Anda di halaman 1dari 9

REPUBLIKA.CO.

ID,JAKARTA--Para pengusaha pemegang izin usaha Hutan


Tanaman Industri (HTI) tak perlu khawatir terhadap moratorium hutan yang
dilakukan pemerintah dengan Norwegia. Moratorium hutan tidak akan
menghalang-halangi atau melarang usaha HTI dalam negeri yang sudah berjalan
puluhan tahun.
Hal itu dikatakan Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, dalam diskusi bertema
'Membangun HTI, Menurunkan Emisi Karbon', di Jakarta, Kamis (17/6). Menurut
Zulkifli, HTI yang sudah ada akan tetap beroperasi seperti biasa karena letter of
intent antara Indonesia dengan Norwegia hanya melarang konversi hutan alam
dan lahan gambut. ''Jadi unit manajemen HTI yang sudah beroperasi, termasuk
di lahan gambut, tetap dapat melanjutkan kegiatannya. Tak perlu khawatir,''
ujarnya.
Moratorium hutan dilakukan pemerintah bersama dengan Norwegia dengan
tujuan mengurangi emisi gas karbon. Dalam moratorium tersebut, Norwegia
akan menggulirkan dana sekitar satu miliar dolar AS dengan konsesi Indonesia
harus menjaga kawasan hutan yang dimilikinya. Masalah terjadi karena dalam
letter of intent moratorium tidak dikenal kategorisasi hutan sesuai fungsi yang
dijalankannya. Padahal, HTI merupakan usaha pemanfaatan hutan yang
menggunakan kawasan hutan alam.
Menhut melanjutkan, kecuali tetap mengoperasikan HTI yang sudah ada, tahun
ini pemerintah menargetkan pembangunan HTI baru seluas 500 ribu hektare. HTI
adalah salah satu cara pemerintah dalam memanfaatkan kawasan hutan guna
memberikan kesejahteraan pada rakyat.

Manajemen Hutan Lestari (SFM), Social


Forestry dan REDD+
27
Jun 2011
OLEH Budhy Kristanty

Komunitas masyarakat hutan di desa Pelaik, Danau Sentarum, Kalimantan Barat - Indonesia
@CIFOR/Ryan Woo
Brunei Darussalam, 27 Juni 2011 REDD+ dapat menjadi salah satu usaha untuk
mendorong isu pengelolaan hutan lestari atau lebih dikenal dengan sustainable forest
management, melalui pelaksanaan social forestry di masyarakat. Keinginan ini muncul pada
saat selama berlangsungnya konferensi dua hari jejaring social forestry ASEAN atau ASEAN
social forestry network di Brunei Darussalam, 21-22 Juni lalu.
Menurut Gladi Hardiyanto, community forest officer dari Lembaga Ekolabel Indonesia,
Konsep REDD+ saat ini harusnya mendahulukan SFM dalam pelaksanaan kegiatan. Jangan
terbalik. SFM harusnya adalah payung dari REDD+. Manajemen hutan lestari merupakan
konsep pengelolaan hutan lestari yang menjalankan fungsi ekologis dan fungsi ekonomis
hutan dengan pelibatan masyarakat didalamnya. Saat ini SFM sukses dalam pelaksanaanya di
bidang bisnis, yakni sebagai usaha untuk menunjukkan pelaksanaan bisnis yang sesuai kaidah
lestari seperti model reduced impact logging (pembalakan berdampak rendah mengurangi
dampak penebangan hutan) di perusahaan HPH. Akibatnya, konsep SFM bagi masyarakat
hutan belum terkenal dan masih harus terus berjuang untuk membuktikan keberhasilan
konsep ini.
Bernadus Steni dari HUMA menyatakan bahwa SFM penting karena adanya perhatian akan
unsur hak-hak masyarakat di dalam konsepnya. Indonesia sudah cukup responsif dalam
menempatkan social forestry. Menteri kehutanan pernah berkata bahwa konsep REDD
bukanlah ijin baru di Kemenhut, hal ini berarti adanya sikap pemerintah untuk mendukung
manfaat REDD bagi masyarakat melalui perluasan ijin SF antara lain lewat ijin pengelolaan
hutan oleh masyarakat seperti hutan kemasyarakatan (HKM), hutan desa, dan lain-lain
meskipun di sisi lain pemerintah juga kepayahan dalam soal land tenure bagi masyarakat.
Bagi Indonesia, hakekat pelaksanaan REDD+ sebenarnya sudah dilaksanakan di dalam
pengelolaan SFM yang lama melekat dalam pengelolaan hutan Indonesia sejak tahun 1990.
Terkait dengan social forestry, Dr. Moira Moeliono, peneliti senior asosiasi dari CIFOR
menyatakan, Social forestry dapat merupakan salah satu opsi untuk mendukung keberhasilan
REDD+. Hal ini dapat berarti, social forestry sebagai jembatan bagi praktik SFM menuju
keberhasilan REDD+. Dapat dianalogikan, social forestry adalah gagang payung tempat
dimana pegas penggerak payung berada, REDD+ adalah gagang dan jari jari payung, SFM
adalah lembaran penutup payung yang menjadikan bentuk payung menjadi sempurna.
Hakikat REDD+
REDD+ sepatutnya dilihat bukan hanya sekedar karbon. Menurut Steni, Bila tidak
diarahkan, kebanyakan orang akan berpikir mengenai perdagangan, keuntungan dan hasil
yang akan diperoleh dari REDD+. Menurut Dr. Moira, Masyarakat masih jauh dari
pemahaman REDD+ yang sebenarnya. Mengerti apa itu karbon saja susah. Jadi bila
diterangkan dengan hal-hal yang sudah ada di konsep tradisional mereka, hal itu dapat
membantu ujarnya.
Pernyataan diatas dapat menjadi alasan bahwa sudah sepatutnya pengertian REDD+
didudukkan kepada hakikat dasar dan diterangkan secara sederhana. REDD+ sepatutnya

merupakan elemen untuk pengelolaan hutan lestari, yang mampu mencegah kerusakan hutan
secara intensif dan dapat membantu mengurangi emisi.
Dalam pelaksanaan REDD+, banyak pihak mensyarakatkan bahwa REDD+ tidak
berbenturan dengan pembangunan kehutanan serta menghormati hak indigenous people dan
masyarakat lokal. Sehingga patut mendahulukan pelaksanaan konsep manajemen hutan
lestari yang mengelola fungsi ekologis dan ekonomis hutan di masyarakat, bukan terbalik
dengan euforia REDD+ saat ini yang justru mengecilkan peranan dari SFM.
Penebangan liar
Pembalakan liar atau penebangan liar (bahasa Inggris: illegal logging) adalah
kegiatan penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau
tidak memiliki izin dari otoritas setempat.
Walaupun angka penebangan liar yang pasti sulit didapatkan karena aktivitasnya
yang tidak sah, beberapa sumber tepercaya mengindikasikan bahwa lebih dari
setengah semua kegiatan penebangan liar di dunia terjadi di wilayah-wilayah
daerah aliran sungai Amazon, Afrika Tengah, Asia Tenggara, Rusia dan beberapa
negara-negara Balkan.
Menurut konsep manajemen hutan sebetulnya penebangan adalah salah satu
rantai kegiatan yaitu memanen proses biologis dan ekosistem yang telah
terakumulasi selama daur hidupnya. Penebangan sangat diharapkan atau jadi
tujuan, tetapi harus dicapai dengan rencana dan dampak negatif seminimal
mungkin (reduced impact logging). Penebangan dapat dilakukan oleh siapa saja
asal mengikuti kriteria pengelolaan hutan lestari (sustainable forest
management), tetapi kegiatan penebangan liar (illegal logging) bukan dalam
kerangka konsep manajemen hutan.
Penebangan liar dapat didefinisikan sebagai tindakan menebang kayu dengan
melanggar peraturan kehutanan. Tindakan ini adalah sebuah kejahatan yang
mencakup kegiatan seperti menebang kayu di area yang dilindungi, area
konservasi dan taman nasional, serta menebang kayu tanpa ijin yang tepat di
hutan-hutan produksi.
Mengangkut dan memperdagangkan kayu illegal dan produk kayu illegal juga
dianggap sebagai kejahatan kehutanan. Dimana kayu yang dianggap legal
adalah kayu yang bersumber dari :
HPH (konsesi untuk kayu di hutan produksi dengan ijin dari Dephut);
HTI di hutan produksi (ijin konsesi hutan tanaman oleh Dephut);
IPK HTI dengan stok tebangan < 20 m (ijin tebangan oleh Pemprov mewakili
pemerintah pusat);
IPK Kebun (ijin tebangan oleh Pemprov mewakili pemerintah pusat);
Hutan rakyat (di luar kawasan hutan);

Ijin Bupati untuk pelaksanaan penebangan di luar batas kawasan hutan, untuk
industri dan/atau masyarakat adat;
Hutan kemasyarakatan (HKm) (ijin hutan rakyat di hutan produksi di keluarkan
oleh Dephut);
HPH kecil (ijin 5000 ha kayu hutan alam berlaku untuk 25 tahun, dikeluarkan
oleh Bupati antara 27 Januari 1999 dan 8 Juni 2002) jika potensi kayunya masih
ada;
KDTI (dikeluarkan oleh Dephut kepada Masyarakat Adat Pesisir, Krui, Lampung
Barat);
Konsesi Kopermas yang disahkan oleh Menteri Kehutanan dan atau dikeluarkan
antara 27 Januari 1999 dan 8 Juni 2002;
Impor yang sah;
Lelang yang sah (Petunjuk yang jelas harus disusun untuk mengidentifikasi
pelelangan yang sah, untuk menghindari permainan pengesahan kayu ilegal).
Sedangkan kayu yang ilegal adalah kayunya berasal dari :
Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung;
Ijin Bupati di dalam kawasan hutan (misalnya IPKTM, HPHH, IPPK) yang
diterbitkan setelah 8 Juni 2002;
IPK HTI dengan stok tebangan >20m3;
Konsensi Kopermas yang dikeluarkan oleh Pemrerintah Daerah setelah
Desember 2004.
AKTOR DAN POLA ILLEGAL LOGGING
Banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan illegal logging, jika pelakunya hanya
masyarakat sekitar hutan yang miskin tentu saja tindakan ini dengan mudahnya
dapat dihentikan oleh aparat kepolisian. Dari hasil identifikasi aktor pelaku illegal
logging, terdapat 6 (enam) aktor utama, yaitu :
1) Cukong
Cukong yaitu pemilik modal yang membiayai kegiatan penebangan liar dan yang
memperoleh keuntungan besar dari hasil penebangan liar. Di beberapa daerah
dilaporkan bahwa para cukong terdiri dari : anggota MPR, anggota DPR, pejabat
pemerintah (termasuk para pensiunan pejabat), para pengusaha kehutanan,
Oknum TNI dan POLRI.

2) Sebagian masyarakat
Khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan maupun yang didatangkan,
sebagai pelaku penebangan liar (penebang, penyarad, pengangkut kayu curian)
3) Sebagian pemilik pabrik pengolahan kayu (industri perkayuan), skala besar,
sedang dan kecil : sebagai pembeli kayu curian (penadah)
4) Oknum pegawai pemerintah (khususnya dari instansi kehutanan) yang
melakukan KKN ; memanipulasi dokumen SAKB (SKSHH) ; tidak melaksanakan
tugas pemeriksaan sebagaimana mestinya
5) Oknum penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, TNI) yang bisa dibeli dengan
uang sehingga para aktor pelaku penebangan liar, khususnya para cukong dan
penadah kayu curian dapat terus lolos (dengan mudah) dari hukuman (praktek
KKN). Oknum TNI dan POLRI turut terlibat, termasuk ada yang mengawal
pengangkutan kayu curian di jalan-jalan kabupaten/propinsi
6) Pengusaha asing : penyelundupan kayu hasil curian ke Malaysia, Cina, dll.

Perkembangan dalam menghadapi masalah lingkungan hidup pada sektor


kehutanan yaitu penebangan liar atau dikenal dengan illegal logging. Selama
dekade terakhir ini semakin banyak terjadi penebangan liar (iIlegal logging), bila
dibiarkan akan menimbulkan kemorosatan lingkungan hidup yang berlangsung
terus-menerus pada akhirnya membawa implikasi pada kerugian ekonomi yang
luar biasa parah disektor kehutanan.
Brow (1993) menegaskan bahwa kerugian ekonomi pada rusaknya ligkungan
hidup yang paling menonjol adalah penggundulan liar (Ilegal logging), sedang
menurut Sptephe Deveni dari Forest law Enforcemen Governance and trade
(FLEGT) mengatakan bahwa illegal logging adalah penyebab utama kerusakan
hutan di Indonesia dan menjadi masalah serius di dunia.
Penebangan liar (Illegal logging) telah menimbulkan masalah multidimensi yang
berhubungan dengan aspek ekonomi, sosial , budaya lingkungan.
Hal ini merupakan konskwensi logis dari fungsi hutan yang pada hakekatnya
adalah sebuah ekosistem yang di dalamnya mengandung fungsi dasar, yaitu
fungsi produksi (ekonomi), fungsi lingkungan (ekologi), serta fungsi sosial.
Dilihat dari aspek sosial, penebangan liar (illegal logging) menimbulkan konflik
seperti konflik hak atas tanah, konflik kewenangan mengelola hutan antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta masyarakat setempat. Aspek
budaya kegantungan masyarkat terhadap hutan, penghormatan terhadap hutan
yang masih dianggap nilai magic juga ikut terpangaruh oleh praktek-praktek
illegal logging yang pada akhirnya merubah perspektip dan prilaku masyarakat
adat setempat terhadap hutan.
Dampak kerusakan ekologi (lingkungan) akibat penebangan liar (illegal logging)

bagi lingkungan dan hutan adalah bencana alam, kerusakan flora dan fauna dan
punahnya spesias langka. Prinsip pelestraian hutan sebagaiman di indikasikan
oleh ketiga fungsi pokok tersebut, merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu pemanfatan dan
pelastarian sumber daya hutan perlu dilakukan melalui suatu sistem pengelolaan
yang dapat menjaga serta meningkatkan fungsi dan perananya bagi kepentingan
generasi masa kini maupun generasi dimasa yang mendatang.
Banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi aktivitas
illegal logging. Yang terbaru dengan dikeluarkan Surat edaran Nomor 01 Tahun
2008 tentang petunjuk Penanganan Perkara Tindak pidana Kehutanan dan
sebelumnya Instruksi Presiden Nomor 3 tahun 2005 tentang Pemberantasan
Penebangan Kayu secara illegal di kawasan hutan dan peredarannya di seluruh
wilayah Indonesia merupakan payung hukum dalam pemberantasan
penebangan liar (illegal logging) yang diharapakan kelangsungan hutan di
Indonesia dapat terselamatkan dan hal sampai keakar-akarnya.
Namun demikian illegal logging semakin marak dan hutan semakin mengalami
tingkat kerusakan yang mengkwatirkan, termasuk di Kaltim. Perspektip
pengelolahan hutan Indonesia, semuanya bermuara pada maraknya kegiatan
penebangan tanpa izin, penebangan liar (illegal logging) yang berdampak
negatif terhadap fungsi lindung terhadap konservasi hutan.
Beberapa kebijakan pemerintah di bidang kehutanan baik secara nasional
maupun internasional dalam rangka penanggulangan kejahatan penebangan liar
(Illegal logging) dikeluarkan sejak tahun 2001 tentang pemberantasan
Penebangan Kayu secara illegal di kawasan hutan dan peredarannya si seluruh
wilayah Indonesia.

Referensi :
1. Indonesia-UK Tropical Forestry Management Programme (1999) Illegal Logging
in Indonesia. ITFMP Report No. EC/99/03
2. Greenpeace (2003) Partners in Crime: A Greenpeace investigation of the links
between the UK and Indonesias timber barons. See
http://www.saveordelete.com
3. Environmental Investigation Agency and Telepak (2004) Profiting from Plunder:
How Malaysia Smuggles Endangered Wood.
4. WWF International (2002) The Timber Footprint of the G8 and China
5. http://hukum.kompasiana.com/2010/06/23/dimensi-penebangan-liar/
6. http://id.wikipedia.org/wiki/Pembalakan_liar

Hutan sangat di perlukan bagi manusia dan para mahluk hidup lainnya,setiap
detik nya hutan selalu menghasilkan oksigen,oleh karena itu, hutan harus dijaga dan
di lestarikan.
Upaya yang perlu dilakukan untuk melestarikan hutan:
1. Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2. Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.


3. Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.
4. Menerapkan sistem tebangtanam dalam kegiatan penebangan hutan.
5. Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai
pengelolaan hutan.

Penanggulangan Kerusakan Hutan


Untuk menanggulangi kerusakan hutan, upaya yang di lakukan pemerintah tergantung
pada penyebab nya. Adapun upaya yang perlu di lakukan untuk menanggulangi kerusakan
hutan antara lain sebagai berikut.
1. Memberikan penyuluhan kepada petani ladang berpindah untuk mengubah sistem
pertaniannya dari ladang berpindah menjadi ladang menetap, seperti sawah dan
kebun.
2. Melarang penerbangan hutan liar tanpa izin dari pemerintah, dalam hal ini dinas
kehutanan.
3. Memberikan sanksi tegas kepaada pembalak sehingga terjadi efek jera.
4. Memberikan pengarahan tentang penebangan hutan secara selektif, artinya pohon
yang di
tebang harus benar-benar pohon yang layak untuk di tebang.
5. Mencabut izin pengusaha HPH dan HTI yang melanggar aturan/hukum per izinan.
6. Menghentikan pengambilan hutan dengan sistem tebang habis.
7. Pemegang HTI dan HPH di wajibkan menanam pohon kembali yang mereka
perukan sebagai
bahan baku pada lahan yang sudah di tentukan
8. Melakukan penghijauan, yaitu penanam tanaman di luar kawasan hutan, khususnya
lahan-lahan
kritis.
Upaya-upaya tersebut dapat mengembalikan fungsi hutan secara sempurna jika kita
sebagai manusia mempunyai kesadarab dan mampu berkomitmen untuk melaksanakanya
serta tidak mengulangi terjadinya kerusakan hutan alam dengan penyebab yang sama untuk
kedua kalinya.
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Sistem silvikultur adalah sistem budidaya hutan atau tehnik bercocok tanam hutan yang dimulai
dari pemilihan bibit, pembuatan tanaman, sampai pada pemanenan atau penebangannya.
2. Kawasan Hutan adalah kawasan wilayah-wilayah tertentu yang oleh Menteri ditetapkan untuk
dipertahankan sebagai hutan tetap.
3. Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk
memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya dan khususnya untuk pembangunan, industri
dan ekspor.
4. Hutan alam adalah suatu lapangan yang bertumbuhan pohon-pohon alami yang secara
keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya.
5. Hutan tanaman adalah hutan yang dibangun dalam rangka meningkatkan potensi dan kualitas

hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif.


6. Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) adalah sistem silvikultur meliputi cara penebangan dengan
batas diameter dan kegiatan permudaan hutan.
7. Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) adalah sistem silvikultur meliputi cara
penebangan habis dengan permudaan buatan.
8. Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA) adalah sistem silvikultur meliputi cara penebangan
habis dengan permudaan alam.
9. Tebang Pilih Tanam dalam Jalur (TPTJ) adalah sistem silvikultur yang meliputi cara tebang pilih
dengan batas diameter minimal 40 cm diikuti permudaan buatan dalam jalur.
10 Sistem tumpangsari adalah sistem bercocok tanaman hutan dimana di antara tanaman pokok
. kehutanan ditanami jenis tanaman pangan.
11 Daur adalah jangka waktu antara waktu penanaman sampai tanaman hutan dimaksud masak
. untuk dipanen pada hutan tanaman atau siklus tebangan yang diperlukan untuk pengusahaan
hutan alam secara lestari dimana pada suatu tempat yang sama dilakukan penebangan kembali.
12 Umur masak tebang adalah jangka waktu perkembangan suatu tegakan yang memberikan hasil
. kayu tahunan terbesar, baik dari hasil penjarangan maupun tebangan akhir.
13 Siklus tebangan adalah jangka waktu antara penebangan hutan dan penebangan berikutnya pada
. suatu areal tertentu pada areal hutan yang dikelola secara lestari.
14 Kelas perusahaan adalah kesatuan pengelolaan dalam pengusahaan hutan untuk jenis tanaman
. pokok tertentu.
15 Tanaman pokok adalah jenis tanaman hutan yang memiliki luas dan atau nilai ekonomi dominan.
.

BAB II
SISTEM SILVIKULTUR
Pasal 2
(1) Hutan Produksi terdiri dari hutan alam dan atau hutan tanaman.
(2) Pengelolaan Hutan Produksi di Indonesia dapat dilakukan dengan sistem silvikultur:
1. Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI).
2. Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB).
3. Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA).
4. Tebang Pilih Tanam dalam Jalur (TPTJ).
(3) Penentuan sistem silvikultur dengan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia; Tebang Habis dengan
Permudaan Buatan; Tebang Habis dengan Permudaan Alam; dan Tebang Pilih Tanam dalam Jalur
didasarkan dari hasil risalah hutan, lokasi dan jenis tanaman yang dikembangkan.
Pasal 3

(1) Pelaksanaan Tebang Pilih Tanam Indonesia; Tebang Habis dengan Permudaan Buatan; Tebang
Habis dengan Permudaan Alam; dan Tebang Pilih Tanam dalam Jalur disusun dalam Rencana
Karya Pengusahaan Hutan.
(2) Rencana Karya Pengusahaan Hutan meliputi Rencana untuk seluruh jangka waktu pengusahaan,
Rencana Karya Lima Tahun dan Rencana Karya Tahunan.
Pasal 4
(1) Dalam melaksanakan sistem silvikultur pada pembangunan hutan alam dan hutan tanaman,
masyarakat di sekitar atau di dalam hutan dapat melaksanakan tumpangsari.
(2) Pelaksanaan tumpangsari tidak boleh mengganggu tanaman pokok kehutanan.
(3) Pengaturan pelaksanaan tumpangsari di hutan produksi, diatur lebih lanjut oleh Direktur
Jenderal Pengusahaan Hutan Produksi.
Pasal 5
(1) Pelaksanaan Tebang Pilih Tanam Indonesia; Tebang Habis dengan Permudaan Buatan, Tebang
Habis dengan Permudaan Alam dan Tebang Pilih Tanam dalam Jalur oleh Pelaksana dilaporkan
secara periodik kepada instansi yang berwenang.
(2) Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia, Tebang Habis dengan Permudaan Buatan, Tebang Habis
dengan Permudaan Alam dan Tebang Pilih Tanam dalam Jalur diatur lebih lanjut oleh Direktur
Jenderal Pengusahaan Hutan Produksi.