Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kista adalah suatu organ yang membesar dan di dalamnya berisi
cairan, seperti sebuah balon yang berisi air. Pada wanita, organ yang paling
sering menjadi kista adalah indung telur. Tidak ada ketentuan apakah indung
telur kiri atau kanan yang sering menjadi kista. Pada kebanyakan kasus kista
justru tidak memerlukan operasi.1
Kista dermoid merupakan suatu massa kistik yang dilapisi oleh
epitel gepeng disertai adanya struktur adneksa seperti kelenjar sebasea,
rambut, folikel rambut, serta struktur lain seperti tulang, otot, dan kartilago.
Kista dermoid dapat bersifat kongenital atau didapat, walaupun secara
klinis dan histopatologis tidak terdapat perbedaan diantara keduanya.1
Meskipun kista tidak mengganggu kesuburan, dianjurkan untuk
selalu melakukan deteksi dini berupa pemeriksaan ultrasonografi (USG).
Karena, ada kemungkinan kista tersebut neoplasma ganas dan bisa
mengakibatkan kanker ovarium.

Kista

berukuran

besar

dapat

mengganggu kehamilan, bukan kesuburan kaum wanita. Kista yang


memiliki diameter lebih dari 5 cm dapat melintir pada saat terjadi
kehamilan. Akibatnya, kista pecah dan menimbulkan nyeri sangat hebat.
Bila hal itu terjadi, dapat menjadi nekrotik dan bisa mengakibatkan emboli
hingga kematian. Kista dermoid merupakan jenis tumor sel germ jinak
dengan jumlah sekitar 10%.
Potensi kista dermoid menjadi ganas relatif kecil, cuma sekitar 13%. Pada tahun 1955, Meyer mengemukakan konsep bahwa secara
histologis terdapat 3 varian kista dermoid yaitu kista epidermoid, kista
dermoid dan teratoid. Kista dermoid lebih sering dijumpai dibandingkan
kista epidermoid dengan perbandingan 2:1.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kistoma Ovarii
2.1.1 Definisi
Kista adalah pertumbuhan abnormal berupa 1kantung (pocket, pouch)
yang tumbuh abnormal dibagian tubuh tertentu. Kista ada yang berisi udara,
cairan, nanah, atau bahan-bahan lain. Sedangkan Kista Ovarium adalah
suatu kantung yang berisi cairan atau materi semisolid yang tumbuh pada
atau sekitar ovarium.14
Kistoma ovarii merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun yang
besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan, tumor ovarium
yang dijumpai yang paling sering ialah kista dermoid, kista coklat atau kista
lutein. Tumor ovarium yang cukup besar dapat menyebabkan kelainan letak
janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala ke
dalam panggul.3
Kistoma ovarii didefinisikan sebagai terjadinya pembesaran ovarium
yang bersifat fungsional atau disfungsonal, berupa kistik, padat atau
campuran kistik padat dan dapat bersifat neoplastik maupun non neoplastik.5
2.1.2 Anatomi Ovarium
Ovarium merupakan salah satu organ sistem reproduksi wanita, yang
berlokasi pada pelvis yang menyokong uterus menutupi dinding lateral
pelvis, di belakang ligament dan bagian anterior dari rektum. Kedua
ovarium terletak dikedua sisi uterus dalam rongga pelvis. Selama masa
reproduksi ovarium mempunyai ukuran 4 x 2,5 x 1,5 cm
Ovarium dilapisi oleh satu lapisan yang merupakan modifikasi
macam-macam mesotelium yang dikenal sebagai epitel permukaan dan
germinal. Stroma ovarium dibagi dalam region kortikal dan medullari, tapi
batas keduanya tidak jelas. Stroma terdiri dari sel-sel spindel menyerupai
fibroblast, biasanya tersusun berupa whorls atau storiform pattern. Sel-sel
terdiri atas cytoplasmic lipid dan dikelilingi oleh suatu serat retikulin.
2

Beberapa

sel

menyerupai

gambaran

seperti

miofibroblastik

dan

immunoreaktif dengan smooth muscle actin (SMA) dan desmin. Bagian


korteks dilapisi suatu lapisan biasanya ditutupi oleh jaringan ikat kolagen
yang aseluler.
Folikel mempunyai tingkatan maturasi yang bervariasi di luar korteks.
Setiap siklus menstruasi, satu folikel akan berkembang menjadi suatu folikel
grafian, yang mana akan berubah menjadi korpus luteum selama ovulasi.
Medula ovarium disusun oleh jaringan mesenkim yang longgar dan terdiri
dari kedua duktus (rete ovarii) dan small clusters yang bulat, sel epiteloid
yang mengelilingi pembuluh darah dan pembuluh saraf.
Ovarium mempunyai dua fungsi yaitu :
1. Menyimpan ovum (telur) yang dilepaskan satu setiap bulan.
2. Memproduksi hormon estrogen dan progesterone.
Pembuluh darah limfe ovarium mengalir ke saluran yang lebih besar
membentuk pleksus pada hilus, dimana akan mengalir melewati
mesovarium ke nodus para aortik, aliran lain ke iliaka interna, iliaka
eksterna, interaorta, iliaka pada umumnya dan nodus inguinal.15

Gambar 2.1 Anatomi Ovarium


2.1.3. Etiologi
Sampai saat ini etiologi dari kistoma ovarii masih menjadi tanda
tanya, namun terdapat beberapa teori yang membahas tentang etiologi dari
kistoma ovarii ini. Dimana terdapat 3 teori yang dikatakan menjadi etiologi
dari kistoma ovarii, yaitu teori hiperepitelisasi dari sel epethelium ovari,
teori hormonal dan teori genetika. 4
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan
pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau indung telur itu
sendiri. Kista indung telur timbul dari folikel yang tidak berfungsi
selama siklus menstruasi.
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang tidak
sampai saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung
estrogen

sebagai

respon

terhadap

hipersekresi folikel

stimulation

hormon (FSH) dan luteinizing hormon (LH) normalnya ditemui saat


menopause berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran maximum 2,5

cm); berasal dari folikel ovarium yang gagal mengalami involusi atau gagal
meresorpsi cairan. Dapat multiple, bilateral dan biasanya asimtomatik.
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung
telur yang fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh
penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus
menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya bersifat bilateral dan berisi cairan bening,
berwarna seperti jerami dan biasanya berhubungan dengan tipe lain dari
tumor indung telur, serta terapi hormon.
2.1.4 Klasifikasi
1. Tumor Ovarium Non Neoplastik
-

Tumor akibat radang : abses tubo ovarial, abses ovarial, dan kista tubo

ovarial.
Tumor lain :
a. Kista folikel
b. Kista korpus luteum
c. Kista Teka Lutein
d. Kista Inklusi Germinal
e. Kista Endometrium
f. Kista Stein-Leventhal
-

1. Tumor Ovarium neoplastik Jinak Tumor Kistik


a. Kista Ovarii Simpleks
b. Kistadenoma Ovarii Musinosum
c. Kistadenoma Ovarii Serosum
d. Kista Endometrioid
e. Kista Dermoid
2. Kista ovarium pada kehamilan
3. Kistoma Ovarium Permagna
2.1.5 Manifestasi Klinis
Kebanyakan wanita dengan tumor ovarium tidak menimbulkan gejala
dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak
spesifik. Sebagian gejala dan tanda adalah akibat dari pertumbuhan,
aktivitas endokrin, atau komplikasi tumor tersebut. Adanya tumor dapat

menyebabkan pembesaran pada perut dan perasaan penuh pada perut. Rasa
sakit atau tidak nyaman pada perut bagian bawah. Rasa sakit tersebut akan
bertambah jika kista tetsebut terpuntir atau terjadi ruptur.
Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Pada umumnya tumor
ovarium tidak mengubah pola haid, kecuali jika tumor tersebut
mengeluarkan hormon. Ireguleritas siklus menstruasi dan pendarahan
vagina yang abnormal dapat terjadi. Pada anak muda, dapat menimbulkan
menarche lebih awal.
Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih mungkin
terjadi konstipasi atau sering berkemih. Kista ovarium dapat menyebabkan
konstipasi karena pergerakan usus terganggu atau dapat juga terjadi
penekanan dan menyebabkan defekasi yang sering. Pada tumor yang besar
dapat terjadi tidak adanya nafsu makan dan rasa enak dan rasa sesak. Dapat
juga terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan
nyeri spontan atau nyeri pada saat bersenggama. 10
Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya
asites (penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum
(lemak perut), dan organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usususus dan hati. Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan,
gangguan buang air besar dan buang air kecil. Penumpukan cairan bisa juga
terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada yang
mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas. Pada keganasan, dapat
ditemukan penurunan berat badan yang drastis.10

2.1.6 Diagnosis
Anamnesa
Pada anamnesa rasa sakit atau tidak nyaman pada perut bagian
bawah. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika kista tersebut terpuntir atau
terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut. Tekanan terhadap alat-alat

di sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan miksi dan


defekasi. Dapat terjadi penekanan terhadap kandung kemih sehingga
menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering.
Pemeriksaan Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada
wanita premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini
adalah abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan
menjadi sulit pada pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile,
permukaan massa umumnya rata. Cervix dan uterus dapat terdorong pada
satu sisi. Dapat juga teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul pada
ligamentum uterosakral, ini merupakan keganasan atau endometriosis.
Padaperkusi mungkin didapatkan ascites yang pasif.10
Pemeriksaan Penunjang
Tidak jarang tentang penegakkan diagnosis tidak dapat diperoleh
kepastian sebelum dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat
dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu
dalam pembuatan differensial diagnosis. 10
Beberapa cara pemeriksaan yang dapat digunakan untuk membantu
menegakkan diagnosis adalah :
1. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.
Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi
dalam tumor.
2. Ultrasonografi
USG adalah alat diagnostik imaging yang utama untuk kista ovarium.
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor
kistik atau solid, dan dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga
perut yang bebas dan yang tidak.

Kista simpleks bentuknya unilokular, dindingnya tipis, satu cavitas yang


didalamnya tidak terdapat internal echo. Biasanya jenis kista seperti ini
tidak ganas, dan merupakan kista fungsioal, kista luteal atau mungkln
juga kistadenoma serosa atau kista inklusi.
Kista kompleks multilokular, dindingnya menebal terdapat papul ke
dalam lumen. Kista seperti ini biasanya maligna atau mungkin juga kista
neoplasma benigna.
USG sulit membedakan kista ovarium dengan hidrosalfing, paraovarian
dan kista tuba. USG endovaginal dapat memberikan pemeriksaan
morfologi yang jelas daristruktur pelvis. Pemeriksaana ini tidak
memerlukan kandung kemih yang penuh.
USG transabdominal lebih baik dari endovaginal untuk mengevaluasi
massa yang besar dan organ intrabdomen lain, seperti ginjal, hati dan
ascites. Ini memerlukan kandung kemih yang penuh.
3. CT Scan
Untuk mengidentifikasi kista ovarium dan massa pelvik, CT Scan kurang
baik

bila

dibanding

dengan

MRI.

CT

Scan

dapat

dipakai

untukmengidentifikasi organ intraabdomen dan retroperitoneum dalam


kasus keganasan ovarium.
4. MRI
MRI memberikan gambaran jaringan lunak lebih baik dari CT scan,
dapat memberikan gambaran massa ginekologik yang lebih baik. MRI ini
biasanya tidak diperlukan
5. Pengukuran serum CA-125
Tes darah dilakukan dengan mendeteksi zat yang dinamakan CA-125,
CA-125 diasosiasikan dengan kanker ovarium. Dengan ini diketahui
apakah massa ini jinak atau ganas.
6. Laparoskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor
berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor
itu.

7. Parasintesis
Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu
diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum
peritonei.
2.1.7 Penatalaksanaan
Dapat dipakai prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan
operasi dan tumor non-neoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium
yang tidak memberikan gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya
tidak melebihi 5 cm diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut adalah
kista folikel atau kista korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut
mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga perlu
diambil sikap untuk menunggu selama 2-3 bulan, jika selama waktu
observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat
neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif.10
Jika wanita usia reproduksi yang masih ingin hamil, berovulasi teratur
dan tanpa gejala, dan hasil USG menunjukkan kista berisi cairan, dokter
tidak memberikan pengobatan apapun dan menyarankan untuk pemeriksaan
USG ulangan secara periodic untuk melihat apakah ukuran kista membesar.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas
adalah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian
ovarium yang mengandung tumor. Tetapi jika tumornya besar atau ada
komplikasi perlu dilakukan pengangkatan ovarium, disertai dengan
pengangkatan

tuba

(salphyngoooforektomi).

Seluruh

jaringan

hasil

pembedahan perlu dikirim ke bagian patologi anatomi untuk diperiksa.


Pasien dengan kista ovarium simpleks biasanya tidak membutuhkan
terapi. Penelitian menunjukkan bahwa pada wanita postmenopause, kista
yang berukuran kurang dari 5 cm dan kadar CA 125 dalam batas normal,
aman untuk tidak dilakukan terapi, namun harus dimonitor dengan

pemeriksaan USG serial. Sedangkan untuk wanita premenopause, kista


berukuran kurang dari 8 cm dianggap aman untuk tidak dilakukan terapi.
Terapi bedah diperlukan pada kista ovarium simpleks persisten yang
lebih besar 10 cm dan kista ovarium kompleks. Laparoskopi digunaknan
pada pasien dengan kista benigna, kista fungsional atau simpleks yang
memberikan keluhan. Laparotomi harus dikerjakan pada pasien dengan
resiko keganasan dan pada pasien dengan kista benigna yang tidak dapat
diangkat dengan laparaskopi.Eksisi kista dengan konservasi ovarium
dikerjakan pada pasien yang menginginkan ovarium tidak diangkat untuk
fertilitas di masa mendatang.
Diperlukan konsultasi dengan ahli endokrin reproduksi dan infertilitas
untuk endometrioma dan sindrom ovarium polikistik. Konsultasi dengan
onkologi ginekologi diperlukan untuk kista ovarium kompleks dengan
serum CA 125 lebih dari 35 U/ml dan pada pasien dengan riwayat
karsinoma ovarium pada keluarga.
Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi dilakukan
penteriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli
patologi anatomik untuk mendapat kepastian tumor ganas atau tidak.
Untuk tumor ganas ovarium, pembedahan merupakan pilihan utama.
Prosedurnya adalah total abdominal histerektomi, bilateral salfingoooforektomi, dan appendiktomi (optional). Tindakan hanya mengangkat
tumornya saja (ooforektomi atau ooforokistektomi) masih dapat dibenarkan
jika stadiumnya ia masih muda, belum menpunyai anak, dan derajat
keganasan tumor rendah.
Radioterapi hanya efektif untuk jenis tumor yang peka terhadap radisi,
disgerminoma dan tumor sel granulosa. Kemoterapi menggunakan obat
sitostatika seperti agens alkylating (cyclophosphamide, chlorambucyl) dan
antimetabolit (adriamycin). FoIlow up tumor ganas sampai 1 tahun setelah
penanganan setiap 2 bulan, kemudian 4 bulan selama 3 tahun setiap 6 bulan
sampai 5 tahun dan seterusnya setiap tahun sekali.

10

2.1.8 Komplikasi
Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas
terjadinya kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme
terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan pada wanita yang
berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap
kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
Dapat terjadi perdarahan ke dalam kista, biasanya terjadi sedikitsedikit, berangsur-angsur menyebabkan pembesaran kista, dan hanya
menimbulkan gejala klinik yang minimal. Tetapi bila dalam jumlah banyak
akan terjadi distensi cepat dan nyeri perut mendadak.
Putaran tangkai dapat terjadi pada kista yang berukuran diameter 5 cm
atau lebih. Putaran tangkai menyebabkan gangguan sirkulasi meskipun
gangguan ini jarang bersifat total. Torsio kista dapat menimbulkan rasa sakit
yang berat akibat tarikan melalui ligamentum infundibulopelvikum terhadap
peritoneum parietale. Robekan dinding kista terjadi pada torsi tangkai, tetapi
dapat pula akibat trauma yaitu jatuh, pukulan pada perut dan coitus. Bila
kista hanya mengandung cairan serosa, rasa nyeri akbat robekan akan segera
berkurang. Namun bila terjadi hemoragi yang timbul secara akut,
perdarahan bebas dapat berlangsung terus menerus dalam rongga
peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus menerus disertai tanda-tanda
abdomen akut.Infeksi dapat terjadi, jika dekat tumor terdapat sumber kuman
patogen, seperti appendicitis, divertikulitis, atau salpingitis akuta.
Perubahan keganasan dapat terjadi pada kista jinak, misalnya pada
kista denoma ovarii derosum, kistadenoma ovarii musinosum dan kista
dermoid.Sindroma Meigs ditemukan pada 40% dari kasus febroma ovarii
yaitu tumor ovarium disertai asites dan hidrotoraks.10
2.1.9 Prognosis
Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat
tumbuh di jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral.10

11

Umumnya kista ovarium pada wanita usia subur akan menghilang


dengan sendirinya dalam 1 sampai 3 bulan. Meskipun ada diantaranya yang
pecah namun tidak akan menimbulkan gejala yang berarti.Kista jenis ini
termasuk jinak dan tidak memerlukan penanganan medis. Kista biasanya
ditemukan secara tidak sengaja saat dokter melakukan pemeriksaan USG.
Meskipun

demikian,

pengawasan

tetap

harus

dilakukan

terhadap

perkembangan kista sampai dengan beberapa siklus menstruasi. Bila


memang ternyata tidak terlalu bermakna maka kista dapat diabaikan karena
akan mengecil sendiri.
Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan
dengan stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan
ini sering ditemukan sudah dalam stadium akhir. Angka harapan hidup
dalam 5 tahun rata-rata 41.6%, bervariasi antara 86.9% untuk stadium FIGO
Ia dan 11.1% untuk stadium IV.12 Tumor sel granuloma memiliki angka
bertahan hidup 82% sedangakan karsinoma sel skuamosa yang berasal dari
kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.
Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium
awal memiliki prognosis yang sangat baik. Disgerminoma dengan stadium
lanjut berkaitan dengan prognosis yang lebih baik dibandingkan germinal
sel tumor nondisgerminoma. Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi
keganasan yang rendah mempunyai sifat yang lebih jinak tetapi tetap
berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara keseluruhan angka
bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86.2%.

2.2. KISTA DERMOID


2.2.1.Definisi
Kista dermoid adalah satu teratoma yang jinak di mana strukturstruktur ektodermal dengan differensiasi sempurna, seperti epitel kulit,
rambut, gigi dan produk glandula sebasea berwarna putih kuning
menyerupai lemak nampak lebih menonjol daripada elemen-elemen
entoderm dan mesoderm.4

12

Kista dermoid merupakan suatu massa kistik yang dilapisi oleh epitel
gepeng disertai adanya struktur adneksa seperti kelenjar sebasea, rambut,
folikel rambut, serta struktur lain seperti tulang, otot, dan kartilago. Kista
dermoid dapat bersifat kongenital atau didapat, walaupun secara klinis
dan histopatologis tidak terdapat perbedaan diantara keduanya.5
Pada tahun 1955, Meyer mengemukakan konsep bahwa secara
histologis terdapat 3 varian kista dermoid yaitu kista epidermoid, kista
dermoid dan teratoid. Pada jenis epidermoid, kista dilapisi oleh epitel
gepeng tanpa disertai adneksa. Sedangkan pada kista dermoid, selain
dilapisi oleh epitel gepeng, juga disertai adneksa seperti rambut, folikel
rambut dan kelenjar sebasea. Pada teratoid, selain epitel berlapis
gepeng dan adneksa, juga ditemukan

adanya elemen mesoderm seperti

otot, tulang, dan kartilago.6


Kista dermoid sama halnya dengan kista mosinosum yang dibutuhkan
kehati-hatian pada ibu hamil. Hal ini dikarenakan jika kista tersebut meletus
akan mengeluarkan cairan lengket dan isi cairan tersebut akan masuk ke
dalam perut dan bisa mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa.6
Kista dermoid terjadi karena jaringan telur tidak dibuahi. Kemudian
tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang dan lemak. Kista
ini dapat terjadi pada dua indung telur dan biasanya tanpa gejala. Timbul
gejala rasa sakit apabila kista terpuntir atau pecah.
Tidak ada ciri-ciri yang khas pada kista dermoid :6
1. Dinding kista kelihatan putih keabu-abuan, dan agak tipis.
2. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, dibagian lain padat.
3. Sepintas lalu terlihat seperti kista berongga satu, tetapi bila dibelah,
biasanya nampak satu kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam
dindingnya.
4. Pada umunya terdapat satu daerah pada dinding bagian dalam, yang
menonjol dan padat.
5. Tumor mengandung elemen-elemen ektodermal, mesodermal, dan
entodermal. Maka dapat ditemukan kulit, rambut, kelenjar sebase, gigi,

13

tulang

rawan,

serat

otot

jaringan

ikat,

dan

mukosa

traktus

gastrointestinal, epitel saluran pernapasan, dan jaringan tiroid.


6. Bahan yang terdapat dalam rongga kista ialah produk dari kelenjar sebasea
berupa massa lembek sperti lemak, bercampur dengan rambut.
7. Pada kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai dengan gejala nyeri
mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan pula terjadinya
sobekan dinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga
peritoneum.

2.2.2 Epidemiologi
Kista dermoid adalah sejenis tumor sel germ. Kista ini bersifat jinak
dan jumlahnya sekitar 10%. Pada umumnya kista dermoid terjadi pada
wanita yang berusia dibawah 20 tahun. Hampir 85% teratoma matur
terdapat pada wanita usia 16-55 tahun, dengan rata-rata umur 32-35 tahun.
Angka kejadian kista dermoid adalah sekitar 25-40% dari neoplasma
ovarium dan 95% dari semua teratoma ovarium. Sering timbul pada dekade
kedua dan ketiga. Usia paska menopause berkisar 10-20%. Di Indonesia
frekuensi berkisar antara 11,1% sampai 16,9%. Resiko transformasi maligna
dijumpai pada 1-2% kasus dan pada umumnya terjadi pada wanita paska
menopause.8

14

2.2.3. Etiologi
Penyebabnya saat ini belum diketahui secara pasti. Namun ada salah
satu pencetusnya yaitu faktor hormonal, kemungkinan faktor resiko yaitu:13
1. Faktor genetik/ mempunyai riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan
payudara.
2. Faktor lingkungan (polutan zat radio aktif)
3. Gaya hidup yang tidak sehat
4. Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, misalnya akibat
penggunaan obat-obatan yang merangsang ovulasi dan obat pelangsing
tubuh yang bersifat diuretik.
5. Kebiasaan menggunakan bedak tabur di daerah vagina.
Kista ini diduga berasal dari sel telur melalui proses parthenogenesis.
Kista ini terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi.
Perkembangan tidak sempurna dari hasil konsepsi pada akhir stadium
blastomer. Tumor berasal dari perkembangan ovum tanpa fertilisasi yang
oleh pengaruh faktor rangsang yang tidak diketahui kemudian membentuk
bermacam macam komponen jaringan janin yang tidak sempurna, seperti
rambut, tulang dan lemak. Kista dapat terjadi pada dua indung telur dan
biasanya tanpa gejala. Timbul gejala rasa sakit apabila kista terpuntir atau
pecah.10
2.2.4 Gambaran Klinis
Gambaran klinis adalah nyeri mendadak di perut bagian bawah karena
torsi tangkai kista dermoid. Dinding kista dapat ruptur sehingga isi kista
keluar di rongga peritoneum. Bentuk cairan ini seperti mentega,
kandunganya tidak hanya cairan tapi juga partikel lain seperti rambut, gigi,
tulang atau sisa-sisa kulit. Seperti kista mosinosum juga sama dengan kista
dermoid memerlukan hati-hati pada ibu hamil karena bila meletus akan
mengakibatkan cairan lengket isi cairanya seperti rambut, gigi atau tulang
bisa masuk perut akan mengakibatkan dan menimbulkan sakit luar biasa.11

15

Gejala kista dermoid yang sering timbul, yakni :


1. Adanya massa tumor
2. Nyeri pada perut
3. Gangguan miksi
4. Nyeri pada punggung

Makroskopis kista dermoid adalah kista dengan permukaan luar licin,


warna putih keabuan dan agak tipis. Konsitensi tumor sebagian kistik,
kenyal dan dibagian lain padat. Kista dermoid kelihatan seperti kista
berongga satu, tapi bila dibelah biasanya nampak suatu kista besar dengan
ruangan kecil kecil dalam dindingnya.12
a. Ektodermal : kulit, rambut, kelenjar sebasea, gigi
b. Mesodermal : tulang rawan , serat otot , jaringan ikat
c. Endodermal : mukosa traktus gastrointestinal , epitel saluran nafas dan
jaringan tiroid
Dalam rongga kista sering dijumpai produk dari kelenjar sebasea
berupa masa lembek seperti lemak bercampur dengan rambut. Rambut ini
terdapat beberapa lembar saja, tetapi dapat berupa gelondongan seperti
konde. Teratoma jinak ini dapat terapung di dalam rongga abdomen dan
dengan tangkai ovarium yang memanjang menyebabkan dapat terletak di
depan dan kadang diatas uterus.12
2.2.5 Diagnosis
Anamnesa
Pada anamnesa rasa sakit atau tidak nyaman pada perut bagian
bawah. Rasa sakit tersebut akan bertambah jika kista tersebut terpuntir atau

16

terjadi ruptur. Terdapat juga rasa penuh di perut. Tekanan terhadap alat-alat
di sekitarnya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman, gangguan miksi dan
defekasi. Dapat terjadi penekanan terhadap kandung kemih sehingga
menyebabkan frekuensi berkemih menjadi sering.
Pemeriksaan Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada
wanita premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini
adalah abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan
menjadi sulit pada pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile,
permukaan massa umumnya rata. Cervix dan uterus dapat terdorong pada
satu sisi. Dapat juga teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul pada
ligamentum uterosakral, ini merupakan keganasan atau endometriosis.
Padaperkusi mungkin didapatkan ascites yang pasif.10

Pemeriksaan Penunjang
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah
tumor berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan silat-sifat
tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor
apakah tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing,
apakah tumor kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan pula antara
cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.
3. Foto Rontgen

17

Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.


Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam
tumor. Penggunaan foto rontgen pada pictogram intravena dan
pemasukan bubur barium dalam colon disebut di atas.
4. Parasentesis
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan
sebab asites. Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat
mencemarkan cavum peritonei dengan kista bila dinding kista tertusuk.13

Kista dermoid

memiliki gambaran masa kistik berisi focus dan

material ekogenik dimana distribusinya tidak merata atau gambaran sebuah


area dengan ekogenik kuat berasal dari jaringan tulang dan gigi. Proses
penulangan dan gigi dapat juga dilihat melalui pemeriksaan radiologist.2

2.2.6. Penatalaksanaan
Tindakan laparoskopi atau laparotomi merupakan pilihan penanganan
untuk kista dermoid, namun harus dipertimbangkan keuntungan dan
kerugiannya. Beberapa peneliti menyebutkan tindakan laparoskopi dapat
menyebabkan terjadi tumor spill dan bisa menyebabkan peritonitis 0,2%
serta meningkatkan terjadinya perlengketan. Resiko terjadi rekurensi 4%
dan resiko keganasan sekitar 0,17%-2%. Pada kista dermoid >6 cm atau ada
riwayat pembedahan dengan sangkaan perlengketan maka laparotomi
merupakan pilihan terbaik. Kistektomi dengan meninggalkan jaringan
ovarium yang sehat bagi pasien yang masih ingin mempertahankan fungsi
reproduksinya.

Ooforektomi

bila

memang

tidak

memungkinkan

mempertahankan jaringan ovarium atau fungsi reproduksi tidak diperlukan


atau pasien mendekati usia menopause.13
18

Pada kehamilan dengan teratoma matur, penanganan sebaiknya dilihat


dari ukuran kista tersebut serta usia kehamilan. Pada kehamilan
kemungkinan terjadi torsi kista sebesar 19%, ruptur atau pecahnya kista
teratoma sekitar 3%, 14% menimbulkan obstruksi. Kemungkinan terjadi
keganasan sekitar 5%. Beberapa peneliti merekomendasikan bila besar
tumor lebih dari 6cm dan usia kehamilan 16 minggu, maka sebaiknya
tindakan laparoskopi lebih aman dilakukan dibandingkan dengan tindakan
laparotomi, bahkan pada satu penelitian menyebutkan bisa terjadi abortus
spontan serta kemungkinan terjadi peningkatan persalinan preterm.6,8,10
Sedangkan penanganan kista dermoid pada anak-anak yaitu dengan
cara tradisional (ooforektomi) dan laparotomi. Pada usia dewasa
penanganannya laparoskopi-kistektomi. Sedangkan untuk kasus kista yang
ukurannya lebih besar dan dicurigai ada keganasan, maka pendekatan lebih
kepada tindakan laparotomi.10
2.2.7 Prognosis
Resiko transformasi maligna dijumpai pada 1-2% kasus dan pada
umumnya terjadi pada wanita paska menopause.6
2.2.8 Komplikasi
Kista dermoid sering menimbulkan berbagai komplikasi. Adapun
komplikasi yang sering timbul adalah :10
1. Torsi Kista
Torsi kista ini sering menimbulkan keluhan akut abdomen yang
menetap. Ukuran kista yang bisa menyebabkan torsi adalah kista dengan
ukuran kecil dan sedang. Insidensi torsi kista sekitar 16% dan umumnya
pergerakan torsi searah dengan pergerakan jarum jam.
2. Ruptur Kista

19

Terjadinya ruptur atau perforasi tergantung ketebalan kapsul kista,


hal yang mempermudah terjadinya ruptur adalah adanya torsi kista dan
bila terjadi ruptur akan menimbulkan peritonitis.
3. Keganasan
Proporsi tipe epidermoid paling sering timbul, sekitar 1-3%
kemudian di ikuti oleh tipe sarkoma dan melanoma malignan. Prognosis
tergantung intak atau tidak intaknya kapsul kista dermoid, bila kapsul
kista masih intak dan tidak ada metastase ekstra ovarium maka prognosis
umumnya baik. Tumor carcinoid bisa timbul dan berasal dari saluran
pencernaan dan bermetastase ke ovarium.
4. Anemia
Anemia terdapat pada kista dermoid, hal ini berhubungan dengan
pengangkatan massa tumor.

20

BAB III
KESIMPULAN
Kista dermoid adalah satu teratoma yang jinak di mana strukturstruktur ektodermal dengan differensiasi sempurna, seperti epitel kulit,
rambut, gigi dan produk glandula sebasea berwarna putih kuning
menyerupai lemak nampak lebih menonjol daripada elemen-elemen
entoderm dan mesoderm.
Kista ini diduga berasal dari sel telur melalui proses parthenogenesis.
Tumor berasal dari perkembangan ovum tanpa fertilisasi yang oleh
pengaruh faktor rangsang yang tidak diketahui kemudian membentuk
bermacam macam komponen jaringan janin yang tidak sempurna, seperti
rambut, tulang dan lemak. Kista dapat terjadi pada dua indung telur dan
biasanya tanpa gejala. Timbul gejala rasa sakit apabila kista terpuntir atau
pecah.
Tindakan laparoskopi atau laparotomi merupakan pilihan penanganan
untuk kista dermoid, namun harus dipertimbangkan keuntungan dan
kerugiannya. Beberapa peneliti menyebutkan tindakan laparoskopi dapat
menyebabkan terjadi tumor spill dan bisa menyebabkan peritonitis 0,2%
serta meningkatkan terjadinya perlengketan. Resiko terjadi rekurensi 4%
dan resiko keganasan sekitar 0,17%-2%. Pada kista dermoid >6 cm atau ada
riwayat pembedahan dengan sangkaan perlengketan maka laparotomi
merupakan pilihan terbaik.

DAFTAR PUSTAKA

21

1. Adriansz G. Tumor Jinak Organ Genitalia. Dalam: Ilmu Kandungan. Edisi


ketiga. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2011.
2. Bagian obstetric dan Ginekologi F.K. Unpad. 1993. Ginekologi Elster :
Bandung
3. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, Hauth JC, Wenstrom KD.
Obstetri Williams. Edisi ke-21. Vol. 2. Jakarta: ECG; 2009.
4. DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. Current Diagnosis &
Treatment Obstetrics & Gynecology. 10th ed. New York: McGraw-Hill; 2007.
5. Doenchoelter, Johan H (1988). Ginekologi Greeenhill. Terjemahan Chandra
Sanusi. Edisi 120. EGC. Jakarta.
6. Katz VL. Benign Gynecologic Lesions : Vulva, Vagina, Cervix, Uterus,
Oviduct, Ovary. In: Katz VL, Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, editors.
Comprehensive Gynecology. 5th ed. Philadelphia; Elsevier: 2007.
7. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Tumor
Ovarium Neoplastik Jinak. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Jakarta:
Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.
8. Media Aesculapius. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 1.
Media Aesculapius. FKUI.
9. Moeloek FA, Nuranna L, Wibowo N, Purbadi S. Standar Pelayanan Medik
Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia; 2008.
10. Pernolls & ML. Transverse Lie In : Benson & Pernoll handbook of Obstetrics
& Ginecology, 10th ed. Mcgraw-Hill International Edition, America, 1994.
11. Sastrawinata, Sulaiman. dkk. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri
Patologi.Edisi 2. Jakarta: EGC
12. Sindroma ovarium polikistik. Hadibroto, Budi R. Departemen Ostetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2005.
13. Wiknjosastro, H. 2007. Ilmu Kebidanan. Edisi ke-9. Jakarta: Yayasan
BinaPustaka Sarwono Prawirohardjo.
14. Burke TW, Morris M. Secondary cytoreduction operations, in ovarian cancer,
ed by Rubai SC and Sutton GP, Lippincot Williams & Wilkins, Philadelphia
USA, 2001; second ed; 289-300.
15. Junqueira LC, et al, In : Basic Histology, Text & Atlas, 11th ed. Mc graw LANGE
2005
16. Winknjosastro H. Ilmu Kebidanan Edisi IV,cetakan lima. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Balai Penerbit FK UI. Jakarta. 2008.

22