Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Infeksi cacing tambang meliputi seperempat dari populasi dunia, terutama di negara tropis
maupun subtropis.
Ancylostomiasis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang.
Cacing tambang adalah cacing parasit (nematode) yang hidup di ususkecil, pada mamalia seperti
kucing, anjing ataupun manusia. Spesies cacing tambang yang menginfeksi manusia yaitu
Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing tambang mengisap darah sehingga
menimbulkan keluhan yang berhubungan dengan anemia, gangguan pertumbuhan terutama pada
anak dan dapat menyebabkan retardasi mental.
Konsekuensi paling serius dari infeksi cacing tambang adalah kehilangan darah kronis dari
duodenum dan jejenum.
Kemungkinan seseorang dengan infeksi cacing tambang menjadi anemia bergantung pada
beberapa faktor, termasuk jenis dari cacing tambang, jumlah cacing, lama infeksi, persediaan zat
besi tubuh, pemasukan zat besi dari makanan dan absorbsinya dan kebutuhan fisiologis zat besi.

BAB III
PEMBAHASAN
1.1 Skenario
Bapak Doni 35 tahun, pekerja kebun, dibawa ke rumah sakit dengan keluhan lemah dan
lesu. Dialami sejaak 6 bulan yang lalu. Nafsu makan tidak ada, dan kadang-kadang demam juga.
Bapak ini bekerja tidak memakai alas kaki. Dari pemeriksaan fisik didapatkan: Malaise, anemis,
conj. Pelpebra inferior pucat (+), abdominal pain dan diare. Pemeriksaan laboratorium diperoleh
Hb 8 gr%, pemeriksaan feses rutin dijumpai telur cacing. Penyakit apa yang diderita bapak
Doni? Bagaimana penanganannya?

1.1 Klarifikasi Istilah


a. Conj. Palpebra inferior = Membran halus yang melapisi kelopak mata dan menutupi
bola mata pada bagian bawah
b. Malaise = Perasaan yang tidak nyaman yang samar-samar.
1.2 Menetapkan Masalah
a. Laki-laki, 35 tahun, pekerja kebun, datang dengan keluhan lemah dan lessu dialami sejak 6
bulan yang lalu, nafsu makan tidak ada dan kadang-kadang demam juga, bekerja tidak memakai
alas kaki.
b. Pada pemeriksaan fisik didapatkan: Malaise, anemis, conj. Palpebra inferior pucat (+),
abdominal pain dan diare. Pemeriksaan laboratorium diperoleh Hb 8 gr%, pemeriksaan feses
rutin dijumpai telur cacing
1.3 Menganalisis Masalah
1. a. Infeksi parasit cacing
b. Infeksi karena kurangnya higienitas
2. a. Anemia karena infeksi parasit
1.4 Kesimpulan Sementara
Bapak Doni, usia 35 tahun, kemungkinan mengalami infeksi cacing Ancylostoma

BAB IV
KAJIAN TEORI
1.

JENIS-JENIS PARASIT NEMATODA


BERDASARKAN CARA PENULARANNYA
Kelas : Nematoda
Subklas
Adenophorea
(Aphasmidia )
Secernentea
(Phasmidia)

YANG

MENGINFEKSI

Ordo
Enoplida

Superfamili
Trichinelloidea

Rhabditida
Strongilid

Rhabditoidea
Ancylostomatoidea
Metastrongiloidea

MANUSIA

Genus
Trichinella
Trichuris
Capillaria
Strongyloidea
Ancylostoma
Necator
Ternidens
Angiostrongylus
Metastrongylus

Ascaridida

Oxyurida
Spirurida

Trichosstrongyloidea
Ascaridoidea

Oxyuroidea
Spiruroidea
Thelazoidea
Gnathostomatoidea
Filarioidea

Dracunculoidea

Trichostrongylus
Ascaris
Toxocara
Anisakis
Lagochilascaria
Enterobius
Gongylonema
Thelazia
Gnathostoma
Wuchereria
Brugia
Onchocerca
Loa loa
Dipetalonema
Mansonela
Dirofilaria
Dranculus

Taksonomi dari cacing namatoda adalah:

Ordo

mili

enus

esies

Filum

: Nemathelminthes

Kelas

: Nematoda

: Strongylorida, rhabditorida, ascaridorida, spirurorida, camallanorida,dorylaimorida,


dioctophymatorida
: Trichostrongylidae, rhabditidae, cephalobidae, strongyloididae,ancylostomatidae, strongylidae,
syngamidae, metastrongilidae,ascarididae, filariidae, dll
: Trichostrongylus, strongyloides, ancylostoma, necator, strongylus,haemonchus, dipetalonema,
dirofilaria, dll
:Trichostrongylus axei, Strongyloides papillosus, Ancylostoma caninum, Necator americanus,
Strongylus equinus, Haemonchus contortus, Dipetalonema reconditum, Dirofilaria immitis, dll
Jenis Nematoda Usus (Soil Trasmitted Helminth)
Soil Trasmitted Helminth adalah cacing golongan Nematoda yang memerlukan tanah untuk
perkembangannya. Di Indonesia golongan cacing ini yang penting menyebabkan masalah
kesehatan masyarakat adalah: Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang
(Tjitra, 2005).

Ascaris lumbricoides
a.

Hospes dan Nama Penyakit


Satu-satunya hospes definitive Nematoda ini adalah manusia. Penyakit yang disebabkan
Nematoda ini disebut Ascariasis.

b. Distribusi Geografis
Karena parasit ini terdapat di seluruh dunia, maka bersifat kosmopolitan. Penyebaran parasit ini
terutama berada di daerah tropis yang tingkat kelembabannya cukup tinggi (Hart, 1997).
c.

Morfologi
Cacing betina panjangnya sampai 20 sampai 35 cm, sedangkan yang jantan panjangnya 15
sampai 31 cm. Pada cacing jantan ujung posteriornya lancip dan melengkung ke arah ventral
dilengkapi pepil kecil dan dua buah speculum berukuran 2 mm, sedangkan pada cacing betina
bagian posteriornya membulat dan lurus, dan 1/3 anteriornya tubuhnya terdapat cincin kopulasi,
tubuhnya berwarna putih sampai kuning kecoklatan dan diselubungi oleh lapisan kutikula yang
bergaris halus. Telur yang dibuahi besarnya 60 x 45 mikron, telur yang tidak dibuahi besarnya
90x45 mikron, telur matang berisi larva (embrio), menjadi infektif setelah berada di tanah kurang
lebih 3 minggu (Gandahusada, 1998).

d. Penularan
Telur yang dikeluarkan oleh cacing melalui tinja dalam lingkungan yang sesuai akan
berkembang menjadi embrio dan berkembang menjadi larva yang infektif di dalam telur. Apabila
karena sesuatu sebab telur tersebut tertelan oleh manusia, maka di dalam usus larva akan
menetas, keluar dan menembus dinding usus halus menuju sistem peredaran darah. Larva akan
menuju ke paru, trakea, faring, dan tertelan masuk ke esofagus hingga sampai ke usus halus.
Larva menjadi dewasa di usus halus. Perjalanan siklus hidup cacing ini berlangsung selama 6570 hari.
Toxocara canis dan Toxocara cati
a.

Hospes dan nama penyakit


Toxocara canis ditemukan pada anjing. Toxocara cati ditemukan pada kucing. Belum pernah
ditemukan infeksi campuran pada satu macam hospes. Kadang-kadang cacing ini dapat hidup
pada manusia sebagai parasit yang mengembara (erratic parasite) dan menyebabkan penyakit
yang disebut visceral larva migrans.

b. Distribusi geografis
Cacing-cacing tersebar secara kosmopolit; juga ditemukan di Indonesia. Di Jakarta prevalensi
pada anjing 38,3% dan pada kucing 26,0%.
c.

Morfologi
Toxocara canis jantan mempunyai ukuran panjang bervariasi antara 3,68,5 cm, sedangkan yang
betina antara 5,7 10,0 cm, Toxocara cati jantan antara 2,5 7,8 cm, yang betina antara 2,5
14,0 cm.
Bentuknya menyerupai Ascaris lumbricoides muda. Pada Toxocara terdapat sayap servikal yang
berbentuk seperti lanset, sedangkan pada Toxocaracati bentuk sayap lebih lebar, sehingga
kepalanya menyerupai kepala ular kobra. Bentuk ekor kedua spesies hampir sama; yang jantan
ekornya berbentuk seperti tangan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan
yang betina ekornya bulat meruncing. Telur menjadi infektif di tanah dalam waktu kurang lebih
tga minggu. Bentuk infektif ini dapat tertelam oleh anjing, kucing bahkan manusia.

d. Penularan
Kebanyakan infeksi yang terjadi pada anak-anak adalah secara langsung atau tidak langsung
karena menelan telur Toxocara yang infektif. Secara tidak langsung melalui makanan seperti
sayur-sayuran yang tercemar atau secara langsung melalui tanah yang tercemar dengan
perantaraan tangan yang kotor masuk kedalam mulut. Sebagian infeksi terjadi karena menelan
larva yang ada pada hati ayam mentah, atau hati sapi dan biri biri mentah. Telur dikeluarkan
melalui kotoran anjing dan kucing; sampel yang diambil dari tanah pertamanan di AS dan Inggris
30% mengandung telur. Ditaman-taman tertentu di Jepang 75% kantong pasir mengandung telur.
Telur memerlukan waktu selama 1 3 minggu untuk menjadi infektif dan tetap hidup serta
infektif selama beberapa bulan; dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang kering. Telur
setelah tertelan, embrio akan keluar dari telur didalam intestinum; larva kemudian akan
menembus dinding usus dan migrasi kedalam hati dan jaringn lain melalui saluran limfe dan
sistem sirkulasi lainnya. Dari hati larva akan menyebar ke jaringan lain terutama ke paru-paru
dan organ-organ didalam abdomen (visceral larva migrans), atau bola mata (Ocular larva
migrans), dan migrasi larva ini dapat merusak jaringan dan membentuk lesi granulomatosa.
Parasit tidak dapat melakukan replikasi pada manusia dan pada hospes paratenic/endstage lain;
namun larva dapat tetap hidup dan bertahan dalam jaringan selama bertahun-tahun, terutama

pada keadaan penyakit yang asymptomatic. Jika jaringan hospes paratenic dimakan maka larva
yang ada pada jaringan tersebut akan menjadi infektif terhadap hospes yang baru.
Hookworm (cacing tambang)
Ada beberapa spesies cacing tambang yang penting, diantaranya:
Necator americanus

- manusia

Ancylostoma duodenale

- manusia

Ancylostoma braziliense

- kucing, anjing

Ancylostoma ceylanicum

- anjing, kucing

Ancylostoma caninum

- anjing, kucing

Necator americanus (new world Hookworm) dan Ancylostoma duodenale (old world
Hookworm).
a.

Hospes dan Nama Penyakit


Hospes definitive kedua cacing ini adalah manusia. Tempat hidupnya dalam usus halus, terutama
jejunum dan duodenum. Penyakit yang disebabkan disebut Nekatoriasis dan Ankilostomiasis.

b. Distribusi Geografis
Kedua parasit ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit), penyebaran yang paling banyak di
daerah tropis dan sub tropis. Lingkungan yang paling cocok adalah habitat dengan suhu
kelembaban yang tinggi, terutama daerah perkebunan dan pertambangan (Onggowaluyo, 2001).

c.

Morfologi dan Daur Hidup


Ukuran cacing betina 9 - 13 mm dan cacing jantan 5 - 19 mm. Bentuk Necator americanus
seperti huruf S, mulut dilengkapi gigi kittin, dengan waktu 1 - 15 hari telur telah menetas dan
mengeluarkan larva rabditiform yang panjangnya kurang lebih 250 mikron. Selanjutnya dalam
waktu kira-kira 3 hari, satu larva rabditiform berkembang menjadi larva filariform (bentuk
infektif) yang panjangnya kira-kira 500 mikron. Infeksi pada manusia terjadi apabila larva
filariform menembus kulit atau tertelan (Jawetz, 2005).

Daur hidup kedua cacing tambang ini dimulai dari larva filariform menembus kulit manusia
kemudian masuk ke kapiler darah dan berturut-turut menuju jantung kanan, paru-paru, bronkus,
trakea, laring dan terakhir dalam usus halus sampai menjadi dewasa (Prianto dkk, 2004).
d. Penularan
Cacing dewasa hidup dan bertelur di dalam 1/3 atas usus halus, kemudian keluar melalui tinja.
Telur akan berkembang menjadi larva di tanah sesuai suhu dan kelembabannya. Larva bentuk
pertama adalah rhabditiform yang akan berubah menjadi filariform. Dari telur sampai sampai
filariform memerlukan waktu selama 5-10 hari. Larva akan memasuki tubuh manusia melalui
kulit (telapak kaki terutama untuk N.americanus) untuk masuk ke peredaran darah. Selanjutnya
larva akan masuk ke paru, naik ke trakea, lanjut ke faring, kemudian larva tertelan ke saluran
cerna. Larva bisa hidup dalam usus selama 8 tahun dengan menghisap darah (1 cacing =0,2
mL/hari).
Cara infeksi kedua yang bukan melalui kulit adalah tertelannya larva (terutama A. duodenale)
dari makanan atau minuman yang tercemar. Cacing dewasa yang berasal dari larva yang tertelan
tidak akan mengalami siklus paru.
Ancylostoma braziliense dan Ancylostama caninum
a.

Hospes dan nama penyakit


Kucing dan anjing merupakan hospes definitive. Cacing ini menyebabkan creeping eruption pada
manusia.

b. Distribusi geografik
Kedua parasit ini ditemukan didaerah tropic dan subtropik; juga ditemukan di Indonesia.
Pemeriksaan di Jakarta menunjukkan bahwa pada sejumlah kucing ditemukan 72%
A.braziliense, sedangkan pada sejumalah anjing terdapat 18% A.braziliense dan 68% A.caninum.

c.

Morfologi
A.braziliense mempunyai dua pasang gigi yang tidak sama besarnya. Cacing jantan panjangnya
antara 4,7 6,3 mm, yang betina antara 6,1 8,4 mm.
A.caninum mempunyai tiga pasang gigi; cacing jantan panjangnnya kira-kira 10 mm dan cacing
betina kira-kira 14 mm.
Ancylostoma ceylanicum

Cacing tambang anjing dan kucing ini dapat menjadi dewasa pada manusia. Di rongga mulut
terdapat dua pasang gigi yang tidak sama besarnya. Di antara 100 anjing, 37% mengandung
A.ceylanicum. cacing ini juga ditemukan pada 50 ekor kucing sebanyak 24%. Kelompok anjing
dan kucing ini berasal dari Jakarta dan sekitarnya.

Enterobius vermicularis (Oxyrus vermicylaris)


(cacing kremi, pinworm, seatworm)
a.

Hospes dan nama penyakit


Manusia adalah satu-satunya hospes dan penyakitnya disebut enterobisis atau oksiuriasis.

b. Distribusi geografik
Parasit ini kosmopolit tetapi lebih banyak ditemukan di daerah dingin dari pada di daerah panas.
Hal ini mungkin disebabkan karena pada umumnya orang di daerah dingin jarang mandi dan
mengganti baju dalam. Penyebaran cacing ini juga di tunjang oleh eratnya hubungan antara
manusia satu dengan yang lainnya serta lingkungan yang sesuai.
c.

Morfologi
Cacing betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Pada ujung anterior ada pelebaran kutikulum
seperti sayap yang disebut alae. Bulbus esophagus jelas sekalii, ekornya panjang dan runcing.
Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Cacing jantan berukuran 2-5 mm,
juga mempunyai sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda tanya (?);
spikulum pada ekor jarang ditemukan. Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum, usus
besar dan di usus halus yang berdekatan dengan rongga sekum. Makanannya adalah isi dari usus.

d. Penularan
Cacing dewasa betina biasanya akan berimigrasi pada malam hari ke daerah sekitara anus untuk
bertelur. Telur akan terdeposit disekitar area ini. Hal ini akan menyebabkan rasa gatal di sekitara
anus (pruritus ani nokturnal). Apabila digaruk penularan dapat terjadi dari kuku jari tangan ke
mulut (self-infection).
Metode penularan lainnya adalah dari orang ke orang melalui pakaian, peralatan tidur. Penularan
juga dapat terjadi dalam lingkungan yag terkontaminasi cacing kremi, misalnya melalui debu
rumah. Telur menetas di usus halus, selanjutnya larva akan bermigrasi ke daerah sekitar anus
(caecum). Disini larva akan tinggal sampai dewasa. Infeksi dapat juga terjadi karena menghisap

debu yang mengandung telur dan retrofeksi dari anus. Bila sifat infeksinya retrofeksi dari anus,
maka telur akan menetas disekitar anus, selanjutnya larva akan bermigrasi ke kolon asendens,
sekum, atau apendiks dan berkembang sampai dewasa.
Trichuris trichiura
(Trichocephalus dispar, cacing cambuk)
a.

Hospes dan Nama Penyakit


Hospes definitive cacing ini adalah manusia dan penyakit yang disebabkannya disebut Trikuriasi.

b. Distribusi Geografis
Cacing ini tersebar luas di daerah beriklim tropis yang lembab dan panas, namun dapat juga
ditemukan di seluruh dunia (kosmopolit), termasuk di Indonesia (Hart, 1997).
c.

Morfologi dan Daur Hidup


Cacing dewasa betina panjangnya 35 sampai 50 mm, sedangkan cacing dewasa jantan
penjangnya 30 sampai 45 mm. Telurnya berukuran 50 sampai 54 x 32 mikron. Bentuknya seperti
tempayan (tong) dan kedua ujungnya dilengkapi dengan tutup (operkulum) dari bahan mucus
yang jernih. Kulit luar telur berwarna kuning tengguli dan bagian dalam jernih. Telur yang sudah
dibuahi dalam waktu 3 sampai 6 minggu akan menjadi matang, manusia akan terinfeksi cacing
ini apabila menelan telur matang, di dalam usus halus telur ini akan menjadi dewasa dan
berkumpul di kolon terutama di daerah seklum. Proses dari telur sampai menjadi cacing dewasa
memerlukan waktu kurang lebih 1 sampai 3 bulan (Prianto dkk, 2004).

d. Penularan
Apabila manusia menelantelur yanng matang, maka telur akan menetaskan larva yang akan
berpenetrasi pada mukosa usus halus selama 3-10 hari. Selanjutnya larva akan bergerak turun
dengan lambat untuk menjadi dewasa memerlukan waktu sekitar 3 bulan. Didalam sekum,
cacing bisa hidup sampai bertahun-tahun. Cacing akan meletakkan telur pada sekum dan telurtelur ini keluar bersama tinja. Pada lingkungan yang kondusif, telur akan matang dalam 2-4
minggu.
Strongyloides strecoralis
a.

Hospes dan nama penyakit


Manusia merupakan hospes utama cacing ini. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit
strongilodiasis.

b. Distribusi geografi
Nematoda ini terutama terdapat di daerah tropic dan subtropik sedangkan di daerah yang
beriklim dingin jarang ditemukan.
c.

Morfologi
Hanya di ketahui cacing dewasa betina yang hidup sebagai parasit di vilus duodenum dan
yeyunum. Cacing betina berbentuk filiform, halus, tidak berwarna dan panjangnya kira-kira 2
mm.

d. Penularan
Larva infektif (filaform) yang berkembang dalam tinja atau tanah lembab yang terkontaminasi
oleh tinja, menembus kulit masuk ke dalam darah vena di bawah paruparu. Di paru-paru larva
menembus dinding kapiler masuk kedalam alveoli, bergerak naik menuju ke trachea kemudian
mencapai epiglottis. Selanjutnya larva turun masuk kedalam saluran pencernaan mencapai
bagian atas dari intestinum, disini cacing betina menjadi dewasa. Cacing dewasa yaitu cacing
betina yang berkembang biak dengan cara partogenesis hidup menempel pada sel-sel epitelum
mukosa intestinum terutama pada duodenum, di tempat ini cacing dewasa meletakkan telornya.
Telor kemudian menetas melepaskan larva non infektif rhabditiform. Larva rhabditiform ini
bergerak masuk kedalam lumen usus, keluar dari hospes melalui tinja dan berkembang menjadi
larva infektif filariform yang dapat menginfeksi hospes yang sama atau orang lain. Atau larva
rhabditiform ini dapat berkembang menjadi cacing dewasa jantan dan betina setelah mencapai
tanah. Cacing dewasa betina bebas yang telah dibuahi dapat mengeluarkan telur yang segera
mentas dan melepaskan larva non infektif rhabditiform yang kemudian dalam 24-36 jam berubah
menjadi larva infektif filariform.Kadangkala pada orang-orang tertentu, larva rhabditiform dapat
langsung berubah menjadi larva filariform sebelum meninggalkan tubuh orang itu dan
menembus dinding usus atau menembus kulit di daerah perianal yang menyebabkan auotinfeksi
dan dapat berlangsung bertahuntahun
2.

DEFINISI ANCYLOSTOMIASIS
Ancylostomiasis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang.

Cacing tambang adalah cacing parasit (nematode) yang hidup di ususkecil, pada mamalia seperti
kucing, anjing ataupun manusia. Spesies cacing tambang yang menginfeksi manusia yaitu
Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing tambang mengisap darah sehingga

menimbulkan keluhan yang berhubungan dengan anemia, gangguan pertumbuhan terutama pada
anak dan dapat menyebabkan retardasi mental.
3.

ETIOLOGI ANCYLOSTOMIASIS
Penyakit cacing tambang, hookworm disease atau ankilostomiasis disebabkan oleh
Ancylostoma Duodenale (hookworm dunia lama) dan Necator Americanus (hookworm dunia
baru).A.Ceylanicum jarang menimbulkan infeksi pada manusia tetapi lebih sering menginfeksi
binatang piaraan seperti anjing dan kucing.
Duodenale mempunyai ukuran lebih besar dari Americanus.A.Duodenale betina dapat
memproduksi telur 10.000-25.000 perhari.A.Duodenale dewasa memiliki 2 pasang gigi (4 gigi)
seperti kait yang menonjol, kemampuan menghisap darah

0,20 ml per cacing per hari.

Bentuk badan A.Duodenale menyerupai huruf C pada cacing jantan terdapat bursa kopulatriks.
N. Americanus berbentuk silinder, dengan ukuran cacing jantan 5-11 mm x 0,3-0,35 mm, sedang
cacing betina 9-13 mm x 0,35-0,6 mm. N.Americanus dapat memproduksi telur 10.000-20.000
telur per hari. Memiliki sepasang gigi seperti plat dan menghisap darah

0,03 ml per cacing

per hari. Bentuk badan N.Americanus menyerupai huruf S.


Telur cacing tambang terdiri atas satu lapis dinding yang tipis dan adanya ruangan yang jelas
antara dinding dan terdapat 2-4 sel didalamnya.Telur keluar bersama tinja dan berkembang di
tanah. Ukuran telur A.Duodenale 56-60
x 36-40

4.

x 36-40

, telur N.Americanus 64-76

EPIDEMIOLOGI
Infeksi cacing tambang meliputi seperempat dari populasi dunia, terutama di negara tropis
maupun subtropis. Sekitar 900 juta penduduk dunia terinfeksi ankilostomiasis, menyebabkan
kehilangan darah 9 juta liter setiap harinya. Suatu penelitian melaporkan bahwa angka
kesakitannya adalah 50% pada balita, sedangan 90% anak yang terserang penyakit ini adalah
anak berusia 9 tahun. Penyakit cacing tambang tersebar luas diseluruh dunia. N. Americanus
terutama di negera-negara barat dan juga negara tropis seperti Afrika, Asia tenggara, Indonesia,

Australia, Kepulauan Pasifik dan beberapa negara bagian Amerika. A.Duodenale tersebar
terutama di mediterania, Asia utara, India Utara, Cina dan Jepang.
Cacing ini memerlukan tanah pasir yang gembur, tercampur humus dan terlindung dari sinar
matahari langsung. Telur cacing tambang menetas menjadi larva rabditiform dalam waktu 24-36
jam untuk kemudian pada hari ke 5-8 menjadi bentuk filariform yang infektif. Suhu optimum
bagi N.Americanus adalah 28C-32C dan untuk A.Duodenale adalah sedikit lebih rendah 23C25C. Ini salah satu sebab mengapa N.Americanus lebih banyak ditemukan di Indonesia daripada
A.duodenale.
Dinamakan cacing tambang karena pada awalnya cacing tersebut ditemukan pada para pekerja
tambang di eropa yang fasilitas sanitasinya belum memadai, tinja kurang dikelola secara baik
serta kebiasaan berjalan kaki di tanah tanpa menggunakan alas kaki. Manusia merupakan inang
utama infeksi cacing tambang. Endemisitas infeksi tergantung pada kondisi lingkungan guna
menetaskan telur dan maturasi larva. Prevalensi di Indonesia cukup tinggi terutama di daerah
pedesaan, khususnya perkebunan dan pertambangan. Di Indonesia angka nasional prevalensi
ancylostomiasis secara berurutan pada tahun 2002-2006 sebesar 2,4%; 0,6%; 5,1%; 1,6%; dan
1,0%. (Depkes RI, 2006)
Kebiasaan defekasi di tanah dan pemakaian feses sebagai pupuk kebun penting dalam
penyebaran infeksi.

5.

PATOFISIOLOGI TERJDINYA ANKYLOSTOMIASIS

Tahap-tahap dari siklus hidup cacing ini adalah :


1. Telur dikeluarkan dalam tinja
2. Dalam kondisi yang menguntungkan (kelembaban , kehangatan, temaram), larva menetas dalam
1 sampai 2 hari. Larva rhabditiform ini tumbuh dalam tinja dan/atau tanah,
3.

Setelah 5 sampai 10 hari (mengalami dua kali molting) menjadi filariform larva (L3/tahap
ketiga) yang infektif.

4.

Infektif larva dapat bertahan 3 sampai 4 minggu dalam kondisi lingkungan yang
menguntungkan. Pada kontak dengan inang manusia, larva menembus kulit dan dibawa melalui
pembuluh darah ke jantung dan kemudian ke paru-paru. Mereka menembus ke dalam alveoli
paru , naik cabang bronkial menuju faring , dan tertelan.

5. Larva mencapai usus kecil, tinggal dan tumbuh menjadi dewasa. Cacing dewasa hidup di lumen
usus kecil, menempel pada dinding usus. Sebagian besar cacing dewasa dieliminasi dalam 1
sampai 2 tahun, tapi umur panjang bisa mencapai beberapa tahun.
Pada tahap awal dari infeksi cacing tambang, gejala, tanda dan perubahan patologis
bersifat sementara dan berperan dalam penetrasi ke kulit dari larva, yang kemudian migrasi
selanjutnya dari larva menuju ke paru-paru dan mukosa usus. Jika berlangsung lama, gejala dan
tanda utamanya adalah anemia dan hipoproteinemia.
Penetrasi ke kulit
Ketika larva berpenetrasi ke kulit, mungkin akan menimbulkan sensasi sengatan, diikuti
dengan iritasi, eritema, oedema dan erupsi papulovesikuler dengan rasa gatal. Gejala ini jarang

muncul pada orang yang hidup di area endemik cacing tambang yang khusus infektan pada
manusia, tetapi mungkin bisa diketahui dari pengunjung yang bukan berasal dari daerah endemik
Migrasi larva
Perpindahan dari larva cacing tambang menuju tubuh menyebabkan perubahan
patologis, tetapi perdarahan kecil dan infiltrasi leukosit atau eosinofil mungkin muncul dimana
larva melewati dinding alveolus dari paru-paru. Perpindahan dari larva melewati saluran
pernapasan mungkin menyebabkan batuk, karena iritasi dari bronkus dan membran mukosa
trakea.
Infeksi Usus
Di duodenum dan jejenum, cacing tambang mengikat diri mereka ke usus dengan
menelan sebagian dari mukosa usus di dalam cavita buccal mereka. Di sana mereka makan darah
dari pembuluh darah dan jaringan mukosa yang terpotong. Pada titik dimana terjadi penempelan
dari cacing ini biasanya terjadi reaksi perdarahan dan inflamasi, tetapi lesi ini sembuh dengan
cepat ketika cacing tambang pindah ke tempat lain, yang mereka lakukan setiap 4-6 jam.
Selama fase di intestinal, pasien yang terinfeksi mungkin mengalami nyeri
epegastrikduodenal, gangguan pencernaan, nafsu makan menghilang atau diare. Bagaimanapun,
gejala dan tanda itu sangat umum dan mungkin sulit untuk dinilai sebagai infeksi cacing. Di
tempat di mana cacing tambang dengan prevalensi tinggi, kemungkinan infeksi cacing sangat
mungkin, jika terdapat laporan di rumah sakit atau rumah rawatan dengan insidensi ulcer
duodenum yang tinggi.
Kehilangan darah kronis
Konsekuensi paling serius dari infeksi cacing tambang adalah kehilangan darah kronis
dari duodenum dan jejenum. Jika infeksi tidak diatasi dengan baik maka kehilangan darah akan
berlangsung terus menerus selama bertahun-tahun, menyebabkan berkurangnya penyimpanan
besi dan berkembang menjadi anemia defisiensi besi. Ada juga yang menyebabkan kehilangan
serum protein, yang mungkin menyebabkan hipoalbunemia parah.
Kemungkinan seseorang dengan infeksi cacing tambang menjadi anemia bergantung
pada beberapa faktor, termasuk jenis dari cacing tambang, jumlah cacing, lama infeksi,
persediaan zat besi tubuh, pemasukan zat besi dari makanan dan absorbsinya dan kebutuhan
fisiologis zat besi.
6.

GEJALA DAN TANDA DARI ANEMIA KARENA CACING TAMBANG

Pada infeksi kronis, gejala dan tanda biasanya berkaitan dengan anemia dan
hipoalbuminemia. Jika anemia onsetnya berangsur, gejalanya mungkin hanya tampak sedikit,
bahkan ketika hemoglobin sangat rendah. Pasien mungkin mengeluhkan rasa lemah, sering
capai, sulit melakukan pekerjaan seharian penuh dan napas pendek pada saat mengerahkan
tenaga. Palpitasi, pusing, nyeri epigastrium, sakit pada kaki tanpa sebab yang jelas dan
kehilangan nafsu makan adalah gejala umum, pria mungkin juga mengeluhkan impotensi. Pada
beberapa pasien, mungkin juga ada nyeri pada prekordial dan angina, penglihatan kabur, tunitis
di telinga, kesulitan menelan, kebas-kebas di tangan, atau bengkak di mata kaki.

7.

DIAGNOSIS ANKYLOSTOMIASIS
ANAMNESIS
Keluhan utama : Lemah, Lesu dan diare.

han tambahan :Nyeri perut, kurang nafsu makan,demam, ground-itc (gatal kulit tempat masuknya larva
filariform), dapat disertai dengan dahak berdarah.

yat tempat tinggal : pada pasien dengan infeksi cacing tambang ditemkan bahwa kebanyakan dari mereka
tinggal di daerah yang padat penduduk dengan tingkat higenitas yang buruk.

yat pekerjaan : pada infeksi cacing tambang hal ini sangat penting karena biasanya pasien dengan
ankilostomiasis bekerja tanpa menggunakan alas kaki

PEMERIKSAAN FISIK
Hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh pada pasien yang menderita infeksi Cacing Nematoda
adalah :
Observasi :
1. Kesadaran pasien : Sadar, gelisah dan lainnya
2. Gaya berjalan pasien saat memasuki ruangan (sambil menggaruk-garuk anus,ditopang oleh
keluarga)
Inspeksi:

1.
2.
3.
4.
5.

Kondisi tubuh pasien (lemah, lesu, kurus / malnutrisi)


Keadaan kulit (pucat, vesikel, makulopapula)
Malaise
Anemis, conj. Palpebra inferior pucat
Kesulitan dalam bernafas
Palpasi:

1. Nyeri tekan pada daerah abdomen


2. Denyut nadi yang lemah
3. Adanya demam
Perkusi:
Perkusi batas-batas organ; Hati dan splen.
Auskultasi:
1. Adanya ronkhi kasar
2. Suara jantung yang melemah
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan lab:
Jenis cacing nematoda: Ancylostoma duodenal, Necator americanus / cacing tambang
Pemeriksaan penunjang saat awal infeksi (fase migrasi larva) mendapatkan:
a)
b)
c)
d)

Eosinofilia (1.000-4.000 sel/ml)


Feses normal
Infiltrat patchy pada foto toraks dan
Peningkatan kadar IgE
Pemeriksaan penunjang pada cacing tambang dewasa dilakukan dan dapat ditemukan telur
cacing dan atau cacing dewasa pada pemeriksaan feses. Tanda-tanda anemia defisiensi besi yang
sering dijumpai adalah anemia mikrositik-hipokrom, kadar besi serum yang rendah, kadar total
iron binding capacity yang tinggi. Di sini perlu dieksklusi penyebab anemia hipokrom mikrositer
lainnya.Dapat ditemukan peningkatan IgE dan IgG4, tetapi pemeriksaan IgG4 tidak
direkomendasikan karena tinggi biayanya.
Hal-hal penting pada pemeriksaan laboratorium, diantaranya adalah telur cacing tambang
yang ditemukan dalam tinja sering dikacaukan oleh telur A.lumbricoides yang berbentuk
dekortikasi. Tinja yang dibiarkan lebih dari 24 jam tanpa diawetkan maka telur yang ada di
dalamnya akan berkembang, menetas dan mengeluarkan larva labditiform. Larva labditiform

cacing tambang harus dibedakan dengan Stronyloides stercoralis dan Trichostrongylus (melalui
pembiakan larva metode Harada Mori). Telur cacing tambang mudah rusak oleh perwanaan
permanen dan telur lebih mudah di lihat pada sediaan basah.
Tabel 4.1

Diagnosis infeksi cacing tambang dapat dilakukan dengan beberapa cara:


1.

Pemeriksaan Sediaan langsung


Diambil tinja kira-kira 0,2 g diletakan pada kaca benda. Kemudian ditambah 1-2 teteslarutan

garam fisiologis dan diratakan. Selanjutnya ditutup dengan kaca penutup danlangsung diperiksa
dibawa mikroskop. Untuk memberikan warna pada tinja agar telur cacing tampak lebih jelas,
dapat digunakan 1 tetes eosin 0,2% sebagai pengganti garamfisilogis.
2.

Tehnik Pengapungan Dengan NaCl jenuh.


Dimasukan tinja kurang lebih 5 g kedalam tabung reaksi dan ditambah NaCl jenuh,diaduk

sampai homogen, diambil kaca tutup, dan diamkan 10-15 menit di dalam tabungreaksi. Diambil
kaca tutup tanpa mengubah kedudukannya langsung diletakan pada kaca benda dan diperiksa
telur-telurnya.
3.

Pemeriksaan Tinja menurut Kato


Tehnik ini dirintis oleh kato untuk pemeriksaan telur cacing,yaitu: memotong kertasselofan

30-50 mm x 20-30 mm dan direndam dalam larutan malachite green 3% yangencer selama 24
jam atau lebih. Ambil tinja 50-60 mg diletakan diatas kaca benda dantutup sepotong selofan yang
telah direndam dalam larutan tersebut. Diratakan dengan ibu jari dan ditekan selofan tadi supaya
tinjanya merata. Kaca benda tersebut didiamkan padasuhu 400C selama 30 menit atau suhu
kamar selama 1 jam. Sediaan tersebut diperiksadengan pembesaran lemah atau lensa objektif
10x.

4.

Tehnik Biakan dengan Arang


Tehnik ini untuk kultur larva adalah menggunakan arang dengan meniru keadaan alam.

Caranya diencerkan 20-40g tinja dengan air kran smapai menjadi suspensi yangkental. Disaring
dengan 2 lembar kain kasa dan ditampung dalam cawan petri yang besar(kurang lebih 3x 4 inci)
berisi butiran arang kecil. Butiran arang tersebut di campur dengan air sedikit sehingga keadaan
menjadi lembab, Jangan terlalu banyak. Cawan petridi tutup dan ditempatkan pada tempat yang
aman. Pada hari berikutnya cawan petri harusdi periksa, apakah masih cukup airjika di perlukan
tambahkan air.cawan tersebutdiperikas pada tiap hari, harus hati-hati sebab air yang mengandung
larva yang terdapat pada permukaan bagian bawah tutp, merupakan larva infektif. Hari ke 5 atau
6 dalamkultur dapat dihasilkan larva cacing.Untuk memeriksa larva siapakan kain kasa
yangdipotong

sama

dengan

diameternya.

Kain

kasa

di

ambil

dengan

hati-hati,

pasang penjepit.upayakan jangan sampai menyentuh arang. Tutup cawan petri dibuka sedkiti
supayakena sumber cahaya 6-8 inci. Setelah 1 jam saringan diambil dengan penjepit/pinset
dandiletakkan ke permukaan air. Hasil dapat diambil setelah 30-60 menit dengan sebuah
pipetdiberikan pada kaca benda serta ditutup dengan kaca pentup dan periksa dibawah
mikroskop.
5.

Tehnik Menghitung Telur Cara Stool


Metode ini dapat digunakan untuk menaksir jumlah cacing dengan menghitung jumlah telur.

Caranya: sebuah botol di isi dengan NaOH 0,1 N 56 ML(Stool) dandimasukan tinja, diaduk
smapai homogen, dipipet 0,15 dan diletakan dikaca benda lalu ditutup dengan kaca penutup dan
periksa. Telur per gram akan tergantung pada konsistensi fesesnya, yaitu:
1. Tinja yang lembek,EPG (egg per gram)dalam pemeriksaannya dikalikan setengah.
2. Tinja setengah encer,EPG yang diperoleh dikalikan 2.
3. Tinja encer, EPG yang diperoleh pada pemeriksaan dikalikan 3.
6.

Tehnik pengendapan Sederhana


Tehnik ini memerlukan waktu yang lama, tetapi mempunyai keuntungan karena dapat

mengendapkan telur tanpa merusak bentuknya. Caranya: diambil 10 mg tinja dan diencerkan
dengan air sehingga volumenya menjadi 20 kali. Disaring melalui 2 lembar kain kasa dan
dibiarkan 1 jam. Menuangkan supernatan dan ditambahkan dengan air dan didiamkan selama 1

jam serta di ulangi sampai supernatan menjadi jernih. Kemudian ditunangkan supernatan yang
jernih dengan pipet panjang untuk mengambil endapan dan ditempatkan pada kaca benda sefta
ditutup dengan kaca peutup.selanjutnya dibaca dibawah mikroskop.
7.

Tehnik biakan Menurut Harada Mori


Metode ini menggunakan tabung dengan diameter 18 mm dan panjang 170 mm. Kira-kira

0,5 g tinja di oleskan pada 2/3 dari secarik kertas saring yang lebarnya 25 mm dan panjangnya
150 mm dengan menggunakan batang pengaduk. Dari kertas uang dioleskan tinja, dilipat
menjadi 2 melalui poros yang panjang dengan permukaan yang diolesi di bagian dalam dan
disisipkan kedalam tabung tes, di tambah air dan air tidak menyentuh tinja. Tabung di ikat
dengan karet, kemudian tabung di simpan 4-7 hari pada suhu kamar.Larva yang berkembang
biak muncul di dalam air 3 hari setelah dikultur dan mencapaimaks 7 hari. Larva dalam air dapat
diperiksa dengan loupe atau mikroskop pembesranobyektif 10x.
8.

Tehnik Pengapungan Dengan Pemusingan dengan ZnSO4


Diambil tinja sebesar biji kelereng dan dimasukan kedalam tabung reaksi, ditambah air

sedikit demi sedikit dan diaduk sampai volume menjadi 10 kalinya. Diambil kain kasa untuk
menyaring tinja yang telah diaduk dan di ditampung dalam tabung pemusing. Dipusing dengan
kecepatan 1800 rpm selama 1-2 menit dan ini lakukan sebanyak 3-4kali. Tambahkan larutan
ZnSO4 sampai 2/3 tabung pemusing dan diaduk serta dipusinglagi dgn kecepatan 1800 rpm
selama 1-2 menit. Material yang mengapung diambil dengan pipet dan di taruh di kaca benda di
tambah larutan J-KJ, dicampur, ditutup memakai kaca tutup dan diperiksa dibawa mikroskop.
9.

Tehnik Pengapungan dengan Gula


Diambil tinja 3 mg dilarutkan dalam 3 ml larutan gula dan diaduk sampai rata. Ditambah

larutan gula jenuh lagi sampai permukaan mulut tabung cembung. Kaca tutup ditaruh diatas
tabung reaksi, setelah 25 menit kemudian kaca tutup diletakan diatas kaca benda. Periksa di
bawa mikroskop.
8. DIAGNOSIS BANDING ANKYLOSTOMIASIS
Diagnosis banding untuk infeksi cacing tambang adalah penyakit-penyakit:
1. Penyebab lain anemia

2. Tuberkulosis
3. Penyebab gangguan gastrointestinal lainnya.
19.

PENATALAKSANAAN PENYAKIT ANKYLOSTOMIASIS


Perawatan umum

a.

Mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani
(daging, ikan, ayam, hati dan telur) dan bahan makanan nabati (sayuran bewarna hijau tua,

b.

kacang-kacangan, tempe)
Mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (daun
katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan nanas) untuk meningkatkan penyerapan

c.

zat besi dalam usus.


Suplemen preparat besi diperlukan oleh pasien dengan gejala klinis yang berat, terutama bila
ditemukan bersama-sama dengan anemia. Dapat diberikan preparat besi oral, Sulfas ferosus 3 x
200 mg (1 tablet) untuk orang dewasa atau 10 mg/kgBB/kali untuk anak
Perawatan khusus (Aru Sudoyo, 2006)

1. Mebendazol. Diberikan dengan dosis 100 mg bid x 3 hari.


2. Pirantel Pamoat 10 mg/KgBB dosis tunggal, cukup efektif dengan toksisitas yang rendah.
3. Albendazol. Diberikan dengan dosis tunggal 400 mg. Tidak boleh digunakan selama hamil.
4.

Tetrakloretilen. Merupakan obat pilahan utama (drug of choise) terutama untuk pasien
ansilostomiasis. Dosis diberikan 0,12 ml/kgBB, dosisi tunggal tidak boleh lebih dari 5 ml.
Pengobatan dapat diulang 2 minggu kemudian bila dilakukan pemeriksaan telur tinja tetap
positif. Pemberian obat ini sebaiknya dalam keadaan perut kosong disertai pemberian 30 g
MgSO4. kontraindikasi pemberian obat ini pada pasien alkoholisme, kelainan pencernaan,
konstipasi.

5. Befanium hidroksinaftat. Obat pilahan utama untuk ankilostomiasis dan baik untuk pengobatan
massal pada anak. Obat ini relatif tidak toksik. Dosis diberikan 5 g 2 kali sehari, dan dapat
diulang bilamana diperlukan.
10.

PENCEGAHAN ANKYLOSTOMIASIS

1. Deteksi dini penyakit pada anggota keluarga, apabila pada feses terdapat telur / cacing dewasa
maka segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan
2. Mengikuti pengobatan masal pada anak, yang diselenggarakan oleh pemerintah
3. Perbaikan sanitasi dan kebersihan pribadi / lingkungan

4. Mencegah terjadinya kontak dengan larva dengan cara memakai sandal atau sepatu
Promotif Ankilostomiasis
menjelaskan kepada masyarakat sedikit tentang ankilostomiasis, seperti : ankilostomiasis
adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing Ancylostoma duodenale dan cara penularannya
bisa melalui tertelannya makanan yang terkontaminasi telur dan larva cacing, dan juga
menembus kulit. Gejalanya dapat berupa berkurangnya nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut,
diare dan pada infeksi yang lama bisa menyebabkan anemia ( kekurangan darah) sebab
penghisapan darah oleh cacing. Kerugian yang dapat ditimbulkan akibat kecacingan sangat besar
terhadap perkembangan fisik, intelegensia, dan produktivitas anak yang merupakan generasi
penerus bangsa. Kemudian menghimbau masyarakat agar :
a. Tidak buang air besar sembarangan
b. Cuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar dengan sabun dan air
mengalir.
c. Pemeriksaan kesehatan secara berkala di Posyandu, Puskesmas.

11.

KOMPLIKASI ANKILOSTOMIASIS
Komplikasi yang tersering dari Ankilostomiasis adalah :

1. Anemia berat
Anemia berat bisa terjadi karena darah kita di ambil olah cacing sebagai sumber nutrisi. Dan
pada cacing ankilostoma terdapat zat antikoagulan pada mulutnya sehingga darah akan terus
mengalir.
2. Dermatitis
Salah satu komplikasi yang terjadi karena inervasi cacing kedalam tubuh melalui kulit di kaki,
ataupun pada bagian tubuh yang lain yang menyebabkan rasa gatal dab bisa timbul fistula.
3. Defisiensi besi
Hal ini akan mengakibatkan tanda berupa choilinicia,cheilosis yang merupakan manifestasi
klinis defisiensi besi karena kurangnya asupan oksigen dan nutrisi.
4. Gagal jantung
Anemia yang lama dan kronis bisa menyebabkan gagal jantung
5. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan mental

12.

PROGNOSIS ANKILOSTOMIASIS
Prognosis dari penyakit ankilostomiasis adalah baik, walaupun pasien datang dengan
komplikasi ankilostoma dapat disembuhkan asalkan dengan pengobatan yang adekuat.

BAB V
KESIMPULAN AKHIR

Bapak Doni, umur 35 tahun, pekerja kebun.


: Lemah dan lesu selama 6 bulan. Disertai nafsu makan menurun dan kadang-kadang demam
(karena infeksi). Tidak memakai alas
kaki (Hal ini memungkinkan masuknya larva Ancylostoma).
iksaan fisik
: Malaise, anemis, conj. Palpebra inferior pucat (+) (Kemungkinan karena perdarahan kronis
pada usus), abdominal pain (Karena lesi akibat gigitan cacing) dan diare.
: Hb 8 gr% (anemia), pemeriksaan feses dijumpai telur cacing.
diperlukan : Pemeriksaan feses dengan metode Harada Mori untuk membedakan jenis cacing yang menginfeksi
dan pemeriksaan darah lengkap untuk melihat peningkatan eosinofil.
Diagnosa banding:
1. Ankylostomiasis
2. Anemia
3. Gangguan gastrointestinal

ma

Diagnosa: Ankylostomiasis
1.
2.
3.
4.

Penatalaksanaan:
Bed rest
Albendazole dosis tunggal 400 mg
Sulfat ferosus 3x200 mg selama 2 bulan
Disarankan untuk menggunakan alas kaki dan sarung tangan saat bekerja di kebun
Prognosis: Umumnya baik dengan penatalaksanaan cepat dan tepat

DAFTAR PUSTAKA

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

13.
14.
15.

Zaman, Viqar. Atlas Parasitologi Kedokteran : Nematoda. Edisi II. Jakarta.


Gandahusada srisasi, dkk. Parasitologi Kedokteran: Edisi ketiga. Jakarta.
Z. S. Pawlowski. Hookworm Infections and Anemia. 1991. Geneva: World Health
Organization.
Vinod
K
Dhawan.
Ancylostoma
Infection.
May
2012.
Dari:
URL:
http://emedicine.medscape.com/article/996361-overview#a0104
ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/MPK/article/download/1132/491
http://www.scribd.com/doc/68972855/30/G-Diagnosis-Cacing-Tambang
Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. 2010
Onggowaluyo, jangkung samidjo., 2002. PARASITOLOGI MEDIK I helmintologi, Buku
kedokteran EGC, Jakarta
Prianto, juni L.A., Tjahaya, P.U., Darwanto, 1995. ATLAS PARASITOLOGI
KEDOKTERAN , Gramedia
Pohan H T. Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah. Sudoyo AW, Alwi I, Setiyohadi B.
2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. EGC : Jakarta Jilid III Hal 2938-41
Referensi
Repository
USU
yang
di
akses
di
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21528/6/Chapter%20II.pdf. Pada 2 Mei 2014
Ali S.A, dkk. 2013. Ancylostama Duodenale Seperated from Contaminated Soil. International
Journal of Zoology and Research. 3:27-38.
Sudoyo AW. 2009.buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta : internal publishing.jilid III edisi V
Garcia SL, Bruckner AD. 1996. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Jakarta : EGC
USAF. Ancylostomiasis. From web : http://www.phsource.us/PH/ZD/NZ/Ancylostomiasis.htm