Anda di halaman 1dari 22

TUGAS

MAKALAH FARMAKOTERAPI LANJUTAN


BATUK

OLEH :
CITRAWANA B. LADJAMU

F1F113007

IKRA KURNIA NURRAHMAH

F1F113023

NANDA WIDIASTUTI SAMIN

F1F113037

SITTI ASMIN

F1F1 13048

WADE MARLINDA

F1F113054

ROSIANAN AGAPA

F1F1 13 068

NURJEDDAH FARIANE
WA ODE SALFIA
KELAS

F1F1 13071
F1F1 13 077

: FARMASI KLINIK
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO


KENDARI
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada penyusun sehingga penyusun
berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang
berjudul BATUK.
Makalah ini berisikan tentang informasi mengenai apa dan bagaimana
batuk tersabut khususnya dalam bidang farmasi.
Penyususun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penyusun sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai
akhir.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang.......................................
1.2 RumusanMasalah..................................
1.3 Tujuan ............................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Apa pengertian batuk
2.2 Bagaimana Etiologi Batuk
2.3 Bagimana penyebaran batuk
2.4 Bagaimana mekanisme batuk
2.5 Bagaimana Jenis-Jenis Batuk
2.6 Bagaimana pathogenesis
2.7 Bagaimana penyebab batuk
2.8 Bagaimana cara mengdiagnosis
2.9 Bagaimana terapifarmakologi dan non farmakologi batuk
2.10
Bagaimana monitoring batuk
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................
3.2 Saran...............................
DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menjagapernapasan
dari benda atau zat asing. batuk dapat disebabkan oleh berbagaifaktor seperti virus
(flu, bronkitis), bakteri, dan benda asing yang terhirup(alergi). Beberapa penyakit,

seperti kanker, paru-paru, TBC, tifus, radangparu-paru, asma dan cacingan, juga
menampakkan gejala berupa batuk. Bilarangsangan pada reseptor batuk ini
berlangsungberulang

maka

akan

timbul

batuk

berulang,

sedangkanbila

rangsangannya terus menerus akan menyebabkanbatuk kronik.


Batuk merupakan salah satu penyakit yang lazim pada anak. Batuk
memiliki ciri khas sehingga dapat dikenali. Satu hal yang perlu diingat bahwa
batuk hanyalah sebuah gejala, bukan suatu penyakit. Batuk baru bisa ditentukan
sebagai tanda suatu penyakit jika ada gejala lain yang menyertainya.
Beberapa diantara kita mungkin akan langsung membawa anak ke
dokterketika anak sakit. Sebagian yang lain akan berusaha mengobati sendiri
terlebih dahulu bila memungkinkan. Berbeda dengan makanan maupun suplemen,
penggunaan obat memerlukan kehati-hatian yang lebih besar. Penggunaan obat
adalah salah satu cara dalam menangani penyakit. Obat sering dianggap cara yang
lebih praktis dan efektif. Akan tetapi, ketepatan dalam penggunaan obat menjadi
syarat wajib karena kesalahan penggunaannya dapat mengakibatkan berbagai efek
yang justru membahayakan anak.
Melihat kondisi demikian kita perlu memahami pemilihan obat batuk.
Obat batuk bebas yang beredar dipasaran hadir dalam berbagai jenis sehingga kita
memiliki banyak pilihan untuk mengatasi batuk. Namun harus dipastikan bahwa
obat batuk bebas yang digunakan adalah aman dan baik.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah:
1. Apa pengertian batuk
2. Bagaimana Etiologi Batuk

3. Bagimana penyebaran batuk


4. Bagaimana mekanisme batuk
5. Bagaimana Jenis-Jenis Batuk
6. Bagaimana pathogenesis
7. Bagaimana penyebab batuk
8. Bagaimana cara mengdiagnosis
9. Bagaimana terapifarmakologi dan non farmakologi batuk
10. Bagaimana monitoring batuk
C. TUJUAN MASALAH
Tujuan penyusunan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui Apa pengertian batuk
2. Untuk mengetahui bagaimana Etiologi Batuk
3. Untuk mengetahui bagaimana penyebaran batuk
4. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme batuk
5. Untuk mengetahui bagaimana Jenis-Jenis Batuk
6. Untuk mengetahui bagaimana pathogenesis
7. Untuk mengetahui bagaimana penyebab batuk
8. Untuk mengetahui bagaimana cara mengdiagnosis
9. Untuk mengetahui bagaimana terapifarmakologi dan non farmakologi
batuk
10. Untuk mengetahui bagaimana monitoring batuk

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Batuk
Batuk dalam bahasa latin disebut tussis adalah refleks yang dapat terjadi
secaratiba-tiba

dan

sering

berulang-ulang

yang

bertujuan

untuk

membantumembersihkan saluran pernapasan dari lendir, iritasi, partikel asing dan


mikroba.Batuk dapat terjadi secara disengaja maupun tanpa disengaja. Batuk
merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menjagapernapasan dari benda
atau zat asing. batuk dapat disebabkan oleh berbagaifaktor seperti virus (flu,
bronkitis), bakteri, dan benda asing yang terhirup(alergi). Beberapa penyakit,
seperti kanker, paru-paru, TBC, tifus, radangparu-paru, asma dan cacingan, juga
menampakkan gejala berupa batuk.
Batuk adalah pengeluaran sejumlah volumeudara secara mendadak dari
rongga toraksmelalui epiglotis dan mulut. Melaluimekanisme tersebut dihasilkan
aliran udara yangsangat cepat yang dapat melontarkan keluar materialyang ada di
sepanjang saluran respiratorik, terutamasaluran yang besar. Dengan demikian
batuk mempunyai fungsi penting sebagai salah satu mekanismeutama pertahanan
respiratorik.

Batuk bukanlah merupakan penyakit, mekanisme batuk timbul oleh karena


paru-parumendapatkan agen pembawa penyakit masuk ke dalamnya sehingga
menimbulkan batuk untukmengeluarkan agen tersebut. Batuk dapat juga
menimbulkan

berbagai

pneumomediastinum,

sakit

macam
kepala,

komplikasi
pingsan,

sepertipneumotoraks,

herniasi

diskus,

hernia

inguinalis,patah tulang iga, perdarahan subkonjungtiva, dan inkontinensia


urin.Batuk merupakan reflex fisiologis kompleks yang melindungi paru dari
trauma mekanik, kimia dan suhu. Batuk jugamerupakan mekanisme pertahanan
paru yang alamiah untuk menjaga agar jalan nafas tetapbersih dan terbuka dengan
jalan :
1. Mencegah masuknya benda asing ke saluran nafas.
2. Mengeluarkan benda asing atau sekret yang abnormal dari dalam saluran
nafas.
Batuk menjadi tidak fisiologis bila dirasakan sebagai gangguan. Batuk
semacam itusering kali merupakan tanda suatu penyakit di dalam atau diluar paru
dan kadang-kadangmerupakan gejala dini suatu penyakit. Batuk mungkin sangat
berarti pada penularan penyakitmelalui udara ( air borne infection ). Batuk
merupakan salah satu gejala penyakit saluran nafasdisamping sesak, mengi, dan
sakit dada. Sering kali batuk merupakan masalah yang dihadapipara dokter dalam
pekerjaannya

sehari-hari.

Penyebabnya

amat

beragam

dan

pengenalanpatofisiologi batuk akan sangat membantu dalam menegakkan


diagnosis dan penanggulanganpenderita batuk.
B. Etiologi batuk

Menurut McGowan (2006) batuk bisa terjadi secara volunter tetapi selalunya
terjadi akibat respons involunter akibat dari iritasi terhadap infeksi seperti infeksi
saluran pernafasan atas maupun bawah, asap rokok, abu dan bulu hewan terutama
kucing. Antara lain penyebab akibat penyakit respiratori adalah seperti asma,
postnasal drip, penyakit pulmonal obstruktif kronis, bronkiektasis, trakeitis,
croup, dan fibrosis interstisial. Batuk juga bisa terjadi akibat dari refluks gastroesofagus atau terapi inhibitor ACE (angiotensin-converting enzyme). Selain itu,
paralisis pita suara juga bisa mengakibatkan batuk akibat daripada kompresi
nervus laryngeus misalnya akibat tumor.
C. Penyebaran Batuk
Batuk merupakan salah satu penyakit yang lazim pada anak. Batukmemiliki
ciri khas sehingga dapat dikenali. Satu hal yang perlu diingat bahwabatuk hanyalah
sebuah gejala, bukan suatu penyakit. Batuk baru bisa ditentukansebagai tanda suatu
penyakit jika ada gejala lain yang menyertainya.
Cara Penularannya biasanya disebabkan oleh sejenis bakteri yang

bernama Bacterium bordetella atau bisa juga oleh Bacterium parapertussis.


Gejala yang menyertai penyakit ini biasanya awalnya hanyalah meyerupai ISPA
biasa seperti batuk dan pilek, tapi kemudian berkembang menjadi yang terusterusan yang disertai perasaan mual, tak jarang berakhir dengan muntah.Orang
yang daya tahan tubuhnya kurang akan rentan tertular penyakit ini, itulah
sebabnya mengapa anak-anak khususnya mereka yang berusia di bawah satu
tahun yang paling banyak menderita batuk rejan ini. Karena anak-anak ini belum
memiliki kekebalan tubuh yang mencukupi untuk membentengi diri mereka dari
serangan penyakit, karena penyakit ini ditularkan melalui udara sehingga tak
heran penyakit ini bisa mewabah dengan cepatnya.
D. Mekanisme Batuk

Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase
inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi (literatur lain membagi fase batuk
menjadi 4 fase yaitu fase iritasi, inspirasi, kompresi, dan ekspulsi). Batuk
biasanya bermula dari inhalasi sejumlah udara, kemudian glotis akan menutup
dan tekanan di dalam paru akan meningkat yang akhirnya diikuti dengan
pembukaan glotis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan
tertentu.
Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah
besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang
diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di
atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain menyebutkan jumlah udara yang
dihisap berkisar antara 50% dari tidal volume sampai 50% dari kapasitas vital.
Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama, volume
yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan
ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar

akanmemperkecil rongga udara yang tertutup sehingga pengeluaran sekret akan

lebih
Gambar 1. Skema diagram menggambarkan aliran dan perubahan tekanan
subglotis selama, fase inspirasi, fase kompresi dan fase

ekspirasi batuk
Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis
akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan

meningkat sampai 50 100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk,
yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan
menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup
adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di
pihak lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glotis.

Gambar 2. Fase Batuk

Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase


ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara
yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal. Arus udara ekspirasi
yang maksimal akan tercapai dalam waktu 3050 detik setelah glotis terbuka, yang
kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara yang dihasilkan
dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat
dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%.
E. Jenis-jenis Batuk

Menurut Dicpinigaitis (2009) batuk secara definisinya bisa diklasifikasikan


mengikut waktu yaitu batuk akut yang berlangsung selama kurang dari tiga minggu,
batuk sub-akut yang berlangsung selama tiga hingga delapan minggu dan batuk
kronis berlangsung selama lebih dari delapan minggu.
1. Batuk Akut
Batuk akut berlangsung selama kurang dari tiga minggu dan merupakan
simptom respiratori yang sering dilaporkan ke praktik dokter. Kebanyakan kasus
batuk akut disebabkan oleh infeksi virus respiratori yang merupakan self-limiting dan
bisa sembuh selama seminggu (Haque, 2005). Dalam situasi ini, batuk merupakan
simptom yang sementara dan merupakan kelebihan yang penting dalam proteksi
saluran pernafasan dan pembersihan mukus. Walau bagaimanapun, terdapat
permintaan yang tinggi terhadap obat batuk bebas yang kebanyakannya mempunyai
bukti klinis yang sedikit dan waktu yang diambil untuk konsultasi ke dokter tentang
simptom batuk
2. Batuk Kronis
Batuk kronis berlangsung lebih dari delapan minggu. Batuk yang berlangsung
secara berterusan akan menyebabkan kualitas hidup menurun yang akan membawa
kepada pengasingan sosial dan depresi klinikal (Haque, 2005). Penyebab sering dari
batuk kronis adalah penyakit refluks gastro-esofagus, rinosinusitis dan asma. Terdapat
juga golongan penderita minoritas yang batuk tanpa dengan diagnosis dan pengobatan
diklasifikasikan sebagai batuk idiopatik kronis. Batuk golongan ini masih berterusan
dipertanyakan apa sebenarnya penyebabnya yang pasti.

F. Patogenesis Batuk
Melibatkan suatu kompleks rangkaian refleks yang bermuladari stimulasi
terhadapreseptor iritan. Sebagian besar reseptor diduga berlokasi di system
pernafasan, sedangkan pusat batuk diduga berada di medulla. Batuk yang efektif
tergantung pada kemampuan untukmencapai aliran udara yang tinggi dan tekanan
intrathoraks, sehingga meningkatkan proses pembersihan mukus padasaluran
nafas. Komplikasi batuk : symptoms of insomnia, hoarseness, musculoskeletal
pain, exhaustion, sweating, and urinary incontinence.
G. Penyebab Batuk
Batuk dapat terjadi akibat berbagai penyakit/proses yang merangsang
reseptor batuk. Selain itu, batuk juga dapat terjadi pada keadaan-keadaan
psikogenik tertentu. Tentunya diperlukan pemeriksaan yang seksama untuk
mendeteksi keadaan-keadaan tersebut. Dalam hal ini perlu dilakukan anamnesis
yang baik, pemeriksaan fisik, dan mungkin juga pemeriksaan lain seperti
laboratorium darah dan sputum, rontgen toraks, tes fungsi paru dan lain-lain.
Beberapa penyebab batuk antara lain:
H. Cara mengdiagnosis

Salah satu cara mendiagnosa batuk adalah dengan mendengarkan cara


batuknya. Dokter akan menentukan pengobatan berdasarkan suara batuk yang
terdengar. Karena sebagian besar penyakit pernapasan seperti batuk disebabkan
oleh virus, maka dokter tidak meresepkan antibiotikuntuk batuk. Jika mencurigai
adanya infeksi bakteri, dokter baru akan memberikan antibiotik.
Pengobatan dirumah yang dapat dilakukan untuk meringankan gejala
adalah sebagai berikut :
1) Jika menderita asma, pastikan anda sudah tahu cara mengontrol asma dari
dokter anda. Ikuti perkembangan ketika terjadi serangan asma dan berikan
obat asma sesuai anjuran dokter.
2) Jika ditengah malam terjadi batuk mengonggong atau sesak napas,
hiruplah uap air panas untuk membantu melegakan pernapasan.
3) Jika ada alat pelembab udara dikamar, benda tersebut dapat membantu
anda untuk tidur dengan nyenyak.
4) Minuman dingin seperti jus dapat menenangkan, tetapi hindari minuman
bersoda atau jeruk.
5) Jangan memberikan (terutama pada bayi dan anak yang baru belajar
berjalan) obat batuk bebas tanpa petunjuk khusus dari dokter.
I. Terapi Farmakologi Dan Non Farmakologi Batuk
1. Terapi farmakologi
Untuk penggobatan penyakit batuk biasanya digunakan beberapa
pengobatan antara lain:
Antitusif
Obat antitusif berfungsi menghambat atau menekan batuk dengan
menekan pusat batuk sertameningkatkan ambang rangsang sehingga akan
mengurangi iritasi. Secara umum berdasarkantempat kerja obat, antitusif

dibagi atas antitusif yang bekerja di perifer dan antitusif yangbekerja di


sentral. Antitusif yang bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik
dannonnarkotik. Contoh : Kodein, DMP, Noskapin dan Uap Menthol.
Ekspektoran
Obat ini digunakan untuk meningkatkan sekresi mukus di saluran
napas sehingga bermanfaatuntuk mengurangi iritasi dan batuknya akan
berkurang dengan sendirinya. Contoh :Amonium klorida, potasium sitrat,
guaifenesin dan gliseril guaiakolat.
Mukolitika
Infeksi pernapasan menyebabkan munculnya mukus yg bersifat purulen
atau menyebabkaninfeksi, oleh karena itu harus segera dikeluarkan secara
alamiah. Obat golongan ini berkhasiatmelarutkan dan mengencerkan dahak
yg kental sehingga lebih mudah dikeluarkan melaluibatuk dan sering
digunakan pada penderita Bronkhitis. Contoh : Asetilsistein , Bromheksin.
Bromheksin
Bromheksin merupakan derivat sintetik dari vasicine. Vasicine
merupakan suatu zat aktif dari Adhatoda vasica. Obat ini diberikan kepada
penderita bronkitis atau kelainan saluran pernafasan yang lain. Obat ini juga
digunakan di unit gawat darurat secara lokal di bronkus untuk memudahkan
pengeluaran dahak pasien. Menurut Estuningtyas (2008) data mengenai
efektivitas klinis obat ini sangat terbatas dan memerlukan penelitian yang
lebih mendalam pada masa akan datang. Efek samping dari obat ini jika
diberikan secara oral adalah mual dan peninggian transaminase serum.
Bromheksin hendaklah digunakan dengan hati-hati pada pasien tukak

lambung. Dosis oral bagi dewasa seperti yang dianjurkan adalah tiga kali, 4-8
mg sehari. Obat ini rasanya pahit sekali.
Ambroksol
Ambroksol merupakan suatu metabolit bromheksin yang memiliki
mekanisme kerja yang sama dengan bromheksin. Ambroksol sedang diteliti
tentang kemungkinan manfaatnya pada keratokonjungtivitis sika dan sebagai
perangsang produksi surfaktan pada anak lahir prematur dengan sindrom
pernafasan
Asetilsistein
Asetilsistein (acetylcycteine) diberikan kepada penderita penyakit
bronkopulmonari kronis, pneumonia, fibrosis kistik, obstruksi mukus,
penyakit bronkopulmonari akut, penjagaan saluran pernafasan dan kondisi
lain yang terkait dengan mukus yang pekat sebagai faktor penyulit
(Estuningtyas, 2008). Ia diberikan secara semprotan (nebulization) atau obat
tetes hidung. Asetilsistein menurunkan viskositas sekret paru pada pasien
radang paru. Kerja utama dari asetilsistein adalah melalui pemecahan ikatan
disulfida. Reaksi ini menurunkan viskositasnya dan seterusnya memudahkan
penyingkiran sekret tersebut. Ia juga bisa menurunkan viskositas sputum.
Efektivitas maksimal terkait dengan pH dan mempunyai aktivitas yang paling
besar pada batas basa kira-kira dengan pH 7 hingga 9. Sputum akan menjadi
encer dalam waktu 1 menit, dan efek maksimal akan dicapai dalam waktu 5
hingga 10 menit setelah diinhalasi. Semasa trakeotomi, obat ini juga
diberikan secara langsung pada trakea. Efek samping yang mungkin timbul
berupa spasme bronkus, terutama pada pasien asma. Selain itu, terdapat juga
timbul mual, muntah, stomatitis, pilek, hemoptisis, dan terbentuknya sekret

berlebihan sehingga perlu disedot (suction). Maka, jika obat ini diberikan,
hendaklah disediakan alat penyedot lendir nafas. Biasanya, larutan yang
digunakan adalah asetilsistein 10% hingga 20%.
Ammonium Klorida
Menurut Estuningtyas (2008) ammonium klorida jarang digunakan
sebagai terapi obat tunggal yang berperan sebagai ekspektoran tetapi lebih
sering dalam bentuk campuran dengan ekspektoran lain atau antitusif.
Apabila digunakan dengan dosis besar dapat menimbulkan asidosis
metabolik, dan harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan
insufisiensi hati, ginjal, dan paru-paru. Dosisnya, sebagai ekspektoran untuk
orang dewasa ialah 300mg (5mL) tiap 2 hingga 4 jam. Obat ini hampir tidak
digunakan lagi untuk pengasaman urin pada keracunan sebab berpotensi
membebani fungsi ginjal dan menyebabkan gangguan keseimbangan
elektrolit.
Gliseril Guaiakolat
Penggunaan gliseril guaiakolat didasarkan pada tradisi dan kesan subyektif
pasien dan dokter. Tidak ada bukti bahwa obat bermanfaat pada dosis yang
diberikan. Efek samping yang mungkin timbul dengan dosis besar, berupa
kantuk, mual, dan muntah. Ia tersedia dalam bentuk sirup 100mg/5mL. Dosis
dewasa yang dianjurkan 2 hingga 4 kali, 200-400 mg sehari.
Dekstrometorfan
Menurut Dewoto (2008) dekstrometorfan atau D-3-metoksin-Nmetilmorfinan tidak berefek analgetik atau bersifat aditif. Zat ini
meningkatkan nilai ambang rangsang refleks batuk secara sentral dan
kekuatannya kira-kira sama dengan kodein. Berbeda dengan kodein, zat ini
jarang menimbulkan mengantuk atau gangguan saluran pencernaan. Dalam

dosis terapi dekstrometorfan tidak menghambat aktivitas silia bronkus dan


efek antitusifnya bertahan 5-6 jam. Toksisitas zat ini rendah sekali, tetapi
dosis

sangat

tinggi

mungkin

menimbulkan

depresi

pernafasan.

Dekstrometorfan tersedia dalam bentuk tablet 10mg dan sebagai sirup dengan
kadar 10 mg dan 15 mg/5mL. dosis dewasa 10-30 mg diberikan 3-4 kali
sehari. Dekstrometorfan sering dipakai bersama antihistamin, dekongestan,
dan ekspektoran dalam produk kombinasi
Kodein
Menurut Corelli (2007) kodein bertindak secara sentral dengan
meningkatkan nilai ambang batuk. Dalam dosis yang diperlukan untuk
menekan batuk, efek aditif adalah rendah. Banyak kodein yang mengandung
kombinasi antitusif diklasifikasikan sebagai narkotik dan jualan kodein
sebagai obat bebas dilarang di beberapa negara. Bagaimanapun menurut Jusuf
(1991) kodein merupakan obat batuk golongan narkotik yang paling banyak
digunakan. Dosis bagi dewasa adalah 10-20 mg setiap 4-6 jam dan tidak
melebihi 120 mg dalam 24 jam. Beberapa efek samping adalah mual, muntah,
konstipasi, palpasi, pruritus, rasa mengantuk, hiperhidrosis, dan agitasi
2. Terapi non farmakologi
Pada umunya batuk berdahak maupun tidak berdahak daat dikurangi dengan
cara sebagai berikut:
1. Memperbanyak minum air putih untuk membantu mengencerkan dahak,
mengurangi iritasi dan rasa gatal.
2. Menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang merangsang
tenggorokan seperti makanan yang berminyak dan minuman dingin.
3. Menghindari paparan udara dingin.
4. Menghindari merokok dan asap rokok karena dapat mengiritasi
tenggorokan sehingga dapat memperparah batuk.

5. Menggunakan zat zat Emoliensia seperti kembang gula, madu, atau


permen hisap pelega tenggorokan. Ini berfungsi untuk melunakkan
rangsangan batuk, dan mengurangi iritasi pada tenggorokan dan selaput
lendir.
J. Monitoring penyakit batuk
Bila dahak berubah kental, kecokelatan, atau kehijauan.
* Bila batuk berlangsung terus-menerus selama lebih dua minggu dan tak
kunjung membaik.
* Bila batuk disertai gejala lain seperti bunyi mendesah, napas tersengal dan
berbunyi, rasa sakit dan tertekan di dada (nyeri dada).
* Bila Anda banyak berdahak yang diikuti demam, dengan suhu tubuh lebih
dari 38 derajat Celsius.
* Batuk yang disertai penurunan berat badan.
IBerwarna putih atau gelap
Dahak atau lendir yang kadang menyertai batuk bisa berasal dari rongga
hidung, rongga tulang muka (sinus), atau paru-paru. Ada beberapa warna
lendir yang bisa dijadikan patokan untuk menentukan apakah batuk Anda
cukup parah atau tidak.
* Dahak berwarna putih jernih. Berarti tidak ada penyakit berbahaya dalam
tubuh Anda.
* Berwarna putih dan berbuih. Ini akibat mengisap rokok dalam jangka waktu
lama.
* Berwarna hijau atau cokelat. Menunjukkan adanya infeksi paru-paru,
seperti bronkitis dan pneumonia. Umumnya disebabkan oleh bakteri.
* Bercampur darah atau berwarna gelap seperti karat. Menunjukkan adanya
penyakit serius, misalnya kanker dan TBC.

BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Batuk adalah pengeluaran sejumlah volume udara secara mendadak dari
rongga toraks melalui epiglotis dan mulut. Melalui mekanisme tersebut
dihasilkan aliran udara yang sangat cepat yang dapat melontarkan keluar
material yang ada di sepanjang saluran respiratorik, terutama saluran yang
besar. Dengan demikian batuk mempunyai fungsi penting sebagai salah
satu mekanisme utama pertahanan respiratorik.
2. Cara Penularannya biasanya disebabkan oleh sejenis bakteri yang
bernama Bacterium bordetella atau

bisa

juga

oleh Bacterium

parapertussis. Gejala yang menyertai penyakit ini biasanya awalnya


hanyalah meyerupai ISPA biasa seperti batuk dan pilek, tapi kemudian
berkembang menjadi yang terus-terusan yang disertai perasaan mual, tak
jarang berakhir dengan muntah.
3. Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase
inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi (literatur lain membagi fase
batuk menjadi 4 fase yaitu fase iritasi, inspirasi, kompresi, dan ekspulsi).
4. Melibatkan suatu kompleks rangkaian refleks yang bermuladari stimulasi
terhadapreseptor iritan. Sebagian besar reseptor diduga berlokasi di system
pernafasan, sedangkan pusat batuk diduga berada di medulla. Batuk yang
efektif tergantung pada kemampuan untukmencapai aliran udara yang
tinggi

dan

tekanan

intrathoraks,

sehingga

meningkatkan

proses

pembersihan mukus padasaluran nafas.


5. Batuk dapat terjadi akibat berbagai penyakit/proses yang merangsang
reseptor batuk. Selain itu, batuk juga dapat terjadi pada keadaan-keadaan

psikogenik tertentu. Tentunya diperlukan pemeriksaan yang seksama untuk


mendeteksi keadaan-keadaan tersebut.
6. Salah satu cara mendiagnosa batuk adalah dengan mendengarkan cara
batuknya. Dokter akan menentukan pengobatan berdasarkan suara batuk
yang terdengar. Karena sebagian besar penyakit pernapasan seperti batuk
disebabkan oleh virus, maka dokter tidak meresepkan antibiotikuntuk
batuk.
6. Terapi farmakologi antara lain antitusif, ekspektoran, dan mukolitika.
Terapi non farmakologi yaitu memperbanyak minum air putih untuk
membantu mengencerkan dahak, mengurangi iritasi dan rasa gatal,
menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang merangsang
tenggorokan

seperti

makanan

yang

berminyak

dan

minuman

dingin.Menghindari paparan udara dingin.Menghindari merokok dan asap


rokok karena dapat mengiritasi tenggorokan sehingga dapat memperparah
batuk.Menggunakan zat zat Emoliensia seperti kembang gula, madu,
atau permen hisap pelega tenggorokan. Ini berfungsi untuk melunakkan
rangsangan batuk, dan mengurangi iritasi pada tenggorokan dan selaput
lendir.
DAFTAR PUSTAKA
Yoga Aditama T. Patofisiologi Batuk. Jakarta : Bagian Pulmonologi FK UI, Unit
Paru RS Persahabatan, Jakarta. 1993.
Chung KF, Pavord ID (April 2008). Prevalence, pathogenesis, and causes of
chronic cough. Lancet 371 (9621): 136474.
Goldsobel AB, Chipps BE (March 2010). Cough in the pediatric population. J.
Pediatr. 156 (3): 352358.

F. Dennis McCool. Global Physiology and Pathophysiology of Cough. CHEST


January 2006 vol. 129 no. 1 suppl 48S-53S