Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

ANAK DENGAN DHF (DENGUE HAEMORAGIC FEVER)


DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
DHF (DENGUE HAEMORAGIC FEVER)

OLEH :
NI LUH PUTU SANTI SRININGSIH

(P07120014053)

NI WAYAN KRISMA ANDIANI

(P07120014063)

TINGKAT II.2 DIII KEPERAWATAN

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

TAHUN AKADEMIK 2015/2016

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN


KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DHF
(DENGUE HAEMORAGIC FEVER)

OLEH :
NI LUH PUTU SANTI SRININGSIH

(P07120014053)

NI WAYAN KRISMA ANDIANI

(P07120014063)

TINGKAT II.2 DIII KEPERAWATAN

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

TAHUN AKADEMIK 2015/2016


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK
DENGAN DHF (DENGUE HAEMORAGIC FEVER)
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut
yang

disertai

bertendensi

dengan

adanya

mengakibatkan

manifestasi

renjatan

yang

perdarahan,
dapat

yang

menyebabkan

kematian (Arief Mansjoer & Suprohaita, 2000)


Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang
disebabkan oleh Arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus (Ngastiyah,
1999).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang
disebabkan oleh empat serotipe virus dengue dan ditandai dengan
empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi
perdarahan,

hepatomegali,

dan

tanda-tanda

kegagalan

sirkulasi

sampai timbulnya renjatan (sindroma renjatan dengue) sebagai akibat


dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian (Rohim
dkk, 2002).
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang terutama
terdapat pada anak dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi,
dan biasanya memburuk pada dua hari pertama (Soeparman; 1987).
DHF (Dengue Haemoragic Fever) adalah demam khusus yang
dibawa

oleh

aedes

aegepty

dan

beberapa

nyamuk

lain

yang

menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat menyebar


secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).
DHF

(Dengue

Haemoragic

Fever)

adalah

penyakit

yang

disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus

dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes


Aegypti (betina). (Christantie Effendy, 1995).
2. Penyebab
a. Virus dengue
Deman dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh
virus dengue, yang termasuk dalam genus flavivirus, keluarga
flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 mm terdiri
dari asam aribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 10 6. Di
Indonesia virus tersebut sampai saat ini telah

di isolsi menjadi 4

serotipe virus Dengue yang termasuk dalam grup B dalam Arthropedi


bone viruses (arbu viruses), yaitu DEN-1,DEN
4.Ternyata

-2,DEN-3, dan DEN-

DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotipe yang menjadi

penyebab terbanyak.Di Thailand, di laporkan bahwa serotipe DEN-2


adalah dominan. Sementara di Indnesia, yang terutama domian adalah
DEN-3, tetapi akhir-akhir ini ada kecenderungan doinansi DEN-2.
Infeksi oleh salah satu serotipe meninbulkan anti badi seumur hidup
terhadap serotipe bersangkutan, tetapi

tidak ada perlindungan

terhadap serotipe lain.Virus dengue terutama di tularkan melalui


vektor nyamuk aedes aegypti. Nyamuk aedes albopictus, aedes poly
nesiensis, dan beberapa spesies lain kurang berperan. Jenis nyamuk ini
terdapat hampir di seluruh indonesia kecuali di ketinggian lebi dari
1000 m di atas permukaan laut. (Nursalam, 2005)
Virus Dengue terdiri dari genom RNA stranded yang dikelilingi
oleh nukleokapsid. Virus Dengue memerlukan asam nukleat untuk
bereplikasi,

sehingga

mengganggu

sintesis

protein

sel

pejamu.

Kapasitas virus untuk mengakibatkan penyakit pada pejamu disebut


virulensi. Virulensi virus berperan melalui kemampuan virus untuk :
1)
2)
3)
4)

Menginfeksi lebih banyak sel,


Membentuk virus progenik,
Menyebabkan reaksi inflamasi hebat,
Menghindari respon imun mekanisme efektor

b. Vektor

Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor


yaitu nyamuk aedes aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes
polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan vektor yang
kurang berperan berperan.infeksi dengan salah satu serotipe akan
menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan
tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe jenis yang lainnya
(Arief Mansjoer &Suprohaita, 2000).
Nyamuk Aedes Aegypti maupun Aedes Albopictus merupakan
vektor penularan virus dengue dari penderita kepada orang lainnya
melalui gigitannya nyamuk Aedes Aegyeti merupakan vektor penting di
daerah perkotaan (Viban) sedangkan di daerah pedesaan (rural) kedua
nyamuk

tersebut

berperan

dalam

penularan.

Nyamuk

Aedes

berkembang biak pada genangan Air bersih yang terdapat bejana


bejana yang terdapat di dalam rumah (Aedes Aegypti) maupun yang
terdapat di luar rumah di lubang lubang pohon di dalam potongan
bambu, dilipatan daun dan genangan air bersih alami lainnya ( Aedes
Albopictus).

Nyamuk

betina

lebih

menyukai

menghisap

darah

korbannya pada siang hari terutama pada waktu pagi hari dan senja
hari. (Soedarto, 1990).
c. Host

Jika seseorang mendapat infeksi dengue untuk pertama kalinya


maka ia akan mendapatkan imunisasi yang spesifik tetapi tidak
sempurna, sehingga ia masih mungkin untuk terinfeksi virus dengue
yang sama tipenya maupun virus dengue tipe lainnya. Dengue
Haemoragic Fever (DHF) akan terjadi jika seseorang yang pernah
mendapatkan infeksi virus dengue tipe tertentu mendapatkan infeksi
ulangan untuk kedua kalinya atau lebih dengan pula terjadi pada bayi
yang mendapat infeksi virus dengue huntuk pertama kalinya jika ia

telah mendapat imunitas terhadap dengue dari ibunya melalui


plasenta. (Soedarto, 1990).
3. Patofisiologi
Virus dengue masuk dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes
dan infeksi pertama kali mungkin memberi gejala sebagai Dengue
Fever (DF). Reaksi tubuh merupakan reaksi yang biasa terlihat sebagai
akibat dari proses viremia seperti demam, nyeri otot dan atau sendi,
sakit kepala, dengan / tanpa rash dan limfa denopati.
Sedangkan

DBD

biasanya

timbul

apabila

seseorang

telah

terinfeksi dengan virus dengue pertama kali, mendapat infeksi


berulang virus dengue lainnya. Reinfeksi ini akan menyebabkan suatu
reaksi

anamnestik

antibodi,

sehingga

menimbulkan

konsentrasi

komplek antigen antibodi (komplek virus anti bodi) yang tinggi.


Terdapatnya komplek antigen antibodi dalam sirkulasi darah
mengakibatkan :
a. Aktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya mediator
anafilatoksin C 3a dan C 5a, dua peptida yang berdaya melepaskan
histamin

dan

merupakan

mediator

kuat

yang

menyebabkan

meningkatnya permeabilitas pembuluh darah (plasma Leakage),


dan menghilangnya plasma melalui endotel dinding itu, renjatan
yang tidak diatasi secara adekuat akan menimbulkan anoksia
jaringan, asidosis metabolik dan berakhir kematian.
b. Depresi sumsum tulang mengakibatkan trombosit kehilangan
fungsi

agregasi

dan

mengalami

metamorfosis,

sehingga

dimusnahkan oleh sistem RE dengan akibat terjadi trombositopenia


hebat dan perdarahan.
c. Terjadinya aktivasi faktor Hagemon (faktor XII) dengan akibat akhir
terjadinya pembekuan intra vaskuler yang meluas. Dalam proses
aktivasi ini maka plasminogen akan berubah menjadi plasmin yang

berperan pada pembentukan anafilatoksin dan penghancuran fibrin


menjadi Fibrin Degradation Product (FDP).
4. Klasifikasi
WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya
menjadi 4 golongan, yaitu :
a. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas
2-7

hari,

Uji

tourniquet

positif,

trombositipenia,

dan

hemokonsentrasi.
b. Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan
spontan

seperti

petekie,

ekimosis,

hematemesis,

melena,

perdarahan gusi.
c. Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah
dan cepat (>120x/mnt) tekanan nadi sempit ( 120 mmHg),
tekanan darah menurun, (120/80 120/100 120/110 90/70
80/70 80/0 0/0)
d. Derajat IV
Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung
140x/mnt ) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit
tampak biru.
5. Gejala klinis
Tanda dan gejala yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF,
dengan masa inkubasi antara 13-15 hari menurut WHO (1975) sebagai
berikut
a. Demam
Demam tinggi timbul mendadak, terus menerus, berlangsung dua
sampai tujuh hari turun secara cepat menuju suhu normal atau
lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsung demam, gejala
gejala klinik yang tidak spesifik misalnya anoreksia. Nyeri punggung

, nyeri tulang dan persediaan, nyeri kepala dan rasa lemah dapat
menyetainya.
b. Perdarahan
Perdarahan
disini

terjadi

akibat

berkurangnya

trombosit

(trombositopeni) serta gangguan fungsi dari trombosit sendiri akibat


metamorfosis trombosit. Perdarahan dapat terjadi di semua organ
yang berupa:
Uji torniquet positif
Ptekie, purpura, echymosis dan perdarahan konjungtiva
Epistaksis dan perdarahan gusi
Hematemesis, melena
Hematuri
c. Hepatomegali :
Biasanya dijumpai pada awal penyakit
Pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
Nyeri tekan pada daerah ulu hati
Tanpa diikuti dengan ikterus
Pembesaran ini diduga berkaitan dengan strain serotipe virus
dengue
d. Syok
Yang dikenal dengan DSS , disebabkan oleh karena perdarahan dan
kebocoran plasma didaerah intravaskuler melalui kapiler yang
rusak. Sedangkan tanda-tanda syok adalah:
Kulit dingin, lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki
Gelisah dan Sianosis disekitar mulut
Nadi cepat, lemah , kecil sampai tidak teraba
Tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80
mmHg atau kurang dari 80 mmHg)
Tekanan nadi menurun (sampai 20mmHg atau kurang)
e. Trombositopeni
Jumlah trombosit dibawah 150.000 /mm3 yang biasanya terjadi
pada hari ke tiga sampai ke tujuh.
f. Hemokonsentrasi
Meningkatnya nilai hematokrit merupakan indikator kemungkinan
terjadinya syok.
g. Gejala-gejala lain :
Anoreksi , mual muntah, sakit perut, diare atau konstipasi serta
kejang.

Penurunan kesadaran

6. Pemeriksaan fisik
Pemerikasaan fisik yang dilakukan terdiri dari inspeksi, perkusi,
palpasi dan auskultasi. Inspeksi, adalah pengamatan secara seksama
terhadap status kesehatan klien (inspeksi adanya lesi pada kulit).
Perkusi, adalah pemeriksaan fisik dengan jalan mengetukkan jari
tengah ke jari tengah lainnya untuk mengetahui normal atau tidaknya
suatu organ tubuh. Palpasi, adalah jenis pemeriksaan fisik dengan
meraba

klien.

menggunakan

Auskultasi,
stetoskop

adalah

dengan

(auskultasi

cara

dinding

mendengarkan

abdomen

untuk

mengetahu bising usus).


Adapun pemeriksaan fisik pada anak DHF diperoleh hasil sebagai
berikut:
a. Keadaan umum :
Berdasarkan tingkatan (grade) DHF keadaan umum adalah sebagai
berikut :
1) Grade I

: Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah,

tanda tanda vital dan nadi lemah.


2) Grade II
: Kesadaran kompos mentis, keadaan umum lemah,
ada perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan telinga,
serta nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
3) Grade III
: Keadaan umum lemah,

kesadaran

apatis,

somnolen, nadi lemah, kecil, dan tidak teratur serta tensi


menurun.
4) Grade IV

: Kesadaran koma, tanda tanda vital : nadi tidak

teraba, tensi tidak terukur, pernapasan tidak teratur, ekstremitas


dingin berkeringat dan kulit tampak sianosis.
b. Kepala dan leher.
1) Wajah
: Kemerahan pada muka, pembengkakan sekitar mata,
lakrimasi dan fotobia, pergerakan bola mata nyeri.
2) Mulut
: Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor,
(kadang-kadang) sianosis.
3) Hidung : Epitaksis

4) Tenggorokan : Hiperemia
5) Leher
: Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas
rahang daerah servikal posterior.
c. Dada (Thorax).
Nyeri tekan epigastrik, nafas dangkal.
Pada Stadium IV :
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Vocal fremitus kurang bergetar.


: Suara paru pekak.
: Didapatkan suara nafas vesikuler yang lemah.

d. Abdomen (Perut).
Palpasi
: Terjadi pembesaran hati dan limfe, pada keadaan
dehidrasi turgor kulit dapat menurun, suffiing dulness, balote ment
point (Stadium IV).
e. Anus dan genetalia.
Eliminasi alvi
Eliminasi uri
f.

: Diare, konstipasi, melena.


: Dapat terjadi oligouria sampai anuria.

Ekstrimitas atas dan bawah.


Stadium I
: Ekstremitas atas nampak petekie akibat RL test.
Stadium II III : Terdapat petekie dan ekimose di kedua ekstrimitas.
Stadium IV
: Ekstrimitas dingin, berkeringat dan sianosis pada
jari tangan
dan kaki.

7. Pemeriksaan diagnostic / penunjang


a. Uji Torniquet
Tes tourniquet (Rumpel-Lende)/ tes kerapuhan kapiler merupakan
metode

diagnostik

klinis

untuk

perdarahan pada

pasien.

digunakan

mengidentifikasi

untuk

Penilaian

menentukan
kerapuhan

kecenderungan
dinding

trombositopinia.

kapiler

Metode

ini

merupakan syarat diagnosis DBD menurut WHO. Langkah tes


torniquet :
1) Pra Analitik
Persiapan pasien : tidak memerlukan persiapan khusus
Prinsip : Membuat kapiler anoksia dengan membendung daerah
vena. Dengan terjadinya anoksia dan penambahan tekanan

internal

akan

terlihat

kemampuan

kapiler

bertahan.

Jika

ketahanan kapiler turun akan timbul petechie dikulit


Alat bahan : tensimeter, stetoskop, timer, spidol
2) Analitik
Pasang manset tensimeter pada lengan atas. Tentukan tekanan

sistolik (TS) dan tekanan diastolik (TD)


Buat lingkaran pada volar lengan bawah dengan radius 3cm,
Pasang lagi tensimeter dan buatlah tekanan sebesar x

(TS+TD), pertahankan tekanan ini selama 5 menit.


Longgarkan manset lalu perhatikan ada tidaknya petechie

3)

dalam lingkaran yang dibuat


Post Analitik
< 10 : normal/negatif
10-20 : dubia (ragu-ragu)
>20 : abnormal (positif)

b. Laboratorium
Hb dan PCV meningkat ( 20% )
Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap
jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ),

Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN, creatinin serum.


Hemokonsentrasi yaitu terjadi peningkatan nilai hematokrit > 20
%. Meningginya hematokrit sangat berhubungan dengan beratnya
renjatan. Hemokonsentrasi selalu mendahului perubahan tekanan
darah dan nadi, oleh kerena itu pemeriksan hematokrit secara
berkala dapat menentukan sat yang tepat penghentian pemberian

cairan atau darah.


Trombositopenia, akan

dibawah 100.000 mm3


Sediaan hapusan darah

menandakan terjadinya hemolisis


Sumsum tulang, terdapatnya hipoplasi sistem eritropoetik disertai

terjadi
tepi,

penurunan

trombosit

sampai

terdapat

fragmentosit,

yang

hiperplasi sistem RE dan terdapatnya makrofag dengan fagositosis


dari bermacam jenis sel

Elektrolit, : hiponatremi (135 mEq/l). terjadi hiponatremi karena


adanya kebocoran plasma,anoreksia, keluarnya keringat, muntah

dan intake yang kurang


Hiperkalemi , asidosis metabolic
Tekanan onkotik koloid menurun, protein plasma menurun, Serum
transaminasi meningkat.

8. Diagnose/ criteria diagnosis


9. Terapi/tindakan penanganan
a.

Medis
Pada dasarnya pengoobatan pasien DHF bersifat simtomatis dan
suportif
1) DHF tanpa renjatan
Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan
pasien dehidrasi dan haus. Pada pasien ini perlu diberi banyak
minum, yaitu 1,5 sampai 2 liter dalam 24 jam. Dapat diberikan
teh manis, sirup, susu, dan bila mau lebih baik oralit. Cara
memberikan minum sedikit demi sedikit dan orang tua yang
menunggu dilibatkan dalam kegiatan ini. Jika anak tidak mau
minum sesuai ang dianjurkan tidak dibenarkan pemasangan
sonde karena merangsang resiko terjadi perdarahan. Keadaan
hiperpireksia diatasi dengan obat anti piretik dan kompres dingin.
Jika terjadi kejang diberi luminal atau anti konfulsan lainnya.
Luminal diberikan dengan dosis : anak umur kurang 1 tahun 50
mg IM, anak lebih 1 tahun 75 mg. Jika 15 menit kejang belum
berhenti lminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/kg BB. Anak
diatas 1 tahun diveri 50 mg, dan dibawah 1 tahun 30 mg, dengan
memperhatikan adanya depresi fungsi vital.
Cairan intravena diperlukan, apabila (1) Anak terus menerus
muntah, tidak mau minum, demam tinggi sehingga tidak
rnungkin

diberikan

minum

per

oral,

ditakutkan

terjadinya

dehidrasi sehingga mempercepat terjadinya syok. (2) Nilai


hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan berkala.
Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi
dan kehilangan elektrolit, dianjurkan cairan glukosa 5% di dalam
larutan NaCl 0,45%. Bila terdapat asidosis, diberikan natrium
bikarbonat 7,46% 1-2 ml/kgBB intravena bolus perlahan-lahan.
Apabila

terdapat

hemokonsentrasi

20%

atau

lebih

maka

komposisi jenis cairan yang diberikan harus sama dengan


plasma. Volume dankomposisi cairan yang diperlukan sesuai
cairan untuk dehidrasi pada diare ringan sampai sedang, yaitu
cairan rumatan + defisit 6% (5 sampai 8%), seperti tertera pada
tabel dibawah ini :
Kebutuhan cairan pada dehidrasi sedang (defisit cairan 5 8 %)
Berat Badan waktu masuk

Jumlah cairan ml/kg

RS ( kg )
<7
7 - 11
12-18
>18

berat badan per hari


220
165
132
88

Kebutuhan cairan Rumatan


Berat Badan ( kg )
10
10 - 20
>20

Jumlah cairan ml
100 per kg BB
1000 + 50 x kg (diatas 10 kg)
1500 + 20 x kg (diatas 20 kg)

Jenis Cairan (rekomendasi WHO)


a) Kristaloid
Larutan ringer laktat (RL)
Larutan ringer asetat (RA)
Larutan garam faali (GF)
Dekstrosa 5% dalam larutan ringer laktat (D5/RL)
Dekstrosa 5% dalam larutan ringer asetat (D5/RA)
Dekstrosa 5% dalam 1/2 larutan garam faali (D5/1/2LGF)

(Catatan:Untuk resusitasi syok dipergunakan larutan RL


atau RA tidak boleh larutan yang mengandung dekstran)
b) Koloid
Dkstran 40
Plasma
Albumin
2) Syok Sindrom Dengue
a) Penggantian volume segera
Pengobatan awal cairan intravena larutan ringer laktat > 20
ml/kg BB. Tetesan diberikan secepat mungkin maksimal 30
menit. Pada anak dengan berat badan lebih, diberi cairan

sesuai berat BB ideal danumur 10 mm/kg BB/jam.


Bila tidak ada perbaikan pemberian cairan

kristoloid

ditambah cairan koloid. Apabila syok belum dapat teratasi


setelah 60 menit beri cairan kristaloid dengan tetesan 10

ml/kg BB/jam.
Bila tidak ada perbaikan stop pemberian kristaloid danberi
cairan koloid (dekstran 40 atau plasma) 10 ml/kg BB/jam.
Pada umumnya pemberian koloid tidak melebihi 30 ml/kg
BB. Maksimal pemberian koloid 1500 ml/hari, sebaiknya

tidak diberikan pada saat perdarahan.


Setelah pemberian cairan resusitasi kristaloid dan koloid
syok masih menetap sedangkan kadar hematokrit turun,
diduga

sudah

terjadi

perdarahan;

maka

dianjurkan

pemberian transfusi darah segar.


Apabila kadar hematokrit tetap > tinggi, maka berikan darah
dalam volume kecil (10 ml/kg BB/jam) dapat diulang sampai

30 ml/kgBB/ 24 jam.
Setelah keadaan klinis membaik, tetesan infus dikurangi
bertahap

sesuai

keadaan

klinis

dankadar

hematokrit.

Pemberian cairan harus tetap diberikan walaupun tanda vital


telah membaik dankadar hematokrit turun. Tetesan cairan
segera diturunkan menjadi 10 ml/kg BB/jam dankemudian

disesuaikan tergantung dari kehilangan plasma yang terjadi


selama 24-48 jam.
b) Koreksi Gangguan Metabolik dan Elektrolit
Hiponatremia danasidosis metabolik sering menyertai pasien
DBD/SSD, maka analisis gas darah dankadar elektrolit harus
selalu diperiksa pada DBD berat.
b. Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan ialah bahaya kegagalan
sirkulasi darah, resiko terjadi pendarahan, gangguan suhu tubuh,
akibat infeksi virus dengue, gangguan rasa aman dan nyaman,
kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
1) Kegagalan sirkulasi darah
Dengan adanya kebocoran plasma dari pembuluh darah ke
dalam jaringan ekstrovaskular, yang puncaknya terjadi pada saat
renjatan akan terlihat pada tubuh pasien menjadi sembab
(edema) dan darah menjadi kental.
Pengawasan tanda vital (nadi, TD, suhu dan pernafasan)
perlu

dilakukan

secara

kontinyu,

bila

perlu

setiap

jam.

Pemeriksaan Ht, Hb dan trombosit sesuai permintaan dokter


setiap 4 jam. Perhatikan apakah pasien ada kencing / tidak. Bila
dijumpai kelainan dan sebagainya segera hubungi dokter.
2) Resiko terjadi pendarahan
Adanya thrombocytopenia, menurunnya fungsi trombosit
dan menurunnya faktor koagulasi merupakan faktor penyebab
terjadinya pendarahan utama pada traktus gastrointestinal.
Pendarahan grastointestinal didahului oleh adanya rasa sakit
perut yang hebat (Febie, 1966) atau daerah retrosternal (Lim,
dkk.1966).
Bila pasien muntah bercampur darah atau semua darah
perlu diukur. Karena melihat seberapa banyak darah yang keluar
perlu tindakan secepatnya. Makan dan minum pasien perlu
dihentikan. Bila pasien sebelumnya tidak dipasang infuse segera
dipasang. Formulir permintaan darah disediakan.

Perawatan selanjutnya seperti pasien yang menderita


syok. Bila terjadi pendarahan (melena, hematesis) harus dicatat
banyaknya / warnanya serta waktu terjadinya pendarahan.
Pasien yang mengalami pendarahan gastro intestinal biasanya
dipasang NGT untuk membantu mengeluarkan darah dari
lambung.
3) Gangguan suhu tubuh
Gangguan suhu tubuh biasanya terjadi pada permulaan
sakit atau hari ke-2-ke-7 dan tidak jarang terjadi hyperpyrexia
yang dapat menyebabkan pasien kejang. Peningkatan suhu
tubuh akibat infeksi virus dengue maka pengobatannya dengan
pemberian antipiretika dan anti konvulsan. Untuk membantu
penurunan suhu dan mencegah agar tidak meningkat dapat
diberikan kompres dingin, yang perlu diperhatikan, bila terjadi
penurunan suhu yang mendadak disertai berkeringat banyak
sehingga tubuh teraba dingin dan lembab, nadi lembut halus
waspada karena gejala renjatan. Kontrol TD dan nadi harus lebih
sering dan dicatat secara baik dan memberitahu dokter.
4) Gangguan rasa aman dan nyaman
Gangguan rasa aman dan nyaman dirasakan pasien karena
penyakitnya dan akibat tindakan selama dirawat. Hanya pada
pasien DHF menderita lebih karena pemeriksaan darah Ht,
trombosit, Hb secara periodic (stp 4 jam) dan mudah terjadi
hematom, serta ukurannya mencari vena jika sudah stadium II.
Untuk

megurangi

penderitaan

diusahakan

bekerja

dengan

tenang yakinkan dahulu vena baru ditusukan jarumnya. Jika


terjadi hematum segera oleskan trombophub gel / kompres
dengan alkohol. Bila pasien datang sudah kolaps sebaiknya
dipasang venaseksi agar tidak terjadi coba-coba mencari vena
dan meninggalkan bekas hematom di beberapa tempat. jika
sudah musim banyak pasien DHF sebaiknya selalu tersedia set
venaseksi yang telah seteril.

10.

Komplikasi

Dalam penyakit DHF atau demam berdarah jika tidak segera di tangani akan
menimbulkan kompikisi adalah sebagai berikut :
a. Perdarahan
Perdarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler,
penurunan jumlah trombosit (trombositopenia) <100.000 /mm dan
koagulopati, trombositopenia, dihubungkan dengan meningkatnya
megakoriosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa
hidup trombosit. Tendensi perdarahan terlihat pada uji tourniquet
positif, petechi, purpura, ekimosis, dan perdarahan saluran cerna,
hematemesis dan melena.
b. Kegagalan sirkulasi
DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 2
7, disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga
terjadi kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan
peritoneum, hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi
yang mengakibatkan berkurangnya aliran balik vena (venous
return), prelod, miokardium volume sekuncup dan curah jantung,
sehingga terjadi disfungsi atau kegagalan sirkulasi dan penurunan
sirkulasi jaringan. DSS juga disertai dengan kegagalan hemostasis
mengakibatkan aktivity dan integritas system kardiovaskur, perfusi
miokard dan curah jantung menurun, sirkulasi darah terganggu dan
terjadi iskemia jaringan dan kerusakan fungsi sel secara progresif
dan irreversibel, terjadi kerusakan sel dan organ sehingga pasien
akan meninggal dalam 12-24 jam.
c. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang berhubungan
dengan nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati
dan sel sel kapiler. Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang
lebih besar dan lebih banyak dikarenakan adanya reaksi atau
kompleks virus antibody.
d. Efusi pleura

Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan


ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan
dengan adanya cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura
akan terjadi dispnea, sesak napas.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian (data subyektif/obyektif)
a. Identitas Klien.
Nama, umur (Secara eksklusif, DHF paling sering menyerang anak anak
dengan usia kurang dari 15 tahun. Endemis di daerah tropis Asia, dan
terutama terjadi pada saat musim hujan (Nelson, 1992 : 269), jenis kelamin,
alamat, pendidikan, pekerjaan.
b. Keluhan Utama.
Panas atau demam.
c. Riwayat Kesehatan.
1) Riwayat penyakit sekarang.
Ditemukan adanya keluhan panas mendadak yang disertai menggigil
dengan kesadaran kompos mentis. Turunnya panas terjadi antara hari ke 3
dan ke 7 dan keadaan anak semakin lemah. Kadang disertai keluhan batuk
pilek, nyeri telan, mual, diare/konstipasi, sakit kepala, nyeri otot, serta
adanya manifestasi pendarahan pada kulit
2) Riwayat penyakit yang pernah diderita.
Penyakit apa saja yang pernah diderita klien, apa pernah mengalami
serangan ulang DHF.
3) Riwayat imunisasi.
Apabila mempunyai kekebalan yang baik, maka kemungkinan akan
timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.
4) Riwayat gizi.
Status gizi yang menderita DHF dapat bervariasi, dengan status gizi yang
baik maupun buruk dapat beresiko, apabila terdapat faktor predisposisinya.
Pasien yang menderita DHF sering mengalami keluhan mual, muntah, dan
nafsu makan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai
dengan pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka akan mengalami
penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.
5) Kondisi lingkungan.

Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang


kurang bersih ( seperti air yang menggenang dan gantungan baju
dikamar ).
6) Riwayat Tumbuh Kembang
d. Acitvity Daily Life (ADL)
1) Nutrisi
menelan.
2) Aktivitas

: Mual, muntah, anoreksia, sakit saat


: Nyeri pada anggota badan, punggung

sendi, kepala,
ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, menurunnya aktivitas
sehari-hari.
3) Istirahat, tidur

: Dapat terganggu karena panas, sakit

kepala dan nyeri.


4) Eliminasi

sampai anuria.
5) Personal hygiene

Diare / konstipasi, melena, oligouria


:

Meningkatnya

ketergantungan

kebutuhan perawatan diri.


e. Pemeriksaan fisik, terdiri dari :
Adapun pemeriksaan fisik pada anak DHF diperoleh hasil sebagai
berikut:
1) Keadaan umum :
Berdasarkan tingkatan (grade) DHF keadaan umum adalah
sebagai berikut :
a) Grade I

: Kesadaran kompos mentis, keadaan umum

lemah, tanda tanda vital dan nadi lemah.


b) Grade II
: Kesadaran kompos mentis, keadaan umum
lemah, ada perdarahan spontan petekia, perdarahan gusi dan
telinga, serta nadi lemah, kecil, dan tidak teratur.
c) Grade III
: Keadaan umum lemah, kesadaran apatis,
somnolen, nadi lemah, kecil, dan tidak teratur serta tensi
menurun.

d) Grade IV

: Kesadaran koma, tanda tanda vital : nadi

tidak teraba, tensi tidak terukur, pernapasan tidak teratur,


ekstremitas dingin berkeringat dan kulit tampak sianosis.
2) Kepala dan leher.
a) Wajah
: Kemerahan pada muka, pembengkakan sekitar
mata, lakrimasi dan fotobia, pergerakan bola mata nyeri.
b) Mulut
: Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor,
(kadang-kadang) sianosis.
c) Hidung : Epitaksis
d) Tenggorokan : Hiperemia
e) Leher
: Terjadi pembesaran kelenjar limfe pada sudut atas
rahang daerah servikal posterior.
3) Dada (Thorax).
Nyeri tekan epigastrik, nafas dangkal.
Pada Stadium IV :
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Vocal fremitus kurang bergetar.


: Suara paru pekak.
: Didapatkan suara nafas vesikuler yang lemah.

4) Abdomen (Perut).
Palpasi
: Terjadi pembesaran hati dan limfe, pada keadaan
dehidrasi turgor kulit dapat menurun, suffiing dulness, balote
ment point (Stadium IV).
5) Anus dan genetalia.
Eliminasi alvi
Eliminasi uri

: Diare, konstipasi, melena.


: Dapat terjadi oligouria sampai

anuria.
6) Ekstrimitas atas dan bawah.
Stadium I
: Ekstremitas atas nampak petekie akibat RL test.
Stadium II III : Terdapat petekie dan ekimose di kedua
ekstrimitas.
Stadium IV

: Ekstrimitas dingin, berkeringat dan sianosis pada

jari tangan
dan kaki.
f. Pemeriksaan laboratorium.
Pada pemeriksaan darah klien DHF akan dijumpai :
1) Hb dan PCV meningkat ( 20%).

2)
3)
4)
5)

Trambositopenia (100.000/ml).
Leukopenia.
Ig.D. dengue positif.
Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia,

hipokloremia, dan hiponatremia.


6) Urium dan Ph darah mungkin meningkat.
7) Asidosis metabolic : Pco2<35-40 mmHg.
8) SGOT/SGPT mungkin meningkat.
2. Diagnose keperawatan yang mungkin muncul
Nursalam (2001) dan Nanda (2009) menyatakan, diagnosa keperawatan yang
dapat timbul pada klien dengan DHF adalah :
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi)

berhubungan

dengan peningkatan laju metabolisme, diitandai oleh :


Konvulsi.
Kulit kemerahan.
Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal.
Kejang.
Takikardi.
Takipnea.
Kulit terasa hangat.
b. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif,
ditandai dengan
Perubahan status mental.
Penurunan tekanan darah.
Penurunan tekanan nadi.
Penurunan volume nadi.
Penurunan turgor kulit.
Penurunan turgor lidah.
Pengeluaran haluaran urine.
Penurunan pengisian vena.
Membrane mukosa kering.
Kulit kering.
Peningkatan hematokrit.
Peningkatan suhu tubuh.
Peningkatan frekuensi nadi.
Peningkatan konsentrasi urine.
Penurunan berat badan tiba-tiba.
Haus.
Kelemahan

c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidakmampuan untuk mencerna makanan, ditandai
dengan:
Kram abdomen.
Nyeri abdomen.
Menghindari makanan.
Berat badan turun 20 % atau lebih di bawah berat badan ideal.
Kerapuhan kapiler.
Diare.
Kehilangan rambut berlebihan.
Bising usus hiperaktif.
Kurang makanan.
Kurang informasi.
Kurang minat pada makanan.
Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat.
Kesalahan konsepsi.
Kesalahan informasi.
d. Perubahan
perfusi
jaringan
kapiler
berhubungan dengan
perdarahan, ditandai dengan kematian jaringan pada ekstremitas
seperti dingin, nyeri, pembengkakan kaki.
e. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar dengan
sumber informasi, ditandai dengan:
Perilaku hiperbola.
Ketidakakuratan mengikuti perintah.
Ketidakakuratan melakukan tes.
Perilaku tidak tepat.
Pengungkapan masalah.

C. Rencana Asuhan Keperawatan


D.
Nanda (2009) dan Doenges (2000), menyatakan bahwa rencana tindakan keperawatan
yang dapat disusun untuk setiap diagnose adalah :
E.

F. Diagnosa

Keperaw

J.

atan
K. Peningk

G. Tujuan dan Kriteria

H. Intervensi

I. Rasional

Hasil
L. Setelah dilakukan

atan

asuhan keperawatan

suhu

selama ...x... jam

tubuh

diharapkan pasien

(hipert

mampu

ermi)

Mempertahankan

berhub

suhu tubuh normal

ungan

dengan kriteria hasil:

1. Ukur tanda-tanda

N.

vital (suhu).
2. Berikan kompres
hangat.
3. Tingkatkan intake
cairan.
M.

0
dengan -Suhu tubuh antara 36 37 C.
-Membrane mukosa basah.
pening -Nyeri otot hilang.
katan

laju
metabo
lisme
O.
R. -

P.

Q.
S.

1.
1.

1.
1.

T.
U. 1.

.
V. Tujuan
Y.
Z.

AA.

W. Rencana
a

AB.

X. Rasional
a.
Suhu

380C-41,10C
menunjukkan
proses penyakit
infeksi akut.
AC.
b.
Kompres hangat
akan terjadi
perpindahan panas
konduksi.
AD.
c.

Untuk

mengganti cairan
tubuh yang hilang
akibat evaporasi.
AE.
AF.
AG.

2.

Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan

cairan aktif.
AH.
AK.

Tujuan

Kebutuhan cairan
terpenuhi.
AL.
KH :
AM.

Mata
tidak cekung.
AN.

Membrane mukosa
tetap lembab.
AO.

Turgor
kulit baik.

AI. Rencana
AP.a.
Observasi

AJ. Rasional
AT.a.
Penurunan

tanda-tanda vital

sirkulasi darah

paling sedikit

dapat terjadi dari

setiap tiga jam.

peningkatan

AQ.

b.

kehilangan cairan

Observasi dan cata

mengakibatkan

intake dan output.

hipotensi dan

AR.

c.

Timbang berat

Menunjukkan

badan.
AS.

d.

takikardia.
AU.
b.

Monitor

status volume

pemberian cairan

sirkulasi, terjadinya

melalui intravena

/ perbaikan

setiap jam.

perpindahan
cairan, dan respon
terhadap terapi.
AV.c.
Mengukur
keadekuatan
penggantian cairan
sesuai fungsi ginjal.
AW.
d.
Mempertahankan
keseimbangan
cairan/elektrolit.

AX.
AY. 3.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan untuk mencerna makanan.


AZ.
BC.

Tujuan
Kebutuhan

nutrisi adekuat.
BD.
KH :
BE.

Berat badan

stabil atau
meningkat.
BF.

BA.
BG.

Rencana
a.

BB.
BL.

Rasional
a.

Berikan makanan

Mengganti

yang disertai

kehilangan vitamin

dengan suplemen

karena

nutrisi untuk
meningkatkan
kualitas intake
nutrisi.
BH.

b.

Anjurkan kepada
orang tua untuk
memberikan
makanan dengan

malnutrisi/anemia.
BM.
b.
Porsi
lebih kecil dapat
meningkatkan
masukan.
BN.
c.
Mengawasi
penurunan berat
badan.
BO.
d.

Mulut

teknik porsi kecil

yang bersih

tapi sering secara

meningkatkan

bertahap.
BI. c.

selera makan dan

Timbang

berat badan setiap


hari pada waktu
yang sama dan
dengan skala yang

pentingnya intake
nutrisi yang
adekuat untuk
penyembuhan

sama.
BJ. d.

pemasukan oral.
BP.e.
Jelaskan

Pertahankan

penyakit.

kebersihan mulut
klien.
BK.

e.

Jelaskan
pentingnya intake
nutrisi yang
adekuat untuk
penyembuhan
penyakit.
BQ.
BR.

4.

Perubahan perfusi jaringan kapiler berhubungan dengan

perdarahan.
BS.
BV.

Tujuan
Perfusi

jaringan perifer
adekuat.
BW.
KH :
BX.

TTV
stabil.

BT.Rencana
BY. a.
Kaji
dan
catat

tanda-tanda

vital.
BZ.
b.

BU.
CA.

Rasional
a.

Penurunan sirkulasi
darah dapat terjadi

Nilai

kemungkinan
terjadinya
kematian jaringan
pada ekstremitas

dari peningkatan
kehilangan cairan
mengakibatkan
hipotensi.
CB.
b.
Kondisi

seperti dingin,

kulit dipengaruhi

nyeri,

oleh sirkulasi,

pembengkakan

nutrisi, dan

kaki.

immobilisasi.

CC.
CD.

5.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak familiar

dengan sumber informasi


CE.
CH.

Tujuan
Klien

CF.Rencana
CI. a.
Tentukan

CG.
CL. a.

Rasional
Adanya

mengerti dan

kemampuan dan

keinginan untuk

memahami proses

kemauan untuk

belajar memudahkan

penyakit dan
pengobatan.

belajar.
CJ. b.
Jelaskan
rasional

penerimaan
informasi.
CM. b.
Dapat

pengobatan, dosis,

meningkatkan

efek samping dan

kerjasama dengan

pentingnya minum

terapi obat dan

obat sesuai resep.


CK.
c.
Beri
pendidikan
kesehatan
mengenai
penyakit DHF.

mencegah
penghentian pada
obat dan atau
interkasi obat yang
merugikan.
CN. c.
Dapat
meningkatkan
pengetahuan pasien
dan dapat
mengurangi
kecemasan.

CO.
CP.
CQ.
CR.
CS.
CT.
CU.

DAFTAR PUSTAKA

CV.
CW.

Perry, Potter. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. EGC.

Jakarta.
CX.
CY. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC.
Jakarta.
CZ.
DA.

M. Nurs, Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan pada bayi dan

anak. Salemba Medika. Jakarta.


DB.
DC.

Ngastiyah

(1995),

Perawatan

Anak

Sakit,

Penerbit

Buku

Kedokteran EGC, Jakarta.


DD.
DE.

Doenges,

Marilynn

E,

dkk,

(2000),

Penerapan

Proses

Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, EGC ; Jakarta.


DF.

Sunaryo, Soemarno, (1998), Demam Berdarah Pada Anak, UI ;


Jakarta.

DG.

Effendy, Christantie, (1995), Perawatan Pasien DHF, EGC ;

Jakarta.
DH.

Hendarwanto, (1996), Ilmu Penyakit Dalam, jilid I, edisi ketiga,

FKUI ; Jakarta.
DI.
DJ.