Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

REMAJA, PSIKOLOGI REMAJA, KARAKTERISTIK DAN


PERMASALAHANNYA

MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Oleh :

Ketua : Ena Supriyatna NPM 200914579036

Anggota : Dyah Mayarukmi NPM 200914579043

Erista Setya Handayani NPM 200914579069

UNIVERSITAS INDERAPRASTA

FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI

JAKARTA

2010
Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya

Masa yang paling indah adalah masa remaja.

Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja.

Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja.

Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa remaja.

1. Remaja

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks,
dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam
Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan
yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi
berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah
remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.

Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh
pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall.
Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan
tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas
diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat
status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure,
dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988).
Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering
menimbulkan masalah pada diri remaja.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai
permasalahan pada diri remaja, yaitu:

1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.


2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-
pertentangan dengan orang tua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi
semuanya.
7. Senang bereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-
perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial
dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik,
namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan
sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan
karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama
yang dialami oleh remaja.
Permasalahan Fisik dan Kesehatan

Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka
mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan
akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan
mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang
diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-
idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine
& Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan
pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan
paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami
ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri
ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan,
depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw,
2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat
sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy &
Herman, 1999; Thompson et al).

Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang
banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan
terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah
karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.

2. Psikologi Remaja

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini
mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di
Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan
bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari
mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa
memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing)
yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan
rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood
remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu
merupakan gejala atau masalah psikologis. Dalam hal kesadaran diri, pada
masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam
kesadaran diri mereka (self-awareness). .

Tetapi statement yang timbul akibat pernyataan yang stereotype dengan pernyataan diatas,
membuat remaja pun merasa bahwa apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan adalah suatu
hal yang biasa dan wajar.Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain
karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau
selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri
mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri
mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk
menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan
mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri
akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan
melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan
membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan
“hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang
dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata.

Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain ternyata
memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau
pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan
oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja
mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan
impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan. Para remaja juga
sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka
terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan
impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum
biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang.
Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan
perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-
hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri
dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar
pembentukan jatidiri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan
penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan
lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja
sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang
yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk
dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh
para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola
ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja Dari beberapa dimensi
perubahan yang terjadi pada remaja seperti yang telah dijelaskan diatas
maka terdapat kemungkinan – kemungkinan perilaku yang bisa terjadi
pada masa ini. Diantaranya adalah perilaku yang mengundang resiko dan
berdampak negative pada remaja.

Perilaku yang mengundang resiko pada masa remaja misalnya seperti


penggunaan alcohol, tembakau dan zat lainnya; aktivitas sosial yang
berganti – ganti pasangan dan perilaku menentang bahaya seperti balapan,
selancar udara, dan layang gantung (Kaplan dan Sadock, 1997). Alasan
perilaku yang mengundang resiko adalah bermacam – macam dan
berhubungan dengan dinamika fobia balik ( conterphobic dynamic ), rasa
takut dianggap tidak cakap, perlu untuk menegaskan identitas maskulin
dan dinamika kelompok seperti tekanan teman sebaya.

Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang remaja alami.
Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang
memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan yang secara khusus hanya
berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam
ini memiliki usia sebaya atau bisa juga disebut peer group.

Demi kawan yang menjadi anggota kelompok ini, remaja bisa melakukan dan mengorbankan
apa pun, dengan satu tujuan, Solidaritas. Geng, menjadi suatu wadah yang luar biasa apabila
bisa mengarah terhadap hal yang positif. Tetapi terkadang solidaritas menjadi hal yang bersifat
semu, buta dan destruktif, yang pada akhirnya merusak arti dari solidaritas itu sendiri.

Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau tekanan-tekanan
kepada anggota kelompoknya (peer pressure) yang terkadang berlawanan dengan hukum atau
tatanan sosial yang ada. Tekanan itu bisa saja berupa paksaan untuk menggunakan narkoba,
mencium pacar, melakukan hubungan seks, melakukan penodongan, bolos sekolah, tawuran,
merokok, corat-coret tembok, dan masih banyak lagi.

3. Karakteristik Remaja

Memerinci karakteristik perilaku dan pribadi pada masa remaja, yang terbagi ke dalam bagian
dua kelompok yaitu remaja awal (11-13 s.d. 14-15 tahun) dan remaja akhir (14-16 s.d. 18-20
tahun) meliputi aspek : fisik, psikomotor, bahasa, kognitif, sosial, moralitas, keagamaan,
konatif, emosi afektif dan kepribadian, sebagai berikut:
Remaja Awal Remaja Akhir
(11-13 Th s.d.14-15 Th) (14-16 Th.s.d.18-20 Th)
Fisik
Laju perkembangan secara umum berlangsung Laju perkembangan secara umum kembali
pesat menurun, sangat lambat
Proporsi ukuran tinggi dan berat badan sering- Proporsi ukuran tinggi dan berat badan lebih
kali kurang seimbang seimbang mendekati kekuatan orang dewasa
Munculnya ciri-ciri sekunder (tumbul bulu
pada pubic region, otot mengembang pada
bagian – bagian tertentu), disertai mulai Siap berfungsinya organ-organ reproduktif
aktifnya sekresi kelenjar jenis kelamin seperti pada orang dewasa
(menstruasi pada wanita dan day dreaming
pada laki-laki
Psikomotor
Gerak – gerik tampak canggung dan kurang
Gerak gerik mulai mantap
terkoordinasikan
Jenis dan jumlah cabang permainan lebih selektif
Aktif dalam berbagai jenis cabang permainan dan terbatas pada keterampilan yang menunjang
kepada persiapan kerja
Bahasa
Berkembangnya penggunaan bahasa sandi dan Lebih memantapkan diri pada bahasa asing
mulai tertarik mempelajari bahasa asing tertentu yang dipilihnya
Menggemari literatur yang bernafaskan dan Menggemari literatur yang bernafaskan dan
mengandung segi erotik, fantastik dan estetik mengandung nilai-nilai filosofis, ethis, religius
Perilaku Kognitif
Proses berfikir sudah mampu mengoperasikan Sudah mampu meng-operasikan kaidah-kaidah
kaidah-kaidah logika formal (asosiasi, diferen-logika formal disertai kemampuan membuat
siasi, komparasi, kausalitas) yang bersifat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan
abstrak, meskipun relatif terbatas komprehensif
Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan
Kecakapan dasar intelektual menjalani laju
mungkin mapan (plateau) yang suatu saat (usia
perkembangan yang terpesat
50-60) menjadi deklinasi
Kecakapan dasar khusus (bakat) mulai
Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik
menujukkan kecenderungan-kecende- rungan
puncak dan kemantapannya
yang lebih jelas
Perilaku Sosial
Diawali dengan kecenderungan ambivalensi
Bergaul dengan jumlah teman yang lebih terbatas
keinginan menyendiri dan keinginan bergaul
dan selektif dan lebih lama (teman dekat)
dengan banyak teman tetapi bersifat temporer
Kebergantungan kepada kelompok sebaya
Adanya kebergantungan yang kuat kepada
berangsur fleksibel, kecuali dengan teman dekat
kelompok sebaya disertai semangat
pilihannya yang banyak memiliki kesamaan
konformitas yang tinggi
minat
Moralitas
Sudah dapat memisahkan antara sistem nilai –
Adanya ambivalensi antara keinginan bebas
nilai atau normatif yang universal dari para
dari dominasi pengaruh orang tua dengan
pendukungnya yang mungkin dapat ber-buat
kebutuhan dan bantuan dari orang tua
keliru atau kesalahan
Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai
kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem tindakannya sendiri atas norma atau sistem nilai
nilai etis dengan kenyataannya dalam perilaku yang dipilih dan dianutnya sesuai dengan hati
sehari-hari oleh para pendukungnya nuraninya
Mulai dapat memelihara jarak dan batas-batas
Mengidentifikasi dengan tokoh moralitas yang
kebebasan- nya mana yang harus dirundingkan
dipandang tepat dengan tipe idolanya
dengan orang tuanya
Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang

Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat memprihatinkan.
Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasus-kasus penggunaan
narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/
napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi
pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja
mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri,
solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.

• Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua,
supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah,
perceraian dan perpisahan orang tua.
• Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan
sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka
pendek dan kepuasan hedonis, dll.
• Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang
memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk,
dll.
• Cinta dan Hubungan Heteroseksual
• Permasalahan Seksual
• Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua
• Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama

Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan
remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang
normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok,
alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya
penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:

Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar
hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita.
Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis
(romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya
“jatuh cinta”.

Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja
dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan
emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa
cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid
& Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami
depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman.

Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta
kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat
dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini
lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja.

Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan
munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar
masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh
dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya “ketidaknormalan” yang dialaminya
berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan
aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991).

Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi
hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang,
pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman
sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan.

Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah
kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur.
Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan
penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja.

Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter,
atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.
Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anak-anak
mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering
dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-
keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah
ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan
ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-
temannya maupun di lingkungan yang berbeda.

Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja
karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai
pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan
perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta
memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.

Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang
menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami
karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini
tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri
bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar
mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya.

4. Remaja dan Permasalahannya

1. Remaja dan Rokok

Akhir-akhir ini fenomena kenakalan remaja makin meluas. Bahkan hal ini sudah terjadi
sejak dulu. Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan
yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan
kenikmatan bagi si perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan
dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang – orang disekitarnya.
Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan
dampak negatif bagi tubuh penghisapnya. Beberapa motivasi yang
melatarbelakangi seseorang merokok adalah untuk mendapat pengakuan
(anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing
beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma
( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004). Hal ini sejalan dengan
kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan
didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena
mereka sangat tertarik kepada kelompok sebayanyaatau dengan kata lain
terikat dengan kelompoknya.

Penyebab Remaja Merokok

1. Pengaruh 0rangtua

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak


muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana
orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan
hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok
dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga
yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi,
1999:294).

2. Pengaruh teman.

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja


merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah
perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua
kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh
teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut
dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua
menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai
sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula
dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)

3. Faktor Kepribadian.

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin
melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari
kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada
pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial.
Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial
lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang
memiliki skor yang rendah (Atkinson,1999).

4. Pengaruh Iklan.

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan


gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour,
membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti
yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun
IX,1991).
2. Penyimpangan Seks Pada Remaja

Kita telah ketahui bahwa kebebasan bergaul remaja sangatlah


diperlukan agar mereka tidak "kuper" dan "jomblo" yang biasanya jadi
anak mama. "Banyak teman maka banyak pengetahuan". Namun tidak
semua teman kita sejalan dengan apa yang kita inginkan. Mungkin
mereka suka hura-hura, suka dengan yang berbau pornografi, dan tentu
saja ada yang bersikap terpuji. benar agar kita tidak terjerumus ke
pergaulan bebas yang menyesatkan. Masa remaja merupakan suatu masa
yang menjadi bagian dari kehidupan manusia yang di dalamnya penuh
dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini akan sangat
berpengaruh terhadap pembentukan diri remaja itu sendiri. Masa remaja
dapat dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorang
dalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks. Seiring dengan
bertambahnya usia seseorang, organ reproduksipun mengalami
perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan.
Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang
mulai menyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik
maupun non elektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku
seksual individu remaja tersebut. Salah satu masalah yang sering timbul
pada remaja terkait dengan masa awal kematangan organ reproduksi
pada remaja adalah masalah kehamilan yang terjadi pada remaja diluar
pernikahan. Apalagi apabila Kehamilan tersebut terjadi pada usia sekolah.
Siswi yang mengalami kehamilan biasanya mendapatkan respon dari dua
pihak. Pertama yaitu dari pihak sekolah, biasanya jika terjadi kehamilan
pada siswi, maka yang sampai saat ini terjadi adalah sekolah

meresponya dengan sangat buruk dan berujung dengan dikeluarkannya


siswi tersebut dari sekolah. Kedua yaitu dari lingkungan di mana siswi
tersebut tinggal, lingkungan akan cenderung mencemooh dan
mengucilkan siswi tersebut. Hal tersebut terjadi jika karena masih
kuatnya nilai norma kehidupan masyarakat kita. Kehamilan remaja adalah
isu yang saat ini mendapat perhatian pemerintah. Karena masalah
kehamilan remaja tidak hanya membebani remaja sebagai individu dan
bayi mereka namun juga mempengaruhi secara luas pada seluruh strata
di masyarakat dan juga membebani sumber-sumber kesejahteraan.
Namun, alasan-alasannya tidak sepenuhnya dimengerti. Beberapa sebab
kehamilan termasuk rendahnya pengetahuan tentang keluarga
berencana, perbedaan budaya yang menempatkan harga diri remaja di
lingkungannya, perasaan remaja akan ketidakamanan atau impulsifisitas,
ketergantungan kebutuhan, dan keinginan yang sangat untuk
mendapatkan kebebasan.
Gambar seorang remaja yang berciuman di taman

3. Penyebaran Narkoba di Kalangan Anak-anak dan Remaja


Hingga kini penyebaran narkoba sudah hampir tak bisa dicegah. Mengingat hampir seluruh
penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat narkoba dari oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab. Misalnya saja dari bandar narkoba yang senang mencari mangsa didaerah
sekolah, diskotik, tempat pelacuran, dan tempat-tempat perkumpulan genk. Tentu saja hal ini
bisa membuat para orang tua, ormas,pemerintah khawatir akan penyebaran narkoba yang
begitu meraja rela.
Upaya pemberantas narkoba pun sudah sering dilakukan namun masih sedikit kemungkinan
untuk menghindarkan narkoba dari kalangan remaja maupun dewasa, bahkan anak-anak usia
SD dan SMP pun banyak yang terjerumus narkoba. Hingga saat ini upaya yang paling efektif
untuk mencegah penyalahgunaan Narkoba pada anak-anak yaitu dari pendidikan keluarga.
Orang tua diharapkan dapat mengawasi dan mendidik anaknya untuk selalu menjauhi Narkoba.
Menurut kesepakatan Convention on the Rights of the Child (CRC) yang juga disepakati
Indonesia pada tahun 1989, setiap anak berhak mendapatkan informasi kesehatan reproduksi
(termasuk HIV/AIDS dan narkoba) dan dilindungi secara fisik maupun mental. Namun realita
yang terjadi saat ini bertentangan dengan kesepakatan tersebut, sudah ditemukan anak usia 7
tahun sudah ada yang mengkonsumsi narkoba jenis inhalan (uap yang dihirup). Anak usia 8
tahun sudah memakai ganja, lalu di usia 10 tahun, anak-anak menggunakan narkoba dari
beragam jenis, seperti inhalan, ganja, heroin, morfin, ekstasi, dan sebagainya (riset BNN
bekerja sama dengan Universitas Indonesia)
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), kasus pemakaian narkoba oleh pelaku
dengan tingkat pendidikan SD hingga tahun 2007 berjumlah 12.305. Data ini begitu
mengkhawatirkan karena seiring dengan meningkatnya kasus narkoba (khususnya di kalangan
usia muda dan anak-anak, penyebaran HIV/AIDS semakin meningkat dan mengancam.
Penyebaran narkoba menjadi makin mudah karena anak SD juga sudah mulai mencoba-coba
mengisap rokok. Tidak jarang para pengedar narkoba menyusup zat-zat adiktif (zat yang
menimbulkan efek kecanduan) ke dalam lintingan tembakaunya.
Hal ini menegaskan bahwa saat ini perlindungan anak dari bahaya narkoba masih belum cukup
efektif. Walaupun pemerintah dalam UU Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 dalam pasal
20 sudah menyatakan bahwa Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua
berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak (lihat lebih
lengkap di UU Perlindungan Anak).

Namun perlindungan anak dari narkoba masih jauh dari harapan.


Narkoba adalah isu yang kritis dan rumit yang tidak bisa diselesaikan oleh hanya satu pihak
saja. Karena narkoba bukan hanya masalah individu namun masalah semua orang. Mencari
solusi yang tepat merupakan sebuah pekerjaan besar yang melibatkan dan memobilisasi semua
pihak baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas lokal. Adalah
sangat penting untuk bekerja bersama dalam rangka melindungi anak dari bahaya narkoba dan
memberikan alternatif aktivitas yang bermanfaat seiring dengan menjelaskan kepada anak-anak
tentang bahaya narkoba dan konsekuensi negatif yang akan merekaterima.
Anak-anak membutuhkan informasi, strategi, dan kemampuan untuk mencegah mereka dari
bahaya narkoba atau juga mengurangi dampak dari bahaya narkoba dari pemakaian narkoba
dari orang lain. Salah satu upaya dalam penanggulangan bahaya narkoba adalah dengan
melakukan program yang menitikberatkan pada anak usia sekolah (school-going age oriented).
Di Indonesia, perkembangan pencandu narkoba semakin pesat. Para pencandu narkoba itu pada
umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya usia tersebut ialah usia produktif atau
usia pelajar. Pada awalnya, pelajar yang mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan
perkenalannya dengan rokok. Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang
wajar di kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat, apalagi
ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang sudah menjadi
pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami ketergantungan.

Dampak Negatif Penyalahgunaan Narkoba


Dampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja (pelajar) adalah sebagai
berikut:

• Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian,


• sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan nilai-nilai pelajaran,
• Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah,
• Sering menguap, mengantuk, dan malas,
• tidak memedulikan kesehatan diri,
• Suka mencuri untuk membeli narkoba.
• Menyebabkan Kegilaan, Pranoid bahkan Kematian !

4. Remaja dan Handphone


Kehadiran telepon seluler (ponsel) atau Handphone telah merubah kehidupan manusia. Jarak
selama ini dituding menjadi biang keladi kesulitan itu, tidak kuasa lagi menghalangi. Sebagian
besar remaja zaman sekarang merasa dirinya sangat tergantung pada Handphone. Menurutnya,
kehadiran ponsel sangat membantu kemudahan hidup, komunikasi. Tujuan kemudahan hidup
itu pula yang memaksa dirinya memutuskan menggunakan ponsel beberapa tahun silam.
Alasannya biar bias berkomunikasi dengan mudah.
Sebagian besar para remaja mengatakan bahwa tujuan utama menggunakan ponsel adalah,
“Sebagai alat komunikasi dan sebagai penyambung silaturahmi, sebagai hiburan, dan tidak
menutup kemungkinan sebagai alat tambahan membantu dalam kelancaran berbisnis.”
Tak bisa dipungkiri lagi, bagi mereka yang hidup di perkotaan, di dunia modern yang menuntut
segala sesuatunya serba cepat dan mudah, memiliki ponsel se¬perti sebuah keniscayaan. Celah
ini tentu menjadi peluang besar para perusahaan komunikasi untuk merauk keuntungan.
Mereka berlomba-lomba mengembangkan teknologi yang telah ada guna melahirkan produk-
produk baru yang bakal mengisi pasar. Melalui inovasi-inovasi, mereka memaksa insan-insan
perkotaan menambah kebutuhan hidupnya. Perkembangan teknologi tentu tidak mungkin
mencapai kata sempurna dalam arti sesungguhnya. Oleh karena itu, tidak ada satu teknologi
pun yang dikembangkan telah mencapai fase final. Inovasi-inovasi dan penemuan-penemuan
berikutnya tetap mengikuti sebuah pencapaian yang telah ada. Proses pun terus berlanjut,
mengikuti hasrat, nafsu, dan kebutuhan manusia.
Satu hal yang tidak dapat dihindari adalah teknologi pasti menghadirkan efek samping yang
memengaruhi kehidupan manusia. Sekecil apa pun, teknologi pasti memiliki sifat “memaksa”,
membuat manusia menjadi tergantung padanya.

Ketergantungan Terhadap Handphone


Beberapa orang mengaku ketergantungannya pada ponsel telah mencapai taraf yang tinggi.
Kendati demikian, sifat “memaksa” itu sangat relatif, tentunya. Di tempat-tempat yang jauh
dari hingar-bingar perkotaan yang dibalut kemajuan teknologi, mungkin saja masyarakatnya
masih belum mampu memba¬yangkan wujud ponsel. Kemajuan peradaban manusia yang
beriring dengan berkembangnya kebutuhan hidup, telah memaksanya kehadiran ponsel.
Kehadirannya telah mengubah pola hidup manusia. Ponsel menjadi pemeran penting yang
membentuk gaya hidup seseorang dan juga masyarakat. Kata orang pintar, inilah kemajuan
zaman. Suka atau tidak kehadirannya tak dapat dielakkan.

Dampak Positif dan Negatif Handphone


Kemajuan teknologi ponsel yang sangat pesat menimbulkan dampak positif dan negative bagi
para penggunanya, khususnya para remaja.

Dampak Positif :

1. Mempermudah komunikasi.
2. Menambah pengetahuan tentang perkembangan teknologi.
3. Memperluas jaringan persahabatan.
4.
Dampak Negatif :
1. Mengganggu Perkembangan Anak :
Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti : kamera,
permainan (games) akan mengganggu remaja dalam menerima pelajaran di sekolah/di
kampus. Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall
dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang
menggunakan HP untuk mencontek (curang) dalam ujian. Bermain game saat
guru/dosen menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka
generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.
2. Efek radiasi
Selain berbagai kontroversi di seputar dampak negatif penggunaannya,. penggunaan HP
juga berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya remaja lebih hati-hati dan
bijaksana dalam menggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak.
Jika memang tidak terlalu diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi
kesempatan menggunakan HP secara permanen.
3. Rawan terhadap tindak kejahatan.
Ingat, remaja dan pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat.
4. Sangat berpotensi mempengaruhi sikap dan perilaku remaja.
Jika tidak ada kontrol dari orang tua. HP bisa digunakan untuk menyebarkan gambar-
gambar yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak
dilihat seorang pelajar.
5. Pemborosan
Dengan mempunyai HP, maka pengeluaran kita akan bertambah, apalagi kalau HP
hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat maka hanya akan menjadi
pemborosan yang saja.

Seperti yang telah diuraikan di atas, tulisan ini hanyalah sekelumit permasalahan yang
banyak dialami remaja yang membuktikan eksistensi kecenderungan dalam diri
manusia modern. Masih banyak contoh-contoh lain sebagai hasil dari globalisasi. kaum
muda remaja dewasa ini lebih suka membaca komik atau main game daripada harus
membaca buku-buku bermutu. Bacaan dengan analisis mendalam dan novel-novel
bermutu hanya menjadi bagian kecil dari skala prioritas mereka, bahan-bahan bacaan
seperti itu hanya tersentuh jika terpaksa atau karena tuntutan
akademis.
Anda dapat mengelak bahwa gejala-gejala ini merupakan bentuk adaptif dari kemajuan
zaman. Tapi, itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya, kecenderungan manusia sekarang
bukan hanya sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman melainkan hal ini adalah
masalah gengsi dan penghayatan hidup.
Bukti yang paling mengena adalah televisi, berbagai acara televisi semakin hari
semakin jauh dari idealisme jurnalistik, bahkan semakin melegalkan budaya kekerasan,
instanisasi, dan bentuk-bentuk kriminalitas. Sebagian tayangan-tayangan tersebut hanya
semakin mendangkalkan sifat afektif manusia. Tayangan mengenai bencana alam,
kemiskinan, perang, kelaparan, penemuan teknologi, pembelajaran budaya, dan lain
sebagainya telah membuat sisi afeksi manusia tidak peka terhadap hal tersebut. Tidak
ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan nilai-nilai luhur semakin
tereduksi.
Eksistensi kaum muda remaja hanya ditempatkan pada pengakuan-pengakuan
sementara, misalnya seorang remaja dianggap eksistensinya ada jika remaja tersebut
masuk menjadi anggota geng motor, menggunakan baju-baju bermerk, menggunakan
blueberry, dugem, clubbing, melakukan freesex, ngedrugs, dan lain sebagainya.
Eksistensi kaum muda remaja hanya dihargai sebatas kepemilikan dan status semata.
Jika pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan dikalangan remaja kita,
makna dan penghargaan terhadap insan manusia semakin jauh. Hasilnya adalah
menghilangnya penghargaan terhadap manusia lainnya, misalnya: perang,
pemerkosaan, komersialisasi organ tubuh, trafficking, tawuran, dll.

5. MENANGANI MASALAH YANG TERJADI PADA REMAJA


Selain ketiga masalah psikososial yang sering terjadi pada remaja
seperti yang disebutkan dan dibahas diatas terdapat pula masalah masalah
lain pada remaja seperti tawuran, kenakalan remaja, kecemasan, menarik
diri, kesulitan belajar, depresi dll. Semua masalah tersebut perlu mendapat
perhatian dari berbagai pihak mengingat remaja merupakan calon penerus
generasi bangsa. Ditangan remajala hmasa depan bangsa ini digantungkan.
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk
mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu
antara lain :

Peran Orangtua :
Apakah kita sebagai orang tua ingin melihat anak hancur masa depannya karena kesalahan
yang tidak semestinya terjadi? Di sinilah peran penting orang tua dalam mengontrol dan
mengawasi sang buah hati. Menjadi orang tua bukan soal siapa kita, tetapi apa yang
dilakukan. Pengasuhan tidak hanya mencakup tindakan tetapi mencakup pula apa yang kita
kehendaki agar sang buah hati kita mengerti akan hidup. Apa artinya hidup dan bagaimana
menjalani kehidupan ini dengan baik.
Semua pasti ingin menghendaki hal yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang tua ingin
mendisiplinkan, mendorong, dan menasihati agar mereka berhasil menjalani kehidupan
sedari kanak-kanak hingga sampai dewasa. Orang tua harus menjadi yang terbaik dalam hal
apapun. Banyak orang tua ingin mendorong anaknya untuk melakukan hal yang terbaik
dalam kehidupannya. Termasuk ingin membuat buah hatinya untuk bebas mengeluarkan
dan menggali bakat dan minat yang dimiliki sang anak.
Hal yang semestinya dipahami adalah banyak anak mengalami kesulitan untuk
membedakan antara menerima atau menolak tindakan atas apa yang mereka lakukan.
Misalnya saja penerimaan orang tua terhadap prestasi yang dimiliki atau dicapai anak bisa
dianggap anak sebagai rasa cinta orangtua kepadanya,tetapi penolakan yang dilakukan
orang tua terhadap tindakan yang dilakukan anak membuat anak beranggapan mereka tidak
dicintai dan disayangi lagi. Setiap anak perlu tahu kalau mereka disayangi dan dicintai
orang tua dengan sepenuh hati, meskipun sebaliknya, setiap orang tua harus mencintai dan
menyayangi sang buah hati tanpa syarat apapun, baik buruknya sifat maupun sikap yang
dimiliki sang buah hati, mereka harus menerima kekurangan dan kelebihan yang
dimiliki oleh anak.

Semua anak ingin diperhatikan kedua orang tuanya. Pernyataan ini sangat sederhana bagi
kita semua, tetapi sifatnya fundamental bagi kedua orang dalam mengasuh buah hati
mereka. Karenanya dalam pola pengasuhan sebaiknya setiap orang tua tidak boleh
membedakan anak satu sama lain.

Kita juga tidak semestinya membedakan buah hati mereka, baik dalam mendidik maupun
memberikan perhatian kepada sang anak. Harus ada rasa keadilan, tidak boleh pilih kasih,
karena akan menimbulkan kecemburuan diantara anak. Yang ditakutkan nanti akan
membuat anak menjadi rusak, bahkan berpikir kalau mereka tidak disayangi lagi, bahkan
ada anak yang beranggapan kalau mereka itu bukan anak dari orang tua mereka sendiri,
karena selalu dibeda-bedakan dengan yang lainnya.

Orang tua tidak seharusnya memperlihatkan emosi yang negatif kepada anak-ananya.
Ketidakmampuan setiap orang tua dalam mengontrol emosi membuat anak menjadi
temperamental dan mempunyai sifat maupun sikap yang buruk yaitu mudah emosional.
Akibatnya orang tua yang demikian tidak bisa menjadi model atau peran yang baik untuk
anak-anaknya dalam mengontrol anak dan mengasuh buah hatinya.

Tujuan orang tua sebenarnya untuk mengkomunikasikan kepada buah hatinya bahwa
mereka memiliki hak untuk merasakan apapun yang mereka rasakan, Mengajari sang buah
hati untuk menghargai dan menikmati setiap saat dalam kehidupan sehingga mampu
memberi motivasi kepada anak dalam mencegah serta menghadapi masalah yang mereka
hadapi kedepan.

Terkadang orang tua sering lupa untuk berinteraksi dengan anak- anaknya. Ada diantara
mereka yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada melakukan hal itu. Bagi mereka hal
itu tidak perlu dilakukan. Mereka beranggapan bahwa materi yang dibutuhkan anak,
Padahal seorang anak tidak hanya membutuhkan materi namun juga perhatian dan interaksi
dengan orangtuanya. Mereka membutuhkan komunikasi dengan orang tuanya, mereka juga
ingin bertukar pikiran dengan orang tuanya. Mereka ingin menceritakan pegalaman apa
yang mereka rasakan sehari-hari baik itu pangalaman yang baik maupun pengalaman yang
buruk.

Sekali lagi yang perlu diingat oleh kedua orang tua adalah jika seorang anak atau remaja
kurang mendapatkan perhatian dari orang tua, besar kemungkinan dia akan menjadi
seorang anak dan remaja yang temperamental. Sang anak menjadi bebas dalam melakukan
segala hal, baik itu dalam hal kebaikan maupun keburukan. Sebagai orangtua seharusnya
memiliki kemampuan untuk memusatkan perhatian pada perilaku positif serta tak lupa pada
perilaku buruk sang anak.

Sebagai orang tua yang baik, jangan melihat keburukan atau kebaikan. Namun lihatlah dari
tata cara bergaul sang anak, dengan siapa bergaul, bagaimana luas pergaulannya. Bukan
sekedar untuk membatasi sang anak dalam bergaul namun diharapkan impian melihat anak
sukses mengarungi kehidupan tanpa mengalami kesalahan dalam pergaulan baik
dilingkungan keluarga, atau lingkungan luar menjadi sebuah kenyataan. Manfaatnya
kembali ke orang tua, sebab sang anak lalu menjadi orang yang menghargai kedua orang
tua

Peran Guru :

Peran seorang Guru dalam membentuk kepribadian para remaja sangat berkaitan erat,
setidaknya dalam hidupnya sejak dari taman kanak-kanak hingga kuliah di Perguruan
Tinggi, seorang anak, remaja, akan berhubungan langsung dengan para guru atau dosen
selama belasan bahkan puluhan tahun lamanya. Jadi bagaimana mungkin peran seorang
guru tidak menjadi sesuatu hal yang mendapatkan prioritas lebih dari masyarakat untuk
dapat menangkal kenakalan remaja yang semakin hari semakin meresahkan kita. Untuk
menahan lajunya angka kasus-kasus kenakalan remaja maka peran aktif para guru harus
dioptimalkan. setidaknya dalam kehidupannya setiap hari, seperempat atau setengahnya (5 -
8 jam) waktu seorang remaja akan dihabiskannya bersama dengan para gurunya, baik di
sekolah maupun di kampus, bahkan ada dan bahkan banyak keakraban antara para remaja
dan gurunya berlanjut positif sampai ke luar lingkungan sekolah atau kampus. Seperti
terjadi dalam tetralogi laskar pelangi, bagaimana perjuangan seorang guru, hubungan
sosialnya dengan para muridnya telah membentuk para murid menjadi para remaja tangguh,
berbudi, dan memiliki cita-cita tinggi, yang bahkan "kenakalan remaja" adalah sesuatu
hal yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benak mereka, "kenakalan remaja" yang
indah, "kenakalan remaja" karena layaknya mobilitas seorang remaja, "Kenakalan
Remaja" karena tingginya kreativitas seorang remaja, "kenakalan remaja" yang berdiri
di atas jembatan yang benar dan lurus, "kenakalan remaja" yang terarah, "kenakalan
remaja" yang tidak melampaui batas, "kenakalan remaja" yang bahkan telah menjadi
inspirasi bagi ratusan juta remaja lainnya, "kenakalan remaja" yang bukan
"kenakalan remaja".

Cerita berikut ini menggambarkan pola hubungan yang positif antara seorang guru dengan
muridnya, seorang remaja, yang terus berlanjut bahkan lama sampai keduanya jauh terpisah
oleh jarak dan waktu. Bagaimana seorang guru mampu memberikan seberkas cahaya bagi
sang remaja yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang tulus, dan akhirnya
mampu menghindarkan sang remaja dari kenakalan remaja yang dapat saja mengancamnya
sewaktu-waktu. Maka Guru sebagai penangkal kenakalan remaja adalah satu kalimat yang
tepat untuk digaungkan, terlepas dari beberapa kasus (sedikit) oknum guru yang
mencoreng citra seorang guru yang malah justru menjadi pelaku dan penyebab kenakalan
remaja itu sendiri. Namun bagaimanapun juga citra seorang guru yang dapat dijadikan
panutan untuk menangkal kenakalan remaja akan tetap bersinar, terang seperti terangnya
mentari yang akan terus menyinari dunia hingga akhir nanti ...

Berikut ini beberapa contoh yang dilakukan guru dalam menangani


masalah pada remaja :

• Bersahabat dengan siswa

• Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman

• Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan

ekstrakurikuler

• Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga

• Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP

• Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas

• Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain

• Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek

setempat

• Mewaspadai adanya provokator

• Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah

• Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang

secara sehat dalah hal fisik, mental, spiritual dan sosial

• Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPZA


Peran Pemerintah dan masyarakat :

• Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti

• Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas anak

melalui olahraga dan bermain


• Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas

• Memberikan keteladanan

• Menanggulangi NAPZA, dengan menerapkan peraturan dan hukumnya

secara tegas

• Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan

Peran Media :

• Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)

• Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)

• Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas

biaya khusus untuk remaja

Oleh karena itu kita sebagai kaum muda remaja harus mampu merubah diri kita menjadi
manusia yang bermakna bagi orang lain melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Usaha ini hanya
bisa tercapai melalui usaha pribadi bukan orang lain, ada pepatah mengatakan jangan
mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri. Dan semoga tulisan ini dapat
bermanfaat bagi kami dan bagi yang membacanya khususnya para remaja, semoga bisa
menjadi pribadi yang lebih baik. Amin. Selamat berefleksi wahai para remaja ... !

DAFTAR PUSTAKA
Alisjahbana, Anna, Sidharta M. dan Brouwer MAW.1984. Menuju Kesejahteraan
Jiwa. Jakarta. Gramedia

Gunarsa, S. D. (1989). PsikologiPperkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta:


BPK. Gunung Mulia.

Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang


Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta :
Penerbit Erlangga.

Atkinson (1999). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh


Soedjarmo &

Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga.

BKKBN. 2001. Remaja Mengenai Dirinya. Jakarta. BKKBN

Rini, J.F. (2004). Mencemaskan Penampilan. Diakses dari e-psikologi.com

Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan.


Jakarta: Penerbit Erlangga.

Setiono, L.H. (2002). Beberapa Permasalahan Remaja. Diakses dari www.e-


psikologi.com