Anda di halaman 1dari 30

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

BIMBINGAN DAN KONSELING SERTA


KONSELING JIWA PADA KONDISI BENCANA

OLEH
KELOMPOK 2

NI MADE AYU RAHAYUNI


IDA AYU RIKA KUSUMADEWI
I GEDE SUYADNYA PUTRA

(P07120214001)
(P07120214002)
(P07120214023)

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D-IV SEMESTER IV
2016

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang
telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah dengan judul "Bimbingan dan Konseling dan Konseling dalam Kondisi Bencana" mata
kuliah Keperawatan Jiwa di Politeknik Kesehatan Denpasar tepat pada waktu yang telah
ditentukan.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan motivasi berbagai
pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada
rekan-rekan yang telah membantu.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik
yang bersifat konstruktif sehingga kami dapat menyempurnakan makalah ini.
Om Santih, Santih, Santih, Om
Denpasar, 13 Maret 2016
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi

i
ii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan

1
2
2
2

BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Bimbingan dan Konseling
2.1.1
Pengertian bimbingan

3
3

2.1.2

Pengertian Konseling

2.1.3

Tujuan Bimbingan dan Konseling

2.1.4

Prinsip Bimbingan dan Konseling

2.1.5

Asas bimbingan dan Konseling

2.1.6

Bidang-bidang Bimbingan dan Konseling

10
15

2.2 Konseling Traumatik


17
2.2.1
Pengertian dan Hakekat Trauma
17
2.2.2
Faktor penyebab trauma
18
2.2.3
Keterampilan Yang harus dimiliki oleh konselor dalam konseling traumatik
2.2.4

21
Proses dan tahapan dalam strategi konseling traumatik

23

BAB 3 PENUTUP
3.1
Kesimpulan
3.2
Saran

26

DAFTAR PUSTAKA

28

26

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sepanjang sejarah kehidupan umat manusia dipermukaan bumi ini, seiring
itu pula keberagaman persoalan muncul silih berganti seolah tidak pernah habishabisnya, seperti konflik, kekerasan, pertumpahan darah. Itu belum lagi
problematika alamiah seperti bencana alam; gempa bumi, tsunami, meletus
gunung api, tanah longsor, banjir, badai topan. Keberagaman peristiwa dan
pengalaman yang menakutkan tersebut, selain telah memporak-porandakan
kondisi fisik lingkungan hidup, juga merusak ketahanan fungsi mental manusia
yang mengalaminya, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam waktu
yang singkat dan jangka panjang. Gambaran peristiwa dan pengalaman yang
demikian dinamakan dengan trauma.
Berbedanya gejala trauma dalam realitas yang dihadapi manusia perlu
ditangani secara bijak oleh para ahli atau masyarakat secara utuh. Karena itu
dengan terdeteksinya gejala-gejala awal dari suatu peristiwa trauma, maka akan
memudahkan kita dalam upaya pemberian bantuan (konseling) secara baik dan
kontinyu. Dalam melakukan konseling traumatik, keberadaan konsep deteksi awal
akan menjadi hal yang penting untuk dipahami dan diperhatikan oleh pemberi
bantuan sehingga tergambar berbagai sifat atau jenis trauma yang diderita korban,
seperti trauma ringan, sedang dan berat. Namun, tidak semua peristiwa atau
pengalaman yang dialami manusia itu bermuara pada trauma. Biasanya kejadian
dan pengalaman yang buruk, mengerikan, menakutkan atau mengancam
keberadaan individu yang bersangkutan, maka kondisi ini akan berisiko
memunculkan rasa trauma. Sementara, peristiwa dan pengalaman yang baik atau
menyenangkan, orang tidak menganggap itu suatu kondisi yang trauma.
Kondisi trauma (traumatics) biasanya berawal dari keadaan stres yang
mendalam dan berlanjut yang tidak dapat diatasi sendiri oleh individu yang
mengalaminya. Stres adalah suatu respon/reaksi yang diterima individu dari
rangsangan lingkungan sekitar, baik yang berupa keadaan, peristiwa maupun
pengalamanpengalaman, yang menjadi beban pikiran terus menerus dan pada
akhirnya bermuara pada trauma. Untuk menanggulangi keberlanjutan trauma sejak
kanak-kanak hingga dewasa, kiranya perlu segera dilakukan upaya deteksi dini.
Sejauh mana trauma berkembang, bagaimana sifat atau jenisnya. Bila keadaan

trauma dalam jangka panjang, maka itu merupakan suatu akumulasi dari peristiwa
atau pengalaman yang buruk dan memilukan. Dan, konsekuensinya adalah akan
menjadi suatu beban psikologis yang amat berat dan mempersulit proses
penyesuaian diri seseorang, akan menghambat perkembangan emosi dan sosial
individu (anak) dalam berbagai aplikasi perilaku dan sikap, seperti dalam hal
proses belajar mengajar (pendidikan) atau pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
individu (anak) lainnya secara luas.
Dalam pengertiannya konseling merupakan salah satu bentuk hubungan
yang bersifat membantu, makna bantuan itu sendiri, yaitu sebagai upaya untuk
membantu orang lain agar mencapai kemandirian, mampu menyelesaikan masalah
yang dihadapinya dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam
kehidupannya. Tugas konselor adalah menciptakan kondisi-kondisi fasilitatif yang
diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan klien. Sementara itu, tujuan
konseling mengadakan perubahan perilaku pada klien sehingga memungkinkan
hidupnya lebih produktif dan menjadi normal kembali.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa sajakah hakikat dari bimbingan konseling?
1.2.2 Apa sajakah hakikat dari bimbingan konseling traumatic?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui hakikat dari bimbingan konseling.
1.3.2 Mengetahui hakikat dari bimbingan konseling traumatic.
1.4 Manfaat
Manfaat bagi mahasiswa adalah sebagai dasar hakikat dalam manajemen
bencana khususnya dalam pemeberian konseling pasca bencana.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Bimbingan dan Konseling


2.1.1 Pengertian Bimbingan
Bimbingan dan Konseling merupakan terjemahan dari istilah
guindance dan counselling dalam bahasa Ingris. Kata guindance
berasal dari kata kerja to guide yang mempunyai arti menunjukan,
membimbing, menuntun, ataupun membantu (Hallen 2005:2). Sesuai
dengan

istilahnya

maka

bimbingan dapat diartikan secara umum

sebagai bantuan dan tuntunan, namun tidak semua bantuan diartikan


bimbingan.
Menurut

Shertzer

dan

Stone mengartikan bimbingan sebagai

proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri


dan

lingkungannya.

Menurut

Rochman

Natawidjaja mengartikan

bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu


yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut
dapat memahami dirinya dan dapat bertindak secara wajar,
dengan

tuntutan

dan

keadaan

lingkungan

sekolah,

sesuai

keluarga,

masyarakat, dan kehidupan pada umumnya.


Sementara, Winkel (2005:27) mendefenisikan bimbingan: (1)
suatu usaha untuk

melengkapi

individu

dengan

pengetahuan,

pengalaman dan informasi tentang dirinya sendiri, (2) suatu cara untuk
memberikan

bantuan

kepada

individu

untuk

memahami

dan

mempergunakan secara efisien dan efektif segala kesempatan yang


dimiliki untuk perkembangan pribadinya, (3) sejenis pelayanan kepada
individu-individu agar mereka dapat menentukan pilihan, menetapkan
tujuan dengan tepat dan menyusun rencana yang realistis, sehingga
mereka dapat menyesuaikan

diri dengan

memuaskan

diri dalam

lingkungan dimana mereka hidup, (4) suatu proses pemberian bantuan


atau pertolongan kepada individu dalam hal memahami diri sendiri,
menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan,
memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep
dirinya sendiri. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan (arahan,
masukan) terhadap seseorang.

Dari beberapa definisi para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan


bahwa bimbingan sama dengan pemberian bantuan kepada seseorang yang
membutuhkan bantuan untuk membantu seseorang mengatasi masalahnya
atau mengungkapkan kemampuan yang dimilikinya. Bimbingin diberikan
oleh seorang ahli dibidangnya kepada orang yang membutuhkan
bimbingan. Dan bimbingan juga dapat diartikan sebagai upaya pemberian
bantuan kepada peserta didik dalam rangka mencapai perkembanganya
yang optimal.
Bimbingan dapat diberikan kepada seseorang individu atau
sekumpulan individu, ini berarti bahwa bimbingan dapat diberikan secara
individual dan juga diberikan secara kelompok. Bimbingan diberikan
kepada siapa saja yang membutuhkan,

tanpa

memandang

umur

sehingga baik anak maupun orang dewasa, dengan demikian bimbingan


ini sangat penting untuk membantu para konseli
masalah agar dapat teratasi

yang

mengalami

secara optimal, sebab itu dibutuhkan

pelayanan yang baik, menyenangkan, menarik, dan profesional.


2.1.2

Pengertian Konseling
Pengertian

konseling

secara

etimologis,

istilah

konseling

berasal dari bahasa latin, yaitu consilium yang berarti dengan atau
bersama yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Sedangkan
dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari sellan yang
berarti menyerahkanatau menyampaikan.
Sebelumnya telah dijelaskan pengertian bimbingan selanjutnya
akan dijelaskan pengertian konseling. Wagito, (dalam Aqib 2012:29)
mengemukakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada
individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara,
dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi
untuk mencapai kesejateraan hidupnya.
Menurut McDanial, (dalam Prayitno dan Amti 2004:100)
konseling adalah suatu rangkaian pertemuan langsung dengan individu
yang ditujuakan pada pemberian bantuan kepadanya untuk dapat

menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya sendiri dan


dengan lingkungannya.
Tolbert, (dalam Prayitno dan Amti 2004:101). Konseling adalah
hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang
dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuankemampuan khusus yang dimilikinya. Dalam hal ini konseli dibantu untuk
memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan
keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan
potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun
masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan
masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan
datang.
Dengan melihat uraian tentang bimbingan dan konseling di atas,
maka dapat dirumuskan tentang pengertian Bimbingan dan Konseling
(BK) yaitu Serangkaian kegiatan berupa bantuan yang dilakukan oleh
seorang ahli pada konseling dengan cara tatap muka, baik secara
individu

atau

beberapa

orang dengan memberikan pengetahuan

tambahan untuk mengatasi permalahan yang dialami oleh konseli, dengan


cara terus menerus dan sistematis.
Menurut Robinson, M. Surya, (dalam Yusuf dan Nurihsan 2010:7)
mengartikan konseling adalah semua bentuk hubungan antara dua orang,
di mana yang seorang, yaitu klien dibantu untuk lebih mampu
menyesuaikan
lingkungannya.

diri

secara efektif terhadap

Pietrofesa

(dalam

Yusuf

dirinya

dan

sendiri

Nurihsan

dan

2010:8)

menunjukan sejumlah ciri-ciri konseling profesional sebagai berikut :


(a) Konseling merupakan suatu hubungan profesional yang diadakan
oleh seorang konselor yang sudah dilatih untuk pekerjaannya itu. (b)
Dalam hubungan ynag bersifat profesional itu, klien mempelajarari
keterampilan pengambilan keputusan, pemecahan masalah, serta tingkah
laku atau sikap-sikap baru. (c) Hubungan profesional itu dibentuk
berdasarkan kesukarelaan antara klien dan konselor.

Sherrtzer dan Stone (dalam Yusuf dan Nurihsan 2010: 8)


mengelompokan konseling didasarkan pada ranah perilaku yang
merupkan kepuduliannya, yaitu yang berorientasi pada ranah perilaku
yang merupakan kepuduliannya, yaitu yang berorientasi pada ranah
konitif dan ranah afektif. Patterson (dalam Yusuf dan Nurihsan 2010 :
8) secara rinci menglompokan pendekatan konseling menjadi lima
kelompok,

yaitu:

penekatan

rasional,teori

belajar,

psikoanalitik,

perseptual- penomenologis, dan eksistensial.


Dari uaraian

tersebut

dapat

menggambarkan

betapa

sulit

merumuskan definisi konseling yang komprehensif dan berlaku untuk


setiap

orang

dari berbagai aliran. Konseling merupakan salah satu

bentuk hubungan yang bersifat membantu. Makna bantuan disini yaitu


sebagai upaya untuk membantu orang lain agar ia mampu tumbuh kearah
yang dipilihnya sendiri, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya
dan

mampu

menghadapi

krisis-krisis

yang

dialami dalam

kehidupannya. Dalam hal ini tugas konselor adalah menciptakan kondisikondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan klien.
Dari beberapa rumusan definisi konseling tersebut

dapat

diperoleh beberapa unsur yang terkandung di dalam definisi konseling


sebagai berikut :
a. Pembimbing/konseling, yaitu seseorang yang karena keahlian dan
kewenangan memberikan bantuan.
b. Terbimbing konseling, yaitu seseorang yang karena masalahnya yang
diha dapinya dan ketidakmampan dalam menyelesaiakan.
c. Masalah, yaitu terjadinya interaksi antara pembimbing/konseli untuk
memperoleh penyelesaian yang terbaik.
d. Proses, yaitu terjadinya interaksi antara

pembimbing/konselor

dengan konseli secara tatap muka (langsung berhadapan muka) dalam


upaya penyelesaian masalah.
e. Tujuan, yaitu sesuatu yang ingin dicapai oleh pembimbing/konseli,
dalam arti dapat memberi bantuan dan mencapai hasil yang baik;
dalam arti dapat terselesaikan maslanya. Aqib (2012 : 30)
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas maka dapat di simpulkan,
bahwa konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari

bimbingan dalam usaha membantu konsele secara tatap muka dengan


tujuan agar klien dapat mengambil tanggung

jawab sendiri terhadap

berbagai persoalan atau masalah khusus, dengan tujuan agar individu


dapat memahami dirinya sendiri, dapat memberikan reaksi (tanggapan)
terhadap pengaruh-pengaruh lingkungan, dan dapat mengembangkan serta
memperjelas tujuan-tujuan hidupnya.
2.1.3

Tujuan Bimbingan dan Konseling


Bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik

mencapai tugas-tugas perkembangan secara optimal sebagai makhluk


tuhan, sosial, dan pribadi. Lebih lanjut tujuan bimbingan dan konseling
adalah membantu individu dalam mencapai : (a) kebahagian hidup pribadi
sebagai makhluk tuhan, (b) kehidupan

yang

produktif dan

efektif

dalam masyarakat, (c) hidup bersama dengan individu-individu lain, (d)


harmoni antara cita-cita mereka dengan kemampuan yang dimilikinya.
(Wardati dan Jauhar 2011:28)
Untuk

mencapai

tujuan-tujuan

tersebut,

mereka

harus

mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi,


kekuatan dan tugas- tugas perkembangannya, (2) mengenal dan
memahami potensi atau peluang yang ada dilingkungannya, (3) mengenal
dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian
tujuan tersebut, (4) memahami dan mengatasi kesulitan- kesulitan sendiri
(5)

menggunakan

kemampuannya

untuk

kepentingan

dirinya,

kepentingan lembaga tenpat kerja dan masyarakat, (6) menyesuaikan diri


dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya; dan (7) menggunakan
segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara tepat dan teratur
secara optimal.
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan membantu
peserta didik agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangannya yang
meliputi aspek pribadi, sosial, belajar (akademik), dan karir. (Yusuf dan
Nurihsan, 2010:13-14) Tujuan bimbingan dan konseling tersebut diatas
memberikan gambaran tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling di

Sekolah, karena dengan adanya tujuan bimbingan dan konseling, maka


pelaksanaan bimbingan dan konseling di Sekolah akan benar-benar
memberikan hasil yang positif bagi konseli dan bimbingan dan konseling
akan diminati oleh konseli sebagai sasaran layanan karena dalam tujuan
bimbingan dan konseling telah dijelaskan apa yang menjadi capaian
bimbingan dan konseling pada diri konseli.
Dari tujuan bimbingan dan konseling di SMA tersebut maka
ditarik kesimpulan bahwa bimbingan konseling bertujuan membantu
peserta didik agar memiliki kompotensi mengembangkan potensi dirinya
seoptimal mungkin atau mewujudkan nilai-nilai yang terkandung dalam
tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasainya sebaik mungkin.
2.1.4

Prinsip Bimbingan dan Konseling


Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang

kemanusian yang menjadi dasar bagi pemberian layanan bantuan atau


bimbingan. Menurut Prayitno dan Amti (2004) mengemukakan ada 4
prinsip Bimbingan dan Konseling yaitu: (a) prinsip berkenaan dengan
sasaran layanan, (b) pinsip yang berkenaan dengan permasalahan
individu, (c) prinsip yang berkenaaan dengan program layanan, (d) prinsip
berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan. Prinsip-prinsip BK
tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
1. Prinsip yang berkenaan dengan sasaran layanan
a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa
memandang umur, jenis kelamin, suku, agama dan status
sosial ekonomi.
b. Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan
tingkah laku individu yang unik dan dinamis.
c. Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap
dan bernagai aspek perkembangan individu.
d. Bimbingan dan konseling memberikan perhatian utama kepada
perbedaan individual yang menjadi orientasi pokok pelayanan.
2. Prinsip yang berkenaan dengan permasalahan individu.
a. BK berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh
kondisi mental atau fisik individu terhadap penyesuaian

dirinya dirumah, disekolah serta dalam kaitannya dengan


kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh
lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
b. Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan
faktor timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya
menjadi perhatian utama pelayanan BK.
3. Prinsip yang berkenaan dengan program layanan. Adapun prinsipprinsip yang berkenaan dengan program pelayanan layanan BK itu
adalah sebgaai berikut :
a. BK merupakan bagian integrasi dari proses pendidikan dan
pengembangan, oleh karena itu BK harus diselaraskan
dan

dipadukan

dengan

program

pengembangan peserta didik


b. Program BK
harus
fleksibel

pendidikan
disesuaikan

serta
dengan

kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga dan


c. Program bimbingan dan konseling disusun secara
berkelanjutan dari jenjang pendidikan terendah sampai
tertinggi.
4. Prinsip berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan layanan
5. Pelaksanaan pelayanan BK baik yang bersifat insidental maupun
terprogram,

dimulai

dengan

pemahaman

tentang

tujuan

layanan, dan tujuan ini akan diwujudkan melalui proses tertentu


yang dilaksanakan oleh tenaga ahli dalam bidangnya, yaitu
konselor profesional. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan hal
tersebut adalah:
a. BK harus diarahkan untuk pengembangan individu yang
akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalm menghadapi
permasalahannya.
b. Dalam proses BK keputusan yang diambil dan akan
dilakukan oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu
sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari pihak lain.
c. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli
dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang
dihadapi.

d. Kerja sama antara guru pembimbing, guru-guru lain dan


orang tua anak amat menentukan hasil pelayanan bimbingan
serta.
b. Pengembangan program pelayanan BK ditempuh melalui
pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan
penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses
2.1.5

pelayanan dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.


Asas Bimbingan dan Konseling
Pelayanan

Bimbingan

dan

Konseling

adalah

pekerjaan

profesional. Pekerjaan yang profesional itu harus dilaksanakan dangan


mengikuti kaidah- kaidah yang menjamin efisien dan efektivitas proses
layanan Bimbingan dan konseling. Dalam penyelanggraan pelayanan
bimbingan dan konseling kaidah- kaidah tersebut dikenal dengan asasasas bimbingan dan konseling. Asas-asas yang dimaksud adalah asas
kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kekinian, kemandirian, kegiatan,
kedinamisan, keterpaduan, kenormatofan, keahlian, alih tangan kasus dan
tutwurihandayani (Prayitno dan Amti, 2004:115)
1. Asas kerahasiaan
Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak
boleh disampaikan kepada orang lain, atau lebih-lebih hal atau
keterangan yang tidak boleh atau tidak layak diketahui oleh orang
lain. Asas kerahasiaan ini merupakan asas kunci dalam usaha
bimbingan dan konseling. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan,
maka penyelenggra atau pemberi layanan akan mendapatkan
kepercayaan dari semua pihak terutama klien sehingga mereka akan
mau memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling dengan
sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika konselor tidak dapat memegang
asas kerahasiaan dengan baik, maka hilanglah kepercayaan klien,
hingga akibatnya pelayanan bimbingan dan konseling tidak
diminati oleh para konseli.
2. Asas kesukarelaan
Proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar
kesukarelaan,

baik

dari konselor

maupun konseli.

Konseli

diharapakan secara suka dan rela tanpa ragu-ragu ataupun merasa

terpaksa,

menyampaikan

masalah

yang

dihadapinya,

serta

mengungkapkan segrnap fakta, data, dan seluk beluk berkenaan


dengan masalahnya itu kepada konselor dan konselor

juga

hendaknya dapat memberikan bantuan dengan tidak terpaksa,


atau dengan kata lain konselor memberikan bantuan dengan ikhlas.
3. Asas keterbukaan
Dalam

pelaksanaan

bimbingan

dan

konseling

sangat

diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor


maupun konseli. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia
menerima saran-saran dari luar justru lebih dari itu, diharapkan
masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri
untuk kepentingan pencegahan masalah.
Konseli yang membutuhkan bimbingan dan konseling diharapkan
dapat berbicara dengan sejujur mungkin dan berterus terang
tentang dirinya sehinnga dengan keterbukaan

ini penelaahan

serta pengkajian berbagai kekuatan dan kelemahan konseli dapat


dilaksanakan.
4. Asas kekinian
Masalah individu yang ditanggulangi adalah masalah-masalah yang
sedang dirasakan sekarang bukan masalah yang sudah lampau, dan
juga bukan masalah yang mungkin akan dialami dimasa akan
datang. Asas kekinian
konselor

tidak

juga

mengandung

pengertian

bahwa

boleh menunda-nunda pemberian bantuan. Jika

diminta bantuan oleh klien atau terlihat jelas-jelas bahwa konseli


membutuhkan

bantuan

konselor dapat segera membantunya

misalnya adanya konseli yang mengalami masalah dan harus


mendapatkan peneganan segara maka konselor hendaklah segera
memberikan bantuan.
5. Asas Kemandirian
Pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan menjadikan
konseli dapat berdiri sendiri, tidak tergantung pada diri orang lain
atau konselor.
Konseli yang telah mendapatkan bimbingan diharapkan
dapat mandiri dan mampu: (a) Mengenal diri sendiri dan

lingkungan sebagaimana adanya (b) Menerima diri sendiri dan


lingkungan secara positif dan dinamis (c) Mengambil keputusan
untuk dan oleh diri sendiri (d) Mengarahkan diri sesuai dengan
keputusan (e) Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan
potensi, minat dan bakat yang dimilikinya.
6. Asas Kegiatan
Usaha bimbingan dan konseling tidak akan memberikan hasil
yang berarti bila konseli tidak melakukan sendiri kegiatan dalam
mencapai tujuan bimbingan dan konseling. Hasil usaha bimbingan
dan konseling tidak akan tercapai dengan sendirinya, melainkan
harus dengan kerja giat dari konseli sendiri. Konselor hendaklah
membangkitkan semangat klien sehinnga ia mampu dan mau
melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian
masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam konseling.
7. Asas kedinamisan
Usaha pelayanan bimbingan dan konseling menghendaki
terjadinya perubahan pada diri klien, yaitu perubahan tingkah laku
kearah yang lebih baik. Perubahan itu tidaklah sekedar mengulang
hal yang lama, yang bersifat menoton, melainkan perubahan yang
selalu menuju kesuatu pembaruan sesuatu yang lebih maju,
dinamis

sesuai

dengan

arah

perkembangan

konseli

yang

dikehendaki.
8. Asas keterpaduan
Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha meamadukan
bebagai aspek kepribadian konseli. Jika aspek kepribadian ini tidak
dapat dipadukan maka akan menimbulkan masalah. Selain
keterpaduan dari diri klien, konselor juga dapat memadukan isi
dan proses layanan yang diberikan. Hal ini menghindari ketidak
serasian anatara aspek yang satu dengan aspek yang lain.
9. Asas kenormatifan
Usaha bimbingan dan konseling tidak boleh bertentangan
dengan norma-norma yang berlaku, baik ditinjau dari norma
agama, norma adat, norma hukum / negara, norma ilmu, maupun
kebiasaan sehari-hari. Asas kenormatifan ini diterapkan terhadap

isi maupun proses penyelenggaraan layanan bimbngan dan


konseling seluruh isi harus sesuai dengan norma- norma yang ada.
10. Asas Keahlian
Usaha bimbingan dan konseling perlu dilakukan melalui asas
keahlian secara teratur dan sistematik dengan menggunakan
prosedur, teknik dan alat (instrumentasi bimbingan dan konseling)
yang memadai. Untuk itu para konselor pelu memdapat latihan
yang cukup, sehingga dengan itu akan dapat dicapai keberhasilan
usaha pemberian layanan.
11. Asas Alih Tangan
Dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling, asas alih
tangan dapat diterapkan jika konselor sudah mengerahkan segenap
kemampuan untuk membantu konseli, namun konseli yang
bersangkutan belum mendapat bantuan
diharapakan,
dihadapi

maka

sebagaimana

yang

konselor dapat mengalihkan masalah yang

konseli tersebut kepada petugas atau seseorang yang

lebih ahli.
12. Asas Tutwuri Handayani
Asas tutwuri handayani dapat menunjukan suasana umum
yang hendaknya tercipta dalam hubungan keseluruhan antara
konselor dan konseli.
Asas ini menuntut agar pelayanan bimbingan dan konseling
tidak hanya dirasakan pada waktu konseli mengalami masalah
dan menghadap pada konselor saja, namun di luar hubungan
proses

bantuan

bimbingan

dan konseling

dirasakan adanya dan manfaatnya

pun

hendaknya

pelayanan bimbingan dan

konseling itu.
Selain asas-asas tersebut terkai antara satu dan lainnya,
segenap asas itu perlu diselenggarakan secara terpadu dan tepat
waktu, yang satu tidak perlu didahulukan atau dikemudiankan
dari yang lain. Begitu pentingnya asas-asas

tersebut,

sehingga

dapat dikatakan bahwa asas-asas itu merupakan jiwa dan nafas


dari seluruh proses kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling.
Apabila

asas-asas

itu

tidak

dijalankan

dengan

baik

penyelenggaraan pelayanan

bimbingan dan konseling

akan

tersendat- sendat atau terhenti sama sekali.

2.1.6

Bidang-Bidang Bimbingan dan Konseling


Dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling terdapat tiga

bidang yang harus dilaksanakan oleh konselor. Tiga bidang tersebut yaitu:
a) bidang bimbingan pribadi, b) bidang bimbingan sosial, c) bidang
bimbingan belajar d) bidang bimbingan karir, e) bidang bimbingan
penembengan

kehidupan berkeluarga dan f) bidang pengembengan

kehidupan berkeluarga. (Tohirin 2007 :123)


1. Bidang bimbingan pribadi
Bidang bimbingan pribadi adalah bantuan yang diberikan kepada
konseli agar konseli dapat mencapai tujuan dan tugas perkembangan
pribadi. Menurut Surya, (dalam Tohorin, 2007:

125)

bidang

bimbingan pribadi merupakan bidang bimbingan dalam menghadapi


dan memecahkan masalah pribadi. Selanjutnya Winkel, (dalam
Tohorin, 2007: 125) menyatakan bahwa bidang bimbingan pribadi
merupakan proses bantuan yang

menyangkut

keadaan batinya

sendiri dan kejasmaniaanya sendiri.


Berdasarkan pengertian dari kedua ahli tersebut, maka yang
dimaksud dengan bimbingan pribadi adalah bimbingan untuk
membantu individu mengatasi masalah-masalah yang bersifat pribadi
yang bertujuan agar konseli dapat mampu mengatasi sendiri,
mengambil

sikap

atau

memecahkan

masalah

sendiri

yang

menyangkut keadaan batinya sendiri.


2. Bidang bimbingan Sosial
Bidang bimbingan sosial adalah bidang bimbingan yang
membantu individu untuk memecahkan masalah-masalah sosial,
seperti pergaulan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
bertujuan

agar

konseli

mampu

bersosialisasi

dan

mudah

menyelesaikan diri dengan lingkungan secara baik. Sehingga


Djumhur& Surya, (dalam, Tohirin 2007 : 127) menyatakan bidang

bimbingan sosial merupakan Bidang bimbingan yang bertujuan untuk


membantu individu dalam memecahkan dan mengatasi kesulitankesulitan

dalam

masalah

soial,

sehingga

individu

mampu

menyesuaikan diri secra baik dan wajar dalam lingkungan sosialnya.


3. Bidang Bimbingan Belajar
Bidang
bimbingan belajar adalah salah satu bidang
bimbingan yang diberikan oleh konselor kepada konseli dalam hal
menemukan cara belajar yang tepat, dan dalam mengatasi kesukarankesukaran yang timbul berkaitan dengan

tuntutan

belajar

di

institusi pendidikan. Winkel, (dalam Tohirin 2007:130)


Berdasarkan pendapat tersebut bidang bimbingan belajar
bermakna suatu

bantuan dari konselor

kepada

konseli

dalam

menghadapi dan memecahkan masalah sosial.


4. Bidang Bimbingan Karier
Menurut Winkel, (dalam Tohirin, 2007 : 133) bahwa bidang
bimbingan kaier merupakan bantuan dalam mempersiapkan diri
menghadapi dunia pekerjaan, pemilihan lapangan pekerjaan atau
jabatan ( profesi ) tertentu serta membekali dirinya agar siap
memangku jabatan tersebut dan dalam menyesuaikan diri dengan
tuntutan-tuntutan dari lapangan pekerjaan yang telah dimasuki.
Berdasarkan pendapat tersebut Bidang bimbingan karir dapat
bermakna bantuan yang diberikan oleh konselor kepada konseli agar
konseli akan lebig siap unuk memasuki dunia kerja serta ma pu
untuk mengambil keputusan dalm menentukan karier.
5. Bidang Bimbingan Pengembagan Kehidupan Berkeluarga
Bidang bimbingan berkeluarga merupakan suatu bimbingan yang
diberikan oleh konselor kepada konseli dalam memecahkan masalah
kehidupan berkeluarga. Melalui bimbingan ini individu diberikan
bantuan untuk mencarikan alternatif bagi pemecahan masalah yang
berkenaan dengan kehidupan berkeluarga.
6. Bidang Bimbingan Pengembagan Kehidupan Beragama
Bidang bimbingan pengembagan kehidupan berkelurga adalah
bidang bimbingan yang membantu konseli agar mampu menghadapi
dan memecahkan masalah-masalah yang
kehidupan

beragama

agar

berkenaan

para konseli dapat

dengan

menemukan

alternatif bagi pemecahan masalah-masalah yang berkenaan dngan


kehidupan beragama.
2.2 Konseling Traumatik
2.2.1 Pengertian dan Hakekat Trauma
Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka (Cerney,
dalam Pickett, 1998). Kata trauma digunakan untuk menggambarkan
kejadian atau situasi yang dialami oleh korban. Kejadian atau
pengalaman traumatik akan dihayati secara berbeda-beda antara
individu yang satu dengan yang lainnya, sehingga setiap orang akan
memiliki reaksi yang berbeda pula pada saat menghadapi kejadian
yang traumatik. Pengalaman traumatik adalah suatu kejadian yang
dialami atau disaksikan oleh individu, yang mengancam keselamatan
dirinya (Lonergan, 1999). Oleh sebab itu, merupakan suatu hal yang
wajar ketika seseorang mengalami shok baik secara fisik maupun
emosional sebagai suatu reaksi stress atas kejadian traumatik tersebut.
Kadangkala efek aftershock ini baru terjadi setelah beberapa jam, hari
atau bahkan berminggu-minggu. Respon individual terjadi umumnya
adalan perasaan takut, tidak berdaya, atau merasa ngeri. Gejala dan
simtom yang muncul tergantung pada seberapa parah kejadian
tersebut. Demikian juga cara individu menghadapi krisis tersebut akan
tergantung pula pada sejarah dan pengalaman masa lalu mereka.
Luka jiwa atau kadang disebut juga dengan trauma dapat terjadi
pada semua insan, tak terkecuali diri kita. Saat mencapai dewasa maka
kemampuan untukmengatasi luka jiwa akan semakin lengkap dan
komplit, sehingga luka jiwa yang terjadi dapat cepat sembuh atau
bahkan sembuh sama sekali. Disadari atau tidak

jiwa kita yang

terbentuk sampai dewasa seperti sekarang ini dipenuhi oleh luka-luka


yang terjadi waktu kita masih kecil atau remaja. Masa yang sangat
rawan dikarenakan seorang anak kecil belum dilengkapi dengan
kemampuan secara sempurna untuk untuk mengobati luka jiwa yang
dialami.
Trauma adalah kejadian jiwa atau tingkah laku yang tidak
normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani. Selain itu

trauma juga dapat diartikan sebagai luka yang ditimbulkan oleh faktor
eksternal, jiwa yang timbul akibat peristiwa traumatik. Peristiwa
traumatik bisa sekali terjadi, bertahan dalam jangka lama, atau
berulang-ulang dialami oleh penderita. Trauma psikologis juga bisa
timbul akibat trauma fisik atau tampa ada trauma fisik pun. Penyebab
trauma psikologis antara lain pelecehan seksual, kekerasan, ancaman
atau bencana. Namun, tidak semua penyebab tersebut punya efek
sama terhadap tiap orang. Ada orang yang bisa mengatasi masalah
tersebut dan ada pula yang tidak bisa mengontrol emosi dan
2.2.2

ingatannya pada peristiwa yang dialami.


Faktor penyebab trauma
2.2.2.1 Faktor internal (psikologis)
Bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental atau
kesehatan mental yang disebabkan oleh kegagalan beraksinya
mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan terhadap
stimuli ekstrn dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul
gangguan fungsi dan gangguan struktur dari satu bagian, satu
organ dan sistem kejiwaan. Merupakan totalitas kesatuan
ekspresi proses kejiwaan yang patologis yang terhadap
stimuli sosial dikombinasikan dengan faktor-faktor kausati
fsekunder lainnya patologi (ilmu penyakit).
Secara sederhana, trauma dirumuskan sebgai gangguan
kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang mengatasi
persoalan hidup yang harus dijalaninya, sehingga yang
bersangkutan bertingkah secara kurang wajar. Berikut ini
penyebab yang mendasari timbulnya trauma pada diri
seseorang:
1. Kepribadian yang lemah dan kurangnya percaya diri
sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa
rendah diri.
2. Terjadinya konflik sosial budaya akibat adanya norma
yang

berbeda

antara

dirinya

dengan

lingkungan

masyarakat
3. Pemahaman yang salah sehingga memberikan reaksi
berlebihan terhadap kehidupan sosial

dan juga

sebaliknya terlalu rendah . Proses-proses yang diambil


oleh seseorang dalam menghadapi kekalutan mental,
sehingga mendorongnya kearah positif.
Penderita

trauma

lebih

banyak

terdapat

dalam

lingkungan kota-kota besar yang banyak memberikan


tantangan hidup yang berat dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Anak-anak usia muda tidak berhasil dalam
memcapai apa yang dikehendakinya. Para korban bencana
alam dan di tempat-tempat konflik, karena stress terhadap
harta bendanya yang hilang.
2.2.2.2 Faktor eksternal (fisik)
Adapun faktor eksternal tersebut adalah :
1. Faktor orang tua dalam bersosialisasi dalm kehidupan
keluarga, terjadinya penganiayaan yang menjadikan luka
2.

atau trauma fisik


Kejahatan atau perbuatan yang tidak bertanggung jawab
yang mengakibatkan trauma fisik dalam bentuk luka
pada badan dan organ pada tubuh korban.
Berikut ada beberapa ciri-ciri trauma: 1) disebabkan oleh

kejadian dahsyat yang mengguncang di luar rencana dan


kemauan kita, 2) kejadian itu sudah berlalu, 3) terjadi
mekanisme psikofisik, 4) sensitif terhadap stimulus yang
menyerupai kejadian asli.
Seperti kita ketahui bahwa konseling merupakan salah
satu bentuk hubungan yang bersifat membantu, makna
bantuan itu sendiri yaitu sebagai upaya untuk membantu
orang lain agar mampu tumbuh kearah yang dipilihnya
sendiri, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya
dan mampu menghadapi krisis-krisis yang dialami dalam
kehidupannya.
Tugas konselor adalah memciptakan kondisi-kindisi
pasilitatif

yang

diperlukan

bagi

pertumbuhan

dan

perkembangan klien. Sementara itu, tujuan konseling

mengadakan perubahan perilaku pada klien sehingga


memungkinkan hidupnya lebih produktif dan memuaskan.
Sedangkan kita ketahui bahwa konseling trumatik adalah
upaya klien dapat memahami diri sehubungan masalah
trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya
sebaik mungkin. Konseling traumatik sangat berbeda dengan
konseling biasa dilakukan oleh konselor, perbedaan ini
terletak pada waktu, fokus aktivitas, dan tujuan. Dilihat dari
segi waktu konseling traumatik sangat butuh waktu yang
panjang dari pada konseling biasa. Kemudian dari segi fokus
konseling traumatik lebih memperhatikan pada satu masalah,
yaitu trauma yang dirasakan sekarang.
Adapun

konseling

biasa

pada

umumnya

suka

menghubungkan satu masalah klien dengan masalah lainnya,


seperti latar belakang klien, proses ketidak sadaran klien,
masalah

komunikasi

klien,

transferensi

dan

conter

transferensi antara klien dak konselor. Kritis identitas atau


seksualitas klien keterhimpitan pribadi klien dan konflik nilai
yang terjadi pada klien.
Dilihat dari segi aktifitas, konseling traumatik lebih
banyak melibatkan orang dalam membantu klien dan paling
banyak

aktif

adalah

konselor,

konselor

berusaha

mengarahkan, mensugesti, memberi saran, mencari dukungan


dari keluarga dan teman klien, menghubungi orang yang lebih
ahli untuk referal, menghubungkan klien dengan ahli lain
untuk referal, melibatkan orang atau agen lain yang
kompeten

secara

mengusulkan

legal

berbagai

untuk

membantu

perubahan

klien,

lingkungan

dan
untuk

kesembuhan klien.
Dilihat dari segi tujuan, konseling traumatik lebih
menekankan pada pulihnya kembali klien pada keadaan
sebelum trauma dan mampu menyesuaikan diri dengan

keadaan lingkungan yang baru. Secara lebih spesifik, Muro


dan Kottman dalam Achmad Juntika Nurihsan (2003)
menyebutkan bahwa tujuan konseling traumatik adalah
sebagai berikut:
1. Berfikir realistis bahwa trauma adalah bagian dari
kehidupan
2. Memperoleh pemahaman tentang peristiwa dan situasi
yang menimbulkan trauma
3. Memahami dan menerima perasaan yang berhubungan
dengan trauma
4. Belajar keterampilan baru untuk mengatasi trauma
2.2.3

Keterampilan Yang harus dimiliki oleh konselor dalam konseling


traumatik
Ada empat keterampilan yang harus dimiliki oleh konselor dalam
strategi konseling traumatik yaitu:
2.2.3.1 Pandangan yang realistik
Konselor hendaklah memiliki pandangan yang realistis
terhadap peran mereka dalam membantu orang yang
mengalami trauma. Keterampilan ini berguna bagi konselor
untuk memahami kelemahan dan kelebihan dalam membantu
klien yang mengalami trauma.
2.2.3.2 Orientasi yang holistik
Konselor konseling traumatik dalam bekerja harus
holistik. Kondisi trauma pada klien bukan harus dihadapi
secara berlebihan atau sebaliknya. Dalam konseling traumatik
konselor harus menerima berbagai bantuan dari berbagai pihak
demi kesembuhan klien. Kadang-kadang klien lebih tepat
untuk dirujuk pada psikistrik untuk disembuhkan dengan
pendekatan medik. Mungkin juga klien lebih tepat dirujuk
kepada ulama atau pendeta untuk memenuhi kebutuhan aspek
spritualnya.
Dengan memperhatikan kondisi klien secara holistik,
konselor dituntut untuk dapat bekerja sama dengan berbagai

ahli yang ada dimasyarakat untuk membantu kesembuhan


kliennya.
2.2.3.3 Fleksibiliti
Konseling traumatik memerlukan fleksibilitas. Karena
keterbatasan-keterbatasan yang ada, konseling traumatik
mungkin

lebih

fleksibel

dalam

pelaksanaanya.

Karena

keterbatasan tempat, mungkin konseling melalui telepon akan


lebih tepat. Karena keterbatasan waktu, ada kemungkinan
terjadi perubahan waktu dalam konseling.
2.2.3.4 Keseimbangan antara empati dan ketegasan
Konseling traumatik membutuhkan keseimbangan yang
kuat antara empati dan ketegasan. Konselor harus mampu
melihat kapan dia harus empati dan kapan dia harus tegas
dalam mengarahkan klien untuk kesembuhan klien. Kalau
konselor terlalu hanyut dengan perasaan klien, maka konselor
akan mengalami kesulitan dalam membantu klien. Begitu juga
apabila konselor tidak tepat waktunya dalam memberikan
arahan yang tegas pada klien maka konseling akan tidak
efektif.
Proses konseling traumatik terlaksana karena hubungan
konseling berjalan dengan baik, proses konseling traumatik
adalah peristiwa yang tengah berlangsung dan memberi makna
bagi klien yang mengalami trauma dan memberi makna pula
bagi konselor yang membantu mengatasi trauma kliennya
tersebut.
2.2.4

Proses dan tahapan dalam strategi konseling traumatik


Proses konseling traumatik terlaksana karena hubungan
konseling berjalan dengan baik. Proses konseling traumatik adalah
peristiwa tengah berlangsung dan memberi makna bagi klien yang
mengalami trauma dan memberi makna pula bagi konselor yang
membantu mengatasi trauma kliennya.
Trauma sebagai penyakit emosional tidak dapat sembuh
langsung jadi, tetapi memerlukan proses dan tahapan-tahapan mulai
dari tahapan pencegahan, penanggulangan dan penyembuhan. Dalam

upaya penyembuhan/tindak lanjut upaya pemulihan dapat digunakan


dengan tiga bentuk terapi yaitu terapi dengan penggunakan obatobatan, terapi melalui elektronik (eletro-shock therapy) dan terapi
melalui pendekatan psikologi (psycho-therapy) yang dilaksanakan
oleh para ahli di bidangnya masing-masing. Sesuai dengan ruang
lingkup pembahasan, dalam makalah ini difokuskan hanya pada
alternatif terapi ketiga yaitu terapi psikologis.
Terapi psikologi merupakan bantuan layanan yang menggunakan
pendekatan psikologis, pendidikan dan lingkup budaya. Tujuannya
adalah untuk membantu klien menguasai kemampuan tertentu
sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Sebagaimana proses konseling pada umumnya, proses dalam
strategi konseling traumatik juga dibagi atas tiga tahapan, yaitu tahap
awal konseling, tahap pertengahan (tahap kerja), dan tahap akhir
konseling (Achmad Juntika Nurihsan).
2.2.4.1 Tahap awal konseling
Tahap awal ini terjadi sejak klien bertemu dengan
konselor hingga berjalan proses konseling dan menemukan
definisi masalah trauma klien. Cavanagh (1982) menyebut
tahap

ini

dengan

istilah

introduction,

infitation

dan

environmental support. Adapun yang dilakukan oleh konselor


dalam proses konseling pada tahap ini adalah sebagai berikut:
1.
Membangun hubungan konseling traumatic yang
2.
3.

melibatkan klien yang mengalami trauma


Memperjelas dan mendefenisikan masalah trauma
Membuat penjajakan alternative bantuan untuk

4.

mengatasi masalah trauma


Menegosiasikan kontrak

2.2.4.2 Tahap pertengahan konseling


Berdasarkan kejelasan trauma klien yang disepakati pada
tahap awal, kegiatan selanjutnya adalah mengkonfrontasikan
pada: 1) penjelajahan trauma yang dialami klien, 2) bantuan
apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian kembali apaapa yang telah dijelajahi tentang trauma klien.
Adapun tujuan pada tahap ini adalah:

1. Menjelajahi serta mengeksplorasi trauma serta kepedulian


klien dan lingkungannya dalam mengatasi trauma tersebut
2. Menjaga agar hubungan konseling selalu terpelihara
3. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak
2.2.4.3 Tahap akhir konseling
Cavanagh

(1982)

menyebut

tahap

ini

dengan

istilah

termination. Pada tahap ini, konseling ditandai dengn beberapa


hal berikut ini:
1.

Menurunnya kecemasan klien, hal ini diketahui setelah


konselor menanyakan keadaan kecemasanya

2.

Adanya perubahan perilaku klien kearah yang lebih


positif, sehat dan dinamik

3.

Adanya tujuan hidup yang jelas di masa yang akan datang


dengan program yang jelas pula

4.

Terjadinya perubaha sikap yang positif terhadap masalah


yang dialaminya, dapat mengoreksi diri dan meniadakan
sikap yang suka menyalahkan dunia luar seperti orang tua,
teman dan keadaan yang tidak menguntungkan

Tujusan tahap akhir ini adalah memutuskan perubahan sikap


dan perilaku yang tidak bermasalah. Klien dapat melakukan
keputusan tersebut karena klien sejak awal berkomunikasi
dengan memutuskan perubahan sikap tersebut. Adapun tujuan
lainnya dari tahap ini adalah:
1. Terjadinya transfer of learning pada diri klien
2. Melaksanakan perubahan perilaku klien agar mampu
mengatasi masalahnya
3. Mengakhiri hubungan konseling.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengertian bimbingan konseling adalah Pelayanan bantuan untuk peserta
didik baik individu/kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalam
hubungan pribadi, sosial, belajar, karir; melalui berbagai jenis layanan dan
kegiatan pendukung atas dasar norma-norma yang berlaku. Dengan demikian,
setiap bimbingan itu pasti konseling dan setiap konseling belum tentu bimbingan.
Ditinjau dari segi sifatnya, layanan Bimbingan dan Konseling dapat
berfungsi sebagai :
1.
2.
3.
4.

Fungsi Pencegahan (preventif)


Fungsi pemahaman
Fungsi Perbaikan.
Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan

Konseling traumatik yaitu konseling yang diselenggarakan dalam rangka


membantu konseli yang mengalami peristiwa traumatik, agar konseli dapat keluar
dari peristiwa traumatik yang pernah dialaminya dan dapat mengambil hikmah
dari peristiwa trauma tersebut.
Penyebab terjadinya trauma kondisi trauma yang dialami individu (anak)
disebabkan oleh berbagai situasi dan kondisi, di antaranya:
1. Peristiwa atau kejadian alamiah (bencana alam), seperti gempa bumi,
tsunami, banjir, tanah longsor, angin topan, dsb.
2. Pengalaman dikehidupan sosial ini (psiko-sosial), seperti pola asuh yang
salah, ketidak adilan, penyiksaan (secara fisik atau psikis), teror,
kekerasan, perang, dsb.
3. Pengalaman langsung atau tidak langsung, seperti melihat sendiri,
mengalami sendiri (langsung) dan pengalaman orang lain (tidak
langsung), dsb.
3.2 Saran
Demikianlah makalah tentang Bimbingan dan Konseling Traumatik yang
kami buat. Semoga sedikit uraian kami ini dapat memberikan manfaat bagi kita
semua. Penulis sangat menyadari, bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan.
Maka dari itu penulis sangat mengharapkan adanya kritikan yang konstruktif dan

sistematis dari pembaca yang budiman, guna melahirkan penyusulan makalah


selanjutnya yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Cavanagh, M.E. 1982. The Counseling Experience : A Theoretical and
Practical Approach. Monterey, California: Brooks/Cole Publishing
Company
Hallen, A. 2005. Bimbingan Dan Konseling. Ciputat: Quantum Teaching
Jakarta. Rineka Cipta
Lonergan, B.A. (1999). The Development of Trauma Therapist : A
Qualitative Studi of the Therapists Perspectives and Experiences.
Colorado : Counselling Psychology.
McDaniel, H.B. (1956). Guidance in the Modern School. New York: The
Dryden Press
Nurihsan, Ahmad Juntika. 2003. Strategi Layanan Bimbingan dan
Konseling. Bandung : PT Refika Aditama
Prayitno

dan

Erman

Amti.

2004.

Dasar-dasar

Bimbingan

dan

Konseling.
Rochman, Natawijaya. 1987. Bimbingan dan Penyuluhan. Depdikbud:
Jakarta.
Shertzer, Bruce dan Shelley C. Stone. 1966. Fundamentals of Guidances.
Boston: Houghton Mifflin Company.
Tohirin, 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah
Berbasis Integrasi. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada
Wagito Bimo, 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Yokyakarta :
Andi Yokyakarta
Wardati dan Mohamad Jauhar 2011. Implementasi Bimbingan dan
Konseling di Sekolah. Jakarta : prestasi Pustakaraya
Winkel W.S. 2005. Bimbingan dan Konseling. Di Instuti Pendidikan, Edisi
Revisi. Jakarta : Gramedia
Yusuf Syamsu dan A. Juntika Nuhrisan. 2010. Landasan Bimbingan dan
Konseling. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Zainal Aqib. 2012. Ikhtisar Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Cetakan
1 Bandung : Yrama Widya