Anda di halaman 1dari 12

DAMPAK PEMBAKARAN BENSIN

TERHADAP LINGKUNGAN
MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Kimia
Guru Pembimbing : Ibu Erlinda Anitasari, S.Pd.

Oleh:
ISMIYATI
NUR LAILA
SITI FATMAWATI
ULFATUL HASANAH

MADRASAH ALIYAH AL-ISLAMIYAH I


SUMBER BATU BLUMBUNGAN LARANGAN PAMEKASAN
MARET 2012

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat, taufiq, dan hidayahNya,

kami

dapat

menyelesaikan

makalah

ini

yang

berjudul

DAMPAK

PEMBAKARAN BENSIN TERHADAP LINGKUNGAN.


Shalawat dan salam tiada hentinya kita curahkan kepada Nabi Muhammad
SAW. yang darinya kita dituntun dari jalan yang salah menuju jalan kebenaran dan
keilmuan.
Keberhasilan makalah ini tentu tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk
itu kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Drs. H. M. Djauhari sebagai kepala sekolah di MA. AL-ISLAMIYAH 1
Sumber Batu.
2. Ibu Erlinda Anitasari, S.Pd. selaku pembimbing yang dengan kesabaran dan
kesungguhannya selalu memberikan pengarahan dan pembimbingan.
3. Semua teman-teman yang telah berpartisipasi dalam menyelesaikan makalah
ini.
Akhirnya, kami selaku manusia biasa, manusia yang selalu diliputi khilaf dan
dosa, banyak sekali kekurangan yang terdapat dalam makalah ini.Untuk itulah kami
mengharapkan kritikan, saran atau apapun yang sekiranya dapat menjadi motivasi bagi
makalah kami sehingga dapat menjadi yang lebih baik untuk yang terbaik.
Terimakasih
Wassalamualaikum Wr. Wb.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.

KATA PENGANTAR..

ii

DAFTAR ISI.

iii

BAB I :PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah..

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan...
BAB II :PEMBAHASAN .........................

1
2

A. Dampak Pembakaran Bensin terhadap Lingkungan...

B. Cara Mengatasi Dampak Pembakaran Bensin .

BAB III :PENUTUP..

A.

Kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA...

7
iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka penggunaanbahan bakar juga semakin meningkat.Salah satunya yang paling banyak
diproduksi adalah bensin.

Bensin merupakan bahan bakar kendaraan bermotor yang menjadi alat


transportasi manusia sehari-hari. Ketika kita melintasi suatu kawasan dengan
arus lalu lintas yang sangat padatdan kita tidak memakai masker, pasti kita akan
merasa sesak napas dan mata terasa perih. Hal ini disebabkan karena kita
menghirup asap kendaraan bermotor. Perlu kita ketahui bahwa asap kendaraan
bermotor mengandung senyawa-senyawa yang dapat membahayakan kesehatan.
Dalam makalah ini, kami akan membahas dampak pembakaran bensin
terhadap lingkungan. Kita sebagai pengguna bahan bakar bensin perlu untuk
mengetahui dampak pembakaran bensin terhadap kesehatan kita.
B. Rumusan Masalah
a. Apakah dampak pembakaran bensin terhadap lingkungan?
b. Bagaimana cara mengatasi dampak tersebut?
C. Tujuan
a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan.
b. Belajar untuk berkreasi, beraktivitas, dan lain-lain.
c. Untuk memenuhi tugas dari guru.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Dampak Pembakaran Bensin terhadap Lingkungan
Bahan bakar dari minyak bumi salah satunya adalah bensin.Bensin
berfungsi sebagai bahan bakar kendaraan bermotor serta bahan bakar
penerangan dan pemanasan.
Pemakaian TEL pada bensin sangat diperlukan karena mampu mempercepat
pembakaran bensin dan dapat mengurangi getaran pada mesin sehingga akan

menambah kenyamanan si pemakai. Namun di samping kenyamanan ini,


ternyata TEL dalam bensin juga memberikan dampak negative yang sangat
serius bagi kesejahteraan manusia. Hal ini dikarenakan pada proses pembakaran
bensin menghasilkan partikulat Pb dari knalpot. Partikel-partikel timah hitam
(dari TEL) dibebeskan dan diembuskan ke udara sehingga udara tercemar oleh
partikel-partikel tersebut.Partikel-partikel timah hitam yang dihirup oleh kita
sewaktu bernapas dapat menimbulkan gangguan-gangguan serius seperti
mengganggu pernapasan (iritasi pada saluran pernapasan), gigi rapuh,
kerusakan tulang belakang, terganggunya pembentukan hemoglobin, dan
terhambatnya kerja enzim.
Dewasa ini TEL sudah mulai dikurangi bahkan di Negara-negara maju tidak
digunakan lagi.Sebagai pengganti TEL untuk meningkatkan nilai oktan
digunakan dibromo etana (C2H4Br2), metil tersier butyl eter (MTBE), dan
sebagainya.Di Negara kita sudah mulai dikenal bensin bebas timbal (super TT),
bensin biru, dan sebagainya.

Namun perlu kita ketahui bahwa memakai timbal atau bukan timbal,
bensin tetap merupakan penyebab polusi udara terbesar karena merupakan
sumber utama gas CO2. CO2 dihasilkan dari proses pembakaran sempurna.
Reaksi pembakaran sempurna tersebut adalah sebagai berikut.
2C8H18 + 25O2

16CO2 + 18H2O

Selain itu pembakaran bensin juga menghasilkan gas CO yang beracun,


partikel-partikel karbon, dan asap tebal. CO yang beracun dapat berikatan dengan hemoglobin dalam darahdan menghalangi ikatan O2 dengan hemoglobin.
Reaksi pembakaran sempurna sebagai berikut.
C8h18 + 17/2O2

8CO + H2O

Apabila gas O2 yang tersedia dalam ruangan mesin cukup, maka reaksi
tersebut akan berjalan sempurna. Namun, jika tidak, maka akan terjadi pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan gas CO. Biasanya pada ruang mesin
kendaraan, kadar O2 tidaklah mencukupi, sehingga pembakaran bensin tidak
sempurna. Gas CO dapat berikatan dengan hemoglobin, yang seharusnya berfungsi mengikat O2 dan mengedarkannya dari paru-paru ke seluruh tubuh. Namun karena kemampuan CO untuk mengikat hemoglobin lebih kuat dan
hemoglobin lebih mudah berikatan (kereaktifannya 6 kali lipat) dengan CO dibandingkan dengan O2, maka Hb yang telah berikatan dengan CO menjadi
HbCO tidak bias lagi mengikat O2. Akibatnya tubuh akan kekurangan O2 untuk
metabolism sel-sel.
Zat yang dihasilkan pembakaran bensindalam mesin kendaraan yang terdapat dalam asap kendaraan bermotor tidak hanya CO2, H2O, dan CO saja, tetapi juga zat-zat lainyang tersebar di udara, diantaranya oksida-oksida nitrogen,
hidrokarbon yang belum terbakar, dan juga senyawa timbal. Zat-zat tersebut dikategorikan sebagai zat pencemar (polutan) udara.
Berikut ini akan dijelaskan beberapa polutan udara dan dampaknya
terhadap lingkungan kesehatan kita.

Zat Pencemar
CO2
CO

Sumber

Dampak terhadap Lingkungan

Pembakaran bahan ba- Pemanasan global atau efek rukar.

mah kaca.

Pembakaran bahan ba- Bersifat racun dan dapat mengaNOx(NO,NO2


)

kar yang tidak sempur- kibatkan kematian jika CO di


na.

udara mencapai 0,1 %.

Pembakaran bahan ba- Hujan asam dan smog fotokimia.


kar pada suhu tinggi di
mana nitrogen dalam
udara ikut teroksidasi.
Pb
Penggunaan

bensin Timbal bersifat racun.


yang mengandung aditif
sen-nyawa timbal.
1. Karbon Monoksida (CO)
Gas karbon monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa, dan tidak merangsang.Hal ini menyebabkan keberadaannya sulit dideteksi. Padahal gas ini sangat berbahaya bagi kesehatan karena pada kadar
rendah dapat menimbulkan rasa sakit pada mata, sesak napas, dan pucat. Pada kadar yang lebih tinggi dapat menyebabkan pingsan dan pada kadar lebih
dari 1000 ppm dapat menimbulkan kematian. Gas CO ini berbahaya karena
dapat membentuk senyawa dengan hemoglobin membentuk HbCO, dan ini
merupakan racun bagi darah.Sehingga yang diedarkan ke seluruh tubuh termasuk ke otak bukannya HbO, tetapi justru HbCO.
Keberadaan HbCO ini disebabkan karena persenyawaan HbCO memang
lebih kuat ikatannya dibandingkan dengan HbO.Hal ini disebabkan karena
afinitas HbCO lebih kuat 250 kali dibandingkan dengan HbO. Gas Co
memiliki daya ikat terhadap hemoglobin darah hamper 200 lebih kuat
diban-dingkan gas O2. Suatu protein dalam darah yang seharusnya
berfungsi un-tuk mengangkut O2 dari paru-paru ke seluruh tubuh menjadi
hilang fungsi-nya karena teracuni oleh gas CO yang terhisap.Jika kita
menghirup udara yang mengandung O2 dan CO, kedua gas ini akan
berkompetisi untuk teri-kat pada hemoglobin, dan CO selalu tampil sebagai
pemenang. Jadi, yang

Lebih dahulu diikat hemoglobin adalah CO, baru kemudian O2. Sekiranya
CO terlampau banyak, bias-bisa O2 tidak diikat karena Hb sulit melepas
CO. Akibatnya, tubuh bahkan otak akan mengalami kekurangan oksigen.
Kekurangan oksigen dalam darah inilah yang akan menyebabkan kita lesu,
lemas, kurang bergairah, mudah mengantuk, sesak napas, pingsan, atau bahkan kematian akibat tidak berfungsinya darah sebagai pengangkut oksigen.
Berdasarkan penelitian, seseorang yang menghirup udara dengan kadar 100
ppm CO selama satu jam akan kehilangan 60% dari jatah O2 yang seharusnya diterima dari udara segar. Udara di kota-kota besaryang umumnya lalu
lintas kendaraan cukup sibuk, kadar CO di udara mencapai 50 ppm, bahkan
di daerah sekitar lampu-lampu lalu lintas (traffic light) dapat mencapai 120
ppm. Kadar gas CO di udara yang diperbolehkan (belum membahayakan jika dihirup) adalah di bawah 100 ppm (0,01 %). Udara dengan kadar gas CO
>100 ppm menyebabkan sakit kepala dan cepat lelah. Adapun pada kadar
gas CO>750 ppm dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, janganlah menghidupkan mesin atau mobil terlalu lama dalam garasi yang
tertutup (ruang tertutup) !.
Sumber keberadaan gas CO ini adalah pembakaran yang tidak sempurna
dari bahan bakar bensin. Sumber lain yang menyebabkan terjadinya gas CO,
selain pembakaran tidak sempurna bensin adalah pembakaran tidak sempurna yang terjadi pada proses industry, pembakaran sampah, pembakaran hutan, kapal terbang, dan lain-lain. Namun demikian, penyebab utama banyaknya gas Co di udara adalah pembakaran tidak sempurna dari bensin, yang
mencapai 59%.
2. Karbon Dioksida (CO2)
Sebagaimana gas CO, maka karbon dioksida juga mmempunyai sifat tidak
berwarna, tidak berasa, dan tidak merangsang. Gas CO2 merupakan hasil
pembakaran sempurna bahan bakar minyak bumi maupun batu bara.
Dengan semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor berarti meningkat
pula jumlah atau kadar CO2 di udara kita
Keberadaan CO2 yang berlebihan di udara memang tidak berakibat
langsung pada manusia, sebagaimana Gas CO2. Akan tetapi berlebihnya
kandungan CO2 menyebabkan sinar imframerah dari matahari di serap oleh

bumi dan benda-benda sekitarnya. Kelebihan sinar imframerah ini tidak


dapat kembali ke atmosfer. Akibatnya suhu di bumi semakin panas. Hal ini
meningkatkan suhu di bumi, baik siang ataupun malam hari tidak
menunjukkan perbedaan yang berarti atau dapat di katakana sama. Akibat
yang ditimbulkan oleh berlebihnya kadar CO2 di udara ini di kenal sebagai
efek rumah kaca atau green hous effect
3. Oksida belerang SO2 dan SO3
Gas belerang dioksida SO2 mempunyai sifat tidak berwarna, tetapi berbau
sangat menyengat dan dapat menyesakkan nafas meskipun dalam kadar
rendah. Bensin yang mengandung senyawa belerang akan menghasilkan gas
oksida belerang. Pembakaran bensin yang mengandung belerang secara
terus menerus dan oksida belerang yang di lepas ke udara dalam jumlah
banyak selain mengotori udara (beracun) juga dapat menyebabkan hujan
asam yang merugikan, karena gas tersebut melarut dalam air hujan yang
bersifat kolrosif, hujan yang banyak mengandung asam sulfat memiliki pH
<5, sehingga menyebabkan sangat korosif terhadap logam yang berbahaya
bagi kesehatan. Di samping menyebabkan hujan asam, oksida belerang baik
SO2 maupun SO3 yang terserap ke dalam alat pernafasan masuk ke dalam
paru-paru juga akan membentuk asam sulfit dan asam sulfat yang sangat
berbahaya bagi kesehatan pernafasan khususnya paru-paru
4. Oksida Nitrogen NO dan NO2
Gas nitrogen monoksida tidak berwarna, maka gas NO akan membentuk
SO2. Gas NO2 merupakan gas beracun berwarna merah coklat dan berbau
seperti asam nitrat yang sangat menyengat dan merangsang. Keberadaan gas
NO2 lebih dari 1 ppm dapat menyebabkan terbentuknya zat yang bersifat
karsinogen atau penyebab terjadinya kangker. Jika menghirup gas NO2
dalam kadar 20 ppm akan dapat menyebabkan kematian
B. Cara Mengatasi Dampak dari PembakaranBensin
Secara umum, langkah-langkah mengatasi dampak dari pembakaran bensin adalah sebagai berikut.
1. Produksi bensin ramah lingkungan, seperti tanpa aditif Pb.
2. Penggunaan EFI (Elektronic Fuel Injektion) pada system bahan bakar.
3. Penggunaan converter katalik pada system buangan kendaraan.
4. Penghijauan atau pembuatan tamandalam kota.

5. Penggunan bahan bakar alternative yang dapat diperbarui dan yang lebih
ramah lingkungan, seperti tenaga surya dan sel bahan bakar (fuel cell).
Adapun cara untuk mengatasi polutan udara adalah:
1. Karbon Monoksida (CO)
Sekarang ini para ahli mencoba mengembangkan alat yang berfungsi untuk
mengurangi banyaknya gas CO, dengan merancang alat yang disebut catalytic converter, yang berfungsi mengubah gas pencemar udara seperti CO dan
NO menjadi gas-gas yang tidak berbahaya.

2. Karbon Dioksida (CO2)


Untuk mengurangi jumlah CO2 di udara maka perlu dilakukan upayaupaya, yaitu dengan penghijauan, menanam pohon, memperbanyak taman
kota, serta pengelelolaan hutan dengan baik.
3. Oksida Nitrogen (NO dan NO2)
Sebagai pencegahan maka di pabrik atau motor, bagian pembuangan asap
ditambahkan katalis logam nikel yang berfungsi sebagai converter. Prinsip
kerjanya adalah mengubah gas buang yang mencemari menjadi gas yang
tidak berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan manusia.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Selain menghasilkan energy, pembakaran bensin juga melepaskan gas-gas,
antara lain karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), sulfur oksida, dan
oksida nitrogen yang menyebabkan pencemaran udara
2. Penggunaan TEL pada benssin sangat diperlukan karena mampu mempercepat
pambakaran bensin dan dapat mengurangi getaran pada mesin sehingga akan
menembah kenyamanan si pemakai namun di samping kenyamanan ini ternyata
TEL dalam bensin juga memberikan dampak negative yang sangat serius bagi
kesejahteraan ummat manusia

DAFTAR PUSTAKA
http://edukasi.net/index.php?mod=script$cmd=bahan%20belajar/materi
%20pokok/view$id=371$unio
http://matawaklai.blogspot.com/2009/05/dampak -pembakaran-bahanbakar-bagi.html
http://id.snswers.yahoo.com/question/index?
qid=20110526024518.AAz.qpAf
http://id.snswers.yahoo.com/question/index?qid=20100512180331.AAbNjS2
http://www.elmhurst.edo/-chm/vchembook/515gosolinefs.html
http://images.mariasng2.multiply:multiplyc
Sentosa Sri Juari. Dkk. 2004. Kimia untuk Kelas X. Yogyakarta: PT Intan
Perwana
Romadhon. Dkk. 2004. Kimia IB. Jakarta: PT Wahana Dinamika Karya
http://www.chem-is-try.org/materi-kimia/kimia-organik-dasar/minyakbumi/jenis-bensin/
http://kimia.upi.edu/staf/nurul/web%202011/0806259/bensin.html