Anda di halaman 1dari 7

Perbedaan Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional

Perbedaan Akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional dari segi arti Ekonomi Islam
merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur
berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam
rukun iman dan rukun Islam. Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt
memerintahkannya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 105 : Dan
katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman
akan melihat pekerjaan itu Karena kerja membawa pada ke-ampunan, sebagaimana sabda
Rasulullah Muhammad saw : Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya,
maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan.(HR.Thabrani dan Baihaqi)
dari paparan di atas, dapat dinyatakan bahwa kaidah Akuntansi dalam konsep Syariah Islam
dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen, yang
disimpulkan dari sumber-sumber Syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang
Akuntan dalam pekerjaannya, baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan, maupun
penjelasan, dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa. Akuntansi
dalam Islam dapat kita lihat dari berbagai bukti sejarah maupun dari Al-Quran. Dalam Surat AlBaqarah ayat 282, dimana maksud dari surat ini adalah membahas masalah muamalah. Termasuk
di dalamnya kegiatan jual-beli, utang-piutang dan sewa-menyewa. Dari situ dapat kita simpulkan
bahwa dalam Islam telah ada perintah untuk melakukan sistem pencatatan yang tekanan
utamanya adalah untuk tujuan kebenaran, kepastian, keterbukaan, dan keadilan antara kedua
pihak yang memiliki hubungan muamalah, dalam bahasa akuntansi lebih dikenal dengan
accountability. Akutansi secara konvensional dipahami sebagai satu set prosedur rasional yang
digunakan untuk menyediakan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan dan
pengendalian. Akutansi dalam pemahaman ini berfungsi sebagai benda mati yang paten seperti
teknologi yang konkret, tangible, dan value-free.2 Mereka berargumentasi bahwa akutansi harus
memiliki standar paten yang berlaku secara umum di semua organisasi, tidak bisa dipengaruhi
oleh kondisi lokal yang bisa menyebabkan keberagaman model akutansi dan harus bebas nilai
(value-free). Karena akutansi yang tidak bebas nilai/sarat nilai (non-value-free) bisa menyulitkan
dalam memahami informasi yang disampaikan. Oleh karena itu, pendukung akutansi model ini
memilih untuk melakukan harmonisasi dalam praktek akutansi. Dan dapat di simpulakn bahwa
perbedaan antara akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional menurut pengertian dari
masing-masing akuntasi tersebut adalah : Akuntansi konvensional dijadikan dasar dan ruh oleh
akutansi ala Amerika (modern atau konvensional sehingga tidak mengherankan corak kapitalis
muncul dalam praktik riilnya karena semuanya mengarah pada batasan memberikan informasi
semata tanpa adanya spirit tanggung jawab (ataupun jika ada, ia hanya bersifat horisontal bukan
horisontal dan vertikal). Sedang kan Akutansi shariah yang berbasiskan ruh ilahi adanya
akuntansi tersebut di simpulkan dari sumber-sumber islam dan di situ adanya tanggung jawab
dan Akuntansi Islam ada konsep Akuntansi yang harus dipatuhi, yaitu hukum Syariah yang
berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia dan Akuntansi Islam sesuai dengan
kecenderungan manusia yaitu hanief yang menuntut agar perusahaan juga memiliki etika dan
tanggung jawab sosial, bahkan ada pertanggungjawaban di akhirat, dimana setiap orang akan
mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan Allah SWT.
Perbedaan Tujuan dan laporan keuangan Akuntansi Syariah dengan akuntansi konvensional. Ada
dua hal yang menarik dalam hal ini, pertama adalah perbedaan antara tujuan akuntansi keuangan
dan tujuan laporan keuangan. Dalam berbagai literatur, banyak penulis yang menyamakan antara

keduanya. Mathews & Parera (1996) mengatakan: Strictly speaking, financial statement cannot
have objectives; only those individuals who cause the statement to be produced and who use
them can have objectives.( Tepatnya laporan, keuangan tidak dapat memiliki tujuan, hanya
orang-orang yang menyebabkan pernyataan yang akan diproduksi dan siapa yang
menggunakannya dapat memiliki tujuan.) Mathews & Parera (1996) lebih jauh mengatakan:
What are often referred to as the objectives of financial statements are really the functions of
financial statements .( Apa yang sering disebut sebagai tujuan laporan keuangan benar-benar
fungsi laporan keuangan ....) Dengan demikian berangkat dari pemikiran di atas, sebetulnya apa
yang menjadi tujuan laporan keuangan, merupakan tujuan dan fungsi akuntansi sendiri. Dalam
konteks ini, bilamana kita harus berpijak pada prinsip idealime Islam, maka sesuai dengan hasil
kajian tesis Adnan (1996), tujuan akuntansi dapat dibuat dua tingkatan. Pertama, tingkatan ideal,
dan kedua tingkatan praktis. Pada tataran ideal, sesuai dengan peran manusia di muka bumi dan
hakikat pemiliki segalanya (QS 2:30, 6:165, 3:109, 5:17), maka semestinya yang menjadi tujuan
ideal laporan keuangan adalah pertanggungjawaban muamalah kepada Sang Pemilik yang
kakiki, Allah SWT. Namun karena sifat Allah Yang Maha Tahu, tujuan ini bisa dipahami dan
ditransformasikan dalam bentuk pengamalan apa yang menjadi sunnah dan syariah-Nya. Dengan
kata lain, akuntansi harus terutama berfungsi sebagai media penghitungan zakat, karena zakat
merupakan bentuk manifestasi kepatuhan seorang hamba atas perintah Sang Empunya. Tujuan
pada tataran pragmatis barulah diarahkan kepada upaya untuk menyediakan informasi kepada
stakeholder dalam mengambil keputusan-keputusan ekonomi. Akan tettapi bilamana kita
berpijak pada prinsip akuntasi konvensional tujuan akuntansi tersebut adalah karena kita ketahui
Akuntansi konvensional yang sekarang berkembang adalah sebuah disiplin dan praktik yang
dibentuk dan membentuk lingkungannya. Oleh karena itu, jika akuntansi dilahirkan dalam
lingkungan kapitalis, maka informasi yang disampaikannya akan mengandung nilai-nilai
kapitalis. Kemudian keputusan dan tindakan ekonomi yang diambil pengguna informasi tersebut
juga mengandung nilai-nilai kapitalis. Singkatnya, informasi akuntansi yang kapitalistik akan
membentuk jaringan kuasa yang kapitalistik juga. Dimana paham kapitalisme tersebut lebih
menekankan pada prinsip perolehan laba dan keuntungan yang lebih memihak kepada pemilik
modal saja tanpa memperhatikan aspek-aspek lain yang sebenarnya lebih memegang peranan
penting daripada pemilik modal itu sendiri. Tujuan dari akuntansi dalam Islam/syariah adalah
sebagai bentuk pertanggung jawaban dan menegakkan keadilan dan kebenaran. Manfaatnya
tentu sangat besar, yakni menjaga transaksi yang tercatat tersebut terekam dengan baik sehingga
dikemudian hari dapat dilihat kembali dan dimanfaatkan informasinya, terutama pada transaksitransaksi keuangan yang bersifat hutang-piuntang, bahkan Allah SWT menekankan pencatatan
hutang-piutang, sebagaimana termaktub dalam Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 282, Inti dari
ayat tersebut adalah penegasan bagi siapa saja yang melakukan transaksi tidak secara tunai,
hendaknya mencatat dan menyampaikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan
disertai saksi-saksi yang amanah.
Tujuan dari akuntansi itu sendiri adalah:
1. Sebagai bentuk pertanggungjawaban (accountability)
2. Sebagai dasar penentuan pendapatan (income determination)
3. Digunakan sebagai informasi dalam pengambilan keputusan (based of statement)
4. Sebagai alat bukti yang berguna dikemudian hari (a prooving) Akuntansi juga merupakan
upaya untuk menjaga terciptanya keadilan dalam masyarakat, karena akuntansi memelihara
catatan sebagai accountability dan menjamin keakuratannya. Dengan pemahaman tersebut dapat
disimpulkan bahwa akuntansi dalam Islam tidaklah bebas nilai. Karena pengakan keadilan dan

pertanggungjawaban sesuatu membutuhkan tatanan nilai-nilai kebaikan, hati nurani, kejujuran


dan keyakinan kepada Yang Maha Kuasa atas diri pelaku akuntansi dan pihak-pihak lainnya yang
melakukan transaksi. Dengan demikian, akuntansi secara menyeluruh sangat sejalan dengan
Islam sebagai sebuah aturan dan pedoman bisnis dan ekonomi. Tentunya konsep akuntansi harus
mengikuti aturan dasar Islam dalam bermuamalah dan bukan sebaliknya.
Kemudian tentang perbedaan laporan ke uangan antara akuntansi syariah dengan akuntasi
konvensional disebutkan bahwa Dalam laporan keuangan menurut APB Statement no. 4 yang
berjudul Basic Concepts and Accounting Principles Underlying Financial Statements Business
Enterprises, disebutkan tujuan umum laporan keuangan akuntansi konvensional adalah adalah:
1. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi dan kewajiban
perusahaan.
2. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari
kegiatan usaha dalam mencari laba.
3. Memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan
dalam menghasilkan laba.
4. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban.
5. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan.
Dari kelima tujuan umum di atas, semuanya hanya berorientasi pada pemberian informasi
kuantitatif yang berguna bagi pemakai-khususnya pemilik dan kreditur-dalam proses
pengambilan keputusan dan kebijakan selanjutnya. Dalam Trueblood Committee Report juga
dinyatakan bahwa tujuan utama dari laporan keuangan adalah memberikan informasi yang
berguna untuk mengambil keputusan. Tujuan yang sama juga terdapat dalam Conceptual
Framework dari FASB, PSAK dan lainnya. Dari beberapa tujuan laporan keuangan tersebut,
nampak jelas bahwa akutansi konvensional sangat dipengaruhi oleh konsep kapitalis, karena
perhatian utamanya adalah hanya sebatas memberikan informasi yang bertumpu pada
kepentingan stockholders dan entity-nya dan belum sampai pada taraf akuntabilitas, kalaulah
ada, maka hanya sebatas hubungan yang bersifat horisontal (hablum min al-nas). Akutansi
shariah yang berbasiskan ruh ilahi adalah merupakan bagian dari Islamisasi sains dan
pengetahuan yang berangkat dari kegagalan paradigma sains dan pengetahuan modern yang
berbasiskan value-free sehingga banyak mendatangkan dampak negatif terhadap perkembangan
peradaban manusia. Dampak ini muncul sebagai konskuensi logis dari dasar filsafat keilmuan
yang bersifat metafisika, epistimologis dan aksiologis yang masih masif dan kering dengan nilainilai etik dan moral sehingga dalam tataran aksiologinya seringkali menafikan kemashlahatan
manusia karena dipisahkannya agama dengan segala yang berkaitan dengan urusan dunia
(sekuler). Usaha untuk memberikan warna lain agar tercipta validitas data dan tujuan, akhirnya
muncul dengan memberikan warna religius pada ilmu ekonomi, termasuk akutansi. Islamisasi
akutansi inilah yang kemudian banyak dikenal dengan sebutan akutansi shariah. Dengan
akutansi shariah ini berarti akutansi tidak lagi value-free, tetapi berubah menjadi sarat dengan
nilai-nilai ibadah (non-value-free). Akuntansi shariah memandang bahwa kedua tujuan dasar
dari akutansi yaitu memberikan informasi dan akuntabilitas dianggap sebagai suatu kesatuan
yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya dan inilah yang menjadikan perbedaan besar
dengan tujuan dasar akutansi konvensional. Ia (akutansi shariah) melihat bahwa akutansi bisa
benar-benar berfungsi sebagai alat penghubung antara stockholders, entity dan publik dengan
tetap berpegangan pada nilai-nilai akuntansi dan ibadah syariah sehingga informasi yang
disampaikan bisa benar-benar sesuai dengan kondisi riil tanpa ada rekayasa dari pihak manapun
sehingga ada nilai ibadah secara individu bagi stockholders dan para akuntan dan ibadah

sosial bagi terciptanya peradaban manusia yang lebih baik. Akutansi shariah menandang bahwa
organisasi ini sebagai interprise theory, di mana keberlangsungan hidup sebuah organisasi tidak
hanya ditentukan oleh pemilik perusahaan (stockholders) saja tetapi juga pihak lain yang turut
memberikan andil: pekerja, konsumen, pemasok, akuntan, dll. Laporan keuangan yang
berbasiskan shariah mempunyai ruang dan peluang tersendiri untuk bisa
dipertanggungjawabkan baik secara horisontal dan vertikal. Karena ia diikat oleh aturan aturan
baku akutansi (shariah) dan juga diikat oleh aturan-aturan agama sebagai basis dan ruh dari sifat
akutansi shariah itu sendiri. Jelasnya, akutansi shariah mempunyai kelebihan keterpercayaan
dan akuntabel dalam penyampaian informasi dan akuntabilitas keakuratannya sehingga
keputusan maupun kebijakan yang akan diambil bisa benar-benar dipertimbangkan karena sesuai
dengan kondisi riil sebenarnya dibandingkan akutansi konvensional. Jadi tujuan dasar akuntansi
sebagai alat penyampai informasi dan akuntabilitas hanya benar-benar bisa tercapai apabila
akuntansi dan para akuntan itu sendiri diikat oleh seperangkat aturan yang mempunyai nilai
lebih dari sekedar seperangkat aturan ciptaan manusia. Akutansi modern yang bersifat value-free
ternyata tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalan yang makin kompleks karena sifatnya
yang harus bebas nilai. Ia masih mempunyai celah yang lebar untuk direkayasa demi
kepentingan satu pihak karena tidak adanya spirit dan ruh yang jelas untuk dipedomani. Akutansi
shariah telah memberikan nilai pencerahan dan menyelamatkan masa depan akutansi. Karena
Islam mendudukkan pada setiap pekerjaan dalam sebuah organisasi ataupun individu dengan
nilai ibadah. Ibadah dalam bentuk individu akan berbuah pada ibadah sosial. Ibadah sosial
akan membentuk individu-individu yang beribadah. Sehingga tujuan dasar dari akutansi sebagai
alat penyampai informasi bisa benar-benar mempunyai nilai akuntabilitas yang tinggi dan bisa
diambil kebijakan selanjutnya dalam pengendalian sebuah organisasi yang dilaporkan. Ini bukan
suatu kemustahilan.
Dan Berikut Kerangka dasar akuntansi keuangan versi AAO-IFI dituangkan dalam SFA No. 2.
Tidak seperti halnya akuntansi keuangan konvensional, akuntansi bank syariah menuntut lebih
banyak bentuk laporan sebagai berikut:
1. Laporan posisi keuangan
2. Laporan laba rugi
3. Laporan arus kas
4. Laporan laba ditahan
5. Laporan perubahan dalam investasi terbatas
6. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat serta dana sosial
7. Laporan sumber dan penggunaan dana dalam qardh Empat laporan pertama adalah unsurunsur laporan keuangan yang sudah dikenal selama ini secara konvensional, sedangkan tiga
terakhir bersifat khas. Ketiga laporan yang terakhir ini muncul akibat perbedaan peran dan fungsi
bank Islam, dibandingkan bank konvensional.
Perbedaan antara akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional dari segi undang- undang
yang digunakan. Dasar hukum dalam Akuntansi Syariah bersumber dari :
1. Al Quran,
2. Sunah Nabwiyyah,
3. Ijma (kespakatan para ulama),
4. Qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu,
5. Uruf (adat kebiasaan) yang tidak bertentangan dengan Syariah Islam Kaidah-kaidah
Akuntansi dalam Islam, memiliki karakteristik khusus yang membedakan dari kaidah Akuntansi
Konvensional. Kaidah-kaidah Akuntansi Syariah sesuai dengan norma-norma masyarakat Islami,

dan termasuk disiplin ilmu sosial yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat pada tempat
penerapan Akuntansi tersebut.
Persamaan kaidah Akuntansi Syariah dengan Akuntansi Konvensional terdapat pada hal-hal
sebagai berikut:
1. Prinsip pemisahan jaminan keuangan dengan prinsip unit ekonomi;
2. Prinsip penahunan (hauliyah) dengan prinsip periode waktu atau tahun pembukuan keuangan;
3. Prinsip pembukuan langsung dengan pencatatan bertanggal;
4. Prinsip kesaksian dalam pembukuan dengan prinsip penentuan barang;
5. Prinsip perbandingan (muqabalah) dengan prinsip perbandingan income dengan cost (biaya);
6. Prinsip kontinuitas (istimrariah) dengan kesinambungan perusahaan;
7. Prinsip keterangan (idhah) dengan penjelasan atau pemberitahuan.
Sedangkan perbedaannya, menurut Husein Syahatah, dalam buku Pokok-Pokok Pikiran
Akuntansi Islam, antara lain, terdapat pada hal-hal sebagai berikut:
1. Para ahli akuntansi modern berbeda pendapat dalam cara menentukan nilai atau harga untuk
melindungi modal pokok, dan juga hingga saat ini apa yang dimaksud dengan modal pokok
(kapital) belum ditentukan. Sedangkan konsep Islam menerapkan konsep penilaian berdasarkan
nilai tukar yang berlaku, dengan tujuan melindungi modal pokok dari segi kemampuan produksi
di masa yang akan datang dalam ruang lingkup perusahaan yang kontinuitas;
2. Modal dalam konsep akuntansi konvensional terbagi menjadi dua bagian, yaitu modal tetap
(aktiva tetap) dan modal yang beredar (aktiva lancar), sedangkan di dalam konsep Islam barangbarang pokok dibagi menjadi harta berupa uang (cash) dan harta berupa barang (stock),
selanjutnya barang dibagi menjadi barang milik dan barang dagang;
3. Dalam konsep Islam, mata uang seperti emas, perak, dan barang lain yang sama
kedudukannya, bukanlah tujuan dari segalanya, melainkan hanya sebagai perantara untuk
pengukuran dan penentuan nilai atau harga, atau sebagi sumber harga atau nilai;
4. Konsep konvensional mempraktekan teori pencadangan dan ketelitian dari menanggung
semua kerugian dalam perhitungan, serta mengenyampingkan laba yang bersifat mungkin,
sedangkan konsep Islam sangat memperhatikan hal itu dengan cara penentuan nilai atau harga
dengan berdasarkan nilai tukar yang berlaku serta membentuk cadangan untuk kemungkinan
bahaya dan resiko;
5. Konsep konvensional menerapkan prinsip laba universal, mencakup laba dagang, modal
pokok, transaksi, dan juga uang dari sumber yang haram, sedangkan dalam konsep Islam
dibedakan antara laba dari aktivitas pokok dan laba yang berasal dari kapital (modal pokok)
dengan yang berasal dari transaksi, juga wajib menjelaskan pendapatan dari sumber yang haram
jika ada, dan berusaha menghindari serta menyalurkan pada tempat-tempat yang telah ditentukan
oleh para ulama fiqih. Laba dari sumber yang haram tidak boleh dibagi untuk mitra usaha atau
dicampurkan pada pokok modal;
6. Konsep konvensional menerapkan prinsip bahwa laba itu hanya ada ketika adanya jual-beli,
sedangkan konsep Islam memakai kaidah bahwa laba itu akan ada ketika adanya perkembangan
dan pertambahan pada nilai barang, baik yang telah terjual maupun yang belum. Akan tetapi, jual
beli adalah suatu keharusan untuk menyatakan laba, dan laba tidak boleh dibagi sebelum nyata
laba itu diperoleh.
Dengan demikian, dapat diketahui, bahwa perbedaan antara sistem Akuntansi Syariah Islam
dengan Akuntansi Konvensional adalah menyentuh soal-soal inti dan pokok, sedangkan segi
persamaannya hanya bersifat aksiomatis. Menurut, Toshikabu Hayashi dalam tesisnya yang
berjudul On Islamic Accounting, Akuntansi Barat (Konvensional) memiliki sifat yang dibuat

sendiri oleh kaum kapital dengan berpedoman pada filsafat kapitalisme, sedangkan dalam
Akuntansi Islam ada meta rule yang berasal diluar konsep akuntansi yang harus dipatuhi, yaitu
hukum Syariah yang berasal dari Tuhan yang bukan ciptaan manusia, dan Akuntansi Islam sesuai
dengan kecenderungan manusia yaitu hanief yang menuntut agar perusahaan juga memiliki
etika dan tanggung jawab sosial, bahkan ada pertanggungjawaban di akhirat, dimana setiap orang
akan mempertanggungjawab kan tindakannya di hadapan Tuhan yang memiliki Akuntan sendiri
(Rakib dan Atid) yang mencatat semua tindakan manusia bukan saja pada bidang ekonomi, tetapi
juga masalah sosial dan pelaksanaan hukum Syariah lainnya. Jadi, dapat kita simpulkan dari
uraian di atas, bahwa konsep Akuntansi Islam jauh lebih dahulu dari konsep Akuntansi
Konvensional, dan bahkan Islam telah membuat serangkaian kaidah yang belum terpikirkan oleh
pakar-pakar Akuntansi Konvensional. Sebagaimana yang terjadi juga pada berbagai ilmu
pengetahuan lainnya, yang ternyata sudah diindikasikan melalui wahyu Allah dalam Al Quran.
Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu
dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (QS.AnNahl/ 16:89) Komite Akuntansi Syariah bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan
Ikatan Akuntan Indonesia tahun 2007 telah mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan untuk transaksi kegiatan usaha dengan mempergunakan akuntansi berdasarkan kaidah
syariah. Berikut ini daftar Standar Akutansi Keuangan yang juga akan berlaku bagi perbankan
syariah :
1. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah,
2. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah,
3. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah,
4. PSAK 103 tentang Akuntansi Salam,
5. PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna,
6. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah,
7. PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah.
IAI sebagai lembaga yang berwenang dalam menetapkan standar akuntansi keuangan dan audit
bagi berbagai industri merupakan elemen penting dalam pengembangan perbankan syariah di
Indonesia, dimana perekonomian syariah tidak dapat berjalan dan berkembang dengan baik tanpa
adanya standar akuntansi keuangan yang baik. Standar akuntansi dan audit yang sesuai dengan
prinsip syariah sangat dibutuhkan dalam rangka mengakomodir perbedaan esensi antara
operasional Syariah dengan praktek perbankan yang telah ada (konvensional). Untuk itulah maka
pada tanggal 25 Juni 2003 telah ditandatangani nota kesepahaman antara Bank Indonesia dengan
IAI dalam rangka kerjasama penyusunan berbagai standar akuntansi di bidang perbankan
Syariah, termasuk pelaksanaan kerjasama riset dan pelatihan pada bidang-bidang yang sesuai
dengan kompetensi IAI. Sejak tahun 2001 telah dilakukan berbagai kerjasama penyusunan
standar dan pedoman akuntansi untuk industri perbankan syariah termasuk penyelesaian panduan
audit perbankan syariah, revisi Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 59 tentang
Akuntansi Perbankan Syariah dan revisi Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia
(PAPSI). Dengan semakin pesatnya perkembangan industri perbankan syariah maka dinilai perlu
untuk menyempurnakan standar akuntansi yang ada. Pada tahun 2006, IAI telah menyusun draft
Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI). Draft ini diharapkan dapat ditetapkan
menjadi standar pada tahun 2007. Dalam penyusunan standar akuntansi keuangan syariah,
dilakukan IAI dengan bekerjasama dengan Bank Indonesia, DSN serta pelaku perbankan syariah
dan dengan mempertimbangkan standar yang dikeluarkan lembaga keuangan syariah

internasional yaitu AAOIFI. Hal ini dimaksudkan agar standar yang digunakan selaras dengan
standar akuntansi keuangan syariah internasional.

Anda mungkin juga menyukai