Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

Penentuan Kadar Glukosa Darah

Oleh :
Kelompok 4 - Offering C
Desy Ratna Sugiarti

(130331614749)

Rita Nurdiana

(130331614740)*

Sikya Hiswara

(130331614743)

Yuslim Nasru S.

(130331614748)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
FEBRUARI 2016

A. Tujuan Percobaan
Setelah mengikuti percobaan ini, mahasiswa diharapkan :
1) Mampu menentukan kadar glukosa didalam darah
2) Mampu memahami prinsip pemisahan glukosa dari komponen darah yang lain,
khususnya protein
B. Dasar Teori
Glukosa merupakan senyawa penting bagi tubuh yang berfungsi sebai sumber energi.
Hal ini karena glukosa merupakan molekul utama penghasil ATP yang akan digunakan
untuk menjalankan fungsi secara fisiologi. Glukosa diangkut ke seluruh bagian tubuh
melalui aliran darah tanpa melalui proses pencernaan. Kadar glukosa normal dalam darah
adalah 80-100 mg per 100 mL darah.
Glukosa(C6H12O6 berat molekul 180.18) adalah heksosa monosakarida yang
mengandung enam atom karbon. Glukosa merupakan aldehida (mengandung gugus CHO). Lima karbon dan satu oksigennya membentuk cincin yang disebut "cincin
piranosa", bentuk paling stabil untuk aldosa berkabon enam. Dalam cincin ini, tiap karbon
terikat pada gugus samping hidroksil dan hidrogen kecuali atom kelimanya, yang terikat
pada atom karbon keenam di luar cincin, membentuk suatu gugus CH2OH. Struktur cincin
ini berada dalam kesetimbangan dengan bentuk yang lebih reaktif, yang proporsinya
0.0026% pada pH 7.

(a)

(b)

(a) Bentuk rantai D- Glukosa (b) Gambaran proyeksi Haworth struktur glukosa (-D-glukopiranosa)

Glukosa merupakan sumber tenaga yang terdapat di mana-mana dalam biologi. Kita
dapat menduga alasan mengapa glukosa, dan bukan monosakarida lain seperti fruktosa,
begitu banyak digunakan. Glukosa dapat dibentuk dari formaldehida pada keadaan abiotik,
sehingga akan mudah tersedia bagi sistem biokimia primitif. Hal yang lebih penting bagi
organisme tingkat atas adalah kecenderungan glukosa, dibandingkan dengan gula heksosa
lainnya, yang tidak mudah bereaksi secara nonspesifik dengan gugus amino suatu protein.
Reaksi ini mereduksi atau bahkan merusak fungsi berbagai enzim. Rendahnya laju

glikosilasi ini dikarenakan glukosa yang kebanyakan berada dalam isomer siklik yang
kurang reaktif. Meski begitu, komplikasi akut seperti diabetes, kebutaan, gagal ginjal, dan
kerusakan saraf periferal (peripheral neuropathy), kemungkinan disebabkan oleh
glikosilasi protein.
Darah terdiri atas sel darah merah, sel darah putih, dan plasma darah. Protein dan
glukosa merupakan komponen utama yang terlarut dalam plasma darah. Untuk
menentukan kadar glukosa dalam sampel darah maka protein harus dipisahkan dengan
cara diendapkan agar tidak mengganggu analisa darah. Selanjutnya filtrat yang diperoleh
dipanaskan dalam larutan Cu2+ dalam suasana basa. Glukosa memiliki gugus aldehid
bebas yang dalam larutan berada dalam keadaan setimbang dengan bentuk enediol. Pada
suasana basa bentuk enediol dominan dan mereduksi ion kupri (Cu2+). Cu2O yang
terbentuk kemudian direaksikan dengan asam fosfomolibdat akan membentuk warna biru.
Adsorbansi diukur pada panjang gelombang 540 nm. Konsentrasi glukosa dapat
ditentukan melalui kurva standar glukosa.
Pada praktikum ini, penentuan kadar glukosa darah menggunakan metode
spektofotometri. Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada
absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi gelombang dengan panjang
berlainan akan menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya dengan
panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi seluruh spektrum
nampak yaitu terdapat pada 400-760 mm. Spektrofotometer ini hanya terjadi bila adanya
perpindahan elektron dari tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Perpindahan elektron tidak diikuti oleh perubahan arah spin, hal ini dikenal dengan
sebutan tereksitasi singlet. Prinsip kerja spektrofotometri berdasarkan Hukum LambertBeer, bila cahaya monokromatik melalui suatu media, maka sebagian cahaya disebut
diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian diteruskan (Sabrina 2012)
C. Alat dan Bahan
1) Alat
- Tabung reaksi
- Sentrifuga
- Spektofotometer sinar tampak
2) Bahan
- Larutan Ba(OH)2 0,3 N
- Larutan ZnSO4.7H2O 5 %
- Larutan standar glukosa 0,1 mg/ml
- Pereaksi warna arsenomolibdat

- Larutan Nelson A
- Larutan Nelson B
- Pereaksi Nelson

D. Analisis Prosedur
No.
Prosedur Percobaan
1.
Pembuatan filtrat darah bebas
protein

Analisis Prosedur
Hal ini dikarenakan protein memiliki gugus fenolik
yang dapat teroksidasi menghasilkan warna yang
sama dengan glukosa apabila direaksikan dengan
arsenomolibdat sehingga nanti akan menganggu
pembacaan adsorbansi spektofotometer.
Didalam darah terdapat ion Ca2+ yang dapat
membentuk benang-benang fibrin yang menyebabkan
darah membeku, oleh karena itu ditambahkan natrium
oksalat agar Ca2+ bereaksi dengan oksalat sehingga
darah tidak membeku.
Untuk melarutkan albumin darah dan untuk
mengencerkan darah.

2.

Darah yang digunakan,


terlebih dahulu diberikan
natrium oksalat

3.

Darah oxalated dimasukkan


dalam tabung sentrifuga yang
telah diisi 1,5 ml aquades
Ditambahkan 1,5 ml Ba(OH)2 untuk memberi suasana basa.
0,3 N, diaduk
mengendapkan kelebihan oksalat.
membantu mereduksi ion Cu2+ pada penentuan
kadar glukosa.
untuk mengendapkan ion-ion besi yang terdapat
didalam darah.
Ditambahkan 1,5 ml ZnSO4
Untuk mengendapkan dan mendenaturasi protein
5%, diaduk
secara sempurna, selain itu juga sebagai katalis dalam
mempercepat reaksi pengendapan albumin oleh
Ba(OH)2.
Dibiarkan 3 menit, kemudian untuk memisahkan protein dengan glukosa, protein
disentrifuga selama 20 menit akan terletak di lapisan bawah karena memiliki berat
jenis yang lebih besar dari glukosa. Sehingga
diperoleh sentrat yang tidak bewarna.
Sentrat yang diperoleh
Pereaksi Nelson bertidak sebagai oksidator pada
ditambahkan pereaksi Nelson reaksi reduksi ion kupri oleh gula pereduksi menjadi
kuprooksida yang membentuk endapan merah bata.
Diinkubasi dalam penangas
Untuk mempercepat reaksi reduksi Cu2+ menjadi Cu+.
air mendidih selama 20 menit
Didinginkan hingga suhu
Supaya reksi berjalan stabil, karena apabila terlalu
kamar
panas kemungkinan senyawa rusak
Ditambahkan 1 ml pereaksi
Untuk melarutkan kuprooksida, dan oksidasi Mo
arsenomolibdat, diaduk
Dibaca adsorbansi dengan
Karena pada ini, molekul gula reduksi dapat
spektofotometer pada = 540 menyerap sinar secara optimum, sehingga pembacaan
nm.
adsorbansi berjalan dengan baik.
Dibuat larutan glukosa
Untuk menentukan kadar glukosa darah
standart dengan konsentrasi
0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1
Kemudian ditentukan serapan
larutan blanko dan standar
glukosa dengan cara yang
sama.

4.

5.

6.

7.

8.
9.
10.
11.

12

E. Data Pengamatan
Prosedur Percobaan
1. Pembuatan filtrat darah bebas
protein

Sebelum reaksi

Sesudah reaksi

0,5 ml darah oxalated

Dimasukkan dalam tabung


sentrifuga yang telah diisi 1,5
ml air, dikocok.
Ditambahkan 1,5 ml Ba(OH)2
0,3 N, diaduk
Ditambahkan 1,5 ml ZnSO4 5%,
diaduk
Dibiarkan 3 menit, kemudian
disentrifuga selama 20 menit

Warna darah merah

Warna larutan merah

Ba(OH)2 = larutan tidak


bewarna
ZnSO4 = larutan tidak
bewarna

Warna larutan merah


kecoklatan
Warna larutan coklat
muda
Filtrat = tidak bewarna,
endapan bewarna coklat
muda

hasil

2. Penentuan adsorbansi larutan blanko, standar protein, dan sampel


No. tabung
1
2
3
4
5

0,00

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,0

0,2

0,4

0,6

0,8

H2O (mL)

0,8

0,6

0,4

0,2

Pereaksi nelson

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru

Biru +

Merah

Merah

Merah

Merah

Merah

Hijau

bata +

bata ++

bata

bata +++

bata

Konsentrasi
(mg/mL)
Gula standart
(0,1 mg/mL)

(1 mL)
Inkubasi air
mendidih 20

+++

menit dan

++++

dikocok
Pereaksi

Tidak

arsenomolibdat

berwarna

Biru ++

Biru +

Biru

Biru

Biru

+++

+++

+++

Biru ++

(1 mL)
H2 O

A540nm

0,416

0,399

0,552

0,533

0,491

0,305

F. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan uji penentuan kadar glukosa darah. Darah yang
digunakan dalam percobaan ini adalah darah ayam. Percobaan penentuan kadar glukosa
darah ini didasarkan pada hasil reduksi ion Cu2+ oleh glukosa dalam suasana basa dengan
reagen arsenomolibdat yang memberikan warna biru. Reaksi ini dilakukan dalam suasana
basa karena reaksi reduksi dapat berjalan dengan baik dalam suasana basa. Proses yang
terjadi pada metode ini yaitu oksidasi glukosa menjadi asam glukonat dan reduksi ion Cu2+
menjadi ion Cu+. Selanjutnya diukur absorbansinya pada panjang gelombang 540 nm
dengan menggunakan spektrofotometer. Pada penentuan kadar glukosa darah ini diawali
dengan membuat filtrat darah bebas protein kemudian penentuan kadar glukosa darah.
Pada penentuan filtrat darah bebas protein, mula-mula dimasukkan 0,5 ml darah yang
telah ditambahkan natrium oksalat kedalam tabung sentrifuga yang telah diisi dengan 1,5
ml H2O. Penambahan natrium oksalat berfungsi agar darah tidak terjadi pembekuan.
Darah mengandung ion Ca2+ yang dapat membentuk benang-benang fibrin yang
menyebabkan darah membeku jika tidak ditambahkan dengan natrium oksalat.
Penambahan H2O berfungsi untuk melarutkan albumin darah dan untuk mengencerkan
darah. Kemudian ditambahkan larutan Ba(OH)2 0,3 N, warna larutan darah yang semula
bewarna merah menjadi bewarna merah kecoklatan. Ba(OH)2 berfungsi memberi suasana
basa dan untuk mengendapkan kelebihan oksalat, setelah itu ditambahkan dengan ZnSO4
yang berfungsi untuk mendenaturasi protein. Hasil pengamatan menunjukkan warna
larutan menjadi coklat muda. Sesuai dengan persamaan reaksi berikut :
Ba(OH)2 (aq) + ZnSO4 (aq) Zn(OH)2 (s) + BaSO4 (s)
Larutan Zn(OH)2 berfungsi bersifat seperti koloid yang menyebabkan protein dapat
terkoagulasi. Kemudian dibiarkan 3 menit agar endapan yang terbentuk sempurna,
kemudian dilanjutkan dengan sentrifugasi larutan selama 20 menit. Sentrifugasi larutan ini
bertujuan untuk memisahkan protein dengan glukosa. Protein akan terletak pada lapisan
bawah karena memilik massa jenis yang lebih besar daripada glukosa yang ditunjukkan
dengan terbentuknya endapan coklat dan sentrat menjadi tidak bewarna. Sentrat yang
diperoleh dianalisis lebih lanjut dengan standar glukosa dan larutan blanko.
Sentrat darah bebas protein yang diperoleh dimasukkan dalam tabung reaksi sebanyak
1 ml. Kemudian ditambahkan pereaksi Nelson. Pereaksi Nelson merupakan campuran 25
bagian Nelson A dengan 1 bagian Nelson B yang diaduk hingga homogen. Pereaksi
Nelson ini berfungsi sebagai oksidator pada reaksi reduksi ion kupri oleh gula pereduksi
menjadi kuprooksida yang dapat membentuk endapan merah bata.

Setelah itu diinkubasi dalam air mendidih selama 20 menit. Hal ini bertujuan untuk
mempercepat laju reaksi reduksi Cu2+ menjadi Cu+. Hasil pengamatan menunjukkan
larutan menjadi bewarna hijau. Setelah itu ditambahkan pereaksi bewarna arsenoolibdat
yang berfungsi untuk melarutkan kuprooksida, dan untuk mengoksidasi Mo, sehingga
dihasilkan warna biru. Penambahan reaksi warna ini pada prinsipnya agar dapat dibaca
adsorbansinya dalam spektofotometer, karena spektofotometer ini menggunakan cahaya
tampak. Dari hasil pembacaan pada spektofotometer, diperoleh adsorbansi sentrat bebas
protein sebesar 0,305.
Untuk menentukan kadar glukosa dalam darah diperlukan adsorbansi kelima standar
glukosa dengan konsentrasi 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1 dan larutan blanko. Penentuan
adsorbansi standar glukosa dan larutan blanko seperti pada penentuan adsorbansi sentrat
darah bebas protein. Langkah-langkah dalam Penentuan adsorbansi kelima standar
glukosa, larutan blanko dan sentrat darah bebas protein ini dilakukan dalam waktu yang
bersamaan. Hasil pengamatan diperoleh adsorbansi standar glukosa sebesar 0,416; 0,339;
0,552; 0,533; 0,491. Kemudian dibuat kurva dengan konsentrasi diperoleh:

Y-Values
1,2
1
y = 1,4705x - 0,0027
R = 0,8453

konsentrasi

0,8
0,6

Y-Values
0,4

Linear (Y-Values)

0,2
0
-0,1

0,1

-0,2

0,2

0,3

0,4

adsorbansi

y = 1,4705x - 0,0027
R = 0,8453
sehingga kadar glukosa dalam sampel dapat dihitung:
y = 1,4705x 0,0027
y = 1,4705 (0,305) 0,0027
y = 0,446 mg/mL

0,5

0,6

Keterangan:
x = absorbansi sampel = 0,305
y = konsentrasi sampel = 0,446 mg/mL
Pada kurva diatas dihilangkan 1 data pada standar glukosa yang kedua karena
diperoleh data adsorbansi yang kurang baik. Seharusnya data adsorbansi meningkat seiring
dengan kenaikan konsentrasi gula standar. Kesalahan ini mungkin disebakan ketika
penambahan reaksi arsenomolibdat praktikan kurang teliti dalam mengamati miniskus
pada buret. Dari analisis data pada kurva diatas diperoleh kadar glukosa darah pada ayam
adalah 0,446 mg/mL.
G. Kesimpulan
1) Prinsip pemisahan glukosa dari protein dengan cara penambahan pereaksi Ba(OH)2
dan ZnSO4 dimana protein akan terdenaturasi dan mengendap sehingga diperoleh
filtrat darah bebas protein.
2) Penentuan kadar glukosa dalam darah dilakukan dengan menggunakan metode
spektrofotometri dengan panjang gelombang 540 nm
3) Kadar sampel filtrat darah bebas protein dihasilkan sebesar 0,446 mg/mL dengan nilai
absorbasi sampel tersebut adalah 0.305.
H. Daftar Pustaka
Randi. 2010. Penentuan kadar glukosa dalam darah. Online.
http://stationofwords.blogspot.co.id/2012/01/penentuan-kadar-glukosa-dalam-darah.html.
diakses pada 25 february 2016
Riska. 2014. Pembentukan kadar glukosa dalam darah. Online.
http://www.academia.edu/9702589/Laporan_Biokimia_Pembentukan_Kadar_Glukosa_dal
am_Darah. diakses pada 25 february 2016

Anda mungkin juga menyukai