Anda di halaman 1dari 11

Jurnal EduBio Tropika, Volume 1, Nomor 1, Oktober 2013, hlm.

1-60

Vandalita Maria Mahdalena Rambitan


Dosen Prodi Biologi, FKIP Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur

Mirna Puspita Sari


Dosen Prodi Biologi, FKIP Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur
Korespondensi: vandalitammr@ymail.com

PENGARUH PUPUK KOMPOS CAIR KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L.)
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)
SEBAGAI PENUNJANG PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan dosis pupuk kompos cair kulit
pisang kepok terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L) varietas
gajah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan April 2013 di Samarinda.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan enam
ulangan, masing-masing perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1 (150 ml), P2 (200 ml) dan P3 (250 ml). Parameter
penelitian ini adalah tinggi batang dan jumlah daun pada saat tanaman berumur 1,2,3 minggu setelah
tanam, serta berat basah polong pada saat tanaman berumur 10 minggu setelah tanam. Data dianalisis
menggunakan analisis varian (anava) dan dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa semua perlakuan dosis pupuk kompos cair kulit pisang kepok kecuali kontrol memberikan
pengaruh yang nyata pada pertumbuhan tinggi batang, jumlah daun dan berat basah polong tanaman
kacang tanah varietas gajah. Perlakuan P3 (250 ml) menunjukan hasil yang terbaik untuk rata-rata tinggi
batang, jumlah daun dan berat basah polong tanaman kacang tanah.
Kata Kunci: kompos cair kulit pisang kepok, pertumbuhan, kacang tanah

THE EFFECT OF LIQUID COMPOST OF KEPOK BANANA PEEL ON GROWTH AND RESULT
PEANUT CROP (Arachis hypogaea L.) AS SUPPORTING
PRACTICUM OF PLANT PHYSIOLOGY
ABSTRACT: This research is aimed to know the effect and right dose of liquid compost the kepok
banana peel on growth result peanut (Arachis hypogaea L) crop varieties elephant. This research has been
conducted since February until this April 2013 in Samarinda. This research used group random sampling
by four step actions including controlling which repetition for 6 times, each treatment that is P0 (control),
P1 (150 ml), P2 (200 ml) dan P3 (250 ml). Observation of growth stem height and amount of leaf is taken
when the plant are 1,2,3 weeks in age after planting, then the observation of wet weight of pods plant was
done at 10 weeks after planting. The result is then analyzed using analysis of variance and continued to
conduct with the least significant difference test 5%. The research, in many kinds of all concentration of
liquid compost of kepok banana peel except control has given the real effect on growth of stem height,
amount of leaf, and wet weight of peanut plants varieties elephant. Treatment P3 (250 ml) show result the
best for average growth stem height, amount of leaf and result wet weight of pods peanut crop.
Keywords: liquid compost of kepok banana peel, growth, peanut

PENDAHULUAN
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan
salah satu jenis tanaman yang banyak dikonsumsi
masyarakat Indonesia, dimanfaatkan sebagai bahan
pangan yang dikonsumsi langsung, atau campuran
makanan seperti roti, bumbu dapur, bahan baku industri
minyak, dan produk makanan ternak, sehingga
kebutuhan kacang tanah terus meningkat setiap
tahunnya sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk,
kebutuhan gizi masyarakat, dan diversifikasi pangan.
Hal ini tidak sebanding dengan peningkatan jumlah
penduduk tiap tahunnya. Permasalahan yang dihadapi
dalam meningkatkan produksi kacang tanah nasional
disebabkan oleh produktivitas tanaman kacang tanah
yang masih rendah dan berkurangnya lahan yang
produktif.

Suprapto (2001) menyatakan bahwa, kacang


tanah dapat tumbuh dengan baik jika ditanam di lahan
yang cukup mengandung unsur hara seperti Ca, N, P,
dan K. Pada umumnya jenis tanah di Kalimantan Timur
adalah ultisol, tanah jenis ini dicirikan dengan
kandungan unsur hara makro seperti N, P, K yang
rendah serta bersifat asam (Dinas Pertanian Tanaman
Pangan Samarinda, 2005). Untuk mengatasi rendahnya
kesuburan tanah ultisol perlu dilakukan pemupukan.
Pemupukan merupakan tindakan yang ditujukan untuk
menambah dan mengembalikan keseimbangan zat-zat
hara di dalam tanah yang telah hilang. Jenis pupuk ada
2 macam yaitu pupuk organik dan anorganik. Menurut
Pranata (2004), pupuk organik merupakan pupuk yang
berasal dari makhluk hidup yang telah mati, juga dapat

Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.)

14

berasal dari sisa tumbuhan ataupun dari limbah rumah


tangga.
Soeryoko dalam Purbowo (2012) menyatakan
bahwa limbah rumah tangga yang dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk organik salah satunya yaitu limbah kulit
pisang kepok. Pisang kepok hanya dimanfaatkan
masyarakat dengan mengkonsumsi buahnya saja, lalu
membuang kulitnya sebagai sampah yang berbau dan
jika dibuang sembarangan akan mendatangkan lalat.
Apabila limbah kulit pisang kepok tersebut dibiarkan
begitu saja maka dapat terjadi penumpukan sampah,
yakni limbah kulit pisang kepok. Melihat kenyataan
tersebut, maka perlu dicari solusi untuk menangani
limbah kulit pisang ini, salah satu solusi yang dapat
dilakukan adalah dengan memanfaatkan dan mengolah
limbah kulit pisang kepok tersebut menjadi suatu bahan
yang bermanfaat, antara lain dengan pembuatan pupuk
kompos cair. Limbah kulit pisang mengandung unsur
makro N, P, dan K yang masing-masing berfungsi
untuk pertumbuhan dan perkembangan buah dan
batang. Selain itu juga mengandung unsur mikro Ca,
Mg, Na, Zn yang dapat berfungsi untuk kekebalan dan
pembuahan pada tanaman agar dapat tumbuh secara
optimal, sehingga berdampak pada jumlah produksi
yang maksimal.
Limbah kulit pisang kepok ini dapat dibuat
sebagai pupuk kompos cair, karena lebih efektif diserap
oleh tanaman dan tanaman dapat menyerap nutrisi
dengan cepat, sehingga dengan memberikan pupuk
kompos cair melalui penyiraman, nutrisi dan unsur hara
akan lebih cepat diserap dan diproses oleh tanaman.
Pengomposan dalam pembuatan pupuk cair ini dapat
dipercepat dengan menambahkan bahan aktivator,
seperti Effective Microorganism 4 (EM4). EM4
merupakan salah satu aktivator yang dapat membantu
mempercepat proses pembuatan pupuk organik karena
di dalam EM4 berisi sekitar 80 genus mikroorganisme,
di antaranya bakteri fotosintetik Lactobacillus sp,
Sterptomyces sp, Actinomyces dan ragi (Agromedia,
2010). Hasil akhir dari pengomposan limbah kulit
pisang kepok ini merupakan bahan yang sangat
dibutuhkan untuk pertanian kacang tanah di Samarinda
sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia dan
biologi tanah, dan guna meningkatkan produksi kacang
tanah.
Pemberian kompos cair kulit pisang kepok jika
dihubungkan dengan pembelajaran dapat menunjang
dalam proses pembelajaran antara lain dapat
dimanfaatkan sebagai bahan penunjang mata kuliah
fisiologi
tumbuhan
khususnya
pada
konsep
Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman, Hara dan
Nutrisi Tanaman, sehingga prosedur dalam penelitian
ini dapat digunakan sebagai petunjuk praktikum mata
kuliah fisiologi tumbuhan. Berdasarkan uraian tersebut
di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai pengaruh pupuk kompos cair kulit pisang
15

Rambitan, dkk.

kepok terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang


tanah (Arachis hypogaea L) Varietas Gajah.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah
ada pengaruh pupuk kompos cair kulit pisang kepok
(Musa paradisiaca L.) terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas
gajah sebagai penunjang praktikum fisiologi tumbuhan?
dan berapakah dosis terbaik pupuk kompos cair kulit
pisang kepok (Musa paradisiaca L.) terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah (Arachis
hypogaea L.) varietas gajah sebagai penunjang
praktikum fisiologi tumbuhan?
Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengetahui
pengaruh pupuk kompos cair kulit pisang kepok (Musa
paradisiaca L)
terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas
gajah sebagai penunjang praktikum fisiologi tumbuhan,
dan mengetahui dosis terbaik pupuk kompos cair kulit
pisang kepok (Musa paradisiaca L) terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah (Arachis
hypogaea L.) varietas gajah sebagai penunjang
praktikum fisiologi tumbuhan.
Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan
penunjang praktikum fisiologi tumbuhan khususnya
pokok bahasan pertumbuhan dan perkembangan, hara
dan nutrisi tumbuhan, memberikan informasi kepada
masyarakat tentang pemanfaatan kulit pisang kepok
yang dapat diolah sebagai pupuk kompos cair,
memberikan informasi kepada petani kacang tanah
bahwa pupuk kompos cair kulit pisang kepok dapat
mempercepat pertumbuhan tinggi batang, jumlah daun
dan meningkatkan kualitas hasil polong kacang tanah
varietas gajah, dan sebagai referensi untuk penelitian
selanjutnya.
METODE
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari
sampai dengan bulan April tahun 2013 di kebun
percobaan di Samarinda. Penelitian ini merupakan
penelitian eksperimen, menggunakan Rancangan Acak
Kelompok (RAK), dengan empat perlakuan dan enam
ulangan. Variabel dalam penelitian ini antara lain
variabel bebas (dosis pupuk kompos cair kulit pisang
kepok) yang terdiri dari P0 : 0 ml (kontrol), P1 : 150 ml,
P2 : 200 ml, P3 : 250 ml. Adapun variabel terikat
(pertumbuhan dan hasil tanaman kacang tanah varietas
gajah) yang terdiri dari tinggi batang dan jumlah daun
(parameter pertumbuhan) yang diamati pada umur
tanaman 1, 2, dan 3 minggu setelah tanam, dan berat
basah polong kacang tanah (parameter hasil) yang
diamati jumlah polong kacang tanah pada saat tanaman
berumur 10 minggu setelah tanam. Populasi penelitian
adalah tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.),
dan sampel yang digunakan adalah 24 benih tanaman
kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas gajah.

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian


ini masing-masing adalah timbangan digital, pisau,
drum plastik, lesung (alat penumbuk), plastik, polybag,
alat tulis, kamera digital, gelas ukur, bibit kacang tanah
varietas gajah, 10 kg kulit pisang kepok, 10 L air, 250
ml EM4, 250 ml tetes tebu, tanah.
Prosedur penelitian dilakukan antara lain (1)
Persiapan Tempat Percobaan, tempat percobaan
dibersihkan dari kotoran dan gulma kemudian
dibuatkan atap daun. Sekeliling tempat percobaan
dibuatkan dinding dari jala setinggi 1 m dengan 1 pintu
yang terdapat di bagian depan. (2) Persiapan Tanah,
tanah yang digunakan sebagai media adalah tanah
lapisan atas yang telah dibersihkan dari kotoran dan
gulma, dijemur guna mematikan mikroorganisme di
dalamnya. Kemudian tanah ditimbang seberat 5 kg
untuk masing-masing polibag. (3) Pemeliharaan
Tanaman, dilakukan antara lain dengan penyiraman
tanaman sehari sekali yaitu pada sore hari, penyiangan
gulma yang tumbuh di dalam dan di sekitar polibag,
yaitu dengan mencabut rumput-rumput liar dengan
tangan secara hati-hati. Adapun pembuatan kompos
cair kulit pisang kapok dilakukan antara lain dengan
menyiapkan 10 kg kulit pisang kepok, dipotong bagian
pangkal dan ujungnya sehingga menyisakan kulit
pisangnya saja, kemudian dipotong kecil-kecil. Setelah
itu kulit pisang kepok yang telah dipotong dimasukkan

Penanaman
sampel
dilakukan
dengan
menyiapkan 24 polibag yang telah berisi masingmasing 5 kg tanah kemudian dilubangi tiap polibag
sedalam 3-5 cm, kemudian menanam bibit kacang
tanah 1 biji per polibag. Pemberian pupuk dilakukan
1 minggu sebelum tanam dan 2 minggu sekali selama
penelitian. Waktu pemberian pupuk organik harus
diberikan 1 minggu sebelum tanam, agar pupuk organik
tersebut mengalami proses dekomposisi dan
mineralisasi sehingga tersedia bagi tanaman
(Agromedia, 2010).
Pengambilan data pertumbuhan kacang tanah
dilakukan pada minggu ke 1, 2 dan 3 dengan cara
mengukur tinggi batang dan jumlah daun. Pengambilan
data hasil berat basah kacang tanah dilakukan pada
minggu ke-10. Data dianalisis menggunakan analisis
varian (anava). Jika hasil analisis varian menunjukkan
perbedaan nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda
Nyata Terkecil (BNT) pada taraf signifikan 5%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Batang Kacang Tanah 1 Minggu Setelah
Tanam
Hasil pengamatan rata-rata pertambahan tinggi
batang tanaman kacang tanah umur 1 minggu setelah
tanam dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok


Minggu Setelah Tanam (cm)
Kelompok
Perlakuan
I
II
III
IV
V
P0
5,0
3,6
3,0
5,5
6,8
P1
6,5
5,5
8,0
4,5
4,5
P2
7,5
9,0
7,5
5,2
8,0
P3
8,0
9,0
9,0
7,9
7,5
Total
27
27,1
27,5
23,1
26,8
Kelompok
Sumber : Hasil Penelitian (2013)

ke dalam alat penumbuk dan ditumbuk sampai halus


guna
mempermudah
aktivitas
mikroorganisme
perombak pada pembuatan kompos. Kemudian kulit
pisang kepok yang telah halus dimasukkan ke dalam
drum plastik, lalu ditambahkan juga 10 liter air, 250 ml
tetes tebu dan 250 ml larutan EM-4 ke dalam drum
plastik tersebut. Setelah semua bahan telah
dimasukkan, lalu diaduk rata. Setelah tercampur dengan
rata, drum plastik tersebut ditutup dengan plastik dan
didiamkan selama 2 minggu. Dilakukan pengamatan
apabila warna menjadi coklat dan tidak berbau
menyengat maka pupuk kompos cair siap digunakan.
Satu liter pupuk cair ini diencerkan dengan 10 liter air
(Fitriani, 2011).

terhadap Tinggi Batang Kacang Tanah 1

VI
5,7
4,8
7,0
7,2

Total
Perlakuan
29,6
33,8
44,2
48,6

24,7

156,2

Rata-rata
4,93
5,63
7,36
8,10

Berdasarkan Tabel 1, rata-rata tinggi batang


tertinggi diperoleh pada P3 yaitu 8,10 cm sedangkan
hasil rata-rata terendah diperoleh pada P0 yaitu 4,93 cm.
Selanjutnya data rata-rata tinggi tanaman tersebut
dilakukan uji Anava untuk mengetahui pengaruh pupuk
terhadap tinggi tanamman kacang tanah 1 minggu
setelah tanam seperti yang disajikan pada Tabel 2.
Kemudian dilakukan uji BNT untuk mengetahui
tingkat perbedaan yang nyata dari masing-masing
perlakuan dan hasil perhitungan tertera pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3, hasil uji BNT 5% terhadap dosis
pupuk kompos cair kulit pisang kepok menunjukkan
bahwa perlakuan P0 dan P1 berbeda nyata terhadap P2
dan P3.

Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.)

16

Tabel 2. Anava terhdap Tinggi Batang Kacang Tanah 1 Minggu Setelah Tanam
SK
DB
JK
KT
F hitung
Kelompok
5
3,798
0,759
0,429tn
Perlakuan
3
39,098
13,033
7,370*
Galat
15
26,522
1,768
Total
23
69,418
Koefisien Keragaman
: 5,10 %
Keterangan
: tn
= tidak nyata
*
= berbeda nyata

F tabel 5%
2,90
3,29

Tabel 3. Uji Lanjut BNT terhadap Tinggi Batang Kacang Tanah 1 Minggu Setelah Tanam
P0
P1
P2
P3
Rata rata
BNT 5%
(17,566)
(18,700)
(20,283)
(22,000)
P0 (4,933)
0,000
tn
P1 (5,633)
0,700
0,00
1,634
P2 (7,366)
2,433*
1,733*
0,00
P3 (8,100)
3,167*
2,467*
0,734tn
0,00

Pertumbuhan Tinggi Batang Kacang Tanah 2


Minggu Setelah Tanam
Hasil pengamatan rata-rata pertambahan tinggi
batang tanaman kacang tanah umur 2 minggu setelah
tanam dapat dilihat pada Tabel 4.

Berdasarkan Tabel 4, rata-rata tinggi batang


tertinggi diperoleh pada P3 yaitu 22 cm sedangkan hasil
rata-rata terendah diperoleh pada P0 yaitu 17,56 cm.
Selanjutnya data rata-rata tinggi tanaman tersebut
dilakukan uji Anava untuk mengetahui pengaruh pupuk

Tabel 4. Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok


Minggu Setelah Tanam (cm)
Kelompok
Perlakuan
I
II
III
IV
V
P0
18,5 14,7
17
20
20
P1
18
19,2
21,5
17,5
17,5
P2
20,3
23
20
18,5
20,5
P3
21,5 23,5
22,5
22
18,5
Total
78,3 80,4
81
78
76,5
Kelompok
Sumber : Hasil Penelitian (2013)

terhadap Tinggi Batang Kacang Tanah 2

VI
15,2
18,5
19,4
24

Total
Perlakuan
105,4
112,2
121,7
132

77,1

471,3

Tabel 5. Anava terhadap Tinggi Batang Kacang Tanah 2 Minggu Setelah Tanam
SK
DB
JK
KT
F hitung
Kelompok
5
4,024
0,804
0,186tn
Perlakuan
3
66,995
22,331
5,170*
Galat
15
64,797
4,319
Total
23
135,816
Koefisien Keragaman
: 2,64 %
Keterangan
: tn
= tidak nyata
*
= berbeda nyata

Rata-rata
17,56
18,70
20,28
22,00

F tabel 5%
2,90
3,29

Tabel 6. Uji Lanjut BNT terhadap Tinggi BatangTanaman Kacang Tanah 2 Minggu Setelah Tanam
P0
P1
P2
P3
Rata rata
BNT 5%
(17,566)
(18,700)
(20,283)
(22,000)
P0 (17,566)
0,000
P1 (18,700)
1,134tn
0,000
2,555
tn
P2 (20,283)
2,717*
1,583
0,000
P3 (22,000)
4,434*
3,300*
1,717tn
0,000

17

Rambitan, dkk.

terhadap tinggi tanamman kacang tanah 2 minggu


setelah tanam seperti yang disajikan pada Tabel 5.
Kemudian dilakukan uji BNT untuk mengetahui
tingkat perbedaan yang nyata dari masing-masing
perlakuan dan hasil perhitungan tertera pada Tabel 6.
Berdasarkan Tabel 6, hasil uji BNT 5% terhadap
dosis pupuk kompos cair kulit pisang kepok
menunjukkan bahwa perlakuan P0 berbeda nyata
terhadap P2 dan P3 serta P1 berbeda nyata terhadap P3.

perlakuan dan hasil perhitungan tertera pada Tabel 9.


Berdasarkan Tabel 9, hasil uji BNT 5% terhadap
dosis pemberian pupuk kompos cair kulit pisang kepok
menunjukan bahwa perlakuan P0, P1, dan P2 berbeda
nyata terhadap P3.
Diagram batang pertumbuhan tinggi batang
tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas
gajah pada fase vegetatif dapat dilihat Gambar 1.

Pertumbuhan Jumlah Daun Kacang Tanah 1 Minggu


Pertumbuhan Tinggi Batang Kacang Tanah 3 Minggu Setelah Tanam
Hasil pengamatan rata-rata jumlah daun tanaman
Setelah Tanam
Hasil pengamatan rata-rata pertambahan tinggi kacang tanah umur 1 minggu setelah tanam dapat
batang tanaman kacang tanah umur 3 minggu setelah dilihat pada Tabel 10.
tanam dapat dilihat pada Tabel 7.
Berdasarkan Tabel 10, rata-rata jumlah daun
Tabel 7. Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok
Minggu Setelah Tanam (cm)
Kelompok
Perlakuan
I
II
III
IV
V
P0
25,5
22
24
26
26,5
P1
25
24,9
28,5
25
24,5
P2
26,5 27,7
26,7
24,5
25,1
P3
29,1 29,3
30,1
29,2
28,3
106, 103,9 109,3 104,7 104,4
Total
1
Kelompok
Sumber : Hasil Penelitian (2013)

Berdasarkan Tabel 7, rata-rata tinggi batang


tertinggi diperoleh pada P3 yaitu 28,86 cm sedangkan
hasil rata-rata terendah diperoleh pada P0 yaitu 24,41
cm. Selanjutnya data rata-rata tinggi tanaman tersebut
dilakukan uji Anava untuk mengetahui pengaruh pupuk
terhadap tinggi tanamman kacang tanah 3 minggu
setelah tanam seperti yang disajikan pada Tabel 8.
Kemudian dilakukan uji BNT untuk mengetahui
tingkat perbedaan yang nyata dari masing-masing

terhadap Tinggi Batang Kacang Tanah 3

VI
22,5
26,8
25
27,2
101,5

Total
Perlakuan
146,5
154,7
155,5
173,2
629,9

Rata-rata
17,56
18,70
20,28
22,00

terbanyak diperoleh pada P3 yaitu 21 helai sedangkan


hasil rata-rata terendah diperoleh pada P0 yaitu 13 helai.
Selanjutnya data rata-rata jumlah daun tersebut
dilakukan uji Anava untuk mengetahui pengaruh pupuk
terhadap jumlah daun kacang tanah 1 minggu setelah
tanam seperti yang disajikan pada Tabel 11.
Kemudian dilakukan uji BNT untuk mengetahui
tingkat perbedaan yang nyata dari masing-masing
perlakuan dan hasil perhitungan tertera pada Tabel 12.

Rata- rata Tinggi Batang Kacang Tanah


35
30
25

Cm

20
Minggu 1
15

Minggu 2
Minggu 3

10
5
0
P0

P1

P2

P3

Perlakuan

Gambar 1. Diagram Batang Rata-Rata Tinggi Batang Kacang Tanah

Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.)

18

Tabel 8. Anava terhadap Tinggi Batang Kacang Tanah 3 Minggu Setelah Tanam
SK
DB
JK
KT
F hitung
F tabel 5%
tn
Kelompok
5
8,402
1,680
0,741
2,90
*
Perlakuan
3
63,221
21,073
9,299
3,29
Galat
15
33,996
2,266
Total
23
105,619
Koefisien Keragaman : 1,43 %
Keterangan
: tn = tidak nyata
* = berbeda nyata

Tabel 9. Uji Lanjut BNT terhadap Tinggi Batang Kacang Tanah 3 Minggu Setelah Tanam
P0
P1
P2
P3
Rata rata
BNT 5%
(24,416)
(25,783)
(25,916)
(28,866)
P0 (24,416)
1,851
P1 (25,783)
1,367tn
tn
tn
P2 (25,916)
1,500
0,133
P3 (28,866)
4,450*
3,083*
2,950*

Tabel 10. Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok terhadap Jumlah Daun Kacang
Tanah 1 Minggu Setelah Tanam (helai)
Perlakuan
Kelompok
Total
Rata-rata
Perlakuan
I
II
III
IV
V
VI
P0
16
8
12
16
16
12
80
13
P1
19
12
19
11
20
12
93
15
P2
16
20
19
18
20
12
105
17
P3
24
32
24
20
16
12
128
21
Total
75
72
74
65
72
48
406
Kelompok
Sumber : Hasil Penelitian (2013)

Tabel 11. Anava terhadap Jumlah Daun Kacang Tanah 1 Minggu SetelahTanam
SK
DB
JK
KT
F hitung
F tabel 5%
tn
Kelompok
5
131,334
26,266
1,294
2,90
*
Perlakuan
3
208,166
69,388
3,420
3,29
Galat
15
304,333
20,288
Total
23
Koefisien Keragaman : 6,65 %
Keterangan
: tn = tidak nyata
* = berbeda nyata

Tabel 12. Uji Lanjut BNT terhadap Jumlah Daun Kacang Tanah 1 Minggu Setelah Tanam
P0
P1
P2
P3
Rata rata
BNT 5%
(13)
(15)
(17)
(21)
P0 (13)
P1 (15)
2tn
6
tn
tn
P2 (17)
4
2
P3 (21)
8*
6*
4tn
-

Berdasarkan Tabel 12, hasil uji BNT 5%


terhadap dosis pemberian pupuk kompos cair kulit
pisang kepok menunjukan bahwa perlakuan P0 dan P1
berbeda nyata terhadap P3.

Berdasarkan Tabel 13, rata-rata jumlah daun


terbanyak diperoleh pada P3 yaitu 44 helai sedangkan
hasil rata-rata terendah diperoleh pada P0 yaitu 33 helai.
Selanjutnya data rata-rata jumlah daun tersebut
dilakukan uji Anava untuk mengetahui pengaruh pupuk
Pertumbuhan Jumlah Daun Kacang Tanah 2 Minggu terhadap jumlah daun kacang tanah 2 minggu setelah
tanam seperti yang disajikan pada Tabel 14.
Setelah Tanam
Hasil pengamatan rata-rata jumlah daun tanaman
Kemudian dilakukan uji BNT untuk mengetahui
kacang tanah umur 2 minggu setelah tanam dapat tingkat perbedaan yang nyata dari masing-masing
dilihat pada Tabel 13.
perlakuan dan hasil perhitungan tertera pada Tabel 15.

19

Rambitan, dkk.

Tabel 13. Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang


Tanah 2 Minggu Setelah Tanam (helai)
Kelompok
Perlakuan
I
II
III
IV
P0
36
28
31
36
P1
43
36
39
32
P2
36
40
40
44
P3
44
56
48
48
Total
159
160
158
160
Kelompok
Sumber : Hasil Penelitian (2013)

Kepok terhadap Jumlah Daun Kacang

V
40
39
40
34

VI
32
34
39
38

Total
Perlakuan
203
223
239
268

153

143

933

Ratarata
33
37
39
44

Tabel 14. Anava terhadap Jumlah Daun Kacang Tanah 2 Minggu Setelah Tanam
SK
DB
JK
KT
F hitung
F tabel 5%
tn
Kelompok
5
55,380
11,076
0,362
2,90
*
Perlakuan
3
376,790
125,596
4,109
3,29
Galat
15
458,460
30,564
Total
23
890,630
Koefisien Keragaman : 3,55%
Keterangan
: tn = tidak nyata
* = berbeda nyata
Tabel 15. Uji Lanjut BNT terhadap Jumlah Daun Kacang Tanah 2 Minggu Setelah Tanam
P0
P1
P2
P3
Rata rata
BNT 5%
(33)
(37)
(39)
(44)
P0 (33)
P1 (37)
4tn
7
tn
tn
P2 (39)
6
2
P3 (44)
11*
7*
5tn
-

Berdasarkan Tabel 15, hasil uji BNT 5%


terhadap dosis pemberian pupuk kompos cair kulit
pisang kepok menunjukan bahwa perlakuan P0 dan P1
berbeda nyata terhadap P3.

Berdasarkan Tabel 16, rata-rata jumlah daun


terbanyak diperoleh pada P3 yaitu 78 helai sedangkan
hasil rata-rata terendah diperoleh pada P0 yaitu 53 helai.
Selanjutnya data rata-rata jumlah daun tersebut
dilakukan uji Anava untuk mengetahui pengaruh pupuk
Pertumbuhan Jumlah Daun Kacang Tanah 3 Minggu terhadap jumlah daun kacang tanah 3 minggu setelah
tanam seperti yang disajikan pada Tabel 17.
Setelah Tanam
Hasil pengamatan rata-rata jumlah daun tanaman
Kemudian dilakukan uji BNT untuk mengetahui
kacang tanah umur 3 Minggu setelah tanam dapat tingkat perbedaan yang nyata dari masing-masing
dilihat pada Tabel 16.
perlakuan dan hasil perhitungan tertera pada Tabel 18.
Tabel 16. Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang
Tanah 3 Minggu Setelah Tanam (helai)
Kelompok
Perlakuan
I
II
III
IV
58
48
54
60
P0
60
68
63
62
P1
60
64
71
78
P2
92
76
80
80
P3
Total
270
256
268
280
Kelompok
Sumber : Hasil Penelitian (2013)

Kepok terhadap Jumlah Daun Kacang

V
54
51
58
72

VI
48
56
62
70

Total
Perlakuan
322
360
393
470

235

236

1545

Ratarata
53
60
65
78

Tabel 17. Anava terhadap Jumlah Daun Kacang Tanah 3 Minggu Setelah Tanam
SK
DB
JK
KT
F hitung
F tabel 5%
tn
5
435,875
87,175
2,865
2,90
Kelompok
*
3
1979,458
659,819
21,691
3,29
Perlakuan
15
456,292
30,419
Galat
23
2871,625
Total
Koefisien Keragaman : 2,14 %
Keterangan
: tn = tidak nyata
* = berbeda nyata
Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.)

20

Tabel 18. Uji Lanjut BNT terhadap Jumlah Daun Kacang Tanah 3 Minggu Setelah Tanam
P0
P1
P2
P3
Rata rata
BNT 5%
(53)
(60)
(65)
(78)
P0 (33)
P1 (37)
7tn
6
P2 (39)
12*
5tn
P3 (44)
25*
18*
13*
-

Berdasarkan Tabel 18, hasil uji BNT 5%


terhadap dosis pemberian pupuk kompos cair kulit
pisang kepok menunjukan bahwa perlakuan P0,P1,P2
berbeda nyata P3 dan perlakuan P0 berbeda nyata
terhadap P2.
Diagram batang pertumbuhan jumlah daun
tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas
gajah pada fase vegetatif dapat dilihat pada Gambar 2.

Berdasarkan Tabel 19, rata-rata berat basah


terbesar diperoleh pada P3 yaitu 17,16 g sedangkan
hasil rata-rata berat basah terkecil diperoleh pada P0
yaitu 7 g. Selanjutnya data rata-rata berat basah tersebut
dilakukan uji Anava untuk mengetahui pengaruh pupuk
terhadap berat basah polong kacang tanah 10 minggu
setelah tanam seperti yang disajikan pada Tabel 20.
Kemudian dilakukan uji BNT untuk mengetahui

Jumlah Daun Kacang Tanah


90
80
70

Cm

60
50
Minggu 1

40

Minggu 2

30

Minggu 3

20
10
0
P0

P1

P2

P3

Perlakuan

Gambar 2. Diagram Batang Rata-Rata Jumlah Daun Kacang Tanah

Berat Basah Polong Kacang Tanah 10 Minggu


Setelah Tanam
Hasil pengamatan rata-rata berat basah tanaman
kacang tanah umur 10 minggu setelah tanam dapat
dilihat pada Tabel 19.

tingkat perbedaan yang nyata dari masing-masing


perlakuan dan hasil perhitungan tertera pada Tabel 21.
Berdasarkan Tabel 21, hasil uji BNT 5%
terhadap dosis pemberian pupuk kompos cair kulit
pisang kepok menunjukan bahwa perlakuan P0 dan P1

Tabel 19. Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang


Kacang Tanah 10 Minggu Setelah Tanam (g)
Kelompok
Perlakuan
I
II
III
IV
8
8
5
8
P0
10
11
8
12
P1
14
12
15
16
P2
16
16
18
19
P3
Total
48
47
46
55
Kelompok
Sumber : Hasil Penelitian (2013)

21

Rambitan, dkk.

Kepok terhadap Berat Basah Polong

V
7
10
13
16

VI
6
8
15
18

Total
Perlakuan
42
59
85
103

46

47

289

Ratarata
7,00
9,83
14,16
17,16

Tabel 20. Anava terhadap Berat Basah Polong Kacang Tanah 10 Minggu Setelah Tanam
SK
DB
JK
KT
F hitung
F tabel 5%
tn
Kelompok
5
14,709
2,941
1,710
2,90
*
Perlakuan
3
366,459
122,153
71,060
3,29
Galat
15
25,791
1,719
Total
23
406,959
Koefisien Keragaman : 10,543 %
Keterangan
: tn = tidak nyata
* = berbeda nyata
Tabel 21. Uji Lanjut BNT terhadap Berat Basah Polong Kacang Tanah 10 Minggu Setelah
Tanam
P0
P1
P2
P3
Rata rata
BNT 5%
(7,00)
(9,83)
(14,16)
(17,16)
P0 (7,00)
0,000
6,248
P1 (9,83)
2,833tn
0,000
tn
P2 (14,16)
7,166*
4,333
0,000
tn
P3 (17,16)
10,166*
7,333*
3,000
0,000

berbeda nyata dengan perlakuan P3 dan perlakuan P0


berbeda nyata terhadap P2.
Diagram batang berat basah polong tanaman
kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas gajah pada
fase generatif dapat dilihat pada Gambar 3.

beda. Contohnya tanaman kacang tanah memilki fase


vegetatif selama 3 minggu setelah tanam. Oleh karena
itu untuk melihat pertumbuhan tinggi batang dan
jumlah daun dilakukan pada minggu ke 1, 2 dan 3.
Pada umur 1 minggu setelah tanam, tanaman

Berat Basah Polong Kacang Tanah


25
20

gr

15
10

Minggu 10

5
0
P0

P1

P2

P3

Perlakuan

Gambar 3. Diagram Batang Rata-rata Berat Basah Polong Kacang Tanah

Hasil analisis varian (Anava) terhadap semua


parameter penelitian (tinggi batang, jumlah daun dan
berat basah polong kacang tanah) diperoleh F hitung >
F tabel pada taraf signifikan 5 %. Hal ini menunjukkan
bahwa pupuk kompos cair kulit pisang kepok (Musa
paradisiaca) berpengaruh terhadap pertumbuhan dan
hasil tanaman kacang tanah (Arachis hypogeae, L).
Pengaruh Kulit Pisang Kepok Terhadap Tinggi
Batang Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea
L.) Varietas Gajah
Pengamatan pengaruh kulit pisang kepok sebagai
pupuk kumpos cair terhadap pertumbuhan kacang tanah
dilakukan pada fase vegetatif. Fase vegetatif adalah
fase berkembangnya bagian vegetatif dari suatu
tanaman meliputi akar, batang dan daun. Fase vegetatif
ini sendiri berlangsung selama periode tertentu. Setiap
tanaman memiliki periode fase vegetatif yang berbeda-

kacang tanah pada perlakuan yang tidak menggunakan


pupuk kompos cair kulit pisang kepok (P0) diperoleh
rata-rata tinggi tanaman kacang tanah yaitu 4,93 cm.
Hal ini karena pada perlakuan tidak diberikan pupuk
kompos cair kulit pisang kepok yang memiliki unsurunsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman kacang
tanah. Meskipun ketersediaan unsur hara ada pada
masing-masing tanah, tetapi belum tentu unsur hara
tersebut mencukupi kebutuhan tanaman. Menurut
Lakitan (2001), jika ketersediaan unsur hara kurang
dari jumlah yang dibutuhkan tanaman, maka tanaman
akan terganggu metabolismenya. Gejala kekurangan
unsur hara ini dapat berupa pertumbuhan akar, batang
atau daun yang terhambat (kerdil). Pada perlakuan yang
diberikan pupuk 250 ml (P3) diperoleh tinggi tanaman
tertinggi yaitu rata-rata 8,10 cm. Sejalan dengan
Supriyadi (2001) yang menyatakan kacang tanah
varietas gajah yang tidak diberikan pupuk memiliki

Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.)

22

tinggi batang 5,7 cm sedangkan kacang tanah yang


diberikan kompos rata-rata tingginya 7,3 cm. Maka
setelah itu dilakukan perhitungan analisis data, dan
perlakuan diperoleh F hitung (7,40) > F tabel (3,29).
Hal ini menunjukan bahwa penggunaan kulit pisang
kepok memberikan pengaruh yang nyata terhadap
pertumbuhan tinggi batang tanaman kacang tanah,
karena di dalam pupuk kompos cair kulit pisang kepok
tersebut banyak terdapat unsur hara yang dapat
menyuplai pertumbuhan kacang tanah.
Pada umur 2 minggu setelah tanam diperoleh
rata-rata tertinggi tanaman kacang tanah pada P3 yaitu
22 cm sedangkan rata-rata terendah tanaman kacang
tanah pada P0 yaitu 17,56 cm. Hal ini sejalan dengan
Supriyadi (2001) yang menyatakan kacang tanah yang
diberikan kompos memiliki rata-rata tinggi 22,9 cm
sedangkan yang tidak diberikan pupuk 17,56 cm.
Kacang tanah yang diberikan perlakuan P0 yang tidak
diberikan pupuk berbeda dengan P1, P2 dan P3 yang
diberikan bahan organik tambahan sehingga
pertumbuhannya pun berbeda dengan kacang tanah
yang tidak diberikan pupuk. Berdasarkan analisis varian
terhadap tinggi tanaman kacang tanah 2 minggu setelah
tanam memberikan hasil F hitung (5,16) > F tabel
(3,29) sehingga pemberian pupuk kompos cair kulit
pisang kepok memberikan pengaruh yang nyata
terhadap pertumbuhan tinggi tanaman kacang tanah
pada minggu ke 2 setelah tanam.
Pada umur 3 minggu setelah tanam, tinggi
tanaman terendah diperoleh pada perlakuan P0 sebagai
kontrol yaitu rata-rata 24,41 cm. Tinggi tanaman
tertinggi diperoleh pada perlakuan yang diberikan
pupuk 250 ml (P3) yaitu rata-rata 28,86 cm. Hal ini
karena penyerapan unsur hara yang terkandung di
dalam kulit pisang kepok telah diserap dengan baik
oleh tanaman kacang tanah pada umur 3 minggu setelah
tanam, karena telah memilki sistem perakaran yang
baik sehingga mampu menyerap unsur hara yang
diberikan. Sesuai dengan pendapat yang dikemukakan
oleh Sutomo dalam Ari (2012), yang menyatakan
bahwa sistem perakaran tanaman sangat menentukan
proses penyerapan unsur hara, morfologi sistem
perakaran yang sudah sempurna akan menyebabkan
penyerapan unsur hara yang optimal. Kandungan unsur
Ca yang ada di dalam kulit pisang membantu
tumbuhnya dinding sel, perkecambahan, perakaran dan
memberikan kekuatan pada leguminose.

yaitu berturut-turut rata-rata 13, 33 dan 53 helai. Hal ini


disebabkan karena pada perlakuan P0
tidak
menggunakan pupuk kompos cair kulit pisang kepok
yang dapat memacu pertumbuhan tanaman kacang
tanah karena didalam kulit pisang tersedia unsur-unsur
hara yang cukup untuk pertumbuhan organ
vegetatifnya. Sesuai dengan pendapat Rismunadar
dalam Ari (2012), yang menyatakan bahwa ketidak
lengkapan dari unsur hara yang tersedia dapat
mengakibatkan hambatan bagi pertumbuhan tanaman,
perkembangbiakan dan produktivitasnya.
Pada perlakuan P3 umur 1, 2 dan 3 minggu
setelah tanam diperoleh jumlah daun terbesar yaitu
berturut-turut rata-rata 21, 44 dan 78 helai. Perbedaan
yang signifikan dari P3 minggu ke 3 setelah tanam
terhadap perlakuan lainnya diduga karena pemberian
pupuk dengan rentang waktu 2 minggu sekali akan
memberikan hasil yang baik. Akan tetapi jika diberikan
1 minggu sekali maka unsur hara yang diberikan akan
berlebihan yang nantinya bisa berpengaruh pada
tanaman, begitu juga dengan pemberian 3 minggu
sekali akan habis diguankan oleh tanaman sebelum
diberikan lagi, sehingga pemberian 2 minggu sekali
sangat tepat. Sesuai dengan pendapat Agromedia
(2010), yang menyatakan bahwa pemberian pupuk yang
optimal pada tanaman yaitu 1 minggu sebelum tanam
dan 2 minggu sekali selama masa tanam. Ini terbukti
bahwa penggunaan kulit pisang kepok sebagai pupuk
kompos cair dengan dosis yang banyak akan semakin
baik untuk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman
kacang tanah karena didalam kulit pisang kepok banyak
tersedia unsur hara sperti N, P, K dan Ca yang dapat
dimanfaatkan oleh tanaman kacang tanah.

Pengaruh Kulit Pisang Kepok Terhadap Berat Basah


Polong Tanaman Kacang Tanah (arachis hypogaea L.)
Varietas Gajah
Pengamatan pengaruh kulit pisang kepok sebagai
pupuk kumpos cair terhadap hasil tanaman kacang
tanah dilakukan pada fase generatif. Fase generatif
adalah fase pertumbuhan organ generatif tanaman
meliputi bunga, buah dan biji. Fase generatif kacang
tanah dimulai pada saat tanaman berumur 4 minggu
ditandai dengan munculnya bunga. Oleh karena itu
dilakukan pengamatan pada saat masa panen yaitu pada
saat tanaman kacang tanah berumur 10 minggu setelah
tanam. Penimbangan berat basah tanaman kacang tanah
varietas gajah dilakukan dengan menimbang hasil berat
Pengaruh Kulit Pisang Kepok Terhadap Jumlah basah polong per tanaman. Berat basah polong kacang
Daun Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) tanah pada perlakuan P0 rata-rata 7 g merupakan berat
basah terendah, sedangkan tertinggi diperoleh pada P3
Varietas Gajah
Berdasarkan hasil analisis varian terhadap yaitu rata-rata 17,16 g. Hasil varian terhadap rata-rata
jumlah daun pada tanaman kacang tanah pada umur berat basah polong per tanaman varietas gajah dari 4
1, 2 dan 3 minggu setelah tanam memberikan hasil F perlakuan menunjukan perbedaan yang nyata yaitu F
hitung > F tabel. Pada perlakuan P0 umur 1, 2 dan 3 hitung (71,060) > F tabel (3,29).
minggu setelah tanam diperoleh jumlah daun terkecil
23

Rambitan, dkk.

Hasil uji BNT menunjukan bahwa perlakuan P0


(0 ml) berbeda nyata dengan P2 (200 ml) dan P3 (250
ml). Hal ini disebabkan karena perlakuan P2 dan P3
diberikan pupuk kompos cair kulit pisang kepok dengan
dosis yang optimal yaitu 200 ml dan 250 ml, sehingga
semakin banyak juga bunga yang terbentuk, yang
kemudian akan menjadi ginofor dan menjadi cikal
bakal polong, maka secara keseluruhan tanaman dengan
perlakuan P3 lebih berat ukuran berat basah polongnya.
Kemampuan tanaman tersebut untuk menyerap unsur
hara yang ada dalam tanah didukung oleh perakaran
yang baik. Dengan perakaran yang baik maka tanaman
dapat menyerap unsur hara dengan baik sehingga
pertumbuhan dapat berlangsung dengan baik dan juga
volume tanaman akan bertambah.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data
serta pembahasan, maka dapat disimpulkan hal- hal
sebagai berikut: (1) Pupuk kompos cair kulit pisang
kepok berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil
tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas
gajah sebagai penunjang mata kuliah fisologi tumbuhan
dan bioteknologi; (2) Dosis pupuk kompos cair kulit
pisang kepok yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil
tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L.) varietas
gajah sebagai penunjang mata kuliah fisiologi
tumbuhan dan bioteknologi adalah dosis 250 ml.

DAFTAR RUJUKAN
Agromedia. 2010. Petunjuk Pemupukan. PT.Agromedia
Pustaka : Jakarta.
Ari.2012.Tanaman
dan
Kalsium
(online).
http://arrieshawolelforever.blogspot.com diakses
tanggal 7 April 2013.
Fitriani, Resha 2011. Pengolahan Kulit Pisang Menjadi
Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Bawang
Daun http://reshaiqhcahyani.blogspot.com diakses
tanggal 12 Januari 2013.
Lakitan, Benyamin. 2001. Dasar- Dasar Fisiologi
Tumbuhan. Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Pranata, Ayub. 2004. Pupuk Organik Cair : Aplikasi
dan Manfaatnya. Agromedia Pustaka: Jakarta.

Purbowo, Mahfud M dan Juniarti E. 2012.


Pemanfaatan Limbah Kulit Pisang Sebagai
Bahan
Pembuatan
Pupuk
Cair.
http://purbowojombang.wordpress.com diakses
taggal 20 Januari 2013.
Rukmana, Rahmat.2003.Kacang Tanah. Penerbit
Kanisius: Yogyakarta.
Suprapto, 2001. Bertanam Kacang Tanah. PT.Penebar
Swadaya: Jakarta.
Supriyadi, dkk. 2001. Uji Pupuk Biologi Terhadap
Produksi Kacang Tanah di SMKN 1 Pino
Bengkulu Selatan. Laporan Teknik. Hal 61 64.

Pengaruh Pupuk Kompos Cair Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.)

24