Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Benda asing di suatu organ adalah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari
dalamtubuh yang dalam keadaan normal tidak ada. Dari semua kasus benda asing
yang masuk kedalam saluran cerna dan pernapasan anak-anak,sepertiganya
tersangkut di saluran pernapasan.1,2Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda
asing merupakan masalah utama anak usia 6 bulan sampai 6 tahundan dapat
terjadi pada semua umur pada tiap lokasi di esophagus, baik ditempat
penyempitan fisiologis maupun patologis serta dapat menimbulkan komplikasi
fatalakibat perforasi.2Benda asing esofagus adalah benda yang tajam maupun
tumpul atau makanan yangtersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik
secara sengaja maupun tidak sengaja.
Angka kejadian tertelan benda asing mengakibatkan 1500 kematian di
Amerika Serikat.Sebanyak 80-90 % benda asing esofagus akan melewati saluran
pencernaan selama 7-10 haritanpa komplikasi, sedangkan 10-20% sisanya
membutuhkan tindakan endoskopi dan 1%membutuhkan pembedahan. Sebanyak
75% benda asing saluran cerna berada di esofagus saat terdiagnosis.3 Benda asing
di esofagus sering ditemukan di daerah penyempitan fisiologis esofagus. Sekitar
70% dari 2394 kasus benda asing esofagus ditemukan di daerah servikal di bawah
sfingter krikofaring, 12% di daerah hipofaring dan 7,7% di esofagus
torakal.Ekstraksi benda asing saluran cerna bukan merupakan suatu prosedur yang
mudah dan tetap memerlukan keterampilan serta pengalaman dokter.4 Oleh karena
itu kasus ini diangkat pada diskusi kasus mengenai benda asing di esofagus.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi Esofagus
Esofagus merupakan sebuah saluran berupa tabung berotot yang

menghubungkan

dan menyalurkan

makanan

dari

rongga

mulut

ke

lambung.Dari perjalanannya dari faring menuju gaster, esofagus melalui tiga


kompartemen dan dibagi berdasarkan kompartemen tersebut,yaitu leher(pars
servikalis), sepanjang 5 cm dan berjalan di antara trakea dan kolumna
vertebralis. Dada (pars thorakalis)setinggi manubrium sterni berada di
mediastinum posterior mulai di belakang lengkung aorta dan bronkus cabang
utama kiri, lalu membelok ke kanan bawah di samping kanan depan aorta
thorakalis bawah. Abdomen (pars abdominalis) masuk ke rongga perut
melalui hiatus esofagus dari diafragma dan berakhir di kardia lambung,
panjang berkisar 2-4 cm.Pada anak, panjang esofagus saat lahir bervariasi
antara 8 dan 10 cm dan ukuran sekitar 19 cm pada usia 15 tahun.1

Gambar 1. Esofagus anak-anak1

Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus


superior ke otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm, ke

v. pulmonalis inferior, 30-35 cm, dan ke kardioesofagus joint kurang lebih 4045 cm.Pada bagian servikal panjang esophagus 5-6 cm setinggi vertebra
servikalis VI sampai vertebra thorakalis. Bagian anterior melekat dengan
trakhea (tracheoesophageal party wall), bagian anterolateral tertutup oleh
kelenjar tiroid, isi dextra/sinistra dipersarafi oleh nervus recurren laryngeus,
bagianposterior berbatasan dengan hypofaringdan pada bagian lateral ada
carotid sheats beserta isinya.1,3

Gambar 2. Esofagus1
Pada bagian thorakal panjang esophagus 16-18 cm setinggi vertebra
thorakalis IX-X, letaknya berada di mediastinum superior antara trakea dan
collumna vertebralis. Dalam rongga thoraks disilang oleh arcus aorta setinggi
vertebra thorakalis IV dan bronchus utama sinistra setinggi vertebra thorakal
V. Arteri pulmonalis dextra menyilang di bawah bifurcatio trakealisPada
bagian distal antara dinding posterior esofagus dan ventral corpus vertebralis
terdapat ductus thoracicus, vena azygos, arteri dan vena intercostalis. Pada

bagian abdominal terdapat pars diaphragmatica sepanjang 1 - 1,5 cm, setinggi


vertebra thorakal X. Terdapat pars abdominalis sepanjang 2 - 3 cm, bergabung
dengan cardia gaster disebut gastroesophageal junction.1
Esofagus mempunyai tiga daerah normal penyempitan yang sering
menyebabkan benda asing tersangkut di esofagus.Penyempitan pertama adalah
disebabkan oleh muskulus krikofaringeal, dimana pertemuan antara serat otot
striata dan otot polos menyebabkan daya propulsif melemah.Daerah
penyempitan kedua disebabkan oleh persilangan cabang utama bronkus kiri
dan arkus aorta. Penyempitan yang ketiga disebabkan oleh mekanisme sfingter
gastroesofageal.1

Gambar 3.Gambaran Penampang


Esofagus
Vaskularisasi Esofagus
Vaskularisasi dari esofagus berasal dari beberapa cabang arteri dan vena.
Arteri yang memperdarahi pada bagian servikal berjalan dari artery thyroidea
inferior (cabang truncus thyrocervicalis artery subclavia sinistra), bagian
thorakal berjalan dari aorta thorakal descendens, artery intercostal, dan artery
cabang bronkial, pada bagian abdominal berjalan dari cabang-cabang artery

gastric sinistra dan kadang-kadang artery phrenic inferior yang langsung dari
aorta abdominalis. Sedangkan vena yang memperdarahi, bagian servikal
dialirkan ke dalam vena thyroid inferior, bagian thorakal dialirkan ke dalam
vena azygos dan hemiazygos, dan bagian abdominal dialirkan ke dalam vena
gastric sinistra.1
Persarafan Esofagus
Persarafan esofagus terdiri dari saraf parasimpatis yang berasal dari
nervus vagus yang menimbulkan vasokonstriksi, kontraksi sfingter, dan
relaksasi dinding muscular, dan saraf simpatis dari serabut-serabut ganglia
sympathies cervicalis inferior, nervus thoracal dan splanchnicus yang dapat
meningkatkan sekresi kelenjar dan aktivitas peristaltik.1
2.2 Fisiologi Esofagus (proses menelan)
Menelan merupakan suatu aksi fisiologis kompleks ketika makanan atau
cairan berjalan dari mulut ke lambung. Menelan merupakan rangkaian gerakan
otot yang sangat terkoordinasi, dimulai dari pergerakan voluntar lidah dan
diselesaikan dengan serangkaian refleks dalam faring dan esofagus. Bagian
aferen refleks ini merupakan serabut-serabut yang terdapat dalam saraf V, IX,
dan X. Pusat menelan atau deglutisi terdapat pada medula oblongata. Di
bawah koordinasi pusat ini, impuls-impuls berjalan ke luar dalam rangkaian
waktu yang sempurna melalui saraf kranial V, X, dan XII menuju ke otot-otot
lidah, faring, iaring, dan esofagus.2
Walaupun menelan merupakan suatu proses yang kontinu, tetapi terjadi
dalam tiga fase oral, faringeal, dan esofageal. Pada fase oral, makanan yang
telah dikunyah oleh mulut disebut bolus didorong ke belakang mengenai
dinding posterior faring oleh gerakan voluntar lidah. Akibat yang timbul dari
peristiwa ini adalah rangsangan gerakan refleks menelan. 2Pada fase
pharingeal, palatum mole dan uvula bergerak secara refleks menutup rongga
hidung. Pada saat yang sama, Iaring terangkat dan menutup glotis,mencegah
makanan memasuki trakea. Kontraksi otot konstriktor faringeus mendorong
bolus melewati epiglotis menuju ke faring bagian bawah dan memasuki

esofagus. Gerakan retroversi epiglotis di atas orifisium Iaring akam


melindungi saluran pernapasan, tetapi terutama untuk menutup glotis sehingga
mencegah makanan memasuki trakea. Pernapasan secara serentak dihambat
untuk mengurangi kemungkinan aspirasi. Sebenarnya, hampir tidak mungkin
secara voluntar menarik napas dan menelan dalam waktu yang sama.2
Fase esofageal mulai saat otot krikofaringues relaksasi sejenak dan
memungkinkan

bolus

memasuki

esofagus.

Setelah

relaksasi

yang

singkat,gelombang peristaltik primeryang dimulai dari faring dihantarkan ke


otot krikofaringeus, menyebabkan otot ini berkontraksi. Gelombang peristaltik
terus berjalan sepanjang esofagus, mendorong bolus menuju sfingter esofagus
bagian distal. Adanya bolus merelaksasikan otot sfingter distal ini sejenak
sehingga memungkinkan bolus masuk ke dalam lambung.
Gelombang peristaltik primer bergerak dengan kecepatan 2 sampai 4 cm/
detik, sehingga makanan yang tertelan mencapai lambung dalam waktu 5
sampai 15 detik. Mulai setinggi arkus aorta, timbul gelombang peristaltik
sekunderbila gelombang primer gagal mengosongkan esofagus. Timbulnya
gelombang ini dipacu oleh peregangan esofagus oleh sisa partikel partikel
makanan.2
Gelombang peristaltik primer penting untuk jalannya makanan dan
cairan melalui bagian atas esofagus, tetapi kurang penting pada esofagus
bagian bawah. Posisi berdiri tegak dan gaya gravitasi adalah faktor-faktor
penting yang mempermudah transpor dalam esofagus bagian bawah, tetapi
adanya gerakan peris taldk memungkinkan seseorang untuk minum air sambil
berdiri terbalik dengan kepala di bawah atau ketika berada di luar angkasa
dengan gravitasi nol.2

Gambar 4. Gerakan Peristaltik Menelan


Sewaktu menelan terjadi perubahan tekanan dalam esofagus yang
mencerminkan fungsi motoriknya. Dalam keadaan istirahat, tekanan dalam
esofagus sedikit berada di bawah tekanan atmosfer, tekanan ini mencerminkan
tekanan intratorak. Daerah sfingter esofagus bagian atas dan bawah
merupakan daerah bertekanan tinggi. Daerah tekanan tinggi ini berfungsi
untuk mencegah aspirasi dan refluks isi lambung. Tekanan menurun bila
masing-masing sfingter relaksasi sewaktu menelan dan kemudian meningkat
bila gelombang peristaltik melewatinya.2

Gambar 5. Proses Menelan

2.3 Definisi Benda Asing di Esofagus


Definisi benda asing adalah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari
dalam tubuh yag dalam keadaan normal tidak ada. 1 Sedangkan definisi benda
asing esofagus adalah benda yang tajam ataupun tumpul atau makanan yang
tersangkut dan terjepit di esofagus

karena tertelan, baik secara sengaja

maupun tidak sengaja. Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing


merupakan masalah utama anak usia 6 bulan sampai 6 tahun, dan dapat terjadi
pada semua umur pada tiap lokasi di esofagus, baik di tempat penyempitan
fisiologis maupun patologis dan dapat pula menimbulkan komplikasi fatal
akibat perforasi.4,5
2.4 Epidemiologi
Benda asing di esofagus sering ditemukan di daerah penyempitan
fisiologis esofagus. Benda asing yang bukan makanan kebanyakan tersangkut
di servikal esofagus, biasanya di otot krikofaring atau arkus aorta.3 Lokasi
tersering benda asing tersangkut di esofagus adalah pada sfingter
krikofaringeus dikarenakan pada daerah tersebut adalah daerah yang sempit
dan terdiri dari otot krikofaring yang akan membuka disaat bolus
melewatinya. Namun apabila bolus atau makanan tidak sempurna diolah
dimulut akan menyebabkan makanan tersebut tersangkut, apalagi untuk suatu
benda asing yang cukup besar.4 Terkadang benda asing dapat ditemukan di
daerah penyilangan esofagus dengan bronkus utama kiri atau pada sfingter
kardio-esofagus.Tujuh puluh persen dari 2394 kasus benda asing esofagus
ditemukan di daerah servikal, di bawah sfingter krikofaring, 12% di daerah
hipofaring dan 7,7% di esofagus torakal. Dilaporkan 48% kasus benda asing
yang tersangkut di daerah esofagogaster menimbulkan nekrosis tekanan atau
infeksi lokal.6,7

Gambar 6.Bagian yang mungkin benda asing tersangkut di esofagus


2.5 Penyebab dan Faktor Predisposisi Benda Asing di Esophagus
Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing merupakan masalah
utama pada anak usia 6 bulan sampai 6 tahun dan dapat terjadi pada semua
umur ada tiap lokasi di esofagus, baik di tempat penyempitan fisiologis
maupun patologis dan dapat pula menimbulkan komplikasi fatal akibat
perforasi.9Penyebab pada anak yakni anomali kongenital termasuk stenosis
kogenital, web, fistel trakeoesofagus dan pelebaran pembuluh darah. Faktor
predisposisi antara lain belum tumbuhnya gigi molar untuk dapat menelan
dengan baik, koordinasi proses menelan dan sfingter laring yang belum
sempurna pada kelompok usia 6 bulan sampai 1 tahun, retardasi mental,
gangguan

pertumbuhan

dan

penyakit-penyakit

neurologik

yang

mendasarinya.4
Faktor predisposisi pada orang dewasa yaitu pemabuk dan pemakai gigi
palsu yang telah kehilangan sensasi rasa dari palatum, gangguan mental dan
psikosis.8Faktor predisposisi lain yakni adanya penyakit-penyakit esofagus
yang menimbulkan gejala disfagia kronis seperti esofagitis refluks, striktur
pasca esofagitis korosif, akhalasia, karsinoma esofagus atau lambung, cara

mengunyah yang salah degan gigi palsu yang kurang baik pemasangannya,
mabuk (alkoholisme) dan intoksikasi (keracunan).9
2.6 Patogenesis
Benda asing yang berada lama di esofagus dapat menimbulkan berbagai
komplikasi berupa jaringan granulasi yang menutupi benda asing, radang
periesofagus. Benda asing tertentu seperti baterai alkali mempunyai toksisitas
intrinsik lokal dan sistemik dengan reaksi edema dan inflamasi lokal, terutama
bila terjadi pada anak-anak.9Batu baterai (disc battery) mengandung elektrolit,
baik natrium maupun kalium hidroksida dalam larutan kaustik pekat
(concentrated caustic solution). Pada penelitian binatang in vitro dan in vivo,
bila baterai berada dalam lingkungan yang lembab dan basah, maka
pengeluaran elektrolit akan terjadi dengan cepat sehingga terjadi kerusakan
jaringan (tissue saponification) dengan ulserasi lokal, perforasi atau
pembentukan striktur. Absorbsi bahan metal dalam darah menimbulkan
toksisitas sistemik. Oleh karena itu benda asing batu baterai harus segera
dikeluarkan.9
Ketika benda asing masuk ke
terbentuk suatu peradangan pada

dalam
esofagus

esofagus,
yang

akan

maka

akan

memicu

untuk

menimbulkan suatu efektrauma pada esofagus.Kemudian lama-lama akan


menimbulkan suatu edema yangmenimbulkan rasa nyeri. Efek lebih lanjut
adalah terjadi penumpukanmakanan, rasa penuh di leher dan kemudian dapat
menganggu sistempernapasan sebagai akibat trauma yang juga mempengaruhi
trakea, dimanatrakea memiliki jarak yang dekat dengan esophagus.9

Gambar 7.Patogenesis benda asing di esofagus


2.7 Manifestasi Klinik
Gejala permulaan benda asing esofagus adalah rasa nyeri di daerah leher
bila benda asing tersangkut di servikal.

Bila benda asing tersangkut di

esophagus distal, timbul rasa tidak enak di substernal atau nyeri di punggung.
Gejala disfagia bervariasi tergantung, pada ukuran benda asing, disfagia lebih
berat bila telah terjadi edema mukosa yang memperberat sumbatan sehingga
timbul rasa sumbatan esophagus yang persisten, gejala yang lain adalah
odinofagia, hipersalivasi, regurgitasi dan muntah, kadang-kadang mudah
berdarah. Gangguan napas dengan gejala dispneu, stridor dan sianosis terjadi
akibat penekanan trakea atau benda asing.6,8
Gejala dan tanda perforasi esofagus servikal dan torakal karena benda
asing atau alat, antara lain emfisema subkutis atau mediastinum, krepitasi kulit
di daerah leher atau dada, pembengkakan leher, kaku leher, demam dan
menggigil, gelisah, nadi dan pernafasan cepat, nyeri yang menjalar ke
punggung, retrosternal dan epigastrium. Bila terjadi perforasi ke pleura dapat
timbul pneumotoraks atau pyotoraks. Nyeri di punggung menunjukkan adanya
tanda perforasi atau mediastinitis.8,9
2.8 Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang. Bila diperhatikan gejala-gejala yang dapat terjadi
akibat teretelannya benda asing di esofagus terjadi dalam tiga tahap.Pada
tahap pertama gejala-gejala awal, serangan hebat dari batuk atau muntah.Hal
ini terjadi ketika benda asing pertama tertelan.Pada tahap kedua adalah
interval tidak ada gejala.Benda asing telah tersangkut, serta gejala-gejala tidak
lagi ditimbulkan.Pada tahap ini dapat berlangsung untuk sesaat atau
sementara.Pada tahap ketiga terdiri dari gejala-gejala yang ditimbulkan oleh
komplikasi. Kemungkinan timbul rasa tidak nyaman, disfagia, sumbatan, atau
perforasi esofagus dengan dihasilkan mediastinitisTerdapat kekakuan lokal
pada leher bila benda asing terjepit akibat edema yang timbul progresif . Bila
benda asing ireguler menyebabkan perforasi akut, didapatkan tanda-tanda
pneumo-mediastinum, emfisema leher dan pada auskultasi terdengar suara
getaran di daerah pre cordial dan inter scapula.5
Bila terjadi mediastinitis, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral dapat
dideteksi. Perforasi langsung ke rongga pleura dan pneumothoraks jarang
terjadi tetapi dapat timbul sebagai komplikas tindakan endoskopi. 5Pada anakanak terdapat gejala nyeri atau batuk, disebabkan oleh aspirasi ludah atau
minuman. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ronkhi, wheezing,demam, abses
leher atau tanda empisema subkutan. Tanda lanjut, berat badan menurun dan
gangguan pertumbuhan. Benda asing yang terdapat di daerah servikal
esophagus dan bagian distal krikofaring, dapat menimbulkan obstruksi saluran
napas dengan stridor karena menekan dinding trakea bagian (posterior
trachea esophageal party wall).5
2.9 Pemeriksaan Penunjang
Foto rontgen polos esofagus soft tissue servikal dan torakal
anteroposterior dan lateral harus dibuat pada semua pasien yang diduga
tertelan benda asing. Benda asing radioopak seperti uang logam, mudah
diketahui lokasinya dan harus dilakukan foto ulang sesaat sebelum tindakan
esofagoskopi untuk mengetahui kemungkinan benda asing sudah pindah ke
bagian distal. Letak uang logam umumnya koronal, maka hasil foto Rontgen

servikal / torakal pada posisi PA akan dijumpai bayangan radioopak berbentuk


bundar, sedangkan pada pasien lateral berupa garis radioopak yang sejajar
dengan kolumna vertebra. Benda asing seperti kulit telur, tulang, dan lain-lain
cenderung berada pada posisi koronal dalam esophagus, sehingga lebih mudah
dilihat pada posisi lateral. Benda asing radiolusen seperti plastik, aluminium,
dan lain-lain, dapat diketahui dengan tanda inflamasi periesofagus atau
hiperinflamasi hipofaring dan esofagus bagian proksimal.9

Gambar 8. Gambaran Radiologi Benda Asing di Esofagus


Foto Rontgen leher posisi lateral dapat menunjukkan tanda perforasi,
dengan trakea dan laring tergeser ke depan, gelembung udara di jaringan,
adanya bayangan cairan atau abses bila perforasi telah berlangsung beberapa
hari.9 Gambaran radiologik benda asing batu baterei menunjukkan pinggir
bulat dengan gambaran densitas ganda, karena bentuk bilaminer. Foto polos
sering tidak menunjukkan gambaran benda asing, seperti daging dan tulang
ikan,

sehingga

memerlukan

pemeriksaan

esofagus

dengan

kontras

(esofagogram).Computerized tomographyc scanner (CT scan) esofagus dapat


menunjukkan gambaran inflamasi jaringan lunak dan abses.9Magnetic
resonanse imaging (MRI) dapat menunjukkan gambaran semua keadaan
patologis esofagus.9
2.10

Klasifikasi Benda Asing

Berdasarkan asalnya, benda asing digolongkan menjadi dua golongan :

1. Benda asing eksogen, yaitu yang berasal dari luar tubuh, biasanya
masuk melalui hidung atau mulut. Benda asing eksogen terdiri dari
benda padat, cair atau gas. Benda asing eksogen padat terdiri dari zat
organik seperti kacang-kacangan (yang berasal dari tumbuhantumbuhan), tulang (yang berasal dari kerangka binatang) dan zat
anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu, kapur barus (naftalen),
gigi palsu dan lain-lain. Benda asing eksogen cair dibagi dalam benda
cair yang bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda cair noniritatif,
yaitu cairan dengan pH 7,4.
2. Benda asing endogen, yaitu yang berasal dari dalam tubuh. Benda
asing endogen dapat berupa sekret kental, darah atau bekuan darah,
nanah, krusta, perkijuan, membran difteri. Cairan amnion, mekonium
dapat masuk ke dalam saluran napas bayi pada saat proses persalinan.
2.11

Penatalaksanaan

Benda asing di esofagus dikeluarkan dengan tindakan esofagoskopi


dengan menggunakan cunam yang sesuai dengan benda asing tersebut.Bila
benda asing telah berhasil dikeluarkan harus dilakukan esofagoskopi ulang
untuk

menilai

adanya

kelainan-kelainan

esofagus

yang

telah

ada

sebelumnya.Benda asing tajam yang tidak berhasil dikeluarkan dengan


esofagoskopi

harus

segera

dikeluarkan

dengan

pembedahan,

yaitu

servikotomi, torakotomi, atau esofagotomi, tergantung lokasi benda asing


tersebut.Bila dicurigai adanya perforasi yang kecil segera dipasang pipa
nasogaster agar pasien tidak menelan, baik makanan maupun ludah dan
diberikan antibiotika berspektrum luas selama 7-10 hari untuk mencegah
timbulnya sepsis.Benda asing tajam yang telah masuk ke dalam lambung
dapat menyebabkan perforasi di pilorus.Oleh karena itu perlu dilakukan
evaluasi dengan sebaik-baiknya, untuk mendapatkan tanda perforasi sedini
mungkin dengan melakukan pemeriksaan radiologik untuk mengetahui posisi
dan perubahan letak benda asing. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali
24 jam maka benda asing tersebut harus dikeluarkan secra pembedahan
(laparotomi).9

Gambar 9. Alat Esofagoskopi


Tindakan lain yang dapat dilakukan adalah endoskopi, biasanya tindakan
terbagi menjadi dua jenis, yaitu endoskopi kaku dan endoskopi fleksibel.
Endoskopi kaku digunakan untuk diagnosa dan pengambilan benda asing pada
esofagus bagian atas (krikofaringeal).Alat ini sering digunakan di bagian
THT.Endoskopi lentur digunakan di bagian penyakit dalam. Keberhasilan alat
ini untuk mengambil benda asing dalam esofagus adalah 99,5%. Hanya 0,5 %
yang membutuhkan pembedahan. Keuntungan alat ini di bandingkan
endoskopi kaku adalah tidak memerlukan general anesthesia dan juga
komplikasi perforasi lebih kecil yaitu insiden komplikasi menggunakan
endoskopi kaku antara 0,1 %-0,9 %, sedangkan insiden komplikasi
menggunakan endoskopi lentur yaitu 0,007 %-0,15%.7,10
External approach (lateral esofagotomi) digunakan apabila pengambilan
menggunakan endoskopi lentur maupun kaku mengalami kegagalan.Cara ini
agak rumit. Pada prinsipnya adalah mengeluarkan benda asing lewat
esofagotomi.4,6 Pembedahan torakotomi dilakukan apabila benda asing tidak
didapat atau tidak mungkin diambil dengan cara diatas atau bila benda asing
tidak memungkinkan untuk keluar spontan lewat tinja atau juga bila sudah ada
perforasi.4,6Benda asing uang logam di esofagus bukan keadaan gawat darurat,
namun uang logam tersebut harus dikeluarkan sesegera mungkin dengan
persiapan

tindakan

esofagoskopi

yang

optimal

untuk

mencegah

komplikasi.4,6Benda asing baterei bundar (disk/button battery) di esogagus


merupakan benda yang harus segera dikeluarkan karena risiko perforasi
esofagus yang terjadi dengan cepat dalam waktu 4 jam setelah tertelan
akibat nekrosis esofagus.4

2.12

Komplikasi

Benda asing dapat menimbulkan laserasi mukosa, perdarahan, perforasi


lokal dengan abses leher atau mediastinitis.Perforasi esofagus dapat
menimbulkan selulitis lokal, fistel trakeo-esofagus.Benda asing bulat atatu
tumpul dapat juga menimbulkan perforasi, akibat sekunder dan inflamasi
kronik dan erosi. Jaringan granulasi di sekitar benda asing timbul bila benda
asing berada di esofagus dalam waktu yang lama.7
Gejala dan tanda perforasi esofagus servikal dan torakal oleh karena
benda asing atau alat, antara lainemfisema subkutis atau mediastinum,
krepitasi kulit di daerah leher atau dada, pembengkakan leher, kaku leher,
demam dan menggiggil, gelisah, nadi, dan pernapasan cepat, nyeri yang
menjalar ke punggung, retrosternal, dan epigastrium. Bila terjadi perforasike
pleura dapat timbul pneumotoraks atatu pyotoraks.4,7

BAB III
STATUS PASIEN

I.

II.

Identifikasi
Nama
Jenis kelamin
Usia
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
Agama
Bangsa
No. Rekam medis/registrasi

:
:
:
:
:
:
:
:
:

An. IA
Perempuan
3 tahun (5 mei 2012)
Dusun II Desa Harapan
Belum sekolah
Islam
Indonesia
932570

Anamnesis
(Alloanamnesis pada tanggal 19 Januari 2016 pukul 17:30 WIB)
Keluhan utama
Sulit menelan sejak + 2 hari SMRS
Keluhan tambahan
Riwayat perjalanan penyakit
Sejak 2 hari SMRS, keluarga pasien mengaku bahwa pasien telah
tertelan koin logam. Pasien merasakan sulit menelan (+), nyeri
menelan (+), nyeri pada leher (+), Sesak nafas (-), rasa tercekik (-),
batuk (-), muntah (-), keluar ludah yang banyak (-), demam(-),nyeri
punggung (-), mengkorekkorek tenggorokan disangkal. Pasien
dibawa ke puskesmas dan karena keterbatasan alat pasien dirujuk ke
IGD RSMH.

Riwayat penyakit dahulu


Menelan koin sebelumnya disangkal
Asma
: disangkal
Alergi
: disangkal
Sakit gigi
: disangkal
Nyeri menelan berulang : disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Hipertensi
: disangkal
Penyakit Jantung
: disangkal
Penyakit Ginjal
: disangkal

Penyakit Kelamin
Diabetes Melitus
Tuberkulosis
Asma
Alergi

III.

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

Pemeriksaan Fisik
a. Status pasien
1) Pemeriksaan umum
Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Pernapasan
Suhu

:
:
:
:
:
:

tampak sakit ringan


compos mentis
96 x/menit
24x/menit
36,8C

2) Pemeriksaan Khusus
Kepala
: Konjungtiva forniks OS dan OD tidak
Leher
Thoraks

anemis, sklera tidak ikterik.


: pembesara KGB (-), massa (-)
: Simetris, tidak tampak kelainan pada
dinding dada.
Cor: BJ I dan II (+) normal,

batas

jantung normal, murmur tidakada,gallop


tidak ada.
Pulmo: sonor dikedua lapangan paru,
vesikuler (+) normal, ronkhi (-),
Abdomen

wheezing (-).
: Simetris, datar, nyeri tekan (-), timpani,

Ekstremitas
Kulit

bising usus (+) normal


: Bentuk normal
: Tidak tampak kelainan

b. Status Lokalis
Telinga (dalam batas normal)

AD : Nyeri tarik aurikula (-), nyeri tekan tragus (-), Meatus


Akustikus Eksternus lapang, hiperemis (-), edema (-), sekret (-),
serumen (-), krusta (-), membran timphani warna putih, bulat,
pembuluh darah normal, Reflek cahaya (+) arah jam 5
AS : Nyeri tarik aurikula (-), nyeri tekan tragus (-), Meatus
Akustikus Eksternus lapang, hiperemis (-), edema (-), sekret (-),
serumen (-), krusta (-), membran timphani warna putih, bulat,
pembuluh darah normal, Reflek cahaya (+) arah jam 7

Gambar membran timpani

TesKhusus
1. Tes garpu tala
TesRinne
Tes Weber
TesScwabach
2. mTes Audiometri

3. Tes Fungsi Tuba


TesValsava
Tes Toynbee
4. Tes kalori
Tes kobrak

Kanan

Kiri

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Hidung (dalam batas normal)


ND :Dorsum nasi normal, duktus nasolakrimalis tidak tersumbat,
deformitas (-), Rhinoskopi anterior : kavum nasi lapang, sekret (-),
polip (-), konka eutropi, hiperemis (-), warna merah muda, meatus
lapang, septum nasi eutropi, deviasi (-). Rhinoskopi posterior
:mukosa licin, warna merah muda, koana lapang, muara tuba
terbuka, sekret (-).
NS: Dorsum nasi normal, duktus nasolakrimalis tidak tersumbat,
deformitas (-), Rhinoskopi anterior : kavum nasi lapang, sekret (-),
polip (-), konka eutropi, hiperemis (-), warna merah muda, meatus
lapang, septum nasi eutropi, deviasi (-). Rhinoskopi posterior :
mukosa licin, warna merah muda, koana lapang, muara tuba
terbuka, sekret (-)
Gambar dinding lateral hidung dalam

Gambar hidung dalam potongan frontal

Gambar hidung bagian posterior

Rongga mulut : dalam batas normal

Faring : palatum mole simetris, uvula simetris, arcus faring normal,


hiperemis (-), tonsil T1-T1, dinding belakang faring normal, pilar
anterior tidak ada perlengketan, pilar posterior tidak ada
perlengketan.
Laringoskopi indirect : tonsilalingualis eutropi, valekula (-),
epiglottis normal, aritenoid normal, pita suara normal, rima glottis
normal, trakea normal.
Laringoskopi direct : tidak dilakukan
Gambar rongga mulut dan faring

\
Gambar laring (laringoskopi indirect)

IV.

Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan darah rutin
Rontgen soft tissue servikal AP & lateral
Rontgen Thorax AP & lateral

Rontgen Thorakoabdominal AP & Lateral

V.
Diagnosis
VI.
Diagnosis Kerja
Corpus alienum esofagus
VII. Tatalaksana
- Inform Consent
- Esofaguskopi
- MRS
- Assesment Anestesi
- Antibiotik Amoksisilin syrup 3 x 2 cth
VIII. Prognosis
Quo ad Vitam
Quo ad Functionam

Banding

: Bonam
: Bonam

BAB IV
Analisa Kasus
Benda asing di suatu organ adalah benda yang berasal dari luar
tubuh atau daridalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak
ada.Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing merupakan masalah
utama anakusia 6 bulan sampai 6 tahun.Pada kasus ini, An.IA, perempuan
berumur 3 tahun datang ke IGD RSMH dengan keluhan utama sulit

menelan sejak 2 hari SMRS.Keluarga pasien mengaku bahwa pasien


telah tertelan koin logam 2 hari SMRS, pasien merasakan sulit menelan
(+), nyeri menelan (+) tanpa disertai sesak nafas, rasa tercekik, batuk.Pada
pemeriksaan fisik telinga, hidung, tenggorokan dalam batas normal.Dari
anamnesis dapat disingkirkan benda asing terletak pada saluran nafas dan
lebih condong curiga benda asing di esofagus (saluran pencernaan).Hal ini
diperkuat dengan pemeriksaan penunjang foto
rontgen soft tissue servikal AP & lateral serta foto thoraks AP &
lateral yang dijumpai bayangan radioopak berbentuk bundar (uang logam)
karena letak uang logam yang koronal, sedangkan pada foto lateral berupa
garis radioopak yang sejajar dengan kolumna vertebra.
Menurut teori gejala benda asing esofagus apabila benda
tersangkut di servikal akan timbul rasa nyeri di daerah leher dan paling
sering pada penyempitan fisiologis krikofaringeus. Bila benda asing
tersangkut di esophagus distal, timbul rasa tidak enak di substernal atau
nyeri di punggung. Gejala disfagia bervariasi tergantung pada ukuran
benda asing, dan dapat pula dijumpai odinofagia, hipersalivasi, regurgitasi
dan muntah, kadang-kadang mudah berdarah. Pada kasus ditemukan dari
anamnesis pasien merasa sulit menelan dan nyeri pada daerah leher tanpa
disertai gejala lain, sehingga bisa disimpulkan bahwa benda asing
tersangkut di daerah penyempitan krikofaringeus (daerah servikal). Untuk
menegakkan diagnosis dan terapi dapat dilakukan esofaguskopi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Snell Richard S. Anatomi dan Fisiologi Esofagus dalam Anatomi Klinik :
Edisi keenam. Jakarta: EGC. 2012. Hal 817-24
2. Guyton AC, Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 12. Jakarta:
EGC. 2011
3. Adam L Goerge, Boeis R Lawrence, Higler, H Peter. Epistaksis. Dalam:
Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Penyakit Jalan Nafas Bagian Bawah,
Esofgus, dan Mediastinum. Tertelan Benda Asing. Effendi H (editor).
Jakarta. EGC. 2012. Hal 458-72
4. Fitri F, Novialdi, Triola S. Penatalaksanaan Benda Asing Gigi Palsu di
Esofagus. Fakultas Kedoktern Universitas Andalas. RSUP Dr. Jamil
Padang. Diakses tanggal 20 Januari 2016.
5. Efiaty A.S, Nurbaiti I, Jenny B. Ratna D.R, Mariana Y. Benda Asing di
Esofagus. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi ke-6, 2007, FKUI,
halaman 299-302.
6. Soepardi, Efianty Arsyad. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Kepala & Leher. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2013
7. American Society For Gastrointestinal Endoscopy, Guideline for the
management of ingested foreign bodies. Volume 73, No. 6. 2011
8. Munter DW. Gastrointestinal Foreign Bodies. Diakses

dari:

www.emedicine.com/ article/764615. Diakses tanggal 20 Januari 2016


9. Junizaf,Mariana H. Benda Asing Di Esofagus dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan tenggorok Kepala Leher. Edisi Keenam.FKUI. 2012.
10. Katsinelos P, Kountouras J, Paroutoglou G, Zavos C, Mimidis K,
Chatzimavroudis G. Endoscopic techniques and management of foreign

body ingestion and food bolus impaction in the upper gastrointestinal tract:
a retrospective analysis of 139 cases. J Clin Gastroenterol. 2014. p :7849.