(5) Seorang staf keperawatan dinyatakan kompeten, wajib melalui suatu
proses kredensial yang dilakukan oleh rumah sakit.
(6) Apabila seorang staf keperawatan dinyatakan kompeten maka rumah
sakit berhak menerbitkan ijin bagi yang bersangkutan untuk melakukan
serangkaian pelayanan keperawatan tertentu di rumah sakit, sesuai
dengan wewenang kliniknya (clinical privilege).
(7) Tanpa adanya wewenang klinis tersebut, seorang staf keperawatan
tidak diperkenankan melakukan pelayanan keperawatan di rumah sakit.
(8) Luasnya lingkup wewenang klinis seorang perawat/bidandapat
berbeda dengan sesama koleganya dalam spesialisasi yang sama
berdasarkan hasil proses kredensial.
(9) Apabila seorang staf keperawatan telah melakukan pelayanan
keperawatan yang membahayakan pasien, maka penugasan klinis
seorang staf keperawatan tersebut dapat diakhiri untuk suatu periode

tertentu (suspend), atau dilakukan modifikasi (perubahan) terhadap


penugasan klinisnya sehingga yang bersangkutan hanya diperkenankan
untuk melakukan pelayanan keperawatan tertentu, atau diakhiri hubungan
kerjanya.
(10) Tata cara usulan pengakhiran dan modifikasi penugasan klinis tersebut
di atas ditetapkan oleh Direktur atas usulan Komite Keperawatan yang
akan dituangkan dalam peraturan tersendiri.
(11) Apabila dipandang perlu, Direktur Rumah Sakit berhak menentukan
kebutuhan dan penambahan staf keperawatan, dalam hal ini Direktur
Rumah Sakit dapat meminta Komite Keperawatan untuk melakukan
kajian kompetensi terhadap calon staf keperawatan yang dibutuhkan.
Pasal 23
Kegiatan Kredensial
(1) Proses kredensial dilaksanakan dengan semangat keterbukaan, adil,
objektif, sesuai prosedur/ketentuan yg berlaku dan terdokumentasi
dengan baik.
(2) Rangkaian kegiatan proses kredensial diatur sebagai berikut:
- Menyusun tim mitra bestari
- Melakukan penilaian kompetensi seorang staf keperawatan yang
meminta wewenang klinik tertentu.
- Sub Komite Kredensial menyiapkan instrumen-instrumen, meliputi:
a. Kebijakan tentang kredensial dan wewenang klinis.
b. Pedoman penilaian kompetensi klinis
c. Formulir
(3) Ketentuan dan Peraturan Pelaksanaan sebagaimana tercantum dalam
pasal . ayat 2 tersebut di atas, akan diatur dalam ketentuan tersendiri
yang ditetapkan oleh Direktur Utama.
(4) Pada akhir proses kredensial Komite Keperawatan menerbitkan
rekomendasi kepada Direktur Utama tentang lingkup wewenang klinis
seorang staf keperawatan.
Pasal 24
1) Subkomite kredensial melakukan rekredensial bagi setiap staf
keperawatan dalam hal:
a. masa berlaku surat penugasan klinik (clinical appointment) yang

dimiliki oleh staf keperawatan telah habis masa berlakunya (paling


lama 3 tahun)
b. staf keperawatan yang bersangkutan diduga melakukan kelalaian
terkait tugas dan kewenangannya;
c. staf keperawatan yang bersangkutan diduga terganggu kesehatannya,
baik jasmani maupun mental.
(2) Dalam proses rekredensial Sub Komite Kredensial dapat memberikan
rekomendasi:
a. kewenangan klinis yang bersangkutan dilanjutkan;
b. kewenangan klinis yang bersangkutan ditambah;
c. kewenangan klinis yang bersangkutan dikurangi;
d. kewenangan klinis yang bersangkutan dibekukan untuk waktu
tertentu;
e. kewenangan klinis yang bersangkutan diubah/dimodifikasi;
f. kewenangan klinis yang bersangkutan diakhiri.
(3) Subkomite kredensial wajib melakukan pembinaan profesi melalui
mekanisme pendampingan (proctoring) bagi staf keperawatan yang
kewenangan kliniknya ditambah atau dikurangi.
BAB.
SUBKOMITE MUTU PROFESI
Pasal 25
Tujuan
Tujuan Sub Komite Mutu Profesi dalam menjaga mutu profesi keperawatan
adalah:
(1) Memberikan perlindungan terhadap pasien agar senantiasa
ditangani oleh staf keperawatan yang berkualitas, kompeten, etis, dan
profesional;
2) Memberikan azas keadilan bagi staf keperawatan untuk
memperoleh kesempatan memelihara kompetensi (maintaining
competence) dan wewenang klinik (clinical privilege);
(3) Mencegah terjadinya kejadian yang tak diharapkan (medical
mishaps);
(4) Memastikan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan
oleh staf keperawatan melalui upaya pemberdayaan, evaluasi kinerja

profesi yang berkesinambungan (on-going professional practice


evaluation), maupun evaluasi kinerja profesi yang terfokus (focused
professional practice evaluation).
Pasal 26
Keanggotaan Sub Komite Mutu Profesi
(1) Subkomite Mutu Profesi RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo
terdiri atas sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang staf keperawatan yang
memiliki surat penugasan klinis (clinical appointment) di RSUP Nasional
Dr. Cipto Mangunkusumo dan berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.
(2) Subkomite Mutu Profesi sekurang-kurangnya terdiri atas Ketua,
Sekretaris, dan anggota, yang ditetapkan oleh dan bertanggung jawab
kepada ketua Komite Keperawatan.
Pasal 27
Audit Klinis
(1) Direktur berhak menetapkan kebijakan dan prosedur seluruh
mekanisme kerja Subkomite Mutu Profesi berdasarkan atas masukan
Komite Keperawatan.
(2) Direktur bertanggungjawab atas tersedianya berbagai sumber daya
yang dibutuhkan agar kegiatan ini dapat terselenggara.
(3) Audit klinis
a. Audit klinis dilaksanakan sebagai implementasi fungsi manajemen
klinis dalam rangka penerapan tata kelola klinis yang baik di rumah
sakit
b. Audit klinis tidak digunakan untuk mencari ada atau tidaknya
kesalahan seorang staf keperawatan dalam satu kasus.
c. Dalam hal terdapat laporan kejadian dengan dugaan kelalaian
seorang staf keperawatan, mekanisme yang digunakan adalah
mekanisme disiplin profesi, bukan mekanisme audit klinis.
d. Audit klinis dilakukan dengan mengedepankan respek terhadap
semua staf keperawatan (no blame culture) dengan cara tidak
menyebutkan nama, tidak mempersalahkan, dan tidak
mempermalukan.
e. Audit klinis yang dilakukan oleh RSUP Nasional Dr. Cipto
Mangunkusumo merupakan kegiatan evaluasi profesi secara sistemik

yang melibatkan staf keperawatan yang terdiri atas kegiatan peerreview, surveillance dan assessment terhadap pelayanan
keperawatan di rumah sakit.
f. Dalam pengertian audit klinis tersebut di atas, rumah sakit, Komite
Keperawatan atau masing-masing kelompok staf keperawatan dapat
menyelenggarakan evaluasi kinerja profesi yang terfokus (focused
professional practice evaluation).
g. Pelaksanaan audit klinis harus dapat memenuhi 4 (empat) peran
penting, yaitu:
1) Sebagai sarana untuk melakukan penilaian terhadap kompetensi
masing-masing staf keperawatan pemberi pelayanan di rumah
sakit;
2) Sebagai dasar untuk pemberian wewenang klinis (clinical
privilege) sesuai kompetensi yang dimiliki;
3) Sebagai dasar bagi Komite Keperawatan dalam
merekomendasikan pencabutan atau penangguhan wewenang
klinis (clinical privilege);
4) Sebagai dasar bagi Komite Keperawatan dalam
merekomendasikan perubahan/ modifikasi rincian wewenang
klinis seorang staf keperawatan.
h. Langkah-langkah pelaksanaan audit klinis dilaksanakan sebagai
berikut
) Pemilihan topik yang akan dilakukan audit.
2) Penetapan standar dan kriteria.
3) Penetapan jumlah kasus/sampel yang akan diaudit.
4) Membandingkan standar/kriteria dengan pelaksanaan pelayanan.
5) Melakukan analisis kasus yang tidak sesuai standar dan kriteria.
6) Menerapkan perbaikan.
7) Rencana re-audit.
(4) Tahapan Rekomendasi Pendidikan Berkelanjutan bagi staf
keperawatan:
a. Subkomite Mutu Profesi menentukan pertemuan-pertemuan ilmiah
yang harus dilaksanakan oleh masing-masing kelompok staf
keperawatan dengan pengaturan-pengaturan waktu yang disesuaikan.

b. Pertemuan tersebut dapat pula berupa pembahasan kasus tersebut


antara lain meliputi kasus kematian (death case), kasus sulit, maupun
kasus langka.
c. Setiap kali pertemuan ilmiah harus disertai risalah (notulensi),
kesimpulan dan daftar hadir peserta yang akan dijadikan pertimbangan
dalam penilaian disiplin profesi.
d. Notulensi beserta daftar hadir menjadi dokumen/arsip dari Sub Komite
Mutu Profesi.
e. Subkomite Mutu Profesi bersama-sama dengan kelompok staf
keperawatan fungsional menentukan kegiatan-kegiatan ilmiah yang
akan dibuat oleh subkomite mutu profesi yang melibatkan staf
keperawatan rumah sakit sebagai narasumber dan peserta aktif.
f. Setiap kelompok staf keperawatan wajib menentukan minimal satu
kegiatan ilmiah yang akan dilaksanakan dengan subkomite mutu
profesi per tahun.
g. Subkomite Mutu Profesi bersama dengan Bagian Pendidikan dan
Pelatihan rumah sakit memfasilitasi kegiatan tersebut.
h. Subkomite Mutu Profesi menentukan kegiatan-kegiatan ilmiah yang
dapat diikuti oleh masing-masing staf keperawatan setiap tahun.
i. Subkomite Mutu Profesi memberikan persetujuan terhadap permintaan
staf keperawatan sebagai asupan kepada direksi
(5) Ketentuan dalam Proses Pendampingan (Proctoring) bagi
Staf keperawatan yang membutuhkan.
a. Subkomite mutu profesi menentukan nama staf keperawatan yang
akan mendampingi staf keperawatan yang sedang mengalami sanksi
disiplin/mendapatkan pengurangan clinical privilege.
b. Komite Keperawatan berkoordinasi dengan Direksi memfasilitasi
semua sumber daya yang dibutuhkan untuk proses pendampingan
(proctoring) tersebut.
BAB .
SUB KOMITE ETIK DAN DISIPLIN PROFESI
Pasal 28
Tujuan
Subkomite Etik dan Disiplin Profesi pada Komite Keperawatan RSUP

Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo dibentuk dengan tujuan:


1 Melindungi pasien dari risiko pelayanan staf keperawatan yang
tidak memenuhi syarat (unqualified) dan tidak layak (unfit/unproper) untuk
melakukan asuhan klinis (clinical care).
2 Memelihara dan meningkatkan mutu profesionalisme staf
keperawatan di rumah sakit.
Pasal 29
Keanggotaan
(1)Subkomite etik dan disiplin profesi di rumah sakit terdiri atas sekurangkurangnya 3 (tiga) orang staf keperawatan yang memiliki surat penugasan
klinis(clinical appointment) di rumah sakit tersebut dan berasal dari disiplin
ilmu yang berbeda.
(2)Pengorganisasian subkomite etik dan disiplin profesi sekurang-kurangnya
terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota, yang ditetapkan oleh dan
bertanggung jawab kepada ketua komite keperawatan.
Pasal 30
(1) Setiap staf keperawatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan di
rumah sakit harus menerapkan prinsip-prinsip profesionalisme
keperawatan yang baik, agar pasien memperoleh asuhan keperawatan
yang aman dan efektif.
(2) Upaya peningkatan profesionalisme staf keperawatan dilakukan
dengan melaksanakan program pembinaan profesionalisme keperawatan
dan upaya peningkatan disiplin dan perilaku profesional staf keperawatan
di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
(3) Apabila dalam penanganan asuhan keperawatan dijumpai kesulitan
dalam pengambilan keputusan etis maka dapat dibentuk Tim yang dapat
membantu memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan etis
tersebut.
(4) Pelaksanaan dan keputusan Subkomite Etik dan Disiplin Profesi yang
diatur dalam ketentuan ini tidak terkait atau tidak ada hubungannya
dengan proses penegakan disiplin profesi perawat di lembaga
pemerintah, penegakan etika keperawatan di organisasi profesi, maupun
penegakan hukum.
(5) Pengaturan dan penerapan penegakan disiplin profesi bukan

merupakan penegakan disiplin kepegawaian sebagaimana diatur dalam


tata tertib kepegawaian pada umumnya.
(6) Landasan kerja Sub Komite Etik dan Disiplin Profesiadalah:
a. Peraturan internal rumah sakit;
b. Peraturan internal staf keperawatan;
c. Etik rumah sakit;
d. Norma etika medik dan norma-norma bioetika.
(7) Tolok ukur dalam upaya pendisiplinan perilaku profesional staf
keperawatan, antara lain:
a. Pedoman pelayanan keperawatan di rumah sakit;
b. Prosedur kerja pelayanan di rumah sakit;
c. Daftar wewenang klinis di rumah sakit;
d. Pedoman syarat-syarat kualifikasi untuk melakukan pelayanan
keperawatan(white paper) di rumah sakit;
e. Kode etik Keperawatan Indonesia;
f. Pedoman perilaku profesional keperawatan (buku penyelenggaraan
praktik keperawatan yang baik);
g. Pedoman pelanggaran disiplin keperawatan yang berlaku di Indonesia;
h. Pedoman pelayanan keperawatan/klinis;
i. Standar prosedur operasional asuhan keperawatan.
Pasal 31
Kedudukan
(1) Direksi menetapkan kebijakan dan prosedur seluruh mekanisme
kerja Subkomite disiplin dan etik profesi berdasarkan masukan Komite
Keperawatan.
(2) Direksi bertanggung jawab atas tersedianya berbagai sumber daya
yang dibutuhkan agar kegiatan ini dapat terselenggara.
(3) Penegakan disiplin profesi dilakukan oleh sebuah panel yang
dibentuk oleh ketua Sub Komite Etik dan Disiplin Profesi.
(4) Panel sebagaimana dimaksud pada ayat (3) terdiri atas 3 (tiga)
orang staf keperawatan atau lebih dalam jumlah ganjil dengan susunan 1
(satu) orang dari subkomite etik dan disiplin profesiyang memiliki disiplin
ilmu yang berbeda dari yang diperiksa dan 2 (dua) orang atau lebih staf
keperawatan dari disiplin ilmu yang sama dengan yang diperiksa dapat

berasal dari dalam rumah sakit atau luar rumah sakit


(5) Anggota panel yang berasal dari luar rumah sakit ditetapkan atas
persetujuan Direktur Utama.
Pasal 32
(1) Upaya pendisiplinan prilaku profesional dilakukan melalui mekanisme
pemeriksaan berdasarkan laporan yang berasal dari perorangan maupun
non perorangan.
(2) Laporan yang berasal dari perorangan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) di antaranya yaitu:
a. Manajemen rumah sakit.
b. Staf keperawatan.
c. Tenaga kesehatan.
d. Tenaga non kesehatan.
e. Pasien atau keluarga pasien
3) Laporan yang berasal dari non perorangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diantaranya yaitu:
a. Hasil konferensi kematian.
b. Hasil konferensi klinis
Pasal 33
(1) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada Pasal ayat (1) dilakukan
oleh Panel Pendisiplinan Profesi melalui proses pembuktian yang dicatat
oleh petugas sekretariat Komite Keperawatan.
(2) Dalam proses pemeriksaan Panel dapat menggunakan keterangan ahli
sesuai kebutuhan.
(3) Seluruh pemeriksaan yang dilakukan oleh panel disiplin profesi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara tertutup.
(4) Keputusan dan/atau hasil proses pemeriksaan bersifat internal dan
rahasia.
Pasal 34
Dalam menentukan dugaan pelanggaran disiplin profesi, panel memeriksa
data dan keterangan yang bersumber dari:
a. Kompetensi klinis;
b. Penatalaksanaan kasus keperawatan;
c. Pelanggaran disiplin profesi;

d. Ketidakmampuan bekerja sama dengan staf rumah sakit yang dapat


membahayakan pasien;
e. Penggunaan obat dan alat kesehatan yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan keperawatan di rumah sakit.
Pasal 35
(1) Keputusan panel yang dibentuk oleh Sub Komite Etik dan disiplin
profesidiambil berdasarkan suara terbanyak.
(2) Apabila terlapor keberatan dengan keputusan panel, maka yang
bersangkutan dapat mengajukan keberatan dengan memberikan bukti
baru kepada Sub Komite Etik dan disiplin profesi.

Anda mungkin juga menyukai